Remake A Mask

.

Chapter 9

Main Cast : Park Jimin

Pair : YoonMin

Genre : Romance Mystery

.

Happy reading

Love and Peace :3

.

.

.

Park Jimin P.O.V

24 November 2015

10.15 am

Mataku memperhatikan kamar artis ternama ini, mengerut jijik menatap genangan darah yang mengotori lantai. "Aku tidak mau masuk," ucapku dengan gelengan kepala. Menolak mati-matian untuk tidak menjamah ruangan yang sudah tampak seperti tempat pemotongan daging.

"Hyung, kita akan memasuki kamar Kim Soo Hyun! Apakah kau tidak mau merasakan sensasinya?" Jungkook mulai menggunakan baju pelindung yang terbuat dari plastik bening, menutup dari ujung kaki hingga kepala.

Peduli setan, aku tidak mau masuk ke dalam kamar penuh darah dan daging manusia yang masih tertempel di langit-langit kamar. Demi Tuhan! Bahkan cairan merah menjijikkan itu terkadang menetes ke bawah.

"Masuk saja, cari clue secepat mungkin dan selesaikan. Lagipula, kau sudah menggunakan pakaian pelindung." Ketua Hakyeon memaksa tubuhku untuk memasuki kamar yang bisa terbilang luas.

"Ti—tidak, Ketua Hak— sabar dulu! Aku bisa munt—" Mulutku berhenti bicara saat kaki mulai merasakan licinnya cairan darah. Mendadak seluruh tubuhku meremang, merasa geli sekaligus mual.

"Kau tahu betapa banyaknya reporter di luar? Mereka menunggu jawaban dari kita, kurasa kita bisa terkenal seperti Tim Dua." Hoseok menyeletuk dengan sedikit terkikik, tangannya memegang tangga besi. Menjaga Taehyung yang sedang berusaha mencabut bagian kaki Kim Soo Hyun dari plafon menggunakan palu.

Aku ingin menjawab dengan nyolot, bahwa aku tidak peduli dengan ketenaran atau apalah itu. Aku hanya ingin keluar dari ruangan ini! Seorang Park Jimin bahkan muntah menonton rekaman pembunuhan dan sekarang mereka berharap aku bisa tahan dengan adegan yang terpampang secara langsung? Tentu saja tidak.

Perutku mendadak mual di saat aku berusaha mendongak, menatap potongan daging manusia yang dipaku di plafon hingga membentuk sebuah karya seni.

Karya seni kali ini? Tanduk rusa.

Dengan hiasan kepala Kim Soo Hyun di tengahnya.

Kenapa— kenapa!? Ada manusia yang begitu anehnya membunuh orang lain dengan segala macam cara di luar akal manusia. Maksudnya, apa yang salah denganmu wahai para psikopat di dunia ini? Bisakah kalian hanya membunuh dengan cara menusuk dan membuang mayat tersebut ke sungai? Bukankah itu lebih menghemat waktu serta efisien?

"Kau tak apa, Jimin-ah? Dirimu tampak pucat sekali." Woozi mendadak menyenggol lenganku, membuat aku menggeleng pelan.

"Aku hanya tidak tahan melihat hal-hal seperti ini." Aku menjawab dengan nada lemah. Woozi yang paham menepuk pundakku untuk sekedar memberi semangat. Aku pun bergumam terima kasih seraya melirik Ketua Hakyeon. Manusia biadab itu masih di luar kamar, bersandar pada dinding ruang tamu dan sibuk menelepon seseorang.

Beberapa orang fokus memfoto untuk mengumpulkan bukti yang ada. Tim Forensik juga mulai bergerak, melepas beberapa anggota tubuh dan memasukkannya ke dalam kantung mayat. Sedangkan aku masih diam di tempat, sedikit berusaha untuk bergerak tanpa merasakan jijik sedikitpun.

"Pemotongannya rapi, dia benar-benar menggunakan gergaji untuk melakukan ini semua." Taehyung berkata seraya menghelakan napas. "Berkas yang dikumpulkan Tim Dua tidak lengkap sama sekali. Hanya berisikan riwayat hidup korban serta penjelasan singkat soal pembunuhan ini. Kita tidak akan mendapatkan apapun kalau hanya sekedar membaca berkas tersebut."

Taehyung mendadak melompat turun dari tangga dengan tangan memegang kaki kiri Kim Soo Hyun. "Kita harus menyusun semua berkas itu hingga menunjukkan sebuah pola," ucapnya sembari memberikan kaki tersebut ke Woozi.

"Tim Dua bukanlah tim terbaik, Taehyung-ah. Lagipula mereka sedang disibukkan oleh kasus psikopat yang terus hilang dan muncul itu." Hoseok menimpali, sedikit terkikik kecil saat Jungkook berteriak dari ujung kamar bahwa dirinya setuju akan ucapan manusia kuda itu.

