BIAS


Chapter 10


YoonMin; Dom!Yoon, Sub!Min. Indonesia!AU. Entah ini nonbaku atau semibaku.
Slight!VKook dan NamJin.


"Kim Taehyung! Direktur Kang manggil lo, tuh!" ujar Bogum, salah satu staff Dispatch dari meja sebelah. Taehyung berdecak malas dalam hati.

"Iya, iya," jawab Taehyung malas, lalu berdiri, dan misuh-misuh kesal di dalam batinnya, "kenapa si Botak manggil gue, coba? Emang, gue salah apa lagi?" Kim Taehyung mempercepat langkahnya agar cepat selesai urusannya.

Krieet ...

"Permisi, Direktur Kang ... Anda memanggil saya?" tanya Taehyung gugup, ia takut kalau ada yang bermasalah dengan liputannya kemarin—ya, tentang salah satu member JTS yang namanya tidak ingin Taehyung sebutkan sekarang.

Namun nyatanya, tidak.

Direktur Kang nampak sangat bahagia melihat Taehyung di daun pintu.

"Aah, Kim Taehyung, kemari sini!" pekik dia, nampak seperti orang gila. Taehyung pun hanya menurut dan mendekat ke meja Direktur Kang, "kamu memang benar-benar lulusan terbaik! Lihat! Artikel kita dimuat dimana-mana dan menjadi top 1 di penjuru negeri!"

Taehyung menganga tidak percaya, baru kali ini dia dipuji oleh Direktur Kang, "maaf Direktur, apa artikel yang dimaksud itu ... tentang kabar Jung Hoseok dan Park Jimin?"

"Ya, tepat sekali!" ujarnya semangat, sambil menepuk-nepuk bangga pundah Taehyung yang tengah gugup, "kalau begitu, nanti malam, akan kutraktir kau makan besar di restoran termahal di Jakarta."

Bohong kalau Taehyung tidak senang. Ralat, dia sangat senang, lebih dari itu malah. Namun, ada perasaan mengganjal yang ganjil di hatinya. Ada perasaan tidak enak ketika dia sukses di atas kebenaran berita busuk itu.

"Ah, maaf Direktur, saya tidak bisa menerimanya. Saya sudah membuat janji malam ini," ujar Taehyung sopan, namun berbohong.

"Wah, sayang sekali ... kapan-kapan kita akan melakukannya, oke?" ujarnya sedikit memaksa. Taehyung menyambutnya dengan anggukan grogi.

Taehyung tahu ini sangat salah, tapi setidaknya, sampai saat ini, petisi mendeportasikan Jimin itu mampu ia boikot untuk sementara waktu secara rahasia.

.

.

.

BRAK!

Baru kali ini Bang PD terlihat semarah itu pada Hoseok. Ini bukan hal yang biasa sebenarnya, karena semua tahu bahwa Hoseok selalu membuat onar, baik atas namanya sendiri atau atas nama JTS. Tapi kali ini, aura Bang PD benar-benar kuat akan kemarahan.

"Hoseok! Saya enggak tau lagi mau kamu apa sekarang," ujarnya tegas, mimik wajah yang serius pun tidak membuat Hoseok yang sedang diinterogasinya gentar.

"Semua berita yang kamu bikin dengan bantuan Dispatch itu ngerusak semua karir member! Ditambah Allana yang melapor semua kejadian busukmu ke komisi perlindungan perempuan, ITU BIKIN VIRAL SEMUA KEBUSUKANMU!" sambung Bang PD geram, "semua ada ditanganmu, saya gak paham apa yang kamu mau. Sekarang, pilihannya cuma dua. Tutup mulut Allana dan aborsi bayimu, atau deportasi Jimin sekarang juga."

Dengan santainya Hoseok menjawab, "Bang PD ... Bang PD ... tanpa milih pun, gue bisa ngelakuin dua opsi itu. Karena cepat atau lambat, Jimin juga bakal dideportasi. Petisinya itu udah komplet empat per limanya," ujar Hoseok.

