Disclaimer: I do not own Death Note or its characters. It all belong to Takeshi Obata and Tsugumi Ohba. Poor me.


Warnings: violence, sexual harassment, language.

Chapter 10: Malam Pembebasan Para Budak

L's POV

Kami tiba di tepi kota Juhna. Kereta berhenti di tembok luar sebuah rumah yang terbilang mewah untuk orang yang bukanlah seorang bangsawan. Ikatan kaki dan kain di mulutku dilepas, namun aku dipegangi sehingga aku tidak bisa kabur. Pasukan penjaga rumah melotot saat melihatku (kenapa sih? Aku 'kan bukan hantu!) saat kami masuk ke teras. Di halaman yang luas terdapat lima buah kandang berisikan para budak yang menderita dan merana. Aku teringat akan kandang budak di perkemahan penyamun. Mungkinkah pemiliknya orang yang sama?

Kami berhenti di pintu rumah dan Gars mengetuk. Pintu dibukakan dari dalam oleh seorang wanita berambut hitam keriting panjang berpakaian penari Arab yang seluruhnya berwarna merah muda. Ia membelalakan mata saat melihatku (oke, mungkin aku akan semakin terbiasa) dan terdiam beberapa saat sebelum menanyakan keperluan kami.

"Kau tidak lihat pemuda ini? Tuanmu pasti mau menemui kami. Bilang Gars membawa bunga yang lebih cantik dari semua yang dia miliki," jawab Gars dengan tersenyum bangga.

Wanita itu kemudian mempersilakan kami masuk. Ia lalu berjalan di depan, memandu kami sambil meliuk-liukan pinggulnya saat berjalan yang membuatku heran, bagaimana ia bisa tahan berjalan seperti itu berlama-lama tanpa sakit pinggang?

Kami sampai di sebuah ruang tamu mewah beralaskan permadani dan wanita itu mempersilakan kami duduk di sofa sutra empuk. Aku duduk dengan gaya biasaku dan semuanya nampak terpaku memperhatikanku. Terdengar suara-suara aneh, mirip jeritan dan erangan seperti disiksa yang diiringi tawa puas. Wanita itu lalu berjalan menaiki sebuah tangga yang terdapat pintu besar di atasnya lalu masuk. Suara-suara mengerikan tersebut terdengar semakin keras saat pintu terbuka dan kembali mengecil saat pintu ditutup.

"Kelihatannya Sahreem sedang bersenang-senang," komentar Gars.

Bersenang-senang. Mendadak aku mengerti maksudnya dan mulai gemetaran. Sif dan Qardi yang menjagaku di samping kiri kanan terkekeh melihat reaksiku. Gars memelintir-lintir kumisnya dengan sebelah tangan sementara yang satunya mengetuk-getuk meja dengan tidak sabar.

Agak lama waktu berlalu suara jeritan berhenti dan sesaat kemudian pintu terbuka. Seorang pemuda berambut pirang panjang turun dengan hanya memakai selembar selimut untuk menutupi tubuhnya. Sambil menangis tersedu-sedu, ia berlari kecil tanpa melihat ke arah kami dan langsung menghilang ke balik tirai yang ada di pinggir ruang tamu. Seorang pria berbadan besar nan kekar (kenapa selalu pria berbadan besar?) muncul kemudian diiringi wanita tadi di sisinya. Ia mengenakan pakaian mewah namun santai dengan selop sutra. Pasti dia Sahreem. Wajahnya garang, kulitnya coklat, ia memiliki lima buah anting emas, tiga di telinga kiri dan dua di kanan. Dan ia memiliki jenggot seperti… kambing.

"Ada apa, Gars?" katanya jengkel karena kedatangan kami menginterupsinya, "Kalau barang tawaranmu tidak seberapa, kau…." Kata-kata dan langkahnya terhenti saat ia melihatku. Dengan melotot ia memandangiku dari atas ke bawah, kemudian dari bawah ke atas, kemudian dari atas ke bawah lagi.

Gars terkekeh bangga sambil menarikku ke depan agar Sahreem bisa melihatku lebih jelas. Sahreem mempercepat langkahnya menuruni tangga kemudian menghampiri kami. Matanya makin melotot saat melihatku dari dekat (membuatku ngeri karena matanya seperti nyaris keluar). Gars memutar-mutar tubuhku seperti gasing agar Sahreem bisa melihat tubuhku keseluruhan. Kepala Sahreem nampak ikut berputar-putar searah putaran badanku.

"Bagaimana? Lebih cantik dari semua bunga koleksimu bukan?" Gars nampak puas dengan reaksi Sahreem. "Pemuda ini kira-kira berusia dua puluh tahun, berkulit putih pucat, rambut dan mata hitam, dengan tubuh yahud."

"Berapa harganya?" Sahreem menggosok-gosokan kedua telapak tangannya dengan wajah bersemangat, membuat wajahnya semakin seram.

"Empat puluh keping emas."

Wajah Sahreem nampak tidak berubah. Ia masih memandangiku dengan antusias.

"Dia masih perjaka. Masih belum berpengalaman."

Wajahku pasti memerah.

"Setuju. Aku beli." Sahreem menjilati sudut bibirnya.