Taehyung sedikit mendengus, mengeluarkan kaca pembesar miliknya dan mulai mencari petunjuk di berbagai tempat. Menyusuri kamar milik artis ternama itu dengan teliti.

Diam-diam aku sedikit kagum akan desain interior yang tampak begitu apik nan elegan. Kim Soo Hyun memang sering dikatakan sebagai artis dengan selera tinggi. Dia menyukai hal-hal bertema kerajaan, maka dari itu tidak heran jika aku dapat melihat sebuah lukisan kuno—tampak seperti Hogwarts di mataku—terpampang gagah di dinding kamar.

Sungguh, ini adalah ruang tidur yang indah. Apalagi dengan tambahan sebuah tirai megah yang menutupi jendela besar di sana, menambahkan kesan sebuah kamar kerajaan. Jikalau suatu saat nanti aku mendadak kaya, mungkin aku akan membangun rumah seperti ini. Sayang, semua itu berubah menjadi mengerikan dengan adanya potongan tubuh serta darah di tiap sudutnya.

Membuat aku benar-benar terdiam kaku dan sulit bergerak. Ini terlalu— entahlah, aku bahkan tidak bisa mendeskripsikan dengan kata-kata.

"Hyung, aku menemukan sehelai rambut." Jungkook tiba-tiba berjalan ke arahku dengan tangan yang memegang sebuah pinset. Setiap langkah yang ia ambil menimbulkan suara kecipak menjijikkan yang mampu membuat bulu kudukku meremang.

Berharap ada seseorang yang mau membersihkan ini semua nanti, setelah kami selesai melakukan pemeriksaan TKP.

Hoseok mendekat ke arahku, melihat rambut tersebut dan tersenyum tipis. "Rambut Kim Soo Hyun berwarna perak. Jelas ini bukan miliknya," katanya dengan mata memperhatikan gerakan Jungkook yang memasukkan helai rambut tersebut ke dalam kantung plastik bening. Memberikan kantung tersebut ke Woozi agar diteliti oleh ahlinya.

"Itu sebuah jackpot," lanjutnya santai. Senyum penuh kemenangan sudah terpampang di wajahnya.

"Kalau begitu, bisakah kita pergi sekarang? Maksudku— aku benar-benar tidak nyaman berada di sini." Aku berkata dengan sedikit memohon. Membuat Jungkook terkikik kecil dan Hoseok Hyung yang mengelus rambutku dari luar pelindung.

"Baiklah, kita keluar." Taehyung tiba-tiba muncul, langsung melenggang pergi menuju ke luar kamar.

Aku pun mengikuti Hoseok serta Jungkook, berbalik badan lalu—

—sebuah tangan mendadak jatuh dari arah atas.

Jungkook memekik, Hoseok tersentak, dan aku merosot jatuh ke bawah lantai. Terlalu lemas bahkan untuk berteriak.

"Hyung—" Aku memegang baju pelindung Hoseok erat, membuat Hoseok yang masih mengelus dadanya karena terlalu terkejut menatap ke arah bawah. "Anu— aku mau muntah," ucapku seraya mendongak dengan mata berkaca-kaca.

"Jangan muntah di sini! Aku antar ke toilet!"

.

.

.

02.00 pm

Aku mengambil satu kapsul obat pereda sakit kepala dan meninumnya cepat. Semenjak pulang dari rumah Soo Hyun, tubuhku mendadak merasa lelah yang luar bisa serta denyutan di kepala. Entah karena apa, namun aku bernar-benar ingin beristirahat.

"Jimin-ah, kau tak apa?" tanya Hoseok pelan dengan kepala yang masih memperhatikan papan tulis. Mendengarkan ocehan Ketua Hakyeon tentang kasus mutilasi tadi pagi.

Aku pun menggeleng pelan sebagai jawaban. "Aku hanya butuh istirahat, Hyung," gumamku dengan helaan napas panjang.

"Korban pertama adalah seorang reporter. Berusia 25 tahun, laki-laki, dan bernama Sung Ha Jung. Mati dibunuh oleh pembunuh yang sama pada tanggal 19 September. Berarti itu dua bulan yang lalu. Dan—"

Aku berusaha untuk fokus, menatap Ketua Hakyeon yang menunjuk foto lelaki tua dengan spidolnya.

"—korban kedua, seorang pemilik tanah di daerah XX. Dibunuh pada tanggal 3 Oktober, berusia 56 tahun, bernama Kim Jung In. Dan sekarang tanah itu dibeli oleh—"

Suaranya terhenti ketika sebuah telepon masuk ke ponselnya. Sempat ia mendecak kesal sebelum kemudian menatap kami semua dengan senyum tipis. "Maaf, lanjutkan saja pembahasannya tanpa diriku," ucapnya sembari berlalu pergi.

Taehyung mendadak berdiri, menempelkan satu berkas di tengah papan tulis dan membulatinya dengan spidol. Setelah itu dia berbalik badan, membuat aku sedikit menyipitkan mata untuk fokus menatap gambar tersebut.

