It's a Hurt Love

.

.

.

.

.

Happy Reading!
.

.

.

Kyungsoo dan Jongin masih pada posisi mereka sampai bermenit-menit hingga akhirnya Kyungsoo menghapus sisa-sisa airmatanya dan melepaskan pelukan Jongin.

"Maaf tapi sepertinya saya tidak bisa bekerja dengan anda." Kata Kyungsoo dengan tatapan kosongnya.

Kyungsoo segera meninggalkan rumah itu. sekarang ini tinggallah Jongin sendirian disana. Ia terdiam cukup lama ditempatnya itu. Jongin mulai memikirkan banyak hal dikepalanya itu. Hingga akhirnya ia berbalik dan keluar dari rumahnya itu.

.

.

.

Jongin mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh menuju suatu tempat. Terlihat raut wajah Jongin yang sedikit geram. Ia bahkan tidak memperdulikan berapa kecepatan laju kendaraanya sekarang. Hingga akhirnya Jongin sampai pada sebuah gedung bertingkat. Yang diketahui itu adalah tempat dimana Chanyeol berkerja.

Dengan tersgesa-gesa Jongin masuk kedalam gedung itu tanpa bertanya pada resepsionis ia terus melangkahkan kakinya menuju ruangan dimana Chanyeol berada.

Jongin membuka pintu ruangan Chanyeol dengan tidak sabarnya. Ia ingin segera bertemu dengan pemuda itu dan menanyakan apakah yang ia pikirkan itu benar.

"Oh Jongin?" Panggil Chanyeol dengan senyumannya saat melihat Jongin yang sudah memasuki ruangan itu.

Jongin sendiri justru menatap tajam Chanyeol. Cahnyeol berdiri menghampiri Jongin dan berdiri didepannya.

"Tumben sekali kau kemari. Apa ada sesuatu? Oh apa tunanganku baik-baik saja?" Tanya Chanyeol pada Jongin seakan-akan Chanyeol memancing amarah Jongin. Bahkan terlihat jika Chanyeol tersenyum tipis meremehkan Jongin.

"Katakan padaku apa yang kau mau Hyung?!" Kata Jongin yang menggeram marah.

"Apa maksudmu?" Tanya Chanyeol yang berpura-pura tidak mengerti perkataan Jongin.

"Kenapa kau menyembunyikan Kyungsoo dariku Hyung?" Tanya Jongin yang semakin emosi.

"Kurasa kau masih bermimpi Kim kau tahu sendiri dia itu Dio bukan Kyungsoo. Dia Dio Lee tunanganku!" Tegas Chanyeol pada kalimat terakhirnya yang menyebutkan Kyungsoo adalah tunangannya.

"Kau pikir aku percaya begitu saja Hyung jika dia bukan Kyungsoo. Wajahnya, cara menatapnya, cara bicaranya, semuanya bahkan cara berjalannya aku masih hafal betul Hyung dan aku yakin dia adalah Do Kyungsoo!" Ucap Jongin.

Chanyeol yang mendengar itu semakin menyunggingkan senyum remehnya pada Jongin. Ebtah kenapa melihat Jongin seperti ini membuat Chanyeol merasa senang.

"Kalau memeng dia Do Kyungsoo lalu apa yang akan kau lakukan?" Tanya Chanyeol menantang Jongin.

Jongin tertegun saat Chanyeol menanyakan hal itu padanya berarti secara tidak langsung Chanyeol mengakui jika gadis itu memang Do Kyungsoo.

"Lagipula gadis itu sendiri yang tidak ingin kembali kepadamu kenapa kau harus menunggunya begitu lama Kim Jongin." Kata Chanyeol dengan santainya.

Jongin sudah merasa sangat emosi saat ini dan dengan cepat ia segera mencengkram kerah kemeja yang Chanyeol gunakan.

"Katakan apa maumu Hyung?!" Tanya Jongin dengan emosinya.

"Woo lihat dirimu sekarang ini Jongin kau begitu menyedihkan." Kata Chanyeol yang semakin menatap remeh Jongin.

"Apa aku harus memberitahu apa yang ku mau?" Tanya Chanyeol dengan melepaskan cengkraman Jongin itu.

Chanyeol menatap Jongin yang sudah diselimuti akan emosi yang meluap-luap.

"Simple saja cukup lupakan Kyungsoo dan bersamalah dengan Baekhyun hanya itu yang ku mau Kim Jongin!"

