Kris memarkirkan Mercedes Benz miliknya di depan apartemen Baekhyun. Setelah ia mematikan mesin mobilnya, pria berambut pirang itu menatap Baekhyun dengan senyuman. "Terima kasih sudah menemaniku malam ini, Baek."

Baekhyun tersenyum. "Tidak masalah. Aku justru tersanjung karena diajak olehmu ke pesta itu."

"Sungguh?" Kris terlihat senang. "Kalau begitu, aku akan sering-sering mengajakmu ke pesta, bagaimana?"

Baekhyun terkekeh kikuk. "Sepertinya itu tidak perlu."

Kris mengernyit. "Kenapa? Kau tidak suka pergi ke pesta bersamaku?"

"Bukan begitu. Hanya saja..," Baekhyun menelan ludahnya sesaat seraya menunduk, "Chanyeol pasti akan marah besar jika aku sering pergi tanpa sepengetahuannya lagi."

Hening.

Kris menatap Baekhyun dengan ekspresi yang tak terbaca, sedangkan Baekhyun sendiri memilih menghindari tatapan itu.

"Kau menyukai Chanyeol?" Kris berhasil membuat Baekhyun tersentak.

"Tidak, tentu saja tidak." Baekhyun menjawab tanpa keraguan. Pria mungil itu menggigit bibir bawahnya sesaat, kemudian bicara, "Aku hanya tidak ingin kejadian tadi terulang lagi. Aku merasa tidak enak pada kalian berdua."

"Kalau begitu," Kris meraih dagu Baekhyun agar pria mungil itu menatapnya, "Jadilah kekasihku."

Pupil Baekhyun membesar dibuatnya. Jantungnya berdebar keras, terutama saat Kris mendekatkan wajahnya dan mulai merubah kemiringannya. Napas Baekhyun menjadi tidak teratur seiringnya napas Kris yang menerpa wajahnya.

"K–Kris, aku–"

Baekhyun belum sempat menyelesaikan kalimatnya karena bibir Kris sudah menempel dengan miliknya, seolah membungkamnya. Pria mungil itu membeku. Matanya masih terbuka saat mata Kris terpejam. Pria yang lebih tinggi mulai memberikan lumatan yang begitu lembut di permukaan bibir pria yang lebih pendek. Baekhyun tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi ia tidak menolak ataupun membalas ciuman itu. Dia hanya duduk di tempatnya dengan kebingungan yang menerpa dirinya.

Namun itu hanya sesaat.

Saat Kris melepaskan pagutan bibir mereka, pria tinggi itu menatap Baekhyun intens, mengusap pipinya yang memerah, kemudian berkata, "Aku mencintaimu.."

Jantung Baekhyun bergemuruh hebat, seolah ada sengatan listrik yang menyetrum jantungnya. Otaknya mendadak blank. Semuanya terasa begitu tiba-tiba sehingga Baekhyun tidak bisa mencerna semuanya dengan baik. Satu-satunya yang bisa ia mengerti hanyalah kesungguhan dalam tatapan intens Kris. Dan itu membuat dadanya hangat.

.

.

.

###

LIES IN BETWEEN

Chapter 9 Together in Paris

Main Casts : Byun Baekhyun & Park Chanyeol

Support Casts : Kim Jiwon, Wu Kris, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Kim Jongdae, Park Yoora

Genre : Romance, Drama

Rate : M

Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy

Note: ChanBaek time, YIHAAA~! Kok ChanBaek time di saat pembukaannya KrisBaek? Well, itu hanya pembukaan, lihat aja bagian akhirnya nanti *nyengir lebar*. Bisa dibilang chapter ini adalah pengantar menuju NC. So, prepare yourself to throb~

###

.

.

.

Baekhyun baru saja menyisir rambutnya saat matanya menangkap sosok Jongdae berdiri di ambang pintu kamarnya dengan senyuman aneh. Baekhyun mengernyit menatapnya. "Ada apa dengan senyumanmu itu?"

"Kau berhutang penjelasan padaku, Byun Baekhyun."

Baekhyun terlihat semakin bingung. "Penjelasan apa?"

Jongdae menyeringai. "Kau sudah pacaran dengan Wu Kris'kan?"

Baekhyun sontak melotot karena ucapan Jongdae itu. "D–dari mana kau–"

Jongdae menaikkan jari telunjuknya ke udara, "Pertama, kau tidak berhenti tersenyum semenjak pulang dari pesta kemarin," Jongdae menaikkan jari tengahnya –bergabung dengan jari telunjuknya, "Kedua, kau mulai memerhatikan penampilanmu," Jongdae tersenyum lebar seraya menambahkan ibu jarinya bersama dua jari lainnya, "Ketiga, Tuan Wu sedang menunggumu di ruang TV."

"APA?!" Baekhyun berteriak refleks. "Aish, kenapa kau tidak bilang daritadi?!" protesnya. Pria mungil itu terlihat panik sekarang. Setelah mengambil tas-nya di atas meja, iapun berlari keluar dari kamarnya. Sedangkan Jongdae menertawainya di ambang pintu kamar Baekhyun.

Kris yang sedang sibuk memerhatikan apartemen Baekhyun, menghentikan kegiatannya ketika Baekhyun sudah berada di hadapannya. Pria mungil itu tersenyum kikuk. "H–hai.."

