Hidupku itu seperti sampah

Tapi aku juga tidak mau seumur hidup ak jalani menjadi orang yang selalu tidak dianggap

Gak salah kan kalau sebuah sampah ingin jadi sesuatu yang lebih berarti?

.

.

Go on!

Chapter 8

Pertanda baik atau buruk?

By : Aidou Yuukihara

NARUTO © Masashi Kishimoto

Rate : T

Genre : Family, Friendship, Romance.

Pairing : SasukSaku dan NaruHina

Warning : DON'T LIKE DON'T READ, OOC, OC, typo.

.

.

.

Pada suatu hari di sebuah sekolah yang bernama Sotakato Gakuen, ada lima orang anak kelas sepuluh sedang duduk –hampir membentuk sebuah lingkaran di atas atap sekolah menikmati waktu istirahat. Ada anak laki-laki berambut kuning cerah sedang memakan bekal makanannya dan sesekali tersedak, di sebelahnya ada anak perempuan berambut indigo yang selalu menepuk-nepuk punggung si Laki-laki kuning itu dan memberinya minum, di serong kanannya ada anak bermabut merah muda yang saat ini sedang membaca buku dan sesekali menengok ke arah temannya yang ada di sebelah kanannnya, orang yang selalu di perhatikan gadis itu saat ini sedang memperhatikan bunga yang tadi ia ambil di salah satu tanaman hias yang selalu berada di atap itu dengan wajah serius, dan lingkaran ini di tutup oleh seorang anak laki-laki yang sedang memperhatikan partitur musik untuk biola sambil menggosokkan rosin pada bow biolanya.

Istirahat ini di isi dengan suara gesekkan rosin dari Sasuke dan suara Naruto yang sedang tersedak. Sakura meletakkan bukunya di pahanya dan memulai percakapan.

"Hmmm, persediaan uangku sudah menipis..." Raut wajah Sakura berubah menjadi sedikit agak sedih.

"Memangnya uang kerja paruh waktu kurang?" tanya Hinata.

"Nggak sih, tapi pas-pasan. Gak ada plus-plusnya... gak untung gak rugi..."

"Dasar rakus, masih mending ada uang daripada nggak." Naruto mulai bersikap seperti cocktail.

"Yah kan kamu orang kaya, jangan samain."

"Bukan masalah kaya apa nggaknya tau!"

"Kamu nggak ngerti!" Bantah Sakura.

"Sakura, Naruto jangan berantem dong..." kata Hinata.

"Gimana kalau kita buka tempat konsultasi aja? Katanya dulu kalian di blog jadi tempat konsultasi kan ya?" Yuuki memetik kelopak bunga dan mengumpulnya di telapak tangannya.

"Ya lalu apa? Kan kepala sekolah gak boleh kita menarik uang murid." Jelas Sasuke.

"Bayarannya sesuatu yang tidak merepotkan kalian dan juga kita..." Yuuki meniup kelopak-kelopak bunga yang ada di tangannya ke arah Naruto, dan Naruto langsung menjauh-jauhkan kelopak bunga yang berwarna kuning itu dari dirinya.

"Bagus tuh... ayo buat proposalnya!" Kata Naruto yang sudah merasa aman karena kelopak bunga itu tidak berhasil mendekatinya.

"Gampang banget ngomongnya..." kata Sasuke.

"Itu berarti kamu setuju." Kata Sakura.

"Siapa yang jadi ketuanya?" tanya Yuuki. "Dan jangan aku yang jadi ketua."

"Memangnya kenapa tidak kamu saja? Aku tidak mau melakukan tugas merepotkan kalau jadi ketua." Sakura menggaruk-garuk kepalanya.

"Tidak bisa, aku juga tidak mau melakukan tugas-tugas yang merepotkan dan lagi aku terlalu sibuk untuk mengurus game terbaruku! Hmmm, jangan Naruto deh nanti pasti ancur." Yuuki berbicara seperti itu dengan wajah tanpa dosanya. Naruto hanya mendengus sebal.

"Gimana kalau Hinata?" tanya Sakura.

"Hmmm, jangan-jangan memangnya kamu kuat Hinata? Berbicara di depan orang banyak dan melakukan hal-hal merepotkan seperti itu..." Hinata menggeleng.

