A/N : Waaaah UTS selesai dan segala praktek telah diselesaikan! Tapi nilainya nggak buat aku puas T_T harus belajar banyak lagi nih. Anyway, maaf kalau telat karena waktuku benar-benar mepet dan yang bikin kesel adalah laptopku nggak mau nyala-nyala! Padahal ada chapter 10 disitu. Jadi harus dibuat lagi deh di laptop kakak :')

Terima kasih yang sudah review and ENJOY!

Shikioru.


"Oh ya. Dan bukan aku saja, bahkan semua anggota Vocaloid memandangimu sebagai orang yang bukan biasa kami kenal," ketus Luka.

"Jangan sampai aku membencimu, Luka-chan!"

"I don't really care! Sampai disini saja. Selamat siang dan semoga harimu menyenangkan."

Piiiipp.

Miku, kita disini menjadi tutor. Bukan pengacara.

Miku terdiam, kata-kata itu terus mengiang di telinganya. Pengacara, bukannya itu jasa untuk membela seseorang benar atau salah. Tapi, Mayu tidak benar, tidak salah juga. Tapi, kalimat dari Luka itu benar-benar menampar pipinya. Tidak hanya itu, hanya dengan nada suara Luka dan gaya bahasanya, Luka tidak lain sedang marah dan kesal padanya. Padahal, dia baik-baik saja saat awal-awal di telpon Miku.

Miku menyentuh keningnya, merasa pusing dengan semua ini. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Dia mungkin baru saja mendapatkan sesuatu yang dia harapkan, tapi dia juga hampir melepaskan genggaman yang selama ini dia genggam. Dan dalam genggaman itu, terdapat dua pilihan yang sangat berkaitan dan sangat pentingnya bagi Miku.

Jadi sekarang, apa yang kau pilih, Hatsune-sama?

Persahabatanmu, atau kepopuleranmu?


.

.

~ Crypton Life ~
Disc : Yamaha Corp
Pairing : Len x Rin (NOT INCEST)
Genre : Romance, Friendship, Slice of Life
Rate : T
Warning : LenXRin! Typo(s)! Rude Word(s)!
Note : Sekali lagi ditekankan, di dalam cerita ini Len dan Rin sama sekali tidak ada hubungan darah. Jadi bagi yang tidak suka dengan pairing ini, bisa stop scroll dan klik tombol back. Dan terdapat BANYAK KATA KASAR disini.

.

.


[RIN POV]

"A...ano!" aku tergagap, lidahku kelu melihat sesosok manusia berambut merah dengan paras yang menawan itu tersenyum manis menatapku. Dia masih memakai seragam sekolah dan rambutnya kali ini dikepang menjadi dua kedepan. Tapi tetap saja, dia sangatlah cantik! Mungkin sebanding dengan Hatsune Miku!

Dia memiringkan kepalanya. "Kau Kagamine Rin, kan?" tanyanya.

Aku mengangguk cepat. "...Miki?" aku menaikkan nadaku, menunjukkan bahwa aku bertanya kepadanya.

Miki tersenyum lebar lalu tertawa kecil. "Wah, kau mengenaliku, ya? Kupikir tidak. Ayo, pesan makanan atau minumanmu dulu. Kan, tidak enak mengobrol tanpa makanan yang menemani kita. Life is never go right without food," Miki mengedipkan matanya. Dia menunjukkan meja kayu di pojokkan dengan dua kursi yang nyaman itu. Dan setelah kulihat, dia memesan red velvet cake dan kopi Expresso biasa.

"Baiklah," kataku mengangguk setuju.

Aku bergegas memesan Vanilla Creme non Coffee dan Brioche. Aku menunggu beberapa menit di meja penyajian dan kemudian membawanya sendiri ke arah meja yang Miki duduki.

"Kau tidak suka kopi?" tanya Miki melihatku membeli minuman non coffee, bukan kopi.

Aku menggeleng. "Bukannya tidak suka, cuma jika ada pilihan menu selain kopi, aku akan lebih memilih itu. Aku hanya tidak terlalu suka kopi," jelasku sambil duduk dan memasukkan sedotan berwarna ungu itu ke minumanku. "Kalau Miki-san sendiri?"

"Wah," gumamnya. "Justru kopi adalah hal yang sangat kufavoritkan!"

"Begitu," balasku dengan senyumannya. Tanganku gemetar, aku tidak tahu dan tidak pernah menyangka bahwa Miki-lah yang mengajakku sendiri. Dan bukan itu saja, dia adalah salah satu mantan terbaru si player yang sangat aku sebali ini. "Jadi, apa yang mau kau bicarakan, Miki-san?"