Jongin menatap tajam Chanyeol dan kemudian tersenyum remeh pada Chanyeol.

"Lihatlah siapa yang lebih menyedihkan disini." Kata Jongin dengan senyum remehnya.

"Aku sudah berbaik hati menyelamatkan kekasihmu itu Kim jadi anggap saja permintaanku itu adalah balas budimu padaku. Lagipula gadis itu tidak ingin kembali kepadamu."

"Kau benar-benar sangat menyedihkan Park Chanyeol."

"Kau pikir kau tidak menyedihkan Kim Jongin?"

Kini kedua orang itu bertatapan dengan tatapan setajam elang. Kilatan-kilatan emosi tampak dari keduanya bagaikan perang dingin diantara kedua pemuda itu.

"Aku memang menyedihkan tapi setidaknya aku tidak semenyedikan dan sepecundang dirimu Hyung. Apapun yang terjadi aku akan tetap membawa Kyungsoo kembali dan aku yakin perasaannya masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu." Ucap Jongin yang tampak mantap dan yakin dengan apa yang baru saja ia ucapkan.

Chayeol merasa terhina dengan ucapan Jongin itu. Ia mengepalkan tangannya menahan amarahnya itu disana. Jongin sendiri sudah berbalik dan akan meninggalkan Chanyeol disana.

"Sepertinya kau sangat yakin jika Kyungsoo akan kembali kepadamu Kim? Bagaimana jika dia tidak memiliki perasaan apapun kepadamu lagi? Asal kau tahu saja jika ia sangat ingin menikah denganku Kim." Ucap Chanyeol.

"Oh bahkan kami sudah menetapkan tanggalnya." Lanjut Chanyeol.

Jongin berhenti ditempatnya mendengar perkataan Chanyeol membuatnya sedikit kacau. Ia tidak tahu apakah yang dikatakan Chanyeol itu benar atau tidak tapi entah kenapa mendengar jika Chanyeol akan menikah dengan Kyungsoo membuatnya kacau.

Jongin hanya diam ditempatnya untuk beberapa saat tanpa menjawab ucapan Chanyeol itu.

"Kau tahu Kim? Aku juga tidak ingin kita seperti ini? Tapi ini semua salahmu Kim Jongin kenapa kau harus bertemu dengan Baekhyun saat itu? Kenapa kau harus menyakitinya?" Tanya Chanyeol pada Jongin.

"Semua ini bukan salah siapapun Hyun semua ini adalah takdir tuhan." Jawab Jongin yang membelakangi Chanyeol.

Ia tahu saat ini Chanyeol sedang mengungkapkan apa yang pemuda itu rasakan. Ia tahu bukan hanya dirinya yang merasa sakit disini tapi pemuda itu juga.

Ia juga tahu jika pemuda itu sangat mencintai Baekhyun karena sewaktu masih remaja dulu ia pernah bertengkar dengan Chanyeol karena pemuda itu merasa kesal dengannya yang selalu membuat Baekhyun menangis.

"Jika kau terus menyakiti Baekhyun maka aku juga akan melakukan hal yang sama pada Kyungsoo. Karena mereka saudara maka mereka juga harus merasakan apa yang saudara mereka rasakan bukankah begitu?" Tana Chanyeol.

Jongin yang tidak tahan lagi segera berbalik dan memukul Chanyeol hingga terlihat darah disudut bibir pemuda itu.

"Brengsek kau Hyung." Umpat Jongin yang terus memukul Chanyeol.

Chanyeol sendiri hanya tersenyum dan menatap Jongin remeh.

"Tidakkah kau berfikir jika kekasihmu itu akan semakin membencimu karena memukul tunangannya Kim?" Tanya Chanyeol.

"Persetan dengan itu Park. Aku tidak perduli." Kata Jongin yang terus memukuli Chanyeol hingga wajah pemuda itu dipenuhi dengan lebam.

Entah kenapa Chanyeol justru diam saja tidak membalas pukulan-pukulan Jongin itu.

.

.

.

Kyungsoo meneguk rakus gelas yang berisi air itu hingga habis. Kyungsoo merasa sangat lelah hari ini padahal ia tidak melakukan apapun hari ini.

Kyungsoo duduk dimeja makan dengan tangan yang menopang menutupi wajahnya. Ia merasa pusing dengan semua ini ia lelah dengan semuanya. Rasanya ia ingin kembali ke New York dan hidup disana dengan tenang bersama dengan Chanyeol dan kedua orang tua angkatnya.