"Kamu sepertinya menyepelekan Hinata Yuuki!" Naruto kesal.

"Dari pada nanti Hinata kenapa-kenapa, wee." Yuuki menjelurkan lidahnya.

"Yang terakhir Sasuke..." Sakura dan yang lainnya langsung melihat ke arah Sasuke dengan mata yang urghh... terlalu di buat-buat dan membuat Sasuke jijik.

"Jangan melihatku seperti itu!"

"Ayolah Sasuke, demi kita semua."

" 'Hanya untukku' begitukan maksudmu Sakura." Sakura hanya nyengir.

"Walaupun aku malas mengakuinya aku setuju kalau kamu jadi ketua. Hinata bagaimana menurutmu?" Naruto beralih ke Hinata.

"Aku juga setuju, kan di antara kita Sasuke yang paling sabar."

"Oke, kalau begitu kamu jadi ketua. Urus proposalnya ya! Aku jadi wakil juga tidak apa-apa. Sakura yang menjadi bendahara, sekertarisnya Hinata, dan penasihatnya Naruto."

"Penasihat?" Naruto terlihat bingung.

"Itu lebih baik dari pada kamu jadi pembantu atau harus membelikan kita makanan." Jelas Yuuki.

.

.

.

Proposal sudah di buat, hanya tinggal menunggu waktu saja kapan klub ini didirikan. Mereka berlima siang ini di panggil oleh kepala sekolah mereka, Tsunade. Naruto menyengir-nyengir gaje, Yuuki dan Sasuke yang berjalan dengan santai, Hinata berdoa-doa agar proposal diterima di sepanjang perjalanan di bantu olehh Sakura. Kalian tahu kan Sakura memiliki maksud tersendiri kenapa ingin klub ini didirikan.

Sasuke membuka pintu ruang kepala sekolah. Setelah memberi salam, Tsunade menyuruh mereka untuk duduk.

"Soal klub ini, apa kalian serius mau melakukannya?"

"Ya bu, kami semua serius melakukannya." Sasuke sebagai ketua mewakili mereka berempat untuk berbicara.

"Hmmm, soal generasi selanjutnya bagaimana? Apa akan ada yang mau menjadi junior kalian?"

"Tentu saja bu, sekejam apapun dunia pasti masih ada orang yang mau menolong sesama." Jawabnya dengan penuh keyakinan.

"Selain untuk menolong orang-orang apa tujuan kalian, dan keuntungan buat sekolah apa? Bukannya sudah ada guru BK jadi keberadaan kalian tidak terlalu dibutuhkan?" Sasuke mulai bingung harus menjawab apa.

"A-.." Yuuki yang duduk di sebelah Sasuke menepuk bahu Sasuke.

"Untuk kepuasan sendiri juga bu, kami semua ingin melihat orang-orang di sekitar kami bahagia terutama yang seumuran dengan kami. Keuntungannya untuk sekolah tentunya banyak, pertama kalau anak murid yang mengalami kemajuan yang sangat pesat ini juga akan meningkatkan pride sekolah di mata masyarakat. Selain itu anak-anak berandalan yang bisa tidak lulus sekolah bisa kita bantu dengan program kerja klub kami bu. Soal guru BK, kalau menurut kami banyak anak murid yang lebih memilih berkonsultasi dengan teman seumuran dari pada orang yang lebih tua. Dan menurut survey, remaja lebih dekat dengan temannya dari pada orang tua atau guru mereka."

"Hmmm, baiklah kalau begitu. Asal kalian tidak melakukan kegiatan yang memalukan nama sekolah dan merepotkan sekolah. Klub kalian sudah resmi." Begitulah kata Tsunade yang menjadi pengakhir pembicaraan ini. Setelah memberi salam mereka keluar dari ruangan itu.

"Hah, Sasuke masa kamu lupa sih. Aku dan Sakura sudah meperkirakan pertanyaan itu pasti ada." Kata Yuuki.

"Tapi menurutku itu terlalu tidak sopan."

"Tapi untuk keseluruhan kamu sangat bagus dalam menghafal yang lain!" Sakura menepuk punggung Sasuke.

Ternyata Sakura dan Yuuki sudah memberikan daftar jawaban yang harus di ucapkan oleh Sasuke. Ahli strategi kita memang hebat.