"Star-M Mall, aku mengumpulkan semua berita secara acak. Mulai dari berkas-berkas itu hingga beberapa situs dunia maya. Dan semua menuju pada mall ini," katanya seraya menunjuk gamar tersebut dengan jemari.

"Pada tanggal 17 September, dua hari sebelum kematian Sung Ha Jung. Dirinya memberitakan soal keburukan mall ini karena melayani pelanggan dengan sangat buruk. Kalian bisa melihat di internet, berita tersebut benar-benar menjelekkan Star-M Mall. Dua hari kemudian? Mati."

Taehyung mencoret foto Sung Ha Jung dengan tanda silang, setelah itu dia kembali berjalan menuju mejanya untuk mengambil beberapa lembar kertas dan menempelkannya di atas papan tulis secara berurut.

"Tanggal 29 September, pihak Star-M menawari untuk membeli tanah tersebut demi memperbesar mall miliknya. Kim Jung In menolak entah karena apa dan beberapa hari selanjutnya, bisa kalian tebak. Pemilik tanah itu, mati." Kali ini Taehyung mencoret foto Jung In.

"Korban ketiga, apa kalian tahu bahwa Kim Soo Hyun memiliki sahabat baik?"

Jungkook menggeleng saat pertanyaan itu terlontar dari mulut Taehyung. Sedangkan aku mengangguk dengan mata melebar.

"Woo Hyun! Pewaris tahta tunggal dari Star-M Mall." Aku berkata dengan sedikit mengingat-ingat. Aku memang mengikuti dunia entertainment dan sering membaca beberapa berita. Kim Soo Hyun sendiri tergolong seorang figur publik yang paling banyak disorot media. Sebagian dari kisah hidupnya menjadi cerita orang banyak, termasuk tentang sahabat karibnya—Woo Hyun—.

"Benar. Jadi tersangka kita hanya satu. Orang yang paling berkuasa di Star-M, Tuan Nam." Taehyung menempel satu foto tepat di atas gambar Star-M Mall.

"Kita akan melakukan penangkapan jika hasil forensik sudah keluar. Sebelum itu, Jungkook, kau kumpulkan semua bukti yang mengarah kepada Tuan Nam. Dan Hoseok, ikut aku ke laboraturium untuk bertemu Woozi. Sedangkan Jimin—" omongannya terhenti, menatapku lama lalu mendesah pelan.

"Beristirahatlah, wajahmu tampak pucat," katanya yang membuat aku tersenyum tipis.

.

.

.

Mataku mendadak terbuka, merasakan cuaca yang begitu dingin membuat tubuhku sedikit menggigil. Sejak kapan kantor menjadi begitu dingin?

Aku berdiri dari dudukku, menoleh ke arah sekitar dan kantor itu kosong— tidak ada orang sedikitpun.

"Jungkook—" Mulutku berhenti bergerak di saat aku tidak bisa mengeluarkan suara apapun. Membuat aku memegang leher dengan tatapan terkejut. "Hoseok Hyung! Tae-ah!" Tidak sedikitpun suaraku terdengar.

Kenapa?

Kepalaku langsung menoleh ke segala arah. Tidak ada siapapun di ruangan ini kecuali diriku sendiri. Beberapa berkas berserakan di lantai, kopi berutmpahan, kursi-kursi patah, bahkan satu-dua meja terbakar. Apa-apaan ini?

Apa maksud semua ini?

"ADA ORANG DI SINI?!" Aku berusaha berteriak sekuat mungkin, tetap saja tidak ada suara yang keluar. Membuat aku mendadak ketakutan. Bagaimana mungkin aku bisa bisu dalam waktu beberapa jam?

Diriku mulai panik, berlari keluar ruangan dan menyusuri koridor. Semua begitu hening, sunyi, hampa. Bagaikan tidak ada kehidupan sama sekali. Pemikiranku mendadak kacau, tidak tahu harus berlari kemana.

Mulutku terus bergerak, memanggil semua nama yang kutahu. Bahkan tak jarang aku menyebutkan nama ayah dan ibu. Walau begitu, tidak ada satupun suara yang keluar dari pangkal tenggorokan. Pita suaraku mati, tidak bekerja.

Aku mulai merasakan hal yang tidak enak. Tubuhku terasa begitu dingin walau aku sudah berlari entah berapa lama. Kantor ini tidak memiliki ujung. Aku terjebak dalam keadaan terlalu takut, terlalu bingung, dan terlalu panik.

"YOONGI HYUNG!" Tiba-tiba nama itu keluar dari mulutku sendiri. Begitu kuat hingga bergema ke ujung koridor. Tubuhku mendadak berhenti karena bahagia. Akhirnya aku bisa bersuara dengan segala kekuatan. Sekarang aku bahkan bisa merasakan rasa sakit di tenggorokan karena berteriak terlalu keras.

Mulutku menyunggingkan senyum senang, sebelum akhirnya lantai yang kupijak berubah menjadi warna hitam kelam. Dinding kantor secara perlahan menghilang, termakan oleh warna gelap tersebut.