Aku tidak tahan untuk bersuara. "Apa yang kalian lakukan merupakan tindakan illegal dan merupakan kriminal tingkat tinggi! Menurut hukum pidana ketatanegaraan nomor 19 pasal 5 ayat 3, kalian telah melanggar undang-undang perlindungan kemanusiaan dengan melakukan tindakan perampasan hak kemerdekaan serta nomor 31 pasal 2 ayat1 tentang perbuatan tidak menyenangkan yang berpotensi atau akan menyebabkan luka bagi orang lain baik secara fisik dan mental. Kalian juga melanggar undang-undang hukum pidana nomor 11 tentang penculikan, nomor 23 tentang perdagangan manusia, nomor 27 tentang bisnis illegal, dan nomor 34 tentang perendahan martabat manusia! Kalian terancam hukuman penjara maksimal 80 tahun dengan tambahan hukuman 20 cambukan serta denda 500 keping emas!"

Semua yang ada di ruangan terdiam beberapa saat. Mereka melongo.

"Burung kecil cantik yang pandai berceloteh," ujar Sahreem senang, "Suaranya pun indah."

"Dan ia pintar." Gars terus berpromosi.

Gantian aku yang melongo. Mereka sama sekali tidak takut dan peduli akan hukum. Dianggap apa isi perkataan panjang-lebarku tadi?

"Sebenarnya aku tidak butuh yang pintar, mereka menyusahkan. Tapi harus kuakui, pemuda ini jauh lebih menarik dari siapa pun yang pernah kulihat." Ia tersenyum sambil mengulurkan tangan untuk menyentuhku.

"Eit," potong Gars sambil menarik tubuhku mundur menghindari sentuhannya, "Ada uang ada barang."

Sahreem mengangguk paham. "Fatima," katanya pada wanita berpakaian merah muda tadi.

"Baik, Tuan." Wanita yang ternyata bernama Fatima itu kemudian kembali menuju ruangan di atas tangga sambil berjalan masih dengan gaya yang bisa membuat sakit pinggang tadi.

"Sekalian rapikan kamarnya, Fatima. Serta sediakan yang 'istimewa' untuk bunga cantik ini."

Rapikan kamarnya. Sediakan yang 'istimewa'. Aku teringat pada pemuda pirang malang tadi dan kengerian membayangiku. Ia masih mau melakukannya. Padaku.

Aku panik dan memberontak. Gars dan anak buahnya dengan sigap memegangiku dan mendudukanku di sofa (dengan posisi 'normal' bagi orang kebanyakan, membuatku tidak nyaman). Aku masih terus meronta sampai akhirnya tubuhku tidak bisa bergerak lagi, ditahan ketiganya.

"Tidak heran ia masih perjaka. Ia kucing kecil yang galak." Sahreem tertawa kecil. "Aku suka perjaka pemberontak. Ada tantangannya."

Aku mau muntah. Seandainya ketiga orang ini menyingkir, sudah kutendang dagu si Jenggot Kambing ini sampai jenggotnya rata.

"Darimana asalmu, Manis? Siapa namamu?" tanya Sahreem sambil duduk di sofa kecil di seberangku.

Aku hanya diam dan memalingkan muka.

"Hei, jawab pertanyaan Tuanmu!" hardik Gars.

Aku membalasnya dengan tatapan tajam. Gars membalas dengan melotot.

"Hahaha!" tawa Sahreem, "Kucing cantik yang liar, permata belum diasah. Lihat saja nanti, akan kubuat kau menurut."

Aku mendengus dengan perpaduan kesal, marah, takut, panik, tegang, dan sedih bergejolak di dadaku. Aku tentu tidak rela jika si Jenggot Kambing ini menyentuhku namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin nanti jika ia membawaku ke kamarnya dan hanya ada kami berdua aku bisa mencari cara untuk kabur. Ya, aku pasti bisa. Aku adalah seorang cendikiawan nomor satu negara dan pernah kabur dari perkemahan penyamun sebelumnya. Aku pasti akan menemukan cara. Aku menghela napas panjang, menenangkan diri.

Sahreem terus memandangiku dengan mata kelaparan. Aku berusaha tidak memandangnya. Fatima belum juga kembali. Saat aku berharap ia pergi lebih lama lagi, wanita anti-sakit pinggang itu muncul setelah membuka pintu lalu turun dengan (tetap) berlenggak-lenggok sambil membawa kantong besar yang pasti berisi uang emas. Sahreem, Gars dan kedua anak buahnya terlihat gembira akan kedatangan Fatima dengan alasan yang berbeda pula.

Gars menerima kantong tersebut dengan senang dan segera menghitung isinya. Aku ditarik kedua anak buahnya sehingga berdiri sambil dipegangi sementara Sahreem menggosok-gosokan kedua telapak tangan sambil memandangiku. Kemudian Gars menganggukan kepala pada kedua anak buahnya yang segera melepas ikatan tanganku lalu mendorongku maju ke hadapan Sahreem.

Aku menggosok-gosok kedua pergelangan tanganku sambil gemetaran dan tidak berani memandang ke arah Sahreem. Ia benar-benar tinggi menjulang, aku hanya sedadanya saja. Tanpa basa-basi, Sahreem menarikku ke dalam pelukannya, merangkul pinggangku.