"Selamat pagi, manis~"

BLUSH!

Hebat.

Baekhyun merona hebat di pagi hari. Tidak terlalu keren.

Pria mungil itu menundukkan wajahnya seraya berjalan menghampiri Kris. Ia berdehem sejenak sebelum akhirnya menatap mata kekasihnya. "Kenapa kau tidak bilang dulu kalau kau akan menjemputku?"

Entah itu rajukan atau apa, tapi Kris menyukainya, apalagi saat Baekhyun mengatakannya dengan bibir mengerucut. Itu terlihat menggemaskan.

"Maaf. Aku hanya ingin memberikanmu kejutan. Apa kau terkejut?"

Well, Baekhyun hanya bisa mengangguk menyahutnya. Ia memang tidak menyangka Kris akan menjemputnya pagi ini karena pria tinggi itu bilang apa-apa sebelumnya. Tapi ia senang. Menurutnya ini kejutan yang manis.

"Jadi, kalian akan berangkat sekarang atau masih mau saling menatap?" Jongdae tiba-tiba menginterupsi atmosfer hangat itu. Baekhyun mendelik ke arah sahabatnya, tapi sepertinya Jongdae tidak terlalu peduli. Ia malah terkekeh geli melihat wajah Baekhyun yang merah itu.

"Baiklah, sebaiknya kita berangkat sekarang," Kris menoleh ke Jongdae, "Terima kasih sudah mengingatkan kami."

Jongdae tersenyum lebar. "Sama-sama~" Ia melambaikan tangannya pada pasangan baru itu seraya mengatakan, "Jangan saling menatap saat di perjalanan ya, kalian bisa celaka nantinya."

"Diam kau." desis Baekhyun sebelum akhirnya keluar dari apartemennya bersama Kris. Dan Jongdae tertawa puas setelahnya.

.

.

Ini sudah menit kesepuluh Chanyeol menatap meja kerja Baekhyun. Pria tinggi itu terus menatapnya dengan tatapan tak terbaca. Jongin yang sedari tadi memerhatikannya dari balik meja kerjanya, menautkan alisnya kebingungan.

"Kau ada perlu dengan Baekhyun?" Jongin akhirnya bertanya, tapi pria yang lebih tinggi tidak menyahut, hanya menghela napas panjang. Jongin semakin bingung. Namun belum sempat ia bertanya lagi, Chanyeol mengeluarkan sesuatu dari saku mantelnya dan meletakkan benda itu di atas meja Baekhyun. Setelahnya ia masuk ke ruangannya. Begitu pria tinggi itu memasuki ruangannya, Jongin bangkit dari duduknya dan menghampiri meja Baekhyun. Ia penasaran dengan apa yang Chanyeol letakkan disana tadi.

"Coklat?" gumam Jongin. Ia mengambil salah satu dari dua coklat sebesar lollipop itu dan mengamatinya dari dekat. "Rasa strawberry." Jongin melirik Chanyeol yang sudah sibuk dengan pekerjaannya. Entah kenapa, ia merasa kasihan pada sahabatnya itu. Akhir-akhir ini Chanyeol jadi pendiam dan sering melamun. Jongin tahu benar Chanyeol akan seperti ini jika ia sedang banyak pikiran –selain pekerjaannya sebagai redaktur tentunya. Dan Jongin yakin salah satunya adalah mengenai pria Byun ini.

"Selamat pagi~" Suara Baekhyun dari belakang Jongin berhasil membuat pria berkulit tan itu tersentak. Sontak ia menoleh ke arah Baekhyun. "Apa itu?" tanya Baekhyun.

"Hah?"

"Yang di tanganmu."

Jongin menatap benda yang ditunjuk Baekhyun. Itu coklat pemberian Chanyeol. "Uh..ini coklat milikmu. Maaf aku menyentuhnya."

Baekhyun mengernyit. "Coklat milikku?"

"Ya," Jongin melirik Chanyeol melalui ekor matanya sesaat, kemudian tersenyum pada Baekhyun, "Aku melihatnya tergeletak pagi ini."

"Benarkah?"

Jongin mengangguk mantap. "Itu rasa strawberry."

Entah kenapa, begitu Jongin mengatakan kalimat itu, otak Baekhyun melayang ke Chanyeol. Dan Jongin sadar bahwa Baekhyun tahu siapa yang memberikan coklat itu padanya. Jadi yang pria berkulit tan itu lakukan adalah kembali ke mejanya, membiarkan Baekhyun terlarut dalam kenangannya. Sedangkan Baekhyun tengah teringat akan memori saat ia selesai wisuda dulu. Chanyeol –yang ia tahu adalah Baekbeom– mengirimkannya bunga, coklat, dan strawberry, sesuai dengan permintaan Baekhyun sebagai ganti 'Baekbeom' tidak datang ke wisudaannya. Baekhyun ingat ia begitu senang, terlebih saat coklat yang dikirim adalah coklat Belgia rasa strawberry. Baekhyun sampai tidak mau memberikannya pada siapapun karena coklat itu begitu enak dan itu adalah pemberian 'Baekbeom'. Jadi, Baekhyun cepat-cepat menghabiskannya sebelum teman-temannya memintanya. Dan coklat itu adalah coklat yang sama dengan yang Baekhyun terima di meja kerjanya sekarang.

