Ragu-ragu, kedua gadis itu mendekati meja belakang kelas, dimana ada untaian rambut panjang yang menyebar di atas meja. Hinata, si pemilik rambut yang telah terlelap semenjak awal pelajaran, sama sekali tidak menyadari jika waktu sudah berganti ke jam istirahat. Matanya baru saja terbuka saat mendapati ada dua orang berdiri disampingnya. Sedikit malas, Hinata berusaha menegakkan kepalanya untuk menyambut tamunya.
"Hyuuga-san." Hinata menoleh. Pandangan tajamnya membuat salah satu dari mereka sedikit menjauh akibat takut. Gadis itu sama sekali tidak bermaksud untuk membuat teman satu kelasnya seperti itu, tapi matanya yang panas tidak bisa berkompromi untuk membuka seutuhnya.
"Hn?" Bahkan sekarang tangannya ikut naik ke atas meja untuk menyangga kepalanya yang masih terasa berat.
"Maaf baru mengatakannya sekarang," Sakura meletakkan sebuah bungkusan di atas meja Hinata. "Kami ingin mengucapkan terima kasih karena telah menolong kami tempo hari." Sebuah senyum juga terpatri di wajah manisnya, begitu juga dengan gadis pirang yang berada di belakang.
"Sebenarnya kami ingin mengucapkannya kemarin, tapi melihat Hyuuga-san harus istirahat di UKS, kami tidak jadi deh." Ino kembali mendekat, menjelaskan keterlambatan mereka.
"Hn." Hinata mengangguk. Dia tidak menyangka akan ada seseorang yang berterima kasih padanya setelah dia menghajar seseorang. Kebanyakan dari mereka hanya mengucapkan kata maaf ataupun memandangnya dengan ngeri. Tapi kali ini ia melihat hal berbeda, kedua mata mereka sama sekali tidak menunjukkan rasa takut sama sekali, tapi cenderung...kagum? Satu alis Hinata sedikit terangkat, merasa aneh dengan hal ini.
"Aku tahu ini tidak seberapa dengan apa yang Hyuuga-san lakukan, tapi kami harap kau menyukainya." Maksud Sakura adalah bungkusan pink itu. Mereka berdua membuatnya dengan susah payah kemarin.
Hinata menatap bungkusan transparan itu, di dalamnya ia melihat beberapa cookies yang berbentuk tak karuan, bahkan dia juga menemukan warna coklat tua di beberapa bagian. Dan tatapan Hinata beralih pada kedua gadis itu, menatapnya secara bergantian. Sakura dan Ino menampilkan raut wajah yang sama, mereka sedikit was-was dengan reaksi Hinata setelah melihat kue buatan mereka yang buruk. Kue itu adalah kue kesembilan yang setidaknya berhasil keluar dari oven dengan keadaan terbaik dibanding lainnya. Soal rasa–jika mengabaikan beberapa bagian yang gosong–bisa dikatakan tidak buruk, itupun karena dibantu dengan choco chip diatasnya. Jadi, mereka tidak akan kecewa jika seandainya kue-kue itu berakhir di tong sampah.
"Lumayan." Aquamarine dan emerald itu membulat, tidak menyangka mendapati Hinata akan memakan kue itu, disini dan saat ini juga. Bahkan Hinata tak segan untuk memakan bagian yang hangus, seolah-olah bagian itu tidak ada.
"Dulu aku pernah makan yang lebih buruk." Mengerti dengan tatapan itu, Hinata menjelaskan. Meskipun dia tidak tahu penjelasannya barusan sedikit menusuk ulu hati kedua gadis itu.
Keduanya kembali lemas. Mereka merasa sangat bodoh karena tidak dapat membuat sesuatu dengan benar. Bahkan membuat makanan sederhana seperti ini. Jika tahu begini, lebih baik mereka beli saja dari toko yang sudah jelas dengan rasanya.
Hinata berdiri dari tempat duduknya, rasa kantuknya seolah hilang setelah memakan bagian pahit itu.
