Shion menurunkan satu per satu lukisan Sasuke yang semula memenuhi dinding studio pribadinya di kediaman Hyuuga. Bibirnya mengulum senyum tawar, Otsutsuki Toneri yang selama ini ada di sisinya, mengapa justru Uchiha Sasuke yang mampu menyita atensinya dengan begitu hebatnya.

Seakan baru terbangun dari tidur panjang, kini ia tersadar bahwa ternyata belum sekali pun tangan terampilnya melukis Toneri, bahkan jika itu sekadar sketsa sederhana. Ia terlalu dibutakan oleh pesona Sasuke, hingga ia masih bisa memandang ke arah lain ketika sudah ada seseorang yang setia mendampinginya.

Menyadari semua ini seharusnya ia tidak terluka jika Toneri menganggap pernyataan cintanya yang kasip sebagai suatu omong kosong.

"Mau kau apakan semua ini, Shion?"

Shion memandang tanpa minat pada deretan lukisannya di lantai yang bertumpuk dan saling menyandar. Kepalanya menggeleng lemah sebagai jawaban untuk pertanyaan sang ibu. Pada akhirnya ia hanya mengunci studionya seperti sedia kala. Rasanya ia sudah malas untuk membukanya lagi.

"Sebelum ke kamarmu, makanlah dulu bersama ibu dan Otousan."

Shion sontak teringat belum memberi salam kepada ayah tirinya. Segera setelah tiba di rumah ia malah langsung mendatangi studionya.

"Aku kan tidak bisa makan sembarangan di malam hari, Kaasan."

"Ibu belum pikun, Shion. Makanya ibu menyiapkan salad sayur dan daging tanpa lemak untukmu."

Ibunya memang yang terbaik. Ia yang mulanya malas makan, kini jadi mendadak lapar. Diikutinya langkah tenang ibunya menuju ruang makan. Ia lantas membungkuk hormat seraya tersenyum setelah bertemu dengan Hiashi.

"Aku dengar Tenten-nee akan menetap di sini."

Shion membuka obrolan di tengah suasana makan malamnya yang dirasanya terlalu tenang. Hiashi sudah memahami tabiatnya dengan tidak menegurnya setiap kali ia melakukannya. Hal yang sama juga diterapkannya jika bersama Toneri, yang tidak keberatan menanggapinya selama suasana hatinya baik.

Sampai sekarang pun ia masih penasaran tentang apa yang terjadi jika ibunya berdua saja dengan Hiashi, apakah memang setenang ini.

"Sekarang Tenten sudah menurut pada Neji," sambung Miroku, "Dia lumayan sering main ke sini meski tanpa suami atau ayah mertuanya karena belum bisa bekerja lagi."

"Tenten-nee dasarnya tidak bisa diam, pasti membosankan kalau tidak ada kegiatan."

"Demi dirinya juga, katanya sedang memprogram kehamilan."

Shion membulatkan bibirnya tanpa suara, kemudian menyuap dagingnya lagi hingga mulutnya penuh. Tidak berminat melanjutkan bincang-bincangnya lagi. Sebisa mungkin ia selalu menghindari bahasan yang kerap ditanyakan oleh sang ibu.

"Kau tidak ingin menyusul Hinata, Shion?"

Shion tersedak karena kali ini bukan Miroku yang menyinggungnya. Setelah meminum airnya hingga tandas, ia menjawab dengan kikuk, "Aku masih terikat kontrak-kontrak yang tidak memungkinkanku untuk hamil, Otousan. Mungkin nanti setelah aku 30-an."

"Dua tahun lagi kau sudah 30 tahun." Miroku mengingatkan, "Kalau bisa sebelum 35. Bukan demi ibu, tapi untuk dirimu sendiri."

"Hm, kalau aku sudah siap, aku akan pergi ke bank sperma dan melakukan inseminasi."

Hiashi mendelik mendengar pernyataan Shion yang diucapkan dengan teramat santai.

"Kau bicara apa, Shion? Kau kan punya suami," tegur Miroku yang sudah tentu tidak setuju jika Shion sungguh memilih jalan itu.

Miroku kian merasa tidak enak hati lantaran ekspresi Hiashi sudah dapat menunjukkan bagaimana tanggapan hati sang suami, yang tidak ditutupi sama sekali. Melihat Shion tampil seksi di majalah saja sudah sanggup membuat Hiashi marah. Bisa-bisa Hiashi murka jika Shion benar-benar melakukannya.

"Maaf, aku hanya bercanda," kilah Shion disertai senyum canggungnya, yang seketika membuat sang ayah mendesah penuh kelegaan.

Namun berbeda dengan Miroku yang sangat mengenal Shion. Ia tahu Shion sungguh-sungguh dengan ucapannya. Usai makan malam, ia segera menyusul ke kamar Shion.

"Kau sedang ada masalah dengan Toneri." Miroku tidak bertanya, ia menyimpulkan.

"Ah biasa, Kaasan. Ada ribut kecil, dan aku masih sedikit kesal padanya, makanya malam-malam begini aku mengungsi ke sini."

Bungkamnya Miroku menunjukkan bahwa ia sedang tidak dipercaya. Ditambah tatapan tajam yang amat jarang ia dapatkan dari ibunya.

"Aku sudah izin padanya, kok. Dia juga menitipkan salam untuk kalian."

Miroku mengambil tempat di sisi Shion, diusapnya lembut rambut pirang putrinya yang dibiarkan tergerai di punggung. Di matanya Shion terlihat tidak sedang baik-baik saja.

"Ceritalah ke ibu jika kau butuh teman bicara, jangan disimpan sendiri."

"Aku masih bisa mengatasinya, Kaasan. Tenang saja." Shion menunjukkan senyum manisnya, "Kaasan istirahatlah, temani Otousan."

Miroku berdiri dari duduknya tetapi belum akan segera keluar dari kamar Shion, "Ingat, jangan galak-galak terus ke suamimu. Kau bisa menyesal kalau dia kapok padamu."

Shion memberengut, "Sebenarnya siapa yang anak Kaasan."

"Itu juga yang ingin ibu tanyakan, karena selama ini Toneri yang lebih perhatian ke ibu dan Otousan."