"Ah!" dia terdiam sebentar, menyeruput kopi Expressonya lalu mengelap mulutnya yang terpoleskan lip gloss dengan tisunya. Aku tahu lip gloss itu mahal, karena tidak luntur ketika dia mengelap bibirnya dengan cukup kuat. "Benar juga ya, aku menyuruhmu datang untuk apa, ya?"

Aku menyipitkan mataku dan mengerucutkan bibirku.

Dia tergelak melihat ekspresiku. "Wah wah, jangan marah dong!" ujarnya sambil melambaikan tangannya di depan wajahku, entah untuk apa. "Aku hanya bercanda."

"Uh... oke."

"Jadi," Miki menggantungkan perkataannya. "Kau tentu tahu siapa aku."

"Pacar Kagamine Len," kataku dengan cepat, singkat, dan padat.

"Nein nein!" Miki menggelengkan kepalanya. "Lebih tepatnya, mantan."

"Mantan Kagamine Len," ulangku. "Jika kau mau menggosip tentang Kagamine Len, kau telah salah mengajakku kemari karena aku tidak tahu apa-apa tentangnya."

"You're so to the point, Rin!" kata Miki. "Tapi aku suka itu!"

Aku menaikkan alisku. "Apa maksudmu, Miki-san?"

"You do know, kalau aku adalah mantan terbaru si Kagamine Len. Aku hanya ingin bercerita sedikit tentang dia kepadamu. Karena kau adalah teman perempuan terdekatnya dan aku pikir informasi ini sangat bagus untukmu," Miki memegang dagunya.

"Aku pikir tidak," sanggahku. "Aku bukan temannya dan informasi ini sangat tidak penting untukku."

"Oh oh oh!" Miki memajukan kursinya. "Jangan seperti itu, tidak usah terburu-buru. Maksudku, aku tidak memaksamu tapi aku telah menunggumu berjam-jam disini jadi...," Miki memamerkan senyuman mautnya.

"Jadi aku harus disini mendengarkanmu mengoceh tentang Len karena aku terlambat?" sambungku. "Okay, fine. Go on. i'm all ears," kataku melipat tanganku dan menyenderkan punggungku ke kursi.

Miki tersenyum penuh kemenangan (soundtrack : we are the champion lol) lalu menyeruput Expresso-nya lagi. "JADI! Aku punya beberapa fakta Kagamine Len yang harus kau ketahui."

Aku terdiam menunggunya berbicara, sambil memotong-motong brioche-ku menjadi beberapa potongan.

"Kau pasti tahu kalau dia adalah player."

"Semua orang tahu itu," kataku.

"Yes, he's the jerkest player ever," timpal Miki sambil menyipitkan matanya. "Aku merasa terpukul setelah mendengar gosip-gosip berkeliaran tentang Len yang tampaknya dekat dengan cewek lain."

Aku tahu dia menyindirku, tapi aku pura-pura tidak mendengar dan terus terdiam, menunggu Miki ini selesai berbicara.

"Dan fakta lainnya, kau pasti akan kaget mendengarnya. Len itu, sudah minum-minuman untuk anak dua puluh satu tahun keatas itu lho. And what's more surprising is... dia juga merokok! Astaga! Aku sangat kaget mengetahuinya dan bersumpah untuk menyelamatkannya dari ancaman bahaya rokok. Aku masih mencintainya tapi tampaknya dia tidak bisa membalasnya lagi," keluh Miki.

"Uh... sorry?" selaku pendek. "Minum alkohol? Informasi dari mana, tuh?"

"Tentu saja! Aku punya banyak link untuk nge stalking pacarku, atau lebih tepatnya, mantan," kata Miki dengan bangga.

"Maaf ya, kalau kau memang benar cinta Len, kau tidak seharusnya percaya pada gosip-gosip entah dari link terpercayamu atau apalah itu aku tidak peduli. Yang jelas, aku percaya dia tidak akan melakukan hal sekotor dan sejelek itu," kataku menyiratkan pembelaan terhadap shota ini. Hei, berterima kasih, ya, Len nanti karena telah menyelamatkanmu?

Miki menunjukkan wajah yang agak kesal. "Kau tidak tahu kalau dia sering main cewek? Dia bahkan pernah mengajak beberapa wanita untuk memuaskan dirinya di rumahnya! Sungguh, he's the real bastard! Aku tidak percaya pada informasi-informasi bahwa dia masihlah as pure as angel. HAHAHAHA No way," kata Miku melipat kakinya lalu meneguk Expresso-nya.

