.

Rock With Me

.

Pengarang: Kristen Proby

.

.

.

Oh (Do) Kyungsoo

Kim Jongin

.

.

Ini BUKAN karya Cactus93, Cactus93 hanya ingin me-remake dan berbagi cerita yang Cactus93 sukai. Cactus93 hanya mengganti nama pemeran, mungkin dialog yang sesuai dengan keadaan. Setting cerita ini tidak di Korea.

.

.

.

Hope u will enjoy this remake^^

Sorry for typos

Happy reading!

.

.

.

.

Kyungsoo POV

"Ini akan menjadi menyenangkan!" Aku duduk memantul di kursi depan mobil seksi Camaro milik Jongin, sangat gembira karena dia mengajakku pergi untuk melihat rumah. Sepanjang hari kemarin, dia pergi untuk mengurus bisnisnya apa pun itu, dan hari ini kembali lagi, untuk menikmati kebersamaan.

"Kau seperti anak kecil," Dia menyeringai ke arahku dan tertawa.

"Aku suka berbelanja," Aku mengangkat bahu, "Kita akan ke mana dulu?"

"Yah, kita hanya akan melihat satu saja untuk hari ini."

"Oke, di mana?" Tanyaku lagi.

"Tidak terlalu jauh dari tempat Sehun dan Luhan."

"Aku menyukai lingkungan disana," Aku tersenyum bahagia pada pria bertatto yang seksi di sampingku.

"Baik, mari kita lihat apa yang akan kita pikirkan tentang rumah." Dia mengendarai melalui sebuah gerbang dan menuruni sebuah jalan menuju sebuah rumah bergaya tradisional yang indah, bercat putih dan biru. Pemandangan dari kawasan teluk sangat menakjubkan. Ada mobil Toyota berwarna merah diparkir di jalan masuk dan seorang wanita muda bertubuh bulat pendek dengan rambut hitam berdiri di teras sedang melakukan sesuatu melalui teleponnya.

"Aku suka bagian luar," Aku berkomentar, mendapati ada mawar di semak-semak sekitar pohon ceri yang akan mekar dalam beberapa bulan lagi.

"Oke, ayo kita masuk ke dalam," Dia menyeringai padaku dan kami berdua melompat keluar dari mobil dan berjalan menuju teras depan.

"Hai! Aku Melody Jenkins, agen yang dikirim untuk membantumu hari ini." Melody berwajah cantik, ramah dan dengan gaya anak muda. Dia terlihat masih baru dalam bisnis real estate.

"Apakah kau tidak memberitahu mereka siapa dirimu saat kau menelepon?" Bisikku padanya.

"Tidak," Dia mengerutkan kening ke arahku dan berjabat tangan dengan Melody. "Terima kasih telah menemui kami."

"Astaga, kau Kim Jongin!" Dia berseru dan hampir jatuh dari tangga depan. Aku membalikan badan sehingga dia tidak bisa melihat rasa geli dari wajahku.

"Tidak salah," Jongin tersenyum menawan. "Senang bertemu denganmu."

Aku menahan sikapku dan membalikan badan menemukan Melody dengan mulut komat kamit seperti ikan, matanya melebar dan menatap ke Jongin, benar–benar terkaget.

"Oh atas nama cinta... Melody?" Aku melambaikan tangan di depan wajahnya, untuk menarik perhatiannya, "Hai. Aku Kyungsoo. Kami senang melihat rumah ini."

"Oh, tentu saja." Tangannya gemetar saat dia melihat catatan di teleponnya mencari kode untuk pintu dan mendahului kami untuk masuk ke dalam.

Aku berbalik ke Jongin dan mengejek penggemarnya, membungkam mulutku seperti saat aku terkejut bertemu dengan dirinya, dan dia menyipitkan matanya padaku dan berbisik, "Bersikaplah yang baik."

"Ini lucu," Gumamku saat Melody berbalik kepada kami.

"Jadi, inilah rumahnya, tentu saja, sangat bagus. Memiliki dapur yang memiliki seni yang indah, ruangan yang terbuka, bak mandi air panas." Matanya memandang ke tubuh Jongin dari bawah ke pinggul lalu dia terbatuk dan berbalik.

"Ini adalah seorang bintang," Gumamku kepada Jongin, mendapatkan sorotan lagi.

"Aku hanya harus memberitahumu," Kata Melody terburu-buru, berbalik menghadap ke Jongin, "Aku adalah seorang penggemar berat. Aku punya semua albummu, bahkan album yang sudah lama."

Aku tertawa lagi. Yang paling lama berusia sekitar empat tahun. Tentu saja, dia masih SMA.

"Eh, terima kasih," Gumam Jongin, terlihat jelas tidak nyaman dan melihat sekeliling mencari kemungkinan untuk melarikan diri.

"Apa yang lucu?" Melody bertanya, tangan berada di pinggulnya. Dia benar-benar lucu.

"Sebenarnya tidak ada. Kai adalah group yang hebat," Aku setuju dengan dia dan tersenyum pada Jongin yang terus memelototiku.

"Kau tahu, Melody, kupikir kami hanya ingin melihat-lihat sendiri saja, jika kau tidak keberatan."

"Oh." Dia cemberut dan menatap padaku lalu matanya yang besar berwarna cokelat ganti menatap Jongin seperti yang aku yakini dia berpikir dirinya terlihat menggoda, "Apakah kau yakin? Aku tidak keberatan membawamu berkeliling."

"Aku yakin, terima kasih." Jongin meraih tanganku dan menarikku menaiki tangga. "Kau tidak membantu," Ia menggeram. "Aku minta maaf, tetapi itu lucu, dan salahmu sendiri."

"Salahku?" Dia bertanya tidak percaya.

"Ya. Satu, kau seharusnya mengatakan pada Agensi siapa dirimu sehingga mereka mengirim seseorang yang lebih tepat, dan dua, kaulah satu–satunya yang selalu berjalan dengan bertelanjang dada baik di video klip dan pemotretan. Aku tahu pasti dia ingin menjilat tato bintangmu."

"Diam," Gumamnya dan menarikku menyusuri lorong, melihat setiap kamar.

"Kau tidak bisa membuat tato di area V-mu yang seksi, salah satu tempat di tubuh pria yang membuat wanita duduk dan mengemis, dan tidak berharap untuk mendapatkan perhatian." Aku memberitahukan kepadanya dengan puas dan tertawa lagi ketika dia terus memelototi aku.

Saat kami sampai pada puncak anak tangga apa yang ku asumsikan adalah kamar tidur utama, kami mendengar suara Melody dari bawah.

"Kau tidak akan percaya siapa yang sedang aku temani melihat rumah untuk saat ini! Kim Jongin! Aku tidak berbohong. Tidak, dia memakai kaos."

Aku tertawa lagi saat Jongin menggeram dan menarik aku ke kamar tidur utama. "Sudah kubilang."

"Aku akan melihat beberapa rumah," Gumamnya dan memandang ke seluruh ruangan besar, ruang kosong.

"Kupikir mulai sekarang kau harus memiliki asisten untuk menghubungi agen."

"Mungkin. Apakah kau menyukai ruangan ini?" Dia bertanya padaku.

"Ini besar." Aku berjalan ke jendela dan melihat keluar ke teluk, airnya memantulkan sinar matahari sore hari. "Pemandangan yang indah."

"Ya, aku menyukai pemandangannya juga."

"Lantai tidak membuat kakiku radang karena dingin, dan dindingnya berwarna mocha terang, yang hangat dan menyenangkan."

"Kau memakai sepatu," Dia mengingatkan aku dengan senyum.

"Lantai rumahmu di Malibu masih membuat kakiku meradang meski memakai sepatu."

"Gadis pintar," Dia menyeringai dan membuka pintu untuk melihat ke dalam lemari besar yang dilengkapi untuk tempat penyimpanan sepatu dan tas, dan bahkan sebuah rak di tengah berbentuk seperti pulau untuk meletakan aksesoris lainnya.