Shion semakin bermuka masam. "Aku kan orang sibuk," kelakarnya.

"Memangnya Toneri tidak sibuk selama ini?"

Padahal ia menghindar ke rumah orang tuanya agar bisa sejenak melupakan patah hati karena penolakan Toneri, mengapa malah orang itu terus yang dibahas oleh ibunya.

"Sudah sudah, Kaasan ke kamar Otousan saja, buatkan aku adik baru."

Miroku terperangah, tangannya yang gatal serta merta menampar pantat Shion, "Dasar anak kurang ajar."

Shion malah terkekeh-kekeh jail. Sepeninggal ibunya, ia mematikan semua penerangan dan mengubur dirinya di dalam selimut tebalnya.

Ia takut mengakuinya, tetapi cepat atau lambat ia dan Toneri pasti akan berpisah. Jangankan saling cinta, tak ada landasan kuat dalam rumah tangganya bersama Toneri.

Terlebih kepercayaan dirinya menguap tanpa sisa begitu Toneri menyebut perasaan yang baru ia sadari sebagai suatu kebohongan. Sungguh ia tidak berkata dusta, ia hanya sedikit terlambat untuk memahami hatinya sendiri.

Kini mengharap pernikahannya dapat bertahan hingga tahun depan saja rasanya seperti muluk-muluk, apalagi sampai usianya 30-an, ia benar-benar tidak yakin. Ia pasti bisa menjadi orang tua tunggal seperti ibunya, yang begitu tangguh dengan memegang peran ganda setelah kepergian ayahnya, sebelum Hiashi menerimanya dan menjadi keluarga baru.

.

.

.


. X .
Averted Bias


.

.

.

Hinata terbangun dari tidurnya mendengar denting pintu apartemennya yang berbunyi setiap kali dibuka dari luar. Begitu sadar sepenuhnya, ia masih duduk meringkuk di kursi kepompongnya seperti saat ia memutuskan untuk menunggu kepulangan Naruto. Tadi suaminya itu pergi dalam situasi yang tidak dapat dikatakan baik, sehingga ia terus merasa khawatir dan membuatnya enggan untuk bergelung nyaman di ranjangnya.

Teringat Naruto, ia bergegas bangkit. Melangkah dengan sedikit waspada ke pintu, ia menemukan sang suami duduk membelakangi di undakan genkan. Tidak ingin terlalu mengejutkan, ia menyentuh bahu tegap Naruto pelan-pelan. Namun niatnya tidak tersampaikan, reaksi awal Naruto menunjukkan bahwa suaminya itu sedikit terkejut merasakan sentuhan ringannya. Ia pun dibuat terkaget melihat lebam di wajah Naruto.

"Kenapa kau masih terjaga, Hinata?"

Naruto segera melangkah masuk, sebisa mungkin menyembunyikan bekas pukulan di wajahnya dari pandangan Hinata walaupun gagal.

"Kau tak bisa tidur jika tidak ku peluk?"

Dalam suasana hati yang baik Hinata pasti menyambut ucapan Naruto dengan air muka manis. Sayangnya kondisi sekarang jauh dari itu.

"Kau pergi dengan marah, lalu pulang dalam keadaan seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi, Naruto-kun? Apa yang tidak ku ketahui?"

"Ini hanya jejak kecil dari pertarungan antar lelaki." Naruto menjawab santai sembari mengaitkan mantelnya di gantungan dekat pintu.

"Sebab kau berkelahi?" Hinata menuntut tegas.

Naruto membatalkan langkahnya menuju kamar dan mengajak Hinata duduk di sofa.

"Yang menjatuhimu pot dari rooftop—"

Naruto tidak bisa menjadikan Hinata sebagai pihak yang tidak tahu apa-apa. Ia tidak mau Hinata kembali pada trauma lamanya, yang sibuk dengan opini dan persepsi yang dibangunnya sendiri lantas terjebak di dalamnya. Jadi ia akan berusaha untuk terus terbuka pada Hinata, yang tidak akan terwujud jika ia bersikeras untuk tutup mulut.

"Kau tahu?"

Naruto tersenyum lemah mendapati keterkejutan Hinata, "Aku tidak mengerti kenapa kau tidak menceritakannya padaku. Untungnya Konohamaru memberitahuku soal ini, bisa dibilang dia adalah saksi, yang melihat bagaimana pot itu dijatuhkan ke arahmu—meski dia juga tidak tahu siapa yang mencoba mencelakaimu."

Hinata tertunduk lesu, segan untuk membalas sorot sendu dari sepasang mata biru Naruto. Bagaimana tanggapan Naruto jika ia berterus terang bahwa ia pernah menaruh curiga kepada suaminya ini, yang menurutnya memiliki motif kuat untuk melukainya.

Bicara tentang Konohamaru, ia tidak ingat cerita pemuda itu mengenai bagaimana awal dirinya ditemukan. Yang membekas di pikirannya adalah kabar tentang ayah angkatnya yang syukurnya berhasil selamat dari tragedi di masa lalunya. Serta rasa senangnya lantaran Konohamaru masih dapat mengenalinya setelah belasan tahun tidak bertemu.

"Aku sempat mencurigai Kiba, bahkan gegabah menuduhnya dan menghajarnya dengan kalap. Tapi ternyata aku salah."

"Maafkan aku…."

Hinata tidak tahu permohonan maafnya harus dimulai dari mana. Ia kembali tersadar bahwa kesalahannya tak terhitung lagi. Bahkan dirinya pula yang menyebabkan Naruto berkelahi dengan sahabatnya. Tanpa mampu dibendung, air mata membasahi pipinya.

"Aku terbuka padamu agar kau merasa tenang, bukan untuk melihatmu menangis."

Hinata memeluk Naruto dengan begitu erat dan tergugu di bahunya, tak memberi celah bagi sang suami untuk menyeka air matanya. Ia sungguh merasa tidak berguna, tidak dapat melakukan segala sesuatu dengan benar, tidak mampu menjaga dirinya sendiri hingga senantiasa membutuhkan bantuan dan pembelaan orang lain, juga mendatangkan kemalangan bagi orang-orang di sekitarnya.

