"ANBU and The Girls"

Disclaimer : Naruto Belong to Masashi

Kishimoto, Ceritanya punya Author.

Rated : T

Genre : Romance, Friendship.

Pairing: Khusus chapter ini, NaruHina :D

Warning! : AU, OOC,TYPO(S), Gaje

_ Happy Reading _

.

.

"Dimana mereka ?" tanya seorang pria bermata amethyst.

"Entahlah Nii-san, padahal sudah setengah jam kita menunggu disini." jawab seorang berambut pirang, dengan gigi yang bergeletuk, tampaknya dia kedinginan.

"Dobe, apa kau yakin ini tempat janjiannya ?" seorang pria berambut raven menimpali, dengan kondisi yang tidak jauh beda dengan pria pirang tadi.

"Ya, aku yakin ini tempatnya." Kembali si pirang menjawab sambil melihat keadaan sekeliling mereka yang lumayan gelap itu.

Terlihat tujuh pria tengah duduk disebuah pondok, dengan keadaan sekitar yang cukup gelap mengingat jam yang masih menunjukan 04.30 pagi. Namun jangan berpikir mereka ini perampok yah, karena mereka bukan sekelompok orang seperti itu.

Mereka ber-7 tergabung dalam sebuah grub yang bernama 'ANBU'. Grup ini beranggotakan tujuh pria tampan yang bersekolah di NHS (Namikaze High School). ANBU juga diketuai oleh seorang pria berambut pirang, bermata sapphire blue yang indah, kulit tan yang eksotis, dan tubuhnya yang proporsional. Dia memiliki ciri khas di wajahnya, di mana terdapat tiga garis halus yang membentang dimasing-masing pipinya. Dia mungkin sudah menginjak umur yang bisa dibilang dewasa, namun sikapnya masih tetap kekanak-kanakan. Para anggota dan orang lain pun menganggap sang ketua ANBU ini juga sedikit bodoh.

Namun dalam beberapa situasi apalagi keadaan serius, sifat kekanak-kanakan dan bodohnya itu hilang entah kemana. Terganti menjadi seorang pria dewasa yang memiliki pikiran seolah orang dewasa juga. Mungkin ini terdengar tidak masuk akal namun, kalian akan seperti menganggapnya orang lain jika melihat perubahan drastis sikapnya. Dia juga rela melakukan apapun untuk para sahabatnya. Para anggota ANBU menghormatinya, dan akan selalu mendukungnya dalam melakukan sesuatu. Karena mereka bukan hanya sekelempok remaja yang berteman saja, tapi ikatan mereka sudah seperti keluarga.

Oke sekian pendeskripsian tentang sang ketua grub ANBU ini. Sekarang mari kita cari tahu kenapa ada tujuh orang remaja yang duduk disebuah pondok yang berlokasi di salah satu kawasan wisata Kota Suna, pada jam 04.30 pagi.

"Na-Naruto ? apa masih lama ?" tanya seorang pria yang memiliki gigi taring menonjol keluar dari mulutnya, terlihat ia sedang menggosokkan kedua telapak tangannya sambil sesekali meniup permukaan tangan itu. Walaupun jacket yang lumayan tebal melekat di badannya, namun sepertinya rasa dingin masih dapat menembus membuat pria ini sedikit gemetaran dibuatnya.

"Entahlah, tunggu sebentar lagi." pria yang dipanggil Naruto tadi, yang kita juga tahu bahwa dialah sang ketua ANBU, menjawab. Matanya melirik beberapa teman yang lain. Terlihat seorang pria bersurai layaknya nanas sedang mengutak-atik handphone-nya. Seorang berkulit pucat yang tengah membaca buku dengan bermodalkan lampu pondok sebagai penerangannya, dan seorang lagi yang berambut merah sedang serius dengan PSP miliknya.

"Shika, coba kau sms mereka lagi." Naruto berujar pada Shikamaru, pria yang bersurai layaknya nanas. "Baru saja sudah, mereka bilang lagi dalam perjalanan." jawab Shikamaru, tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya, Naruto hanya mengangguk.

.

"Ah, itu mereka." setelah beberapa menit para ANBU menunggu, akhirnya mereka datang juga. Terlihat segerombolan gadis tengah berjalan kearah mereka. Jika dihitung gadis-gadis itu berjumlah 5 orang.

"Kenapa lama sekali ?" tanya seorang pria bermabut raven dengan suara datarnya, yang kita tahu bernama Sasuke. Raut wajahnya sedikit terlihat kesal, mungkin karena mereka menunggu cukup lama di keadaan udara dingin seperti ini.

"Gomen ne, Sasuke-kun. Tadi kami meminta ijin pada guru yang menjaga penginapan dulu." jawab seorang gadis berambut pink, dengan raut wajah penyesalan.

"Jangan terlalu dipikirkan Sakura-chan, si Teme ini tidak marah kok, dia hanya menghawatirkanmu." kata Naruto sedikit menggoda, Sakura sedikit merona sedangkan Sasuke mengalihkan pandangannya kearah lain, berusaha menyembunyikan semburat merah tipis dipipinya.

"Gaara-kun ? main game apa ?" tanya seorang gadis berambut coklat sebahu pada pria berambut merah bernama Gaara. "Oh Matsuri, kau ingin mencobanya ?" tanya Gaara pada Matsuri, dan dijawab dengan anggukan kecil. "Kemarilah, kuajarkan cara mainnya." Gaara berujar sambil menepuk tempat disebelahnya, memberi isyarat pada Matsuri untuk duduk. Setelah Matsuri mendudukan dirinya, Gaara langsung menggenggam tangan Matsuri dan menuntunnya pada PSP miliknya, Matsuri hanya merespon dengan rona merah dipipinya, Gaara terkekeh kecil.

"Tenten ? kau tidak memakai sarung tangan ?" kali ini seorang pria bermanik amethyst bertanya pada gadis bercepol dua. "Hmm, tadi aku lupa membawanya." Tenten menjawab sambil mengangguk. Neji-pria bermata amethyst tadi langsung melepaskan sarung tangannya, dan memberikannya pada Tenten, "Pakai punyaku saja, aku tahan dingin." tawar Neji kemudian, Tenten menerimanya dengan semburat merah tipis dipipinya.

Naruto yang melihat tingkah teman-temannya hanya sweatdrop, 'Mereka malah bermesaraan, padahal bukan itu tujuan kita kesini.' batin Naruto berkata, mengingat tujuan mereka kesini bukanlah bermesraan. Namun setelah itu dia merasa ada sesuatu yang janggal.

"Hey, Ino kemana ? dia tak ikut ?" tanya Naruto. "Oh, tadi dia bilang mau ke toilet dulu." jawab Sakura, Naruto hanya ber-oh ria.

"Dan sekarang kemana Kiba dan Yumi ?" kembali Naruto bertanya setelah menyadari ketidak-adaan(?) keberadaan dua temannya yang lain.

"Mereka disana, sepertinya sedang menghangatkan tubuh." sekarang Sasuke menjawab sambil menunjuk bagian belakang pondok dimana terlihat sepasang kekasih, yang gadis berambut putih dan yang pria berambut coklat tengah berjongkok didepan sebuah api unggun kecil yang bahkan Naruto tidak tahu sejak kapan sudah ada disana.

'Sejak kapan mereka disana ? dan sejak kapan juga ada api unggun disitu ?' batin Naruto kembali sweatdrop melihat tingkah teman-temannya.

"Shika, kau tidak tidur ? tumben sekali" kita beralih pada seorang gadis bercepol empat yang bertanya pada Shikamaru, gadis itu bernama Temari.

"Aku tidak akan tidur di hari spesial Naruto" jawab Shikamaru dengan santainya, membuat Naruto yang mendengarnya langsung tersentak. Ternyata ada juga temannya yang peduli pada-

"Oleh karena itu, ayo cepat selesaikan urusan kita hari ini agar aku bisa tidur."

Perkataan Shikamaru selanjutnya membuat bayangan Naruto akan Shikamaru yang peduli terhadap temannya sirna seketika. Ingin rasanya ia menjitak kepala nanas milik pria itu.