"Cih," Bang PD berdecih meremehkan, "bodoh! Petisi Jimin tiba-tiba hilang dari internet sejak dua hari yang lalu!

Hoseok kaget bukan main. "Siapa yang berani buat main-main sama kasus ini?!"

"Siapalagi kalau bukan Kim Taehyung—wartawan Dispatch tolol—itu?!" tanya Bang PD, "dan jangan lupa kalau wartawan Kim itu berkhianat, dan juga bersekongkol sama Yoongi buat jatuhin namamu," tutupnya, sebelum meninggalkan Hoseok di ruangannya sendiri.

"Sialan."

.

.

.

Siang ini, Namjoon dan Yoongi hanya mengurung diri mereka di studio, melupakan semua kasus untuk sementara waktu, menyibukkan diri dengan menggarap lagu-lagu terbaru untuk comeback mereka.

Ada juga Jimin yang tertidur pulas di sofa yang terletak di samping ruang rekaman. Namjoon hanya bisa mengizinkan Yoongi untuk membawa Jimin ke sini, tak sampai hati Yoongi meninggalkan Jimin sendirian untuk yang kedua kalinya.

"Gue, sih, bakal bunuh diri, Bang, kalo gue ada di posisi Jimin kayak sekarang," bisik Namjoon pada Yoongi yang sibuk menulis partitur lagu.

"Sama," timpal Yoongi, "yang lebih parah lagi, dia masih ngebiasin Hoseok sepenuh hati," tuturnya lesu.

"Serius?" Namjoon membelalakan matanya. Yoongi hanya mengangguk. "Gue pikir, kalian berdua udah taken, lho, Bang," sambungnya tidak percaya.

"Yah ... seenggaknya, dengan ngeboikot petisi ini bareng Taehyung, gue harap Jimin tahu perasaan gue ke dia."

"Ah, ga asik, lu, Bang. Ini, sih, sama kayak cowok nunggu ceweknya nembak dulu. Gak gentle namanya."

Yoongi menjitak kepala Namjoon, membuat si korban mengaduh kesakitan. "Lo pikir Jimin cewek? Dia cowok, kayak gue," kata Yoongi gemas. Iya, gemas mau bunuh.

"Oke, oke, gue ulang. Ini, sih, sama kayak dominan nunggu si submisif buat nembak duluan," goda Namjoon. Selepas Namjoon menyelesaikan perkataannya, tak ada respon yang diberikan oleh Yoongi. Kecuali bibir yang mengatup dan pipi yang memerah.

.

.

.

Kau harus tahu perbedaan di antara cerdas dan cerdik, karena itu adalah dua kata yang berbeda.

Hm, kalau dibilang cerdik, sangat.

Hoseok memang cerdik, apalagi di saat-saat genting seperti ini, dia akan menghalalkan berbagai cara untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Egois? Iya. Tidak salah lagi. Seperti kali ini, Hoseok mengundang tamu dari Soompi. Perlu diketahui, Dispatch dan Soompi merupakan agensi berita yang kerap kali bersaing untuk mendapatkan berita akurat demi ranking top 1 di penjuru negeri.

"Oke, Tuan Hoseok, mari kita mulai kegiatannya," ujar wartawati yang memiliki name tag bertuliskan Hana itu, "jadi, apa yang ingin Anda klarifikasi?"

Ada jeda panjang yang diberikan sebelum Hoseok mulai menjawab, "saya ingin klarifikasi kalau pacar saya, Park Jimin, telat berselingkuh di belakang saya."

Wartawati itu sibuk mencatat apa saja yang diungkapkan Hoseok, sebelum akhirnya membuka mulut. "Maaf sebelumnya, Tuan Hoseok, atas dasar apa Anda menuduh kekasih Anda? Kami memerlukan bukti, dan memastikan bahwa data yang diterima itu valid."