"Hei, kau bilang merasa mengandung bayi laki-laki, kan."

Naruto membenarkan posisi Hinata agar ia dapat memandang wajah yang basah karena air mata itu. Mendekapnya ringan dan membiarkan Hinata tetap menyandar miring pada bahunya. Melihat anggukan lesu Hinata, ia mengusap perut sang istri yang mulai keras.

"Bagaimana kalau Boruto jadi bocah cengeng karena ibunya hobi mewek."

"Bukan hobi." Ketimbang berhenti, tangisan Hinata malah semakin deras.

Naruto terkekeh pelan, malah terhibur melihat Hinata menangis seperti anak kecil. Ditangkupnya pipi Hinata dengan tangannya yang bebas, lambat-lambat menyapu lelehan air mata istrinya dengan tapak lebarnya.

"Apa hubungan insiden pot di galeri dengan Tamaki?"

Hinata terkenang lagi kejadian beberapa jam sebelumnya saat Naruto menggelandang kasar asistennya yang sebaya Hanabi itu. Masih terbayang jelas bagaimana Tamaki memberinya tatapan memohon, namun tidak ada yang dilakukannya selain tergeming.

"Tepatnya aku juga tidak tahu. Tapi aku memergokinya menaburkan bubuk putih ke minuman yang akan diberikan padamu, dan aku teringat kalau dia seperti gadis yang pernah ku lihat bersama Kiba, jadinya aku menyangka mereka berdua bersekongkol."

"Bubuk putih apa?"

"Entahlah."

"Kalau yang ada di meja dapur, aku mendapatkannya dari Anmaa."

"Hee?"

Naruto kelepasan mengumpati kebodohannya sendiri. Hinata yang tengah sensitif dibuat takut lantaran mengira makian itu ditujukan padanya. Pun Hinata merasa kian bersalah karena terlambat mengkomunikasikannya kepada Naruto. Apalagi Naruto berdiri tiba-tiba dan melangkah cepat menjauhinya untuk menghubungi sang ibu.

Tidak nyaman diabaikan lebih lama, Hinata melarikan diri ke kamar dan membenamkan tubuhnya sebatas leher di bawah selimut putihnya. Padahal ada sesuatu yang hendak disampaikannya kepada Naruto. Kini ia khawatir Naruto akan semakin murka padanya.

"Kau sudah tidur, Hinata?"

Takut-takut Hinata membuka matanya ketika merasakan belaian di kepalanya disertai kecupan singkat di bibirnya. Tak seperti yang dicemaskannya, Naruto justru tersenyum mesra. Tangannya terangkat ragu, membelai lebam mengerikan di tulang pipi Naruto.

"Maaf, aku masih saja mendatangkan banyak masalah untukmu."

"Besok kita bicarakan lagi, sekarang tidurlah."

Hinata mencengkeram kaos Naruto, menunda sang suami untuk pergi ke kamar mandi.

"Aku tahu kurang tepat untuk membahasnya sekarang, tapi aku tidak bisa mengulurnya sampai besok, waktunya semakin mendesak. Tadi aku mendapatkan undangan ke babak semifinal, dan aku membutuhkan Tamaki, Naruto-kun. Jika bukan dia, aku tidak tahu harus minta bantuan siapa lagi. Jika kau mengizinkan, aku akan segera membujuknya. Aku takut dia kembali ke pekerjaan lamanya dan tidak mau lagi bekerja bersamaku."

Naruto sabar menunggu Hinata meluapkan semua unek-uneknya. Merasa Hinata sudah selesai, ia baru menanggapi, "Undang dia kemari. Aku juga harus minta maaf padanya."

.

.

.

"Bagaimana dengan tawaranku waktu itu, Toneri? Sekarang kau sudah punya jawabannya?"

Toneri baru akan mengayunkan stik golfnya ketika pertanyaan itu dilontarkan oleh sang shachou, presiden direktur sekaligus pemilik SEKKA, perusahaan kosmetik tempatnya bekerja. Ia kembali ke posisi tegap dan merendahkan kepalanya dengan penuh hormat.

"Maafkan saya, Shachou."

Pria baya yang masih terlihat energik itu sudah mampu menangkap jawabannya melalui maaf yang diungkapkannya. Senyum maklum yang sama masih ditunjukkan padanya seperti saat pertama kali ia kehilangan keyakinan untuk menerima tawaran tersebut.

Berbeda dengan sang bos yang bermain dengan santai dan tampak begitu menikmati, ia justru bernafsu melakukan pukulan jauh dengan harapan permainan segera berakhir.

Sebagai seseorang yang bekerja pada orang lain, ia jarang memiliki banyak pilihan. Di hari liburnya kali ini ia malah terdampar di Showanomori Golf Course, berkewajiban menemani bosnya untuk bermain golf bersama para bos besar lainnya. Padahal ia sudah berencana untuk berkunjung ke kediaman mertuanya, sekaligus menjemput Shion.

Di waktu-waktu yang sebenarnya tidak ia harapkan untuk melakukan perjalanan antar benua pun ia sulit menolak tatkala sang bos memberinya perintah untuk mengunjungi semua cabang perusahaan. Alhasil ia sering meninggalkan Shion seorang diri, kendati sang istri juga memiliki kesibukan yang kerap mengurangi kebersamaan dengannya.

"Ku pikir tidak akan sulit mengirimmu ke sana, mengingat Jerman adalah tanah kelahiranmu."

"Jerman memang kampung halaman ibu saya juga, Shachou. Tapi setelah kedua orang tua saya meninggal, saya hanya memiliki kerabat di sini. Saya mohon maaf."

Sang presdir kembali menunjukkan senyumnya yang penuh wibawa, "Cabang di Jerman termasuk yang paling besar, dan aku percaya padamu. Jika nanti kau berubah pikiran, aku akan mengutus putriku untuk mendampingimu."

Toneri membungkuk sekali lagi sebelum pria baya itu menghampiri bola yang telah dipukul. Pandangannya beralih ke perempuan berambut biru pendek yang setahunya bernama Konan, fuku shachou SEKKA, wakil presiden direktur yang juga merupakan putri tunggal dari pimpinan tertinggi perusahaannya.