Kepalaku memutar, melihat ke seluruh arah dengan pandangan bingung. Hingga akhirnya berhenti tepat di sebuah meja panjang yang berada di sebelah kananku.

Diriku terdiam, menatap meja makan tersebut dan mendadak merasakan mual. Piring-piring berjejer begitu rapi dengan hiasan tiga lilin di tengah meja. Namun, isi piring tersebut adalah potongan daging manusia. Darah menetes di setiap ujung meja, membuat warna hitam lantai sedikit ternodai.

Mataku kembali fokus pada orang yang duduk di salah satu kursi besar di ujung meja. Menatapku dengan mulut mengunyah makanannya. Tubuhku mendadak bergetar hebat begitu mata ungu serta topeng mengerikan itu terasa menusuk ke dalam badanku.

Mengerikan dan begitu elegan.

Ia berdiri dari duduknya, berjalan ke arahku dengan mata yang perlahan-lahan berubah warna menjadi hitam legam. Ketika ia sudah berdiri tepat di hadapanku, tubuhku bergerak ke belakang. Hanya selangkah, karena demi Tuhan aku merasa dirinya mengambil alih seluruh kerja ototku. Membuat aku tidak bisa bergerak sedikitpun.

"Hai, Park Jimin."

Aku terpaku mendengar suaranya yang normal, tidak seperti di rekaman. Terkesan biasa dan… familiar.

Dahiku mengerut, menatap dirinya dengan penuh tanya. Apakah aku mengenalnya? Kenapa suaranya terdengar tak asing?

Mendadak, masker itu terbuka dengan sendirinya. Menampakkan wajah yang mampu membuat aku terdiam seribu bahasa.

Bibir, hidung, mata, bahkan rahangnya yang begitu kusukai. Kenapa—

"Yoongi Hyung?" Suaraku bergetar nyaris berbisik. Tenggorokanku merasa tercekat sesaat lelaki itu menyunggingkan senyum tampan miliknya. Tanpa kata dan tanpa pergerakan. Ia hanya berdiri di sana seraya melihatku dengan tatapan intens.

Membuat aku secara perlahan melangkah menjauh, tubuhku bergetar kuat hingga aku tidak bisa bernapas sedikitpun. Namun, aku cukup kuat untuk terus menjauh dari Yoongi selagi diriya hanya diam di tempat.

Hingga mataku mengedip sekali dan dirinya mendadak hilang. Membuat aku panik, mengedarkan pandangan secara liar. Mencari-cari di mana sosok lelaki itu berada sekarang. Seluruh tubuhku bergerak sembarangan, begitu takut jika tiba-tiba Yoongi muncul dari arah belakang dan membunuh diriku langsung.

"Jimin Hyung!"

Jungkook? Suara Jungkook, 'kah?

Suara yang entah dari mana itu membuat gerakanku terhenti. Kepalaku spontan menengadah ke atas, mencoba memfokuskan diri untuk mendengar suara tersebut.

"Hyung, bangun."

Apa? Maksudnya—

Tiba-tiba napasku mendadak tercekat di saat sebuah lengan memeluk dari arah belakang, tertutupi oleh hoodie abu-abu kumal milik Yoongi. "Jimin-ah, tidak apa— aku tidak apa." Suaranya terdengar begitu nyata dan memilukan.

Membuat aku tanpa sadar menangis kala Yoongi menelusupkan kepalanya ke perpotongan leherku. Mencium sesaat dan mengeratkan pelukan. Entah kenapa rasanya begitu sakit, takut, dan menyedihkan. "Aku tidak akan mati—"

Aku sukses berteriak, menangis sekuat tenaga. Rasa takut bercampur sedih mengambil alih seluruh tubuhku. Membuat aku memanggil nama Yoongi berulang-ulang, dengan penuh kesedihan dalam hati. Rasanya begitu sakit, tapi kenapa?

Hingga akhirnya—

"Jimin Hyung, bangun. Hyung!"

Suara itu muncul lagi, kali ini bersusulan dengan guncangan di lantai. Membuat pelukan itu semakin dalam. Tanganku memegang lengan Yoongi kuat, menutup mata erat, serta mencoba untuk tidak terjatuh saat guncangan itu terjadi.

"JIMIN!"

"BANGUN!"

.

.

.

"JIMIN HYUNG!" Tubuhku tersentak, menolak meja hingga kursiku terdorong ke belakang dan menabrak kursi milik Taehyung. Napasku tersengal-sengal, keringat dingin muncul di dahi, dan seluruh tubuhku bergetar hebat.

Apa aku… bermimpi? Tentu saja mimpi. Tidak mungkin kejadian aneh itu terjadi di dunia nyata.

"Hyung? Kau tak apa?" Jungkook tiba-tiba muncul, berjongkok di hadapanku dengan kepala mendongak. Menatapku khawatir seraya mengelus lututku pelan. "Kau tadi tampak bermimpi buruk. Aku berusaha membangunkanmu— dan, oh, Tuhan! Bibirmu pucat sekali, Hyung!"

