Prison
-Part 10-
Disclamair : Masashi Kishimoto
By : Karayukii
Pair: NaruSasu
Rat: M
WARNING: OOC TINGKAT DEWA, BL (YAOI)
.
.
Sasuke mengamati sebuah pedang di genggamannya dengan ekspresi puas. Jemarinya meraba, merasakan ukiran rumit pada pegangannya sementara onyxnya menatap takjub pada mata pedangnya yang panjang dan tajam. Ia menyentuh ujungnya sedikit dan pedang itu langsung mengiris jarinya.
"Itu sangat cocok untuk anda tuan." Pria tua si penjual pedang mengamati Sasuke.
"Ya, kurasa juga begitu. Ini terasa pas di tanganku." Sasuke mengibaskan tangannya. Pedang ini juga tidak terlalu berat, tidak sama dengan pedang-pedang yang biasa Sasuke gunakan saat latihan.
Sasuke mengalihkan pandangannya, menatap pedang-pedang lain yang di pajang di tembok kaca. Dia sudah berada di toko ini selama lebih dari dua jam, memilah-milah pedang mana yang pas untuknya. dan kemudian ia berakhir pada pedang ini.
"Ini yang terbaik, aku beli yang ini." Putus Sasuke seraya meletakkan tiga keping koin emas ke atas meja.
"Ah, tuan tidak perlu bayar." Tolak si penjual . Ia mengumpulkan kembali koin emas Sasuke dan mengembalikannya. "Mana mungkin saya berani meminta uang pada anda."
"Kau tidak meminta, aku bayar."
"Tidak tuan, tidak perlu." Sahutnya lagi dengan nada memaksa. "Kami tidak menjual kepada Yang mulia."
Sasuke menatap si penempa besi itu sejenak. Si penjual telah berpaling dan berpura-pura membersihkan debu diatas mejanya. Ekspresi wajahnya menguratkan keengganan sekaligus kegelisahan. Pria tua itu bersungguh-sungguh untuk tidak menerima uang Sasuke.
Apa ini karena Naruto?
Sasuke sebenarnya masuk ke toko ini bersama Naruto, tapi setengah jam kemudian pemuda blonde itu memilih untuk pergi duluan karena bosan menunggunya.
"Kau akan rugi." Tegur Sasuke.
Si penjual berbalik lagi seraya menggelengkan kepalanya cepat-cepat, "tidak masalah tuan. Untuk Yang mulia, saya tidak keberatan."
Sasuke menghela napas, kalau begini ia tidak punya pilihan.
"Baiklah, jika kau bersikeras." Sasuke terpaksa mengangkat kakinya keluar dari toko. Ia sebenarnya merasa tidak enak, pedang ini pasti membutuhkan biaya besar saat membuatnya. Lihat saja ukirannya yang rumit.
Saat hampir mencapai pintu, Sasuke berubah pikiran dan menyelipkan satu koin emas besar ke dalam guci dekat lemari sepatu tanpa sepengetahuan si penjual.
Hari ini Sasuke berada di pasar clan hyuuga, Naruto berniat untuk membeli oleh-oleh sebelum kembali ke kastil Uzumaki. Awalnya Neji melarang keras, ia bersedia menyediakan segalanya untuk Naruto, tapi Naruto tidak perduli. Dia tetap pergi, mengajak Sasuke dengan empat orang prajuritnya. Juga seorang pelayan, pelayan yang bertanggung jawab memenuhi keperluan Sasuke.
"Tuan." Wanita itu sedang berdiri di depan toko pedang bersama dua prajurit yang diperintahkan untuk mengawal Sasuke. Ia memegang beberapa bungkusan kain di kedua tangannya.
Wanita itu adalah Hanare. Sasuke baru mengetahui nama pelayannya itu baru-baru ini. Ia sebenarnya tidak begitu perduli dengannya. Dan pelayan ini tidak segesit Ino yang selalu mengerecokinya.
"Apa itu?" Sasuke melirik ke bungkusan di kedua tangan pelayannya.
"Pakaian, tuan, dari Yang mulia." Hanare menjawab. "Kimono yang benar-benar cantik."
Sasuke memalingkan pandangannya, menatap sekitar pasar. Ia tidak terlalu tertarik dengan bungkusan itu, tapi Hanare begitu semangat menjelaskan.
"Kimono ini pasti akan terlihat sangat cantik di tubuh anda, tuan." Katanya. "Saya secara khusus memilihkannya untuk tuan."