Kira-kira ia sudah dapat menerka maksud dari bosnya, selain mengangkatnya sebagai seorang shochou di perusahaan cabang. Bukan karena ia terlalu percaya diri, namun ia disebut-sebut sebagai kandidat terkuat di antara para calon pendamping hidup Konan.

Kalau Shion tidak memintanya untuk menyembunyikan status pernikahannya, kejadian seperti ini pasti tidak akan berlaku. Shion telah menyeretnya untuk menjadi seorang pembohong juga. Pada akhirnya ia sendiri yang kebingungan mencari alasan.

Terlalu riskan untuk mengakui segalanya sekarang. Bagaikan bom waktu yang siap ia ledakkan kapan saja, jika ia memilih jujur barangkali ia tidak hanya akan kehilangan karier gemilangnya, tetapi juga mendapatkan cap buruk atas kebohongannya.

"Saya kira penggemar F1 seperti Anda akan lebih senang mengendarai mobil super," komentar Konan saat dipersilakan Toneri untuk memasuki mobilnya yang merupakan keluaran RR dari jenis phantom.

Lagi-lagi ia tidak sanggup menolak perintah sang bos. Kali ini ia harus menemani Konan makan di restoran tradisional sekaligus mengantarkan sang putri pulang. Katanya Konan rindu masakan Jepang setelah berminggu-minggu mengurusi cabang di Jerman. Dengan hati-hati ia mengemudikan mobil putihnya dari Akishima ke Shinjuku.

"Tidak lagi. Saya sering khilaf jika memegang supercar," balasnya seraya tersenyum canggung, "Wanita yang pernah menumpang di mobil saya jadi kapok dan tidak mau semobil lagi jika saya yang menyetir."

"Saya tidak heran, kuda jingkrak memang liar, apalagi di tikungan."

Toneri yang dibuat heran karena Konan tahu perihal kegemarannya pada Formula One dan dukungannya terhadap tim kuda jingkrak yang hingga kini memiliki pembalap andalan dari Jerman. Hal itu pula yang mendasarinya untuk membeli mobil super dari pabrikan yang sama, yang kemudian digantinya dengan mobil RR-nya dari tahun lalu.

"Menurut saya lebih mudah mengemudikan banteng mengamuk, lebih jinak meski bodinya terkesan sangar."

"Jujur saya belum pernah mengendarainya."

"Saya masih menyimpan satu banteng mengamuk di Jerman, Anda boleh mencobanya. Mungkin lain waktu kita juga bisa adu balap—dengan Anda memegang kuda jingkrak."

"Kedengarannya menarik."

Sekarang Toneri dibuat takjub oleh Konan yang baru ia ketahui bahwa gadis kalem yang tampak demikian anggun ternyata begitu mencintai kecepatan super di jalanan.

"Papa bisa saja setuju semisal Anda mau mengajukan proposal untuk mensponsori tim kebanggaan Anda."

"Ah untuk itu—ada event-event yang lebih tepat untuk disponsori SEKKA. Lagipula saya mulai netral."

"Seumpama," Konan tersenyum tipis, "—jika menilik bagaimana ayah saya sangat mempercayai Anda. Bahkan baru kali ini saya melihatnya memberikan tawaran lebih dari sekali. Biasanya orang-orang yang memohon padanya, hingga menjilat kakinya."

Toneri merasa tertohok. Ia semakin merasa sungkan atas penolakannya. Jika dengan menerimanya sama halnya meninggalkan Shion, ia tidak yakin dapat berubah pikiran.

"Kelihatannya Papa juga senang citra penyantun melekat pada perusahaan."

Sejatinya Toneri tidak merasa kesan baru itu berkat dirinya. Setiap usulannya untuk memberikan dana bagi aktivitas sosial juga bergantung kepada pimpinan tertingginya.

"Pertama kali Papa bercerita tentang Anda, yang ada di bayangan saya Anda tidak ada bedanya dengan bapak-bapak sebayanya yang mengisi kursi dewan direksi. Tapi setelah bertemu langsung, saya malah mengira kalau Anda seorang fresh graduate awal 20-an."

Toneri tergelak pelan mendengarnya, "Itu lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Saya tak muda lagi, sudah berkepala tiga."

"From a boy to a man."

Konan memperlihatkan senyum yang lebih lepas selaku balasan senyum simpul Toneri.

.

.

.

Nyaris tidak ada suara yang terdengar di dalam ruangan khusus berlantai tatami dengan meja rendah di tengah ruangan itu. Dua zabuton diisi oleh sepasang manusia berjenis kelamin berbeda yang duduk saling berseberangan. Bunyi keletak dari gelas keramik berisi ocha yang diletakkan di atas meja kayu menginterupsi keheningan yang merajai.

"Baru-baru ini aku dengar kau menikahi seorang balerina muda asal Hokkaido." Saara memulai perbincangan.

"Ya, itu bukan sekadar rumor."

"Waktu itu berlandas bisnis, kan. Yang sekarang sepertinya politik?" Saara memberikan senyum yang tidak jujur.

"Apa salahnya, tidak ada yang dirugikan."

Punggung tangan Saara menutupi mulutnya yang tertawa hambar, "Kau tidak pernah serius ya, Shino—jika bukan demi dirimu sendiri."

Shino menenggak habis sakenya yang terasa getir. Lalu mengisi penuh cawannya lagi seraya menyumpit gyoza yang ia cocol ke sausnya.

"Atau seleramu memang daun muda?"

"Bisa jadi."

Shino menyantap makanan ringannya dengan tak acuh. Sesungguhnya ia benci aroma kuat dari bawang putih di dalam gyoza yang dipertegas oleh rasa dari sausnya. Tetapi jika bersama mantan istrinya ini, tanpa sadar ia selalu menjadi bukan dirinya sendiri.

"Kau mungkin masih ingat tentang anggota parlemen yang memilih mengundurkan diri setelah kedapatan selingkuh dari istrinya."