"Aku seperti baru saja meninggal dan pergi ke surga," Aku bernapas, merasakan mataku melotot dan detak jantungku meningkat. "Ini hanya... Oh Tuhan."

"Ya, Lemari." Jongin tertawa.

"Ini adalah rumahmu," Aku mengingatkan dia dan sadar tatapanku menjadi kosong. "Bukan milikku."

"Belum."

"Bukan miliku," Aku mengulangi dan menggelengkan kepala.

"Oke, katakan saja tempat ini untukmu menyimpan barang–barang milikmu ketika kau sedang menginap."

"Apakah kau mengejekku?"

"Ya. Mari kita lihat kamar mandi."

Kamar mandi ini bahkan lebih baik. "Aku bisa berenang di bak mandi itu," Gumamku dan berjalan melintasi ruangan. Kamar mandi berukuran Manhattan. Kami bisa menjadi tuan rumah pesta di sana. Penuh dengan konser.

Ya Tuhan, kami bisa melakukan seks di kamar mandi itu.

"Apakah kau baik-baik saja?" Jongin bertanya, suaranya sangat jelas lalu tertawa.

"Ya," Aku menjawab dan menjejakan tanganku di atas meja granit. Ada dua wastafel, kira-kira berjarak empat kaki, dengan meja dan beberapa laci di bawahnya. Aku berbalik dan bersandar pada granit, memandang Jongin di seberang ruangan. "Kurasa aku ingin menjilat tato bintangmu juga," Bisikku dan menatap dari atas ke bawah.

Matanya menatap padaku dan perlahan dia berjalan ke pintu, menutup dan menguncinya, kemudian berjalan ke arahku, menempelkan tangannya di kedua sisi pinggulku dan terdiam, wajahnya hanya beberapa inci dari wajahku.

"Kau tidak bisa menjilati apa pun sekarang."

"Benarkah?" Aku mengangkat alis dan menatap matanya saat mereka menjelajahi ke seluruh tubuhku.

"Tidak. Tetapi aku bisa," Dia mencengkeramku dan menaikkan aku ke meja sehingga kakiku menjuntai dan vaginaku berada di pinggir meja.

"Jongin, gadis itu di bawah sana." Dia bergerak diantara lututku dan condong lebih dekat, bibirnya menempel di pelipisku dan tangannya membuka celana jeansku.

"Aku tidak peduli. Itu tidak masalah bagiku meski seseorang dan JFK ada di bawah sana. Bahkan mereka tidak bisa menghentikan aku untuk menikmati dirimu sekarang. Angkat pantatmu."

Aku mematuhi dan dia melepas jeans dan celana dalam melewati pantatku dan kakiku dan membuang mereka ke lantai. Dia menangkup pinggulku dengan kuat dan mencium pipiku, turun ke titik spot di bawah telingaku, di sepanjang rahangku lalu ke bibirku.

"Aku bisa menciumnya saat kau sedang bergairah," Bisiknya di bibirku dan salah satu tangannya menjelajah di antara kakiku dan menemukan intiku. "Ya Tuhan, kau hangat dan sudah basah, Sayang."

"Lemari itu yang membuatku bergairah," Aku berbisik lalu mengerang ketika dia mendorong jarinya masuk ke dalam diriku.

"Kalau begitu aku akan lebih baik membeli rumah ini," Bisiknya sambil tersenyum.

"Hanya bercanda," Aku terengah.

"Apa yang membuatmu basah seperti ini?" Dia bertanya dan menggigit bibir bawahku, kemudian membelai dengan lidahnya.

"Kau."

"Ada apa denganku?"

"Memikirkan bagaimana menyenangkan kita bisa melakukan di kamar mandi itu." Napasku tercekat saat dia dengan lembut menggosok klitorisku dengan ibu jarinya.

"Mmm, ya, itu bisa menyenangkan," Dia setuju dan menciumku lembut, "Kyungsoo?"

"Ya." Oh, Tuhan, hanya dengan mendorong sedikit lebih keras. Hanya sedikit lebih keras. Aku menggerakkan pinggangku, mencoba untuk meningkatkan tekanan pada area sensitifku, aku begitu sialan.

"Aku akan menikmatimu di sini di meja ini."

Aku tidak menyangka bahwa aku bisa menjadi lebih bergairah, namun itulah yang terjadi.

"Kemudian aku akan membawamu pulang dan menenggelamkan milikku ke dalam dirimu."

"Kita harus pergi makan malam bersama seluruh keluarga," Aku mengingatkannya dan terkesiap saat dia mendorong jari lain untuk bergabung dengan jari sebelumnya.

"Kita masih punya waktu." Dia berjongkok, melebarkan kakiku, menarik keluar jarinya dariku dan menjilati diantara lipatanku ke klitoris hingga dua kali, membuat aku terkesiap, kemudian berhenti pada lipatanku, menarik mereka dengan mulutnya, menghisap dengan kuat hingga pipinya berlekuk. Dia menggosokkan hidungnya pada klitorisku dan pinggulku terangkat dari atas meja.

"Ini lebih mudah," Bisiknya dan menarikku kembali, matanya terpaku pada vaginaku. "Oh Tuhan, kau begitu cantik, sayangku."

Ototku berkontraksi karena kata-katanya dan dia menyeringai ke arahku sambil memasukkan kembali jari-jari berbakatnya ke dalam diriku, menemukan intiku dan menjepit klotorisku dengan bibirnya, menarik dan mengisap, mendorong dan menggigit, menggosok dengan logam sialan yang mengagumkan itu pada diriku, hingga aku datang di mulutnya, sepatu hakku menusuk ke punggungnya, gemetar dan mengangkat punggungku tinggi - tinggi dan menggigit bibirku sampai berdarah sehingga aku tidak berteriak.

Dia mencium dan menenangkanku, membelai pahaku dan berdiri untuk mencium bibirku. "Aku menyukai caraku menikmati dirimu," Gumamku.

"Aku juga." Dia tersenyum dan menciumku dengan sangat dalam, lalu berhenti, tangannya di pundak untuk menjagaku tetap stabil.

"Ya, ini menyenangkan." Aku melompat turun dari wastafel dan menarik celana jeansku ke atas.

"Tinggalkan celana dalammu. Kau tidak akan membutuhkan mereka."

"Kau yakin?"

Dia hanya mengangkat alis dan tersenyum lebar, "Kupikir aku akan membuktikan bahwa aku akan membawa dirimu kapan saja, di mana saja, Sunshine."

"Setuju."

.

OoooO

.

"Seberapa sering kalian semua melakukan makan malam bersama?" Jongin bertanya padaku saat kita sampai ke rumah Yifan dan Tao.

"Sebulan sekali," Aku mengangkat bahu.

"Begitu banyak orang dalam satu rumah." Dia terkekeh dan menggelengkan kepala.

"Ya, tapi di lain waktu kita tidak bertemu satu sama lain. Semua orang sibuk." Dia mengarahkan mobilnya ke belakang Mercedes SUV milik Sehun dan mengambil napas dalam-dalam. "Siap?" Tanyaku.

"Mudah-mudahan," Dia bergumam sambil membantuku keluar dari mobil. Dia meraih tanganku di dan berjalan menuju ke pintu.

"Kita tidak perlu mengetuk pintu saat acara makan malam keluarga. Tidak akan ada yang mendengar kita." Aku menyeringai dan membuka pintu masuk ke dalam suasana hiruk pikuk. Anak–anak berlarian, atau berjalan-jalan, berkeliling, orang dewasa tertawa dan berdebat dan ada yang sibuk di dapur.

"Hei!" Baekhyun berseru ketika dia melihat kami dan menarikku ke dalam pelukan, "Yifan seorang idiot dan dia memesan pizza."