"Kalian, maaf aku terlambat." tiba-tiba suara teriakan seorang gadis membuat mereka menghentikan aktivitas masing-masing. Mata mereka bergerak menuju asal suara dimana terdapat seorang gadis berambut pirang pucat panjang tengah berlari kearah mereka.

"Kau kelamaan pig." ejek Sakura, "Diamlah, jidat." balas Ino dan langsung duduk disebelah pria berkulit pucat a.k.a Sai, dan langsung menggandengnya dengan manja yang direspon senyuman manis dari Sai. Dan jika kalian tahu, sejak semalam Sai jadian dengan Ino, dia selalu tersenyum namun senyumannya itu terlihat lebih natural dan tulus daripada senyum biasanya.

"Oke karena semua sudah berkumpul, mari kita mulai pembicaraannya." kata Shikamaru kemudian, mereka semua sudah duduk membentuk lingkaran di pondok itu. Shikamaru melirik Naruto memberi isyarat yang dijawab dengan anggukan.

"Sebelum kujelaskan rencananya, pertama kita harus ubah menjadi empat tim." Kata Naruto memulai pembicaraan mereka, mukanya terlihat serius.

"Tim ? untuk apa ?" tanya Sakura penasaran.

"Nanti kujelaskan, tapi sekarang aku akan menentukan tim-nya." Naruto berkata. "Kiba, Yumi, Gaara, dan Matsuri. Kalian akan menjadi Tim 1." lanjutnya, sedangkan yang namanya disebut hanya mengangguk tanda mengerti.

"Neji-Nii-san, Tenten, Shikamaru, dan Temari. Kalian Tim 2." Lanjut Naruto menjelaskan, kembali anggota Tim 2 mengangguk mengerti.

"Dan Ino, kau tim 3. Peranmu akan sangat penting." Naruto berkata sambil menatap Ino. "Dan apa tidak apa-apa kalau kau berada di tim yang berbeda dengan Sai ?" kembali Naruto bertanya, Ino mengangguk "Hmm, tapi kau berhutang padaku." Naruto hanya menghela nafas lega, syukurlah Ino mau mengerti.

"Aku, Sakura-chan, Sasuke, dan Sai. Kami adalah Tim 7." Naruto berujar, membuat beberapa orang disitu keheranan.

"Hey, kenapa Tim 7 ? bukannya harusnya Tim 4 ?" kata kiba memotong pembicaraan, Naruto hanya nyengir. "Hehe, karena kupikir nama 'Tim 7' itu keren, jadi kupakai saja." jelas Naruto membuat semua di situ sweatdrop berjamaah.

"Sekarang kita bagi tugasnya." kembali Naruto menjelaskan dengan raut wajah seriusnya, semua disitu hanya terheran dengan ekspresi Naruto yang dapat berubah dalam sekejap. Tangan Naruto merogoh sakunya sendiri dan mengambil sebuah…peta ?. Dan jika dilihat baik-baik, itu adalah peta Kota Suna, kembali semua disitu hanya keheranan dibuatnya. Naruto mengambil batu kecil ditanah disekitar pondok itu dan…

"Pertama adalah Tim 3. Ino, tugasmu adalah mengajak Hinata keluar untuk mengulur waktu agar kami dapat mempersiapkan rencananya. Entah itu kau ajak dia belanja atau apalah itu terserahmu, yang penting ulur waktu untuk kami." jelas Naruto, sementara mata Ino sudah berbinar-binar setelah mendengar kata 'belanja' dan dengan segera mengangguk semangat.

"Sekarang Tim 1, kalian kesini…" kata Naruto sambil meletakkan salah satu batu kecil di peta yang menunjukan salah satu lokasi di Kota Suna itu, "…dan Tim 2, kesini." lanjutnya dengan sekali lagi menaruh batu kecil diatas peta.

"Dan tugas kalian adalah…"

.

.

"A-Aku mencintaimu, Hi-Hinata." seorang pria sedang berlutut didepan seorang gadis. "Apa kau mau jadi kekasihku ?" lanjutnya. Jika kalian adalah gadis itu, kalian pasti sudah menjerit-jerit dan langsung mengatakan 'Ya' dengan semangat. Namun-

BLETAK

"Apa-apaan mukamu itu, dan jangan pasang wajah gugup begitu dong, santai saja." gadis dihadapan pria ini membentak setelah tadi sempat menjitak keras kepala kuning sang pria.

"Ittai.. Sakura-chan, kenapa kau memukul kepalaku ?" kata pria itu sambil mengusap kepalanya yang sedikit benjol itu. Sudah sekitar lima kali kepalanya jadi korban kekerasan sang gadis. Sekarang mereka tengah berlatih 'cara pengungkapan perasaan yang benar' ala Sakura. Anggota ANBU dan para gadis sudah kembali ke kamar mereka, hanya tersisa tiga orang di pondok itu.

"Habisnya kau sih, sama aku saja kayak begitu, bagaimana kalau dengan Hinata nanti." jawab Sakura dengan ketusnya.

"Bagaimana aku tidak gugup, apa kau tidak lihat si Teme itu." jawab pria kuning bernama Naruto ini, jari telunjuknya mengarah pada pria berambut raven yang sedang duduk di pondok dengan wajah kesal beserta aura membunuh yang sangat kuat. Naruto saja dibuat gemetaran karenanya.

"Lagipula buat apa latihan seperti ini ? sudah kubilang aku bisa mengatasinya." Naruto merajuk sambil mengerucutkan bibirnya. Gadis ber-marga Haruno didepannya ini hanya menghela nafas. "Sudahlah, tenang saja. Aku punya cara tersendiri untuk berbicara nanti." ujar Naruto semangat dengan cengiran khasnya membuat Sakura menghela nafas –lagi.

"Terserah kau sajalah."

.

.

.

Pukul 09.00 pagi. waktunya sarapan bagi para siswa NHS kelas XII yang berada di kawasan wisata Kota Suna. Semua siswa sekarang tengah berada di sebuah ruangan yang memang biasanya dipakai sebagai tempat sarapan bersama. Mereka semua tengah duduk di meja sambil menyantap sarapan mereka masing-masing. Begitu juga tujuh gadis yang sedang duduk di sebuah meja panjang di salah satu sisi ruangan itu.

"Hmm, masakannya enak yah. Siapa yang memasaknya yah" gumam seorang gadis berambut pink disela-sela acara makan mereka.

"Kalau tidak salah anak IPA-4." jawab seorang gadis berambut pirang pucat panjang, sambil memakan makanannya juga.

"Kyaaa, itu ANBU."

Jeritan seorang gadis diruangan itu membuat ketujuh gadis ini mengalihkan pandangannya menuju pintu masuk. Dan terlihat enam pria tengah berjalan dengan santainya menuju kearah mereka dengan senyuman hangat.

"Ohayou, minna." Sapa Kiba dengan semangat sambil menunjukan taring andalannya, dan setelah itu langsung duduk disebelah Yumi, "Yumi-chan, aishiteru." goda Kiba kemudian, sedangkan Yumi hanya merona hebat. "M-mou Kiba-kun, jangan menggodaku." rajuk Yumi menundukan kepalanya, Kiba hanya nyengir layaknya orang tak berdosa.

"Ohayou" jawab para gadis dengan senyuman, anggota ANBU masing-masing langsung duduk di sebelah pasangan sekaligus pacar mereka. Sementara salah satu gadis berambut indigo serta bermanik lavender celingak-celinguk seolah mencari sesuatu.

"A-ano..Kiba kun, dimana Naruto-kun ?" tanya gadis berambut lavender tadi pada Kiba. "Aku juga tidak tahu, tadi dia bangun sangat pagi, aku saja tidak percaya Naruto bisa bangun sepagi itu. Dan langsung pergi dari kamar, katanya ingin cari udara segar tapi belum kembali sampai sekarang." jelas Kiba panjang lebar, Hinata hanya menyerngit heran.

'Naruto-kun kemana yah ? apa dia baik-baik saja ?' batin Hinata khawatir, dirinya berfikir untuk mencari Naruto. Namun saat ia hendak berdiri, Sakura menahannya, "Jangan khawatir Hinata, dia pasti baik-baik saja, mungkin dia lagi banyak pikiran. Biarkan dulu dia sendiri." ujar Sakura.