Coklat yang sama, rasa yang sama, dari orang yang sama.

Baekhyun menatap Chanyeol –yang masih berkutat dengan pekerjaannya di ruangannya, kemudian tersenyum tipis. "Terima kasih.." ucapnya lirih.

###

"..Yeol? Park Chanyeol!"

Suara Nyonya Park berhasil membuat pria tinggi itu tersentak. Dengan gerakan malas, ia menoleh ke arah wanita paruh baya itu. "Ada apa, Eomma?"

"Kenapa kau malah melamun? Kau tidak mendengarkanku daritadi?" Nyonya Park terdengar kesal.

"Maaf," Chanyeol mengusap wajahnya kasar, "Aku sedang banyak pikiran."

Nyonya Park mengernyit. "Pikiran apa? Yang harus kau pikirkan justru hanya Jiwonnie. Sudah sebulan kau tak kunjung memberikan jawaban, kau sadar itu? Aku dan Abeoji-mu merasa tidak enak pada keluarga Kim, Yeol." omelnya.

Chanyeol menghela napas berat. "Bisakah kita tidak membicarakannya saat ini? Kepalaku pusing sekali."

Nyonya Park menatap serius anak bungsunya. "Chanyeol, aku yakin memberikan jawaban 'ya' bukanlah hal yang sulit. Kau dan Jiwonnie begitu dekat, kalian akan menjadi pasangan yang serasi. Karena itu–"

"Eomma, kumohon," Chanyeol mengerang kesal, "Bisakah kita membicarakannya setelah aku pulang dari Paris? Aku sedang tidak ingin memikirkan apapun selain pekerjaanku."

Nyonya Park menghela napas panjang. Wanita paruh baya itu terlihat simpatik melihat keadaan anaknya yang terlihat memang sedang banyak pikiran. "Baiklah, kalau begitu. Kita bicarakan lagi setelah kau pulang dari Paris, tapi hingga saat itu tiba, aku harap kau sudah memiliki jawabanmu." Nyonya Park mengambil tas-nya, kemudian bangkit dari duduknya. Ia mengusap puncak kepala Chanyeol sesaat sebelum ia melangkah pergi. "Jaga kesehatanmu." ucapnya. Chanyeol hanya mengangguk pelan meresponnya.

Begitu pintu rumahnya ditutup oleh Nyonya Park, keadaan dalam rumah bergaya Spanyol itu langsung hening. Chanyeol sendiri tidak melakukan apa-apa selain menundukkan kepalanya. Kepalanya sakit lagi. Pria tinggi itu memijat pelipisnya perlahan seraya menutup matanya. Pikirannya kacau balau akhir-akhir ini. Dan semuanya berakar dari satu orang –Byun Baekhyun. Ini sudah hampir sebulan semenjak Chanyeol mengetahui bahwa pujaan hatinya menjalin kasih dengan Kris. Hampir sebulan pula Chanyeol berusaha bersikap normal di hadapan pria mungil itu, tapi itu malah membuat dadanya terasa sesak. Puncak dari kekacauan ini adalah saat melihat Baekhyun dan Kris berciuman mesra di dalam mobil Kris. Chanyeol tidak sengaja melihatnya tadi sore dan itu sungguh bukan pemandangan yang ingin ia lihat di saat ia ingin fokus pada pekerjaannya.

Ocehan Eomma-nya tadi hanya memperparah keadaan. Well, Chanyeol tahu ia hanya tinggal menolak perjodohan itu. Namun itu tidak sesederhana seperti kelihatannya. Chanyeol tahu setelah ia menolak perjodohan itu, orangtuanya akan merecoki dirinya dengan berbagai pertanyaan, dimulai dari apa alasannya menolak perjodohan itu, membanding-bandingkan kesempurnaan Jiwon dengan wanita lainnya, dan berakhir dengan diri Chanyeol yang di pikiran orangtuanya terlalu lama membujang. Dan lagi, menolak perjodohan itu Chanyeol rasa tidak ada gunanya karena ia akan tetap dijodohkan dengan Jiwon, suka atau tidak. Menanyakan jawaban Chanyeol hanyalah sebuah formalitas, selalu seperti itu. Selama bertahun-tahun, Chanyeol menjadi anak yang baik dan patuh pada perkataan orangtuanya. Meskipun Chanyeol tidak menyukainya, ia akan berakhir dengan menuruti semua keinginan mereka. Tapi menikah? Ayolah, Chanyeol sudah terlalu besar untuk diatur-atur dalam urusan cinta, apalagi menikah. Tapi –hell– apa peduli orangtuanya? Hidupnya tidak pernah bebas sejak dulu. Dan yang terpenting dari itu semua adalah ia seorang gay. Bagaimana mungkin seorang gay sepertinya menikahi seorang wanita? Lalu apa berikutnya? Menghamili Jiwon? Bahkan jika itu permintaan terakhir Nyonya Park, Chanyeol tidak yakin bisa melakukannya.