Aku hanya bisa mencoba menetralkan napas serta detak jantungku sendiri. Secara perlahan aku menggelengkan kepala. Mengatakan bahwa aku baik-baik saja dan Jungkook tidak perlu berjongkok seperti itu.

Membuat sang pemuda kelinci duduk di kursi milik Hoseok dengan mata khawatir. "Hyung sudah tertidur selama tiga jam. Kau nampak tidak baik, Hyung. Pulang saja jika kau kelelahan, biarkan kami yang menyelesaikan semuanya di sini." Tawaran Jungkook memang membuat aku ingin mengangguk setuju.

Ada yang salah dengan tubuhku semenjak muntah tadi pagi. Sedari subuh aku tidak makan sama sekali, kecuali meminum air segelas. Aku pun hanya menyiapkan sarapan untuk Yoongi dan langsung kembali pergi bekerja. Kemudian justru memuntahkan semua isi perut yang hanya berisi air putih. Kurasa itu alasan kenapa tubuhku melemas. Lalu akhirnya aku bermimpi buruk karena terlalu lelah.

"Aku akan pulang, sebentar lagi," ucapku dengan nada tidak teratur. Jungkook pun mengangguk pelan dan kembali pada laptopnya sendiri.

"Hasil laboratorium sudah keluar, tersangka utama pembunuhan adalah bodyguard Tuan Nam. Sekarang ia sedang dalam usaha untuk melarikan diri. Ketua Hakyeon, Taehyung, serta Hoseok sedang dalam pencarian untuk mengejar pembunuh itu." Jungkook menjelaskan, membuat aku mengernyitkan dahi.

"Lalu dirimu?" tanyaku pelan yang membuat dia menggelengkan kepala.

"Taehyung menyuruhku berjaga di sini. Menyusun laporan untuk diserahkan kepada jaksa sekaligus menjaga dirimu, Hyung, dan menunggu paket itu." Tangannya menunjuk sebuah paket di atas mejaku.

Oh sial, aku sedang tidak berniat untuk menonton pembunuhan apapun hari ini dengan kondisi badan seperti sekarang.

Secara perlahan, aku kembali menggerakkan kakiku untuk mendekat ke meja sendiri. Memandang paket itu lalu melirik Jungkook yang sedang bersantai, mengetukkan kakinya di atas lantai berkali-kali sambil bersenandung kecil.

"Kau tidak ingin membuka ini?"

Jungkook berhenti bersenandung, menatapku dan tertawa renyah. "Tidak," jawabnya dengan nada sedikit takut.

Entah kenapa, aku merasa setiap menghembuskan napas terasa begitu berat dan panas. Membuat aku tanpa sadar mengukur suhu tubuh sendiri dengan telapak tangan. Apa aku demam?

"Hei, Jungkook-ah." Aku memanggil Jungkook yang masih bernyanyi dengan suara pelan untuk mendekat. Setelah itu aku langsung menyuruh Jungkook untuk membandingkan suhu tubuh kami berdua.

"Kau sedikit hangat, Hyung. Pulang ke rumah sekarang dan aku akan memberitahu yang lain bahwa dirimu sakit." Terselip nada khawatir dalam setiap perkataannya, membuat aku tersenyum tipis. Terkadang bocah ini bisa bersikap baik juga.

"Aku akan pulang setelah menonton ini," kataku seraya membuka paket itu. Rasa penasaran memang susah untuk dilawan. Kurasa aku masih bisa menahan beberapa adegan mengerikan lainnya dan setelah itu berbaring sepuas mungkin di atas kasur apartement.

"Oh iya, kau memiliki suara yang bagus dari dulu, Jungkook-ah. Kenapa tidak menjadi idol saja?" Aku menyeletuk, berbasa-basi untuk mengisi keheningan saat memasukkan CD ke dalam laptop.

Namun, tanpa disangka Jungkook menghela napas kuat. Membuat aku menatap ia yang sekarang sudah tersenyum miris. "Dulu inginnya seperti itu, mungkin bukan takdir," jawabnya penuh kepasrahan.

Aku pun hanya bisa mengangguk mengerti. Takdir memang sulit sekali untuk dilawan, lagipula jika Jungkook menjadi penyanyi di luar sana, mungkin aku tidak akan bertemu dengan seorang bocah kurang ajar yang sangat lucu.

"Jika Hyung menontonnya, maka aku juga akan menontonya!" ucap Jungkook sembari menarik laptopku untuk berada lebih ke tengah. Aku pun tersenyum tipis melihat tingkah lakunya.

Begitu rekaman itu mulai, aku mulai berucap dalam hati. Jika ada adegan mengerikan, aku akan benar-benar menutup mata dan hanya mendengar teriakannya saja. Namun ternyata, yang muncul adalah sebuah ruangan putih dengan meja panjang di tengah-tengahnya.

