Summary : Seijuro benar-benar tidak mengira jika pertemuannya dengan anak kecil bersurai sebiru langit cerah itu akan merubah kehidupannya.
Title : Me And A Little Vampire (Day 9 : New Problem)
Pair : AkaShota!Kuro, AkaKuro
Genre : Family
Rate : M
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Warn : OOC, Typos, abal-abal, EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar, Ore!Akashi.
Happy Reading
.
"Tetsuya..." Suara yang lembut dan menenangkan...
"Tetsuya..." Kali ini suara pria dengan suara tegas.
"-oko Tetsuya... anak terkutuk! Pergi kamu!"
.
.
.
Tetsuya menyibak selimut yang digunakannya dan Seijuro dengan kasar. Sesuatu mengganggu tidurnya, mimpi. Mimpi buruk yang terulang selama 3 hari ini. Nafas Tetsuya tidak teratur, mengingat mimpi masalalunya yang benar-benar mengerikan.
Tangan meraih gelas di narkas, diminum likuid bening itu hingga tersisa setengahnya. Sial, tenggorokannya masih terasa kering. Ia butuh darah, sudah 3 hari ia tidak meminum darah, alasan berburu itu sebenarnya bohong. Tetsuya pergi untuk menemui Kise Ryouta atau Nijimura Shuuzo untuk berkonsultasi tentang masalahnya.
Dan sialnya tidak ada yang ingat kalau malam ini adalah awal dan puncak masa yang paling dibenci Tetsuya.
Masa In Heat.
Tetsuya melirik Seijuro yang tampak tertidur pulas, piyama yang terbuka setengah dada dan leher jenjang yang terpampang jelas membuat dahaga Tetsuya semakin menjadi.
Sedikit saja tidak apa-apa kan?... Pikirnya, ia takut membangunkan Seijuro, tapi ia benar-benar butuh makan sekarang.
Kerah baju Seijuro di sibak pelan, mulut dibuka perlahan untuk menggigit leher Seijuro. Taring mulai di tancapkan ke leher Seijuro, darah yang merembes langsung di hisap Tetsuya dan tanpa sadar Seijuro sudah melenguh menahan sakit, iris crimsonnya dibuka perlahan, hanya warna biru langit yang terlihat dan rasa sakit di leher.
Menggeliat pelan, Seijuro yang tidur di sebelah Tetsuya merasa sedikit terganggu. Taukah kalian? Akashi Seijuro yang tampak selalu perfect memiliki masalah bangun tidur selevel dengan seekor kebo? Bahkan digigitpun butuh beberapa lama sampai ia benar-benar sadar dari tidurnya.
"ngh- cuya..jangan nakal.." Kepala Tetsuya di pegang dalam kondisi setengah tidur.
Lihat? Apa kataku?.
gigitan menekan lebih keras, seprai di remas menahan nafsu. Perlahan Seijuro terbangun dari tidurnya. Ditahannya kepala Tetsuya lebih keras
" ...cuya?"
Bukannya menjawab, Tetsuya menatap Seijuro tajam dengan iris yang sudah tidak berwarna Aquamarine terganti warna crimson. Tatapan lapar dan penuh nafsu.
"...tak apa. Lanjutkan saja..tapi lain kali tolong bangunkan dulu." Seijuro tahu, Tetsuya sedang lepas kontrol.
Darah yang tersisa di sela bibir dilap kasar menggunakan tangan, bibir Tetsuya di sentuhkan pada bibir Seijuro. Ada yang aneh, hari ini entah kenapa Seijuro ingin sekali menyetubuhi Tetsuya dan Tetsuya sendiri tampak agresif malam ini. Ada apa?.
ciuman Tetsuya dibalas oleh Seijuro, lalu dilepas perlahan. Tangannya menyentuh sesuatu di selangkangan Tetsuya. Adik kecil Tetsuya sudah menegang membuat Seijuro sedikit tersenyum.
"Cuya tegang?"