"Semua orang suka pizza," Yifan cemberut padanya dari sofa lalu tersenyum ke arah kami. "Ada tiga puluh pizza di dapur bersama dengan bir, soda, dan aku rasa Taeyeong sedang mencampur minuman juga."

"Apakah orangtuaku di sini?" Tanyaku pada Baekhyun.

"Ya, semua orangtua, maksudku semua orangtua, termasuk orangtua Minseok, ada di lantai atas menikmati suasana tenang yang jauh dari kebisingan. Meskipun, mereka mengajak Ziyu bersama mereka, jadi mereka menikmati kekacauan mereka sendiri secara khusus."

"Ya, kami paham." Jongin mengangguk dan membuka kotak pizza di meja dapur. "Dia manis, tetapi sulit diatur." Dia mengambil sepotong pizza pepperoni lalu membuka tutup botol bir dan berjalan ke ruang tamu untuk duduk dengan Tao dan mengobrol.

"Itu anakku yang sedang kau bicarakan." Sehun memberitahu kita dan memeluku, "Bagaimana kabarmu?" Dia berbisik di telingaku.

Aku mengangguk dengan wajah gembira ke arahnya dan mata bulatnya menjadi lembut. "Bagus." Dia mengambil bir untuk dirinya sendiri dan mengikuti Jongin ke ruang tamu, mengangkat Luhan untuk duduk di pangkuannya dan mencium rambutnya.

"Apa yang ingin kau minum?" Taeyeong bertanya padaku dari seberang meja dapur.

"Apa yang kau punya, bartender tampan?" Tanyaku sambil menaiki bangku bar.

"Cukup banyak, apa pun yang kau inginkan. Aku menyerbu kabinet minuman keras milik Yifan."

"Aku mendengarnya!" Yifan berteriak dari ruang tamu.

"Aku tidak peduli!" Taeyeong berteriak kembali. "Jadi, apa yang kau inginkan?"

"Apakah kau punya zaitun?" Tanyaku sambil menyeringai.

"Eh, tidak." Dia menggelengkan kepalanya dan tertawa.

"Sialan. Oke, aku akan membuat fuzzy navel." Taeyeong mulai bekerja.

"Di mana Minseok dan anak-anaknya?"

"Aku tidak tahu. Sebelumnya Jongdae mengatakan bahwa dia mengajak mereka ke suatu tempat untuk akhir pekan ini, jadi mereka tidak akan berada di sini."

"Misterius," Aku menggoyangkan alis. "Bagaimana kau bisa melakukan pekerjaan bartender?"

"Mungkin juga karena aku bukan peminum." Dia mengangkat bahu dan menuangkan jus jeruk diatas schnapps peach dan es, lalu memberikannya padaku, "Pizza?"

"Aku akan mengambilnya nanti," Aku menyesap minuman dan tersenyum karena kagum. "Ini benar-benar enak."

"Jangan terkejut. Aku menjadi bartender saat masih di perguruan tinggi."

"Orang serba bisa," Aku menggodanya sambil menyeringai.

"Hei, teman! Kapan kau di sini?" Yixing muncul di sampingku dan menatap pada minumanku, menginginkannya dan kemudian memandang Taeyeong yang sedang tertawa.

"Kau mau?"

"Ya," Dia tersenyum lebar lalu mengedipkan mata.

"Jongin dan aku di sini beberapa menit yang lalu. Di mana Joonmyeon?"

"Dia bermain x-box dengan Chanyeol dan Taeyong. Menendang pantat Chanyeol." Dia menyeringai dan mengambil kotak besar yang penuh dengan pizza, menyelipkan 2 botol bir di bawah lengannya, mengangkat kotak dan mengambil minuman dari Taeyeong lalu berjalan kembali ke ruang permainan.

"Apakah kau perlu bantuan?" Tanyaku.

"Tidak, aku seorang ibu. Ini bukan apa-apa." Dia mengedipkan mata.

Aku bersandar pada meja dan mengamati keluarga di sekitarku. Taeyeong menggelap meja, tenggelam dalam pikirannya. Aku bisa mendengar Chanyeol dan Joonmyeon berteriak satu sama lain di ruangan lain, dan Baekhyun dan Yixing tertawa. Jongin dan Tao saling mencondongkan kepala, merencanakan sesuatu. Yifan, Sehun dan Luhan terlibat percakapan yang serius.

"Kami perlu mencarikan pacar untukmu." Aku berkata pada Taeyeong yang berhenti dan mengerutkan kening padaku.

"Kenapa?"

"Kau belum punya pacar," Aku tertawa karena dia cemberut, "Kau bukan seorang gay."

Dia mendongkakan kepalanya ke belakang dan tertawa, Tangannya mendorong rambut hitamnya yang gelap dan tersenyum padaku. "Tidak, aku bukan gay."

"Jadi, kalau begitu?"

"Aku punya selera tertentu," Bisiknya.

"Aku tahu."

Matanya menatap padaku, "Kau tahu?"

Aku mengangkat alis padanya, bibirku setengah tersenyum dan dia mendesah lalu mengangguk.

"Kau sangat jeli."

Aku tersenyum manis dan menyesap minumanku, menunggunya untuk bicara.

"Ini akan segera terjadi," Akhirnya dia mengakui, "Namun aku merasa dia tidak mudah untuk dimiliki."

"Dia akan menghargainya." Aku meyakinkan dia dan menepuk bahunya yang lebar.

"Ada apa antara kau dan Jongin?" Dia bertanya dengan tenang.

Mataku beralih pada pria di ruang tamu yang masih terlibat percakapan serius dengan Tao. Aku selalu memperhatikan dia, apa yang dia lakukan dan di mana dia. Aku tidak bisa menahan hal itu.

"Aku berjalan dan jatuh cinta padanya." Aku menyeringai dan melirik kembali pada Taeyeong yang telah duduk di sebelahku. "Apa pendapatmu tentang dia?"

"Aku menyukainya." Dia mengangguk. "Aku melihat dia jatuh cinta juga denganmu." Ia memberi isyarat, dan aku menoleh, menemukan Jongin mengawasi kami. Aku mengedipkan mata padanya dan dia tersenyum lembut lalu kembali pada percakapannya.

"Itu terdengar menjijikan." Aku memilih sepotong pizza lalu mengambilnya. "Namun itu juga menyenangkan. Kami akan melihat bagaimana kelanjutannya."

"Kau bukan tipe sentimentil, kan?" Taeyeong bertanya sambil tertawa kecil.

"Tidak juga." Aku mengangkat bahu, lalu menyadari bahwa aku berbohong. Aku menyukai hal-hal yang sentimentil saat dengan Jongin.

"Aku mengerti." Dia mengangguk.

"Kau juga bukan salah satunya," Aku mengingatkan dia.

"Ada waktu dan tempat saatnya untuk romantis," Dia membantah, "Tetapi aku memutuskan kapan dan di mana itu."

"Ya, Tuhan, kau suka memerintah."

Dia menertawakanku lalu mendentingkan gelasnya dengan gelasku dengan gembira.

"Uh, Kyungsoo?" Yixing berjalan masuk ruangan, telepon di tangannya dan dia mengerutkan kening ke layar handphone.

"Ya?"

"Apakah kau sudah melihat ini?"

"Apa?" Tanyaku lalu dia menyerahkan teleponnya kepadaku. Taeyeong mendekat ke pundakku untuk melihat dan dia mengumpat dengan pelan dan duniaku seakan berhenti bergerak.

Ini adalah foto pada halaman gosip online Jongin dan aku dari pemotretan minggu lalu di LA, foto Lori telah dipotong dari foto tersebut.

Tentu saja.

Judul di bawahnya adalah: Kim Jongin dengan pacar barunya, kakak dari aktor/produser Oh Sehun.

Tidak ada namaku.