Hoseok lalu merogoh sakunya, lalu mengambil sebuah foto. Sebuah foto Yoongi dan Jimin yang tengah berpelukan di koridor. Sang Wartawati menunjukkan wajah tak percaya, "darimana Anda mendapatkannya?"

"Anda tidak perlu tahu dari mana, tapi yang pasti, saya bisa jamin foto ini adalah bukti yang sah," ujar Hoseok dengan senyum liciknya. Hoseok memang tidak bohong, itu foto asli, ya, memang Yoongi dan Jimin berpelukan di koridor, namun headline yang akan sepertinya menjadi Hot News besok itu sepenuhnya bohong.

"Ah, terimakasih Tuan Hoseok atas waktunya. Saya akan secepatnya mengklarifikasi berita ini," ujar wartawati itu, tergesa-gesa meninggalkan ruangan saat mengetahui ini akan menjadi berita panas yang pas untuk dibicarakan sampai seminggu kedepan.

Bodoh, semua memang bodoh ...

.

.

.

01 Juni 2017, via Soompi

... Park Jimin terpaksa dideportasi esok pagi atas dasar persetujuan dari dua puluh tujuh ribu partisipan di petisi online ...

Semua member beserta buddy dan para staff mengadakan rapat. Tidak ada yang bisa berkata-kata di ruangan kedap suara itu. Bang PD pun tidak luput mendapatkan berbagai hujatan dan ancaman karena mengizinkan Jimin tetap disini sampai masa projek berakhir.

Pada akhirnya pun, petisi itu mampu membuat keadaan terbalik.

Menghasilkan kenyataan pahit kalau Jimin akan dipulangkan dan otomatis, Yoongi harus mengocok undian lagi untuk menentukan buddy baru sebagai pengganti Jimin. Entah siapa yang menyebarkan foto itu, tapi yang pasti, airmata Jimin sudah habis jika dipaksa untuk menangisi semua artikel yang mencantumkan fotonya dengan Yoongi beserta judul header berita yang terpampang dimana-mana.

TODAY'S HOT NEWS: Jimin is cheating.

.

.

.

[Yoongi's point of view]

Aku duduk tepat di sebelah Jimin. Sedari tadi, kugenggam erat terus tangannya di bawah meja. Berharap-harap bahwa itu dapat diterima Jimin sebagai bentuk dukungan yang selalu aku salurkan padanya. Karena ku yakin, di balik Jimin yang kuat ini, dia tidak tahu pasti mengapa semua artikel menuduhnya berselingkuh.

Aku bersumpah akan mencari orang yang berhasil menyebarkan foto itu ke publik. Ini bukan hanya soal privasi, ini juga menyangkut harga diri Jimin yang direndahkan oleh publik. Harga diri dan nama baikku juga tercoreng dengan artikel sampah ini.

Selama rapat berlangsung, aku hanya bisa mencuri lirik pada Jimin yang menatap nanar entah apa atau kemana. Aku yakin dia bingung. Kuyakin dia akan marah jika aku memberitahu semua kebenaran dari awal.

"Jimin, mohon maaf, kami harus segera memulangkanmu besok pagi," ujar Bang PD penuh sesal.

"Tak apa ... lagi pula, kalau Jimin masih terus disini ... popularitas JTS akan menurun dan dicap jelek di masyarakat," Jimin tersenyum pedih. Anak ini, benar-benar ... dibalik peliknya masalah yang ia alami, dia tetap memikirkan kepentingan yang lain.

"Terimakasih karena telah memahami kami, Park Jimin."

Rapat pun akhirnya ditutup. Bang PD segera mengurus petisi itu, beserta mengumpulkan email yang berisikan petisi serupa bersama para staff, dan menyiapkan segala keperluan untuk deportasi Jimin esok pagi.