Benar apa yang dikatakan Sakura, mungkin kalau Naruto sedang banyak pikiran dan ingin sendiri, dan Hinata menemuinya, itu malah akan memperburuk keadaan, pikir Hinata. Hinata pun kembali duduk dan melanjutkan sarapannya dengan wajah memelas, 'Aku harap Naruto-kun baik-baik saja'.

"Oh iya, kira-kira kegiatan hari ini apa yah ?" tanya Tenten antusias mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Aku dengar kita akan ke bioskop lho." jawab Matsuri dengan semangat, membuat semua gadis disitu berbinar-binar, kecuali Hinata yang masih menyantap sarapannya dengan tatapan datar.

"Whwoaa bwenarkwah ? pwasti mwenywenangkwan." sembur Kiba, dan karena keadaan mulutnya yang masih penuh., akhirnya muncratlah isi mulut itu pada Gaara. "Oy Kiba, telan dulu makananmu." kata Gaara dengan suara dingin khasnya, "Hehe, gomen"

"Ngomong-ngomong ini hari terakhir yah kita disini, karena besok kita sudah harus pulang." Temari mulai angkat bicara.

"Oh iya, karena hari ini hari terakhir, aku ingin belanja sebentar ah." ujar Ino dengan mata blink-blink, "Hinata-chan, temani aku yah." lanjutnya sambil menatap Hinata, namun Hinata tak merespon.

"Hinata ?" Ino melambai-lambaikan tangannya didepan wajah Hinata, yang langsung membuat Hinata tersentak dari lamunannya.

"E-Eh ? ba-baiklah." jawab Hinata dengan tergagap, dia menggeleng sesaat. "Kalau begitu ayo, kita harus bersiap-siap." lanjut Ino sambil menarik tangan Hinata membawanya menjauh dari sana, sedangkan Hinata hanya pasrah.

Setelah mereka berdua meninggalkan ruangan itu, Sakura mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu disana.

To : Naruto

From : Sakura

Hinata dan Ino sudah pergi.

Beberapa menit setelah Sakura mengirimkan pesan itu, terlihat seorang remaja pirang memasuki ruangan sarapan itu diiringi sorakan dan jeritan beberapa siswi. Pria itu memakai kaos putih polos dengan celana training panjang. Cengiran ia tampilkan pada anggotanya dan para gadis disana.

"Yo, ohayou." sapa pria pirang tadi a.k.a Naruto setelah sampai di meja dimana teman-temannya berkumpul.

"Ohayou." jawab semua disana, Naruto langsung mendudukan dirinya disebelah Kiba.

"Apa kau yakin ini tidak apa-apa Naruto ? Hinata terlihat sangat hampa tanpa dirimu." kata Sakura dengan lebaynya.

"Kata-katamu terlalu berlebihan, jidat." ujar Temari.

"Mau bagaimana lagi, aku jadi gugup kalau didekatnya, jantungku berdegup terlalu kencang, kalau jantungku meledak dan pecah bagaimana ? aku pasti mati." jelas Naruto dengan wajah seolah seorang gadis yang meminta pertanggung jawaban pada kekasihnya(?), oke lupakan.

"Sekwarang khau yang bwerlebwihan wubah." tutur Kiba, namun sekali lagi karena ia berbicara dengan keadaan mulut yang penuh, muncratlah pada Naruto.

"Gaaah, kalau mau bicara, selesaikan dulu makanmu, dasar anjing liar."

"Mwemangnya kwenapa ?"

"Cih, kau terus memuncratkan makananmu padaku, itu artinya…"

"…PERANG MAKANAN"

Suara teriakan Naruto meggelegar diseluruh ruangan, bertepatan dengan itu, sebuah telur dadar gulung langsung mendarat dengan mulus diwajah Kiba, yang sudah pasti perbuatan Naruto.

Hening, tak ada yang bersuara. Sampai akhirnya…

BRUAAAKKK PRANGGG GRRUKKK WIUNGG CUSSHHH

Suasana ruangan sarapan pun gaduh. Semuanya saling melemparkan makanan mereka masing-masing. Memang perbuatan yang tidak baik dilakukan oleh siswa-siswi seperti mereka. Bahkan para gadis juga terlihat antusias dan ikut serta dalam 'perang' ini. Naruto sang biang kerok terus melemparkan beberapa nasi kepal kearah para anggotanya, begitu juga sebaliknya.

PTOK

"Ittai..." Naruto meringis saat sebuah sendok kayu membentur kepalanya. Dia mengambil sendok itu, kemudian..

"Siapa yang berani melempar-"

DEG

Kata-kata Naruto berhenti saat pandangannya mengarah pada seorang wanita berdada 'wow' dan berambut cream di pintu masuk ruangan itu. Perempatan siku terlihat di dahi sang wanita. Suasana ruangan yang sedari tadi ribut langsung hening kembali. Semua siswa berdiri tegak layaknya tentara yang sedang berbaris.

"B-b-ba-baa-chan ? O-ohayou." Kata Naruto terpatah-patah dengan senyum kikuknya. 'Kaa-chan, Tou-chan, aku menyayangi kalian.' batin Naruto berkata, seolah itu merupakan pesan terakhir dalam hidupnya.

"NA-RU-TO" suara wanita itu terdengar mengerikan (author saja gemeteran). Ia perlahan melangkahkan kakinya menuju Naruto, membuat ketua ANBU ini berkeringat dingin sambil meneguk ludahnya berkali-kali.

KREK KREK

Wanita itu meregangkan tulang-tulang jarinya, membuatnya terlihat lebih mengerikan lagi. Pandangannya sangat mengintimidasi, Naruto bahkan bisa saja mati karena pandangannya itu. Setelah beberapa menit,…

"GYYAAAAHHH, AMPUUN BAA-CHAN, AMPUUUN."

"KEMARI KAU BOCAH, KAU SELALU SAJA BERBUAT ONAR."

"GYAAAHHHHHHHHHHHHHHHH"

.

.

"Ini semua karena kau, rubah"

"Urusai anjing liar, kau yang memulainya tadi."

"Berhenti berkelahi, dan cepat bersihkan."

"Hn"

"Baik Nii-san"

"Ck, mendokusai"

"Ayo cepat, bersih itu indah lho."

"Oy Gaara, kau juga bantu. Jangan malah main PSP"

Para anggota ANBU berakhir dengan membersihkan ruangan dimana terlihat makanan berhamburan dimana-mana itu. Terlihat juga kepala para ANBU yang terdapat benjolan. Namun yang paling parah adalah Naruto, benjolan dikepalanya terlihat seperti es krim bertingkat-tingkat.

"Dan kenapa hanya kita yang membersihkan ruangan ini ?"

.

.

.

Yah, pagi yang indah bagi para ANBU.

.

.

"Hey, kita mau kemana ?" tanya Kiba penasaran. Sekarang para anggota ANBU tengah berjalan menuju penginapan para guru. Sudah sekitar jam 11 pagi. Peluh terlihat di wajah mereka, setelah kegiatan bersih-bersih tadi.

"Mau ke kamar Baa-chan."

"Hah ? bisa-bisa kita di hukum lagi. Kepalaku saja masih sakit." ujar Kiba sambil mengusap kepalanya.

"Kau salah, malahan dia akan sangat senang nanti." Kata Naruto melanjutkan,kedua tangannya diletakkan dalam saku celana panjangnya.

"Senang ? Kenapa ?"

"Huh, kau cerewet sekali. Sudahlah, kau lihat saja nanti."

.

TOK TOK TOK

"Sebentar.." suara dari dalam kamar terdengar setelah Naruto mengetuk pintunya.

CKLEK

"Yo,Baa-chan" sapa Naruto dengan cengirannya, sedangkan Tsunade sang penghuni kamar menampilkan wajah datar.

"Mau apa kau, Bocah ?"

"Hehe, aku mau binta bantuan, Baa-chan."

Tsunade menghelas nafasnya, "Bantu apa lagi sekarang ?" Tsunade berusaha sabar menghadapi Naruto.

"Bisa kau suruh seluruh siswa berkumpul di halaman depan penginapan ?"