Shino meletakkan sumpitnya dan mulai menaruh perhatian pada Saara. Ia sudah dapat menyangka tujuan Saara dengan memintanya bertemu. Namun tetap saja ia sering merasa tidak siap akan kejutan dari Saara.

"Setelah menduda karena diceraikan oleh seorang wanita, apa jadinya jika masyarakat juga tahu kalau anggota parlemen baru dari majelis tinggi sepertimu ternyata pernah menghamili istri orang lain. Aku tetap menyebutnya sebagai pelecehan lho meski kau tidak menyentuhku secara langsung. Kontradiksi sekali, padahal kau mengklaim dirimu sebagai aktivis pejuang hak perempuan."

Shino mengosongkan cawannya sekali lagi, lantas kembali mengisinya penuh hingga botol keramiknya menyisakan tetesan.

"Jika kabar ini benar-benar beredar, apa kau juga akan menggelar konferensi pers dan memohon maaf kepada seluruh masyarakat lalu mundur? Aku jadi ingin menontonnya."

"Tidak perlu berbelit-belit." Shino menggeram dingin, "Aku sudah bisa menangkap maksudmu, kali ini apa yang kaumau?"

Saara bangkit dari duduk bersimpuhnya dan bersingsut mendekati Shino. Aroma sake yang menyengat tidak menyurutkannya untuk lebih mendekat pada sang mantan suami. Bibirnya hampir menempel pada daun telinga Shino saat ia membisikkan kemauannya.

Ia puas melihat Shino sempat kehilangan ekspresi tenangnya. Ia lantas meninggalkan pria itu seorang diri setelah meletakkan selembar uang untuk membayar teh hijaunya.

Hatinya bersorak girang ketika tanpa diduganya ia berpapasan dengan Toneri yang datang bersama seorang wanita ke restoran tradisional itu. Tatapan tajam pria itu tak sekalipun teralih darinya sepanjang berjalan berlawanan arah dengannya di koridor.

Ia tersenyum tawar ketika Toneri dengan ramah mempersilakan sang wanita untuk mendahului masuk ke ruangan yang telah direservasi. Satu dari tiga serangkai yang dibencinya. Jika dua pria lainnya berengsek, berarti yang satu ini tak kalah berengsek.

"Ternyata Anda memang menyukai para perempuan berambut biru ya, Otsutsuki-san," pancingnya santai dengan suara lirih.

"Laporkan itu pada Shion, dan aku akan merobek mulutmu."

"Hm, mungkin aku bisa memberinya saran untuk mengecat rambutnya menjadi biru," balas Saara tanpa gentar, bahkan ia masih dapat menunjukkan senyum yang sarat akan ketenangan sebelum melangkah pergi.

.

.

.

Naruto benar-benar merasakan beratnya tanpa kehadiran Kiba di tim fotografinya setelah mendapati bagaimana repotnya melakukan seluruh pengeditan sendiri seusai pemotretan. Bukan berarti ia tidak terampil seperti Kiba. Hanya saja Kiba lebih cermat dan betah duduk lama menghadap layar monitor. Berbeda dengan dirinya yang lebih cocok terjun langsung ke lapangan. Belum lagi Sai dan Shikamaru yang tidak bersedia membantunya dalam proyek bersama Kiba, malah menyelesaikan milik mereka sendiri.

"Besok sudah waktunya bersih-bersih galeri."

Naruto mencoba mengisi kelengangan di studionya yang hanya dihuninya bersama dua anggota timnya yang lain, suasana yang sangat jarang terjadi jika ada Kiba di antaranya.

"Lalu?" Sai menyahut dengan masa bodoh. Perhatiannya belum teralih dari monitornya.

Naruto mendesah berat, kurang berminat juga untuk melihat bagaimana respons mereka. Alhasil ia tetap menyibukkan dirinya dengan layar yang dihadapnya ketika berbicara.

"Jadi datanglah lebih pagi—"

"Kau memintaku untuk membantumu bebersih?" potong Sai masih dengan senyum palsu, "Hoo tidak bisa."

"Besok aku dan Sai ada pemotretan event tahunan street dance di Shibuya," Shikamaru menyahut dengan suara malas, menggagalkan Naruto yang hendak protes pada Sai, "—kalau kau lupa, Naruto."

Naruto mengacak rambut pirangnya dengan frustrasi, membuatnya tampak semakin berantakan. Ia merasa bisa stres berat menghadapi dua kawannya yang dirasanya agak berubah perlakuan terhadapnya semenjak Kiba meninggalkan tim. Entah hanya perasaannya saja atau benar adanya. Yang jelas ia tidak boleh membiarkan kondisi semacam ini berlangsung lebih lama. Ditambah pekerjaannya yang keteteran, bahkan beberapa nyaris terbengkalai. Bisa-bisa ia kehilangan klien jika terus seperti ini.

.

.

.

Setelah berhasil membujuk Tamaki untuk kembali bekerja bersamanya dan meyakinkan sang gadis bahwa suaminya tidak murka lagi, Hinata sudah bisa memulai pengerjaan busana kompetisinya. Dipikir lagi, justru Tamaki yang bekerja lebih banyak ketimbang dirinya, dari berbelanja di Nippori sampai menjahit sebagian besar rancangannya.

Ia bersyukur jahitan Tamaki dapat dibilang rapi untuk ukuran pekerjaan yang diburu waktu. Walaupun ada rasa kurang puas karena tidak dapat menjahit semua karyanya sendiri, tetapi ia juga tidak bisa mengabaikan kehamilannya yang dinilai berisiko tinggi.

Dengan adanya Tamaki di unitnya, ia juga merasa tidak kesepian lagi selama Naruto bekerja. Ada yang bisa diajaknya mengobrol selain bakal bayi dalam kandungannya.

Tamaki pun tidak enggan meringankan pekerjaannya yang lain seperti memasak. Kalau untuk bersih-bersih rumah dan urusan laundry, Naruto sudah menyerahkannya kepada housekeeper apartemen. Jadi menjelang semifinal ia bisa lebih menyibukkan diri di workshop.

"Tamaki-chan, kau suka kucing, kan?"

"Iya, Hinata-san. Aku sudah pernah cerita ya kalau aku piara kucing di rumah?"