"Lain kali kalian bisa membuatkanku lagi, tapi dengan rasa lain, aku kurang suka dengan rasa kopi." Hinata tersenyum tipis. Dan hal itu malah membuat senyuman lebar terpatri di kedua bibir gadis itu. Apalagi mereka mendapati Hinata kembali memasukkan satu lagi kue buatan mereka, ditambah dengan tangannya yang sedikit mengangkat bungkusan itu ke udara tanda terima kasih.
"Aku tidak menyangka, ternyata Hyuuga-san sangat baik." Ucap Sakura tersentuh. Selama ini dia selalu salah sangka dengan tampang sangarnya.
"Hm." Ino mengangguk setuju. Mungkin jika Hinata adalah laki-laki, Ino akan memasukkannya ke dalam daftar laki-laki yang akan ia kencani.
.
.
.
World is Not Just All About You
Tokoh yang saya pakai milik Kishimoto Masashi-sensei, saya cuma pinjem doang
Warning: typo, alur cepet, dan masih banyak lainnya
Just normal high-school romance
Don't like don't read
.
.
.
Chapter 10
"Bagaimana kalau musim panas ini kita ke pantai?" Ino menyeletuk. Sudah lama mereka tidak keluar bersama seperti ini. Dilihatnya kelima temannya secara bergantian.
"Ide bagus, Ino." Naruto berteriak semangat.
"Bukankah kau harus mengulang beberapa mata pelajaran, Naruto?" Ucap Sai mengingatkan. Senyum manis pemuda itu malah membuat tunggal Namikaze cemberut.
"Kita bisa pergi setelahnya." Naruto menyeruput jus jeruknya dengan malas.
"Mungkin kita bisa pergi saat hari Sabtu dan kembali saat Minggu." Sakura menanggapi, jika menunggu sampai Naruto selesai dengan tambahannya, mungkin rencana ini bisa gagal.
"Ide bagus, Sakura-chan. Kalau begitu kita bisa pergi minggu ini juga." Naruto tentu saja menanggapi dengan antusias. Menghabiskan 24 jam penuh dengan orang yang disukai tentunya tidak akan Naruto lewatkan begitu saja.
"Hanya berenam?" Shikamaru menguap malas, ekor matanya melirik salah satu teman jabriknya yang sedang menikmati minumannya.
"Ah! Bagaimana kalau kita mengajak Hyuuga-san juga?"
Blurrp
Tanpa sadar Sasuke meniup sedotan minumannya, membuat minuman bersoda itu tumpah ruah di atas meja karena mendengar ucapan Ino yang terkadang suka keluar begitu saja tanpa berpikir. Dia tidak masalah saat temannya mengusulkan untuk berlibur bersama, tapi dia sedikit kurang setuju dengan usulan kekasihnya untuk diikut sertakan. Akan sangat berisiko jika sampai mereka berdua dipertemukan untuk waktu yang lama, apalagi dengan adanya kelima temannya. Bisa-bisa rahasia yang mereka jaga selama ini akan bocor begitu saja.
"Dia tidak akan ikut." Mana mau Hinata ikut dengan acara seperti ini, Sasuke yakin diliburan musim panasnya, kekasihnya akan bekerja sambilan penuh. Bahkan sekarang saja keberadaan Hinata seakan hilang ditelan bumi.
"Kenapa kau bisa tahu?" Tanya Sai curiga. Jangan remehkan sepupu pendiamnya ini, pemuda pucat itu telah memperhatikan keduanya sejak awal. Begitu pula dengan Shikamaru, walaupun bocah nanas itu lebih memilih untuk diam.
"Dia bilang akan bekerja selama liburan, aku sebangku dengannya, ingat?" Sasuke berusaha menutupi rasa canggungnya dengan memandang jendela cafe yang lebar. Jujur, Sasuke tidak menyangka mulutnya akan berbicara seperti itu. Meskipun Sasuke mengatakan yang sebenarnya, pasti teman-temannya akan curiga kenapa ia bisa tahu Hinata akan menolak ajakan mereka.
"Yah, padahal lebih seru jika Hyuuga-san ikut juga." Ino mengeluh.
Seru apanya, jika Hinata ikut pasti selama itu dia harus senam jantung seorang diri.
"Ah! Benar juga!" Naruto tidak berkata itu untuk membetulkan keluhan Ino, melainkan otaknya mengingat sesuatu.