"Ada apa ?" Aku mendengar Jongin bertanya, suaranya terdengar jelas, dan aku merasa pipiku menjadi panas karena marah, malu dan pengkhianatan.

"Brengsek."

.

OoooO

.

Jongin POV

Wajah Kyungsoo telah berubah merah saat ia menatap ke arah layar telepon Yixing dengan tatapan kosong, tangannya gemetar dan Taeyeong memelototi telepon itu seolah-olah ingin menghancurkannya.

"Apa yang salah?" Tanyaku sambil mendekati dia. Dia menghidupkan layar kembali dan menyodorkan padaku.

"Foto ini yang salah."

Foto itu berasal dari minggu lalu di LA, tepatnya foto Kyungsoo yang telah dia katakan dia tidak ingin ada publikasi.

Melissa akan kehilangan pekerjaannya.

"Apa-apaan ini, Jongin?"

"Apa yang terjadi?" Tanya Sehun saat bergabung dengan kami.

"Sebuah foto telah beredar," Gumamku dan menyodorkannya kepadanya. Dia cemberut saat menatap layar telepon dan kembali menatap ke Kyungsoo.

"Kyungsoo, ini bukanlah hal baru. Kau berada di L.A. dengan Jongin. Apa yang kau harapkan akan terjadi."

"Secara khusus aku sudah memberitahu kepada bagian humas yang brengsek itu bahwa dia tidak memiliki izin untuk mengambil fotoku."

Mata Sehun seakan tidak percaya padaku, wajahnya tegang dan matanya menyipit.

"Hei, bung, aku mendukung dia. Aku akan memecat si jalang yang telah menyebarkannya."

"Apakah kau akan memecat semua orang yang menyebarkan semua omong kosong?" jawab Sehun lalu menyerahkan ponsel Yixing kembali padanya. "Kyungsoo telah bekerja keras untuk tidak terlibat di dalam tabloid."

"Aku tahu." Aku berdiri tegak dan menyilangkan tangan di depan dada.

"Aku sudah bilang," Jari Sehun menunjuk ke wajahku, "Aku katakan bahwa hal ini akan terjadi. Ini," Ia menunjuk ke telepon, "Mengapa aku memperingatkanmu untuk tetap pergi menjauh!"

"Jangan bicara seperti itu padanya!" Tao melangkah di antara Sehun dan aku, mata cokelatnya memelototi Sehun, "Dia sudah mengatakan ia mendukung Kyungsoo."

"Jangan ikut campur hal ini," Sehun bergumam pada Tao tetapi dia tidak bergeming.

"Aku tidak akan pergi. Masalah sialan ini sudah terjadi. Kau harus tahu itu. Sial dia sudah tahu itu. Dia bekerja untuk sebuah majalah." jawab Tao sambil bertolak pinggang, dan aku ingin mengatakan padanya untuk mundur, tapi aku tahu itu akan sia-sia.

Dia dalam mode sebagai adik yang akan selalu membela.

"Tao," Aku memulai tetapi dia mengangkat tangannya kepadaku untuk berhenti berbicara dan alisku terangkat karena terkejut. Taeyeong menyeringai padanya. Joonmyeon, Chanyeol dan yang lainnya keluar dari ruang permainan untuk melihat keributan apa yang sedang terjadi.

"Dia telah menempatkan kakakku di posisi yang bahkan dia tidak pernah mengerti." Dia menunjuk ke arahku dengan jarinya lagi, suaranya meninggi saat Taeyong bergerak ke sampingnya.

"Bagaimana kau bisa mengatakan bahwa dia tidak mengerti?" Tao berteriak, "Dia hidup di dunia sialan itu setiap hari! Kau tidak lebih terkenal dibandingkan dia, kau tahu itu. Jika ada sesuatu, dia sudah banyak tenggelam di dalamnya."

"Ini bukan tentang siapa yang lebih terkenal," Potong Sehun.

"Jongin tidak akan menyakiti Kyungsoo."

"Dia tidak cukup baik untuk kakakku!" Seru Sehun dan keringat dingin mengalir di wajahku.

Dia benar. Aku tidak cukup baik.

Tapi aku akan terkutuk jika aku membiarkan dia pergi.

"Sehun," Kyungsoo menyela dengan lembut tetapi dia menggelengkan kepala.

"Tidak, kau mengatakan kepadanya kau tidak ingin publisitas semacam ini, dan apa yang terjadi? Omong kosong itu," Ia menunjuk ke telepon Yixing. "Ini omong kosong," Dia menoleh padaku. "Kau seharusnya melindungi dia, bukan mengumpankan dia ke serigala sialan! Kau sudah berjanji!"

"Apakah kau bercanda denganku?" Aku memegang bahu Tao dan memindahkannya ke sisi Yifan, yakin bahwa Yifan akan menjaganya. "Kau pikir aku tidak tahu apa itu ketenaran, ketenaramu telah menghancurkan kakakmu?"

"Jongin." Suara Kyungsoo penuh peringatan, tapi aku mengabaikannya. Aku sudah muak dengan omong kosong ini.

"Ketenaranmu, semua ketenaran kalian," Aku menunjuk ke Yifan dan kembali ke Sehun, jantungku berdebar, "Kyungsoo kehilangan pekerjaannya. Dia sudah menganggur selama lebih dari sebulan karena dia tidak mau menjual keluarganya."

Rahang Sehun mengeras dan matanya menatap ke arah Kyungsoo, yang sudah berlinang dengan air mata. "Apakah ini benar?"

"Persetan," bisiknya dan menggelengkan kepala. "Aku keluar dari sini." Dia mendorong orang–orang yang berada di sekitar kami untuk keluar dan membanting pintu depan, Luhan mengikuti dari belakang.

"Apa yang kau bicarakan?" Taeyong bertanya, tangannya di pinggul.

"Atasannya menginginkan dia menulis cerita tentang Sehun dan Luhan tahun lalu setelah pernikahan mereka. Dia menolak."

"Tapi kau baru saja mengatakan dia sudah menganggur selama satu bulan. Kami sudah menikah selama lebih dari setahun."

"Aku belum selesai," Aku mengusap rambutku dengan tanganku, "Sekitar sebulan lalu, bajingan itu mengomeli dia lagi karena tidak mengatakan kepadanya bahwa ia memiliki hubungan dengan keluarga Kim. Terutama, Kim Yifan."

"Bajingan," Yifan berbisik, "Aku akan melakukan wawancara untuknya."

"Dia tidak akan melakukan juga untukmu, bung. Dia mencintaimu. Mencintai kalian semua." Aku melihat ke sekeliling ruangan, ke keluarga Kyungsoo. Baekhyun dengan mata berlinang, mulut para pria yang mengepal, tangan yang terkepal.

"Dia tidak akan pernah menempatkan keluarganya di majalah apapun, terutama mengetahui seberapa keras pribadi kalian semua."

Jika saja Kyungsoo menceritakan kepada mereka lebih cepat, mereka akan berjuang untuknya.

"Jadi, mereka memecat Kyungsoo karena mereka berpikir dia bukan team yang baik karena tidak mau menjual keluarganya. Dia pergi ke L.A. untuk wawancara kerja."

"Dia tidak akan pindah ke LA." Ayah Kyungsoo menyatakan pendapatnya dari atas tangga. Para orang tua telah keluar untuk ikut mendengarkan.

"Tidak, dia tidak melakukannya." Aku mengklarifikasi dan menggelengkan kepalaku, "Dia memiliki wawancara minggu ini di sini."

"Kenapa dia tidak pernah bercerita apapun?" Tanya Sehun.

"Itulah Kyungsoo yang sedang kita bicarakan," Aku mengingatkannya sambil tertawa sedih. "Dia keras kepala sekali. Dia juga tidak ingin orang merasa khawatir." Aku kembali memandang wajah Sehun.