Aku memutarkan bola mataku. "Miki-san, aku tahu kau mantannya. Dan itu wajar jika kau memandang sebelah mata dirinya. Tapi ingat dong, dia juga pernah membuatmu tersenyum. Aku harap kau tidak melupakannya."

"Tersenyum," ulanginya lagi dengan nada yang cukup menjengkelkan. "Tersenyum, ya? Wah, kebalik, lho. Soalnya selalu aku yang membuatnya tersenyum. Tapi dia? Dia tidak pernah membuatku bahkan menarik bibirku untuk tersenyum! Hah, kalau kata orang, cowok populer itu selalu gentle man. Hahahaha, lucu deh...," katanya tertawa di sela-sela seruputan kopinya sehingga sedikit berdecit. Dia juga beberapa kali mengelap bibirnya yang basah dengan tisu. "Pelayan, tolong tisunya!"

"Kau ini ketahuan sekali bohongnya," kataku sedikit gerah. "Mau ngompor atau gimana?"

"Hey," ucapnya dengan nada sedikit tinggi. "Aku ini berbicara faktual! Tidak ada rekayasa."

"Miki-san, faktual itu sama dengan fakta, yang artinya memang benar dan banyak pendukungnya. Karena kau hanya menambah kata orang entah itu cewek-cewek di kamar mandi, atau link yang entah siapa itu, atau gosip-gosip internet, itu bukan fakta. itu hanya opini tiap orang. Dan opini itu, tidak benar, tidak salah," kataku menjelaskan panjang lebar.

"Kau mengajariku, ya?"

"Tapi, opini bisa berupa fitnah. Itulah kenapa, jaga mulutmu karena mulutmu harimaumu. Fitnah itu ada dimana-mana. Kau sebagai wanita terdekat Len, dan mengaku cintamu sangat besar kepadanya, yakin percaya dengan gosip-gosip yang barusan kau katakan itu dengan semudah itu? You're a good girl, right?" kataku mengacuhkan pertanyaan Miki.

Miki menatapku dengan wajah membosankan.

"Dan ya, supaya kau bisa membedakan mana gosip dan mana yang fakta," jawabku sambil menghela napas.

"Huff...," dia ikut-ikutan menarik napas lalu menghembuskannya. "Kau tahu yang sekarang kita bicarakan adalah Len, bukan masalah tata grammar dan sebagainya."

"Itulah kenapa kubilang, aku bukan orang yang enak diajak ngegosip. Aku tidak suka gosip dan tidak akan pernah suka dengan gosip. Jika itu semua yang ingin kau sampaikan, permisi," aku langsung berdiri namun ditahan oleh Miki.

"Kita belum masuk ke intinya," sergah Miki.

Aku menaikkan alisku. "Intinya? Inti apa?"

Miki memandangku. "Kau... tidak akan bisa menjadi pacar Len."

Mendengarnya sedikit membuatku kaget. Kenapa tidak bisa? "Siapa yang mau menjadi pacar Len?" tanyaku acuh tak acuh. "Lepaskan, Miki," kataku pelan, meminta Miki melepaskan pergelangan tanganku. Namun dia malah mengencangkan pegangannya membuatku merintih sedikit.

"Tentu saja, apa kau tidak tahu kaulah yang selalu diperhatikan Len?" tanya Miki menatapku dengan wajah misterius.

"Tidak tahu karena aku tidak memperhatikannya!"

Miki tersenyum. "Itulah kenapa kau tidak akan bisa menjadi pacar Len."

"Kau juga tidak bisa menentukan... apakah aku bisa menjadi pacarnya, atau tidak!" balasku. "Sekarang, lepaskan aku, Miki! Aku ingin pergi!"

"Itu bukan jawaban yang kumau!" ucap Miki.

"Apa jawaban yang kau mau?" tanyaku sedikit meninggikan suaraku. "Aku tidak akan menjadi pacar Len Kagamine? Itu jawaban yang kau mau?"

"Exactly," jawabnya.

"Heh," celetukku. "Dengar ya, aku tidak akan pernah menjadi mantan Len."

Miki menaikkan alisnya, kebingungan dengan sahutanku barusan. "Apa maksudmu? Mantannya?"

"Tentu," jawabku.

"Apa maksudmu?"

"Heh, kau ini bodoh atau tidak peka sih?" tanyaku kesal.

"Aku tidak mengerti," jawabnya dan melonggarkan pegangan di tanganku.