Segera saja, aku menarik tangan Jimin untuk keluar. Menghindari Hoseok, sekaligus mengitari dorm bersama Jimin untuk yang terakhir kalinya.

.

.

.

Malam telah tiba. Kurasa, Jimin sedang sibuk mengemas semua barang-barang yang akan ia bawa besok. Aku pun juga punya kesibukan yang lain saat ini. Hm, menggarap lagu hanya bersama Namjoon terasa sangat melelahkan. Apalagi ditambah kejadian ini, makin membuatku pusing dan tidak fokus. Pikiranku terus melayang pada masalah-masalah yang terjadi semenjak projek ini lahir.

"Bang, lu kenapa? Enggak biasanya lesu pas bikin lagu?" Namjoon ternyata sadar dengan kegelisahanku.

"Yaa, lu taulah. Ada beberapa hal doang, kok ..."

"Biar gue tebak. Pasti ... masalah petisi itu, ya, Bang?"

"Hm, salah satunya itu," jawabku lemah.

"Bang, jangan kayak gitu, lah. Dari awal, lu udah punya kesempatan buat boikot itu petisi waktu partisipannya belum mencapai angka lima ribu. Apalagi, wartawan Dispatch itu ada di sisi lo, Bang. Tapi, lo baru ngeboikot pas partisipannya banyak, mau dibantu Dispatch secara diem-diem pun, kemungkinannya kecil buat ilang begitu aja," oceh Namjoon, "Sekarang liat, Hoseok berulah lagi dengan sengaja bikin rumor, dan yang pasti, jumlah partisipan makin banyak."

"Ya, gue tau," kataku, "intinya Hoseok menang telak."

"Bang Yoongi, gue paham maksud lo. Tapi, dalam keadaan kayak gini, lo mestinya paham kalo nama baik lo sama Jimin udah tercoreng parah sama artikel Soompi. Yang harus lo lakuin buat ngebersihin nama baik lo—juga nama baik Jimin—itu, yaa, ngerelain dia ..."

Aku tahu, tapi, bukan Min Yoongi namanya kalau tidak keras kepala. Mencoba menerima semua perkataan yang barusan keluar dari mulut Namjoon terasa sangat sulit. Semua nasihat dan masukan yang Namjoon berikan, aku tolak mentah-mentah. Aku pun memilih untuk keluar dari studio sejenak, mencari udara segar.

Menurutku, Namjoon masih belum bisa memahami apa yang aku rasakan saat harus merelakan Jimin.

.

.

.

Yoongi berjalan ke arah balkon. Udara malam mungkin mampu membuatnya tenang. Apalagi, hujan baru saja turun di langit malam Pantura, membuat bau petrichor menyeruak ke dalam hidung dan memenuhi rongga dada. Tatkala sedang menghirup udara yang berbaur dengan bau tanah selepas hujan, sebuah pesan masuk ke handphone Yoongi.

Taehyung
Tuan Yoongi, maaf, saya tidak bisa memboikot petisi itu lebih lama lagi. Artikel dari Soompi benar-benar membuat partisipan membludak. Sekali lagi, maafkan saya.

Yoongi
Tak apa, Taehyung, lagipula, Jimin perlu pulang ke rumahnya untuk menenangkan diri.
Dan jangan panggil aku dengan embel-embel Tuan. Kita sudah berteman sejak SMA.

Taehyung
Ah, saya turut bersedih.

Yoongi memutuskan untuk tidak membalas pesan Taehyung. Dia juga merasakan hal yang sama, dia bersedih saat mengetahui fakta bahwa satu-satunya pilihan adalah mendeportasikan Jimin. Tepat saat Yoongi memasukkan handphone-nya ke saku celana, ada suara seseorang yang memanggil Yoongi dari kejauhan.

"Suga ..."

Itu rupanya suara Jimin. Jimin dengan setelan piyama satin biru itu berjalan ke arah Yoongi dengan lunglai. "Ada apa, Jim?"