Meja yang muncul di dalam mimpiku. Sama persis hingga aku merasa tercekat. Mulai dari tiga lilin di tengah meja, piring-piring dengan daging—kali ini daging manusia itu sudah dimasak matang—hingga psikopat yang menduduki kursi besar di ujung meja.

Jangan bercanda… aku benar-benar merasa sulit untuk bernapas sekarang.

"Hai, Park Jimin." Diriku tersentak, menggenggam erat lengan Jungkook yang berada di sampingku. Berbeda dari dalam mimpi, psikopat itu sekarang menggunakan alat pemalsu suara.

Oke, sekarang aku yakin. Selain diriku memiliki feeling yang begitu kuat, aku juga adalah seorang cenayang yang bisa menerawang masa depan dari mimpi. Walau sejujurnya aku tidak yakin bahwa seorang Min Yoongi adalah psikopatnya.

Maksudku, kemungkinan hanya 0,01 persen. Rasanya dugaan itu tidak mungkin jatuh pada pria berbadan kurus dan selalu menyeret kakinya saat berjalan atau pemuda dengan kulit yang nyaris pucat. Dia tampak seperti mayat hidup daripada psikopat kanibal.

Membuat aku sedikit berpikir, kenapa dalam mimpiku hanya ada Yoongi di sana? Apa mungkin karena dia kekasihku?

"Jeon Jungkook—" Lelaki itu kembali berbicara, membuat aku yang tadinya sedikit tidak fokus menjadi lebih serius memperhatikan video tersebut. "—Jung Hoseok, Cha Hakyeon, dan terakhir Kim Taehyung. My beloved enemy."

Tentu ia tahu nama kami semua, tapi kenapa dirinya mengabsen satu per satu dengan suara mengerikan itu? Membuat aku sedikit ketakutan saja.

"Hari ini kita cukup berbicara saja. Tidak masalah bukan, jika kalian menemaniku makan?" Dia bertanya dengan sedikit kikikan kecil. Setelah itu ia menyuapkan satu daging ke dalam mulut dan mengunyahnya.

"Mungkin kalian bertanya, kenapa aku melakukan ini? Memakan daging manusia, membuat kalian kesulitan, juga membunuh seseorang." Ia menyebutkan semua kejatahan yang diperbuat dengan begitu santai, seakan semua hal itu tidak salah sama sekali.

"Tapi tenang, aku tidak akan membunuh kalian. Ada manusia lain yang lebih bernafsu untuk membunuh satu-dua orang di antara kalian. Aku di sini hanya membuat permainan kecil, menyusahkan kalian, dan menikmati daging manusia."

Mataku membesar, memutar ulang setiap perkataanya. Dia bilang apa tadi? Ada manusia lain yang lebih bernafsu untuk membunuh satu-dua orang di antara kami ? Apa itu berarti ada pembunuh lain selain dirinya? Atau dia berkata seperti itu untuk sekedar berbasa-basi? Akh! Kenapa perkataannya sulit sekali untuk dimengerti?

"Semua kejahatan akan terasa lebih mudah dilakukan jika kau memiliki otak yang jenius. Membuat permainan seperti ini begitu menyenangkani, membuat adrenalinku terpacu. Bagian favoritku adalah melihat kalian yang merangkak untuk menemukan diriku."

Sialan. Walau yang dikatakannya itu benar, tetap saja aku merasa terhina. Perkataannya, nadanya, benar-benar menginjak harga diri seorang detektif!

"Kecuali Taehyung, dia berbeda dan dia mengerti semuanya," ucap lelaki itu santai. "Dia mengerti betapa menyenangkan mendengar suara teriakan seseorang, menyiksa seseorang, dan membunuh seseorang. Betapa indahnya darah itu saat mengalir atau betapa serunya memotong daging-daging tersebut. Dia mungkin— mengerti."

Apakah ada yang tidak diketahui psikopat sialan ini? Kenapa sekarang ia juga mengetahui kelainan seorang Kim Taehyung?

"Mari kita lihat siapa yang menang di dalam permainan ini. Aku atau kalian? Ah—" Dia mendadak menghentikan kegiatan makannya dan meletakkan garpu serta pisau yang berada di kedua tangan. "Menang atau kalah bukanlah sebuah jawaban. Bagaimanapun juga akhir dari cerita, akulah yang menentukan untuk berada di pihak mana, kalian atau kejahatan?"

Aku terdiam mendengarnya. Kenapa ia berkata seperti ini sekarang? Demi Tuhan, apapun yang ia ucapkan bermakna ambigu. Membuat aku harus menelaah kata itu satu persatu di dalam hati.

"Lagipula, jika aku kalah di korban kedelapan, aku hanya akan dimasukkan ke dalam penjara. Tidak apa juga mendapat hukuman mati. Bukankah hidup menjadi mudah? Di penjara semua fasilitas sudah ada dan aku tidak perlu memikirkan bagaimana nasib mayatku nanti setelah ditembak mati."