Wanita bertubuh mungil itu tersenyum senang, ia memasukkan tangannya ke dalam bungkusan, bermaksud menunjukkan kain kimononya kepada Sasuke, tapi ketika ia menengadahkan kepalanya lagi untuk melihat Sasuke. Ia langsung membeku.
"Untukku?" Sahut Sasuke dingin. Ekspresinya tidak senang.
"Yang mulia yang meminta saya." Kata Hanare yang langsung mengerut dihadiahi tatapan tajam dari Sasuke. Ia menundukkan kepala dengan ketakutan. "Maafkan saya, tuan."
Sasuke mengernyit seketika. Moodnya langsung anjlok. "Buang itu semua." Perintahnya sambil berjalan.
"Eh tapi tuan…" Hanare berlari-lari kecil untuk mengejar langkah Sasuke yang panjang.
"Aku tidak akan memakainya." Tidak lagi, Sasuke tidak akan menggunakan pakaian menjijikkan macam itu.
"Tapi tuan, ini benar-benar bagus." Wanita itu masih keukeuh. "Dan harganya juga mahal."
Sasuke tiba-tiba berhenti, dan Hanare yang berjalan dibelakangnya hampir menabraknya. "Kalau begitu untukmu saja."
"Eh, tapi—"
"Ambil dan diam lah." Sasuke setengah membentak, ia menatap tajam wanita yang tingginya hanya sampai di pundaknya itu. Di balik poninya yang panjang, pipi wanita itu bersemu merah.
"Te-terima kasih tuan." Ia berkata dengan nada penuh kegembiraan.
Sasuke mengangguk dan kembali berjalan. Tapi baru beberapa langkah, pelayannya itu kembali menyahut.
"Tuan, kata Yang mulia anda tidak boleh pergi terlalu jauh."
Sasuke kembali berhenti, antara kesal dan capek ia berputar kembali untuk menatap pelayannya. Dibelakang sang pelayan ada dua pengawal berbadan besar yang juga mengekori Sasuke. Sasuke baru sadar bahwa ia telah membuat jarak lebar di tengah-tengah pasar. Kelihatannya para penduduk memilih untuk tidak mendekatinya. Mereka memberikan ruang besar untuk Sasuke dan pengawalnya. Tapi walau begitu mereka menatap Sasuke dengan begitu tertarik.
"Dimana dia?" Tanya Sasuke, mengacuhkan tatapan-tatapan itu.
"Di sana tuan." Pelayannya menunjuk ke sebuah toko kecil yang hanya berjarak dua bangunan dari toko pedang Sasuke tadi.
Sasuke memiringkan kepalanya ketika membaca tulisan di papan. Toko berlian? Naruto membeli berlian?
Orang-orang langsung melompat menyingkir ketika Sasuke berbalik arah pergi ke toko itu. Ia masuk dan menemukan dua prajurit Naruto tengah berdiri dengan ekspresi kejam tepat di pintu masuk. Ruangan itu kosong hanya ada mereka berdua, sang penjual dan Naruto yang tengah berjalan perlahan dengan pandangan fokus ke lemari kaca besar. Kelihatannya Naruto serius sekali mengamati pernak pernik hiasan wanita.
Pelipis Sasuke berkedut seketika. Rasa jengkel menguasainya, apa sekarang Naruto berniat membelikannya hiasan kepala wanita?
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sasuke seraya mendatanginya.
Naruto tidak menoleh, pandangannya hanya tertuju ke lemari.
"Aku tidak akan pernah menggunakan benda menjijikkan itu." Tukas Sasuke mutlak. Ia melipat dada dan menatap dingin Naruto.
Naruto mendengus. Ia melirik Sasuke dari ujung matanya. "Ini bukan untukmu." Jelasnya.
Sasuke menaikkan alisnya, tidak percaya.
"Atau kau mau kubelikan satu?" Goda Naruto.
Sasuke berdecih lalu membuang muka. "Kau saja yang pakai."
"Kita pakai sama-sama kalau begitu." Kata Naruto sambil terkekeh. Ia kemudian menunjuk satu buah hiasan di dalam lemari, dan sang pelayan cepat-cepat mengambilkannya.
Sebuah jepitan rambut dengan taburan berlian berwarna ungu terang berbentuk mahkota bunga yang seukuran bola kelereng berpindah ke tangan Naruto. Sasuke menatap benda itu, mengamati kilauannya yang indah.
"Kau mau?" Naruto menawari. Ia menyadari tatapan tertarik Sasuke ke jepitan di genggamannya.
Sasuke membuang muka. "Idiot." Gumamnya, seraya mengangkat kakinya kembali dan keluar dari tempat itu. Tapi saat sampai di depan pintu Sasuke menoleh lagi kepada Naruto.