"Bukankah salah satu teman Itachi-nii punya penginapan di dekat pantai?" Mata kelima remaja itu langsung tertuju pada si pirang jabrik.
"Jika kita menginap disana pasti akan dapat diskon!" Jarang-jarang Naruto punya pemikiran secermelang ini, biasanya jika tidak game, kepala durian itu hanya berisikan majalah-majalah tebal berisikan perempuan berbikini.
"Ide bagus Naruto!" Ucap Ino bersemangat.
"Jadi sudah diputuskan, hari Sabtu nanti kita berkumpul di halte dekat taman kota. Jangan sampai ada yang terlambat–SHIKAMARU!" Teriak Ino saat melihat Shikamaru menguap lebar. Yang Ino maksud dengan terlambat tidak lain adalah makhluk nanas itu sendiri.
Mengorek telinganya yang berdenging, Shikamaru menatap kesal pada teman barbienya itu. Bisa tidak sih gadis itu tidak berteriak di telinganya sehari saja. "Ck. Mendokusei."
...
"Kau tidak lupa membawanya kan, Sakura?" Ino berbisik menggoda temannya. Dan hal ini membuat pipi putih Sakura berhiaskan rona merah yang terlihat jelas.
"A-apa maksudmu Ino?"
"Hei...jangan pura-pura tidak tahu maksudku." Kali ini Ino menyikut tangan Sakura. Masa iya, gadis itu tidak tahu maksudnya? Bahkan sedari awal seharusnya teman pinknya ini sadar, kenapa di tempat pertama Ino mengusulkan memilih pantai sebagai tempat berlibur mereka.
"Kau membawa yang itu, kan?" Tangan Ino membuat bentuk sebagai isyarat barang yang dimaksud.
"Ha? Yang mana?"
"Aduh! Jangan bilang kau membawa yang satunya?!" Ucap Ino panik luar biasa. Bencana jika hal itu memang terjadi. Percuma saja mereka keluar-masuk toko hanya untuk mencari itu jika pada akhirnya Sakura tidak membawanya.
"Aku bercanda." Sakura tertawa. Sekarang gantian dirinya yang berhasil menggoda teman pirangnya ini.
"Untung saja itu hanya candaan, jika tidak aku akan menyuruhmu pulang untuk mengambilnya." Hela nafas Ino terdengar cukup keras.
"Mengambil apa?" Kedua gadis itu membeku di tempat. Melihat dua orang berambut hitam yang berdiri tepat di hadapan keduanya.
"Sa-sasuke-kun." Ucapan gagap Sakura semakin membuat alis Sasuke terangkat.
"Kau tadi mau mengambil apa?" Tanya Sasuke penasaran. Kalaupun ada barang yang tertinggal, mereka bisa menunggu Sakura untuk mengambilnya.
"Itu...itu...aku–"
"Sunblock! Sakura bilang dia hampir lupa membawanya." Potong Ino cepat. Keringat dingin entah kenapa sedikit mengucur di pelipisnya.
"Benar sunblock! Hampir saja aku kembali untuk mengambilnya." Sakura menepuk kepalanya untuk membuat kesan jika dia memang ceroboh.
"Ah, kukira apa. Jangan sampai kalian lupa membawa bikini saat ke pantai." Kata Sai dengan senyuman mautnya. Jantung kedua gadis itu terasa diremas keras mendengar suara polos yang terkesan dibuat-buat itu.
"A-apa maksudmu, Sai-kun?" Ino menepuk bahu milik pemuda pucat itu.
"Sudahlah. Naruto dan Shikamaru sudah menunggu kalian di halte." Sasuke berusaha melerai pertengkaran yang mungkin akan terjadi nanti. Lebih baik mencegah daripada mengobati, bukan?
Mereka berempat berjalan beriringan menuju halte. Sai dengan Ino dan Sasuke dengan Sakura. Sebagai seorang laki-laki, Sasuke sengaja mengambil tas milik Sakura. Membantu membawanya agar tidak kesusahan saat menaiki bus nanti.