Kyungsoo terus terduduk ditempatnya itu hingga ia tidak menyadari jika seseorang telah masuk kedalam rumah itu.

"Kau sudah pulang?" Tanya seorang pemuda yang kini mengambil minum.

Mendengar pertanyaan itu Kyungsoo segera melihat pemuda itu yang kini membelakanginya.

"Oppa sudah pulang? Sejak kapan?" Tanya Kyungsoo.

"Sejak kau duduk disitu." Jawab Chanyeol yang berbalik dan tersenyum pada Kyungsoo.

Kyungsoo terlonjak kaget saat melihat wajah Chanyeol yang terdapat warna kebiruan disana.

"Astaga apa yang terjadi Oppa?" Tanya Kyungsoo khawatir melihat Chanyeol.

"Hanya ada sedikit masalah tadi tenang saja." Jawab Chanyeol santai.

"Ya sudah kalau begitu Oppa duduklah aku akan mengambil obat untuk Oppa." Kata Kyungsoo yang segera berdiri dan melangkah mengambil beberapa peralatan untuk mengobati Chanyeol.

Chanyeol hanya menatap Kyungsoo dengan senyum lebarnya itu.

.

.

.

Jongin menatap ibu Kyungsoo dari luar kedai. Ia menatap wanita yang tengah sibuk melayani pembeli bahkan terlihat sesekali wanita itu bercengkrama dengan para pembeli. Jongin menatap sedih wanita itu.

Jongin melangkah menuju kedalam kedai itu saat ibu Kyungsoo sudah selesai dengan para pembelinya. Ia menatap lurus kearah depan terlihat mata pemuda itu sedikit berkaca-kaca. Dengan segera Jongin memeluk ibu Kyungsoo yang sibuk mencuci piring dari arah belakang dan menyandarkan kepalanya dibahu wanita itu.

"Aku sangat merindukan Kyungsoo." Kata Jongin dengan airmata yang sudah membasahi pipinya.

Ibu Kyungsoo sendiri hanya diam dan menghentikan aktivitas mencuci piringnya itu. Jika Jongin bersikap seperti ini maka itu artinya Jongin sedang dalam masalah dan nyonya Do tahu betul akan itu.

Nyonya Do kini melepas sarung tangannya dan menepuk pelan tangan Jongin berusaha menenangkan pemuda itu.

"Aku sangat merindukannya." Ungkap Jongin lagi dengan airmata yang semakin mengalir deras.

Mendengar ungkapan pilu Jongin mau tak mau membuat nyonya Do ikut merasa sedih. Ia tidak bisa melihat ataupun mendengar tangisan Jongin seperti ini. Selama sepuluh tahun ini Jonginlah yang menemaninya dan Jonginlah yang menjaga serta merawatnya. Ia sudah menganggap pemuda itu seperti putranya sendiri.

"Lupakan saja gadis sialan itu dan berhentilah menangis." Perintah nyonya Do.

"Aku merindukannya." Kata Jongin lagi yang masih dengan tangisannya.

Nyonya Do sudah tak kuasa lagi menahan tangisannya mendengar Jongin yang seperti itu.

"Tidak apa." Kata nyona Do yang berusaha menenangkan Jongin dengan menepuk-nepuk pelan tangan Jongin yang melingkar pada perutnya.

.

.

.

Kyungsoo terlihat sibuk mengibati luka pada wajah Chanyeol. Dengan sangat telaten Kyungsoo mengobati luka-luka itu.

"Oppa benar-benar tidak ingin bercerita kepadaku?" Tanya Kyungsoo yang masih sibuk mengobati luka Chanyeol.

"Apa kau benar-benar ingin mendengarnya?" Tanya Chanyeol.

"Tentu saja Oppa." Jawab Kyungsoo.

"Baiklah kalau begitu. Hm darimana aku harus menceritakannya?" Tanya Chanyeol.

"Apa kau tahu pemuda yang menjadi klienmu itu?" Tanya Chanyeol lagi.

"Hm. Bukankan Oppa berteman dengannya?" Gumam Kyungsoo yang masih sibuk dengan kegiatannya.

"Tentu saja aku berteman dengannya lebih tepatnya dia teman Baekhyun yang menjadi temanku. Kau tahu? Pemuda itu tiba-tiba datang ke kantorku dan menanyakan apa keinginanku."