Aku melepaskan tanganku darinya dan memegang tanganku yang memerah karena dicengkeram Miki. "Itu artinya, Miki-san... di dalam hatiku, ada dua pilihan. Tidak akan pernah menjadi pacarnya, atau menikah dengannya!"

Miki menatapku dengan terperangah. Heh, speechless ya?

"Aku harus pergi sekarang," aku langsung bergegas pergi meninggalkan Miki yang terbata-bata setelah mendengar jawabanku. Aku membuka pintu dan mendapati sesosok shota berambut kuning sambil menatapku dengan perasaan heran, kaget, dan...

blushing?

"Oh, Shota, kau ada disini...," sapaku menghampirinya. "Ada apa?"

Dia menatapku dengan wajah terkejut, namun pipinya malah semakin memerah.

"Hey, aku tidak tahu masalahmu jika kau tidak berbicara!" seruku sedikit kesal.

"Y-yang tadi..."

"Yang tadi apanya?" tanyaku sambil menaikkan alisku.

"Yang tadi... apa itu benar?"

Aku mencoba mengingat-ingat kejadian barusan. Dan...

"Itu artinya, Miki-san... di dalam hatiku, ada dua pilihan. Tidak akan pernah menjadi pacarnya, atau menikah dengannya!"

atau menikah dengannya!"

atau menikah dengannya!"

Aku langsung menutup mulutku mengingat kejadian yang sangat memalukan tadi. Dan aku sangat tau bahwa pipiku sekarang juga memerah, bahkan mungkin lebih merah dari wajah Len sekarang. Mata Len bergerak kemana-mana, dan dia juga bukan seperti Len yang aku kenal.

Dia seperti si Shota dari Desa, Kagamine Len!

Lidahku, lidahku tidak bisa mengucapkan sepeser kata pun! "Ah... y-yang mana ya? Oh...," gila GILA GILA.

"Ekhem...," Len berdeham sebentar. Dia mencoba mengontrol perasaannya dan memasukkan tangannya ke kantong celana jeans berwarna birunya. "Tidak apa-apa, aku tahu itu hanya slip tongue saja. Lo nggak perlu mencari alasan lain lagi," kata Len sambil menunjukkan cengirannya.

Aku menghembuskan napas, sangat sangat lega. Kelegaan selega iklan Adem Sari. Aku membayangkan diriku sedang mengulet dengan latar air terjun yang cukup deras dan berbagai pohon-pohon disampingnya. "Terima kasih. Iya, itu... itu cuma slip tongue kok," kataku sedikit aneh saat aku mengatakan slip tongue. Karena sebenarnya, itu bukan slip tongue. Aku memang benar-benar mau dan ingin mengucapkannya.

Aku juga heran kenapa aku bisa berpikiran seperti itu.

"Tapi!" sahutnya.

Aku memasang wajah bingung. "Tapi apa?"

Dia membagi smirk yang jarang ia tampilkan. "Jika itu yang kau mau, aku bisa memberikanmu blue feather nanti."

Dan Len sukses mendapatkan gebukkan masal dari Kagamine Rin yang sudah digandakan oleh Dimas Kanjeng Taat Pri- (jangan sebut nama aslinya, Thor! LoL)


atau menikah dengannya!

atau menikah dengannya!

ATAU MENIKAH DENGANNYA!

DENGAN LEN KAGAMINE!

"AAAAAAAAHHHHH!" aku langsung membantingkan diriku ke tempat tidurku yang bergambar Barcelona yang baru saja dirapihkan namun diacak-acak oleh pemiliknya lagi. "Apa yang telah aku lakukan ya Tuhan! Kenapa aku bisa seperti ini?!"

Perempuan berambut hijau dengan potongan pendek itu menarik napas. "Aduh, kalau kamu kayak gitu terus, kapan ceritanya sama aku? Nih aku bawain air putih. Minum, dan hati-hati. Jangan sampai tersedak," kata Gumi yang sangat perhatian terhadap temannya. Oh ya, jadi kenapa aku bisa ketemu Gumi. Sebenarnya dia itu datang hari ini dan awalnya aku mau menyambutnya. Tapi karena insiden tragis tadi, aku langsung menyeret anak malang ini ke kamarku.

Aku memandangnya dengan terharu. Aku menerima gelas itu dan karena aku tidak bisa mengontrol nafasku, akhirnya aku tersedak dengan tidak elitnya.

"Kan, kan... baru dibilang," dengus Gumi.

