.
.
Come Away With Me
.
Karya: Kristen Proby
.
.
.
Cast: Xi Luhan, Oh Sehun, Byun Baekhyun
GS for Uke
.
.
Ini BUKAN karya Cactus93, Cactus93 hanya me-remake dan berbagi cerita yang Cactus93 sukai. Cactus93 hanya mengganti nama pemeran, mungkin dialog yang sesuai dengan keadaan. Setting cerita ini tidak di Korea.
Luhan POV
.
HUNHAN
.
RATE M
.
.
Hope u will enjoy this remake^^
Happy reading
.
.
.
Previous chapter:
"Rasakanlah, baby."
Oh, aku merasakannya, pinggulku berputar dan jarinya menekan kedalam dan keluar dari dalam diriku dengan irama yang sensual. Dia bersandar ke bawah dan menciumku, lidahnya menyerbu mulutku dengan ritme yang sama dengan jarinya. Saat tubuhku mengencang, dan mulai gemetar, dia menarik keluar dari diriku.
"Tidak!"
Dia menyeringai kepadaku dan dengan cepat mengisiku, mengubur miliknya ke dalamku.
"Lebih baik?" matanya membakarku dan dia mulai bergerak, dan dikuasai oleh sensasi. Tubuhku terbakar, hatiku dipenuhi cinta kepada lelaki indah ini. Aku tak bisa menemukan suaraku, hanya mengangguk dan berpegangan padanya, menggenggam erat pantatnya, menariknya kepadaku.
"Oh baby, kau sangat sempit." Dia mengetatkan rahangnya dan aku mencengkeramnya dengan ototku yang paling intim, mengetahui bahwa ia begitu dekat dengan ledakan hebatnya dan aku ikut bersamanya.
"Ikutlah bersamaku, cintaku." Matanya tiba-tiba terbuka dan kembali tertutup bersamaan dengan klimaksnya di dalam diriku dan tubuhku mengikutinya, mengencang di sekitarnya, bergetar dengan kebutuhan.
"Oh… Luhan!"
.
.
Sehun berada di tempat favoritnya, kepalanya beristirahat di antara dadaku, lengannya memeluk pinggulku, dan nafasku mulai melambat.
Aku tak percaya kalau aku harus menunggu dua puluh lima tahun untuk menunggu lelaki yang sungguh-sungguh bercinta dengan manis, dan lembut padaku.
Well, hampir dua puluh enam tahun untuk besok Sabtu.
Aku juga tak percaya bahwa kami mengungkapkan kata C. Aku berharap itu bukan hanya karena panasnya momen malam ini yang luar biasa romantis. Tapi saat aku mengingat kembali pandangan di matanya saat dia mengatakan tiga kata itu, aku tahu kalau dia bersungguh-sungguh. Walaupun kami saling mengenal satu sama lain hanya dalam waktu yang singkat, dan masih banyak yang harus dipelajari.
Aku juga tahu bahwa hatiku tidak pernah sepenuh ini, dan aku tak pernah bertemu lelaki sebaik, sepintar dan semanis dia. Aku merasa aman bersamanya, dan aku merasa cantik dan dihargai.
Ya, dia pencemburu, tapi bukankah kita semua juga begitu?
"Jangan terlalu memikirkan ini, baby."
Aku menunduk dan mengernyit.
"Memikirkan apa?"
"Aku mendengar roda berputar-putar di dalam kepalamu." Dia mencium tulang dadaku, berguling dan berbaring di sisiku, memandangiku, menahan kepala di sikunya.
"Aku tidak berpikir."
"Kau tidak pintar berbohong." Ia mencondongkan badannya untuk mencium hidungku dan menyapu seuntai rambut dari pipiku.
"Aku perlu melepas mutiaraku." Aku duduk dengan bagian belakang menghadap kearahnya dan merasakan dia melepas pengaitnya.
"Kenapa?" dia meletakkan mutiara itu dan aku kembali berbaring.
"Aku tak ingin membuatnya rusak dalam satu malam." Aku menghembuskan nafas dan menurunkan tanganku ke pinggangnya.
"Aku bersungguh-sungguh, kau tahu."
Aku tersenyum dan meregang dengan malas. "Aku tahu."
"Jam berapa kita harus bangun pagi?" Aku menyadari kalau dia mengganti topik. Aku punya banyak hal untuk dipikirkan.
"Kelas mulai jam sembilan."
"Kalo begitu kita harus segera tidur."
"Aku tidak tidur dengan sepatu ini."
Dia tertawa dan duduk, melepas satu persatu sepatuku dan meletakkannya di lantai. Kemudian dia melepas kaitan stoking dan menurunkannya ke bawah kakiku.
"Kau memiliki kaki yang indah, baby." Dia menciumnya dan melepas garter juga, menaruhnya di lantai.
Dia merayap ke atasku dan menyelimuti kami dengan selimut, merengkuhku ke dalam lengannya.
Aku mengistirahatkan kepalaku di dadanya dan mendesah, merasakan bibirnya di keningku.
"Tidurlah, cantik."
"Selamat malam," aku bergumam dan masuk ke dalam tidur yang lelah.
ooOoo
.
Aku bangun langsung mencari Sehun, tapi dia tidak ada. Tempat tidurnya dingin dan kosong.
Dia pergi kemana?
Aku menarik kemeja putih yang dia pakai tadi malam, dan meninggalkan tempat tidur. Dia tidak ada di atas jadi aku turun kebawah.
Gelap. Aku tidak melihatnya di ruang tamu ataupun dapur, dan aku merasa takut saat aku melihat gerakan di beranda.
Aku berjalan di kegelapan pelan-pelan menuju pintu yang terbuka. Dia berdiri di pagar, bermandikan cahaya bulan. Dia memakai celana piyama gelap yang tergantung seksi di pinggangnya dan dia tidak memakai atasan.
Dia menyandarkan sikunya di pagar dan memandang ke air biru tengah malam yang memantulkan cahaya bulan.
Aku berharap saat itu aku membawa kameraku.
Aku berjalan ke belakangnya dan mencium punggungnya, melingkarkan lenganku di perutnya. Aku suka memeluknya seperti ini.
"Apakah aku membangunkanmu?" dia berbisik.
"Tidak, aku terbangun karena kau tidak ada." Aku menciumnya lagi. "Apakah kau baik-baik saja?"
"Aku baik, hanya tak bisa tidur." Dia berbalik menghadapku dan menyandarkan pinggulnya ke pagar, membungkusku dengan lengannya. Wajahnya bermandikan cahaya bulan, matanya menatapku dalam.
"Bagaimana kabarmu?"