"UNTUK APA ?"

Oke, teriakan Tsunade mungkin saja terdengar di seluruh penjuru Kota Suna. Tembok penginapan itu saja terlihat bergetar saat suara Tsunade yang melengking itu menggelegar. Telinga para ANBU berdenging, bahkan butuh waktu 5 menit agar mereka dapat mendengar dengan normal lagi. Sampai-sampai para guru lain langsung keluar dari kamarnya.

Naruto berjalan menghampiri Tsunade dan membisikkan sesuatu. Dan seketika itu juga wajah Tsunade berubah terkejut.

"JIRAYA, AYO CEPAT. KUMPULKAN SELURUH SISWA DI HALAMAN PENGINAPAN, ADA PENGUMUMAN PENTING. SEKARANG."

Teriakan Tsunade dengan volume yang sama kembali terdengar, bisa-bisa para ANBU mengidap tuli seketika. Orang yang dipanggil namanya pun berjalan keluar kamar sambil mengusap telinganya, "Ada apa Tsunade ?" tanpa menjawab Tsunade menyeret Jiraya pergi dari sana meninggalkan para ANBU dengan wajah cengok mereka, kecuali Naruto yang malah mengangguk-ngangguk.

"Kalian para guru juga ikut, CEPAT" perintah Tsunade pada guru-guru yang ada di lorong penginapan itu. Membuat para ANBU kembali terheran karenanya.

"Hey Naruto, apa yang kau bisikkan ?"

.

.

"Perhatian…" suara sang kepsek terdengar di seluruh penjuru halaman penginapan. Sekarang seluruh siswa sudah berbaris rapi di tempat yang sudah ditentukan setelah mendengar pengumuman, atau lebih tepatnya perintah dari sang kepsek untuk berkumpul disana.

"Kalian semua dikumpulkan disini untuk sebuah alasan." kembali Tsunade bersuara, mukanya tampak sangat serius. Seluruh siswa mendengar dengan seksama, tak ingin sebuah bogem mentah mendarat dikepala mereka karena berani menentang kepala sekolah, yang juga dijuluki 'Queen of the Killer Sensei' itu.

"Dan alasan itu adalah…"

Tsunade menggantungkan kalimatnya, membuat suasanan disana menjadi tegang. Terlihat para guru berbaris rapi dibelakang Tsunade, dan Naruto yang berdiri disebelah kanannya, serta Shizune selaku Wakil Kepala Skolah disebelah kirinya. Dan tanpa diketahui, ada seseorang dari barisan para guru, yaitu laki-laki bermasker berambut perak tengah menatap Shizune intens, entah apa yang dipikirkannya.

"…karena cucuku mencintai seorang gadis."

.

Krik Krik Krik

.

Semua hening, mencoba meresapi kata-kata dari wanita pemegang gelar 'Dada terbesar' di NHS itu #plakk. Sampai akhirnya…

.

"HEEEEEEEEEEEEE ?"

"Jadi kita dikumpulkan hanya karena itu ?"

"Dan apa hubungannya cucu Tsunade-sensei menyukai seorang gadis dengan kita ?"

.

"Tapi…tunggu dulu. Cucu Tsunade-sensei… itu berarti…."

"Kyaaaaa, Naruto-kuuunn."

"Naruto-kuun."

"Siapa dia Naruto-kun ? siapa ?"

Oke, sekarang suasana di situ menjadi gaduh. Sorakan demi sorakan terdengar, mulai dari para pria yang bersorak memberi selamat sampai para gadis yang bersorak dan menjerit tak karuan, berharap diri mereka menjadi gadis beruntung yang dicintai pemuda ber-marga Namikaze itu.

"DIAM"

NGIIINGGGG

Teriakan Tsunade yang super dashyat besarnya itu membuat semua disitu menjadi bungkam. Semua telinga mereka berdenging, pasalnya suara dari Tsunade itu sudah sangat besar, apalagi sekarang teriakan super yang ditambah dengan to'a (alat pembesar suara). Jadi jangan kaget jika mendengar besok ada berita tentang para siswa-siswi NHS yang baru pulang berwisata dari Kota Suna menderita gangguan pendengaran. Oke, itu sedikit berlebihan.

"Tujuan kita semua berkumpul disini adalah… membantu pernyataan cinta Naruto." kembali Tsunade memberi pengumuman, semua manusia disitu kembali terkejut dibuatnya.

"Kyaaa, aku akan punya cicit, aku akan punya cicit."

Dan itu adalah sorakan tidak penting dari wanita berumur lebih dari 50thn itu. Shizune yang berada disebelahnya menjadi 'korban' kehisterisan Tsunade, lihat saja bahunya sekarang tengah digoyang-goyangkan oleh Tsunade yang terus saja bergumam 'aku akan punya cicit' sedari tadi. Dan tanpa diketahui juga pria bermasker tadi memandang Shizune dengan tatapan khawatir, sebenarnya pria itu kenapa ?.

Yah, pokonya Tsunade itu nenek yang benar-benar anti-mainstream #duagh. Semua disitu hanya sweatdrop menyaksikan tingkah Kepsek mereka itu.

"Ehem…" Tsunade berdehem setelah masuk mode serius lagi. "..sebelum itu akan kami beritahu siapa gadis yang dicintai Naruto."

"Dia adalah Hyuuga Hinata, siswi kelas XII-IPA 1." kata Tsunade memberi informasi, para siswa terlihat menyoraki Naruto membuat sang empu hanya bisa tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan rona merah tipis dipipinya. Anggota ANBU dan para gadis yang juga berada dalam barisan tersenyum tipis.

"Sekarang Hinata tidak sedang berada disini. Jadi ini adalah kesempatan kita untuk mempersiapkan rencana." lanjut Tsunade, semua mendengar dengan seksama. "Dan untuk rencananya, Naruto sendiri yang akan memberitahu kita." Tsunade memberi to'a pada Naruto.

"Ehem.. ehem.. ano.. jadi begini rencananya…"

.

.

"Ayo Hinata-chan, kita kesana."

Disisi lain terlihat Ino dan Hinata yang tengah bermondar-mandir di salah satu mal terkenal Kota Suna. Tentu saja ini ide Ino, dan Hinata hanya pasrah di tarik kesana kemari. Bahkan kantung belanjaan Ino saja sudah sangat banyak, dan Hinata hanya memegang 1 kantung, itupun Ino yang memaksanya membeli.

Hinata hanya menghela napas, 'Sepertinya ini akan lama, padahal aku ingin mencari Naruto-kun.' batin Hinata pasrah.

.

"Oke, jadi begitu rencananya." Naruto menyelesaikan penjelasannya. Dan entah kenapa semua siswi disitu merona, dan para siswa terlihat terkesima. Naruto menggaruk kepalanya lagi.

"Kyaaa Naruto-kun, romantisnyaaa."

"So sweeeeett."

Jeritan para gadis mendominasi, mengagumi rencana sang ketua ANBU.

"Oke, karena kita sudah tau rencananya, mari kita persiapkan." Tsunade kembali mengambil alih, membuat semua disana bersorak kompak.

"YOOSSSHHHH."

.

.

.

.

"Hahhh…" seorang gadis berambut indigo menghela napasnya dengan kasar. Gadis cantik ini bernama Hyuuga Hinata. Ia sedang berjalan-jalan mengitari kawasan wisata Kota Suna yang lumayan luas itu. Tujuannya hanya satu, mencari seorang pria yang sudah lama mengisi hatinya. Satu-satunya pria yang dapat membuat jantungnya serasa mau copot saat bertatapan dengannya. Seorang yang dapat membuatnya salah tingkah dengan wajah merona yang malah membuatnya tambah menawan. Ya, hanya pria itu, dan dia sangat mencintai pria kuning nyentrik itu.

'Naruto-kun dimana yah ?' batin Hinata berkata, raut wajahnya jelas menampilkan ekspresi kekhawatiran. Sudah hampir seluruh kawasan ini dia berkeliling mencari, namun tak juga dirinya menemukan sosok Naruto.

