Qai again..
.
.
Wonkyu
.
.
Kyuhyun mengernyit aneh sebelum menarik lengan Siwon, ia menggeleng, pernyataan tidak suka dengan keputusan yang Siwon ambil.
"Wae? Hyung, aku kira kita akan mencari Guixian, kenapa.."
"Mianhe Kyu, kita sudah sejauh ini, hyung yakin sepenuhnya jika Guixian ada disana"
Kyuhyun kembali menggeleng, ini diluar rencana, tidak, ini tidak boleh terjadi.
"Tapi hyung, disana berbahaya, kita hanya manusia biasa, aku mohon, kita mencarinya di tempat lain saja" Kyuhyun mulai mengeluarkan semua jurusnya, membujuk, merengek bahkan dengan mata berkaca-kaca. Siwon menggenggam jemari Kyuhyun di lengannya, mengecupnya dalam. Ia menatap Kyuhyun, menyalurkan kepercayaan.
"Tenang saja, hyung akan melindungimu"
Kyuhyun kehabisan kata-kata, ia harus memberitahu Guixian tentang hal ini, semuanya. Kyuhyun melirik Donghae yang setia mengekorinya dari belakang, Tidak! Tidak cukup waktu untuk memberitahu Guixian, cukup mencolok jika ia melakukannya sekarang, apalagi Siwon selalu menempel.
Jemari Kyuhyun saling bertaut, matanya bergerak gelisah, ia memperhatikan posisi matahari, jika tidak salah sebentar lagi peperangan itu dimulai, Siwon dan Donghae tidak boleh disana, terlalu berbahaya.
"Hhh, aku sudah bilang Kyui, Siwon itu keras kepala" Donghae menepuk bahu Kyuhyun, merangkulnya, mengajak Kyuhyun agar berjalan kembali mengikuti Siwon yang sudah berjalan beberapa langkah.
'Bagaimana ini'
...
Makhuk itu menuruni anak tangga di ruangan bawah tanahnya yang lembab dan sunyi, ia menghirup nafas dalam, lalu menyeringai, tangannya membuka seiring dengan berpasang-pasang mata berwarna biru bersinar seakan menyinari ruangan yang cukup luas itu.
"Saatnya bangkit anak-anakku" Lirih Iceman dengan pandangan puas, sangat puas.
Disisi lain, Guixian menggenggam katananya, katana berukir yang setia menemaninya sejak peperangan terakhir berlangsung, Guixian memejamkan mata, mencoba mengirim telepati untuk Kyuhyun.
Brak.
Pintunya terbuka, sedikit dipaksa, Jaejoong muncul dengan wajah ragu. Ia duduk disamping Guixian.
"Aku tidak yakin kali ini kita bisa menang, Kau tahu.. Kyuhyun, Bloody Witch.."
Guixian menepuk bahu Jaejoong, memberi keteguhan, Ia tersenyum, sangat lebar, senyum yang sudah lama tidak terlihat di wajah pualamnya, mau tidak mau Jaejoong ikut tersenyum. Namja muda di depannya memang sangat mirip Kyuhyun.
"Aku yakin kita bisa Jae, walau hanya berdua"
"..."
"lagipula sesuai perjanjian, hari ini akan tiba, saat clan kita harus merebut kekuasaan yang dulu pernah milik kita" Guixian menatap tanda yang muncul di lengannya.
"Waktunya sudah tiba Jae" Lirihnya.
Jaejoong mengangguk samar, ia sedikit takut, tidak! Jika hanya melawan makhluk-makhluk ciptaan Iceman, ia masih sanggup, hanya saja, jika harus melawan Iceman.. ia sedikit gentar, sebuah taruhan nyawa dan penyembahan, jika mereka kalah kali ini, mereka harus rela menjadi pengikut Iceman yang taat, lalu menyerahkan kekuasaan mereka pada Iceman, menyerahkan Katana kebesaran mereka, dan membiarkan Iceman menguasai dunia dengan sisi kelamnya.
'Queen Kyu, doakan kami' Bathinnya.
...