"Sudah."

Hinata keluar dari kamarnya dengan membawa jaket hoodie Doraemon yang cute, kemudian diangsurkannya kepada Tamaki yang tengah menjaga supnya yang hampir mendidih. Ia sudah meminta Naruto yang katanya ingin memperbaiki hubungan untuk pulang lebih awal agar bisa bertemu Tamaki. Jadi ia memasak lebih banyak malam ini.

"Untukku?" Tamaki memastikan.

Hinata mengangguk lucu, "Ini baru, tapi aku merasa tidak percaya diri memakainya, terlalu manis. Kalau kau yang pakai pasti cocok, Tamaki-chan."

"Menurutku Hinata-san masih cocok memakai yang imut-imut."

Hinata bersikeras dengan pendiriannya, "Ayo, cobalah."

Tamaki senang-senang saja asalkan Hinata ikhlas memberikannya. Dicobanya jaket yang lembut dan tebal itu sambil bercermin di dinding kaca yang mudah ia temui sepanjang ruang tengah unit keluarga Uzumaki. Tampak samar-samar bayangannya yang terlihat lebih mungil setelah berbalut jaket bermotif kepala Doraemon yang panjangnya setengah paha itu.

"Kawaii dattebasa." Hinata sulit memendam hasratnya untuk mencubiti pipi Tamaki.

"Terima kasih, Hinata-san."

Tamaki menyampaikan terima kasihnya dengan sedikit susah karena Hinata masih saja meluapkan gemas pada pipinya. Ia harus rela menjadi korban akibat mengidamnya istri dari Uzumaki Naruto ini.

"Sepertinya asyik sekali sampai tidak mendengar ada yang datang."

"Ah, Naruto-kun—"

Hinata menghampiri Naruto dan menggantungkan mantel untuk sang suami. Berbeda dengannya yang saling melempar senyum, Tamaki tampak mengkerut di tempatnya berdiri. Tentu masih takut.

"Tamaki-chan menggemaskan sekali. Sepertinya Boruto menyukainya," gurau Hinata.

"Tapi apa maksudnya dattebasa itu?"

"Entahlah, aku hanya terbawa Anmaa dan kebiasaanmu juga Naruto-kun, biasanya kalian suka tanpa sadar mengucapkan dattebane atau dattebayo."

"Masa?" Naruto mengernyit.

"Nah kan tidak sadar." Hinata terkikik geli, "Yang mendengar kalian yang lebih tahu."

Satu ibu jari dan telunjuk Naruto menjepit pipi Hinata yang gembil, berseri, dan terlihat sangat bernyawa itu, lalu mencubitnya gemas. Sebelum ia keasyikan dengan Hinata, ia mengalihkan perhatiannya kepada gadis yang tergeming kaku sedari ia menunjukkan kepulangannya. Ia merasa telah menjadi seorang pria yang kejam.

"Tamaki-chan, kau belum memaafkanku?"

Tamaki buru-buru menggelengkan kepalanya, lalu tergesa mendekati Naruto, "Ano—saya harus meluruskan sesuatu, Uzumaki-san—Kiba-san bukan orang jahat, meski saya jarang bertemu dengannya tapi saya yakin dia adalah orang yang jujur. Selama ini dia selalu memperlakukan saya dengan baik dan sopan. Jadi dia tidak pernah meminta saya untuk melakukan kejahatan, dan saya juga tidak pernah memiliki niat itu."

"Aku tahu, maafkan aku. Aku sangat menyesal sudah bertindak gegabah."

Hinata ikut senang melihat keduanya sudah berbaikan dan saling melempar senyum ramah.

"Sama-sama, Uzumaki-san." Tamaki membalas bungkukan Naruto.

Daripada membela dirinya sendiri, Tamaki malah membersihkan nama Kiba melebihi namanya sendiri. Kiba beruntung mendapatkan gadis ini. Naruto hanya bisa mendoakan segala kebaikan untuk sahabatnya yang masih betah membujang itu.

.

.

.

"Yo, cherry boy!"

Kiba gelagapan lantaran seruan itu mengundang tawa kecil di sekitarnya, di antaranya beberapa siswi remaja yang pergi sekolah lewat depan rumahnya. Telapak tangan menutup tawa geli mereka, dengan lirikan mata yang sesekali mengarah padanya.

Selang kuning di tangannya menggantung pasrah. Dengan percuma mengucurkan air jernih yang sebelumnya ia gunakan untuk memandikan Akamaru dan Haimaru, anjing putihnya yang besar dan si tampan Siberian Husky milik kakak perempuannya.

Sejenak ia melotot galak pada Naruto yang tersenyum lebar dengan sok innocent di persimpangan gang dekat rumahnya. Ia kembali menyirami tubuh gempal Akamaru dan Haimaru dengan kucuran kecil sampai bersih sebelum menghentikan aliran selang.

"Kenapa tidak sekalian kau buat baliho yang bertuliskan 'Inuzuka Kiba, 28 tahun, masih perjaka tingting' heh, Narutomaki?" desisnya tajam kala Naruto sudah berdiri di sisinya.

"Jadi boleh? Kalau begitu, mungkin di sini." Naruto menanggapinya dengan candaan lainnya, dua ibu jari dan telunjuknya memperagakan gaya memotret yang ia arahkan pada spot lengang di kedua tepi gerbang rumah Kiba.

Kurang mendapat respons dari Kiba, Naruto mencoba menyentuh anjing besar di sekitar kakinya, seperti tengah menyapanya, "Jadi ini yang kaukerjakan selama menganggur."

"Aku menunggu panggilan wawancara."

Naruto tidak percaya dengan pernyataan dingin Kiba, "Kalau kau memang melamar ke media, aku yakin kau akan langsung diterima. Kemampuanmu tidak diragukan lagi."

"Berhenti bersikap palsu padaku." Kiba menyahut ketus, sembari menghanduki si aktif Akamaru lebih dahulu dibanding Haimaru yang cool, "Sebenarnya mau apa kau kemari, hah? Kalau kau bermaksud balas dendam, berarti aku harus mengamankan ibuku dulu."