"Kesepian. Kembalilah ke tempat tidur."
"Okay," bisiknya dan mencium keningku. "Aku lihat kau meminjam kemejaku lagi."
"Ini kebiasaan burukku."
"Tidak apa-apa kau bisa mengembalikannya padaku di atas." Dia merengkuhku ke lengannya dan aku tertawa saat dia membawaku kembali ke tempat tidur.
ooOoo
Aku terkejut mengetahui bahwa aku bangun sebelum Sehun.
Kita harus pergi yoga sejam lagi, tapi aku tak bisa menolak untuk berbaring di sini dan melihatnya tidur.
Cahaya pagi tersaring oleh ventilasi jatuh ke lantai kamar. Aku menyukai kamar tidurnya yang luas dengan perabotan yang besar. Tempat tidurnya ekstra besar, seprei putih terasa seperti kapas Mesir dan mereka terasa lembut di kulitku.
Sehun berbaring, satu tangannya berada di atas melewati kepalanya. Wajahnya sangat lembut dalam tidur, janggut paginya sangat seksi di sepanjang rahangnya, rambutnya yang biasanya berantakan kini lebih berantakan lagi.
Dan dia mencintaiku!
Aku berjalan menuju kamar mandi sebagai jawaban dari panggilan alam, dan saat berjalan kembali ke kamar tidur aku memunguti baju-baju yang berserakan, sepatu dan jepitan rambut yang semalam, seringai lebar menempel di wajahku.
Aku menyadari satu kopor kecilku berada di atas kursi dekat jendela, dalam hati aku berterima kasih pada Baekhyun.
Aku senang mendapati perlengkapan yogaku, pakaian dalam bersih dan baju kasual lainnya dan perlengkapan mandi, semua baru, di dalam kopor. Aku memutuskan untuk tidak mebuka semuanya dan meninggalkannya sebagian. Jika dia ingin aku pindah kembali, tak apa. Jika dia ingin memindahkan beberapa barang ke tempatku, juga bagus.
Aku menambahkan sikat gigi dan sebuah deodorant ke tempat riasnya dan juga sebotol body wash dan sampo ke shower.
Baekhyun pasti berbelanja untuk ini semua tadi malam, aku tidak hanya berterima kasih dalam hatiku, tetapi juga berencana membalasnya dengan kejutan istimewa.
Aku meninggalkan pakaian di koper tapi mengeluarkan roda yogaku dan melihat kembali ke tempat tidur.
Sehun masih tertidur, dan kami masih punya waktu, jadi aku meninggalkannya dan turun kebawah untuk membuat kopi.
Aku masuk ke dapur, membuka lemari berwarna espresso, dan akhirnya menemukan tempat kopi dan alat pembuat kopi, menyiapkannya dan menemukan beberapa mug juga.
Sambil menunggu kopi, aku membuka pintu Perancis keluar ke beranda menikmati suara alam dan mengambil nafas dalam udara segar.
Hari yang indah. Langit biru, matahari pagi terbit sepenuhnya dan bersinar dari dalam air biru yang dalam. Kapal feri berlayar menuju pulau Bainbridge. Burung camar terbang di atas laut, dan angin sepoi-sepoi meniup lembut rambutku. Hari yang cerah.
"Kukira kau bukan orang yang terbiasa bangun pagi."
Aku menengok mendengar suaranya yang berat dan seksi. Dia memelukku dengan lengannya.
"Selamat pagi, tampan."
"Selamat pagi, baby."
Menyandarkan kepalaku ke belakang, aku menengadah dan menyeringai padanya. "Aku membuat kopi."
"Ya aku menciumnya. Terima kasih. Kenapa kau tidak membangunkanku?" dia mencium keningku dan menghirup nafas dalam.
"Kau terlihat sangat damai, dan kita tidak terburu-buru."
"Kau tak membongkar kopermu." Aku menyandarkan kepala di dadanya , menghindari tatapannya.
"Iya, aku bisa membereskannya kembali jika kau tidak ingin aku menaruh barangku disini."
Dia meraih daguku menengadahkanku, menyapu bibirku dengan ciuman yang membuat jempol kakiku melengkung (sebuah ungkapan yang artinya tersipu malu).
"Aku suka jika barang-barangmu di sini, tinggalkan saja."
"Oke." Aku tersenyum malu padanya. "Ayo kita minum kopi."
ooOoo
"Kau sudah siap?" aku menyeringai pada Sehun yang sudah mengenakan celana basket dan kaos tanpa lengan. Dia terlihat fantastik.
"Begitulah." Dia terlihat cemas dan hatiku meleleh.
"Kau akan baik-baik saja. Ingatlah yang kukatakan, ambil langkahmu dan mereganglah sejauh yang kau rasa nyaman. Aku tidak ingin kau terluka."
"Aku tak akan terluka."
"Okay." Aku tahu dia berpikir ini akan mudah. Aku tak meragukan fisiknya yang bagus, tapi yoga lebih membutuhkan fisik lebih dari yang orang kira.
Aku membuka kunci studio dan mempersilahkan dia masuk.
Semua jendela kaca sudah dibuat suram supaya tidak dilihat oleh orang yang berjalan di luar.
Terdapat kaca di salah satu sisi dinding dan pegangan yang menempel untuk kelas balet saat siang, dan matras yoga tergulung pada posisi berdiri diujung ruangan. Aku berjalan ke sound system dan memilih musik yang lembut.
"Oke, ambil matrasmu. Para peserta akan segera berdatangan."
"Berapa orang yang biasa datang ke kelas ini?" aku bisa merasakan kecemasannya bahwa dia akan dikenali.
"Hanya delapan atau sepuluh orang. Ini kelas kecil."
Dia mengangguk dan kami menggelar matras kami, aku di depan kelas di sisi kaca, dan dia di depanku. Para peserta masuk ke ruangan dan mengambil matras, menyebar ke semua sisi di studio. Tidak ada yang memperhatikan Sehun dan aku melihat dia rileks. Aku tersenyum menenangkannya dan mengedipkan matanya padaku.
"Baiklah, semua, mari kita mulai."
Satu jam berikutnya aku memimpin kelas menjalani beberapa seri gerakan, memvariasi gerakan untuk mengakomodasi peserta yang baru maupun yang sudah berpengalaman. Aku adalah tipe yang menikmati musik, dan hanyut dalam yoga itu sendiri, tapi aku tak bisa untuk tidak terganggu oleh Sehun dan tubuhnya yang kuat.
Dia fleksibel dan aku memujinya dan dia berterimakasih. Memandangi tubuh kecoklatannya bergerak dan melentur adalah sebuah kesenangan.