"Benarkah?"

"Ya. Dia juga bilang jika kau adalah kekasihnya yang selama sepuluh tahun ini menghilang."

Kyungsoo hanya bungkam saat Chanyeol mengatakan hal itu. Kyungsoo mencoba fokus pada luka Chanyeol dan berusaha setenang mungkin didepan Chanyeol. Chanyeol yang melihat Kyungsoo seperti itu hanya tersenyum.

"Dan tentu saja aku mengatakan jika kau bukan gadis itu. Sejujunya aku merasa kasihan pada Jongin karena selama sepuluh tahun ini dia terus saja mencari gadis tidak jelas itu." Kata Chanyeol.

"Sudah selesai Oppa." Ucap Kyungsoo.

Untung saja saat Chanyeol mengatakannya Kyungsoo juga sudah selesai mengobatinya jika tidak maka Kyungsoo akan merasa lebih kacau lagi mendengar perkataan-perkataab Chanyeol tentang Jongin.

Sebenarnya Chanyeol juga sengaja memancing Kyungsoo agar gadis itu merasa lebih tertekan lagi.

"Sepertinya aku harus istirahat sekarang Oppa. Aku merasa sangat lelah." Kata Kyungsoo yang telah merapikan peralatan yang ia gunakan untuk mengobati Chanyeol tadi.

"Kalau begitu ayo kita tidur bersama."Ajak Chanyeol yang menggandeng Kyungsoo menuju kamar.

Kini mereka berdua telah tidur bersama dengan Chanyeol yang memeluk Kyungsoo. Chanyeol tersenyum dan memejamkan matanya. Kyungsoo sendiri justru terlihat resah dipelukan Chanyeol.

"Oppa aku ingin kembali ke New York." Kata Kyungsoo.

"Kita akan segera kembali nanti. Sekarang tidurlah." Pinta Chanyeol yang masih memejamkan matanya.

Kyungsoo menganggguk menuruti perintah Chanyeol hingga akhirnya mereka berdua benar-benar tertidur dengan posisi Chanyeol yang memeluk Kyungsoo.

.

.

.

Terlihat seorang gadis tengah berdiri didepan sebuah kedai. Gadis itu adalah Kyungsoo pagi ini ia terlihat berdiri disana dengan menatap kedalam kedai itu dengan tatapan rindunya meskipun wanita didalam sana bukanlah ibu kandungnya tapi entah kenapa Kyungsoo sangat menyayangi wanita itu.

Kyungsoo tersenyum saat melihat wanita itu begitu ramah dengan para pelanggan bahkan terkadang tertawa bersama para pelanggannya.

Cukup lama Kyungsoo berdiri disana hingga akhirnya Kyungsoo memutuskan untuk melangkah pergi dari sana. Namun ditengah perjalanannya ia justru bertemu dengan Jongin.

Melihat Jongin Kyungsoo merasa sedikit kesal dengan pemuda itu karena pemuda itu terlalu gegabah hingga menuduh Chanyeol bahkan memukuli Chanyeol.

"Kyungsoo!" Panggil Jongin dengan memegang tangan gadis itu.

"Maaf tapi aku bukan Kyungsoo." Kata Kyungsoo yang kini tidak lagi menggunakan bahasa formalnya pada Jongin.

"Aku tahu kau Kyungsoo." Kata Jongin dengan senyumannya.

Kyungsoo terlihat jengah dengan Jongin ia sedikit kesal dengan pemuda itu karena selama ini Jongin yang ia kenal tidak pernah gegabah seperti itu bahkan hingga memukuli temannya sendiri.

"Sebenarnya apa yang kau inginkan?" Tanya Kyungsoo pada Jongin.

"Jangan membohingi dirimu sendiri." Jawab Jongin menatap Kyungsoo.

"Baiklah kalau begitu jangan ganggu hidupku lagi dan satu lagi tidak seharusnya kau memperlakukan temanmu seperti itu. Kau terlalu jahat sebegai seorang teman." Kata Kyungsoo dengan menatap kesal Jongin.

Mendengar itu Jongin tahu siapa maksud Kyungsoo teman disini. Jongin merasa sedikit sakit hati saat melihat Kyungsoo begitu membela Chanyeol didepannya sendiri. Tapi sepertinya Kyungsoo tidak tahu apa yang sebenarnya Chanyeol rencanakan dan itu membuat Jongin merasa kesal dengan Chanyeol. Ia juga tidak bisa memberitahu Kyungsoo karena ia takut akan membuat gadis itu bersedih.