Pemuda pirang itu terlihat sibuk mendengarkan apa yang dikatakan sang pelayan toko. Pandangan Sasuke tertuju ke jepitan bunga ditangannya. Dalam hati ia bertanya-tanya, jika bukan untuknya lalu untuk siapa jepitan itu?
Bunyi pedang berdentum nyaring memenuhi aula besar. Sasuke dengan tubuh basah penuh keringat tersenyum puas menatap pria di hadapannya yang roboh dan sekarang tengah menegakkan diri.
"Kau hebat." Kata Gaara, seraya mengambil pedangnya yang tergeletak di lantai.
Sasuke tidak menjawab ia hanya mengibaskan pedangnya sekali dengan seringai penuh kepuasan. Setelah melakukan duel latihan dengan Gaara, ia akhirnya bisa menumbangkan pemuda berambut merah itu. Walau sebenarnya ia baru menang satu kali dari lima kali duel pada hari ini.
"Perkembanganmu benar-benar cepat." Komentar Gaara lagi. "Tapi sebenarnya harus kuakui aku agak sedikit lengah. Aku sudah kelelahan"
"Kalah tetap kalah." Kata Sasuke dengan sebuah seringai kepuasan diwajahnya yang letih. "Itu tetap dihitung sebagai kemenanganku."
Gaara hanya mendengus menanggapi perkataan sang Uchiha yang sombong. Ia berjalan ke tempat pedang dan meletakkan pedangnya kembali ke tempatnya. "Tapi ngomong-ngomong, tumben sekali Naruto tidak mengirim pelayan untuk menjemputmu."
Sasuke terdiam sejenak. Ya, benar, biasanya ketika lewat pukul satu pelayan kiriman Naruto pasti datang kemari, menyampaikan perintah dari Naruto yang akan mengakhiri sesi latihannya. Tapi hari ini tidak ada yang datang, bahkan ketika jam makan siang telah lama lewat.
"Itu baguskan, jadi tidak ada yang mengganggu latihanku." Kata Sasuke, walau nadanya terdengar tidak perduli, tapi sebenarnya ia sangat penasaran kenapa Naruto tidak mengutus seseorang untuk memanggilnya.
"Ya, kau benar." Gaara menyahut. "Mungkin dia tidak mengganggumu karena tahu ini adalah latihan terkahirmu bersamaku."
Sasuke menatap Gaara, yah itu benar juga. Hari ini memang latihan terakhirnya. Besok mereka akan segera kembali ke kastil clan Uzumaki. Mungkin Naruto bersikap lebih pengertian pada Sasuke sekarang, walau dia sama sekali tidak menaruh keperdulian sedikitpun pada setiap latihan Sasuke. Terkadang Naruto malah merasa bahwa latihannya Sasukelah yang mengganggu waktu kebersamaan mereka.
Sasuke kembali ke kamarnya sebelum matahari terbenam. Langit sedikit mendung di luar, dan tubuh Sasuke benar-benar terasa letih. Ini pertama kalinya ia latihan selama ini. Hanare telah menunggunya di kamar, sambil membawa senampan besar makanan.
Sasuke duduk dan memakan makanannya sendirian, ia melirik ke sekitar kamarnya yang luas itu dan tidak melihat keberadaan Naruto.
"Yang mulia sedang pergi berkuda, tuan." Pelayan bertubuh mungil itu tiba-tiba berkata.
Sasuke sedikit terkesiap. Pelayannya seperti menjawab apa yang sedang direnungkannya. "Aku tidak tanya." Kelitnya pura-pura fokus ke makanannya. Walau dalam hatinya ia jadi kesal. Kenapa Naruto tidak mengajaknya juga. Sasuke suka berkuda. Ia jadi penasaran dengan siapa Naruto pergi berkuda?
"Yang mulia pergi dengan Tuan Neji dan putri Hinata" Pelayannya lagi-lagi menjawab apa yang ada di dalam hati Sasuke.
Sasuke meliriknya dengan curiga apa pelayannya ini semacam cenayang? Tapi saat ditatap oleh Sasuke, pelayannya itu langsung memerah dan cepat-cepat menundukkan wajahnya.
Naruto tidak kembali setelah Sasuke menghabiskan makanannya. Ini pertama kalinya Sasuke di tinggal sendirian, biasanya pemuda blonde itu selalu menariknya kemanapun dia pergi.
Tapi mungkin ini bagus juga. Karena Sasuke jadi bisa beristirahat dengan tenang. Ia bisa jadi bisa berbaring dan mengistirahatkan tubuhnya yang letih.