"Suga ... barusan ... Jimin mimpi buruk—boleh Jimin tidur di kamar Suga? J-Jimin takut ..." ujarnya, yang membuat Yoongi gemas.

"Hoo, boleh, boleh ... pintu kamarku selalu terbuka buatmu, Jimin,"

Entah sejak kapan diksi Yoongi untuk Jimin berubah. Yang biasanya menggunakan 'gue-lo', sekarang menjadi 'aku-kamu'. Yoongi tidak terlalu memikirkannya, menurutnya, itu merupakan suatu bentuk bahwa ia benar-benar menyayangi Jimin. Jimin pun tidak ambil pusing, dia malah menemukan itu hal yang lucu.

.

.

.

Sesampainya di kamar, aku langsung menyuruh Jimin untuk langsung beristirahat di kasurku. Aku bisa tidur di sofa yang ada di sebelah nakas meja, atau tidur di studio seperti biasa. Tapi, dia malah cemberut dan merajuk.

"Gak mau, pokoknya, Suga temenin Jimin tidur di sini," katanya sambil menepuk-nepuk wilayah kasur di sebelahnya.

"Ih, apa, gak mau!"

"Yauda ni, Jimin ga bakal tidur, ni?!"

Aku tidak punya pilihan lain. Aku pun ikut membaringkan tubuhku di sebelah Jimin. Melihatnya bertingkah manja di depanku, pikiranku menjadi melayang-layang kemana-mana. Rasanya ... ingin saja kubuat ia 'lelah' malam ini.

Tidak cukup sampai disitu, ia juga memintaku untuk mendongengkan sebuah dongeng klasik. Hah, terpaksa, aku pun browsing internet untuk mencari sebuah dongeng klasik, mungkin semacam dongeng ciptaan Hans Christian Andersen ataun Grimm bersaudara. Akhirnya, aku memilih dongeng Angsa Buruk Rupa—ciptaan Andersen.

Menceritakan tentang seekor angsa—yang dikira itik—dan dijauhi oleh ayam, itik, dan kalkun karena parasnya yang buruk. Ia tidak memiliki siapa-siapa selama bertahun-tahun, tidak punya teman maupun sanak saudara. Sampai suatu hari, ia bertemu dengan sekumpulan angsa yang sedang bermain di kolam. Awalnya ia takut untuk menyapa, tapi ternyata, para angsa itu menyapanya lebih dahulu. Ia bingung, dan melihat pantulan dirinya di kolam dan menyadari bahwa ia telah tumbuh menjadi angsa yang cantik.

"Akhirnya, para angsa itu membawanya pergi ke tempat dimana populasi angsa berkumpul, dan hidup bahagia bersama kawanannya, selamanya," ucapku menyudahi dongeng tersebut. Kuperhatikan Jimin yang mulai menguap, dan tiba-tiba, ia menyeletuki ending dari kisah tersebut.

"Enak, ya, jadi dia. Bisa hidup bahagia dengan kelompoknya, hidup bahagia sama orang-orang yang menerimanya ... hidup bahagia sama orang-orang yang dia sayang."

"Ha? Maksudnya?" aku bertanya, bingung. Kenapa dia bisa tiba-tiba mengucapkan hal seperti itu?

"Iya, enak aja, gitu ... gak kayak Jimin, yang malah ... kayak ... seakan-akan diasingkan sama orang yang Jimin sayang," balasnya.

"Hoseok, ya," tuturku, berusaha menyembunyikan kekecewaan dalam hati. Dia mengangguk pelan dan melanjutkan ucapannya.

"Emangnya ... Jimin salah, ya, kalo lahir jadi cowok? Jimin tau, kok, Hoseok sebenernya sayang juga sama Jimin, tapi, karena Jimin cowok ... makanya Hoseok bilang ke orang-orang kalo Jimin dulunya cewek, kan?" tanyanya, masih berusaha berpikir positif tentang biasnya tersebut.