"Benar-benar langsing! Memeluk pinggangnya dengan satu tangan pun masih menyisakan banyak ruang!"

Aku berusaha mendorong tubuhnya tapi rasanya seperti mendorong tembok saja. Sahreem kelihatannya menganggap penolakanku sebagai hal yang lucu dan memelukku lebih erat lagi sampai membuatku sulit bernapas. Ternyata tidak hanya jenggot, tapi aroma tubuhnya juga mengingatkanku pada… ugh.

"Ehm, Sahreem," kata Gars, "Sebenarnya ada satu lagi, tapi anak buahku belum membawanya kemari."

"Satu lagi?" Sahreem antusias.

"Laki-laki. Masih anak-anak, manis sekali. Langka, rambutnya putih."

"Rambutnya putih?" Sahreem tambah antusias.

"Tapi entahlah, mereka belum datang juga, jadi aku tidak janji. Bolehkah kami menunggu di sini? Akan kuberitahu penjaga di luar agar jika anak buahku datang mereka mengizinkannya masuk. Lagipula mereka sudah tahu wajah anak buahku."

Sahreem menyetujui. Aku berharap agar anak buahnya gagal menangkap Near. Pikiranku langsung buyar saat tangan besar nan kasar Sahreem meremas bokongku. Aku langsung menjerit serta memberontak. Kenapa mereka semua gemar meremas bokongku? Sahreem tertawa makin keras.

"Bokong yang indah dan enak disentuh," komentarnya. "Kenyal, lembut, kencang…."

Aku teringat akan 'teknik' Near lalu menendang tulang keringnya dan ia mengaduh pelan. Tangannya berhenti menyentuh bokongku, namun masih memelukku. Kukira ia akan marah, tapi ia malah tertawa keras.

"Benar-benar galak. Aku suka."

Sinting.

"Kalau begitu kami menunggu di sini. Dia milikmu, terserah kau mau berbuat apa padanya." Gars menyapukan lengannya ke arahku.

Sahreem tertawa sambil membopongku. Aku berteriak dan memberontak tapi (kenapa selalu) tidak bisa membuatnya berhenti. Ia naik tangga menuju ruangan atas. Pintu semakin mendekat dan semakin dekat.

"Jangan kasar-kasar, Sahreem, ingat dia belum berpengalaman," pesan Gars sambil tertawa diiringi anak buahnya yang juga tertawa dan bersuit-suit. Pintu ditendangnya terbuka dan ia membawaku masuk.


Pintu terbuka dan Sahreem membawaku masuk ke sebuah ruangan besar nan mewah. Memang tidak sebesar dan semewah kamarku di istana, tapi memang bukan kamar pengusaha biasa. Ia menurunkanku dan aku berdiri di lantai tengah ruangan. Aku ketakutan menatap matanya yang seperti mata hewan pemangsa yang sedang melihat ternak dan aku langsung memalingkan muka. Aku mencuri pandang ke sekeliling ruangan untuk mencari cara kabur. Ada banyak jendela yang sayangnya dipasangi teralis kayu beronamen flora dan sebuah pintu balkon yang tertutup serta pilar-pilar. Banyak tiang lilin dan lampu gantung penuh lilin di langit-langit. Tembok dihiasi lukisan serta aneka pedang yang digantung. Ada lemari besar dan sebuah pintu lagi (mungkin kamar mandi) serta meja kursi. Ada sebuah tempat tidur besar bertiang empat dengan kelambu di belakangku.

"Oho, langsung melihat ke arah ranjang. Sudah tidak sabar, ya?"

Aku terlonjak kaget mendengarnya. Aku langsung mundur beberapa langkah yang malah membuatku semakin dekat dengan tempat tidur. Sahreem tersenyum cabul. Ia berjalan ke pintu dan menguncinya, lalu berjalan ke arahku setelah mengantongi kuncinya. Aku menghindar saat dia datang dan ia menyusulku. Hal itu terjadi terus-menerus sampai kami berputar-putar pelan, membentuk pola lingkaran kecil.

"Lucu sekali, Cantik. Mengingat kau masih perjaka, aku memang harus perlahan padamu. Jadi, tenang saja."

Mana bisa aku tenang? Aku tidak menginginkannya!

"Aku ke kamar mandi dulu, bersiap. Kau juga bersiaplah. Fatima telah menyiapkan sesuatu untukmu di atas tempat tidur." Setelah berkata begitu ia menuju pintu kamar mandi dan mengedip genit padaku sebelum masuk, membuatku semakin muak.

Ia telah pergi. Aku langsung menuju pintu balkon dan berusaha membuka, namun terkunci. Ada satu gantungan kunci dengan banyak kunci di meja, tapi mata kuncinya lebih besar dari lubang kunci balkon, berarti bukan kuncinya. Aku menggoncang-goncang teralis kayu, kokoh. Tidak ada jalan keluar.

Aku menahan kepanikan yang makin menggila. Aku memutuskan untuk melihat hal 'istimewa' yang telah disiapkan untukku, siapa tahu bisa kumanfaatkan untuk kabur. Aku mendekati tempat tidur dan aku luar biasa terkejut.