Dia memperhatikanku juga, dan lebih dari sekedar tertarik untuk hanya melihat gerakan yang aku peragakan. Saat bara di mata kami bertemu dan aku tahu aku membuatnya bergairah seperti dia membuatku bergairah.
Aku tidak bisa menunggu untuk berdua saja dengannya.
Aku berpose seperti anjing yang melengkung ke bawah dan mengamati kelas, dan aku mendapati Sehun menatap pantatku.
Aku tersenyum menyeringai.
Akhirnya, kelas selesai dan aku sangat bersemangat dan sulit untuk berpikir jernih.
Para peserta satu persatu mengucapkan selamat tinggal, berderap keluar untuk menyongsong hari mereka dan tinggallah aku dan Sehun sendiri. Dia berjalan ke pintu menutup dan mengunci pintu dan hatiku terjun bebas.
"Apakah ada kelas lain di sini pagi ini?" tanyanya.
"Tidak, sampai siang nanti," responku.
"Bagus"
"Apa yang kau pikirkan?" tanyaku.
"Aku berpikir," dia mulai berjalan pelan kearahku,"Bahwa kau adalah wanita paling seksi yang pernah kulihat di hidupku."
Matanya menyipit dan wajahnya berubah serius ketika dia berjalan mendekat ke arahku.
"Oh." Aku mencoba menemukan otakku."Jadi, aku rasa kau menyukainya?"
"Aku tak pernah menyangka kau bisa menggerakkan badan kecilmu yang indah seperti itu."
"Aku sudah lama melakukan ini."
"Yeah, aku bisa melihatnya." Akhirnya dia berdiri kurang dari satu kaki dariku dan aku mengulurkan tanganku untuk membelai wajahnya.
"Aku senang kau disini. Sangat menyenangkan melihatmu bergerak."
Dia tersenyum, menyenangkan, menangkap tanganku, merasakan sentuhanku dan menutup matanya beberapa saat. Dia membuka matanya dengan warna hitam kecoklatan yang membara.
Sial, aku suka saat dia memandangku seperti itu.
Dia mendorongku ke kaca, menjepit wajahku dengan tangannya, menciumku seakan-akan hidupnya tergantung pada hal itu. Aku mengenggam pinggulnya dan memasrahkan diri pada ciumannya, menumpahkan rasa frustasiku sejak satu jam yang lalu.
"Aku menginginkanmu," Dia berbisik di bibirku.
"Aku menginginkanmu sejak satu jam yang lalu. Aku heran aku bisa berbicara sepanjang kelas berlangsung." Dia tersenyum di bibirku.
"Mari kita lepaskan ini, boleh?" dia menarik tank top dan sports bra ke atas dan membuangnya ke lantai dan dengan cepat melepas celana dan celana dalamku. Aku membalas kebaikannya, membebaskannya dari pakaian hitamnya dan dia memutarku menghadap ke cermin.
"Letakkan tanganmu di palang, baby."
Aku melakukannya dengan senang hati. Dia mencium bahuku dan melingkarkan tangannya ke depan, menangkup dadaku dengan tangannya memainkan bagian sensitif dengan jarinya. Melihat pantulan kami di cermin membuatku merasakan sengatan listrik di pangkal pahaku. Tangannya yang besar kecoklatan menjangkau menangkup payudaraku yang putih. Bibirnya di punggungku, matanya tertutup, dan melihat wajah dengan kebutuhannya dan oh my.
"Ah!" Aku bersandar ke dadanya, mendorong dadaku ke tangannya.
"Kau membuatku gila melihatmu dengan semua gerakan itu, baby. Aku tidak tahu bagaimana mengontrol diriku."
Aku terengah-engah dan tersenyum padanya lewat cermin.
Dia meluncur ke bagian bawah, menelusuri tatoku, melewati pinggangku, melewati pantat dan menemukan bagian tengahnya.
"Sial, baby kau begitu siap untukku."
Bibirnya di leherku, menggigit, mengirimkan getaran ke tulang belakangku.
Segera, dia menarik pinggulku ke belakang sehingga aku membungkuk, tanganku berpegangan di palang, dan dia menampar keras pantatku sebelum memasukkan kejantanannya ke dalam diriku.
"Oh, God!" dia mencengkeram tanganku dengan satu tangan dan pinggulku dengan tangan yang lain dan mendorong ke dalam tubuhku, lebih cepat dan lebih cepat, lebih keras dan lebih keras, matanya yang seperti badai menatap mataku di cermin.
Sial, ini terasa sangat nikmat! Aku mendorong ke belakang ke arahnya dan merasakan robekan orgasme di dalam diriku, cepat, keras dan aku meledak olehnya.
Dia mendorong dua kali lagi dan menggigil dalam pelepasan.
ooOoo
.
Saat kami meninggalkan studio yoga, aku mendapat pesan dari Baekhyun.
'Makan malam ulang tahun di rumah orang tuaku besok malam? Ajak Sehun.'
Aku berkerut. Bagaimana aku mengajaknya?
"Ada yang salah?" dia mempersilahkanku ke dalam mobil, menciumku sebelum masuk ke belakang kemudi.
"Tidak ada yang salah."
Dia mengangkat alisnya dan aku menggeliat.
"Bicaralah padaku, baby"
"Orang tua Baekhyun mengundang kita makan malam di tempatnya besok malam."
"Oh? Acara apa?" dia menjalankan mobil menuju ke rumahnya.
"Ulang tahunku," aku berbisik dan menggigit bibirku.
"Apa?" dia memandangku sekilas, matanya membesar, dan kembali memandang ke jalan.
"Yah, sebenarnya belum sampai besok Sabtu, tapi mereka ingin mengajak makan malam ulang tahun besok malam." Aku memutar jari-jariku dan menatap ke bawah. Merasa tidak nyaman.
"Kau dekat dengan keluarganya?"
"Yah, bisa dibilang mereka mengadopsiku setelah orang tuaku meninggal." Ini lebih mudah untuk dibicarakan. "Orang tuanya sangat baik. Baekhyun punya empat orang kakak laki-laki. Yang tertua, Joonmyeon, dan istrinya baru saja punya bayi. Aku belum menengoknya."
"Jadi, ini akan menjadi acara keluarga." Oh apa yang dia pikirkan? Dia tak terlihat marah, tapi juga tak terlihat senang.
"Iya. Apakah kau akan pergi bersamaku?"
"Tentu saja. Kedengarannya menyenangkan. Tapi kapan kau akan memberitahuku kalau ulang tahunmu akhir minggu ini?"
Oh.
Aku mengangkat bahu dan memandang ke jendela. "Aku tidak terlalu memikirkannya, jujur saja. Aku tak mempermasalahkan hal itu."