"Habisnya... uhuk!" aku kembali meminum air tak berasa itu untuk melancarkan suaraku. "Ini benar-benar gawat!"

"Gawat apa sih? Oke, sekarang duduk, terus tarik napas dan keluarkan."

Aku pun melakukan apa yang diperintah Gumi. Setelah bisa mengontrol nafasku, aku pun memutuskan untuk bercerita dengan singkat tanpa mengurangi bagian pentingnya. "Intinya, aku ketemu sama Miki di kafe terus si Miki ini ngejelek-jelekkin Len. Aku nggak terima dan akhirnya aku balas aja deh sesuai informasi yang aku tahu. Terus, dia bilang aku nggak boleh pacaran sama dia. Eh yaudah deh aku bilang aja aku juga nggak bakalan pacaran sama Len, paling-paling jatohnya bukan jadi mantan, tapi langsung nikah," ceritaku dengan sangat singkat.

"Buset!" komentar Gumi. "Nikah? Cepet amat, bro!"

"Bro bro, emang gue laki-laki," kesalku.

"Oke-oke, lanjut dong! Jadi, jadi, gimana?"

"Nah!" aku langsung mengambil bantalku dan menenggelamkan kepalaku di bantal yang fluffy itu. "ini nih part paling intense-nya! Karena BEGO-nya LEN DENGER SEMUAAAAANYA!"

"HAH?!" Gumi ikut-ikutan berteriak. "BENERAN?! BAHKAN PART PAS KAMU BILANG MAU NIKAHIN DIA?!"

"YES, HUN, YEEEESSSSSSS!" seruku sambil memeluk-meluk bantalku yang menjadi korban itu.

"TERUS, TERUS?! WHAT WAS HIS REACTION?!" tanya Gumi sambil menggoyang-goyangkan pundakku.

"Reaksinya?" aku diam sebentar.

Gumi ikut-ikutan diam.

"DIA BLUSHING, OH MY GOSH!" seruku.

"OOOOOOOOOHHHHHHHH! NOOOOOOO! LEN DAN RIN?!"

"ASGAJDSANS!" aku frustasi. "JANGAN TERIAK DISINI, GUMI!"

"Tapi... tapi?!" Gumi menutup mulutnya, tanda terkejut. "Yang bener? Seriusan?! Astaga! OTP gue..."

"Lebay ah lebay," aku mengerucutkan bibirku. "Tapi beneran deh, yang tadi itu... aku bener-bener... nggak nyangka!" kataku sambil mempererat peganganku di bantal yang selama ini setia menemaniku in ups and downs.

"Nggak nyangka gimana?!" Gumi tersenyum, menunjuk giginya. "Aku seneng, deh!"

"Seneng?"

"Iya!" Gumi duduk disampingku dan dia menampilkan senyumannya yang sering ia tampilkan. "Aku seneng banget nanti kalau kalian pacaran, aku dapet PJ."

"PJ?" aku menaikkan alisku.

"Rin nggak tahu?"

"Ngga, tuh."

"Pajak jadian," cengir Gumi.

"Is!" aku langsung melempar bantal yang sedari tadi kupeluk erat ke arah wajah Gumi, tapi bisa ditangkisnya. "Lho lho, kok bisa?!"

"Iya dong, aku kan ikut Muay Thai," Gumi kembali menunjukkan cengirannya yang kali ini lebih lebar dan itu menjijikkan (dismack Gumi).

"Hah?" aku menutup mulutku, menahan tawa. "Seriusan? Gumi ikut Muay Thai?"

"Nggak percaya?"

"Iyalah! Gumi letoy gitu gimana bisa nahan serangan."

"Lho, tadi barusan aku sudah menunjukkannya!"

"Yee!" aku menyipitkan mataku. "Tadi tuh bantal, coba kalau sumo yang gendut-gendut itu. Ah, cape deh aku kalau misalnya harus gali kuburannya si Gumi dulu."

Gumi mendengus kesal. "Ini nih ya aku perlu kasih tahu. Sumo itu, beda sama Muay Thai."

"Ah sama aja sih," aku menyeruput air putih yang tadi diberikan oleh Gumi. "Tapi let me guess! Pasti kamu ikut Muay Thai biar perut kamu rata, kan? Iya kan? Hahahaha...," aku menertawakan Gumi.

Gumi kembali mendengus dan bersiap-siap melemparkanku bantal yang ada didekatnya. "Iya, emang kenapa?!"