Di atas seprai kuning gading terdapat satu setel pakaian penari arab berwarna merah darah. Merah darah cerah. Akan kontras sekali dengan kulit pucat dan rambut hitamku. Pakaian ini potongannya… menantang, jauh lebih terbuka dari yang Fatima si anti-sakit pinggang kenakan tadi. Ukurannya pas untukku, bahannya transparan sehingga seluruh tubuhku akan kelihatan jika memakainya, kecuali bagian bokong dan selangkangan (yang bahannya lebih tebal) serta dipenuhi manik-manik dan rumbai nan norak. Pakaian ini dirancang untuk dikenakan laki-laki sehingga bagian dadanya rata serta hanya akan menutupi dada dan memamerkan perut. Aku langsung merasakan gabungan dua hal: pusing dan ingin muntah. Si Jenggot Kambing itu memintaku memakai ini?

Aku baru mau beranjak untuk meraih pedang yang digantung di tembok sebagai senjata namun Sahreem sudah keburu keluar dari kamar mandi. Aku melotot. Ia memakai celana kulit panjang mengkilat yang ketat serta jas bulu binatang panjang yang berkerah bulu-bulu unggas. Ia bertelanjang dada, memperlihatkan tato naga China yang terpatri di dadanya dan memakai kalung rantai emas. Lagi-lagi aku merasakan gabungan beberapa hal: pusing, ingin muntah, geli, jijik, ingin tertawa, takut, serta mau pingsan.

"Ng? Kau belum memakainya, Cantik?" Dalam mimpimu.

Setelah mengunci pintu kamar mandi, ia kemudian tersenyum cabul lagi. "Kau ingin aku yang memakaikannya padamu?"

Aku tambah melotot. Ia kemudian mendekatiku dan aku menghindar. Tubuh kekar berototnya begitu menjijikkan bagiku apalagi dengan celana kulit ketatnya itu. Ia mendekatiku lagi dan aku mulai lari. Kami berlari berkeliling ruangan. Aku berlari ketakutan sementara ia berlari dengan penuh semangat seakan ini adalah sebuah permainan. Sahreem jelas-jelas berlari santai dan pelan, namun langkahnya yang besar-besar mampu mengimbangi lari sepenuh tenagaku. Beberapa kali aku menjerit kecil saat tangannya nyaris menggapaiku, membuatnya semakin senang.

Aku mencari tempat bersembunyi, namun tidak kutemukan. Aku terus berlari sampai terpaksa mengitari sebuah pilar selebar manusia dan akhirnya aku tersudut di pojokan, di balik pilar sementara ia ada di seberang pilar. Aku berusaha mengambil jalan di kiri namun ia telah menghadang, begitupun di kanan. Aku tidak bisa lari lagi. Matilah aku.

"Ternyata kau suka gaya ala India, ya? Apa perlu pakaianmu kuganti pakaian penari India saja?" tanyanya dari balik pilar.

Ia menangkapku dan aku menjerit. Aku menampar pipi kanannya sekuat tenaga dan pelukannya melonggar. Aku mengambil kesempatan untuk merosot sampai lepas dan kembali lari. Tanganku berdenyut-denyut nyeri dan telapak tanganku merah saat kulihat. Cih, itulah sebabnya aku lebih suka menendang daripada memukul atau menampar, keduanya hanya menyakiti tangan sendiri. Sahreem kembali mengejarku. Aku kesal melihat pipinya hanya merah sebentar dan kemudian normal kembali seperti tidak pernah ditampar sedangkan tanganku masih sakit (padahal aku yang menampar, malah aku yang sakit!).

Aku melihat botol-botol anggur kosong di meja dan berlari ke sana lalu meraih satu. Sahreem menyusulku dan tanpa pikir panjang kuhantamkan botol kosong itu ke kepalanya sampai botol tersebut pecah. Kukira Sahreem akan ambruk namun ia masih berdiri tegak (berdarah saja tidak). Ia menyingkirkan pecahan kaca dari rambutnya dan tersenyum mengerikan padaku. Dia mungkin punya ilmu kebal, pikirku panik.

"Ternyata kau suka main kasar, ya? Berbeda dengan penampilanmu." Senyumannya bertambah lebar. "Aku tadinya mau bersikap lembut, tapi kalau kau memang suka main kasar akan kuladeni."

Kurasa sekarang aku telah sepucat rambut Near. Tubuhku gemetaran namun aku berlari lagi. Ia berhasil menangkap ujung belakang atasanku lalu menariknya sampai robek. Suara jeritan kagetku beriringan dengan bunyi sobekan kain. Sekarang pinggang belakangku terekspos dan secara reflek aku membalikkan badanku karena malu. Aku melihat Sahreem menyusulku dengan berjalan ringan sambil menciumi sobekan pakaianku yang digenggamnya. Matanya lebih berbahaya dari sebelumnya dan… (ugh) gundukan pada celananya membesar.