"Kau masih saja cemburu melihatku dekat dengan ibumu—" Kiba cepat menambahkan sebelum disela oleh Naruto, "Kalau ibuku melihatmu datang pasti juga lupa dengan anaknya sendiri. Aku sedang ingin makan daging, jadi sebaiknya kau pulang sebelum ibuku mengganti semua menu hari ini dengan ramen."

"Aku juga sedang ingin makan daging." Naruto mengambil handuk lainnya untuk mengeringkan Haimaru yang tampak patuh menunggu.

"Ke mana perginya sloganmu yang bunyinya 'no ramen, no life' itu?"

Naruto terkekeh kegelian saat Haimaru menjilati wajahnya, yang kemudian ia balas dengan gosokan sayang di bagian perut, "Sejak Hinata hamil, entah kenapa aku jadi pecinta daging, kadarnya naik berlipat dari sebelumnya."

"Dasar pamer."

"Kalau kau sudah ngebet, cepat nikahi kekasihmu itu. Dia gadis yang tulus. Apalagi yang kautunggu."

"Memangnya siapa yang bilang padamu kalau Tamaki pacarku?" Kiba menghela napas panjang, "Aku dan Tamaki belum menjalin komitmen apapun, ibuku belum memberi restu. Kalau sudah, aku tidak akan pikir panjang untuk mengenalkannya pada kalian."

Secara tiba-tiba Naruto berlutut dan melakukan dogeza, tidak memedulikan keadaan tanah yang becek, bersujud dengan sungguh-sungguh kepada Kiba yang menunjukkan seberapa besar ia menginginkan sebuah pengampunan. Ia telah sembarangan menuduh Kiba, salah satu kawan terbaiknya sejak ia meninggalkan Okinawa untuk menempuh pendidikan di Tokyo. Bahkan masih setia hingga lebih dari sepuluh tahun.

Ia akan sangat menyesal jika tidak dapat mengembalikan hubungan baik seperti sedia kala. Andaikata ia gagal berbaikan dengan Kiba, kemungkinan ia juga dapat kehilangan teman karibnya yang lain. Ini bukan percekcokan pertamanya dengan Kiba atau teman-temannya, namun ia pikir luka fisik yang dibuatnya tidak sebanding dengan tuduhannya yang kurang berdasar. Lantaran menuruti emosi ia jadi mencurigai siapapun.

"Apa yang kaulakukan, Baka? Bangun! Kau membuatku terlihat seperti ayah tiri yang kejam." Kiba mendesis karena setelah pandangan geli kini ia mendapati bisikan sinis.

Cukup lama untuk membuat Naruto kembali menegakkan badannya. Ia belum terlalu percaya diri, masih sangsi jika kesalahannya telah dimaafkan. Begitu ia bangkit dari sujudnya, ia masih berdiri dengan kedua lututnya, berusaha memandang mata Kiba.

"Kembalilah," mohonnya seraya meraih tangan Kiba untuk digenggam, "Kita tidak lengkap tanpamu, kau menyempurnakan ikatan kita."

"Sepertinya mereka pacaran." Bisikan yang mencengangkan dua pria di sana berasal dari gerombolan remaja sekolahan yang baru lewat.

"Jijik, sialan." Kiba menghempaskan tangannya untuk melepaskan genggaman Naruto.

"Gila, merinding seketika."

Naruto baru sadar akan apa yang dilakukannya. Ia hanya mengandalkan spontanitas dari dorongan hatinya untuk membujuk Kiba, demi sahabatnya yang lain juga seperti Sai dan Shikamaru. Kata-kata yang sudah disiapkannya malah tidak diingatnya sama sekali. Handuk basah yang diremasnya di satu tangan berikutnya ia lontarkan ke muka Kiba.

"Kau mulai cari gara-gara lagi."

Naruto hanya cengengesan mendengar geraman Kiba. Mengikuti Kiba, ia dipersilakan masuk ke rumah setelah mencuci noda berlumpur dari tangan dan kakinya. Suasana di kediaman berlantai dua itu terasa sepi karena hanya ada sang ibu. Kiba tinggal bertiga saja dengan ibunya, serta kakak perempuannya yang masih bekerja di jam-jam ini. Selama ini Kiba senang menginap di studio karena kurang nyaman dengan kesunyian.

"Kau tidak bilang kalau Naruto akan datang, Kiba. Kalau tahu, ibu pasti masak ramen spesial bertabur daging dan narutomaki."

"Tuh, kan." Belum sampai satu jam Kiba mengatakannya, dan sekarang telah terbukti.

"Tidak perlu repot-repot, Obasan. Hidangan daging ini sudah lebih dari cukup." Untuk menghormati tuan rumah, Naruto turut makan bersama Kiba dan Tsume kendati ia sudah menyantap sarapan buatan Hinata.

"Naruto, jika ingat dia teman baikku juga rasanya aku tidak ingin mengatakannya, lebih baik ku simpan sendiri. Tapi aku lebih tidak ingin dia mengambil langkah yang salah."

Tsume sedang membuat air jeruk hangat di dapur ketika Kiba mulai bersuara kembali.

Naruto menelan isi mulutnya sebelum menyahut, "Siapa yang kaubicarakan?"

"Shion."

Ekspresi Naruto mengeras. Kendati demikian ia masih berharap dugaannya meleset. Semoga Kiba tidak mengatakan sangkaan buruk yang sempat melintas di benaknya.

"Karena kau bilang musim panas lalu, aku jadi teringat waktu ada pemotretan busana festival di studio bersama Shion dan Saara. Belakangan aku kepikiran ini terus—yang ku ingat siang itu Shion izin keluar sebentar, meninggalkanku dan Saara berdua. Aku tidak tahu apa Shion berhubungan dengan kejadian yang menimpa istrimu, tapi untuk naik ke rooftop bisa lewat tangga luar, kan."

Naruto meremas sumpit kayu di tangannya. Tampak jelas bahwa Kiba juga tidak ingin untuk percaya, sama seperti dirinya saat ini. Tetapi ia juga tidak bisa tinggal diam.

.

.

.