"Baiklah maafkan aku karena aku terlalu gegabah kemarin."

"Jangan meminta maaf pada minta maaflah pada Chanyeol." Kata Kyungsoo tanpa melihat Jongin.

Jongin yang melihat itu justru merasa Kyungsoo sedang merajuk kepadanya dan itu membuat Jongin tertawa pelan.

"Kenapa kau tertawa? Apa menurutmu itu lucu?" Tanya Kyungsoo yang semakin kesal.

"Tidak aku hanya merasa kau seperti kekasihku yang sedang merajuk." Jawab Jongin dengan senyumannya yang semakin mengemabang saat melihat kekesalan Kyungsoo.

"Aku bukan kekasihmu!" Kesal Kyungsoo.

Jongin hanya terdiam saat mendengar seruan Kyungsoo dan kemudian Jongin menatap kearah kedai ibu Kyungsoo. Jongin berpikir sejenak mungkin saja tadi Kyungsoo sedang melihat wanita itu karena Kyungsoo merindukannya. Bagaimana pun cara Kyungsoo mengelak ia akan tetap tahu jika gadis itu adalah Kyungsoo.

Dan tanpa pikir panjang Jongin segera menarik tangan Kyungsoo menuju kedai itu.

"Ya! Apa yang kau lakukan?" Kyungsoo berusaha melepaskan genggaman tangannnya itu dari Jongin tapi sayangnya seberapa keras usaha Kyungsoo tetap saja Jongin berhasil membawanya.

"Sayang!" Panggil Jongin dengan berteriak saat memasuki kedai itu.

Kyungsoo mengerutkan keningnya bingung dengan panggilan Jongin itu. Ia tidak tahu siapa sebenarnya yang Jongin panggil sayang itu.

Jongin membawa Kyungsoo untuk disalah satu meja disana dan Jongin sendiri duduk disebalah Kyungsoo agar gadis itu tidak lari.

"Ya! Sudah berapa kali kubilang jangan berteriak dan memanggilku sayang dasar bocah gila!" Kesal nyonya Do dengan memukul kepala Jongin menggukan nampan.

"Apa seperti ini caramu memperlakukan suamimu?" Tanya Jongin.

"Suami jidatmu!" Kesal nyonya Do.

Kyungsoo yang melihat itu samar-samar tersenyum karena tingkah lucu keduanya. Saat nyonya Do melihat kearahnya Kyungsoo segera memalingkan wajahnya hingga rambutnya itu menutupi sebagian wajahnya.

"Siapa dia?" Tanya nyonya Do.

"Oh dia yang akan mendekor rumah kita. Aku membawanya kemari karena aku ingin mentraktirnya sebagai permintaan maaf karena kemarin aku sudah melakukan kesalahan." Jawab Jongin.

Rumah itu memang Jongin buat untuk Kyungsoo dan ibunya agar mereka tinggal disana tentunya bersama Jongin juga.

"Tenang saja aku akan membayarnya dua kali lipat." Kata Jongin dengan tersenyum karena Jongin sangat hafal dengan apa yang akan ibu Kyungsoo katakan jika ia mengajak seseorang makan di kedainya.

"Baguslah kalau begitu seperti itu saja terus jadi aku tidak akan bangkrut." Jawab nyonya Do.

"Ckckck istriku memang sangat suka uang ternyata." Kata Jongin yang kemudian melihat jam tanganya.

"Sebaiknya aku segera bekerja karena sebentar lagi akan ada rapat." Kata Jongin yang sudah berdiri dari tempat duduknya.

"Cepatlah pergi kau membuatku merasa pusing." Ucap nyonya Do.

Jongin segera mencium kedua pipi wanita itu lalu pergi dari sana.

"Benar-benar menjijikkan." Umpat nyonya Do dengan tersenyum melambaikan tangan pada Jongin.

Sebenarnya Jongin memang sengaja meninggalkan kedua perempuan itu bersama. Ia pikir dengan begitu kerinduan Kyungsoo pada ibunya akan terobati.

Jongin tersenyum membayangkan raut senang nyonya Do saat ia mengetahui jika putrinya masih hidup dan sekarang berada didepan matanya.

Kyungsoo masih tetap memalingkan wajahnya saat nyonya Do berusaha melihat wajahnyaa.