Aku bergerak mundur dan punggungku menabrak tembok. Oh tidak. Aku menyilangkan tangan di depan dadaku secara protektif. Reaksiku malah nampaknya semakin menyenangkannya. Ia mendekatiku dengan lebih cepat dan sebelum ia meraihku, aku berhasil berlari menunduk menghindarinya lalu berlari kembali. Tangan kekarnya meraih bahu kiriku dari belakang lalu dengan cepat aku membalikkan badan menghadapnya, melancarkan tendangan ke perutnya. Ternyata tubuhnya yang terlalu tinggi membuat tendanganku meleset. Alih-alih menendang perutnya, telapak kakiku malah menendang pangkal pahanya, tepat di atas gundukan menjijikkan tadi.

Kami memekik bersamaan. Ia melonjak kesakitan sambil mengerang dan mengusap… bagian yang tadi kutendang sementara aku histeris karena telah menyentuh (walau secara tidak langsung)… 'anu' si Jenggot Kambing yang menjijikkan itu. Dengan super-duper jijik (sudah berapa kali aku bilang 'jijik'?) aku menggosok-gosokan telapak sepatuku pada lantai, berusaha menghilangkan bekas sentuhan tidak diinginkan tadi. Kutengok Sahreem dan ia masih sibuk mengurusi… bagian yang aku tendang tadi. Tendangan melesetku sepertinya jauh lebih ampuh efeknya ketimbang jika aku tadi menendang perutnya. Ternyata meskipun mungkin saja ia punya ilmu kebal, 'bagian itu' tidak kebal.

Aku mengambil kesempatan dan mencari cara untuk mempertahankan diri. Aku berlari menuju pedang yang tergantung di tembok dan meraih satu. Ternyata pedang tersebut sangat berat dan terjatuh dengan kondisi aku masih memegang gagangnya. Gawat. Aku menengok ke arah Sahreem dan ia sudah berada dua meter dariku dalam kondisi berlari. Wajahnya begitu marah.

Detik berikutnya, aku merasakan tubuhku terpelanting menabrak tembok. Semuanya gelap sesaat dan aku kehilangan kemampuan indraku sebelum semuanya kembali secara perlahan namun pandangan mataku masih berputar-putar. Perlahan aku mulai bisa merasakan lagi dan aku merasakan sesuatu yang empuk dan lembut berada di bawah tubuhku. Kepalaku sedikit pusing dan semua gambar yang berputar-putar di depan mataku mulai menyatu menjadi… wajah Sahreem.

Aku menyadari bahwa aku telah dibaringkan ke tempat tidur dengan Sahreem berada di atasku. Ia menghadap tepat di atas mukaku dengan kedua tangan berada di sisi tubuhku sebagai penyangga. Aku syok dan menjerit kencang.

"Ssstt, Manis, kita belum mulai. Simpan jeritanmu untuk nanti."

Kedua tangannya meraih sisi-sisi atasanku dan dengan satu sentakan pakaianku dirobeknya menjadi dua. Kini aku bertelanjang dada dan aku semakin menjerit kencang. Wajah dan tatapan Sahreem semakin buas saat melihat tubuh atasku yang telah tersingkap. Aku berusaha menendanginya namun ia telah berada di antara bukaan kakiku, membuatku tidak bisa menendangnya. Kudorong tubuhnya namun lagi-lagi aku seperti mendorong tembok kokoh. Sambil tertawa, ia membenamkan wajahnya ke leher kananku, mengecupi dan menjilatinya. Panas bibir dan lidahnya yang berlumuran air liur terasa begitu menjijikkan. Jeritanku mulai putus-putus, berganti dengan isakan.

"TIDAAAAAKKK! TOLOOOOOOOONG!" Siapa saja! Tolong aku!

Sahreem tertawa keras mendengar jeritanku dan mulai merabaku. Sambil terisak aku kembali berusaha mendorongnya dan kurasakan tangannya meraih kain ikat pinggangku, hendak membukanya. Aku terkesiap. Tidak.

GUUUMPRRRAAAAAAAAANG!

Baik aku maupun Sahreem terkejut kemudian menengok ke arah datangnya suara. Seseorang berpakaian serba hitam (agak abu-abu, dengan sisa tepung) serta menggunakan kain hitam yang dililitkan sebagai topeng mendobrak masuk lewat pintu balkon dan ia berputar di udara sebelum mendarat dengan mulus. Poni rambut cokelatnya tersembul dari sela kain dan matanya cokelat muda cerah. Night God.

Sahreem bangkit dari tubuhku, turun dari ranjang dan berdiri membelakangiku, menyambut tamu tidak diundang tersebut. Night God bangkit berdiri di atas pecahan kaca dan daun pintu yang sudah roboh, menghadap Sahreem. Aku juga bangkit terduduk (selonjoran) di atas ranjang. Kakiku terasa lemas dan tubuhku masih gemetaran hebat. Kukatupkan atasanku yang telah terbelah dua seperti jaket, menutupi dada telanjangku. Kuusap air mataku dan kutarik napas panjang, menenangkan diri. Kupandang mereka berdua dengan ekspresi normalku.

"Night God," sapa Sahreem. "Boleh kutahu apa yang membuatmu mendobrak masuk ke dalam rumahku dan membuat kekacauan ini?" Bisa kudengar kemarahan dan kejengkelan yang dalam pada nada suaranya.

"Kau tahu bahwa aku seorang pencuri, Sahreem," kata Night God tenang, "Jelas aku kemari untuk mencuri."