"Jadi, jika kau pikir aku akan membiarkan sebuah tabloid picisan memuat sesuatu seperti itu." Aku menunjuk telepon yang dicengkeram erat oleh Yixing, "Kau sangat keliru. Si jalang itu akan dipecat. Aku sudah tahu tentang Scott." Kalimat terakhir aku bisikkan hanya di telinga Sehun dan Taeyong saja.

Sehun tampak terkejut, lalu menatapku dan kemudian ia mendesah sangat dalam, "Brengsek."

.

OoooO

.

Kyungsoo POV

Apa yang baru saja terjadi? Aku berlari keluar melalui pintu depan menuju ke mobil Jongin dan menyadari bahwa aku tidak akan bisa mengemudikannya, karena aku tidak memiliki kunci.

Aku tidak bisa pergi.

Sialan!

"Kyungsoo." Terdengar suara lembut Luhan di belakangku dan aku membalikkan badan menemukan dia berdiri di teras, mata hijaunya terlihat khawatir dan basah.

"Kembalilah ke dalam, Luhan," Aku hanya ingin sendirian. Tuhan, hatiku sakit. Dia mengatakan hal itu kepada mereka.

Dia mengatakan kepada mereka meski aku sudah memperingatkannya. Dan demi Tuhan, ada apa dengan foto itu?

"Kyungsoo, berbicaralah denganku," Luhan bersikeras berjalan ke arahku, lengannya memeluk erat pinggangnya.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan," Aku bertolak pinggang dan memandang ke arah jalan masuk.

"Ceritakan itu, Oh." Suara Luhan terdengar keras. Aku melirik ke wajah cantik adik iparku, sangat bersyukur bisa memiliki dia.

"Aku sudah mengatakan kepada Jongin untuk tidak memberitahu keluarga tentang pekerjaanku," Akhirnya aku mengatakannya.

"Kenapa?" Dia bertanya dengan kening berkerut, "Kami akan membantumu."

"Itu alasannya," Aku menendang batu di trotoar, "Sehun akan mencoba untuk memperbaikinya, atau melunasi hipotekku, atau hal yang bodoh lainnya."

"Aku cukup yakin hipotekmu akan dibayar besok sore," Luhan setuju sambil tersenyum.

"Dia lebih baik tidak melakukan hal itu," Aku memperingatkannya, dan kemudian merasakan air mata mulai jatuh dari mataku, dan membuatku kesal lagi. "Sialan."

"Kau tahu, kami semua mencintaimu," Luhan tersenyum ketika aku mulai menangis lebih keras. Brengsek.

"Kau menjauhkan diri dari kami, dari semua orang, tetapi kami sangat mencintaimu. Saudaramu akan melakukan apa pun untukmu."

"Aku tahu," Bisikku.

"Aku merasa Jongin pun merasakan hal yang sama."

Aku menggelengkan kepala tetapi dia hanya tertawa padaku.

"Kyungsoo, apakah kau melihat wajahnya ketika dia melihat foto itu?"

Tidak, aku menggelengkan kepala.

"Itu menghancurkan dirinya. Dia akan meluruskannya," Dia mengatakan dengan penuh keyakinan dan tersenyum lembut.

"Mengapa kau begitu baik padaku?" Aku bertanya padanya, "Aku bersikap buruk denganmu."

"Karena aku tahu mengapa kau seperti itu, dan aku mencintaimu karena kau ingin melindungi suamiku."

Aku menggelengkan kepala dan menyeka air mata di pipiku.

"Apakah kau menangis karena foto itu?" Dia bertanya dengan lembut.

"Tidak." Aku menggelengkan kepala dan mengusap hidungku menggunakan punggung tanganku, "Aku merasa dikhianati oleh bajingan bertato, dan merasa malu karena setiap orang mendengar bahwa aku telah kehilangan pekerjaanku."

Luhan mengangguk kemudian mengerutkan kening, "Kau akan mendapatkan pekerjaan lain, kau tahu itu."

Aku mengangkat bahu. "Mereka tidak mengetuk pintuku."

"Kau akan mendapatkannya. Apa yang Jongin katakan?"

"Dia pindah ke sini supaya lebih dekat dengan Tao dan band miliknya akan merekam album berikutnya di sini."

"Bukan itu yang aku maksudkan dan kau tahu itu," Dia menyipitkan matanya padaku, membuatku tertawa.

"Ya Tuhan, kau seperti wanita materialistis," Aku mencaci maki padanya sambil tertawa. Dia terkekeh dan menganggukkan kepala.

"Ya, jangan bilang Sehun. Dia pikir aku mencintainya karena ketampanannya."

Aku menyeka sisa air mata dari pipiku dan mendesah. "Jongin mengatakan dia akan menjagaku."

"Aku berani bertaruh bahwa kau marah karena hal itu juga," Dia mengamati dengan baik.

"Ya, memang. Aku tidak membutuhkan dia untuk menjagaku."

"Tidak," Dia setuju sambil tersenyum.

"Apakah para pria selalu berpikir bahwa mereka bisa mengurus segalanya? Aku bukan gadis dalam kesulitan. Aku punya semua omong kosong itu."

"Aku memahamimu," Dia mengangkat bahu. "Tetapi ini sangat baik untuk didengar bahwa kau tidak harus melakukan semuanya sendiri. Aku suka bahwa Sehun berada di belakangku."

"Aku pikir dia lebih suka di bagian depan dirimu," Aku menyeringai.

"Tidak, dia mencintai pantatku," Dia tertawa.

"Kau memiliki pantat yang indah." Aku memberitahunya kemudian aku mengerutkan kening. "Aku masih benar-benar marah padanya. Dia seharusnya tidak mengatakan kepada keluarga."

"Tidak, itu hakmu untuk memberitahukan." Luhan merangkul pundakku. "Aku minta maaf kau sudah terluka."

Pintu depan terbuka dan aku berharap untuk melihat Sehun, atau orang tuaku, keluar, tetapi itu Jongin, berjalan cepat, wajahnya cemberut.

"Masuk ke dalam mobil."

"Maaf?"

"Sampai bertemu lagi," bisik Luhan dan mencium pipiku sebelum dia kembali ke dalam rumah.

"Kau dengar aku."

"Aku tidak akan pergi denganmu," Aku tidak bergerak, menyilangkan lenganku di dada dan menatap dengan marah padanya.

"Tidak bisa. Masuk!"

"Tidak!"

Dia berhenti dan berbalik kepadaku, matanya terlihat sangat marah dari yang pernah aku lihat. Dia menatap wajahku, suaranya rendah dan tenang. "Masuk ke mobil sialan itu sebelum aku sendiri yang akan menempatkanmu di sana."

"Jongin..."

"Masuk ke mobil sialan!"

Ya Tuhan, dia sangat marah.

.

OoooO

.

Jongin POV

"Sialan, kau membuatku marah," Gumamku dan memegang kemudi dengan erat, menikmati suara gemuruh mesin saat aku menginjak gas dan menerobos jalan keluar dari rumah Yifan.

"Kau akan membunuh kita berdua," Dia bergumam dan melotot ke arahku.

"Tidak, jika aku memutuskan untuk membunuhmu, aku akan mencekikmu." Dia memiliki keberanian untuk tertawa.

"Apa kau pikir ini pertama kalinya aku diancam akan dicekik?"

"Tidak, Sayang, aku yakin itu sering kau alami. Kau sangat keras kepala."

Dia melotot lagi lalu melihat ke luar jendela.

Aku sangat marah dengannya, aku tidak berani menyentuhnya. Aku marah pada begitu banyak hal, aku bahkan tidak tahu dari mana hal itu dimulai dan bagaimana menggali sampai habis hingga ke akarnya.

Aku tahu bahwa aku belum pernah marah seperti ini sejak aku berusia enam belas tahun.

"Jongin," Dia memulai, tapi aku memotongnya.