"Tuan, apa anda ingin mandi dulu?" Hanare berkata saat melihat tuannya naik ke tempat tidur.
Sasuke hanya menggeleng sambil menyandarkan kepalanya ke bantal.
"Tapi Yang mulia akan marah jika melihat anda dalam keadaan kotor." Tegurnya.
Sasuke tidak perduli, ia telah memejamkan mata. Beri dia waktu lima menit untuk beristirahat. Latihannya telah menguras seluruh tenaganya. Lagipula Naruto tidak ada disini, dia tidak perlu terburu-buru membersihkan diri.
Si pelayan mungil itu hanya menghela napas ketika mendengar suara dengkuran halus Sasuke. Tanpa suara ia mulai membersihkan bekas makanan Sasuke. Kemudian bergerak menuju tuannya dan merapikan selimutnya. Sasuke tertidur dengan lelap dan begitu damai. Wajah tidurnya ternyata sangat berbeda jika dibandingkan saat pemuda raven itu bangun. Ia terlihat begitu lembut, dan tampan.
Yah, Sasuke memang tampan, tapi sikapnya yang super dingin dan anti sosial membuat orang-orang merasa enggan mengagumi ketampanannya. Bahkan saat pemberian tugas ada banyak pelayan yang memilih untuk mundur. Tidak ada yang mau melayani si 'penghianat' Uchiha.
Tapi setelah melihat dan berinteraksi secara langsung, dia sadar, semua tanggapan orang-orang itu salah. Sasuke tidak jahat. Malah sebaliknya, dia innocent. Tidak heran sang penguasa seluruh clan begitu menyayanginya.
Sasuke merengut dalam tidurnya, dan Hanare hanya bisa tersenyum melihat tingkah manis tuannya itu. Ia merapikan ujung selimut Sasuke, sebelum berdiri dan berjalan keluar. Saat ia menutup pintu kamar, ia langsung terkesiap melihat Naruto yang telah berdiri di depan pintu. Naruto sepertinya baru tiba.
"Dia di dalam?" Naruto berkata.
Hanare menundukkan kepalanya dan memberikan anggukan dalam. "Ya, Yang mulia."
Narutopun melangkah melewatinya dan masuk ke dalam kamar, menutup pintu tepat di belakang punggung Hanare.
Hanare berdiri diam di depan pintu selama beberapa saat, sebelum kembali berjalan menuju dapur. Ada banyak bisikan akhir-akhir ini dikalangan para pelayan mengenai Naruto. Hanare sering sekali mendengarnya tapi tidak pernah tertarik. Ia tidak suka bergosip, sampai ketika ia tiba di dapur, dan melihat Hanabi yang bercerita cepat dengan wajah cerah.
"Aku tidak berbohong." Hanabi duduk di meja dapur dikelilingi pelayan lainnya. "Aku melihatnya sendiri, aku kan pelayan putri Hinata."
Hanare menatapnya, pelayan pribadi putri Hinata itu tengah menyisir rambutnya dengan gaya angkuh. "Sudah diputuskan, Yang mulia telah menyetujuinya. Hei, Hanare kau juga tahukan?" Ia melirik Hanare.
"Tahu apa?" Tanya Hanare tidak mengerti.
"Masa kau tidak tahu, payah!" Hanabi terkikik sambil mengibaskan tangan. "Oh ya, aku lupa. Kau kan pelayan si Uchiha itu. Yah, kalau dia pasti tidak tahu."
"Apa maksudmu?" Hanare mulai penasaran.
"Yah, nanti juga kau tahu." Kata Hanabi sambil beranjak dan melenggang pergi dari dapur. "Maaf, aku harus siap-siap berkemas banyak barang-barang putri Hinata yang harus diurus."
Sasuke hanya berniat untuk berbaring sebentar. Tapi ternyata dia malah tertidur cukup lama. Saking lelapnya, ia hanya separuh terbangun ketika merasakan belaian lembut di pipinya. Sasuke membuka sedikit kelopak matanya dan menemukan sepasang iris biru jernih tengah menatap balik dirinya.
"Bukankah sudah ku katakan kalau aku tidak suka melihatmu berantakan?" Naruto berbisik, menopang kepalanya dengan satu tangan sementara tubuhnya berbaring menghadap Sasuke.
Sasuke hanya bergumam tidak jelas. Ia masih mengantuk dan belum terbangun sepenuhnya. Ia memejamkan matanya lagi, membiarkan rasa lelap membelainya. Dan kemudian ia melakukan hal yang tidak mungkin dilakukannya saat terjaga. Ia bergeser mendekat ke Naruto, menggulung tubuhnya di dada Naruto untuk mencari kehangatan.