"Pulang sekolah ayo ngumpul di tempat biasa." Kata Naruto.

"Kan kita sudah punya ruang klub, kenapa nggak di situ saja? Eh ngomong-ngomong pembina kita siapa?" Tanya Hinata.

"Benar juga kamu Hin... pembina? Itu urusannya Yuuki."

"Oh, pembina kita Asuma-sensei. Aku bilang kita hanya pinjam nama doang, dan kalau ada masalah kita sendiri yang tanggung jawab. Katanya asal tidak merepotkan dirinya dia sih mau-mau saja."

"Ohh..." mereka manggut-manggut. Dan berpikir seberapa kasarnya(kurang ajarnya) Yuuki berbicara seperti itu kepada gurunya sendiri.

.

.

.

Mereka kumpul di ruang klub. Gak terlalu besar dan gak terlalu kecil. Naruto dan Sakura menentukan benda apa saja yang akan di letakkan di ruangan itu. Sasuke, Yuuki, dan Hinata berdiskusi mengenai hal lain.

"Jadi bagaimana?" tanya Sasuke.

"Bagaimana kalau pakai sistem loker, kata Bu Tsunade kita boleh melakukan apa saja asal tidak merepotkan dan memalukan sekolah. Aku pernah baca di komik jadi mereka pakai loker untuk tempat minta tolong sama cowok-cowok gitu. Dan soal promosi, kita pakai sistem mulut kemulut, kan ada Naruto belum lagi Sasuke yang juga terkenal. Di kelasku ada aku, Sakura dan Yuuki."

"Hm, baiklah kalau begitu. Aku akan minta izin satu loker."

"Ah, ah,, ah,," Yuuki mengangkat tangannya berkali-kali sambil nyengir.

"Apa?" Sasuke menaikan alisnya sebelah.

"Gimana kalau keberadaan klub ini agak rahasia? Jadi setiap yang minta tolong harus melakukan perjanjian agar tidak membocorkan identitas kita. Soal pemilihan junior juga. Ini pasti akan lebih menarik!"

"Perjanjian? Pakai materai?"

"Yup,"

"Dan pakai kata-kata yang menakutkan juga. Seperti memberikan sugesti lah." Tambah Hinata.

"Hn, baiklah kalau begitu."

.

.

.

KEESOKKAN HARINYA

1-A

Ada beberapa siswa yang sedang mengerjakan pr, itu adalah Kiba dan teman-temannya. Kalau Shikamaru melewati jam istirahatnya seperti biasa, tidur. Sedangkan kubu Ino sedang ngerumpi di sebelah kubu yang tidak melakukan apa-apa. Saat ini kelas menjadi 3 kubu, kubu pertama kubu yang sedang mengerjakan pr, kubu kedua sedang menggosip, kubu ketiga tidak melakukan apa-apa(tidur, bengong, dll).

"Eh Ino, kok kamu akhir-akhir ini kurusan sih? Lagi ada masalah ya?" tanya salah satu anak dari kubu rumpi.

'Masalah!' Sakura, Hinata, dan Yuuki langsung saling pandang dan tersenyum penuh arti.

"Waktunya promosi," kata Sakura dengan volume yang dikecilkan, Yuuki dan Hinata mengangguk.

"Nggak kok nggak ada apa-apa." Ino menggeleng-gelengkan kepalanya dan tersenyum.

"Apa kalian sudah dengar tentang rumor yang beredar?" Sakura mulai promosi.

"Rumor apaan? Soal senior menindas adik kelas? Itu sih udah biasa." Kata Tenten.

"Bukan, rumor yang lain. Soal klub rahasia yang bisa membantu kalian menyelesaikan masalah kalian." Bisik Sakura.

"Oh yang kalau mau minta tolong tulis nama, kelas, dan apa masalahnya lalu masukkan kedalam loker paling pojok dengan warna paling kusam dan ada huruf R-nya sambil menyertakan materai? Dan untuk bayaran mereka meminta 'sesuatu yang tidak merepotkan kalian dan juga kita'." Tambah Yuuki.

"Materai?" Ino bingung.

"Umn, katanya itu untuk surat perjanjian. Kalau sudah masalah kalian sudah selesai kalian harus menjaga rahasia siapa yang membantu kalian. Begitu sih menurut rumor." Kali ini Hinata yang berbicara.

