Disclaimer : I own nothing but the plot. enjoy :)
Some People
Fred dan George Weasley sedang sangat bosan. Sebagian besar anggota Orde pergi. Bill, Remus dan Draco segera pergi ke Prancis ketika terdengar alarm pertahanan di rumah perlindungan Fleur, Tonks, Teddy dan Victoire runtuh. Dan sekarang mereka sangat bosan.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" gumam Fred yang berbaring di ranjang dengan kedua kaki menggantung di ujung. Sebuah snitch terbang di atas kepalanya.
George, yang duduk berselonjor di lantai dengan punggung menempel di sisi tempat tidur yang sedang Fred tempati, mengangkat bahu. "Entahlah. Tapi aku memikirkan tentang bom yang kita ciptakan beberapa hari yang lalu,"
Fred berguling mendekati George. "Maksudmu bom ilusi yang kita ciptakan itu?"
"Yeah. Aku pikir, mungkin kita harus modifikasi bom itu. Kau tahu, untuk merefleksikan ilusi terburuk dari orang yang terkena bom itu,"
"Hey itu ide yang bagus! Kita juga bisa menggunakannya untuk menjahili orang!"
Keduanya saling pandang. Seulas seringai lebar menghiasi wajah keduanya.
0oooo0oooo0
Ginny Weasley sebal. Dia masih kesal pada Bill karena rapat beberapa hari yang lalu. Berani-beraninya dia mengatakan Harry tidak akan kembali pada Ginny. Tentunya, Harry pasti kembali pada Ginny. Mereka akan memulai hidup yang sangat bahagia bersama dan Ginny akan memberi Harry beberapa mini-Harry dan mini-Ginny. Dan Ron—Ginny mendengus—bisa-bisanya berpikir kalau Hermione akan memiliki Harrynya, berpikir kalau Harry dan Hermione menyukai satu sama lain. Mereka seperti kakak adik! Tentu saja mereka tidak akan melakukan itu di saat mereka jauh. Lagipula, siapa Hermione jika dibandingkan dengan Ginny? Ginny lebih cantik dan seksi diliat dari berbagai sisi sekaligus. Dan dia pasti akan mendapatkan Harry.
Harry pasti akan kembali padanya.
0oooo0oooo0
Neville Longbottom duduk di balik mejanya, memperhatikan murid-muridnya yang sedang mengerjakan essai. Di pintu, terlihat seorang Pelahap Maut siaga dengan tongkat di tangannya. Neville merindukan Hogwarts yang dulu, Hogwarts tempatnya belajar.
Tidak ada Pelahap Maut. Satu-satunya yang para siswa takuti hanyalah ujian dan detensi, bukan kematian.
Neville benar-benar berharap semua ini segera berakhir. Pikirannya melayang pada Ginny. Neville sangat menyayangi Ginny, tetapi Ginny terlalu memikirkan Harry, masih yakin kalau Harry akan kembali padanya.
Neville menghela nafas.
Jika saja Ginny mau membuka hatinya untuk Neville. Neville berjanji—tidak, dia bersumpah—akan berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakannya dan ia juga akan menunggu dengan sabar, sampai hati Ginny benar-benar menerimanya.
Jika saja.
0oooo0oooo0
Narcissa Black bersyukur dengan keputusannya untuk mengirimkan surat pembatalan pernikahannya dengan Lucius (walau sampai detik ini Lucius belum juga menandatangi itu). Dan dia juga bersyukur ketika kakaknya, Andromeda Tonks, menerimanya dengan tangan terbuka. Keduanya sangat dekat sekarang, terutama setelah Narcissa menyelamatkan Andromeda ketika mereka diserang. Sayangnya, mereka kehilangan Ted Tonks saat itu.
Walau sebagian besar anggota Orde menerimanya dan Draco, masih ada beberapa orang yang enggan melihatnya sebagai anggota mereka, orang-orang yang masih melihat mereka sebagai seorang Pelahap Maut. Orang-orang seperti Molly dan Ginny Weasley.
Tapi Narcissa tidak terlalu peduli. Selama Draco baik-baik saja dan selama masih ada orang yang percaya padanya, dia baik-baik saja.
Ya. Narcissa baik-baik saja.
0oooo0oooo0
Ronald Weasley, berbaring di ranjangnya bersama Luna, kesulitan untuk menutup kedua matanya. Dia bangkit perlahan, berusaha untuk tidak membangunkan Luna. Ron menghampiri jendela, melihat ke langit hitam.
Malam selalu terasa damai. Langit hitam dengan kerlip bintang dan cahaya bulan ini selalu menenangkan hatinya. Juga mengingatkan Ron pada malam ketika dia pergi meninggalkan Harry dan Hermione. Ron menghela nafas. Seharusnya dia bisa berpikir dengan kepala dingin saat itu. Tentu, Horcrux yang mengalung padanya memberikan pengaruh buruk. Tapi Harry dan Hermione bisa mengendalikan diri mereka saat mereka mengenakan kalung itu selama berjam-jam. Kenapa dia tidak bisa?
Soal Horcrux, Ron hanya memberitahu Luna. Dia dan Luna percaya bahwa tidak bijaksana menceritakan hal ini pada Orde. Bagaimana jika salah satu mereka tertangkap? Seluruh rencana Harry dan Hermione bisa hancur berantakan. Karena itu, diam-diam mereka berlatih Occlumency setiap waktu luang dan juga mencari petunjuk tentang Horcrux.
Ron tersenyum kecil. Hal itulah yang mendekatkan mereka berdua. Dia ingat ketika ia pertama kali mengatakan pada Luna tentang perasaannya. Malam itu bulan bersinar terang seperti malam ini, mereka sedang berlatih Occlumency dan Ron tiba-tiba saja mengatakan hal itu. Syukurlah, Luna juga merasakan hal yang sama dengannya.
Ron merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah cincin emas. Cincin itu milik mendiang ibu Luna. Xenophilius bilang, itu cincin yang dipakainya ketika melamar ibu Luna, cincin itu juga yang digunakan kakek Luna untuk melamar neneknya. Xenophilius menyerahkan cincin itu ketika mereka sedang mengobrol santai. Xeno menanyakan keseriusan Ron pada Luna. Tentunya Ron serius menyayangi Luna dan ingin menikahinya, jadi Xenophilius menyerahkan cincin itu padanya. Dia hanya mencari waktu yang tepat.
Bagaimana jika waktu yang tepat itu tidak pernah ada?
Itu yang Remus pikirkan saat dia menikahi Tonks. Mereka dan Teddy kecil selalu terlihat bahagia, walau di masa seperti ini. Bagaimana jika Remus benar? Tidak akan ada waktu yang tepat untuk memulai hal seperti ini.
Ron menoleh, menatap wajah Luna yang terlihat damai dalam tidurnya.
Mungkin seharusnya Ron melakukan hal itu secepatnya.
Sebelum semuanya terlambat.
an: thank you so much for your review and for reading this! :D
fyi, I will continue to write this and other fic :)