Naruto menaikkan satu alisnya, terkejut melihat tingkah Sasuke. Tapi kemudian ia tersenyum dan melingkarkan lengannya ke pinggang Sasuke. Pemuda raven itu sungguh manis, Naruto jadi ingin menggodanya. "Apa kau merindukanku?"
Tak ada jawaban, satu-satunya yang terdengar adalah suara dengkuran halus dari sosok pemuda raven. Tapi selain itu, Naruto merasakan sentuhan pelan Sasuke di kain bajunya.
Senyuman Naruto makin lebar. "Yeah aku juga merindukanmu." Balasnya. Tangannya bergerak menyentuh pipi Sasuke kemudian bergerak ke dagunya. "Padahal tidak cukup sehari." Naruto mengangkat dagu Sasuke, mata safirnya mengamati wajah sang pemuda raven yang selalu mengusiknya itu.
"Sebenarnya apa yang kau lakukan padaku, Uchiha Sasuke?" Tanya Naruto.
Sasuke lagi-lagi tidak menjawabnya. Pemuda raven itu jelas masih tertidur pulas. Naruto juga tidak mengharapkannya menjawab. Ia yakin pemuda raven itu tidak tahu jawabannya. Sasuke hanya melakukan segalanya sesuai kehendak. Terus membuatnya repot. Ia hampir meracuninya, dan bahkan membuatnya terjatuh dari jurang. Tapi bersama dengan Sasuke membuat Naruto merasa hidup. Untuk pertama kalinya ada sesuatu yang benar-benar diinginkannya.
Ini gawat, sepertinya apa yang dikatakan Obito akhirnya terjadi juga. Naruto benar-benar jatuh cinta pada Sasuke. Ia bahkan tidak mampu berhenti menatap wajahnya. Jemarinya mengelus kelopak mata Sasuke yang tertutup itu, mendadak ia merasa rindu dengan iris kelam sang raven.
Sasuke mengeluh pelan, kepalanya sedikit bergerak tidak nyaman saat Naruto menyentuhnya. Kemudian mata seindah malam itu terbuka, dan Sasuke langsung terkesiap.
"A-apa yang kau lakukan!" Bentak Sasuke, seraya menjauhkan dirinya dari Naruto. Sebuah death glare tajam diarahkan tepat untuk Naruto.
Naruto hanya tersenyum, menopang kepalanya dengan tangan sambil mengamati tingkah Sasuke. Death glare itu tidak pernah berpengaruh padanya.
"Apa kau berniat menyerangku saat sedang tidur!" Tuduh Sasuke, tangannya meraba-raba, ia sepertinya mencari pedangnya.
Naruto tertawa. "Kau yang memelukku duluan. Apa kau tidak ingat?"
Pemuda raven itu mendudukkan dirinya, merapikan rambutnya yang berantakan sambil menunjukkan wajah angkuhnya pada Naruto. "Jangan berbohong Uzumaki. Aku tahu kau. Kau, raja mesum!"
"Aku bahkan tidak bergerak dari tempatku sedikitpun." Balas Naruto masih berbaring dan mengamati Sasuke dengan santai.
"Ck, dimana pedangku!" Sasuke mulai kesal. Ia mencari-cari pedangnya, tapi di manapun ia mengarahkan pandangannya, pedang barunya itu tidak kunjung terlihat.
"Kau mencari pedangmu?" Tanya Naruto dengan nada sok serius. "Untuk apa? Mau kau elus-elus? Kalau begitu pakai 'pedang' yang ini saja."
Sasuke melotot pada Naruto. Pemuda blonde itu sedang mengedikkan kepalanya ke 'pedang' lain di selangkangannya.
"Idiot." Gumam Sasuke. "Pedangku lebih bagus."
"Oh ya? Coba ku lihat 'pedang'mu?" Naruto berkata ambigu. "Kurasa tidak ada yang special dari 'pedang'mu itu." Ia kemudian terkekeh lagi.
Kali ini Sasuke mengerti apa maksud Naruto, karena ia langsung memasang tampang tertohok. "Kau, dobe!" Rutuk Sasuke berang. Ia menerjang Naruto, bermaksud menghapus kekehan dari wajah pemuda blonde itu. Tapi Naruto malah menangkap tangannya dan membalik posisi mereka.
Sasuke kini berada di bawah Naruto sekarang, dengan kedua tangan ditekan diatas kepalanya.