Tiba-tiba Kiba yang sepertinya sudah selesai mengerjakan pr menghampiri kubu rumpi bersama Shino.

"Eh pada lagi ngomong apaan sih? Kok bisik-bisik? Ngomongin hal yang macem-macem ya?" begitu katanya.

"Macem-macem apa maksudmu?" tanya Tenten sambil menatapnya.

"Katanya ada rumor tentang klub rahasia yang membantu anak sekolah kita." Jelas Ino.

"Oh..." jawab Kiba.

.

.

.

DI KANTIN

Naruto dan Sasuke kali ini yang akan melakukan misi rahasia mereka sedang bersiap-siap untuk memulai. Di depan mereka ada Lee dan Choji, di meja sebelah ada sekumpulan perempuan yang merupakan fans Sasuke dan Naruto.

"Lee kamu kenapa? Mana semangat mudamu?" kata Naruto yang menunjuk Lee dengan sumpit ramennya.

"Aku di tolak lagi... katanya dia tidak kuat memiliki pacar sepertiku." saat Lee menjawab begitu, Sasuke dan Naruto mau tertawa terbahak-bahak. Jelas siapa yang betah memiliki pacar norak sepertinya, begitu pikir mereka berdua.

"Eh kau tahu klub rahasia yang menolong orang menyelesaikan masalahya? Cuma kasih 'sesuatu yang tidak merepotkan kalian dan juga kita' begitu menurut rumor, tulis nama, kelas, dan apa masalahnya lalu masukkan kedalam loker paling pojok dengan warna paling kusam dan ada huruf R-nya."

"Hn, katanya bawa materai juga untuk surat perjanjian agar tidak memberitahu siapa mereka sebenarnya."

"Aku sih dulu lewat blog, tapi sepertinya blog orang-orang itu sudah jarang di buka lagi." Kata Choji.

"Blog?" Naruto terbelalak.

"Mereka bernama Cocktail, Lavender girl, dan Fleurs de ceriser. Mereka jadi tempat konsultasi gitu."

"Ohh..." Naruto melanjutkan makannya.

"Ah aku tahu! Sekarang mereka tambah satu anggota kan? Kalau gaksalah namanya Sunshine ya? Sayang banget mereka jarang aktif lagi. Padahal aku kan mau konsultasi..." keluh Lee.

"Kenapa gak nyoba sama klub rahasia itu? Kali aja beneran." Kata Sasuke.

"Hmmmm..." Hanya itu yang di balas Lee.

Mereka kembali ke atktivitasnya masing-masing. Naruto dan Sasuke tersenyum bangga karena merasa diri mereka begitu terkenal, walaupun pakai hanya nama blog mereka saja.

.

.

.

BESOKNYA,, BESOKNYA,, BESOKNYA,,

Sepulang sekolah lima sekawan itu mengumpul di ruang klub yang telah diisi dengan barang-barang pilihan nona bendahara dan tuan penasihat. Ada kulkas berisi makanan, rak untuk buku dan komik, komputer, piano upright (Naruto beli khusus untuk Hinata,, aaawwww.../), tempat untuk partitur musik, radio yang di guankan untuk memutar lagu-lagu, tempat cd dengan berbagai cd dari genre-genre yang berbeda.

"Wah ada 3!" Seru Sakura.

"Ayo hom pim pa! Siapa yang akan ngurus, nanti ambil secara acak! Bagaimana?" Narutu memberi usul.

"Oke!"

"Hom pim pa..." mereka mengucapkannya bersamaan.

"Aku, Sakura, Dan Yuuki. Yes ini pasti menyenangkan!"

"Ayo ambil Naruto! Kamu duluan." Kata Sakura.

"Hmm, Lee?" Naruto mengangkat alisnya sebelah.

"Aku tidak menyangka dia benar-benar melakukannya. Semoga berhasi Naruto. Hahha.." Sasuke menertawai Naruto.

"Aku kan tidak romantis! Mana bisa aku mengurusi hal ini." Naru menggaruk-garuk kepalanya.

"Tapi kamu kan Cocktail, aku yakin kamu bisa Naruto. Nanti akan aku buat kan ramen khusus untuk kalian semua kalau berhasil." Kata Hinata.

"Asik!" Naruto langsung jingkrak-jingkrak.