"Mencuri?"

"Ya, mencuri hal yang paling berharga yang ada di rumah ini," kata Night God lagi sambil memandangku.

Aku?

"Kau mau mencuri pemuda ini?" Sahreem menengok ke arahku. "Dia milikku, Night God, dan kau mengganggu momen intim kami. Enyahlah. Aku tak mau dengar omong kosongmu itu."

"Aku pencuri, Sahreem," kata Night God lagi. Matanya sedikit menyipit karena tersenyum. "Maka aku akan mencuri, bukan mengambil dengan sukarela."

Bisa kurasakan udara di sekitar Sahreem menjadi lebih berat. Ia marah. Aku beringsut mundur, takut akan semua kemungkinan yang bisa terjadi. Aku sempat melihat pakaian merah darah celaka tadi telah tersebar berantakan di pinggir ranjang. Sahreem lalu berbalik dan menghampiri sisi tempat tidur, meraih sebuah pedang baja bertahtakan permata. Wajah Night God tidak telihat panik. Ia melirik ke arah pedang hiasan di tembok lalu berjalan dan memungut pedang yang kujatuhkan karena berat tadi. Mereka mau adu pedang.

Aku tidak tahu harus memihak Night God atau tidak, namun ia ingin membawaku lari dari si Jenggot Kambing mesum ini. Dadaku berdegup kencang karena khawatir. Aku tahu Night God kuat dan lincah, namun bagaimana kemampuan berpedangnya? Apa akan terjadi adegan berdarah di depan mataku? Seumur hidup aku tidak pernah dan tidak menginginkan untuk menyaksikan orang mati di depan mataku. Tubuhku semakin gemetaran. Siapapun yang menang, kemungkinan besar akan membunuh lawannya.

Mereka saling berhadapan, memasang kuda-kuda dan memperhatikan lawannya dengan seksama. Secara bersamaan pedang berayun dan beradu, menimbulkan bunyi nyaring yang memekakkan telinga. Mereka bertarung imbang. Di luar dugaanku, Night God mampu bertarung dengan sangat baik dan sanggup menandingi tenaga brutal Sahreem. Ayunan pedangnya halus, kelincahan tubuhnya membantunya mendesak Sahreem. Otakku kembali berpikir dan aku khawatir lagi. Kualitas pedang Sahreem jelas lebih baik daripada pedang hiasan dinding yang dipakai Night God. Bisa saja pedang Night God patah dan membuatnya terbunuh.

Perabotan berantakan, tertebas maupun terdorong mereka. Night God memotong tiang lilin di samping Sahreem sampai putus dan Sahreem membalas dengan menebas lukisan di samping Night God sampai terbelah dua. Aku berkali-kali menutup mata saat pedang nyaris mengenai satu sama lain. Diiringi suara keras, hantaman Sahreem membuat pedang Night God sedikit retak. Night God semakin cepat menyerang, mempercepat irama pertarungan. Wajah Sahreem sudah lecet tergores dan lengan kiri Night God sedikit teriris. Semakin banyak barang rusak dan mereka terus mengelilingi ruangan.

Mereka terus berjalan dan akhirnya melewati ranjang tempatku terduduk lemas. Kelambu, seprai serta kasur robek disayat keduanya dan sobekan kain serta bulu angsa berhamburan. Walaupun mereka agak jauh dari posisiku, aku semakin mundur agar merasa lebih aman sampai akhirnya tersudut di bingkai ranjang. Mereka melirikku sekilas kemudian terus bertarung sambil bergeser menjauhi ranjang. Kelihatannya mereka tidak mau melibatkanku. Tentu saja. Mereka memperebutkan aku. Jika Sahreem menang ia akan me… melanjutkan yang tadi ia hendak lakukan padaku dan jika Night God menang, ia akan membawaku kabur. Aku tidak suka kedua pilihan tersebut tapi aku jelas sangat tidak menginginkan yang akan terjadi jika Sahreem menang.

Aku memekik kecil saat bahu kiri Night God terserempet pedang hingga berdarah. Sahreem kelihatan senang dan semakin membabi buta. Night God menghindar lalu bertolak lincah di tembok lalu bersalto di udara dan akhirnya mendarat di belakang Sahreem. Sebelum Sahreem sempat bereaksi, Night God menempelkan mata pedangnya pada tengkuk Sahreem, membuatnya mematung.

"Selesai," ucap Night God.

Sahreem menggeram kesal namun tetap menggenggam pedangnya. Aku menatapnya was-was, siapa tahu ia membuat gerakan tiba-tiba. Sahreem kemudian terdiam sesaat dan tangannya bergerak seperti akan menjatuhkan pedangnya, namun ternyata hanya tipuan. Ia dengan cepat merunduk lalu memutar tubuh menghadap Night God sambil mengayunkan pedangnya ke leher Night God.

"NIGHT GOD!" pekikku.

CRAS!