"Apa latihan terakhirmu berjalan dengan baik?" Tanya Naruto, masih mempertahankan posisi mereka.
Sasuke menatap iris safir Naruto. Ujung hidung mereka hampir bersentuhan saking dekatnya wajah mereka sekarang. Ia tidak mengerti kenapa Naruto malah menanyakan pertanyaan itu. Tapi Sasuke bahkan tidak tertarik untuk memberontak. Akhir-akhir ini ia selalu membiarkan Naruto melakukan apapun pada tubuhnya. Dia malah mulai menyukai permaianannya. Seperti sekarang, tak berdaya di bawah Naruto, membangkitkan gairahnya.
"Ya, tentu saja. Aku bahkan mengalahkan Gaara." Jawab Sasuke mata kelamnya menatap nakal ke mata Naruto, bermaksud menggoda sang blonde.
"Kau pasti latihan ekstra keras." Sahut Naruto. Sasuke bisa merasakan hembusan hangat napas Naruto diwajahnya.
"Dan itulah kenapa kau jadi bau." Naruto menambahkan sambil terkekeh lagi.
"Aku baru mau mandi." Balas Sasuke langsung bad mood. Ia berusaha melepaskan diri, menggeliat dibawah tubuh Naruto. Tapi pemuda beriris safir itu menolak melepaskannya. Tangannya masih menekan tangan Sasuke.
Sasuke meronta-ronta tapi genggaman Naruto tak kunjung bergerak sedikitpun. Menyarah, Sasuke akhirnya memilih untuk meminta dengan baik-baik.
"Lepaskan." Katanya. Ia menunggu tapi Naruto tidak kunjung menyingkir, Sasuke berdecak dan berkata lagi. "Aku bilang lepaskan. Bagaimana aku bisa pergi—"
"Aku tidak mau melepaskanmu." Naruto tiba-tiba berkata.
Sasuke mengernyitkan dahinya. Kenapa nada bicara Naruto terdengar agak aneh. Ia seperti membicarakan hal lain.
Sasuke sedikit risih ketika tatapan Naruto berubah menjadi lebih intens. "Na-naruto?" Ia berusaha memanggilnya. Naruto membuatnya bingung. Pemuda itu seperti berada dalam dunianya sendiri.
"Aku bilang aku tidak akan melepaskanmu." Naruto tiba-tiba meraih tubuh Sasuke dan memeluknya dengan begitu erat.
Sasuke membeku seketika. Pelukan Naruto erat sekali sampai-sampai ia kesulitan untuk bernapas. Sasuke membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu tapi Naruto memotongnya.
"Jangan bicara. Jangan katakan apapun." Perintah Naruto. Dan Sasuke semakin bingung.
Walau begitu, Sasuke mengikuti perintah Naruto. Ia tidak bicara, bahkan tidak bergerak. Ia membiarkan kesunyian melingkupi mereka. Sasuke hanya menatap langit-langit sambil merasakan napas hangat Naruto menggelitik lehernya.
Naruto tidak dalam kondisi yang baik. Sasuke bisa merasakan emosinya yang kalut. Dia pasti punya masalah. Perlahan Sasuke mengangkat tangannya, dan mengelus punggung Naruto untuk menenangkannya. Ia sebenarnya ingin mengucapkan kalimat yang bisa menenangkan pemuda blonde itu. Tapi Sasuke tidak ahli dalam hal-hal seperti itu.
Jadi Sasuke hanya menutup mulutnya rapat-rapat, sementara lengan kuat Naruto merengkuhnya makin kuat, begitu posesif dan protectif.
Keesokan harinya semua orang terlihat sibuk. Kuda-kuda telah diarak dari dalam kandangnya dan dibariskan di depan halaman kastil clan Hyuuga. Para pengawal bolak balik mengangkat semua perlengkapan dan meletakkannya dengan rapi ke atas kereta kuda. Cuaca hari ini nampak bagus untuk melakukan perjalanan dan rombongan clan Uzumaki sebentar lagi siap untuk berangkat.
Sasuke berdiri di depan seekor kuda jantan berbulu putih. Tangannya mengelus-ngelus surai silvernya, kemudian menepuk-nepuk tubuhnya yang terasa kokoh. Sasuke tersenyum puas kemudian menoleh kepada Gaara yang sedari tadi berdiri disisinya, mengamatinya.
"Bagaimana?" Tanya pemuda berambut merah itu.
"Dia kuat." Puji Sasuke.
"Tentu, dia memang yang terbaik." Kata Gaara. "Dia milikmu sekarang."
"Aku akan membalasmu suatu hari nanti."