"Berhenti bicara."

Dia terkejut, menatap ke arahku, dan aku memelototinya, marah besar.

"Kau benar-benar marah," Bisiknya dan kembali duduk tenang sementara aku mengemudikan mobil ke pusat kota Seattle menuju tempat tinggalnya. Aku parkir, dan menetralkan posisi gigi mobil, sehingga pintu tidak terkunci dan dia bisa keluar.

"Aku akan bicara nanti."

"Kau tidak masuk?" Dia bertanya, dengan rasa heran.

"Tidak."

"Jongin, masuklah dan bicara padaku." Aku melirik padanya, dan matanya terlihat takut, dan sebagian dari diriku melunak. Dia khawatir aku tidak akan kembali.

"Baik." Aku mematikan kunci kontak, memutar melewati kap mobil dan menariknya keluar dari tempat duduknya, berjalan dengan cepat ke dalam gedung lalu menekan tombol lift. Ketika pintu lift tertutup, dia mencoba untuk berbicara, tetapi aku memotongnya.

"Tidak, kau ingin aku bicara, baik, aku akan bicara. Ketika kita sudah masuk ke tempatmu."

Ia mengernyit ke arahku, seakan ingin berdebat, namun dia menutup bibirnya dan wajahnya menatap lurus ke depan. Ketika sampai di lantai apartemennya, aku menghentakan kaki di depan pintu saat menunggu dia untuk membuka pintu lalu berjalan masuk ke dalam.

"Duduk."

"Tidak, aku bukan seekor anjing terkutuk, Jongin. Jika kau marah, bicaralah. Jika kau hanya akan menjadi seorang bajingan, pulanglah. Aku muak kau membentakku."

"Membentakmu?" Aku berjalan memutari dirinya, kemarahanku meningkat lagi, "Membentakmu. Aku benar-benar terjebak pada dirimu, Kyungsoo."

"Tidak, saudara-saudaraku yang melakukan itu," Dia menjawab, matanya terbakar. "Kau mengkhianatiku."

Aku tersandung mundur, seolah-olah secara fisik dia memukulku.

"Kau tahu, sebagai seorang wanita yang cerdas, kau menjadi luar biasa bodoh." Matanya menyorot padaku tetapi aku memelototinya, menguncinya. "Kau ingin membicara hal ini? Baik, aku akan bicara, dan kau akan mendengarkan setiap kalimat sialan yang kukatakan."

.

OoooO

.

Kyungsoo POV

Jika dia bersumpah serapah padaku seperti itu sekali lagi, aku bersumpah demi Tuhan aku akan mengusir dia keluar.

"Siapa yang kau pikirkan jika kau harus memperlakukan keluargamu seperti itu?" Dia bertolak pinggang dan menatapku dengan tajam. "Kau memiliki keluarga yang memujamu. Saudaramu akan melakukan apapun untukmu. Ya Tuhan, Kyungsoo, bahkan keluarga Kim akan membunuh demi dirimu."

Dia menghentakkan kakinya, berjalan mondar-mandir di ruang tamuku, wajahnya tegang karena marah.

"Apa kau tahu apa yang akan kulakukan ketika aku mulai tumbuh dewasa?" Dia berbalik menghadap kepadaku dan aku merasakan darah mengalir dari kepalaku. "Aku akan merangkak melalui api untuk dapat memiliki keluarga besar yang mencintaiku. Untuk memiliki saudara kandung, yang berjuang denganku dan membelanya ketika orang lain mencoba untuk bercinta dengan mereka. Tetapi apakah kau tahu apa yang aku dapatkan?"

Oh, Tuhan, aku tidak tahu apakah aku ingin tahu hal ini. Dia berjalan mondar-mandir lagi, menerawang jauh, dan aku menyadari bahwa dia tidak terlalu marah terhadapku.

Dia hanya marah.

"Orangtuaku meninggal ketika aku berusia dua belas tahun, dan mereka tidak memiliki saudara kandung, sehingga tidak ada orang yang mengurusiku. Sebaliknya aku dilemparkan ke panti asuhan. Tempat pertama tidak terlalu buruk, tetapi mereka tidak bisa membuatku betah, jadi aku terus berpindah-pindah, dari rumah ke rumah, sampai aku berumur sekitar enam belas. Sebagian besar dari rumah-rumah itu baik-baik saja. Beberapa ayah suka memukul, dimana aku belajar untuk menyelesaikan masalah." Dia mengangkat bahu dan berjalan ke jendela untuk melihat keluar ke jalanan yang sibuk.

"Apa yang terjadi ketika kau berumur enam belas?" Bisikku, perutku bergolak karena marah dan rasa sakit dan merasa ngeri.

"Suatu malam aku terbangun." Suaranya terdengar sangat pelan, aku nyaris tidak bisa mendengarnya, jadi aku diam-diam lebih mendekat beberapa inchi. "Dan seorang pria dimana yang aku tinggal dengannya sudah berada di atas tubuhku, mencoba untuk melepas celana dalamku."

Bajingan.

"Aku seorang anak yang berbadan tinggi, meski aku baru berumur enam belas tahun, aku juga kuat, dan aku berjuang menyingkirkan keparat bertubuh gendut dariku. Mencederai matanya." Dia menempelkan dahinya di kaca jendela, tenggelam ke dalam kenangan yang mengerikan yang ada di kepalanya.

"Aku terbangun seperti itu, hampir setiap malam selama seminggu. Dia tidak akan menyerah. Hal itu sampai membuatku melawan keinginan untuk tidur, melakukan sekuat tenaga untuk tetap terjaga dan tidur saat di kelas pada siang hari, tetapi aku tak terelakan pasti akan jatuh tertidur."

Dia mengambil napas dalam-dalam dan menutup matanya. "Kemudian mereka membawa anak-anak lain, beberapa tahun lebih muda dariku, bernama Tom. Dia lebih lemah dariku. Dia memiliki tempat tidur di sampingku."

"Oh, Tuhan," bisikku, aku menutupi mulutku dengan tangan.

"Ya, dia tidak beruntung," bisiknya. "Tapi lebih buruk lagi, Tao datang."

"Jangan bilang padaku..."

"Tidak, bajingan itu lebih menyukai anak laki-laki, tetapi aku membuatnya menjadi misi dalam hidupku untuk melindungi dia dan memastikan tidak ada seorangpun yang akan menyentuhnya seperti itu."

Dia menoleh padaku, emosi di wajahnya secara perlahan mulai hilang. Tangannya mengepalkan di sisi tubuhnya, dan setiap otot di tubuhnya ikut mengepal. "Itulah yang disebut keluarga, Kyungsoo. Mereka saling melindungi. Bukannya kau memberikan kesempatan saudaramu, orangtuamu, temanmu untuk membantumu, kau menutup diri dari mereka."

"Aku tidak butuh bantuan mereka," Aku menjawab tetapi wajahnya terlihat menjadi marah lagi dan aku merasa ngeri, "Bukan itu maksudku. Aku tidak ingin mereka merasa memiliki kewajiban untuk membantuku."

"Mereka tidak merasa itu sesuatu yang wajib. Mereka merasa memiliki kasih sayang!"

"Aku tidak layak mendapatkannya!" Aku berteriak kepadanya, "Aku tidak pernah melakukan apapun yang layak untuk keluarga ini, dengan semuanya yang luar biasa, orang-orang yang menarik."

"Apa yang kau bicarakan?" Dia bertanya, wajahnya terlihat bingung.

"Aku bukan orang yang istimewa. Aku tidak punya bakat yang luar biasa, aku tidak membuat banyak uang, aku bahkan bukan orang yang sangat baik. Satu-satunya hal yang kumiliki adalah anggota keluarga yang terkenal." Aku menggelengkan kepala dan berjalan melintasi ruangan, membelakanginya. "Apa kau tahu bahwa selain keluargaku dan mereka yang berkaitan denganku karena perkawinan, aku tidak memiliki satu orangpun yang kuanggap temanku? Tidak satupun. Dan itu bukan suatu kebetulan." Aku berbalik menghadapinya. Dia menatapku seolah-olah aku sudah gila.