Aku langsung menyengir. "Kenapa nggak pake **** karena bisa langsung menurunkan berat badan tanpa ada efek samping apapun itu, karena kami menggunakan bahan-bahan herbal yang dijamin sehat dan berkualitas! Selain itu, bisa memutihkan badan dan-

"Lo mbak-mbak SPG apa gimana, sih?" Gumi memotong perkataanku. "Kalau mau promosi, noh di mall sana."

"Huh! Do you know what's the meaning of joke?!"

"Oh, jadi itu cuma joke doang?" tanya Gumi polos.

"YA IYALAH, ADUH! GUMIKU SAYANG."


[LEN POV]

atau menikah dengannya!

ATAU MENIKAH DENGANNYA!

ATAU MENIKAH DENGANNYA!

MENIKAH

DENGAN

NYA

KAGAMINE RIN.

"Lho, Len-kun?"

Lamunanku langsung terbuyar oleh mantanku yang entah sudah keberapa. "Oh, hai Miki," sapaku dengan sedikit senyum.

Miki memeprhatikanku dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Ngapain disini? Anyways, you're handsome as always!" puji Miki. "Mau dinner bareng nggak hari ini?"

Nih cewek to the point banget, deh. "Ngapain disini? Oh iya, ngapain ya? Um...," aku hanya tertawa tidak jelas karena aku memang tidak tahu apa yang ingin aku katakan. Aku juga tidak tahu sedang apa aku disini dan mengapa aku bisa disini.

Ya Tuhan, aku minta pencerahan.

Miki kembali menatapku. Tangannya tiba-tiba menjulur dan menyentuh keningku, membuatku sedikit kaget.

"Eh, apa-apaan sih?!" aku langsung menepis tangan Miki.

Miki sedikit kaget mendapat perlakuanku tapi dia langsung tertawa kecil. "Ahahaha... manis sekali. Wajahmu memerah, kupikir kau sakit jadi aku bisa membawakanmu ke rumah sakit dan membacakanmu buku cerita tentang cinta! Love can heal, you know?" Miki melingkarkan tangannya di tanganku dan itu membuatku,

RISIH.

"Lepaskan, Miki!" pintaku dengan berusaha untuk tidak melukai hatinya. Bagaimana pun juga, aku ini tidak suka melihat perempuan menangis. Bukannya benci atau apa, tapi itu membuatku iba dan merasa kenapa setiap aku memutuskan 'mainan'-ku, aku langsung pergi tanpa melihat kebelakang dan selalu memakai headset agar tidak mendengar tangisannya.

Aku hanya tidak mau mendengar tangisan wanita. Menyayatkan hati. Tapi kenapa aku justru melukai hati mereka? Tidak tahu.

"Oh ayolah!" Miki bergelayut manja di tanganku. "Aku tahu kita sudah putus tapi, aku juga tahu kalau kau masih mencintaiku. Iya, kan?"

"Still loving you, my shoes," cercahku kesal. "Get off, Miki. Aku mau beli kopi dulu."

"Hmmm!" Miki memajukan bibirnya yang awalnya kupikir itu seksi tapi lama-kelamaan membuatku jijik. Benar ya kata orang, kita selalu melihat rumput hijau milik tetangga karena rumput di depan rumah kita sendiri kotor. Terdengar naif, tapi itulah yang terjadi padaku.

Dan aku berusaha untuk tidak menjadi seperti itu.

"Miki, get off!" kataku dengan menahan amarahku.

"Bad timing!" serunya. "Seharusnya aku tidak ke kafe sebelum jam dua belas ini! Jika saja aku tidak mengajak that b*tch to come here, aku mungkin saja bisa berkencan denganmu hari ini."

Aku terdiam mendengarnya. "Who did you say bitch?"

"A-ah? Ap-apa?" Miki menatapku dengan keringat yang bercucuran. "T-tunggu. Aku tidak pernah mengatakan itu, kok. Haha... aku bilang... aku tidak bilang apa-apa!"

"Lie detected," gumamku. "Kau bisa seperti itu ya."

"Bisa apa?" tanya Miki straight. "Aku tidak melakukan kesalahan apa-apa!"

"Kau bilang kau TIDAK melakukan kesalahan apa-apa?!" benar, aku tidak bisa menahan ini lagi. Setiap manusia punya batas kesabaran tersendiri, kan? Dan Rin dibilang b*tch?! Aku tidak terima. TIDAK AKAN TERIMA. "I guess you're the real bitch!"

"HEI!" seru Miki menatapku dengan tatapan beringas. "Apa yang baru saja kau katakan?!"