"Mungkin aku ingin mempermasalahkannya." Suaranya melembut penuh teka-teki.
"Jangan marah," bisikku. "Itu membuatku merasa bodoh untuk berkata, 'Jadi, mari kita pergi yoga, dan ngomong-ngomong ulang tahunku besok Sabtu.'"
"Tidak, itu akan sangat membantu."
Dia menuju ke rumahku, mengantarkanku sehingga aku bisa bekerja. Dia mengambil gaun Baekhyun dan sepatuku dari mobil dan kami masuk ke rumah.
"Jadi, kurasa kita akan pergi makan malam besok malam?"
"Yeah kita akan pergi." Dia memelukku erat.
"Terima kasih. Apakah kau ada banyak pekerjaan hari ini?" aku bertanya mengalihkan topik.
"Yeah, ada beberapa. Kau?"
"Aku punya dua acara, dan aku harus membawa gaun Baekhyun ke laundry."
Dia mengerutkan dahi dalam. "Gaun Baekhyun?"
Sial.
"Yeah, dia meminjamkannya padaku."
"Kenapa?"
"Karena aku tak punya pakaian untuk acara formal." Aku mengangkat bahu. "Itu bukan masalah besar."
"Aku tak ingin kau harus meminjam pakaian." Dia mendekatkan matanya dan meletakkan tangannya di pinggul.
"Sehun, itulah yang dilakukan para gadis. Mereka saling meminjam pakaian. Itu bukan masalah besar."
"Aku ingin kau berbelanja untuk ulang tahunmu."
"Tidak." Aku menggelengkan kepala dengan tegas dan berjalan ke dapur.
"Kenapa tidak?"
"Kau tak perlu membelikanku pakaian. Aku bisa membeli sepatu tiga ribu dollar tanpa mengedipkan mata, Sehun. Aku tidak perlu dibelikan pakaian.
"Aku tidak bilang aku harus melakukannya. Aku pacarmu ya Tuhan. Itulah yang kami lakukan, biarkan aku memanjakanmu."
"Kau sudah memanjakanku." Aku tersenyum saat mengingat bunga, kopi, makan malam semalam. "Kau memanjakanku dengan segala cara."
"Luhanie, aku sangat kaya. Aku mampu mengeluarkan uang untukmu."
"Sama aku juga."Aku menyilangkan tangan di dadaku.
"Kau sangat keras kepala!" dia menggelengkan kepala dan memegang rambutnya dan aku menahan geli.
"Apakah kau tertawa?"
"Begitulah, kau lucu ketika kau merasa jengkel padaku."
Dia tertawa menatap langit-langit.
"Tuhan, kau membuatku frustrasi."
"Aku tahu. Tapi aku mencintaimu."
Matanya melembut dan dia menarikku ke lengannya. "Aku juga mencintaimu."
Aku menengadah dan menciumnya dengan manis di bibirnya, lalu di ujung bibirnya.
"Aku serius, baby. Ambil kartu kreditku, ajak Baekhyun dan pergilah kalian berdua berbelanja, dariku, untuk ulang tahunmu."
Aku membuka mulut untuk berdebat tapi Baekhyun tiba-tiba muncul di dapur. "Ok, tidak usah menyuruhku dua kali. Thanks." Baekhyun mengedipkan mata padanya dan menyeringai.
"Hey! Tidak mau. Aku bersungguh-sungguh."
"Baekhyun, kau ada acara besok sebelum makan malam dengan orang tuamu?" Sehun berbicara pada Baekhyun tapi melihat padaku, rahangnya sedikit terangkat.
Aku akan kalah dalam perdebatan ini.
"Tidak. Kebetulan saja kalenderku bersih." Baekhyun tersenyum.
"Bagus, boleh minta tolong mengajak pacarku berbelanja? Dan kurasa spa juga boleh."
Ke spa juga? Aku ternganga.
"Dengan senang hati, pacar ipar yang murah hati." Baekhyun tertawa atas candaannya begitu juga dengan Sehun, dan yang bisa aku lakukan adalah berbalik dan maju di antara mereka berdua.
"Hello, aku ada di ruangan ini."
"Aku tahu, baby, aku hanya merencanakan sesuatu untuk ulang tahunmu." Dia tersenyum dan mengedipkan matanya dan aku tak tahu apakah akan memukulnya atau benar-benar menciumnya.
"Aku suka pacarmu, Luhanie." Baekhyun tersenyum manis padaku dan aku tahu aku kalah.
"Baik," aku cemberut.
"Antusiasmemu menginspirasi."
Mata Sehun bersinar geli.
"Kita akan pergi ke spa, tapi tidak berbelanja." Aku benar-benar berharap dia akan menerima kompromi, tapi aku tahu dari gerak rahangnya bahwa tidak ada gunanya berdebat.
"Kau akan berbelanja. Beli apapun yang kau mau. Tak ada batasan dalam kartu ini."
Aku menggelangkan kepala padanya. "Dasar keras kepala."
Dia mengangkat bahu dan menciumku dengan keras, dan melepas ku tiba-tiba, membuatku kehilangan keseimbangan.
"Kau akan datang ke tempatku setelah sesimu selesai?"
"Yeah, aku akan kirim pesan kalau aku sudah selesai." Aku menghembuskan nafas, pasrah pada nasibku besok. Aku tahu Baekhyun akan membuatku mematuhi instruksi-instruksi Sehun. Pengkhianatan.
"Bagus. Aku akan menemuimu nanti." Dia menciumku lagi dan menyandarkan dahinya pada dahiku. "Aku mencintaimu, rusaku."
Dan dengan hanya begitu begitu saja duniaku dibereskan, dan saat ini aku akan melakukan apapun yang dia inginkan.
"Aku mencintaimu juga, tukang perintah."
ooOoo
"Baekhyun, aku tidak mau menggunakan uangnya." Aku mendengar rengekan dalam suaraku, tapi aku tak peduli.
"Manis, dia ingin melakukan kebaikan untukmu. Ini ulang tahunmu."
Kami berkeliling di sepanjang Neiman Marcus –Pusat perbelanjaan di Amerika yang menjual barang-barang mewah- di pusat kota Seattle. Suasana tidak terlalu ramai menandakan saat ini adalah pertengahan minggu. Pramuniaga sangat perhatian dan sangat berharap untuk membuat komisi di pertengahan minggu.
"Aku merasa seperti seorang gold digger (wanita mata duitan)."
Baekhyun tertawa saat menarik blus biru dari rak, lalu langsung melewatkannya.
"Kau bukan gold digger. Ini, cobalah yang ini."