Tidak ada darah. Kepala Night God tetap tersambung di lehernya. Ia menunduk, lebih rendah dari tubuh Sahreem sehingga terhindar dari tebasan dan ia juga telah mengayunkan pedangnya. Ia dan Sahreem mematung. Sesuatu melayang dan mendarat di atas lantai. Aku memandang 'benda' itu dengan takut-takut dan terbelalak saat mengetahui apa itu. Seperti rambut, bukan… itu potongan jenggot. Potongan jenggot kambing Sahreem.

Sahreem melotot saat memandang potongan jenggot kesayangannya lalu berteriak kencang. Kini jenggotnya hanya tinggal setengah. Ia menjatuhkan pedangnya lalu mengelus sisa jenggotnya dan meratapi kemalangan jenggot kebanggaannya. Night God tidak menyia-nyiakan kesempatan dan ia memukul keras tengkuk Sahreem dengan ujung gagang pedang, membuatnya tersungkur tak sadarkan diri.

Aku telah mengetahui siapa pemenangnya dan lega karena tidak ada pertumpahan darah. Kulihat baki makanan perak di atas meja dan aku bergegas turun dari ranjang lalu meraihnya sebagai alat pertahanan diri. Night God menendang pedang Sahreem jauh-jauh lalu berjalan mendekatiku. Ia berhenti saat melihatku memegang baki perak dengan sebelah tangan (tangan yang satu lagi mengatupkan pakaianku) dan memasang pose mengancam. Aku tahu aku bukanlah lawan yang mampu mengimbanginya, namun aku tidak mau dibawanya dengan sukarela. Ia lalu membuka kain hitam topengnya dan memasang cengiran di wajahnya.

"Tenang, L. Aku kemari untuk menyelamatkanmu."

Oh ya, tentu saja. Mana mungkin aku mempercayainya?

"Aku datang dengan teman kecilmu kemari."

Aku terkesiap. Near? Night God mengedikkan kepalanya ke arah balkon. Aku berlari kecil menuju balkon dengan berhati-hati akan pecahan kaca yang bertebaran. Kepalaku melongok ke bawah dan nampaklah Tuan Aiber dan Near di halaman. Tuan Aiber memegang pedang dan Near memegang wajan penggorengan bertangkai satu (entah didapatnya dari mana). Para pasukan pengawal telah pingsan bertebaran di sekeliling mereka. Ternyata selagi Night God bertarung mereka juga bertarung di bawah sana.

"Kak L!" Near berteriak senang dan melambaikan tangannya padaku.

Aku mendesah lega dan membalas lambaian tangannya. Near baik-baik saja. Kuda hitam dan putih yang tadi mengikuti kereta ternyata memang kuda Night God dan Tuan Aiber. Ternyata perkiraanku yang hanya 1% malah terjadi. Keduanya mungkin bertemu dan menolong Near di Rastarazni lalu pergi menyusulku kemari untuk menyelamatkanku. Aku… selamat. Night God berkata jujur.

"Ehem," dehem Night God dan aku menoleh.

Ia memegang sebuah mantel putih berkancing yang mungkin didapatnya dari lemari Sahreem. Night God memalingkan mukanya, tidak melihat ke arah tubuhku yang tersingkap pakaianku yang sudah koyak. Aku menjatuhkan baki yang kupegang lalu meraihnya dengan malu dan memakainya. Ia kembali memasang cengiran setelah aku mengenakan mantel pemberiannya dan aku… membalasnya dengan senyum. Dia terdiam sesaat ketika menatapku.

"Kau percaya sekarang?"

Aku mengangguk. "Ya. Terima kasih telah menolongku, Night God."

Kami kemudian melangkah masuk kembali. Kami berjalan melewati Sahreem yang masih tergolek pingsan. Night God kemudian menendang pintu kamar sampai terbuka. Ia baru hendak turun namun berhenti dan memandangi dengan heran aku yang bergegas kembali menuju meja. Aku lalu meraih gantungan besi dengan banyak anak kunci. Kurasa aku tahu kunci apa itu. Aku kemudian kembali pada Night God yang menungguku.

Di lantai bawah aku melihat Gars dan kedua anak buahnya telah pingsan dalam kondisi babak belur. Fatima nampak tersenyum pada kami sambil memegang sapu ijuk. Banyak perempuan dan laki-laki berpenampilan menarik yang juga memegang peralatan rumah (di antaranya ada pemuda pirang malang tadi), membuat aku bingung.

"Nona Fatima membantu kami," kata Night God menjelaskan, "Tadi aku, Aiber serta Near bertarung dengan para pengawal dan Fatima membebaskan para simpanan Sahreem dan mempersenjatai mereka. Berkat dia kami cepat menaklukan pasukan dan Near memperoleh senjata yang sesuai."

"Yah, aku memang tidak pernah menyukai si Jenggot Kambing sialan itu," kata Fatima masih dengan senyum.

Ternyata aku telah melewatkan bagian seru lainnya. Aku ingin sekali melihat si mesum Qardi dihajar dengan peralatan rumah tangga. Kami semua kemudian melangkah keluar rumah dan Near langsung berlari lalu menyambutku dengan pelukan hangat.

"Kak L!" serunya gembira. Ia lalu tersentak dan memandangiku dari atas sampai bawah. "Kakak tidak apa-apa?" tanyanya cemas setelah melihat pakaianku yang terkoyak mengintip dari balik mantel.