"Oh ternyata bukan," aku langsung mendorong Miki dengan pelan agar aku bisa jalan dari kafe itu. "Well then, you act like one. HA, take that!" umpatku membuatnya terdiam bergetar. Aku tidak peduli. Entah dia anak pejabat kek atau cucu presiden atau selir Dimas Kanjeng.

GUE. GAK. PEDULI.

"Get off you slut!" aku mengumpatnya lagi dan menjauh dari lokasi itu, meninggalkan Miki seorang yang tengah berdecih tidak jelas.

Tapi langkahku terhenti, lalu memutar balikkan badanku, memandang gadis yang terdiam membeku disitu.

"And don't you dare lay your hand on Rin cause YOU AREN'T SUPPOSED TO," teriakku.

Aku melangkahkan kakiku menuju apartemen orang yang harga dirinya diinjak-injak Miki, for no reason.

Yes, for fucking no reason.


[AUTHOR POV]

Tok... tok... tok...

"Siapa, tuh?" tanya Gumi. "Kamu hari ini ada janjian sama orang atau tamu gitu? Atau keluarga kamu?"

Gadis remaja bersurai kuning itu menggeleng. "Nggak ada. Dan nggak ada yang SMS kalau mau datang, kok."

"Siapin air panas. Kalau itu maling, langsung siram!" seru Gumi dengan yandere-nya.

"Hih... seram!" Rin bergidik ngeri mendengar pernyataan Gumi yang cukup membuatnya takut. Kasihan sama tamunya. Masa baru dateng langsung disiram air panas. Duh, langsung masuk kasus nih. Rin membuka pintunya dengan pelan, takut kalau itu adalah orang asing.

"Siapa y-

"RIN!" laki-laki berambut kuning dengan sweater putih dan celana jeans yang longgar dan topi yang dipakainya langsung memegang tangan Rin dengan kuat dan memandang mata Rin lekat-lekat.

"UWAAAAHHH!" Rin langsung berteriak dan sukses membuat Gumi berlari menghampiri Rin.

"Ada ap- oh..., Len," Gumi langsung menarik napas dan menyenderkan tubuhnya ke dinding yang dilapisi wallpaper mewah.

"Shit! You're scaring me!" seru Rin sambil memegang dadanya dan mengatur nafasnya agar kembali semula.

"Am I?" Len langsung tertawa dan membuka topinya.

"Huh!" Rin menjatuhkan dirinya di sofa dan melipat tangannya. "Ada keperluan apa sampai datang kesini? Seharusnya lo kalau mau dateng SMS dulu!"

"Harus gitu, ya?" Len memutarkan bola matanya yang berwarna biru jernih. "Gue cuma mau ngasih tahu, besok latihan ya. Nggak pake nggak."

Rin menaikkan alisnya. "Dimana? Dan kenapa tiba-tiba?"

"Di rumah gue. Dan iyalah, orang kita sama sekali belom latihan," Len melipat tangannya.

"Lho, jadi selama aku pergi kalian belum latihan?" tanya Gumi.

"Belum."

"Astaga...," Gumi menepuk keningnya sendiri. "Tapi aku tahu ini yang terbaik buatmu, Rin. Semangat yaaa!" Gumi menepuk-nepuk tangannya.

Rin tersenyum manis memandang Gumi. "Nah, terus ada apalagi, Shota? Lo cuma mau ngasih tahu itu aja? Lo kan bisa SMS gue aja. Ini lo yang tolol apa gimana?"

Len terdiam sebentar. Jir, iya juga ya. Ngapain gue kesini cuma ngasih tahu mau latihan. Kan tadi niatnya mau ngestalking aja. Aduh, gue ini sebenernya ada apa sih. Mau gimana sih. Kok gue gak ngerti sama diri gue sendiri. Ya Tuhan, kenapa engkau masih belum memberikanku pencerahan? Aku memang hanya sebongkah upil saja, kata Len dalam hati sambil terus-terusan mencari alasan yang masuk akal.

"Kalau lo mau ngeliat Rin doang, lo nggak seharusnya nyari alasan yang lain," sahut Gumi sambil menunjukkan her death smirk.

"BINGO!" teriak Len kencang tanpa berpikir terlebih dahulu.

"..."

"..."

"Fuck, I'm leaving." Len langsung membuka pintu apartemen Rin dan terdiam sebentar, membuat Rin dan Gumi harus menunggu laki-laki populer ini melanjutkan omongannya.

"But I meant it," lanjutnya lirih entah bisa didengar oleh dua gadis itu atau tidak, sambil melirik ke arah Rin yasng menatap cengo, kaget tidak tahu harus melakukan apa.