"Kalian lama sekali sih." Cibir Naruto. Disampingnya ada Shikamaru yang menunjukkan wajah kesalnya karena pada kenyataannya Inolah yang datang terlambat.
Berdiri kurang lebih lima menit, bus yang akan mereka naiki datang. Di dalam kendaraan beroda itu, mereka berenam memilih untuk duduk di kursi paling belakang. Saling melempar candaan saat dalam perjalan, membuat suara mereka menjadi yang paling gaduh di dalam bus. Berkali-kali Sakura harus menunduk meminta maaf akibat aksi kedua teman pirangnya yang berisik luar biasa.
Satu jam berlalu, dapat mereka saksikan di sebelah kiri mereka sudah terpampang hamparan pantai dengan pasir putih yang indah. Hanya tinggal menunggu bus berhenti di sebuah halte kecil, maka mereka sudah bisa bermain air sepuasnya.
"Kita langsung saja ke penginapan." Naruto berjalan paling depan. Melambaikan tangan untuk mengajak kelima temannya untuk segera bergegas menyusulnya.
"Dasar Naruto. Tidak lihat apa barang bawaanku yang berat." Ino menggerutu. Kedua tas yang berisi cukup banyak barang itu tiba-tiba berpindah tangan.
"Ck. Mendokusei. Hanya menginap sehari saja barang bawaanmu sebanyak ini."
"Bukankah itu wajar? Para perempuan selalu membawa persiapan yang matang."
Pipi Ino bersemu, mendengar pembelaan dari Sai. Tapi dia tidak akan menampik pada sikap manis teman masa kecilnya–Shikamaru. Walaupun terkesan cuek dan dingin, pemuda Nara itu pasti akan menolongnya. Namun harus mengabaikan perkataan tajamnya lebih dulu tentu saja.
"Ya ampun. Kalian ini baik sekali." Ino berlari berhambur diantara kedua laki-laki itu. Merangkul tangan masing-masing.
Sedang di barisan terakhir menyisakan Sakura dan Sasuke yang memandang interaksi ketiga temannya itu. Saling melempar senyum sebagai tanggapan. Mereka berdua berjalan santai mengikuti keempat temannya yang sudah berdiri di depan sebuah penginapan, Naruto yang berada paling depan, segera membuka pintu shoji itu.
"Selamat dat–"
Pip
Pip
Pip
Duarr!
Sasuke mematung. Wajahnya tersenyumnya mendadak menjadi datar saat melihat siapa petugas yang menyambut mereka kini.
"Hyuuga-san!" ucap Ino antusias. Dia tidak menyangka malah menemukan teman satu kelasnya itu berada di sini.
Yah, Sasuke juga tidak menyangkanya juga. Di banyaknya tempat kerja sambilan, kenapa malah tempat ini yang di pilih oleh kekasihnya?
"Ah, selamat datang." Ucap Hinata lagi. Mata bulannya tidak melepas pandangan dari pemuda jangkung yang berada di barisan belakang.
"Hyuuga, kau bekerja disini?!" Perhatian Hinata langsung tertuju pada pemuda pirang berisik itu.
"Iya, Itachi-san yang merekomendasikan tempat ini padaku."
"Jadi kau kenal Itachi-nii?" Tanya Naruto lagi. Sedang Hinata hanya mengangguk sekilas. Membenarkan.
"Jadi, kalian akan pesan berapa kamar?" Hinata mencoba bersikap profesional meskipun pada teman-teman sekelasnya beserta kekasihnya.
"Kami pesan dua kamar, paket pelajar." Kata Naruto.
"Baik, dua kamar paket pela–"
Duakk
"Apa maksudmu paket pelajar, kono yaro?" Hidan tiba-tiba datang memukul kepala Hinata dengan sebuah buku tebal, membuat gadis itu langsung terkapar di meja.
Keenam remaja yang menjadi saksi kejadian berdarah itu langsung pucat pasi melihat laki-laki berpawakan tinggi itu datang dengan tampang seramnnya. Apalagi melihat Hinata KO setelah mendapat satu pukulan.
"Are, Hidan-san. Sejak kapan sifat suka uang Kakuzu-san telah menginfeksimu?" Hinata mengusap kepalanya yang membenjol. Menatap laki-laki itu dengan tampang malasnya.