"Nona apa yang ingin kau pesan?" Tanya nyonya Do.

Kyungsoo sendiri masih tetap diam tanpa menjawab apapun dan itu membuat nyonya Do semakin heran dengan gadis itu. Nyonya Do hanya menghela nafas dan pergi meninggalkan gadis itu disana.

Kyungsoo sendiri masih tetap diam tanpa melakukan apapun ditempat duduknya hingga akhirnya sebuah hidangan tersaji didepan Kyungsoo.

"Makanlah." Suruh nyonya Do dengan memberi Kyungsoo sumpit.

Kyungsoo menatap makanan yang ada dimeja itu. Ia terkejut saat mengetahui hidangan itu. Makanan yang ada dimeja itu adalah makanan kesuakaannya.

Nyonya Do sendiri kini duduk didepan Kyungsoo dengan pandangan kosong.

"Itu adalah makanan kesukaan putriku dan aku memberinya khusus untukmu. Putriku dia selalu meminta sup rumput laut setiap hari gadis bodoh itu dia selalu saja bilang jika sup rumput laut buatanku adalah makanan terlezat didunia. Dia juga mengatakan kalau dia harus memakan sup itu setiap hari karena dia takut jika dia tidak bisa merasakan makanan itu lagi." Cerita nyonya Do dengan pandangan kosongnya.

Kyungsoo kini sudah menatap wanita itu dengan matanya yang sudah berair.

"Aku pikir dia seorang peramal karena ucapannya itu kini menjadi nyata." Lanjut nyonya Do.

Kyungsoo tidak tahan lagi untuk tidak menangis. Baru kali ini ia melihat ibunya semenyedihkan ini.

"Astaga kenapa aku jadi seperti ini hanya kerena gadis bodoh itu." Kata nyonya Do dengan menghapus airmatanya.

"Maafkan aku cepat makanlah." Suruh nyonya Do dengan menatap Kyungsoo.

Kini kedua orang itu saling bertatapan dan tanpa mereka sadari airmata keduanya sudah membasahi pipi mereka masing-masing.

"Eomma?" Panggil Kyungsoo dengan suara paraunya.

Nyonya Do tidak percaya dengan apa yang sekarang ia lihat. Kyungsoo gadis itu kini ada didepannya memanggilnya dengan sebutan itu lagi.

"Eomma aku Kyungsoo Do Kyungsoo." Ungkap Kyungsoo dengan menggenggam tangan nyonya Do.

"Kyungsoo? Benarkah itu kau?" Tanya nyonya Do tak percaya.

"Benar Eomma aku Kyungsoo putrimu." Jawab Kyungsoo.

Nyonya Do kini memegang wajah cantik Kyungsoo berusaha meyakinkan dirinya apa gadis didepannya itu benar Kyungsoo putrinya atau bukan.

"Kyungsoo?" Panggil nyonya Do.

Kyungsoo mengangguk mengiyakan panggilan ibunya itu.

"Eomma aku sangat merindukanmu." Ucap Kyungsoo dengan tangisannya yang tak kunjung reda.

Nyonya Do kini berjalan kesamping gadis itu kemudian memeluk gadis itu dengan erat. Keduanya menangis haru karena pada akhirnya kedua ibu dan anak itu bertemu kembali.

"Eomma maafkan aku." Sesal Kyungsoo.

"Gadis bodoh kau tidak perlu meminta maaf." Kata nyonya Do dengan mengusap surai Kyungsoo.

"Maafkan aku Eomma." Ucap Kyungsoo lagi.

Nyonya Do kini melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Kyungsoo. Nyonya Do menggeleng kuat dengan menatap Kyungsoo.

"Tidak. Tidak apa Eomma yang salah." Jawab nyonya Do.

Nyonya Do ngusap airmatanya dengan punggung tangannya lalu kemudian mengusap airmata Kyungsoo dengan sayang.

"Tidak apa. Jangan menangis." Kata nyonya Do menenagkan Kyungsoo dan kembali memeluk gadis itu dengan erat.

.

Setelah puas melepas rindu mereka kini terlihat Kyungsoo sedang memakan makanannya dengan ibunya yang menyuapinya dan terus tersenyum pada ibunya itu.

"Eomma rasanya masih sama masitha!" Puji Kyungsoo dengan mengacungkan jempolnya.

"Tentu saja. Eommamu ini ahlinya." Bangga ibu Kyungsoo.