Namun tiba-tiba manik lavendernya menangkap sekelompok pria yang tengah berjalan menuju penginapan laki-laki. Mungkin dia bisa mendapat informasi dari kelompok yang sudah sangat mengenal Naruto, apalagi kalau bukan ANBU. Dia langsung melangkahkan kakinya menuju para anggota ANBU itu.

"Ano…"

"Oh hai Hinata, ada apa ?" tanya Kiba saat melihat Hinata berjalan kearah mereka.

"E-ettoo.. apa Naruto-kun sudah kembali ?" tanya Hinata hati-hati. "Oh Naruto, tadi dia sudah kembali ke kamar, namun langsung pergi lagi. Dia bahkan tidak mengatakan apapun." Neji menjelaskan menjawab pertanyaan Hinata, sedangkan Hinata yang mendengar perkataan Neji hanya memasang lesu.

"Oh begitu yah. Arigatou Nii-san, aku pergi dulu." ujar Hinata dan langsung pergi meninggalkan para anggota ANBU sambil menunduk, mereka melihatnya dengan tatapan simpati.

"Bersabarlah Hinata-sama." gumam Neji saat sosok Hinata sudah lenyap ditelan jarak.

.

.

Seluruh siswa sekarang tengah bersiap mengikuti kegiatan terakhir mereka selama di kawasan wisata ini. Terlihat beberapa bus sudah disiapkan pihak sekolah untuk mengangkut (?) para siswa menuju tempat kegiatan mereka. Bioskop, itulah tempat tujuan mereka. Pihak sekolah benar-benar baik, itulah pendapat para siswa. Mungkin ini kegiatan liburan paling terkesan dalam hidup mereka. Berbagai kegiatan saat liburan benar-benar menyenangkan, ini memang pantas disebuat liburan mengingat sekitar dua bulan lagi mereka akan menghadapi ujian kelulusan.

Semua siswa sedang berbaris untuk memasuki bus yang sudah disiapkan. Di salah satu barisan, ada sebuah grub gadis yang tengah ikut berbaris, namun sepertinya ada yang aneh, salah satu diantara mereka terlihat menengok kesana-kemari, sepertinya dia sedang mencari sesuatu.

"Hinata-chan ? ada apa ?" Tanya Tenten, salah satu sahabat Hinata yang sedang berbaris di belakangnya.

"E-eh ? tidak ada apa-apa." Hinata menjawab sambil menggeleng, terlihat seolah dia menyembunyikan kekhawatirannya. 'Aku akan mencari Naruto-kun di bioskop nanti, dia pasti ada disana'.

.

.

.

"Whoaa, lihat gedung itu, tinggi sekali."

"Wah, pemandangan disana juga indah yah."

"Kota Suna benar-benar menakjubkan."

Sahutan kagum dari para siswa siswi mengiringi perjalanan mereka menuju bioskop. Total ada empat bus yang menjadi transportasi para siswa. Anggota ANBU para gadis termasuk dalam satu bus. Namun sekali lagi, sang ketua ANBU, Naruto sama sekali tidak ada di dalam bus ini. Perasaan gelisah semakin menjadi-jadi dalam benak Hinata. Dia duduk ditempatnya sambil mengetuk-ngetukkan kakinya, sungguh dia benar-benar khawatir sekarang. Sudah seharian ini dirinya tak melihat Naruto, pikiran-pikiran buruk mulai menghantui kepalanya. Namun ia akan selalu percaya bahwa Naruto akan baik-baik saja, dan ia berencana mencari Naruto saat sudah sampai di bioskop nanti.

CIIITTT

Bus yang ditumpangi para ANBU dan para gadis berhenti saat lampu lalu lintas menunjukan warna merah. Hinata menolehkan kepalanya kekiri, dan betapa terkejutnya ia melihat sebuah toko elektronik di samping lampu merah itu. Yah, bukan toko itu yang membuatnya terkejut, namun apa yang ada di TV yang menjadi model produk yang berada di salah satu sisi toko itu. TV yang lumayan banyak karena disusun sebagaimana rupa itu menampilkan sebuah gambaran…. dirinya ?

Yah sebuah gambaran dirinya tengah tersenyum yang bahkan Hinata sendiri tidak ingat kapan ekspresi itu dia tampilkan. Dengan cepat ia langsung mencolek Sakura yang duduk di sebelahnya,

"Sakura-chan, coba kau lihat itu." Sakura langsung menoleh pada arah yang ditunjukan Hinata, "Lihat apa Hinata-chan ?" tanya Sakura dengan bingung.

"Itu, lihat gambar it-"

Kata-kata Hinata terhenti, ia kembali terkaget. Sekarang TV itu sedang menampilkan iklan produk biasa, bukannya gambaran dirinya yang ia lihat sebelumnya. "Tidak, lupakan saja." ujar Hinata, dia bingung dengan apa yang baru saja dilihatnya, namun sesegera ia mengenyahkan pikiran itu.

.

Bus yang ditumpangi mereka masih berjalan. Sedikit lagi mereka sampai ditempat tujuan. Hinata mendongakkan kepalanya menatap langit, berniat melihat warna biru yang sangat mirip dengan manik lelaki yang dicintainya pada hamparan langit luas di atas sana.

Namun kembali lagi matanya melebar melihat sebuah baliho digital yang terletak pada bagian atas sebuah gedung. Dan tentu saja bukan baliho itu yang membuatnya terkejut, melainkan apa yang ditampilkan baliho itu. Di baliho itu, sedang ditampilkan sebuah video dimana terlihat seorang gadis berambut indigo tengah tertawa dengan semburat merah tipis dipipinya. Gadis itu sangat cantik, dan gadis itu adalah…. dirinya ?

Kembali hal ini membuat Hinata bingung, tadi di lampu merah sekarang di baliho, ada apa sebenarnya, begitulah pikiran Hinata. Tangan Hinata bergerak mengucek matanya sendiri, dan sekali lagi ia melihat baliho itu. Dia terkejut untuk ketiga kalinya selama perjalanan ini, baliho itu sekarang tengah menampilkan sebuah iklan shampoo dimana ada sebuah wanita yang tersenyum manis yang menjadi bintang iklannya, pemandangan ini benar-benar berbeda dengan yang sebelumnya ia lihat.

Hinata menggeleng, mencoba membuang pemikiran yang sedari tadi menghantuinya entah apa itu, 'Mungkin aku lagi banyak pikiran'. batin Hinata, dia kemudian sedikit memijit pelipisnya berharap tidak ada pikiran aneh-aneh lagi yang hinggap di kepalanya.

.

.

Bus yang mereka tumpangi sudah sampai di tempat tujuan mereka. Para siswa-siswi berhamburan berjalan keluar bus dan berbaris di parkiran gedung bioskop itu menunggu pengarahan dari para guru.

"Oke, kita sudah sampai. Kami dari pihak sekolah sudah menyewa dua studio di bioskop ini, yaitu studio 1 dan studio 2. Karena seluruh siswa tidak muat dalam satu studio, maka kami akan membaginya. " Tsunade membuka pengarahan. "Kelas XII-IPA1 dan XII-IPA3 di studio 1, dan XII-IPA2 dan XII-IPA 4 di studio 2." lanjut Tsunade.

"Sekarang mari kita masuk, jangan berdesakkan dan masuk yang teratur. Dan jangan membuat onar didalam."

Dan kalimat penutup dari pengarahan Tsunade pun terdengar, semua siswa pun dengan perlahan melangkahkan kakinya memasuki gedung bioskop itu.

.

.

.

'Kenapa Naruto-kun tidak ada yah ? kemana dia ?' batin Hinata berkata, sekarang anggota ANBU dan para gadis sudah berada dalam studio 1 karena mereka semua termasuk dalam kelas XII-IPA1 dan Yumi XII-IPA3. Film sudah mau diputar, bahkan seluruh siswa sudah memenuhi ruangan studio ini.

"Hey, itukan orang tuanya Naruto ?" seorang pria yang duduk di belakang Hinata berkata, pria itu adalah Kiba. ANBU dan para gadis langsung melihat arah yang dimaksudkan Kiba, dan benar saja. Seorang Wanita berambut merah scarlet tengah berjalan berdampingan dengan seorang pria berambut kuning, atau pirang, atau terserah apapun itu #plakk. Mereka duduk di barisan paling depan, dimana ada beberapa guru seperti Tsunade dan Jiraya serta Kakashi dan Shizune disana.