Dia memberiku blus hitam dan kami lanjut mencari-cari lagi.
Kami sudah pergi ke spa pagi ini. Kami berdua melakukan facial, pijat, pedikur dan menikur, dan melakukan sedikit wax yang menyegarkan. Aku harus mengakui, rasanya fantastis. "Spa sudah cukup. Itu sudah lebih dari cukup, menenangkan dan sempurna."
"Luhanie, berhentilah mempermasalahkan ini. Sehun sudah luar biasa berbaik hati dan ingin – ingin – kita memanjakan diri hari ini. Aku setuju kita tidak perlu gila-gilaan, tapi buatlah para lelaki tertawa dan dapatkanlah beberapa barang yang bagus.
Kau mungkin perlu beberapa gaun formal jika dia ingin mengajakmu lagi seperti malam itu. Plus, mungkin saja kau perlu pergi ke perilisan film atau sesuatu, terkadang, dan kau harus bisa mengimbangi penampilannya."
Benar juga.
Aku tak pernah menyadarinya. Apakah dia menghadiri perilisan film yang sedang dia kerjakan sekarang?
Sial.
Dua jam, dan beberapa ribu dollar kemudian, kami meninggalkan toko, dipenuhi dengan tas dan kotak. Aku tak percaya Baekhyun membujukku untuk melakukan ini semua.
Aku senang bahwa dia juga membeli sedikit barang untuk dirinya sendiri. Sehun pasti akan menyetujuinya.
Aku membeli tiga gaun malam.
Dan pakaian dalam yang layak untuk gaun-gaun itu, beberapa blus dan celana jins, dua pasang sepatu -Manolo Blahniks!- dan tas Gucci baru.
Aku mungkin akan ketakutan dan mengembalikan semuanya besok.
Baekhyun juga membeli sepasang Louboutins baru dan tas tangan. Dia terlihat cantik saat kami meninggalkan toko dan menuju ke mobil. Saat inilah ia terlihat paling gembira sejak janji temu dengan bosnya; tersenyum, riang dan santai.
Tiga jam di spa dan dua jam di Neiman's menghabiskan uang orang lain pasti akan membuat semua gadis seperti itu.
Kami kembali ke rumah dan bersiap untuk pesta malam ini. Aku sangat gembira untuk bertemu keluarga Baekhyun dan untuk bertemu keponakan barunya, si mungil Anson.
Sehun akan datang dalam satu jam.
"Apakah kau akan memakai atasan merah baru yang cantik itu dengan celana jins yang baru?" Baekhyun mengeluarkan tas tangan Louis Vuitton dari bungkus coklatnya dan memasukkan barang-barang ke dalamnya.
"Yeah, kurasa begitu. Tas tangan itu bagus sekali." Selain sepatu, tas tangan adalah kelemahanku, aku tak bisa menahan diri mengagumi tas Gucciku yang baru.
"Apakah aku sudah bilang kalau aku menyukai pacarmu?" Baekhyun menyeringai.
"Dia jauh melampaui harapan, itu yang pasti."
"Dia benar-benar mencintaimu, Luhanie. Aku bisa melihatnya tertulis di seluruh dirinya. Dia hanya ingin kau bahagia."
Hatiku melembut mendengar kata-kata Baekhyun. Dia benar. Dan jika memanjakanku merupakan suatu hal baru untuk membuatnya senang, kenapa aku harus protes?
"Apakah kau sudah memberitahukan keluargamu tentangnya? Aku tak ingin mereka menjadi heboh hari ini."
"Yeah, sudah. Mereka punya waktu sendiri untuk heboh. Mereka akan tenang. Lagipula aku punya saudara laki-laki. Mereka tak akan peduli bahwa dia seksi."
"Benar juga." Kami saling tersenyum dan ke atas dan berdandan untuk malam ini.
ooOoo
"Halo, cantik." Sehun menarikku ke lengannya dan menciumku dengan berisik.
"Halo, tampan." Aku tersenyum padanya dan mengantarkannya masuk ke rumah.
"Apakah kalian sudah siap?" dia terlihat rupawan memakai celana jins hitam dan kemeja putih berkancing rendah yang tidak dimasukkan. Aku menyisirkan jariku ke rambutnya yang pirang dan lembut.
"Ya."
"Kau terlihat bahagia." Dia mencium pipiku dan memelukku lagi. "Dan cantik memakai blus merah ini."
"Ini baru." Aku merasa pipiku merona.
"Oh ya? Aku sangat menyukainya."
"Terima kasih, untuk semuanya." Aku menciumnya, menangkup wajahnya yang tampan di tanganku.
"Apakah kau senang?"
"Kami memiliki waktu yang menyenangkan. Kau memanjakan kami hari ini. Terima kasih sudah mengajak Baekhyun."
"Aku menyukai Baekhyun."
"Oh?" aku mengangkat alisku.
"Dia mencintaimu dan dia adalah sahabatmu."
Sial, dia sangat manis.
"Oh Tuhan, tolong jangan seperti ini sepanjang malam." Baekhyun berjalan ke serambi dan memutar bola matanya.
"Halo juga untukmu." Sehun tertawa dan mencium keningku, kemudian melepaskanku darinya.
"Terima kasih untuk hari ini, Sehun. Kami punya waktu yang menyenangkan, dan sekarang aku adalah pemilik yang bangga dengan tas cantik ini." Baekhyun tersenyum manis.
"Itu cocok untukmu, sama-sama. Mari kita pergi?"
Aku mengambil tas kamera dan mengikuti Sehun menuju mobil. Dia mengangkat alis dan memandang kearang tasku. "Apakah kau berpikir aku akan datang ke makan malam keluarga dangan bayi yang baru lahir tanpa kamera? Aku adalah seorang gadis, Sehun."
Dia menyeringai dan membuka pintu mobil untukku.
Sehun dan aku mengikuti Baekhyun yang mengendarai mobilnya sendiri menuju rumah orang tuanya. Mereka tinggal di subdivisi baru di Seattle Utara dimana semua rumah terlihat sama; rerumputan yang rapi, beranda depan yang mungil dengan pot gantung dari bunga yang berwarna-warni dan anak-anak yang bersepeda di sisi jalan. Rumah mereka berukuran rata-rata, dengan halaman belakang yang luas.
Tidak ada yang tahu, bahkan Kim sendiri; bahwa akulah Donator anonym yang membayar hipotek untuk mereka di awal tahun ini.
"Ini lingkungan yang bagus." Sehun berkomentar dan aku tersenyum kepadanya.