Semuanya mungkin akan jauh lebih mudah jika ia tidak sedang jatuh cinta pada Baekhyun. Seandainya ia tidak mencintai Baekhyun, Chanyeol mungkin akan memaksakan dirinya (lagi) untuk menuruti keinginan egois orangtuanya. Ia akan berpura-pura straight dan menikahi Jiwon, meskipun tidak akan sampai menidurinya. Mungkin Chanyeol akan membuat surat keterangan palsu yang menyatakan bahwa ia mandul, jadi dengan begitu mereka bisa mengadopsi seorang anak –atau lebih baiknya– Jiwon berpindah ke lain hati. Setelahnya, Chanyeol akan menghabiskan seumur hidupnya untuk mengabdi di pekerjaannya dan meninggal dalam damai. Ya, seperti itulah akhir ceritanya. Begitu sederhana, begitu terbaca. Astaga, bahkan Chanyeol tidak percaya ia bisa melihat alur kehidupannya jika Baekhyun tidak masuk ke dalamnya.

Tapi –sialnya– kenyataan menghempaskannya.

Baekhyun ada dalam kehidupannya, menari-nari dalam benaknya setiap saat, dan menghantuinya dengan berbagai perasaan. Padahal hanya gara-gara pesan salah sambung, tapi hal itu malah membuat Baekhyun menjadi bagian dari kehidupannya secara permanen. Karena sosok itulah, alur cerita kehidupan Chanyeol berubah drastis, menjadi begitu kompleks dan tak terbaca. Chanyeol sendiri tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini dalam kehidupannya, seolah ia sedang dipermainkan takdir. Dan semua itu karena Chanyeol mencintai Baekhyun. Pria tinggi itu sangat benci kenyataan itu saat tersadar bahwa ia tidak bisa memiliki hati Baekhyun. Karenanya, Chanyeol tidak bisa mengatakan 'ya' tentang perjodohan itu. Tapi ia juga belum menemukan alasan yang tepat untuk menolak perjodohan tersebut. Mengakui bahwa dirinya seorang gay? Chanyeol yakin keluarganya akan membunuhnya detik itu juga, atau setidaknya mengirimnya ke psikiater.

Pikiran Chanyeol lainnya yang membuatnya hampir gila adalah kenyataan bahwa dirinya harus meninggalkan Baekhyun selama lima hari untuk bisnis mode di Paris. Chanyeol tidak bisa membayangkan dirinya tanpa Baekhyun selama itu. Ingat saat ia berada di Jepang? Chanyeol tidak bisa bertahan lebih dari dua hari dan memilih meninggalkan Jongin di Jepang. Yang lebih menyebalkannya lagi, Chanyeol tidak bisa menemukan alasan yang tepat untuk mengajak pria mungil itu ke Paris bersamanya. Jika ada perjalanan bisnis seperti ini, biasanya Chanyeol akan mengajak asisten pertamanya. Lain halnya jika ia pergi ke Paris hanya untuk menghadiri fashion week, Chanyeol bisa saja mengajak Baekhyun dengan alasan 'menambah pengetahuan modenya yang minim'. Tapi jika untuk perjalanan bisnis, Chanyeol tidak bisa menemukan alasan yang tepat karena biasanya asisten pertamanya yang akan membantunya. Dan lagi, jika Chanyeol bersikeras mengajak Baekhyun dan Jongin ke Paris, siapa yang akan stand by di depan telepon kantor jika ada janji atau pertemuan penting yang harus Chanyeol hadiri? Chanyeol tidak bisa mengambil resiko itu.

Chanyeol menghela napasnya seraya mengacak-acak rambutnya frustasi. "Tuhan, tolong berikan jalan keluar dari semua masalah ini.."

Ini semua benar-benar membuat kepalanya ingin meledak.

###

Chanyeol berhenti melangkah saat mendapati meja kerja Jongin kosong. Ia melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Pukul 7.20 pagi. Alisnya bertautan sempurna. Seharusnya pria berkulit tan itu sudah datang. Pria tinggi itu kemudian menoleh ke arah Baekhyun di meja kerjanya.

"Mana Jongin?"

Baekhyun melirik meja kerja Jongin, kemudian beralih ke Chanyeol. "Entahlah. Aku belum melihatnya pagi ini."

Well, ini aneh. Jongin tidak biasanya terlambat atau bolos kerja. Kalaupun Jongin berhalangan kerja, ia akan memberitahu Chanyeol sehari sebelumnya.

"Chanyeol, kau sudah datang?" Kyungsoo –yang baru datang– membuyarkan lamunan Chanyeol. "Aku harus bicara denganmu. Bisa kita bicara di ruanganmu?"

"Tentu." Kyungsoo mengikuti langkah Chanyeol menuju ruangan Chanyeol. Setelah mereka berada di dalam, Chanyeol berbalik menghadap Kyungsoo. "Ada apa?"

"Besok kau ke Paris'kan?" tanya Kyungsoo.

"Ya."

"Jongin tidak bisa ikut. Dia sedang sakit tifus dan harus dirawat di RS."

Chanyeol mengernyit. Dia memicing curiga ke arah Kyungsoo. "Kenapa aku tahu hal ini dari mulutmu?"

"Memangnya kenapa?" tanya Kyungsoo polos.