"Kini giliranku... Ino... ternyata dia benar-benar punya masalah. Kamu siapa Yuuki?"

"Sai... dia yang mana? Sekertaris?"

"Ah, tunggu sebentar." Hinata berjalan ke salah satu rak buku dan mengambil sebuah map.

"Nah, ini Yuuki." Hinata menyerahkan map tersebut.

"Shouzouga Sai, tinggi 170 cm, berat badan 50 kg, kulit putih pucat seperti setan, suka senyum-senyum gak jelas, fansnya hampir sama banyak dengan Sasuke, dia yatim piatu, alamt rumahanya... Hinata kamu hebat!" Yuuki bangga dengan temannya.

"Terima kasih..." jawab Hinata malu-malu.

"Hinata kamu nguntitin dia?" Naruto bertanya dengan ragu-ragu.

"Nggak, aku ngping pembicaraan orang-orang dan mencari info di tempat lain. Lagi pula bukan hanya dia, aku punya data hampir satu sekolah di sana." Hinata menunjuk ke arah rak yang merupakan tempat data-data siswa ala Hinata.

"Sugoi! Kamu hebat banget Hinata!" kata Sakura.

"Sasuke dan Yuuki yang memintaku melakuakan itu."

"Besok kalian mulai misi ini." Kata Sasuke.

"Ayey sir!" mereka memberikan hormat kepada Sasuke bersamaan.

"Hn," Sasuke pasrah di memiliki anak buah seperti itu.

"Sasuke, itu..." kata Naruto sambil menunjuk sesuatu.

"Apa lagi?"

"Surat? Kok aku baru melihatnya ya?" gumam Hinata.

"Hiii~ serem, masa muncul sendiri." Naruto mulai ketakutan.

"Gak mungkin bodoh, pasti tadi keselip aja." Sakura dengan santainya berbicara seperti itu. Sasuke mengambil surat itu dan membukanya.

"Tidak ada nama pengirimnya, tapi dia minta bertemu sekarang juga di atap sekolah dan aku yang harus bertemu dengannya..." Sasuke melihat ke mereka berempat.

"Mencurigakan," kata Yuuki.

"Jangan di terima Sas," kata Naruto disertai anggukan dari Hinata.

"Hm, benar bisa jadi berbahaya. Mungkin saja yang membencimu," begitu kata Sakura.

"Dari mana dia bisa tahu namamu ya?" Yuuki bertanya-tanya sendiri.

"Akan kucari tahu," Sasuke langsung melangkah keluar.

"Jangan Sas!" Naruto menghentikan langkahnya.

"Apa lagi? Aku ini laki-laki, dan aku juga penasaran siapa yang mengirimkannya. Dan lagi tulisan ini sangat familiar..." Sasuke langsung lanjut berjalan.

"Matta ashita..." katanya ambil berjalan membawa tas dan case biolanya.

.

.

.

Sasuke

Awalnya aku kira ini hanya surat iseng saja, tapi karena orang ini sepertinya tahu aku dan tulisannya sangat familiar aku terima saja... tantangannya. Aku berjalan di lorong kelas menuju atap sekolah yang sudah sunyi. Yang terdengar saat ini hanya suara langkah kakiku dan suara daun yang bergesekkan karena hembusan angin yang kencang. Aku tiba di atap sekolah, dan aku melihat seorang laki-laki berkulit pucat duduk di salah satu tempat duduk yang biasa kutempati dan saat ini belum menunjukkan kalau iya tahu keberadaanku. Sepertinya ia sedang merenung...

Aku mencium bau yang aneh dari setiap kali berjalan mendekatinya. Baunya membuatku sedikit ngeri. Aku bukan orang yang penakut seperti Naruto dan aku tidak percaya dengan hantu. Tapi orang ini seperti tidak memiliki... jiwa.

"Apa kamu yang mengirimkan surat itu?" tanyaku, dan ia menengong.

DEG

Wajahnya...

Wajahnya itu...

Bukan dia bukan hantu muka rata,.

Dia juga tidak memiliki wajah yang menyeramkan ataupun aneh, tapi masalahnya, wajahnya itu...

Wajahnya menyerupai aku.

"Siapa kau?" aku tidak menunjukkan rasa kagetku dan berbicara tenang seperti biasanya.