"Tidak perlu." Balas Gaara, "cukup jaga Naruto untukku."
Sasuke terdiam, ia melirik ke arah Naruto yang terlihat sedang berbicara serius dengan Neji di depan pintu gerbang kastil. "Ya, sudah pasti." Jawabnya singkat sementara Gaara telah berbalik dan berjalan memeriksa perbekalan.
Sasuke naik ke atas kudanya, mencoba lebih bersahabat dengan 'teman' barunya itu. Tubuh kuda itu begitu pas membuat tunggangannya terasa stabil dan kokoh, dia jadi tidak sabar untuk memulai perjalanan. Dari atas kuda, ia memerhatikan para pengawalnya yang telah bergegas. Kelihatannya clan Hyuuga memberikan mereka banyak sekali oleh-oleh. Mereka terpaksa menambah satu kereta kuda lagi untuk membawa hadiah-hadiah itu.
Sasuke kembali melirik ke arah Naruto, pemuda itu kelihatan tampan dengan setelannya, campuran antara warna biru langit seperti matanya dan warna violet terang. Hari ini Naruto tidak secerewet yang biasanya. Dia tidak banyak permintaan dan membiarkan Sasuke melakukan segalanya sesuka hati. Ia menjadi lebih baik akhir-akhir ini.
Sasuke menepuk-nepuk kudanya pelan, mulai merasa bosan. Kapan mereka akan berangkat. Naruto dan Neji sudah berhenti mengobrol tapi mereka masih berdiri di depan pintu kastil, seakan sedang menunggu seseorang. Sasuke tidak berhenti menatapi mereka, sampai ketika ia merasakan kudanya bergerak dan ia menolehkan kepalanya ke arah seorang pria berbadan besar yang sedang mengangkat seember air.
"Kuda yang bagus, tuan." Sapa orang itu sopan seraya memberi kuda Sasuke minum.
"Hn, ini pemberian." Balas Sasuke, menatapi kudanya minum. "Siapa kau?" Ini pertama kalinya ia melihat orang itu.
"Namaku Juugo." Jelasnya, menunduk sopan pada Sasuke. "Aku tukang kuda yang bekerja di clan Hyuuga, tapi aku akan ikut dalam perjalanan ini sampai ke kastil clan Uzumaki."
"Hanya Juugo?" Tanya Sasuke, sedikit heran orang itu tidak menyebutkan nama clannya.
Juugo menggelengkan kepalanya sambil mengangkat bahu. "Aku besar di panti asuhan. Sama sekali tidak tahu apapun tentang orang tuaku."
"Oh, maaf jika aku menyinggungmu." Kata Sasuke cepat.
"Tidak masalah tuan, masa kecilku tidak buruk. Karena aku besar di desa yang damai dengan orang-orang yang bersahabat." Tukang kuda itu tersenyum tulus. Ia kemudian mengelus kuda Sasuke lagi, kali ini memberinya makanan untuk pengisi tenaga.
"Kalau begitu kau pasti bisa membantuku merawat kuda ini."
"Ya, tentu saja. Anda bisa mengandalkanku. Ini tugasku."
Sasuke mengangguk. Masih mengamati Juugo memberi makan kudanya. Lalu pandangan Sasuke teralih ketika mendengar suara Neji yang setengah berteriak dari kejauhan.
"Akhirnya kau keluar juga." Sahut Neji.
Hyuuga Hinata keluar dari dalam kastil. Dengan dua orang pelayan di kanan kiri yang membantunya memegangi gaun panjangnya. Rambutnya dibiarkan tegerai jatuh dengan indah di bahunya. Gadis itu tampak malu-malu. Dengan pipi yang merona merah dia berhenti di hadapan Neji dan Naruto, menundukkan kepala sebagai salam hormat.
Saat ia mengangkat kepalanya lagi, Neji memberinya satu pelukan sayang. Ia berbisik tepat di telinga gadis itu, sebelum mundur dan membiarkan Naruto maju. Sasuke melihat tangan Naruto terulur ke arah Hinata. Gadis itu tersenyum dan meraihnya. Kemudian mereka berjalan ke kereta kuda dan Naruto membantunya naik.
Sasuke mengerutkan alis, ia tidak mengerti kenapa Hinata naik ke kereta kuda. Apa dia akan ikut ke istana clan Uzumaki bersama mereka? Tatapan Sasuke tidak berpindah sedetikpun dari gadis itu. Genggaman erat tangan Naruto di jari-jari Hinata membuatnya risih.