Chanyeol melipat kedua tangannya di dada tanpa melepaskan tatapan curiganya. "Apa yang terjadi di antara kalian berdua, hm? Sepertinya banyak yang terjadi setelah aku menjodohkan kalian."

"T–tidak ada." Kyungsoo tergagap, membuat Chanyeol semakin mencurigainya. "Daripada itu, lebih baik kau beri tahu Baekhyun untuk menyiapkan paspornya untuk pergi denganmu ke Paris."

Seketika pikiran hubungan Kyungsoo dengan Jongin langsung hilang saat Kyungsoo mengatakan hal itu. Yang ada dalam pikiran Chanyeol sekarang adalah Baekhyun. Chanyeol baru menyadari dengan ketidakhadiran Jongin, ia bisa mengajak Baekhyun pergi dengannya ke Paris. Dengan kata lain, mereka akan menghabiskan waktu berdua saja selama lima hari di Paris. Pria tinggi itu sudah tenggelam dalam khayalannya, ia bahkan tidak menghiraukan Kyungsoo yang pamit dari ruangannya. Satu-satuya yang Chanyeol rasakan hanyalah rasa gembira yang teramat sangat.

Dia dan Baekhyun akan pergi ke Paris besok.

Chanyeol menetralkan kembali ekspresinya, kemudian memanggil Baekhyun. Baekhyun yang merasa dipanggilpun akhirnya memasuki ruangan Chanyeol.

"Siapkan paspormu, kita akan pergi ke Paris besok."

"N–ne? Paris?" Baekhyun terkejut.

"Ya. Tadi Kyungsoo bilang Jongin sedang dirawat di RS, karena itu kau yang akan menemaniku ke Paris." tutur Chanyeol dengan nada setenang mungkin.

"T–tapi bagaimana dengan telepon kantor?"

"Aku akan minta Ahra dan Wendy untuk stand by bergantian."

Baekhyun merasa tenggorokannya kering. Setelah mengangguk pelan, ia kembali ke meja kerjanya. Pikirannya tiba-tiba kacau. Sekarang yang ia pikirkan adalah Kris. Bagaimana caranya ia memberitahu Kris? Baekhyun tahu benar sifat Kris. Kris tidak suka Chanyeol mendekatinya meskipun itu sekedar urusan pekerjaan. Dan sekarang Chanyeol menyuruhnya untuk menemaninya ke Paris? Kris pasti akan marah besar padanya.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya gelisah. "Bagaimana ini?"

.

.

Kris menatap tajam Baekhyun. "Kau apa?"

Baekhyun menelan ludahnya gugup. "Aku akan pergi ke Paris bersama Chanyeol."

Hening.

Suasana dalam café yang tidak terlalu ramai di siang hari itu rasanya semakin menghakimi Baekhyun saja. Kris masih dalam posisi menatap tajam Baekhyun. Pria mungil itu bisa melihat perubahan yang drastis dalam air muka Kris begitu ia mengatakan kalimat itu padanya.

"Apa Chanyeol yang memaksamu?" tuduh Kris –masih dengan nada tenang namun terkesan menusuk.

"Tidak. Jongin masuk RS karena sakit tifus, karena itu aku harus menemani Chanyeol ke Paris." tutur Baekhyun.

"Berapa lama kau akan pergi?"

"Lima hari."

"LI–" Ucapan Kris ditahan oleh dirinya sendiri. Ia hampir saja memekik, Baekhyun tahu itu. Pria tinggi itu menatap Baekhyun dengan emosi yang kentara ditekan. "Apa kau mengerti dengan apa yang baru saja kau katakan?"

"Ini hanya perjalanan bisnis, Kris."

Kris mendengus. "Ya, seakan dalam lima hari itu tidak akan ada yang terjadi di antara kalian." cibirnya.

Bakehyun menghela napas. "Kris, ayolah. Chanyeol membutuhkanku sebagai asistennya. Dia–"

"Kau tidak mengerti, Baek," potong Kris cepat, "Aku tahu Chanyeol masih menyimpan perasaan untukmu. Dia pasti akan memanfaatkan situasi ini untuk merebutmu. Aku tahu itu."

"Kris, hentikan itu. Chanyeol tidak akan berbuat apa-apa. Dia tahu hubungan kita."

Kris menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menatap ke arah lain. "Entah bagaimana aku harus menjelaskannya padamu, Baek. Aku kenal Chanyeol. Watak kami hampir sama dan–"

"Tak bisakah kau kesampingkan prasangka burukmu dan bersikap profesional? Chanyeol membutuhkanku, Kris. Aku tidak bisa menolaknya, kau tahu itu." Baekhyun mengerang frustasi di antara kalimatnya.

Kris menatap Baekhyun kali ini. Pria tinggi itu menggenggam tangan Baekhyun seraya mencondongkan badannya ke arah Baekhyun. "Tak bisakah kau berhenti bekerja disana? Kau bisa bekerja di perusahaanku. Kau tidak suka Chanyeol'kan? Bekerjalah di perusahaanku, aku akan memberikan posisi yang kau inginkan. Dengan begitu, kau tidak perlu bertemu Chanyeol lagi."