"Aku tanya sekali lagi, siapa kau? Apa tujuanmu memanggilku kemari?" dia tidak menjawabku dan aku menyentuh bahunya. Bahunya dingin...

"Apa kamu sudah siap?" dia akhirnya mulai berbicara.

"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!" jawabku.

"Apa yang akan kamu lakukan? Sebentar lagi... hari itu akan datang." Dia seakan-akan tidak mendengar jawabanku dan terus berbicara dengan nada yang monoton.

"Hei, siapa kau sebenarnya? Apa maksud ucapanmu dari tadi? Dan kenapa wujudmu menyerupaiku?" aku bertanya dan terus bertanya, dia hanya diam dan menatap luris ke depan, tunggu dulu tatapannya kosong.

"Kau akan mengerti nanti..." akhirnya dia menjawab, dia berdiri dan menatapku.

"Jangan sampai kau menyesal dengan apa yang telah kau lakukan."

'Hah? Apa maksudnya itu?'

Tiba-tiba angin kencang menerpaku yang membuatku –dengan terpaksa menutup kedua mataku agar tidak terkena debu, dan saat aku membuka mataku sosok itu hilang. dan aku merasa ada seseorang yang menyerukan namaku berkali-kali.

"Sasuke..."

"Sasuke..."

"Hei Sasuke, apa yang terjadi?"

"Sasuke!"

"Cepat bawa dia ke UKS..."

Apa yang terjadi? Aku bingung...

Sebenarnya aku ada di mana? Bukannya tadi aku berada di atap? Mataku juga tidak bisa terbuka, aku hanya bisa mendengar suara-suara itu saja. Sebenarnya apa yang terjadi?

Sepertinya sudah beberapa jam berlalu dan saat ini aku sudah bisa membuka mataku. Aku di UKS, tadi aku mendengar seseorang menyuruh orang lain membawaku ke UKS. Aku melihat ke sebelahku.

"Oi teme, apa yang terjadi padamu?" Naruto mengenakan baju olahraganya duduk di sebelahku –yang saat ini terbaring di atas kasur di UKS.

"Tidak tahu, bukannya saat ini aku berada di atap? Kenapa ada di UKS?" aku yang bingung bertanya pada Naruto.

"Atap? Kamu mimpi kali, tadi itu kita lagi pelajaran olah raga."

"Lalu?"

"Kamu yang duduk di pinggir lapangan tertidur dan tidak terbangun-bangun. Chouji mencoba membangunkanmu dengan cara yang sama seperti yang ia sering lakukan pada Shikamaru tapi tidak berguna. Saat guru guy mendengar detak jantungmu, detaknya terdengar lemah dan ia menyuruh kami membawamu kemari. Yang lain sudah balik ke kelas, dan aku yang menjagamu sendiri sampai bosan." Naruto cemberut.

"Nanti kutraktir ramen." Jawabku sambil mencoba untuk bangit.

"Okeh! Aku tunggu! Eiiitts jangan bangun dulu, aku panggilkan Shizune-sensei dulu." Naruto menyuruhku untuk tiduran dulu dan ia berdiri untuk mencari Shizune-sensei.

Mungkin aku bermimpi seperti itu karena ingat dengan obrolan kami kemarin saat istirahat, pantas saja Hinatanya agak penguntit gitu. Untungnya dia bukan tipe penguntit seperti Yuuki, kasian Naruto kalau Hinata seperti itu.

Beberapa menit kemudian dia kembali sambil nyengir, dan katanya aku boleh kembali ke kelas. Sepanjang perjalanan menuju kelas aku berpikir keras. Mimpi tadi seperti kenyataan, dari ide pembuatan klub konsultasi sampai bertemu dengan sosok yang menyerupai diriku. Sepertinya Naruto memperhatikanku yang saat ini sedang berpikir keras. Pura-pura tidak tahu saja deh.

Aku masuk kedalam kelas seperti biasanya (sebelumnya aku mengganti baju dulu, loker di sini terletak di luar kelas), dan seisi kelas melihatku dengan ekspresi kaget seperti melihat mayat hidup. Sepucat itukah wajahku?

Aku lansung saja duduk di tempat dudukku dan bersikap seperti biasanya. Aku tidak bisa konsentrasi. Yang ada di pikiranku hanyalah pertanyaan-pertanyaan mengenai mimpi tadi. Aku terus berpikir mencari jawaban, tetapi tidak satu pun jawaban kutemukan.