"Sejak kau memenuhi penginapanku dengan beberapa temanmu!" Hidan menggeram melihat Hinata yang pura-pura tidak tahu.
"Apa yang sebenarnya kau katakan, Hidan-san? Seharusnya kau senang karena mereka mau menginap di penginapanmu yang sepi ini." Keenam remaja yang masih menyaksikan kejadian itu hanya bisa menyangsikan kepekaan bahaya Hinata yang kurang dari garis normal. Tidak lihat apa, perkataannya barusan membuat laki-laki berambut abu-abu itu sampai mengeluarkan aura mengerikannya?
Merasa harus bersikap dewasa menyikapi pekerja sambilannya ini, Hidan harus menghela nafas beberapa kali untuk meredakan amarahnya. Disisi lain, Sasuke yang sudah pasti paham bagaimana perasaan salah satu teman kakaknya itu hanya bisa berharap semoga di sisa waktunya di tempat ini, tidak akan ada satu bom nuklir yang menjatuhinya.
...
"Maaf, hanya ada dua kamar yang tersisa." Hinata memandu keenam pelanggannya menuju kamar yang tersedia.
"Ternyata musim panas ini, penginapan Hidan-san ramai ya." Ino berusaha memecah kecanggungan setelah perdepatan antara atasan dan bawahan itu tadi.
"Ya, hanya saat musim panas saja." Gadis pirang itu sweat drop. Jika seandainya pemilik penginapan mendengar ini, sudah pasti di lorong ini akan kembali terjadi adu mulut lagi.
"Yang laki-laki di sebelah sana, dan untuk Yamanaka-san dan Haruno-san tunggu sebentar biar aku bersihkan dulu kamarnya." Hinata masuk untuk melakukan tugasnya, meninggalkan keenam temannya berdiri di lorong.
"Tidak aku sangka malah bertemu Hyuuga-san disini, nanti kita ajak dia bersenang-senang di pantai sekalian." Usul Ino. Sakura dan Naruto langsung mengangguk, Sai dan Shikamaru diam saja tapi tidak menolak, sedang Sasuke hanya bisa menggeleng keras dalam hati. Bahkan dia menjerit juga.
'Kumohon, jangan ajak dia!'
Pemuda itu tidak bisa membanyangkan bagaimana liburan dua hari satu malamnya ini malah berubah menjadi uji nyali.
"Oh iya, sekalian saja nanti malam kita uji nyali di atas tebing." Ucap Naruto penuh semangat.
'Apalagi sekarang?! Kenapa kau semakin memperparah, Naruto?!'
"Setuju!" Kata Ino. Sakura hanya tersenyum kaku. Ingin menolak, tapi jika kedua pirang ini sudah memutuskan sesuatu, maka tidak mungkin bisa dibatalkan sekeras apapun dia berusaha.
'Huh. Kau akan benar-benar senam jantung, Uchiha Sasuke.'
"Maaf membuat kalian menunggu." Hinata keluar membawa sebuah tas yang dia sampirkan di salah satu bahunya.
"Eh? Hyuuga-san kau mau kemana?" Tanya Ino melihat Hinata seolah akan pergi ke suatu tempat dengan tas besarnya.
"Aku akan pindah ke kamar lain, walaupun hanya sebentar aku pastikan kamar ini bersih."
"Jadi ini kamarmu, Hyuuga?" Tanya Naruto.
"Hn. Berhubung ternyata kamar sudah penuh, tidak mungkin aku membuat kalian berenam tidur di kamar yang sama, kan?"
"Padahal aku lebih suka yang seperti itu."
"Apa katamu, Naruto?!" Teriak Ino tidak terima. Yang benar saja membuat mereka berdua harus tidur dengan keempat laki-laki itu.
"Tidak. Bukan apa-apa kok, hehehe."
"Kalau itu kamarmu, kau akan tidur dimana Hyuuga?" Itu pertama kalinya Sasuke bicara pada Hinata, kelima orang itu langsung menatap Sasuke. Sedikit penasaran seperti interaksi antara keduanya. Yang mereka tahu, interaksi mereka di kelas hanya seputar duduk sebangku tanpa ada ucapan verbal, tapi mata keduanya tidak dapat berbohong. Saling menatap satu sama lain jika ada kesempatan, tapi kelima remaja mengartikannya sebagai tatapan membunuh.