Tetsuya hanya bisa diam, ia menatap Seijuro dan kembali membaringkannya di atas kasur, kembali menyatukan bibir mereka. Seijuro mengusap lembut bahu Tetsuya, menjilat bibirnya meminta akses masuk. Mulut dibuka invasi dilancarkan. Lidah Seijuro mengecap rasa lidah Tetsuya yang sudah tercampur dengan rasa darah yang manis. Jemari Tetsuya membuka kaitan kancing piyama Seijuro, menurunkan fabrik yang menutupi tubuh atletis Seijuro.
"..mm"
Lenguhan-lenguhan dari ciuman yang semakin dalam mengalun di ruangan temaram itu. Setelah puas menginvasi mulut Tetsuya, Seijuro turun untuk menjamah leher putih Tetsuya.
"Mmh.."
" ..barusan.."
Bahu di gigit pelan, Tetsuya mengerang.
"...cuya mimpi apa?"
Iris kembali menjadi berwarna biru jernih, Tetsuya kembali mendapat kesadarannya dan langsung mendorong Seijuro karena kaget. Seijuro ikut mengerjap kaget.
"M-maaf... Aku tidak sadar..." Ujar Tetsuya sambil menunduk.
"...tidak apa." Pipi Tetsuya di usap lembut "masih lapar?"
"Sudah... Tidak terlalu... Kurasa"
"Yakin? Lanjutkan saja.."
Tidak, Tidak. Tetsuya tidak mau melakukan mating dengan Seijuro. Sama saja ia berusaha merebut Seijuro dari Kuroko. Adik kecilnya memberontak lagi, ia ingin melampiaskan nafsunya. Tapi, tidak! Siapapun asal jangan dengan Seijuro.
Tetsuya tersenyum dipaksakan. "Lebih baik kita tidur lagi, niisan. maaf aku mengganggu tidurmu."
Tubuh ditarik tiduran, memunggungi atensi si kakak. Menahan adik yang terus berontak dibalik celana yang agaknya menyempit. Apa perlu ia membeli celana baru?. Tubuh ringkih Tetsuya ditarik kedalam pelukan, punggung berbalut piyama bersentuhan dengan dada telanjang Seijuro. Tetsuya mengerjap kaget.
"...curang ya.."
"Curang?"
"Mhm. Giliran nii-san yang ingin, cuya malah tidur."
"M-maaf tapi aku benar-benar tidak sadar melakukannya..." Tubuh diputar menatap langsung iris crimson. Mengeluarkan ponsel dari balik bantalnya "kupanggilkan kuroko-nii ya?"
"... tidak perlu..baik. kita tidur lagi."
"... Hai'"
Lalu hening. Tidak ada yang bicara walaupun keduanya terjaga. Tubuh di putar ke kanan, ke kiri. Telungkup lalu terlentang namun mata masih enggan terpejam, berbalik menatap sosok yang berbaring di sampingnya. Lalu, sengatan lagi pada selangkangan. Tetsuya sudah tidak bisa menahannya.
"...kenapa tidak tidur?"
"Aku... Tidak bisa tidur... Niisan kenapa tidak tidur?"
"Aku menunggumu tidur."
"Bajumu tidak dibenarkan?"
"biarkan saja.."
Lalu hening. Tidak ada percakapan lagi, Tetsuya kembali melirik Seijuro yang walau tampak tenang, matanya tampak menahan nafsu.
"Apa kau merasa malam ini 'sedikit' aneh?"
"...ya."
"... Masa in heat?..." Guman Tetsuya pelan, ini tidak baik. "Niisan, aku rasa kau harus bertemu Kuroko-nii sekarang.
"Kau saja."
Seijuro kesal, yang ia inginkan Tetsuya bukan Kuroko. Kadang menyebalkan juga memiliki adik yang tidak peka. Ya, Adik. Tetsuya hanya adik bagi Seijuro. Adik yang harus dilindungi bukan di nodai. Persetan soal itu, Seijuro menginginkan Tetsuya.
Baru saja Seijuro berniat menyerang Tetsuya, sebuah kondisi menguntungkan terpampang di hadapannya. Seijuro memamerkan smirk andalannya. Tetsuya akan jatuh ke tangannya malam ini. Tetsuya menahan selangkangannya yang terasa seperti tersengat dan berdenyut. Kedua iris aquamarine itu berkabut nafsu, Tetsuya sampai pada batasnya.