"Ya, aku baik-baik saja. Sahreem belum berbuat apa-apa padaku." Aku tersenyum dan ia lega lalu memelukku lagi.

"Halo, Tuan Ryuzaki… maksudku Tuan L," sapa Tuan Aiber sambil tersenyum.

Aku membalas senyumnya lalu teringat akan para budak yang terkurung dalam kandang-kandang di halaman. Aku bergegas menuju kandang-kandang tersebut sementara Night God, Tuan Aiber dan Near memandangiku dengan heran. Aku mengeluarkan kunci-kunci tadi dan membuka gembok-gembok kandang mereka. Para budak berlarian keluar dengan bahagia. Mereka berterima kasih padaku dan bergembira menyambut kebebasan mereka. Ratusan orang langsung memenuhi halaman, mereka bernyanyi dan menari dengan tertawa bahagia.

Aku kembali menuju tempat Night God, Tuan Aiber, Near dan Fatima. Mereka menyambutku dengan senyum. Para simpanan Sahreem juga nampak senang serta bersorak gembira. Mereka ikut bergabung dan bernyanyi juga menari dengan tertawa bahagia bersama para mantan budak yang tadinya terkurung tadi.

"Ini akan menjadi kejutan lain untuk Sahreem saat dia bangun," kata Night God padaku sambil memasang cengiran penuh kepuasan.

Sorak sorai membahana memenuhi langit malam dan aku memandangi para manusia yang kini merdeka itu dengan haru. Kini salah satu harapanku yang tertunda telah terwujud. Aku tidak akan pernah melupakan malam ini dan akan mengenangnya sebagai malam pembebasan para budak.


Parodi:

Aku mendesah lega dan membalas lambaian tangannya. Near baik-baik saja. Kuda hitam dan putih yang tadi mengikuti kereta ternyata memang kuda Night God dan Tuan Aiber. Ternyata perkiraanku yang hanya 1% malah terjadi. Keduanya mungkin bertemu dan menolong Near di Rastarazni lalu pergi menyusulku kemari untuk menyelamatkanku. Aku… selamat. Night God berkata jujur.

"Ehem," dehem Night God dan aku menoleh.

Ia memegang pakaian merah darah mengerikan yang tadi Sahreem minta aku kenakan. Matanya tidak lepas memandangi tubuhku yang telah tersingkap pakaianku yang sudah koyak, membuatku makin menautkan atasan sobekku.

"Pakai," perintah Night God sambil tersenyum tak kalah cabul dari Sahreem tadi.

Aku melotot dan tubuhku gemetaran. "N-Night God...?" tanyaku tidak percaya.

"Pakai, L," katanya lagi sambil mengacungkan pakaian merah darah nan amit-amit itu ke depan mukaku, mendesakku. Air liur kini mengalir di sisi-sisi bibirnya dan seringainya semakin mesum.

"TIDAAAAAAAKKKKKK!" jeritku sambil melempar baki perak yang kupegang tepat pada wajahnya yang langsung menimbulkan bunyi berdentang keras.


*Bagaimana? Chapter ini juga capek bikinnya. Ada transaksi, kejar-kejaran (keliling kamar), plus adu pedang. Pusing! Sahreem sudah sempat disebut sekilas di chapter 3 dan ternyata pendapat L dan Light (waktu itu) sama tentang si Jenggot Kambing ini.

**Chapter berikutnya akan banyak perbincangan panjang tentang masa lalu L. Semoga tidak akan membosankan, entah kenapa susah sekali menyusun kata-katanya. Sumpah, aku kebingungan menulis chapter –chapter selanjutnya padahal aku tahu mau nulis apa, tapi entah kenapa pikiranku kejang-kejang. Makanya updatenya susah. Mungkin update berikutnya agak sedikit lama (tenang, masih lanjut kok!).

***Waah, ada yang bilang hubungan L dan Near agak 'menjurus', ya…. Hehe, tidak bermaksud, kok. Hubungan mereka pure rasa sayang seperti adik dan kakak. Mungkin lain ceritanya kalau Near itu sudah dewasa, bisa saja ia memiliki perasaan pada L. Akankah demikian nantinya? Ya… silakan berimajinasi. Hahaha. Yang jelas, Light akan sedikit 'cemburu' pada kedekatan L dan Near.

****Soal BB, agak susah ngomongnya karena bisa-bisa membocorkan apa yang sudah direncanakan. BB akan muncul, kok. Muncul sebagai individu sendiri (bukan suami atau pacar siapa-siapa) dan BB akan jadi seperti… BB, beserta semua sifat dan kegilaannya. Tapi masih agak lama munculnya. Maaf mengecewakan.

*****Terima kasih telah membaca maupun me-review. Terima kasih banyak pada Claire Lawliet, Orange Burst, Sora Tsubameki, Rai2-Chan, Vand-Lawliet-Keehl-Jeevas, Neo Kaze-Hime,YuuRi Uchiha-Namikaze, moeyuki flint, cassie-HAIKU, cassie-HAIKU dan cassie-HAIKU (nggak salah ketik, memang 3 kali. Trims!). Terma kasih banyaaak, loh. Kembali, semoga kalian tetap suka pada cerita ini. Salam, PenWanderer.