Dia mungkin benar.

"Kenapa?" Dia bertanya.

"Karena seseorang selalu menginginkan sesuatu dariku, Jongin. Di SMA, mereka ingin mendekati Sehun atau Taeyong, sehingga mereka berpura-pura menjadi temanku sehingga mereka bisa nongkrong di rumah kami dan untuk mencoba mendapatkan pandangan sekilas dari mereka. Ketika Sehun menjadi terkenal, hal itu seribu kali lebih intensif. Sejuta malah." Aku tertawa sedih, "Akhirnya aku menjadi lebih cermat dan menghindar dari hal itu, menemukan karir yang kusuka dan cocok, dan bahkan yang akhirnya mengacaukanku."

Kedua tanganku menjepit kepalaku, mengusap dahi dengan ujung jariku. "Aku belajar mandiri dalam waktu yang lama, dan tidak bergantung pada orang lain untuk menjaga diriku. Ketenaran akan cepat berlalu dan jujur saja… itu hanya sebuah kebohongan." Aku menatap ke matanya lalu aku mengangkat bahu. "Menjadi terkenal tidak membuat orang bahagia. Itu hanya... menakutkan."

"Kyungsoo, kau pantas bagi keluargamu. Mereka mencintaimu."

"Ya, mereka mencintaiku," Aku mengangguk dan kemudian menggelengkan kepalaku, "Dan aku mencintai mereka lebih dari apa pun. Namun aku tidak ingin melibatkan mereka ketika hidupku berantakan. Aku sudah berumur tiga puluhan, demi Tuhan, Jongin, aku harus mengatasinya sendiri."

"Aku perhatikan kau tidak memiliki persamaan denganku," Gumamnya dan memasukkan tangannya di saku.

"Aku tidak membutuhkanmu untuk memperbaiki apapun," Kataku tegas.

"Tidak, kau tidak membutuhkanku untuk memperbaiki apapun, tetapi mendukungmu dan berada di sana untukmu saat sedang sulit."

"Aku tidak butuh ketenaranmu," Gumamku dan membelakanginya lagi,berjalan mondar-mandir melintasi ruang tamuku yang kecil.

"Apa yang kau butuhkan?" Dia bertanya, suaranya serak karena frustrasi, tetapi aku tidak menjawab. Aku hanya terus mondar-mandir.

"Aku tidak butuh uangmu." Gumamku lagi dan mengusap rambutku dengan tangan.

"Oke." Sekarang dia berdiri tepat di belakangku, dan aku bisa merasakan gelombang frustrasi meluncur darinya, lalu dia menempatkan tangannya dengan lembut di pundakku dan sentuhannya adalah kehancuranku. "Apa yang kau butuhkan, Sunshine?"

"Kau!" Aku membalikan badan dan melingkarkan lenganku di pinggangnya, menempelkan wajahku ke dadanya sehingga aku tidak perlu menatap matanya dan membiarkan air mata datang mengalir. "Aku hanya butuh dirimu," Bisikku.

"Kyungsoo," bisiknya dan membungkusku dengan kehangatan, lengannya yang kuat di bahuku, memelukku erat. "Kau memilikiku, Sayang."

"Ini membuatku kesal." Aku menempelkan dahiku ke dadanya. "Aku tidak suka dengan perasaan ini. Di dalam mobil, aku pikir kau hanya mengantarku dan tidak akan kembali, dan itu membunuhku. Aku tidak ingin tergantung padamu."

"Hei." Dia mengangkat daguku agar aku melihat matanya. "Kau membuatku begitu marah, aku hanya tidak tahu bahwa aku bisa berbicara denganmu tanpa ingin mencekikmu. Kyungsoo, kau harus menghilangkan pemikiran bahwa kau tidak layak. Keluargamu memujamu, dan kau melakukan hal yang sama. Kau harus mempercayai mereka."

"Aku tahu." Aku menatap ke mulut dan kerutan di dahinya.

"Dan satu hal lagi." Dia mencium keningku. "Kau adalah orang yang baik, suka atau tidak. Kau adalah seorang wanita yang paling menakjubkan yang pernah kutemui. Jika kau terus berbicara omong kosong tentang dirimu, aku akan menghukummu."

"Tidak ada lagi dilempar ke dalam kolam." Aku tersenyum.

"Aku minta maaf jika kau merasa aku telah mengkhianatimu." Wajahnya terlihat tenang, matanya tampak sedih. "Itu hal terakhir yang pernah kulakukan."

"Aku tahu, tapi aku bilang..."

"Kau tahu, satu hal lagi yang harus kau pelajari tentang aku," Ia mencium keningku dengan lembut, "Apakah aku akan selalu memiliki tempat di hatimu. Keluargamu berhak untuk tahu."

"Dan aku seharusnya memberitahu mereka." Aku berdiri tegak. "Aku membutuhkanmu di sampingku, tidak melawan pertempuran untukku."

Senyuman terlihat di wajahnya dan ia menangkup wajahku dengan tangannya sebelum menurunkan bibirnya ke bibirku. "Baiklah. Selama aku masih berada di dalamnya."

"Jongin, kau masa depanku."

Dia terdiam, matanya menatapku, kemudian dia menciumku, mula-mula dengan lembut, dan kemudian semakin bergairah. Dia membungkuk dan mengangkatku ke dalam pelukannya dan membawaku ke kamar tidurku.

"Aku harus membuatmu telanjang dan menenggelamkan diri ke dalam dirimu. Apakah kau setuju?" Dia bertanya, sorot matanya lembut.

"Ya, setuju." Aku melepas kaosnya melalui atas kepalanya saat ia menurunkanku dari gendongan. Kami dengan cepat saling menanggalkan pakaian satu sama lain dan jatuh ke tempat tidur. Jongin berada di atasku, kakinya berada di antara kakiku, dan menelusuri wajahku dengan ujung jarinya.

"Aku mencintaimu, Oh Kyungsoo. Setiap hari, aku mencintaimu." Mulutnya melumat bibirku sebelum aku bisa menjawab, dan ia menciumku dengan semangat, menggosokkan bibirnya ke atas bibirku, membiarkanku menggigitnya dan menarik tindikannya, ibu jarinya mengusap-usap pipiku.

Miliknya yang keras menekan pinggulku, tetapi ketika aku mencoba untuk mengapai miliknya bawah, dia menangkap tanganku dan mencium jemari. "Belum," Bisiknya.

"Apa yang salah?"

"Kita memiliki malam yang panjang. Ini bukan seks kilat, Sunshine." Dia mengecup sudut bibirku lalu turun ke garis rahangku. "Aku tidak bercanda ketika aku mengatakan aku akan tenggelam ke dalam dirimu . Aku akan bercinta denganmu, Sayang."

"Aku tidak tahu..."

"Ya, kau tahu." Dia menyela, dan matanya menatapku, dan menciumku lagi. "Kau sudah tahu."

Aku meluncurkan jemariku dari sisi tubuhnya ke pantatnya dan tanganku mengepalkan ketika dia membelai putingku dengan ujung jarinya, membuat kulit sensitifku mengencang.

"Aku menyukai payudaraku," bisiknya dan memasukan putingku ke dalam mulutnya, mengulum dengan lembut. "Sangat responsif."

"Aku suka mulutmu." Aku menggeliat di bawahnya saat ia dengan lembut menggigit puting yang keras. "Tidak pernah puas untuk merasakannya."

"Bagus." Dia terkekeh dan mencium rahangku lagi dan kembali ke bibirku. Dia terus menciumku, lidahnya mengoda lidahku, sementara tangannya meluncur ke bagian bawah tubuhku, ke atas perutku, untuk intiku, dan dua jarinya menekan klitorisku dan lipatanku.