Namun sepertinya pikiran Hinata masih tertuju pada Naruto. Dia celingak celinguk berniat mencari, namun semua itu sia-sia, dia tak dapat menemukan Naruto dimanapun. Hinata hendak berdiri menuju orang tua Naruto untuk bertanya dimana Naruto, namun karena filmnya sudah dimulai dan Hinata tak ingin mengganggu orang lain, dia mengurungkan niatnya itu.

Selama film diputar, Hinata sama sekali tidak menggubrisnya. Dia hanya gelisah di tempatnya, ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Naruto, namun nomor-nya tidak aktif. Sudah dari tadi pagi seperti ini, Hinata tambah khawatir saja pada Naruto.

Film yang diputar sangat mendidik. Film-nya bercerita tentang seorang anak yang ditinggal ayahnya dan dititipkan pada Bibinya karena urusan pekerjaan. Setelah lulus dari jenjang pendidikan HighSchool, sang anak berusaha mencari ayahnya. Perjuangan sang anak sangat berat, mulai dari harus mencari biaya kehidupan dan bekerja menjadi maid, bahkan juga mejadi pembantu di sebuah rumah orang kaya yang pernah berhubungan dengan ayahnya. Namun sayang film ini sad ending. Saat sang anak menemukan ayahnya, ternyata beliau sudah meninggal dunia. Dan sang anak pun menjalani kehidupannya mulai dari bawah lagi, dan akhirnya menjadi orang sukses. Film ini mengajarkan kita untuk tidak menyerah dalam mengejar sesuatu, dan juga selalu tabah dalam mengatasi berbagai cobaan.

Sekarang di layar hanya tertulis 'The End' pertanda bahwa film-nya telah berakhir. Namun ada sesuatu yang janggal, lampu studionya tidak menyala. Hinata heran, mengingat lampu studio selalu menyala saat film yang diputar telah berakhir. Yang lebih mengherankannya lagi, semua siswa dan para guru tidak bergerak sedikitpun dari bangku mereka. Seolah masih ada sesuatu yang ditayangkan.

Namun segera Hinata menepis pemikiran anehnya lagi ketika mengingat ada sesuatu yang lebih penting. Hinata hendak berdiri dari bangkunya, namun tiba-tiba…

CKLIK

Mata Hinata terbelalak, sungguh dirinya saat ini sangat terkejut. Layar tadi tiba-tiba saja menampilkan cuplikan-cuplikan video pendek. Yah itu sih wajar saja, namun video pendek ini adalah gambaran dari dirinya sendiri.

Kau…

Sebuah suara yang sepertinya tidak asing terdengar sebagai pengiring cuplikan beberapa video pendek tersebut.

Ya, kau…

Sepertinya Hinata mengenal suara ini.

Menurutku, kau sangat indah.

Hinata masih berusaha mengenal suara yang terdengar itu. Layar studio itu menampilkan gambaran Hinata dalam berbagai ekspresi, mulai dari tertawa, tersenyum, malu, merona, bahkan ada saat ia tertidur.

Kau seindah bulan..

Yang selalu memancarkan kilauannya saat kau muncul

.

Matamu juga sangat indah, senada dengan warna bunga lavender yang melambangkan ketenangan.

Helaian rambutmu yang halus, juga sangat menawan.

Menurutku kau sangat sempurna.

Mungkin ini berlebihan, tapi kau adalah wanita tercantik yang pernah kulihat.

Hinata mulai mengenali suara ini, dan maniknya mulai berkaca-kaca. Rona merah sudah memenuhi pipinya.

Namun..

Bukan hanya itu yang membuatmu sangat indah.

Sikapmu terhadap sesama juga sungguh luar biasa.

Kau baik..

Perhatian..

Kau bahkan lebih mementingkan orang lain daripada dirimu sendiri.

Yang dapat dilakukan Hinata hanya mematung ditempatnya, menutup mulutnya, sungguh ia kehabisan kata-kata.

Entah bagaimana aku menggambarkan kesempurnaanmu.

Aku tidak bisa menggambarkannya,..

Kau terlalu sempurna..

Dan Kesempurnaanmu, telah membuatku jatuh cinta padamu.

CKLIK

Cuplikan video tadi berakhir, ruangan studio itu pun terang karena lampu studionya menyala. Suasanya sunyi, tak ada seorangpun yang bersuara. Hinata sudah mengetahui siapa orang itu, jadi ini alasan kenapa ia tak dapat melihatnya seharian ini.

Dan tiba-tiba muncullah seorang pria tampan dengan stelan tuksedo putih. Pria ini berambut pirang, berkulit tan, dan berbadan tinggi. Ditangannya terdapat sebuah microphone kecil, ia berhenti saat posisinya tepat di tengah layar, ia berhenti dan berbalik menghadap seluruh penonton disana. Ia menarik nafas sesaat,..

"Hyuuga Hinata, aku mohon turunlah."

Mohon pria itu, suaranya terdengar di seluruh gedung bioskop melalui beberapa speaker yang terpasang di sudut ruangan. Ya, seluruh gedung dapat mendengar suaranya.

Dan bukan itu saja, tiba-tiba dua orang pria, salah satunya berambut raven dan satunya lagi pria berkulit pucat muncul dari samping kiri dan kanan, serta membawa…. Kamera ?

Ya, mereka tengah memegang kamera yang biasanya dipakai untuk TV show. Dan salah satu kamera itu ditujukan pada sang pria pirang, satunya lagi pada Hinata yang masih duduk ditempatnya. Dan seluruh bioskop dapat melihat cuplikan itu dari seluruh TV yang disediakan bioskop untuk melihat preview sebuah film. Jadi seluruh orang di gedung bioskop ini dapat melihatnya. Hinata baru sadar kalau kedua orang yang memegang kamera itu tidak bersama mereka daritadi.

Hinata merasa pundaknya ditepuk, dan dengan segera ia menoleh melihat para gadis yang tengah tersenyum tulus dan mengangguk bersamaan. Hinata mengerti, dan juga balas mengangguk kecil.

Perlahan Hinata berdiri dari tempatnya, dan melangkahkan kakinya menuruni tangga studio itu karena memang ia dan komplotannya tadi duduk di bagian atas studio. Ia menundukkan kepalanya, tak berani menatap pria pirang didepannya. Setelah berada tepat didepan sang pria, Hinata berhenti dan masih tetap saja menundukkan kepalanya.

"Hinata…"

Kata pria itu lembut, Hinata masih diam menunggu perkataan selanjutnya dari si pria.

"Sebelumnya aku minta maaf, kalau ini tiba-tiba…"

Seluruh aktivitas di bioskop terhenti. Semua orang menatap TV yang sekarang tengah menampilkan sesuatu yang menurut mereka luar biasa itu.

"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu…"

Hinata masih diam dan menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang mungkin sudah sangat merah sekarang. Namun si pria malah menjadi gugup dibuatnya.

"Aku tidak bisa romantis…" kata sang pria dengan sayu.

"Aku juga bodoh dalam hal cinta… benar-benar bodoh malahan…"

"Namun…"

"Hari ini,… detik ini juga…"

"Didepan seluruh teman-teman sekolah kita, dan dihadapan seluruh pengunjung gedung bioskop ini…"

"Aku ingin mengatakan bahwa…."

Pria kuning ini menarik nafasnya dalam-dalam, berusaha menyalurkan ketenangan walaupun dia tau itu juga sia-sia.

"A-aku mencintaimu, Hinata." setelah mengatakan ini, para penonton mengangkat selembar kertas dari bawah bangku penonton. Kertas-kertas itu terdiri dari beberapa gambar dan jika diangkat dan disatukan akan menjadi sebuah pola bertuliskan 'I LOVE YOU'. Layar yang tadi gelap juga menyala dan menampilkan sebuah tulisan jepang yang berarti 'Aku mencintaimu'.

Hinata tak dapat berkata-kata lagi, air matanya juga tak dapat terbendung lagi. Ia menangis melihat semua ini. Dia benar-benar tak bisa percaya, apakah ini mimpi ?. Sementara sang pria malah tercengang melihat air mata mengalir di pipi Hinata.