"Gak. Jimin. Itu semua salah," ucapku tegas, membuat Jimin sedikit kaget, "kalo bener Hoseok sayang sama Jimin, dia pasti terima Jimin apa adanya. Mau Jimin cewek atau cowok—ngapain dia harus capek-capek bilang ke publik kalo dulunya kamu cewek? Cinta gak mandang hal-hal itu. Cinta gak mandang ras, agama, suku, keyakinan, bahkan gender sekalipun."

Dia memutuskan kontak matanya denganku, menunduk, "kalo kayak gitu ... Jimin mau nanya, darimana Suga tau kalo cinta gak mandang hal itu? Darimana Suga tau kalo cinta gak butuh alasan?"

Jimin memang hebat memutar keadaan. Bocah ini. Haruskah aku jujur padanya sekarang? Apa ini saat yang tepat?

"Yoongi bisa tau, Yoongi bisa ngomong kayak gitu karena ini udah terbukti, rasa sayang Yoongi ke Jimin selalu tumbuh setiap seharinya tanpa butuh alasan apapun," jawabku tanpa ragu sedikitpun. Jantungku seakan berhenti berdetak saat melihat ekspresinya yang terkejut, tapi entah bagaimana, itu juga terlihat lucu di waktu yang bersamaan.

"Haha—Suga bercanda, yaa—..." ooh, rupanya, Jimin masih menganggap ucapan yang tadi adalah sebuah lelucon belaka.

Mungkin Jimin harus sedikit di-'sentil' ...

Aku mendekatkan wajahku pada Jimin, memerhatikan kedua pipinya kian memerah, "aku gak pernah bercanda di hal-hal yang menyangkut perasaan, Park Jimin," tanganku sudah menyapa dagunya, dan cepat-cepat aku meletakkan bibirku di bibir empuk Jimin—itu bukan ciuman yang panas. Tidak ada nafsu, hanya sekedar bukti dari semua perasaan aneh yang menghampiriku saat ia datang ke hidupku.

"Mulai sekarang, panggil aku Yoongi, Jimin," kataku serius, seraya melepaskan ciuman itu dari bibirnya. "Suga itu orang dingin yang apatis, Yoongi itu—..." aku menggantungkan ucapanku, berniat menggoda Jimin sedikit, "Yoongi itu orang yang mencintaimu dengan sepenuh hati."

Aku tahu, itu cheesy sekali. Tapi, ekspresi yang Jimin tunjukkan saat ini benar-benar lucu. Matanya yang sipit seketika membulat besar. Dan, bibirnya tertatih-tatih untuk berbicara sesuatu—seperti bayi yang baru belajar berbicara.

"Yoon ... gi ..." untuk yang pertama kalinya, "Yoongi, Yoongi."

.

.

.

[Jimin's point of view]

Malam terakhir di dorm JTS ini kuhabiskan bersama Yoongi di kamarnya. Rasanya, aneh ketika kamu tahu bahwa orang yang kamu benci, malah menyatakan perasaannya. Ditambah di waktu yang tidak tepat.

Yang kumaksud dengan tidak tepat adalah, waktu dimana hari ini mungkin hari terakhir kamu bisa bertatap muka dengannya. Kecil kemungkinannya untuk bertemu kembali.

Tapi, Yoongi, maaf ...

Kupikir, hubungan kita hanya sebatas buddy saja. Makanya, aku tidak pernah berharap lebih ...

Dan maaf, kalau aku terlambat menyadari kalau kau jatuh cinta padaku juga. Jauh, jauh sebelum aku jatuh cinta padamu, Yoongi.

Lucu rasanya ketika aku pulang nanti, aku akan berlari menghampiri Jungkook di kantin sambil berteriak, "Kuki ... aku kalah taruhan denganmu."


ini belom tamat

Bersambung, tebeceh!


Hoseok berulah lagi ...

hehehehe ...

hehehe ...

hehe ...

he ...