Yunho melihat semuanya, bagaimana makhluk-makhluk bertaring dan tidak lagi memiliki nyawa itu bergerak menuju sebuah hamparan luas di belakang mansion dimana Guixian dan Jaejoong, kekasihnya berdiri menantang. Hamparan luas yang berbentuk seperti Colosseum jaman romawi, ia sendiri berdiri patuh di belakang Iceman yang duduk di atas singgasananya, seakan begitu menikmati apa yang disajikan di depan matanya. Yunho ingin berteriak, paling tidak menarik Jaejoong dari sana, atau yang lebih ekstrim lagi, ia ingin membunuh Iceman, mencekiknya.
Yunho menggeleng, menyingkiran fikiran yang bisa saja diketahui Iceman. Tanpa ia ketahui Iceman menyeringai dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.
Guixian memejamkan matanya, mencoba terhubung dengan Kyuhyun, namun sekali lagi seakan ada tirai pembatas, semua telepatinya terpental. Guixian mencoba tenang, mungkin Kyuhyun sudah menjauh, berada di tempat yang aman.
Brak.
Pintu gerbang besar itu terbuka paksa, segerombolan makhluk-makhluk immortal dengan mata biru muncul, sangat banyak. Jaejoong memasang kuda-kuda, bersiap menyerang saat..
Brak.
Brak.
Brak.
.. 4 sisi gerbang terbuka menyeluruh, makhluk-makhluk itu semakin banyak, Guixian hanya menatap dari sudut matanya, dengan sekali hentak, ia mengeluarkan samurainya. Jaejoong yang berdiri di belakangnya menutup matanya sejenak , menarik nafas sebelum mata itu membuka berwarna biru gelap, sama seperti Iceman, rambut hitamnya berubah menjadi abu-abu, dari kedua tangannya muncul sepasang pedang yang terbuat dari es, meruncing di ujungnya.
Jaejoong melangkah pelan, mendekati makhluk-makhluk bertaring itu dengan langkah pasti, ia melayangkan pedangnya, membelah makhluk itu menjadi beberapa bagian.
Guixian menahan nafasnya, matanya berubah merah, seperti darah, menyala, rambut pendeknya memanjang sebahu, berubah putih, ukiran yang menjalar di lengannya menyala, terhubung dengan katana yang menyilaukan, ia telah di kelilingi makhluk immortal.
"Aaaarrrrggghhhhh..." Dengan sekali gerakan Guixian menancapkan kedua katanyanya ke permukaan tanah, membuat sebuah gelombang tak kasat mata yang menyerang seluruh makhluk yang mendekatinya, dentuman demi dentuman terdengar, semua terlempar menjauh, seperti terdorong sesuatu, Guixian menarik katananya, memutar-mutar sebelum berlari menyerang dengan membabi buta.
"Mengagumkan, bukankah dia akan menjadi panglima yang sangat tangguh" Iceman bertepuk tangan, memuji ketangguhan Guixian di medan perang, dahi Yunho berkerut.
...
Tubuh Kyuhyun terhenti, matanya terlihat kosong, Donghae yang menyadari ada yang tidak beres dengan Kyuhyun berbalik, ia mendapati Kyuhyun yang terdiam menunduk. Donghae menepuk bahu Siwon, ia menunjuk Kyuhyun saat Siwon sudah berbalik.
"Kyuhyun.." Lirih Siwon, ia menangkap tubuh Kyuhyun yang tiba-tiba limbung, nyaris mencium tanah.
"H-hyung.."
"Gwencana?" Siwon menyeka keringat yang mengalir deras dari dahi Kyuhyun, Kyuhyun tidak menjawab, jemarinya malah terangkat menunjuk sesuatu di depannya. Siwon mengikuti arah jari Kyuhyun, matanya membelalak, ia membantu Kyuhyun berdiri tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya, Donghae mundur selangkah.
"T-tidak mungkin, a-aku tidak melihat apapun sedari tadi" Donghae berwajah pucat, ia melirik Siwon yang masih terdiam dengan mulut tertutup.
"Apapun ini, kita harus masuk" Siwon menatap Kyuhyun yang mau tidak mau mengangguk.