Saat Hinata telah duduk dan membuka jendela untuk mengamati istananya, sesuatu tiba-tiba menghantam hati Sasuke dengan keras. Hinata mengenakannya. Sebuah jepitan rambut dengan taburan berlian berwarna ungu terang berbentuk mahkota bunga. Jepitan itu tergantung manis di rambutnya, terlihat benar-benar pas dengan mata violetnya. Memperindah wajah gadis itu, dan menjadikannya dua kali lebih cantik.
Sasuke mematung seketika, terbelenggu oleh ketidakmengertian.
Naruto membelinya untuk Hinata?
Kalimat itulah yang muncul di dalam hati Sasuke. Tiba-tiba semuanya terasa pas.
Dilihat dari jauh seperti ini, Naruto dan Hinata tampak serasi, bahkan ketika Sasuke melihat warna baju Naruto yang sama dengan gaun Hinata.
Ada banyak pertanyaan yang berputar di kepala Sasuke, tapi tidak ada satu katapun yang keluar dari bibirnya.
Disisinya Juugo berdecak penuh kekaguman. "Putri Hinata memang sangat cantik. Tidak heran, Yang mulia Uzumaki memutuskan untuk menjadikannya sang ratu dari penguasa ke empat clan. Dia memang cocok menjadi Ratu kita."
Kemudian apa yang terjadi selanjutnya begitu cepat, Sasuke tanpa sadar mengepalkan tangan di tali kekang kudanya dengan begitu erat, membuat kuda itu memekik keras dan menyentakkan tubuhnya dengan hebat. Tubuh Sasuke terpelanting jatuh ke tanah, tepat di kaki-kaki sang kuda yang mengamuk. Sasuke hampir terinjak, tapi Juugo bergerak cepat dan menenangkan kembali kudanya.
"Tenang!" Juugo berteriak, menyambar tali kekangnya dan mengelus wajah sang kuda.
Sasuke masih berbaring menelengkup ditanah, gemetar. Ia melihat Gaara dari jauh yang berlari ke arahnya, begitupula Neji, kemudian tatapan-tatapan kaget orang-orang. Kuda Sasuke mulai tenang dan berhasil berada dalam kendali Juugo. Sasuke menatap telapak tangannya, cap kukunya terjiplak disana. Dia pasti telah mencekik kudanya dengan tidak sengaja.
Kemudian Sasuke sadar bahwa lengan bajunya basah. Itu adalah darah. Darahnya. Sasuke baru akan memeriksanya ketika seseorang membalik tubuhnya dengan kasar.
"Apa yang terjadi?" Naruto membalik tubuh Sasuke, menangkupkan tangannya ke pipi Sasuke dan memeriksa keadaannya dengan kalut. "Kau tidak apa-apa?"
Sasuke mengangguk kaku. Tidak bisa bicara.
"Sial, kau benar-benar mengagetkanku!" Kata Naruto dengan wajah pucat pasi. Ia mengamati tubuh Sasuke dan langsung menyadari tangannya yang berdarah.
"Aku baik-baik saja." Sasuke berkata.
Naruto tidak mendengarkan. Ia terlalu kaget melihat luka di tangan Sasuke. "Kau berdarah." Ia bergumam. "Ck, Kuda sialan itu!"
"Aku yang mencengkram talinya terlalu kuat." Sasuke kembali berkata. "Jangan salahkan kudaku."
Tapi Naruto lagi-lagi tidak mendengarkan ia menoleh ke ajudannya. Ekspresinya keras dan suaranya terdengar benar-benar marah. "Siapa yang membawa kuda liar itu? Kurung sekarang juga!"
Sasuke menggertakkan giginya. "Aku bilang ini salahku!" Ia membentak "Jangan salahkan kudaku!"
"Dia melukaimu." Naruto menoleh pada Sasuke.
"Tidak!" Balas Sasuke dengan emosional. "Dia tidak melukaiku! Bukan dia…"
Kata-kata Sasuke hilang di tenggorokannya, ia mengangkat wajahnya dan melihat Hinata sedang menjulurkan kepalanya keluar dari jendela kereta kudanya. Gadis itu dengan jepitan pemberian Naruto berkilau di rambutnya sedang menatap Sasuke.
Sasuke memalingkan wajahnya, merasa kesal, cemburu, dan sesak disaat yang sama.
"Sasuke?"
"Jangan salahkan kudaku!" Sasuke membentak Naruto, onyxnya penuh dengan emosi. Ia beranjak dan menghentakkan tangannya dari Naruto. "Kau… brengsek!" Umpatnya sebelum berbalik dan berlari ke kudanya.
-tbc-