"Itu. Rumah orang tuanya Baekhyun. Mereka tinggal sendiri jadi ukuran rumah itu pas untuk mereka. Aku senang hari ini cerah; kita semua bisa duduk di halaman belakang. Ayahnya merawat halaman dengan baik. Kau akan menyukainya."
Kami keluar menuju ke rumah dan Ibu Baekhyun, Mrs. Kim, berlari keluar untuk menyambut kami.
"Oh, anak gadisku sudah pulang! Halo sayang." Dia memelukku dengan kedua lengannya dan aku merasakan air mata memercik di mataku. Wanita ini sangat istimewa untukku.
Dia menarik badannya ke belakang dan melihatku, tangannya masih menggenggam bahuku.
"Kau terlihat cantik, sayang. Selamat ulang tahun."
"Terima kasih, Eomma. Ini pacarku, Sehun."
"Mrs. Kim." Sehun mengulurkan tangannya, tapi dia malah juga memeluknya dengan hangat.
"Senang sekali bertemu denganmu Sehun. Tolong panggil aku Eommoni saja, selamat datang."
Dia tersenyum sedikit malu-malu.
"Terima kasih"
"Hai, Mom." Baekhyun memeluk ibunya sangat erat.
"Semua ada di sini. Kita di halaman belakang. Ayahmu sedang memanggang, dan aku berharap dia tidak membakar rumah ini."
Sehun menggandeng tanganku dan kami menjelajahi rumah yang terisi dengan perabotan indah, saat melewati bagian dapur yang artistik. Aku tersenyum melihat Sehun yang menahan nafas.
"Aku sudah bilang kan," bisikku padanya.
Halaman belakang menghadap ke greenbelt (tanah pedesaan yang mengelilingi kota), sehingga tidak ada tetangga di belakang rumah. Halaman itu tidak sampai satu acre (0,46 hektar). Tanaman semak yang cantik menjadi pagar pribadi yang mengelilingi halaman. Terdapat jalan batu yang dibatasi oleh lampu solar menuju ke taman yang lain. Kemeriahan ditandai dengan berbagai warna bunga, merah dan kuning, ungu, pink. Beberapa taman terdapat tempat duduk kecil di sisinya sebagai tempat untuk duduk-duduk dan menikmati hari.
Terdapat pula pohon buah-buahan untuk peneduh. Mr. Kim menghabiskan waktu yang tak terhingga di kebun ini, dan hasilnya jelas terlihat.
Pekarangannya juga luas dan tertata.
Terlihat ada pemanggang stainless steel agak jauh di bagian pojok kiri halaman, dengan asap yang mengepul. Di pekarangan itu terdapat dua buah meja bundar yang masing-masing dikelilingi oleh enam kursi, dan di sisi kanan adalah area duduk dengan dua buah loveseats (tempat duduk untuk berdua).
"Aku bisa menghabiskan sepanjang hari di sini," Sehun berbisik dan aku mengangguk.
Aku memandang ke meja dan menemukan dua orang yang familiar, tapi tak kuduga sebelumnya dan aku berputar kearah Sehun. "Orang tuamu ada disini!"
Dia sedikit merona dan mengangkat bahu. "Baekhyun bertanya padaku apakah dia boleh mengundang mereka, dan kupikir itu akan menjadi ide yang bagus. Aku ingin orang tua kita saling mengenal, Luhanie."
"Wow." Aku tak bisa berkata apa-apa. Dia tak pernah berhenti memberiku kejutan.
"Apakah tidak apa-apa?"
Apakah tak apa-apa? Aku mencintainya. Orang tuanya menyenangkan, dan ya, aku ingin mereka mengenal keluargaku. Keluarganya Baekhyun adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki.
"Ini bagus." Dia tersenyum, lega, dan mencium tanganku.
Aku mengajak Sehun ke meja dan mulai memperkenalkannya pada keluarga besar Baekhyun, memeluk Mrs. Oh dan Mr. Oh.
"Senang sekali bertemu denganmu, sayang."
Mrs. Oh memelukku sangat erat dan aku membalasnya.
"Terima kasih sudah datang. Aku sangat gembira melihat kalian berdua."
Ayah Baekhyun beralih dari pemanggangnya dan berjalan ke arahku."Kemarilah, gadis yang berulang tahun!"
Dia memelukku dengan sangat hangat, mengangkatku dan berputar dua kali.
"Kau terlalu kurus. Aku akan membuatmu lebih gemuk hari ini."
Aku tertawa dan mencium pipinya yang lembut.
Dia pria yang pendek, tapi berotot padat seperti putranya, kepalanya botak, tapi dulu dia berambut pirang seperti putrinya. Dia adalah salah satu pria yang paling baik yang pernah kutemui. "Aku sudah tak sabar. Aku lapar."
"Bagus. Apakah ini pacarmu?" dia melihat kearah Sehun dan mengulurkan tangannya.
"Iya, ini Sehun."
"Bukankah kau seorang bintang film?" Oh, Tuhan. Dia akan membuat Sehun kesulitan. Seketika hening saat semua orang menghentikan percakapan untuk mendengarkan.
Wajahku memerah dan akan memulai menginterupsi, tapi Sehun memegang sikuku dan tersenyum padaku sebelum menjabat tangan Abeoji –Ayah Baekhyun- dengan mantap.
"Bukan sir, saya bukan artis atau bintang. Terima kasih untuk mengundang saya dan keluarga saya hari ini."
"Apakah aku perlu membuat perhitungan denganmu bila menyakitinya?" Abeoji tetap menggenggam tangan Sehun, menyipitkan matanya pada Sehun, dan aku serasa ingin mati saja. Sekarang.
Sial.
Sehun tertawa. "Tidak Sir. Bolehkah saya membantu Anda memanggang?"
"Kau tahu cara memanggang?"
Abeoji tersenyum dan menghembuskan nafas panjang.
"Saya tahu."
"Kenapa tidak bilang? Kita sedang memasak iga dan ayam." Abeoji menepuk bahu Sehun dan mengajaknya ke pemanggangan.
Saudara laki-laki Baekhyun datang untuk memperkenalkan diri pada Sehun dan menawarkan bir dan mengobrol.
Istri Joonmyeon, Yixing, memelukku dengan erat.
"Selamat ulang tahun." Dia adalah wanita yang kecil dengan rambut gelap dan mata hitam kecoklatan cerah.
"Terima kasih. Kau terlihat fantastik! Mana bayinya." Mataku melihat ke sekeliling pekarangan sampai aku melihat Anson meringkuk di lengan Baekhyun yang duduk di loveseats yang nyaman.
Yixing dan aku bergabung dengannya dan aku mengulurkan kedua tanganku. "Bayinya."
Baekhyun tertawa. "Aku baru saja menggendongnya."