"Hiks.."

"Eh ?" pria itu terkejut bukan main, apa gadis didepannya ini sedang menangis ? apa dia berbuat kesalahan ?.

"Hiks…hiks…hiks…" suara seseguhan gadis ini terdengar melalui microphone yang dipegang pria itu, sehingga semua orang dapat mendengarnya. Wajah Hinata memerah, air matanya mengalir deras, dan dirinya bertambah sesegukan.

"Hi-Hinata ? ke-kenapa kau menangis ?"

"Hiks… baka…"

"Eh ?" pria ini terkejut lagi, apa yang dia lakukan ini salah ?

"Hiks..Naruto-kun…no..baka..hiks.."

Terasa seperti sebuah pedang tak kasat mata menusuk jantung pria bernama Naruto ini, rasa sakit menjalar kedadanya. Kalau Hinata berkata begitu berarti…

GREPPP

"Eh ?" yah, entah sudah berapa kata 'Eh' yang sudah keluar dari mulut Naruto hari ini. Tiba-tiba saja Hinata memeluk Naruto, dan menangis di dada bidangnya. Naruto yang masih terkejut hanya diam mematung.

"Naruto-kun…" kata Hinata sambil mendongakkan kepalanya, menatap manik seindah samudra itu.

"…kau membuatku menunggu terlalu lama."

Mata Naruto melebar mendengar perkataan Hinata. Serasa seluruh beban dipundaknya hilang begitu saja. Jika Hinata berbicara begitu, berarti…

Tanpa disadari senyum tipis tersungging di bibir Naruto, tangannnya perlahan membalas pelukan Hinata. Tangan kirinya ia letakkan di pinggang Hinata sedangkan tangan kanannya mengelus punggung gadis yang dicintainya itu.

"Gomen ne, aku memang baka."

Yah mereka berpelukan di hadapan seluruh orang yang ada di bioskop ini. Seolah dunia milik mereka berdua,..

PROK PROK PROK

Terdengar suara tepuk tangan dari arah penonton, dan itu berasal dari beberapa anggota ANBU dan para gadis disana.

PROK PROK PROK PROK PROK

Perlahan penonton lain mulai berdiri dan bertepuk tangan, dan semakin lama semakin banyak yang melakukan itu.

PROK PROK PROK PROK PROK PROK PROK PROK

Yah, sekarang seluruh bioskop pun bertepuk tangan. Walaupun ada beberapa diantara mereka yang tidak menonton secara langsung, namun itu tidak mengurangi kesan luar biasa dari sebuah pernyataan cinta seorang pria pada seorang gadis ini.

Mereka berdua masih berpelukan, bahkan pelukan mereka terasa lebih erat. Seluruh siswa dan siswi juga para guru menyoraki mereka, tidak terkecuali pasangan suami istri nyentrik yang duduk paling depan baris penonton. Setelah lumayan lama berpelukan, akhirnya mereka berdua melepaskan pelukan mereka. Terlihat wajah Hinata memerah seluruhnya, dengan cepat ia menundukkan kepalanya lagi, yang malah membuatnya semakin manis saja.

"Kyaaaa Naru-chan, kau hebat."

Tak disangka seorang wanita berambut merah berlari kedepan dan langsung memeluk Naruto.

"AHH,, Ka-Kaa-chan ? Kenapa kau disini ?"

BLETAK

Kushina selaku Kaa-chan Naruto menjitak sang anak setelah selesai berpelukan. "Ittai…"

"Apa begitu cara menyambut orang tuamu yang rela datang untuk melihat kondisi anak tercintanya ?"

"Go-gomenasai."

Pria lain berambut pirang yang lumayan panjang pun ikut maju kedepan, diikuti seorang wanita berambut cream berdada super #duagh, juga seorang pria lagi berambut putih panjang.

"Kyaaa, aku akan dapat cicit." jeritan Tsunade dengan lebaynya langsung memeluk Kushina, "Iya, dan aku akan dapat cucu, Kaa-san." Kushina membalas sambil menjerit dengan model yang sama seperti Tsunade. Sementara Minato dan Jiraya menyalami Naruto dan Hinata memberi selamat, wajah Hinata benar-benar merah sekarang.

Semua orang disitu sweatdrop melihat reuni keluarga ini. Benar-benar keluarga yang aneh #ditendang.

"CIUM CIUM CIUM CIUM CIUM."

Tiba-tiba saja penonton bersorak, membuat Naruto dan Hinata merona bersamaan. Dan entah kenapa seluruh orang di gedung bioskop itu juga menyoraki mereka. Jadi seluruh manusia menyoraki kata 'cium' kecuali Tsunade dan Kushina yang malah ber- kyaa kyaa ria disana. Jika kau tahu, Sasuke dan Sai selaku kameramen juga masih merekam, jadi semuanya masih terlihat jelas oleh semua orang di bioskop itu.

Naruto berbalik menatap Hinata dan dibalas juga oleh Hinata, sekarang keduanya saling menatap. Mengagumi keindahan dari sosok dihadapan mereka masing-masing. Perlahan Naruto mendekatkan wajahnya, Hinata menutup matanya, menunggu sesuatu yang sudah lama ia mau. Penonton tambah histeris… makin dekat.. dekat.. dekat… dan..

CUP

Dua insan remaja beda gender yang sedang bermadu cinta. Sekarang tengah berciuman di depan seluruh orang di sebuah gedung bioskop. Ya, SELURUH ORANG DI GEDUNG BIOSKOP. Yang menonton menyambut kisah romantis mereka dengan sorakan dan tepuk tangan. Masa muda memang indah. Dan yang lebih parahnya lagi ada beberapa siswi yang pingsan dari arah bangku penonton karena menyaksikan adegan romantis ini.

.

.

.

Benar-benar akhir yang indah.

.

.

SKIP TIME

.

.

.

"Wah ayo cepat, hasilnya sudah keluar."

Segerombolan siswa terlihat sedang berlari di lorong salah satu sekolah. Tujuan mereka hanya satu… mading.

Setelah sampai didepan papan mading, mereka berhenti. Dengan nafas ngos-ngosan, mereka menatap daftar nama di mading itu.

1 . Nara Shikamaru

2 . Hyuuga Hinata

3 . Haruno Sakura

4 . Uchiha Sasuke

5 . Shimura Sai

6. Tenten

7. Hyuuga Neji

9. Matsuri

10. Yamanaka Ino

Itulah 10 daftar teratas dari list yang terdapat di mading itu. Sepertinya nama-nama mereka terdengar tak asing yah. Mereka adalah beberapa anggota ANBU dan para gadis yang terkenal di NHS. Dan itu adalah daftar peringkat nilai ujian kelulusan yang mereka ikuti sekitar sebulan lalu.

"Wah Hime-ku peringkat 2. Selamat yah, Hime" Naruto memberi selamat pada Hinata, membuat Hinata hanya merona merah dan mengangguk kecil.

"Hey Shika, kenapa kau bisa paling atas ? kau kan selalu tidur." protes Naruto pada Shikamaru disebelahnya. Sekarang seluruh anggota ANBU dan para gadis tengah melihat daftar nilai mereka. "Cih, mendokusai. Jangan tanya aku."

"Dan kau Gaara, kenapa kau di peringkat 12 ? kau kan selalu main game." Kembali Naruto memprotes Gaara.

"Main game itu juga termasuk belajar, Ketua" jawab Gaara dengan nada sedikit mengejek, membuat Naruto tambah jengkel. Namun sesaat di menoleh kearah Neji.

"Nii-san peringkat tujuh yah, selamat yah Nii-san." ujar Naruto, "Terima kasih Naruto" jawab Neji. Di sisi lain Hinata malah kebingungan sendiri, "Nii-san ?" hadeh, sepertinya dia belum tahu.

"Yumi-chan, kau peringkat berapa ?" tanya Sakura pada Yumi disebelahnya tanpa melepas genggaman tangannya pada Sasuke.

"Aku peringkat 11." jawab Yumi dengan tersenyum.

"Hey rubah, aku di no. 22 kau berapa ?" tiba-tiba Kiba bertanya pada Naruto.