"Aku akan pindah ke kamarnya Hidan-san."
"APA?!" Kelima remaja itu terkejut dengan reaksi Sasuke, walaupun sebenarnya mereka juga terkejut dengan jawaban Hinata.
"Kau tidur sekamar dengan Hidan-san?" Masih tidak menyadari jika suaranya sedikit tinggi, Sasuke malah mendekati Hinata.
"Kau gila?" Seharusnya Sasuke yang bicara itu pada Hinata, bukannya malah sebaliknya. "Tentu saja tidak, bodoh. Aku mendapat shift malam, sedangkan Hidan-san mendapat shift pagi. Jadi kami hanya gantian menggunakan kamarnya." Hinata tidak tahu kenapa dia harus menjelaskan ini semua pada Sasuke dengan sendirinya.
"Tapi tetap saja, mana ada seorang gadis keluar masuk kamar laki-laki dengan seenaknya?" Hinata jengah, si pemilik kamar saja tidak mempermasalahkan hal itu. Kenapa malah Sasuke yang sepertinya terganggu?
"Memangnya kena–ehem." Hinata melepaskan cengkraman tangan Sasuke yang tanpa mereka sadari telah menahan pergelangan tangannya. Dia sadar diri ada siapa saja disini, jika mereka melanjutkan perdebatan mereka, bisa-bisa kelima orang itu bisa tahu mengenai hubungan yang mereka sembunyikan selama ini.
"Kalian seperti sepasang kekasih yang bertengkar saja." Kata Sai setelah keduanya menghentikan adu mulut mereka, membuat ada sengatan listrik yang mengejutkan keduanya.
"A-apa maksudmu, Sai? Memangnya siapa yang kau sebut sepasang kekasih?" Sasuke lebih memilih membuka pintu kamarnya setelahnya, menghindar dari berbagai pertanyaan yang mungkin akan muncul dari benak teman-temannya. Merasakan hal yang sama, tanpa berkata apa-apa Hinata melenggang pergi begitu saja, meninggalkan kelima remaja itu yang masih mencerna hubungan seperti apa antara mereka berdua. Yang jelas lebih dari dua orang yang duduk sebangku, kan?
...
Srakk
"Apa yang kau lakukan disini, kuso gaki?" Hidan mendapati Hinata tertidur di lantai kamarnya.
"Lalu apa yang kau lakukan disini, ossan?" Tanya balik Hinata tanpa membuka matanya. Dia cukup terganggu dengan kaki panjang Hidan yang menendangnya beberapa kali untuk membangunkannya.
Ada perempatan yang muncul di dahinya mendengar sebutan Hinata padanya. Tapi lagi-lagi dia harus menahan diri. "Huh. Sabar." Ketenangan diri adalah kunci nomor satu.
"Kekasihmu disini dan kau malah tiduran. Tidak takut apa dia nanti direbut cewek-cewek di luar sana?" Satu mata Hinata membuka, melirik malas laki-laki itu yang membuka bajunya untuk mengganti pakaiannya.
"Cih." Hinata ingin sekali mengutuk mulut ember Itachi.
"Pergilah bersenang-senang. Nanti malam dan besok tidak perlu bekerja." Hidan melempar sebuah kaus, milik Hinata yang berserakan di lantai.
"Tidak perlu. Lagipula tidak ada hal menyenangkan yang terjadi di siang hari." Hinata menguap lebar, memiringkan tubuhnya memunggungi atasannya. Hidan menghela nafas, untuk manusia nokturnal sekelas Hinata, tidak ada yang lebih menggiurkan selain menutup matanya di siang hari.
"Kau benar, tapi lebih menyenangkan bermain di pantai daripada Itachi dan Neji tahu kalian pura-pura akrab akhir-akhir ini."
'Sialan.'
"Are, sepertinya aku jadi ingin berjemur sekarang." Hinata langsung bangun, bersuara dengan riang disertai senyuman.