SLAM!

"Duh!" keluh Gumi. "Pintu jangan digedor sana-sini bisa kali! Itu anak mau di smack apa gimana! Ya, kan Rin?!"

"..."

"Rin?"

"..."

Gumi langsung menoleh melihat keadaan temannya yang sangat memprihatinkan.

"G-gumi...," panggil Rin yang wajahnya sudah benar-benar memerah. Salahkan ini pada Len. SALAHKAN DIA! SALAHKAN KAGAMINE LEN SUDAH MELAKUKAN INI PADA RIN!

"Rin, are you okay?"

Rin terdiam sambil meremas bantal yang ada didekatnya. "WHAT A DUMB QUESTION! DID YOU HEAR THAT?! I'M SO NOT OKAY! I FEEL LIKE I'M FRICKING FLYING RIGHT NOW AND READY TO FALL! HOLY CHEESE THIS IS SO FRUSTRATING!" rengek Rin sambil melempar-lempar bantal yang ada didekatnya.

Gumi langsung sweatdrop mendengarnya.

"Jadi seperti ini yang namanya orang jatuh cinta."

"GUE LAGI NGGAK JATUH CINTA, GUMI!"

"TERSERAH LO DAH TERSERAH! GUE MAH IYA IYA AJA!"


[LEN POV]

Aku langsung menutup pintu kamar apartemen Rin dan bersender di pintu yang baru saja aku banting. Aku diam dan mencoba mengontrol napasku. Apa yang sudah aku katakan barusan tadi? Apa aku merendahkan harga diriku sekarang? Dengan bertingkah seperti bukan player yang sesungguhnya? Ini... kenapa ini?! Aku menghembuskan napas lalu terdiam lagi.

"Gila gila gila, ini gila...," kataku terdiam.

Tapi setelah aku ingat-ingat lagi, kenanganku... kenanganku dengan Rin, seperti pada saat malam di steak Kobe itu, jalan-jalan di mall sambil makan burger, dan bahkan... aku masih ingat bagaimana kami hampir telat masuk sekolah dan berlari menuju gerbang dan untung saja kita bisa masuk pada saat itu. Aku juga ingat saat pertama kali aku bertemu dengan Rin dan hampir membuatku kesal dan tidak mau berurusan dengannya.

Tapi kenapa sekarang, aku senang sekali berurusan dengannya?

Kenapa aku mau membelikannya gaun? Kenapa aku mau mendengarkan dia bercerita dengan bodohnya tentang Orihime dan Hikoboshi? Kenapa aku membela Rin di hadapan Miki sendiri? Kenapa, kenapa aku jadi over protective seperti ini? Kenapa aku bisa disini?

Bagaimana seorang Kagamine Len yang terkenal dengan cool-nya ini mengejar-ngejar Kagamine Rin?

Aku perlahan mengambil handphone-ku dari kantong celanaku, dan kucari kontak Kaito my best friend di list kontakku.

Aku mendekatkan hP-ku ke telingaku, menunggu jawaban dari si ice cream freak.

"Hello, Len! Ada apa?"

"Kaito..."

"Iya?"

"I think..."

"Hah?"

Aku terdiam sebentar.

"I'm in love with someone."


[AUTHOR POV]

"Ah baik, aku akan menjelaskannya. Tapi, bisa kah kau datang ke kantorku sekarang?"

"Tentu saja. Aku akan datang kesana jam empat."

Wanita dengan lipstick merah itu menarik bibirnya menjadi senyumannya yang indah. "Terima kasih, Yusetta-san." Wanita itu langsung menutup panggilan handphone-nya dan bergegas mengunci kamar apartemennya.

"Kaito..."

Wanita itu baru saja melangkahkan kaki dan terkejut, tertegun mendengar suara, dan melihat lebih jelas siapa yang sedang mengobrol di telepon itu. Wanita yang sepertinya rambutnya baru di blow itu mundur sedikit, mencoba menguping apa yang di obroli oleh remaja laki-laki tersebut.

"I think... i'm in love with someone."

Wanita itu terdiam seribu kata setelah mendengar lanjutannya. Mulutnya terbuka tak bisa dipercaya.

"Len, what are you doing there?!"

Laki-laki yang dimaksud, menoleh dan raut wajahnya pun, sama seperti yang dipasang oleh wajah wanita ini.

"K-kenapa..." Len mematikan HP-nya dan kembali memperhatikan wanita yang menyebut namanya ini.

"Ya Tuhan!"

*** TO BE CONTINUED ***