Baekhyun termenung. Sebenarnya Baekhyun sempat memikirkan jalan itu beberapa kali. Kalaupun ia tidak bekerja di perusahaan Kris, posisi kekasihnya yang merupakan seorang CEO bisa mencarikannya pekerjaan di tempat lain sehingga akan mempermudah jalan Baekhyun menjadi jurnalis. Ia tahu ia bisa melakukan itu kapan saja ia mau. Namun entah kenapa, Baekhyun tidak mau. Sesuatu dalam hatinya melarangnya. Ia merasa jalan itu tidak benar. Ia merasa seperti melarikan diri dari komitmennya dan Baekhyun bukan tipe orang seperti itu.

"Aku tidak bisa, Kris." tolak Baekhyun halus. Tepat saat Kris mengertakkan giginya, Baekhyun mulai merasakan firasat buruk.

"Jangan katakan kau menyukainya."

Mata Baekhyun sontak membola mendengar tuduhan Kris. Ia tidak percaya kekasihnya mengatakan hal itu.

"Aku tidak menyukainya." tepis Baekhyun.

"Lalu kenapa kau tidak mau berhenti bekerja disana? Kau sendiri yang selalu mengeluhkan perlakuan Chanyeol di tempat kerja, kau juga yang bilang kau bekerja disana demi mencari pengalaman kerja agar kau bisa menjadi seorang jurnalis, tidak lebih dari itu. Tapi kenapa saat aku menawarkan jalan yang lebih mudah, kau malah menolaknya? Apa alasanmu? Apa karena Chanyeol?"

"Kris, kau tahu aku sudah berkomit–"

"JANGAN SERET-SERET KOMITMENMU, BAEKHYUN!" Kris membentak. Napasnya yang sudah memburu, semakin memburu karena ia membentak Baekhyun barusan. Baekhyun cukup terkejut. Ini pertama kalinya Kris membentaknya dan itu terlihat mengerikan. Pria tinggi itu masih menatap tajam Baekhyun, menutut penjelasan atas semua pertanyaan yang ia lontarkan.

"Katakan alasanmu yang sebenarnya, Baekhyun. Apa itu karena Chanyeol? Karena Chanyeol bekerja disana, karena itu kau tidak mau berhenti bekerja disana?" Kris berusaha menahan emosinya dalam-dalam meski matanya sudah melayangkan emosi yang meledak.

"Bukan berarti aku menyukai Chanyeol, Kris. Ini hanya..," Baekhyun menelan ludahnya susah payah, "Aku merasa berterima kasih padanya karena telah memberikan pekerjaan ini padaku. Dia sudah seperti Hyung-ku sendiri. Dan aku tidak bisa meninggalkannya di saat Chanyeol membutuhkanku."

Kris terdiam. Meski wajahnya terlihat tenang, jantungnya berdegup kencang. Baekhyun tidak tahu itu. Pria mungil itu bahkan tidak tahu arti tatapan Kris saat ini, tapi yang pasti itu tidak bagus. Firasatnya semakin tidak enak karena Kris terus mendiaminya.

"Kau mulai menyukainya."

Baekhyun benci saat firasatnya benar.

"A–aku tidak–"

"Jangan bohong, Baekhyun," Kris memotong cepat, "Aku tahu tatapan itu. Aku tahu sifatmu."

"Kris kumohon, aku hanya mencintaimu. Aku tidak punya perasaan apa-apa pada Chanyeol. Percayalah padaku." Baekhyun memelas sampai airmatanya menggenang di pelupuk matanya.

"Kalau begitu, buktikan. Berhenti menjadi asistennya." tandas Kris.

Lidah Baekhyun kelu. Ia tahu ia seharusnya marah pada Kris karena telah meragukan perasaannya, tapi ada secuil dalam diri Baekhyun yang tidak bisa menyangkalnya. Well, ia memang tidak membenci Chanyeol –seperti dulu, tapi ia juga tidak menyukai Chanyeol seperti yang dikatakan Kris. Memang ada sesuatu dalam diri Baekhyun yang ia jadikan sebagai alasan tidak mau berhenti menjadi asisten Chanyeol. Baekhyun sendiri tidak tahu apa itu, ia tidak bisa mendeskripsikannya dengan jelas. Tapi Baekhyun cukup yakin rasa dalam dirinya bukanlah rasa suka ataupun cinta, itu seperti rasa hormat.

"Aku tidak bisa," ucap Baekhyun lirih, "Chanyeol membutuhkanku, aku tidak bisa meninggalkannya. Kumohon mengertilah, Kris. Aku janji aku–"

"Sudahlah." Kris bangkit dari duduknya tanpa menatap Baekhyun lagi. Ia berjalan keluar dari café tanpa menghiraukan Baekhyun yang sudah menitikkan airmatanya.

###

Baekhyun menatap kosong ke luar jendela pesawat. Mata sipitnya terlihat agak bengkak. Mungkin akibat ia menangis semalaman. Well, Baekhyun sudah mencoba menghubungi ponsel Kris dan mengirimkan pesan padanya, tapi tetap nihil. Kris benar-benar marah padanya. Dan jarak yang ia ciptakan dengan Kris selama lima hari ini tidak membuatnya membaik. Baekhyun ingin sekali tidak ikut ke Paris bersama Chanyeol, tapi ia tidak bisa meninggalkan Chanyeol begitu saja. Chanyeol benar-benar membutuhkannya saat ini sebagai asistennya.