"...lihat. kau sendiri sudah tidak tahan, tapi masih menolak."
Tatapan memohon dilancarkan, Seijuro tersenyum lebih lebar. Dagu Tetsuya dipegang dan diangkat pelan, menghujamkan crimson ke aquamarine. Tatapan memelas Tetsuya membuat Seijuro harus lebih menahan diri. Wajah di dekatkan pada ceruk leher Tetsuya.
"Nii-san pernah ajarkan bagaimana cara meminta, kan?"
"K-kumohon..."
"..mohon apa..?"
Ini beresiko besar tapi ia tidak punya pilihan lain. Menahan tangis karena merasa telah merusak hubungan Seijuro. Penyesalan. Ia tidak bisa melakukan apapun.
"Kumohon... P-puaskan aku..."
"coba kalau dari awal.."
Tubuh Tetsuya ditindih pelan, menjilati lehernya yang sudah memiliki teethmark. Sementara air mata mengalir dari sudut mata Tetsuya. Ia benci saat seperti ini, dimana ia menjadi sangat tidak berdaya dan melihat semuanya akan hancur di depan matanya.
Di ruangan itu hanya suara desahan yang mengalun, deritan kasur yang terus diguncang penggunanya mengarungi lautan kenikmatan dalam perasaan yang berbeda.
Gomennasai...
.
.
.
Tetsuya menatap perutnya dengan tatapan tidak percaya. Sedikit menggembung dan mual, tidak salah lagi, meski ia tidak mau mengakuinya, meski ia tahu ini adalah kecerobohannya. Tapi, kini Tetsuya hanya bisa meratapi nasib yang harus ia terima dengan terpaksa.
Kini didalam perut Omeganya... Didalam perutnya... Tumbuh sebuah nyawa baru. Nyawa yang dibuat olehnya dan Seijuro.
Seorang janin.
Calon anak.
Tetsuya Hamil anak Seijuro.
"M-mustahil..." Tetsuya duduk bersandar di pintu kamar mandi. Aroma tubuhnya sudah bercampur dengan aroma tubuh Seijuro.
Aku... Mengandung anak niisan? M-mana mungkin! Tidak pernah ada kasus seperti ini kecuali... Niisan adalah... Alfa?!
Tetsuya frustasi, ia memegang perut berisi benih Seijuro. Menangis frustasi. Ini aib, ia belum punya Mate dan sekarang ia hamil. Ia bisa dianggap murahan, lengan gemetar meraih telepon genggam di saku celananya, menekan serangkaian nomor dan menekan tombol hijau. Menunggu sambungan dari pihak di sebrang sana.
Moshi-moshi? Ada apa, Tetsuya?.
"K-kagami-kun.." Suara Tetsuya bergetar menahan tangis. "T-tolong, bawa aku... Kerumahmu..."
O-oi! Kau menangis? Ada apa? Apa yang dilakukan Akashi padamu?! Aargh tunggu disana! Aku akan kesana.
Sambungan telepon dimatikan, Kagami yang sedang asyik bermain game langsung mematikan gamenya dan pergi menemui Tetsuya yang tampaknya sedang dalam keadaan 'Tidak baik-baik saja'.
.
.
.
To Be Contiuned
A/N : wah ternyata udah chapter 9 lagi. Seita izin hiatus dulu sampai bulan depan soalnya Seita mau ujian dulu. Kalau sempat nanti Seita posting lagi chapter terbarunya atau mungkin oneshot lain.
Dan yang bikin Seita kaget jumlah follow sama favnya nambah. Padahal ini cerita amburadul genre, rate dan ceritanya. Yaudah yang penting reader terhibur dan Seita senang menulisnya kkk. Seita juga mau ngucapin makasih buat yang review, fav dan follow itu bikin Seita semangat nulis lanjutan cerita absurd ini. Kkk
Sampai ketemu di next chapter~ kritik saran tetep ditunggu.
Salam hangat,
Seita-kun