Kyungsoo tersenyum senang lalu melanjutkan makannya yang sempat tertunda masih dengan suapan-suapan dari sang ibu.

"Apa itu artinya kau akan kembali ke rumah malam ini?" Tanya nyonya Do.

Kyungsoo termenung memikirkan pertanyaan ibunya itu.

"Eomma?" Panggil Kyungsoo.

"Hm?" Jawab nyonya Do dengan menatap Kyungsoo.

"Aku tidak ingin pulang. Aku tidak ingin kembali lagi aku tidak mau." Kata Kyungsoo.

Nyonya Do yang mendengar itu terdiam dan beberapa detik kemudian nyonya Do menggenggam tangan Kyungsoo.

"Baiklah hiduplah dengan tenang jangan pikirkan apapun lagi. Jika kau tidak ingin kembali maka jangan kembali. Aku juga akan menyuruh bocah gila itu untuk berhenti. Kau tenang saja." Kata nyonya Do dengan senyumannya.

Kyungsoo tersenyum saat mendengar perkataan ibunya itu tapi ia juga sedih karena ia tidak akan bisa lagi melihat Jongin.

"Terima kasih Eomma." Ucap Kyungsoo dengan senyumnya.

Nyonya Do hanya mengangguk dan tersenyum pada Kyungsoo.

"Aigoo rambutmu sangat bagus dan halus. Kau sudah mempunyai uang banyak sekarang." Kata nyonya Do.

"Apa Eomma ingin aku membelikan sesuatu?" Tanya Kyungsoo.

Dan dengan cepat nyonya Do menggeleng. Menurut wanita itu bertemu Kyungsoo dan mengetahui jika gadis itu baik-baik saja sudah cukup baginya.

"Simpanlah uangmu untuk menikah nanti. Mengetahui kau baik-baik saja itu sudah cukup untukku." Jawab nyonya Do dengan mengusap surai Kyungsoo.

Kyungsoo tersenyum melihat ibunya yang begitu sangat menyayanginya dibandingkan ibu kandungnya sendiri.

.

.

.

.

Jongin tersenyum senang saat membayangkan Kyungsoo dan ibunya sudah bertemu lalu tersenyum bahagia. Ia cukup lega karena sudah berhasil mempertemukan wanita itu dengan putrinya.

Saat Jongin sudah sampai di depan rumah Kyungsoo ia melihat wanita itu ibu Kyungsoo duduk didepan rumah dan tengah melamun.

"Sudah malam kenapa masih diluar?" Tanya Jongin yang duduk disamping wanita itu.

Jongin tersenyum dan memeluk wanita itu. Entah kenapa Jongin begitu menyayangi wanita itu seperti ia menyayangi ibunya.

"Kau senang hari ini? Aku benar-benar merindukanmu." Kata Jongin yang sangat posesif memeluk wanita itu.

"Jongin ayo kita akhiri semuanya." Kata nyonya Do.

Jongin yang mendengar itumengerutkan dahinya bingung dengan maksud ibu Kyungsoo.

"Ayo kita hentikan Kyungsoo dia sudah bahagia sekarang. Dia tidak ingin kembali jadi kau harus benar-benar melupakannya Kim Jongin." Jelas ibu Kyungsoo.

Jongin membeku ditempatnya ia tidak bergerak sedikitpun saat mengetahui hal itu. Nyonya Do yang melihat itu segera memeluk Jongin.

"Kenapa nasibmu semalang ini?" Tangis nyonya Do dengan mengusap punggung lebar Jongin.

"Maafkan aku maafkan aku." Ucap nyonya Do dengan tangisannya itu.

Jongin sendiri hanya diam dan tak bergeming ia masih syok dengan apa yang baru saja nyonya Do katakan. Jongin merasa mengetahui Kyungsoo tidak ingin kembali rasanya lebih sakit daripada Kyungsoo yang tidak mengingatnya.

Dan Jongin sungguh tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Seketika semua harapannya runtuh begitu saja.

.

.

.

.

.

TBC

.

Sebelumnya maaf banget karena Hee tau ini maksain banget. Tapi kalo lama-lama nanti Hee jadi gk mood semoga ini gk ngecewain kalian ya.

Maafkan jika typo berserakan dan makasih banget buat yang support. Kritik dan saran sangat dibutuhkan terima kasih .

See you next chapter~~

Salam cinta dari Hee :*

.

'Dongvil'