Mansion? Apa itu benar-benar mansion yang mereka cari? Bukan! Itu hanya satu dari sejuta kemampuan Kyuhyun, demi menyelamatkan Siwon, ia rela melakukan apapun, termasuk mengeluarkan tenaganya hanya untuk membuat pengalihan.
Donghae memapah Kyuhyun, membiarkan Siwon berjalan terlebih dahulu, matanya mawas saat berjalan diatas sebuah jembatan yang menghubungkannya dengan gerbang utama, gerbang besar dengan lambang penyihir di sudutnya. Donghae bergidik ngeri, pegangannya di lengan Kyuhyun mengerat.
Kyuhyun memejamkan matanya, mengirim sesuatu pada Guixian, ini saat yang tepat ketika Semua mengira Kyuhyun dalam kondisi buruk.
Siwon berdiri di depan gerbang, dahinya mengernyit. Ia berbalik, menatap Donghae lalu melirik Kyuhyun.
"Ini bukan mansion yang kita cari, ini hanya pengalihan"
Mata Kyuhyun membuka sepenuhnya, ia menatap Siwon, ia baru sadar jika Siwon terlalu pintar untuk ia bodohi, Siwon pasti sudah mempelajari banyak hal tentang dunia sihir selama ia tidak ada, jadi tidak menutup kemungkinan Siwon sudah tahu semuanya.
"Kita pergi, sepertinya Iceman membuat ini agar kita tertipu"
Langkah Kyuhyun membeku, darahnya seakan tidak mengalir. Ia membatu, ia hanya terdiam saat sihirnya memudar, mansion yang ia buat semirip mungkin itu menghilang seakan tersapu angin.
Donghae tersentak, tubuhnya hampir terjatuh. Siwon yang melihat itu langsung menatap Kyuhyun, ia menggenggam kedua bahu Kyuhyun.
"Gwencana?"
Kyuhyun mengangguk meski nafasnya terasa sesak, jemarinya bergetar. Siwon merebut sebuah peta dari Donghae, peta yang mereka buat sendiri berdasarkan tanda-tanda yang pernah Iceman kirim untuknya.
Siwon memperhatikan sekelilingnya, rimbunan pohon yang lebat, udara yang semakin dingin, dan embun yang tiba-tiba menyapu sekelilingnya. Siwon melipat petanya, senyumnya mengembang.
"kita sudah dekat"
Kyuhyun menelan ludahnya gugup, ia melirik Donghae bebrapa kali sebelum mengepalkan jemarinya, mengirim sesuatu.
'Ini tidak boleh terjadi'
Guixian menekan kepalanya yang terasa sakit, ia jatuh berlutut.
"Guixian awas!"
Jaejoong berdiri di depannya setelah melempar 3 makhluk yang nyaris melompati Guixian yang kini sudah kembali berdiri, nafasnya memburu.
"Kita harus menyelesaikannya secepat mungkin, Queen Kyuhyun.. Kyuhyun tidak bisa lagi menahan Siwon" Lirihnya, Jaejoong menatap Guixian lama sebelum mengangguk. Kakinya terangkat, melayang melepaskan semua energi yang ia punya, hamparan yang dipenuhi makhluk immortal itu seketika menjadi kosong, menyisakan dirinya dan Guixian.
Prok. Prok. Prok.
"Sangat mengesankan, kalian memang petarung handal" Iceman melayang dari singgasananya, turun menuju ke tengah-tengah hamparan dengan kaki menapak sangat halus, ia bertepuk tangan, seakan bangga melihat kemampuan dua namja di depannya.
"Sayang sekali satu diantara kalian tidak bisa hadir, padahal sudah lama aku ingin melihat kemampuannya" lanjutnya mengitari guixian dan berhenti di depan Jaejoong.
"Kucing mungilmu ternyata sangat hebat Yunho" Bisiknya. Yunho bergetar, langkahnya terhenti. Ia memandangi Jaejoong dari jauh.
"Berhenti bermain, kami tidak akan menjadi pengikutmu" Jaejoong mendesis, Iceman tertawa.