"Aku tak peduli. Aku tak pernah menggendongnya. Berikan dia padaku, Kim."
Baekhyun memberikanku si Anson kecil dan aku meleleh. Dia sangat mungil, kurang dari dua minggu. Rambutnya berwarna gelap, panjang dan lebat, dan Yixing memakaikannya bando pink yang cantik. Bajunya berwarna pink dengan celana pink dan dia tak bersepatu.
Aku membelai pipi dan mencium keningnya. Dia tertidur, tak terpengaruh dengan pesta yang berlangsung di sekitarnya.
"Oh, Yixing, aku jatuh cinta padanya." Aku tersenyum kepada ibu baru itu dan dia bangga.
"Dia bayi yang cantik."
"Dia sangat indah." Aku melihatnya lagi dan memindahkannya sehingga dia bersandar di dadaku, melingkar dibawah daguku. Kubelai punggungnya dan mulai menimangnya dan bersenandung.
Tak ada yang seindah menggendong bayi yang baru lahir.
"Kau sangat manis." Aku berbisik pada bayi Anson.
Saat menaikkan pandangan mataku bertemu dengan tatapan Sehun yang intens.
Dia memperhatikanku, pandangannya tak bisa ditebak.
Apa yang dia pikirkan?
Aku tersenyum padanya dan salah satu sudut bibirnya melengkung keatas dan matanya melembut.
Aku menoleh ke kiri dan menemukan ibu Sehun, Mrs. Oh juga memandangiku dengan penuh pertimbangan. Sebuah senyuman pelan-pelan mengembang di wajahnya dan dia mengedipkan mata padaku.
Anson mengeluarkan suara bergumam dan kembali melihat kearahnya. Aku mengambil dot dan meminumkan ke mulutnya dan dia menyedot kencang, aku membelai rambut lembutnya dengan ujung jariku.
"Luhan!"
"Ha?"
Baekhyun tertawa. "Aku bertanya apakah kau membawa kamera."
"Tentu. Aku bawa yang model terbaru. Mungkin kita bisa foto keluarga setelah makan malam?"
"Tentu saja. Sekarang kembalikan bayinya padaku."
"Tidak mau."
"Kau sangat egois." Baekhyun cemberut padaku dan Yixing tertawa.
"Ya. Anson dan aku mau jalan-jalan." Aku berdiri menggendongnya dan berjalan menelusuri salah satu jalan setapak menuju ke taman yang teduh.
"Bunganya cantik kan, Anson?" aku bernyanyi untuk bayi yang tertidur itu dan mengayun-ayunkannya ke depan dan ke belakang.
"Kau pandai mengasuh bayi." Sehun datang dan bergabung bersama kami dan aku tersenyum malas padanya.
"Aku menyukai bayi. Aku tak pernah punya saudara, jadi aku dekat dengan Baekhyun dan keluarganya."
Aku mengangkat bahu dan mencium kepala Anson.
Sehun membelai pipi Anson dengan punggung jarinya dan hatiku berdebar. Jarinya terlihat begitu besar di pipi Anson yang mungil.
"Dia manis," Bisiknya.
"Kau juga manis." Dia menyelipkan helaian rambutku ke belakang telinga dan membelaiku hingga ke dagu dengan ibu jarinya sebelum menyelipkan tangan kembali ke sakunya.
Aku memandangi bayi yang tertidur ini dan untuk pertama kalinya aku membayangkan bahwa suatu saat aku akan memiliki bayi juga. Suami dan bayi, saat membayangkan ini di kepalaku, apakah pria ini yang akan ada di sisiku.
Aku terlalu senang. Hentikan ini. Singkirkan pemikiran tentang bayi ini.
"Hey! Makan malam sudah siap dan aku menginginkan bayinya kembali!" Baekhyun berdiri di pinggir pekarangan berteriak kepada kami, dan aku tersenyum pada Sehun.
"Aku harus bergulat dengannya nanti untuk mendapatkan bayi ini kembali."
Sehun tertawa dan memandu kami ke pekarangan untuk makan malam.
ooOoo
.
Ini adalah ulang tahun terbaik dalam hidupku. Keluarga Kim menyambut keluarga Sehun di dalam keluarga mereka dengan baik, melibatkan mereka dengan obrolan yang menyenangkan dan sangat menikmati pertemanan mereka. Mr. Oh dan Mrs. Oh terlihat rileks dan bahagia, tertawa bersama Abeoji dan Eomma, berbagi cerita tentang masa kecil anak mereka.
Para saudara lelaki Baekhyun; Joonmyeon, Yifan, Hansol dan Jongdae menggoda Sehun tanpa ampun tentang menjadi aktor terkenal, menanyakan tentang artis cantik, membicarakan banyak hal tentang sepak bola karena Yifan sekarang ini bermain untuk Seahawks, dan begitulah para laki-laki.
Ada apa dengan para lelaki dan sepak bola?
Sehun tertawa lebih banyak dari yang pernah aku lihat, dan aku merasa lebih jatuh cinta lagi padanya saat melihatnya bersama keluargaku. Dia sangat perhatian padaku, menuangkan minumanku, menggandeng tanganku dan selalu di dekatku sepanjang malam.
Aku kira aku akan merasa lebih tertekan oleh hal lain, tapi dia membuatku merasa dicintai.
Karena dia mencintaiku.
Bayi Anson sudah berpindah-pindah tangan sepanjang malam ini, dan sekarang dia berbaring dengan tenang di gendongan Mrs. Oh. Mrs. Oh mengaguminya.
"Memiliki cucu adalah yang terbaik kan?" Eomma tersenyum lembut pada cucunya.
"Kami belum punya cucu, tapi aku sudah tidak sabar memilikinya." Mrs. Oh menyeringai pada Eomma dan beralih pada Sehun dan dia menggeliat di kursinya.
Aku tak bisa menahan diri untuk tertawa melihat Sehun.
"Apakah kau menertawakanku, baby?" Sehun menyipitkan matanya padaku tapi aku melihat humor pada pandangannya.
"Iya, itu lucu."
"Ok, waktunya makan kue!" Baekhyun keluar dari rumah membawa kue coklat cantik dengan dua puluh enam lilin menyala diatasnya.
"Kau akan membakar rumah ini dengan itu, Baekhyun."
Dia menyeringai dan meletakkannya di depanku.
"Make a wish," Sehun berbisik di telingaku.
Aku meniup semua lilin itu dalam satu tiupan.
Eomma memotong kue dan membagikannya. Baunya sangat wangi. Eomma membuat kue yang paling lezat.
"Terima kasih sudah membuatkan kue favoritku, Eomma." Aku mencondong untuk mencium pipi Eomma.