"Jangan lupa pakai sunblockmu, Hinata." Kata Hidan penuh penekanan. Ternyata laki-laki itu malah sudah tidur rebahan di kasurnya.
"Satu hal Hidan-san." Ucap Hinata sebelum keluar dengan perasaan jengkel luar biasa.
"Hm?"
"Untuk shift nanti, aku masih dibayarkan?"
"Menurutmu?"
Wajah Hinata mendadak berubah kecut dengan pertanyaan balik itu.
...
"Wah, dia keren sekali." Gumaman yang selalu terdengar setiap kali melihat Sasuke lewat di depan mereka. Bahkan beberapa ada yang sudah mengekori diam-diam dibelakangnya. Ya ampun, dia merutuki kebodohannya karena pergi membeli yakisoba seorang diri. Seharusnya dia menerima tawaran Sakura yang berniat mengantarnya tadi. Tapi sebagai laki-laki, mana mau dia diantar. Mau ditaruh mana mukanya jika dia mengiyakan saja. Selain itu, ada alasan lain kenapa dia memilih pergi sendiri. Pertama, melihat Sakura memakai pakaian kekurangan bahan yang sudah pasti usulan dari Ino bernama bikini, membuat Sasuke tidak bisa untuk tidak berdecak kagum. Dia hanya ingin menghindar berpikir macam-macam tentang orang yang disukainya itu. Dan untuk alasan kedua, dia tidak ingin laki-laki lain berpikiran sama seperti dirinya ketika Sakura berjalan dihadapannya, cukup dia saja.
Huh. Dia butuh pengalihan untuk menghentikan pikiran labilnya mengenai tubuh Sakura. Hyuuga. Dia butuh seorang Hyuuga yang mengesalkan untuk mengacaukan pikirannya.
"Uchiha."
Tapi Sabaku sepertinya juga boleh. Moodnya langsung rusak melihat warna merah yang sangat tidak cocok berpadu dengan pasir berdiri tidak jauh dari tempatnya.
"Tidak aku sangka bertemu denganmu disini." Gaara menyeringai, entah apa yang membuatnya terlihat senang, yang pasti bukan keberadaan dirinya tentu saja.
"Kupikir panda lebih suka tempat bersuhu dingin untuk hibernasi. Tapi nyatanya dia memilih kabur kemari." Vacuumnya kelompok Gaara akhir-akhir ini membuat Sasuke sempat menaikkan satu alisnya. Dia tahu kelompok Suna itu adalah salah satu kelompok paling aktif setelah kelompoknya.
"Ada apa? Kau mulai takut?" Kali ini giliran Sasuke yang menyeringai, lebih lebar dari milik Gaara sebelumnya.
"Tidak. Tentu saja tidak. Sesekali aku juga butuh liburan. Kupikir kau perlu liburan juga." Seakan sedang mengikuti lomba menyeringai, Gaara semakin meninggikan sudut bibirnya.
"Kau peduli? Manisnya." Kata Sasuke sarkastik.
"Kau benar. Tapi sayangnya gadisku lebih manis."
"Keh. Siapa lagi yang kau bawa? Para gadis murahan itu?"
"Dia tidak sebanding dengan mereka."
"Kita lihat nanti."
"Kau lihat saja sekarang. Hinata-chan!"
Deg
Sasuke tidak menunjukkan ekspresi berarti, tapi jantungnya seakan berhenti mendengar nama yang Gaara sebutkan. Tidak mungkin. Pasti tidak mungkin gadis monster itu. Kebetulan saja nama mereka sama. Ya. Hanya kebetulan saja. Mana mungkin pemuda sekelas Gaara–meskipun malas mengakui, memiliki selera bagus dalam memilih teman kencan–kemari dengan si hebi onna. Apalagi kekasihnya itu kemari sedang kerja sambilan, iya kan?
"Yo, Gaara. Warui na, baru menemuimu sekarang. Penginapan cukup ramai jika kau ingin tahu. Te, apa yang kau lakukan disini, Uchiha?"
Suara datar, cek. Mata pucat, cek. Rambut indigo, cek. Poni rata, juga cek. Dia...kekasihnya, kan?!
TBC