"lalu buktikan"
Mata biru Iceman menjadi semakin biru, dari punggungnya keluar aliran air yang semakin lama berubah menjadi es, menjuntai bagai pecut berwarna biru, aliran itu tidak hanya satu namun sangat banyak, membuat Iceman tampak seperti laba-laba.
Ctakkk.
Tubuh Jaejoong terhempas ke dinding dekat gerbang, Guixian memasang wajah waspada, mata merahnya berkilat. Ia melompat lincah saat sebuah aliran menyerangnya dari belakang.
"kau tidak akan bisa menghentikanku Guixian" Lirih Iceman, memainkan aliran es di punggungnya, menyerang Guixian dan mencoba menjatuhkan Jaejoong kembali sebelum namja itu menebaskan pedang birunya, membuat aliran itu terpecah menjadi kepingan es.
Guixian berulang kali menebas-nebaskan katana yang ia pegang, mengalirkan kekuatan panas yang cukup membuat Iceman kewalahan, Guixian melompat, menerjang tubuh Iceman dari belakang namun makhluk itu cukup gesit dengan mengecoh Guixian hingga serangan itu berakhir membakar tanah.
"Cukup hebat" Seringai Iceman.
Jaejoong menggunakan posisi yang menguntungkan saat Iceman terfokus pada Guixian, ia mengeluarkan seluruh tenaganya, membuat lapisan es besar dan menghantam tubuh Iceman.
Ctaakkk.
Kraaakk.
Iceman mengangkat tangan kirinya, menahan serangan itu hingga terpental menyerang Jaejoong.
Tubuh Jaejoong kembali menabrak gerbang, namun kali ini benar-benar tidak bisa bergerak, aliran es itu memerangkap tubuhnya lekat, menempel. Jaejoong menggerakkan lengannya, mencoba membebaskan diri.
"Jae.." Guixian berlari menuju Jaejoong bertepatan dengan Iceman mengeluarkan aliran lain dari tangannya, membuat tubuh Guixian terjerembab, katana yang setia ia pegang terlempar jauh dari tubuhnya, masing-masing menancap di atas tanah.
"ugh.." Guixian mencoba bangkit, sisa tenaganya menghilang, rambutnya kembali memendek dan berubah warna seperti semula, mata merahnya juga kembali menjadi coklat caramel, tubuhnya terasa lemah. Ia merangkak, mendekati katanyanya, namun dengan sekali gerakan sang katana melayang lalu kembali terhempas, membeku.
Guixian memejamkan matanya mengumpulkan kembali sisa tenaga namun nihil, tubuhnya hanya semakin lemah.
"hanya sampai disini rupanya" tubuh Iceman kembali seperti semula ia berjalan mendekati Guixian yang terkapar tidak bertenaga di tengah-tengah area pertempuran. Kaki Iceman terjulur, menggulingkan tubuh Guixian agar telentang lalu menginjak dadanya.
"Sudah ku katakan bahwa kalian akan menjadi panglima terbaikku"
"..."
"Tapi sepertinya kalian ingin mencoba terlebih dahulu, meskipun sudah aku pastikan kalian akan kalah"
"..."
Iceman membentuk pedang dari telapak tangannya, pedang dengan ujung runcing.
"lalu seperti inilah akhirnya"
Iceman mendekatkan ujung pedangnya tepat di dada kiri Guixian, menekannya pelan, ingin melihat derita Guixian saat sisi dingin memenuhi dirinya, Iceman menyeringai, merasa kemenangan sudah ada ditangannya sebelum..
Trak.
Tubuh Iceman bergerak mundur, sebuah anak panah titanium menancap di bahu kirinya, tubuhnya menggeram marah, namun wajahnya seketika berubah tenang, bahkan sedikit mengulas senyum, dengan pelan, ia mencabut anak panah di bahunya, lalu menutupi bekasnya dengan telapak tangan, hanya sepersekian detik dan luka itu tertutup kembali.
"Wow, sebuah kejutan melihat kalian disini"
TBC...
Hhhh maunya bikin 1 chapter terakhir tapi kepanjangan hihihi..
Last chapter depan deh
LOVE
QAI^^