"Sama-sama, sayang. Aku mencintaimu."
"Aku mencintaimu, juga."
"Ok, sekarang kado!" Baekhyun berdiri dan aku mengernyit.
"Tidak usah memberi kado. Berapa kali aku harus bilang pada kalian, tidak usah memberi kado!"
Semua orang menertawaiku.
"Kami tidak mendengarmu." Joonmyeon menyeringai padaku dan aku membelalakkan mataku padanya.
"Aku tidak suka padamu."
"Kau menyayangiku."
"Kalian sudah melakukan banyak hal untukku." Aku memandang kearah Sehun dengan cemas. "Itu membuatku malu saat kau membelikanku barang-barang."
"Ini bukan ulang tahunmu kecuali kau mendapat hadiah." Baekhyun menaruh kotak kado berwarna merah yang cantik di depanku. "Buka punyaku terlebih dahulu."
Dia berharap sambil duduk di kursinya dengan antusias dan moodku jadi naik.
Dia membelikan parfum favoritku dan gelang perak yang cantik.
"Oh, terima kasih! Aku menyukainya!"
"Bolehkah aku meminjamnya?" kita semua tertawa dan kami kembali rileks, menikmati keluargaku.
Seperti biasa, mereka sedikit berlebihan. Para lelaki bersaudara itu memberikan kartu sebagai hadiah.
"Belanja lagi!" Baekhyun dan aku berseru bersamaan dan kami semua cekikikan.
Sehun tertawa di sebelahku dan mencium pelipisku dan aku tersenyum malu padanya.
Mrs. Oh dan Mr. Oh berbaik hati memberiku kartu hadiah untuk digunakan di toko Microsoft di Bellevue. Wow.
"Terima kasih banyak."
"Dengan senang hati, sayang." Mrs. Oh tersenyum dan mencium kepala Anson yang mungil.
"Kami selanjutnya." Eomma memberiku kotak kado dengan kertas berwarna ungu.
"Pesta ini sudah lebih dari cukup!"
"Kau tidak bisa menolak kami," Abeoji menggoyangkan jarinya dan mencoba untuk terlihat keras, tapi aku tidak takut dan aku terkekeh.
"Aku akan membuatmu berlutut."
"Siap, Pak." Aku membuka tas itu dan menemukan sepasang anting yang kukenali dan aku menahan nafas, memandang ke arah mereka.
Mereka berdua tersenyum lembut padaku.
"Ini adalah milikmu." Aku melihat sepasang anting berlian yang berbentuk tetesan air dan membelainya dengan jemariku. Anting itu sudah dibersihkan dan berkilau di keremangan malam.
"Kami ingin kau memilikinya," Eomma meneteskan air mata dan aku juga juga mulai menangis.
"Ini milik Ibumu, seharusnya ini untuk Baekhyun." Suara berat karena air mata.
"Aku punya banyak perhiasan. Ini memang untukmu. Eommamu mencintaimu."
Baekhyun membelai rambutku dan aku tahu jika aku bergerak aku akan menangis.
Aku begitu dibanjiri kasih sayang oleh keluarga ini.
Aku menggelengkan kepala, dan berlari meninggalkan kursi mengitari meja untuk memeluk Eomma dan Abeoji erat. Eomma menyeka matanya dan Abeoji menangkup wajahku di tangannya dan menyeringai padaku.
"Kami mencintaimu, baby girl."
"Aku mencintaimu juga. Terima kasih."
Aku kembali duduk dan melihat kearah wajah Sehun yang tampan. Dia tersenyum dan mencium jariku.
"Yang terakhir." Sehun memberiku amplop manila kepadaku.
"Tidak, sayang, kau sudah memberiku terlalu banyak." Aku menggelengkan kepala dan membelakangi meja untuk menghadap kepadanya.
"Bukalah," katanya, jengkel dan mendorong amplop itu kembali padaku.
"Buka sajalah!" Yifan berteriak dari seberang meja dan aku membelalakkan mataku padanya.
"Aku tidak sabar dengan semua ketegangan ini!"
Kami semua tertawa dan aku membuka amplop itu.
Aku menarik dua buah passport dan sebuah rencana perjalanan. Aku membaca rencana perjalanan itu dan merasakan wajahku memucat dan mulutku ternganga.
"Kita akan ke Tahiti?!"
Semua orang di meja heboh dengan wow dan siulan dan teriakan kesenangan. Para lelaki bersaudara bertepuk tangan, memberikan Sehun penghormatan dan dia tertawa.
"Ya, besok, untuk seminggu."
"Tapi, kita harus bekerja."
"Proyekku yang sekarang baru saja selesai, dan aku berharap kau akan menjadwal ulang janji temu mu." Dia memandangku dengan cinta yang memancar dari matanya yang hitam kecoklatan.
"Wow. Tahiti?"
Dia tertawa dan menciumku, langsung di bibir, di depan seluruh keluargaku.
"Cari kamar!" Jongdae berteriak.
Aku berdehem dan melihat ke arah semuanya di pekarangan. "Aku hanya ingin bilang," sudut mataku mulai meneteskan air mata. "Semua orang yang paling aku cintai di dunia ini ada di sini, dan aku tak bisa mengungkapkan betapa aku berterimakasih karena memiliki kalian. Terima kasih atas semua yang telah kalian lakukan untukku, tidak hanya untuk kado-kado yang ini. Aku merasa terberkati. Bahkan para lelaki juga memiliki momen yang indah." Aku tersenyum pada mereka dan mereka memberikan salut padaku dengan minuman dan kedipan mata mereka.
Aku mengambil nafas dalam. "Terima kasih telah menjadikanku bagian dari keluarga kalian. Aku sangat mencintai kalian."
Aku memandang Sehun dan tiap-tiap wajah yang sangat kusayangi. "Sekarang, berikan bayi itu padaku."
ooOoo
.
TBC
.
ooOoo
.
.
.
Thanks for:
Rly. C. JaeKyu (2x) | .39 (tunggu saja chap berikutnya kkk) | noVi | Juna Oh | fuckyeahSeKaiYeol (ampe 6 chap lagi^^) | DEERHUN794 | Arifahohse | De 7oohluhanm (sehun asli romantis g ya? lol) | Selenia Oh (bulan ini varokah) | Seravin509 | ramyoon (bunda yang seksih) | keziaf (2x) | AGNESA201 (sengaja pilih pake mereka xD)
.
Selamat Ulang Tahun Luhaaan :*
[160420]
Yang ada di koriyah semoga dapet hadiah plesples dari ayah
semoga ayah apdet samting~
.
See you next chap~