Ia tertawa kuat sekali, hingga aku dan Jungkook sedikit tersentak. "Nikmatilah permainan ini selagi kalian bisa, wahai pion-pion caturku. Salam, dariku psikopat yang tentu saja— jenius," ucapnya mengakhiri rekaman.

Ini adalah rekaman teraneh yang pernah aku lihat. Penuh dengan makna ambigu dan kata-kata mengerikan. Apakah seperti itu jalan pemikiran seorang psikopat? Kenapa terdengar tidak masuk akal?

"Hyung, Taehyung pernah mengatakan hal seperti itu." Jungkook bergumam dengan nada rendah, menatapku penuh ketakutan dan mencengkram erat lenganku. "Dia pernah mengatakan hal yang berarti sama dengan itu. Betapa enaknya hidup di penjara dengan semua fasilitas yang ada." Suara Jungkook sedikit bergetar, mata anak itu tampak panik. Membuat aku keheranan.

"Apa kau sekarang mencurigai Taehyung, Jungkook-ah? Hanya kalimat yang sama?"

"Bukan begitu, Hyung! Taehyung adalah seorang sociopath! Dia juga dulu perna—" omongan Jungkook terhenti, mendadak dia menggelengkan kepala dan berdiri dari duduknya.

Dengan sedikit tawa kecil dia mengenakan jaket dan mendengus. "Iya, tidak mungkin Taehyung. Dia sudah berjanji kepadaku untuk tidak membunuh siapapun setelah kejadian itu," gumamnya panik. Membuat aku semakin kebingungan.

"Jungkook-ah, kau kenapa? Kau tampak begitu panik dan ketakutan—"

"Hyung, pulang dan beristirahatlah. Aku ingin bertemu dengan Inspektur Daehyun untuk membahas sesuatu. Kembali ke kantor jika sudah benar-benar sembuh." Jungkook dengan terburu-buru menelepon Daehyun, bertanya-tanya di manakah Inspektur itu berada mengingat sedari pagi kami tidak melihatnya masuk kantor.

Setelah itu Jungkook langsung berlari pergi, meninggalkan aku sendirian di atas kursi dengan laptop menyala. Otakku begitu lambat merespon apa yang telah terjadi dan berakhir meringis sakit saat denyutan itu kembali muncul.

Obat sialan tadi tidak terlalu bekerja.

Akh, sudahlah. Lebih baik aku pulang saja lebih dulu, baru memikirkan semua keanehan yang terjadi.

.

.

.

25 November 2015

01.00 am

Lima hari sebelum korban terakhir pembunuhan kanibalisme.

"Aku bersumpah, kau adalah orang termanja yang aku temui selama ini," jelas Yoongi ketika aku semakin memeluknya erat. Merasakan kehangatan selimut serta kenyaman dari kekasih.

Tadi di saat aku berjalan di koridor dengan kepala pusing luar biasa, mendadak pintu apartement Yoongi terbuka. Menampakkan dirinya yang sedang menenteng tas laptop dan pakaian rapi. Ia ingin bertemu editor waktu itu, sebelum akhirnya membatalkan pertemuan karena aku yang mendadak ambruk di hadapannya.

Setelah meminum obat dan memakan bubur yang dimasak Yoongi, aku tertidur lelap sekali. Katanya badanku begitu panas saat ia terpaksa menggendong tubuhku untuk diletakkan di atas tempat tidur.

Dan beberapa menit yang lalu aku terbangun, mendapati dirinya sedang mengetik di sampingku. Membuat aku memeluknya secara tiba-tiba dan memaksa Yoongi untuk membalas pelukanku.

"Panasmu sudah turun. Kau seharusnya menyempatkan diri untuk mengisi perutmu," katanya yang aku abaikan. Diriku malah semakin memeluknya erat. Membenamkan kepala di dalam dada bidangnya dan menghirup harum maskulin milik Yoongi.

"Kau kenapa? Apa kau selalu manja jika sedang sakit?" tanya Yoongi seraya meletakkan laptopnya menjauh. Ikut masuk ke dalam selimut dan melingkarkan tangannya di pinggangku.

Aku pun mendongak, menatap wajahnya yang sekarang tersenyum tipis. Mendadak perasaanku menjadi begitu sedih. Membuat aku nyaris ingin menangis jika ia menatapku penuh kasih sayang. Kenapa seperti ini?

Kenapa aku merasakan rasa sedih luar biasa saat melihat Yoongi Hyung? Apa karena mimpi aneh itu?

"Mukamu tampak muram, apa ada masalah dengan kasusnya?" Yoongi menerka-nerka, membuat aku kembali membenamkan kepalaku di dalam dadanya.

Mungkin membahas kasus lebih baik daripada berlarut-larut di dalam kesedihan tidak beralasan ini. "Hyung, kurasa ada masalah dengan Taehyung, Jungkook, psikopat, dan Inspektur Daehyun. Aku mencurigai semua orang sekarang," gumamku dengan nada begitu pelan.