Baekhyun tidak punya pilihan yang lebih baik.

"Kau baik-baik saja?" Suara bass Chanyeol berhasil membangunkan Baekhyun dari lamunannya. Ia menoleh ke arah pria tinggi itu dengan senyuman lemahnya. "Apa ini pertama kalinya kau naik pesawat?"

Baekhyun mengangguk pelan. Pria mungil itu membenarkan posisi duduknya dan menatap lurus ke depan. "Apa naik pesawat begitu mengerikan?" Baekhyun berusaha membuka topik pembicaraan.

Chanyeol berpikir sejenak, kemudian menjawab, "Tidak terlalu."

"Aku pernah menonton film Final Destination dimana pesawatnya meledak setelah lepas landas. Aku jadi parno sendiri."

Chanyeol terkekeh pelan. "Awalnya memang akan berguncang saat lepas landas, tapi justru itu pertanda baik. Pesawatnya berarti terbang dengan baik." tutur Chanyeol seraya mengusap puncak kepala Baekhyun, membuat pria mungil itu menatapnya. Chanyeol tersenyum manis padanya. "Semuanya akan baik-baik saja."

Baekhyun balik tersenyum ke arahnya. Ini aneh. Padahal Baekhyun sempat gugup karena ini adalah pertama kalinya ia naik pesawat, tapi ucapan Chanyeol dan sentuhan tangannya tadi membuatnya lebih baik.

"Kau harus berhenti menonton film seperti itu, Baek. Itu akan meracuni pikiranmu."

Bibir Baekhyun mengerucut. "Tapi filmnya bagus dan menegangkan. Aku suka."

Chanyeol terkekeh lagi. "Ya, ya, terserah kau saja."

Baekhyun tersenyum lebar. Tanpa ia sadari, ia mulai tidak memikirkan masalahnya dengan Kris lagi. Ia justru sering tersenyum dan tertawa saat percakapannya dengan Chanyeol berlanjut.

.

.

Baekhyun melebarkan matanya melihat pemandangan di hadapannya. Mata sipitnya begitu berbinar-binar saking kagumnya dengan menara tinggi yang ia lewati barusan. Itu menara Eiffel. Ini pertama kalinya Baekhyun melihatnya secara langsung. Ia sungguh tidak menyangka akan sungguh pergi ke Paris dan melihat salah satu keajaiban dunia yang terkenal itu. Tanpa ia sadari, mulutnya sedari tadi tidak menutup, membuat pria tinggi di sebelahnya menahan tawanya.

"Kau mau kesana?"

Baekhyun menoleh cepat ke arah Chanyeol. "Bolehkah?"

Chanyeol mengangguk pelan. "Jika pekerjaanku sudah selesai, aku akan menemanimu kesana."

"Sungguh?!" Mata Baekhyun semakin berbinar.

Astaga, itu benar-benar terlihat menggemaskan di mata Chanyeol. Pria tinggi itu tidak tahan untuk tidak tertawa melihatnya. Chanyeol-pun mengangguk mantap seraya mengacak rambut Baekhyun gemas, membuat pria mungil itu bersorak gembira. Baekhyun kembali menatap pemandangan di luar kaca mobil tanpa melunturkan senyuman lebarnya. Melihatnya seperti itu, membuat Chanyeol ikut senang. Ia malah merasa datang kemari untuk liburan, bukannya mengurusi bisnis. Dan bagian terbaik dari semua itu adalah hanya ada mereka berdua disini, tidak ada Kris atau siapapun orang yang mereka kenal untuk menghancurkan momen bahagia Chanyeol.

Hanya ada Chanyeol dan Baekhyun.

.

.

Chanyeol dan Baekhyun sudah sampai di Paris France Hotel –hotel yang akan mereka tinggali selama di Paris. Kamar mereka bersebelahan di lantai lima belas. Begitu mereka sampai di depan kamar masing-masing, Chanyeol menoleh ke arah Baekhyun. "Kita istirahat dulu. Berikan jadwalku saat kita makan malam nanti."

"Baik."

Mereka berduapun masuk ke dalam kamar masing-masing. Begitu pintu tertutup, Chanyeol tak bisa menahan dirinya lagi untuk tidak tersenyum lebar. Ia bahagia, sangat bahagia malah. Ia tidak menyangka akan menghabiskan waktu berdua saja bersama Baekhyun di Paris, seolah Tuhan telah menjawab keinginannya. Pria tinggi itu tahu dia datang kemari bukan untuk liburan, tapi ia rasa bekerja sambil liburan bukanlah sebuah dosa, bukan? Ini seperti sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui. Dan nanti malam ia akan makan malam berdua dengan Baekhyun. Astaga, saking bahagianya Chanyeol, ia tidak bisa mengontrol debaran jantungnya. Rasanya ia ingin beteriak gembira di hadapan semua orang seperti orang gila.