"Hehe, kau berhutang semangkuk ramen jumbo padaku, aku di no. 16"

"HAAAHH ? bagaimana bisa, rubah ? pasti kau nyontek kan ?" tuduh Kiba sembarangan.

"Enak saja, ini karena aku belajar bersama Hime-ku ini." ujar Naruto semangat dan langsung menggenggam tangan Hinata membuat sang empu kembali 'mendidih' dibuatnya.

"Sudahlah, yang penting nilai kita semuanya bagus kan ?" Neji menengahi teman-temannya.

"Hn"

"Yah, betul."

"Hehe, betul itu Nii-san."

Naruto langsung menaruh tangannya dan Hinata kedepan, dan anggota ANBU dan para gadis menyatukan seluruh tangan mereka ke tengah. Setelah tangan mereka bersatu, Naruto bergumam…

"ANBU…"

"…and The Girls." gumaman Naruto dibalas seluruh gadis disana. Dengan semangat mereka berteriak…

"YOOSSSHHHHAAAAAA"

.

.

.

.

THE END

.

.

.

.

OMAKE

Terlihat tujuh pria berbaris sejajar di depan pagar sebuah universitas terbesar dan terkenal di Kota Konoha. Universitas itu bernama 'Konoha University'. Mereka semua memakai kaos polos yang di lapisi jacket kulit hitam khas grub mereka.

Tujuh pria ini dipimpin oleh seorang pria berambut pirang yang berdiri tepat ditengah, sedang memasukkan tangan ke saku celananya.

"Apa kau yakin tentang ini, Dobe ?" tanya seorang berambut raven yang berdiri disebelah kanan si pemimpin.

"Tentu saja. Ini pasti menyenangkan" jawab si pemimpin dengan yakinnya. Ia menampilkan senyum lebarnya.

"Okey, are you ready for school ?" kembali sang pemimpin berguman yang dijawab anggukan seluruh anggotanya.

.

.

.

THE END (for really)

.

.

.

Next

=== "ANBU and The Girls : University" ===

.

.

.

.

Hai minna-san, saya kembali lagi nih. Sekarang saya bawa chapter terakhir ANBU and The Girls. Menurut para readers gimana ? feel-nya gimana ? trus pernyataan cintanya gimana ? saya minta maaf atas segala kekurangan di chapter terakhir ini.

Maaf juga kalau updatenya agak lama. Soalnya baru selesai diketik, dan langsung saya publish. Beneran, saya pusing banget kerja chap terakhir ini. Dan mudah-mudahan hasilnya tidak mengecewakan para readers sekalian. Dan saya rasa juga endingnya kecepatan yah ? maaf yah, saya benar-benar kehabisan ide.

Sekedar info ini chapter terpanjang yang pernah saya ketik. (6000 words lebih, tanpa A.N)

Oh iya, saya juga berencana buat sequelnya yang berjudul 'ANBU and The Girls : University'. Yah, saya minta saran sama para readers, bagaimana pendapat anda ? apa memang harus saya bikin sequelnya ? mohon bantuannya. Saya ini memang aneh, saya yang menulis cerita ini, tapi saya juga suka sekali baca cerita ini, jadi saya tidak mau cepet-cepet tamat. Makanya saya berencana bikin sekuelnya.

Terus untuk chap terakhir ini saya sungguh minta maaf kalau feel romance pernyataan cintanya kurang dapat. Beneran, cuman ini ide terbaik saya untuk buat pernyataan cintanya Naruto. Jadi kalau memang kurang bagus, saya sungguh minta maaf.

Yah, sekarang saya akan balas review dulu :

TomatoCherry0225 : Wah cepet banget review-nya, makasih. Ini sudah di update, maaf yah kalau kurang bagus. Makasih banyak sudah review fic ini.

EmikoRyuuzaki-chan : Yah maafkan saya atas typo-nya. Waduhh, rate M ? saya memang mau buat tapi sekarang belum ada ide, hehe. Makasih udah review.

Fury F : Ini sudah di lanjut, maaf kalau kurang bagus. Makasih udah review.

yudi arata : Ini udah di up kk. Yah, saya berterima kasih atas sarannya kk, dan disini saya sudah buat seluruh siswa dan para guru terlibat. Jadi bagaimana ? maaf kalau kurang bagus. Makasih banget yah kk, udah mau review selama ini.

IndigoRasengan23 : Ini udah lanjut.

Namikaze Ichza : Benarkah ? wah makasih banget yah. Sekuel memang saya mau bikin nantinya. Ditunggu yah, makasih udah review.

caesarpuspita : Ini udah up. Makasih yah, udah selalu review selama ini.

Istri Sasuke : waduh ada istrinya Sasu nih #plakk. Hehe, makasih udah review.

Divman : Ini udah dilanjut. Yup, ini chap terakhir, makasih yah udah review.

yudi : Wah makasih banyak yah. Ini udah NaruHina-nya, maaf kalau kurang bagus. Makasih yah udah review.

Yuuna Emiko : ini NaruHina-nya sudah. Maaf banget kalau kurang bagus. Makasih yah udah mau review.

Darknamikaze ss : Ini udah Naruto-nya. Maaf kalau kurang bagus yah, makasih udah mau review.

Fuma Shuriken : ini udah lanjut.

Asni Susanti : Hehe, yah memang agak lebay dan OOC sih, tapi mudah-mudahan gak mengecewakan. Ini udah dilanjut, maaf kalau kurang bagus yah. Makasih udah review.

arifff : Benarkah ? makasih banget yah. Ini udah di lanjut, tapi maaf banget kalau kurang bagus. Harapan saya juga mau dilanjut terus, dan mudah-mudahan saya juga selalu dapat ide untuk melanjutkannya #amin. Makasih udah review yah.

Ryuji Kazuto : Ini udah NaruHina-nya, maaf kalau kurang bagus yah. Makasih banget udah mau review.

NamikazeLee : Ini udah dilanjut, maaf kalau kurang bagus yah.

HyuNami NaruNata : Saya aja belum pernah lihat #plakk. Ini si Naruto-nya, maaf kalau kurang sweet yah, dan maaf juga agak lama updatenya. Makasih udah review.

alfi : Untuk KakaShizu saya belum sempat bikin, karena saya fokus ke anggota ANBU dulu. Tapi saya juga berencana buat side story tentang KakaShizu sih (Nih author banyak rencananya #bletak. Maaf updatenya agak lama.

mitosenju :

Gyaahh, saya sudah banget lepas dari typo :3 . ini udah NaruHina-nya, bagaimana menurut mito-san ? maaf yah kalau kurang bagus, dan saya harap juga gak anti klimaks.

Saya juga mau berterima kasih karena mito-san selalu memberi pengoreksian dan saran-saran saat mereview. Makasih banget yah mito-san.

naruhina kudo 123 : Ini udah NaruHina-nya, maaf yah kalau kurang bagus dan kurang sweet. Dan makasih banyak udah mau review.

Ikha Hime : Ini udah di lanjut, Makasih udah review yah.

Areilla Mitsumi : Waduh, nggak dimarahin tetangga tuh teriak" ?#plakk. Maaf yah, kalau NaruHina-nya kurang sweet, dan makasih udah review.

galuhkirana159 : Makasih yah, dan maaf ini upnya agak lama dan gak secepat Minato. Makasih juga udah mau review yah.

fuu-chan : Ini udah dilanjut, makasih banyak yah udah mau review.

Sekali lagi saya sangat sangat sangat berterima kasih bagi yang sudah mau review, fav and follow fic saya ini. Makasih juga yang sudah memberikan saran, dan beberapa pengoreksian untuk berbagai kesalahan di fic ini. Tanpa anda semua, fic ini tidak mungkin bisa saya lanjutkan. Hontou ni Arigatou gozaimasu.

Dan karena ini chap terakhir, saya hanya dapat menyampaikan sampai jumpa lagi di fic-fic saya yang lainnya. Bye-bye….

.

Note : Update perbaikan typo, dan kata-kata yang kurang pas. Namun karena author hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan (Eaaaa #buagh), jika masih ada typo dan sejenisnya, mohon dimaafkan.

Oke Jaa ne.

Tanaka-kun desu ~