"Mencurigai semua orang? Berarti kau mencurigai diriku juga?" tanya Yoongi seraya meletakkan dagunya di atas kepalaku. "Akh sial, apa kejahatanku sekarang telah ketahuan olehmu?"

Mendadak aku meloloskan tawa. Mungkin sekarang jika aku menanggapi omongan Yoongi, dia akan mengeluarkan rayuan bodoh atau perkataan yang membuatku jengkel. "Memangnya kau berbuat apa?" Walau begitu, tetap saja aku bertanya kepadanya.

"Mencuri hati seorang Park Jimin." Tuh 'kan, benar. "Wah, itu kejahatan yang besar sekali," gumamnya seraya mengelus kepala belakangku.

Akhirnya, aku jadi tersenyum tipis. Menenggelamkan kepalaku ke dalam dadanya dengan pelan. "Hentikan rayuan anehmu, Hyung. Aku ingin membicarakan kasusku, Hyung malah seperti ini," kesalku yang membuat dirinya tertawa kecil.

"Oke, ceritakan saja semuanya."

Akan tetapi aku justru terdiam, tidak menceritakan apapun selain berpikir keras dan mengabaikan Yoongi yang menunggu.

Jika diurutkan satu persatu, Taehyung dengan segala penyakit kejiwaannya itu memang sedikit berbahaya. Bahkan kata Inspektur Daehyun, kemungkinan Taehyung membuat sebuah kasus dan memecahkannya sendiri demi kesenangan pribadi sangatlah besar.

Sociopath dan psikopat itu nyaris sama. Jika psikopat memiliki kesalahan dari janin di dalam saraf otak-otaknya yang membuat dia berpikir melenceng dari yang lain, maka sociopath diakibatkan dari lingkungan sekitar, berakhir menjadi si penderita berpikir layaknya psikopat.

Semua hal itu sudah aku pelajari sejak Taehyung hadir dan menjadi rekan kerjaku. Bagaimana seorang sociopath yang anti sosial masih bisa merasakan empati pada orang terdekat, hingga sikapnya yang spontan dan tidak terorganisir dalam melakukan sesuatu.

Kemungkinannya kecil sekali jika memang Taehyung yang menyusun ini semua. Lagipula dari perkataan psikopat gila itu, aku merasa ada sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekedar pembunuhan kanibalisme belaka.

Tapi mengingat seorang Jungkook, yang jauh lebih lama berada di dekat Kim Taehyung dengan segala kepintarannya mengendalikan seorang Taehyung, kenapa dia seperti itu? Seakan takut dengan kekasihnya sendiri.

Di antara kami berenam—termasuk Inspektur Daehyun—hanya Jeon Jungkook seorang yang paling mengerti tindakan Taehyung. Dia seolah tahu apa yang akan Taehyung lakukan selanjutnya juga apa yang akan Taehyung katakan. Hingga apa yang Taehyung pikirkan.

Dia bisa menerka itu semua dan ternyata benar. Seratus persen jika Taehyung mendadak kehilangan kendali dalam dirinya saat menghadapi kasus, maka hanya Jungkook yang bisa menenangkan Taehyung.

Jadi, kenapa ia curiga akan kekasihnya sendiri? Apa ada kisah lain yang tidak aku ketahui dalam masa lalu mereka berdua?

"Dan aku diabaikan. Kau ingin bercerita tapi tidak mengeluarkan suara sama sekali. Apa ini yang disebut bercerita dengan telepati?" tanya Yoongi, menyadarkan aku dari lamunan sendiri.

"Iya, bercerita dengan telepati. Jadi aku memilih untuk diam," balasku saat merasa badan kembali lelah. "Hyung, bubur buatanmu enak sekali."

Bisa kurasakan Yoongi tersenyum tipis, kembali mengelus punggungku dan mengecup puncak kepala. "Apa kasus itu memberatkanmu?" tanyanya dengan suara begitu rendah, membuat aku memejamkan mata untuk menikmati semua kenyamanan yang ia berikan.

"Untuk saat ini? Iya. Aku bahkan bermimpi buruk karena terlalu lelah dan banyak pikiran." Balasku tidak kalah pelan dan rendah.

"Aku mengerti, beristirahatlah sekarang." Yoongi sedikit berbisik di dekat telingaku. Walau tidak bisa melihat wajahnya, aku masih bisa membayangkan bagaimana rupa tampan seorang Yoongi di mataku.

Namun, di saat itu juga aku kembali teringat akan mimpi tersebut. Membuat aku kembali merasakan sedih dengan luar biasanya, bahkan bisa kurasakan aku nyaris menangis tanpa alasan yang jelas. Takut akan sesuatu, tapi apa?

Akhirnya aku hanya mencengkeram kaus Yoongi kuat, mencoba untuk tidak menangis sedikitpun di hadapannya. Dan secara perlahan, aku berusaha untuk tertidur di dalam pelukannya.

.

.

.

TBC