"Oh, Tuhan." Punggungku otomatis melengkung, mendorong tangannya. "Ya Tuhan, kau punya tangan yang pintar."

"Aku menyukai saat kau sudah basah," bisiknya. "Kau begitu sialan seksi, Sayang."

Dia mengecup tulang selangkangku dan kembali lagi ke payudaraku, memberikan perhatian ke mereka berdua. Jemarinya bergerak berirama di bibir labiaku, seperti menggelitikiku.

"Bukankah kita sudah memutuskan bahwa aku bukan sebuah gitar?" Tanyaku.

"Kau lebih baik dari gitar." Dia menjilat pusarku, menarik tindikanku dengan lembut menggunakan giginya dan kemudian menciumnya dengan manis. "Tindikan ini akan menjadi kehancuranku."

"Kau memiliki banyak tindikan." Aku terkesiap saat salah satu jarinya masuk ke dalam diriku dan membelai area sensitifku. "Dan tindikan kecil di pusarku bisa membuatmu bergairah?"

"Ini seksi sekali, Sayang."

"Aku menyukai milikmu juga, bahkan yang di alis."

"O, ya?" Bibirnya bergerak turun ke bawah menuju perutku lalu ke vaginaku kemudian ia bersandar ke belakang, dan hanya menatap bagian intiku.

"Apa yang kau lihat?"

"Aku menyukai bagaimana merah mudanya dirimu." Dia tersenyum nakal dan kemudian mencondongkan tubuhnya dan menjilati aku, mulai anus menuju ke klitorisku dan kembali lagi ke bawah. "Ya, Tuhan, kau terasa nikmat."

"Sialan," bisikku saat secara reflex pinggulku bergerak sepertinya memiliki kehidupan sendiri. Dia merentangkan kakiku dan menahannya di kasur dengan lengannya, dan menggunakan tangannya untuk membuka vaginaku lalu menguburkan wajahnya ke miliku, menyulurkan lidahnya ke dalam diriku, kemudian menutup mulutnya dan menggosokan tindikan di bibirnya ke seluruh bibir labia sampai ke klitorisku.

"Ya Tuhan, bibirmu mengagumkan," gumamku dan merasakan dia tersenyum. "Apa karena untuk hal ini kau memilikinya?" Aku bertanya, terengah-engah.

"Tidak, ini sisi manfaatnya." Dia melakukannya lagi.

"Jongin." Ya, Tuhan, aku tidak bisa bernapas. Aku bahkan tidak bisa membuka mataku. Dia menyerangku luar dalam.

"Mmm..."

"Aku membutuhkanmu, Jongin," Bisikku, tidak yakin apakah kata-kata itu benar-benar keluar dariku, atau keluar begitu saja dari kepalaku.

"Aku ada di sini, Sayang." Oke, akhirnya aku mengatakan lagi dengan suara keras.

"Aku membutuhkanmu masuk ke dalam diriku." Aku menggelengkan kepala melawan bantal, seakan pikiranku dikuasai oleh nafsu. Jika dia menyerangku lebih jauh, aku akan mati. Atau terbakar.

"Aku akan melakukannya," dia bergumam dan terus menyerang vaginaku dengan mulutnya.

"Tolong," bisikku kemudian aku merengek saat bibirnya yang menakjubkan menghisap klitorisku dan menenggelamkan dua jari dalam diriku.

Dia berusaha membunuhku.

Jemarinya membuatku orgasme seperti orang gila, pinggulku terangkat dan mendorong melawan dirinya, dan akhirnya dia kembali mencium dan menjilati tubuhku seperti sebelumnya, tubuh bagian bawahnya berada diatasku, dan menahan dirinya dengan siku di samping sisi kepalaku, jemarinya di rambutku dan wajahnya hanya beberapa sentimeter di atas wajahku. Tanganku mengusap punggungnya ke atas dan ke bawah sampai ke bahunya lalu aku menelusuri tato di lengannya.

"Aku menyukai tatomu," bisikku dan memandang jemariku berjalan diatas kulitnya. "Ini artinya apa?"

"Ini merupakan lagu pertama yang kutulis dan direkam pada album pertama kami," Jawabnya, menatapku dengan seksama.

"Dan yang satu ini?" Aku bertanya, menelusuri bahu lainnya.

"Itu adalah karya asli dari album ketiga, namun studio lebih memilih sesuatu yang berbeda." Dia menyingkirkan helaian rambut dari dahiku dan menciumku dengan lembut di sana.

"Bagaimana dengan yang ini?" Aku bertanya, menyentuh lengannya.

"Yang itu mengingatkanku pada Tao."

"Benarkah?" Tanyaku sambil tersenyum.

Dia mengangguk dan menggosokan hidungku dengan hidungnya. "Jika kita terus begini, kita akan berada di sini sepanjang malam."

"Kita memiliki malam yang panjang," Aku mengingatkannya sambil tersenyum.

"Kita lanjutkan pembicaraan tentang tato lain kali," Sarannya.

"Oke, apa yang akan kau lakukan saat ini?" Aku terus menelusuri tato dengan jariku.

"Aku memikirkan beberapa hal." Dia perlahan-lahan tenggelam dalam diriku. "Ya Tuhan, Sunshine, aku tidak pernah terbiasa berada di dalammu tanpa pengaman."

"Mmm..." Aku setuju dan mendesah saat ia tetap menjaga pinggulnya tidak bergerak, seutuhnya miliknya benar-benar berada di dalam diriku. "Kau terasa begitu nikmat."

Dia menautkan tanganku dengan tanganku, mencium jemariku, dan mengangkat tanganku ke atas kepalaku di tempat tidur. Dia mengepalkan tangannya dengan kuat saat ia mulai bergerak masuk dan keluar, pelan, tetapi stabil. Dia menyandarkan dahinya di dahiku.

"Aku tidak pernah merasa seperti ini dalam hidupku," Gumamnya dan terus bercinta denganku. "Kau adalah segalanya yang kuinginkan, Kyungsoo. Lebih dari musik. Lebih dari apapun."

Air mata menggenang di mataku karena kata-kata manisnya dan aku menggigit bibirku.

"Jangan menangis," Bisiknya.

"Aku tidak menangis," Jawabku saat air mata mengalir melalui garis rambutku.

"Yakin kau tidak menangis." Dia tersenyum dan menciumku dengan lembut saat ia mulai bergerak lebih cepat, setiap dorongannya menekan area g-spotku dengan menakjubkan, sampai aku merasakan gelombang orgasme datang padaku, dan miliku mngepal di sekelilingnya, menarik dia lebih dekat ke tubuhku.

.

ooOoo

TBC

ooOoo

.

A/N

Maaf aku apdet lamaaa banget TAT

Tinggal dua chap lagi~ semoga kalian mau menunggu dengan sabar… bln dpn kayaknya aku bakal tambah sibuk hiks

See you next chap~

.

Thanks to:

diokeceh makasih udah setia ngingetin apdet hiks.. maaf ngaret banget | Guest maaf TAT | Tiarahun sehunnie udah muncul tuh hahaha | kim gongju tinggal dikit lagi tamat^^ | diyahutari1217 iya^^ makasih tp ini aku remake, aku g bisa nambah pendeskripsiannya | ryaauliao hahaha aku kira iya juga xD | seulli makasih udah nungguin^^ | Kaisooship huweee aku g becus ngedit T^T maakan akuuuu.. makasih buat koreksinya /bow/ | riribas serinya kebalik krn ada samting hehehe | mrsbunnybyun iya, semoga hiks... aku g konsen ngeditnya hiks... | ChocoSoo aku juga g tau kapan mereka nikah hiks maafkan aku | erikaalni maaf lama apdet TAT | chenma maafkan aku hiks