Sementara di kamar Baekhyun, pria mungil itu masih dibuat kagum oleh pemandangan di luar kamarnya. Ia berjalan mendekati kaca besar di dalam kamar hotel itu agar bisa melihat lebih jelas pemandangan Paris yang selama ini ia lihat melalui internet. Ia masih tidak percaya dirinya berada di Paris –kota yang terkenal sebagai kota romantis. Baekhyun penah membayangkan dirinya pergi kemari dan memotret dirinya di depan menara Eiffel. Oh, ngomong-ngomong tentang menara Eiffel, Baekhyun sudah tidak sabar untuk pergi kesana. Ia hanya perlu menunggu sampai semua pekerjaan Chanyeol selesai, setelahnya ia akan pergi jalan-jalan bersama Chanyeol ke menara Eiffel. Mengingat janji kecil Chanyeol, Baekhyun tersenyum simpul. Well, Chanyeol benar-benar telah berubah. Meskipun terkadang pria tinggi itu bersikap keras di tempat kerja, tapi di luar itu semua, sikap Chanyeol benar-benar berubah ke arah yang lebih baik. Pria tinggi itu mulai sering tersenyum padanya dan itu terlihat lebih baik daripada sebelumnya. Dan setelah bekerja hampir selama tiga bulan di Korean Vogue, Baekhyun menemukan hal baru di diri Chanyeol yang tidak ia temukan di internet. Chanyeol adalah sosok pria yang hangat dan baik di balik sikap tegasnya. Ia peduli pada kinerja karyawannya dan selalu bersikap profesional. Seperti kata Yoora, Chanyeol adalah pribadi yang menyenangkan jika seseorang mau mengenalnya lebih baik. Terbukti saat Chanyeol menenangkannya saat di pesawat tadi dan mengajaknya pergi ke menara Eiffel.

"Ah, benar! Aku harus bersiap-siap!" serunya tiba-tiba. Baekhyun-pun berjalan menuju kopernya, mengambil beberapa setelan yang telah ia persiapkan, dan meletakkannya di ranjangnya. Pria mungil itu sempat tersenyum sebelum akhirnya masuk ke kamar mandi.

.

.

Baekhyun memberikan jadwal Chanyeol untuk besok setelah mereka selesai menghabiskan main course. Pria tinggi itu membacanya dengan saksama, sementara Baekhyun asyik memerhatikan pelayan yang sedang menyimpan makanan penutup di atas meja mereka. Mata sipit itu bersinar saat melihat makanan penutup di hadapannya. Itu adalah puding strawberry –salah satu makanan kesukaan Baekhyun. Well, sebenarnya pria mungil itu menyukai makanan apapun yang bahan utamanya strawberry. Tanpa menunggu apapun lagi, Baekhyun meraih sendok kecil di atas meja, kemudian menyuapkan puding itu ke dalam mulutnya.

"Hmm~" gumam Baekhyun ketika lidahnya dipertemukan dengan tekstur lembut puding strawberry tersebut. Chanyeol yang sedari tadi fokus membaca daftar jadwalnya, tertarik untuk melirik ke pria mungil di hadapannya. Senyuman puas tertarik di sudut bibir Chanyeol melihat Baekhyun terlihat menikmati makanan penutupnya. Well, ia sengaja memesan makanan penutup berbahan strawberry karena ia tahu Baekhyun menyukainya. Tapi tentu saja Baekhyun tidak tahu itu. Dia pikir Chanyeol hanya asal pilih memesan makanan penutup mereka. Tanpa Baekhyun sadari, pria tinggi di hadapannya terus memerhatikannya.

"Aku tidak percaya kau masih menyukai strawberry." celetuk Chanyeol.

"Tentu saja, strawberry itu ena–"

Ucapan Baekhyun terhenti saat ibu jari Chanyeol mengusap pelan sudut bibirnya. Dan detik itu pula, Baekhyun menahan napasnya. Ia menatap Chanyeol dengan mimik terkejutnya, sedangkan pria jangkung itu menatapnya dengan senyuman manis. Dan senyuman Chanyeol tidak membantu sama sekali. Itu malah membuat jantung Baekhyun berpacu hebat.

"Ada krim disini." ucap Chanyeol seraya menarik ibu jarinya.

Baekhyun merasa wajahnya begitu panas. Pria mungil itu berdehem sejenak sebelum akhirnya meminum air putih miliknya. Chanyeol berusaha sekuat mungkin untuk tidak tertawa melihat ekspresi Baekhyun yang sedang malu itu. Aigoo~ Baekhyun benar-benar terlihat manis di matanya.

"Karena aku sudah kenyang, pudingku untukmu saja." Chanyeol memberikan puding miliknya pada Baekhyun. Ia tersenyum lembut pada Baekhyun seraya berkata, "Pelan-pelan saja makannya, oke?"

Baekhyun merasa tenggorokannya kering sekali padahal ia baru saja minum air putih. Ia menggumamkan kata 'terima kasih' seraya menyembunyikan wajahnya yang memerah sempurna. Baekhyun benar-benar merutuki jantungnya sendiri yang tidak bisa tenang hanya karena sikap manis Chanyeol. Dalam hati ia bertanya-tanya, kenapa semakin lama, sikap manis Chanyeol membuat jantungnya tidak mau tenang?

TBC

NC chapter depan, guys! Jadi, review yang banyak yaaaa!

Sejuta thanks untuk yang sudah membaca, mereview, dan mengklik fav/follow. Berkat dukungan kalian, saya tetep semangat buat nulis. Tetep hargai karya saya ya #bow