'Kau akan mengerti nanti...'

Iya aku tahu aku pasti akan mengerti suatu saat nanti, tapi nanti itu kapan?

Hh, lama-lama aku kesal dengan diriku sendiri yang seperti ini.

Pulang nanti aku harus kumpul PMR lagi, padahal aku mau latihan biola. Tapi tidak mungkin aku kabur, ya sudah deh aku hari ini hanya sedikit latihannya.

.

.

.

Setelah aku selesai kumpul PMR, aku langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah ibuku langsung melihat wajahku yang lebih pucat dari biasanya.

"Sasuke kamu kenapa?" tanyanya dengan nada khawatir.

"Aku tidak apa-apa bu, jangan khawatir."

"Seharusnya kamu bersyukur karena ibumu mengkhawatirkanmu." Kata Ayahku yang sedang duduk sambil membaca koran dan sesekali melirik ke arahku.

"Hn," aku langsung masuk ke dalam kamarku dan meninggalkan ruang tamu.

"Hei Sasuke, wajahmu pucat sekali apa yang terjadi." Tanya kakakku, Itachi.

"Bukan urusanmu," aku menatapnya dengan penuh kebencian. Orang ini, dia telah merebut semuanya dariku.

"Apa itu caramu berbicara dengan kakakmu satu-satunya." Katanya.

Ya, itu caraku, apa ada yang salah?

Tunggu, apa aku tidak salah dengar? Kakak? Aku tidak pernah menganggapmu kakak.

Aku hanya diam dan berjalan menuju tempat tidurku. Aku sangat lelah sekali hari ini, aku mau tidur dan mungkin saja aku akan mendapatkan jawaban dari mimpiku yang sebelumnya.

"Ibu, Sasuke tidak bangun-bangun." Aku mendengar suara laki-laki memanggil namaku, Itachi mungkin. Aku berusaha membuka mataku tetapi sangat sulit.

"Tunggu dulu Itachi ibu akan akan ke sana," teriak ibuku dari lantai bawah. Aku mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat.

"Astaga, apa yang terjadi?" aku mendengar suara cemas dari mulut ibuku. Dan Itachi tidak menjawabnya. Aku tidak suka ini, aku harus bangun.

"Aku sudah bangun bu," jawabku dengan lesu.

"Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanya ibuku.

"Aku hanya kelelahan, itu saja."

"Benar tidak ada apa-apa? Akan ibu bawakan makanan."

"Tidak perlu bu, aku akan ikut makan di bawah." Aku bangun dari tempat tidurku.

Ibu dan Itachi berjalan mengikutiku ke bawah. Sesampainya di meja makan, aku melihat ayah dengan wajah biasanya menunggu kami semua untuk duduk. Kami semua mulai memakan makanan yang ada. Sesekali aku terdiam untuk mengumpulkan tenaga.

"Sasuke, kamu benar-benar tidak apa-apa nak?" tanya ibuku untuk kesekian kalinya.

"Sudah ku bilangkan bu, aku tidak apa-apa." Aku mulai tidak tahan di lihat dengan tatapan seperti itu.

"Dasar kamu anak durhaka Sasuke! Jangan berbicara seperti itu pada ibumu!" ayahku menghentakkan sumpitnya di meja makan.

"Sudahlah Fugaku, jangan seperti itu pada Sasuke." Ibuku membelaku.

"Jangan seperti itu Mikoto, kamu terlalu memanjakannya makanya dia kurang ajar seperti ini. Tidak seperti kakaknya."

"Tentu saja aku tidak seperti kakak, aku Sasuke bukan Itachi."

"KAU!" ayah langsung berdiri lalu menarik kerah bajuku, itu mebuatku yang duduk langsung berdiri terangkat karenanya.

"Fugaku!" ibu berusaha menghentikan ayah, sepertinya dia ingin menangis.

"Ayah," Itachi berjalan ke arahku dan ayah.

"Kalau saja kau tidak..."

"Tidak apa? Kalau saja aku tidak ada di dunia? Kalau saja aku tidak harus merepotkan kalian semua seperti ini? Kalau saja aku tidak harus terlahir menjadi anakmu?" kata-kataku sudah berada di luar kendali otakku, dan bibirku bergetar saat mengatakkan itu.

"SA-" ayah ingin menamparku tetapi di hentikan oleh Itachi. Aku menatap Itachi dengan tatapan penuh rasa iri dan benci. Lalu dia membalasku dengan tatapan untuk menyuruhku melihat ibu, saat ini ibu sedang menangis. Aku kesal, aku langsung berjalan menuju kamarku dan membaringkan tubuhku di atas tempat tidurku. Hari ini adalah hari paling menyebalkan!

Sesaat kemudian, Itachi membuka pintu dan masuk.

"Sebenci apapun kamu pada ayah dan aku, jangan buat ibu menangis seperti itu."

"Aku tidak memintanya menangisiku, dan aku tidak suka di tangisi."

"Hh, kamu ini." Dia langsung mematikan lampu kamar dan aku pun tertidur.

.

.

.

Keesokkan harinya saat sarapan, ayah sudah berangkat lebih dahulu, mungkin untuk menghindari pertengkaran seperti semalam. Setalah pamit pada ibu aku langsung berangkat sekolah, hari ini festival olah raga jadi aku tidak membawa biolaku. Saat di persimpangan aku bertemu dengan Naruto yang berangkat dengan sepeda. Dia tidak bisa memanfaatkan kekayaannya dengan baik, kan bisa saja dia naik mobil dan sebagainya.

"Oi Teme, kring~... kring~..." Naruto naik sepeda dan membunyikan bel sepedanya, padahal saat ini aku berada tepat di depannya. Kalau jauh sih masih aku maklumi.

"Kamu mau pamer?"

"Hehehe, iya dong. Lihat sepedaku, bagus loh! Nanti mau di pakai buat balapan sepeda ontel!" dia membunyikan bel sepanya sekali lagi.

"Oh..."

"Mau nebeng?"

"Gak makasih,"

"Tapi gak asik, ayo naik."

"Gak, lebih baik buat yang di depan." Naruto langsung melihat ke depan, sepertinya dia tidak sadar kalau kita sudah berjalan jauh dari tempat kita bertemu tadi.

"Pagi Hinata, Sakura. Lihat sepeda baruku! Hinata mau nebeng?"

"Pagi Naruto, Sasuke." Kata Hinata dan Sakura, aku hanya mengangguk.

"Hanya Hinata saja ni?" goda Sakura.

"Kalau kamu yang naik gak bakalan kuat nahan jidatmu yang lebar. Hahaha.. kring~.. kring~.." Naruto membalas godaan Sakura ditambah dengan suara nyaring bel sepedanya. Sebenarnya dia norak atau apa sih?

"Awas kau Naruto!" Sakura ingin menendang Naruto ke langit, sepertinya.

"Ayo Hinata cepat naik!" Naruto menyuruh Hinata naik sepedanya dan membawanya kabur bersama.

"Cih, malah kabur." Sakura berkata dengan kesal.

"Sasuke gak bawa biola?"

"Gak, hari ini kan festival olahraga."

"Oh iya, eh kemarin aku dengar kamu tidur ya? Ternyata kamu senang tidur juga seperti Nara-san."

"Bukannya kamu sendiri juga suka tidur?"

"Iya sih, tapi gak sepearah kalian berdua."

"Bilang aja gak mau ngaku."

"Kakiku masih gatal ingin menendang orang, apa kamu mau jadi sasarannya?"

"Nggak termia kasih, nanti saja buat Naruto." Jawabku singkat, dan ternyata kami sudah tiba di depan gerbang sekolah.

.

.

.

.

A/N:: Hoe, chapter ini segini aja. Chapter depan bakan full of Sasuke, dan itu berarti Sasuke bakal jadi main chara di chap depan. Ohohoho, kita menuju ending. Kalau menurut minna, ending yang bagus yang happy ending, sedih, atau ngegantung?

.

.

.

Jangan lupa pilih ya, males bikin poll, lewat sini aja kan lebih gampang.

.

.

.

Ending yang seru gimana?

.

.

A. Akhir yang bahagia

B. Akhir yang sedih

C. Ending yang menggantung

D. Ending yang tragis(sama aja sama sedih mungkin lebih kejam)

E. lain-lain

.

.

.

Jawab ya!