Di hari yang sangat mendebarkan baginya, Hinata sebisa mungkin menguatkan mental dan menenangkan diri agar segala sesuatunya berjalan lancar. Dengan dibantu Naruto dan Tamaki, ia membawa masuk busana rancangannya ke gedung FRAGMENTS.

Sebelum dipajang serempak di galeri FRAGMENTS untuk dipamerkan kepada publik, ia harus lebih dahulu mempresentasikan konsep desain busananya di hadapan dewan juri. Inilah saat-saat yang menyebabkan jantungnya berdebar-debar dengan hebatnya.

"Saya terinspirasi dari keceriaan bunga krisan, si cantik yang begitu tangguh—yang mampu untuk tumbuh sampai musim dingin, di saat bunga yang lain kering dan layu."

Melihat wajah-wajah para pelaku mode yang berjajar nyaris melingkar di depannya membuatnya gugup. Namun di saat yang sama ia sangat ingin berada di antara mereka, bergabung bersama tanpa kesenjangan, tapi pengecualian untuk satu orang di antaranya.

"Tapi saya tidak akan berani bermain warna tanpa dukungan dari orang-orang di sekitar saya, terutama suami—yang membagi marga Uzumaki kepada saya sejak 5 tahun lalu."

Toneri tampak mengulum senyum atau justru menahan tawa ketika ia baru selesai mengucapkannya. Meski demikian tatapan jail Toneri sempat teralih darinya. Entah apa maksudnya. Pria itu memang mengesalkan. Nyaris saja konsentrasinya dibuat buyar.

"Jika Anda masuk ke babak berikutnya dan diberikan kebebasan untuk memilih sendiri model yang akan memperagakan busana rancangan Anda, sebutkan satu peragawan atau peragawati yang menurut Anda sesuai untuk menjadi representasi dari karya teragung Anda."

Pertanyaan itu datang dari sang ketua juri, Orochimaru, yang berada tepat beberapa langkah di depannya. Jika disebut karya paling agung berarti busana yang menjadi andalannya, yang baginya sendiri juga tampak begitu menarik. Mengingat arti kecantikan dan kemurnian yang terkandung dalam krisan, ditambah kandungan makna 'kau adalah teman yang luar biasa' yang terbayang olehnya adalah Tamaki.

"Maaf, apa harus seorang model profesional?"

"Ya." Orochimaru membalas dengan mantap.

"Kalau dilihat dari sisi keceriaannya, saya memilih Shion—Hyuuga Shion."

Seketika Toneri terlihat kembali serius, malahan seolah tengah terjebak di dunianya sendiri. Tempat duduknya yang berada di sisi Orochimaru membuatnya mau tak mau melihatnya. Bukan seperti Toneri mantan kekasihnya yang senantiasa tampil profesional. Ekspresi kaku yang tidak kerap ia dapati dari pria penggoda itu, yang di matanya tak pernah serius kepada wanita, hingga pernah memperoleh julukan womanizer darinya.

"Tapi saya jadi penasaran—siapa yang akan Anda pilih jika bukan seorang model?"

Yang menyambung pertanyaan untuknya adalah seorang pria berambut merah dengan potongan sedikit acak-acakan, yang ia ketahui sebagai konsultan mode FRAGMENTS. Ia seperti pernah melihatnya sebelum bertemu di kompetisi ini, tetapi ia lupa di mana tepatnya. Barangkali di suatu majalah mode?

Mengabaikan pertanyaan pribadinya yang menjejali benaknya, tanpa ragu ia menyebut nama rekan setimnya dengan bibir tersenyum.

Keluar dari ruang presentasi, ia bagaikan menemukan tanah lapang yang meniupkan angin segar. Ia menunjukkan ekspresi kelegaan terdalamnya sepanjang langkah cepatnya menghambur ke pelukan Naruto. Tamaki di sebelahnya mengacungkan dua ibu jari sebagai penghargaan atas perjuangannya di dalam sana. Ia tersenyum manis pada gadis yang seperti adiknya sendiri itu, tanpa Tamaki ia tidak bisa hadir di sini. Apabila mengerjakan semuanya seorang diri, ia tidak yakin akan rampung tepat waktu.

"Kita ke galeri sekarang?"

Hinata mengangguk selaku tanggapan atas pertanyaan Naruto, "Kita berjaga di stan saja selagi menunggu pengumuman."

Hinata merangkul si mungil Tamaki dengan tangannya yang tidak menggandeng lengan Naruto. Ketiganya melangkah dengan kaki ringan ke gedung lain yang masih berada dalam satu kawasan FRAGMENTS. Tim Hinata memang belum besar seperti tim desainer finalis lain, namun ia merasa beruntung didampingi oleh mereka yang setia.

Setibanya di galeri, keadaan sudah ramai. Para pengunjung menciptakan suara riuh rendah yang menimpali alunan musik di dalam galeri. Belum ada waktu untuk melihat-lihat karya finalis lain, Hinata dan Tamaki segera bersiaga di stan mereka seperti yang dilakukan oleh kebanyakan tim pesaing, menjelaskan konsep busananya dengan ramah jika ada pengunjung yang bertanya. Sementara Naruto minta diri untuk pergi ke suatu tempat setelah menerima sebuah pesan singkat.

.

.

.

"Selebriti selalu sibuk, ya. Susah sekali menemuimu, Shion."

Langkah Naruto begitu tenang saat ia mengikis jarak dengan Shion yang menunggunya di selasar kediaman Hyuuga. Wanita bermata violet itu mengembangkan senyumnya, senang bertemu sahabat sekaligus iparnya. Terakhir berjumpa sepertinya saat ayahnya dirawat di rumah sakit karena kolaps, dan itu bukan dalam suasana yang menyenangkan.

"Bagaimana rasanya menjadi calon ayah?" Shion bertanya riang.

"Bagaimana ya—terus terang sensasinya belum terlalu terasa." Naruto mengambil tempat di sisi Shion, menduduki bangku di bawah pohon aprikot yang paling teduh.

"Dasar tidak peka."

"Memang apa yang kau harapkan, Shion? Melihatku menye-menye?"

Shion tertawa pelan, "Aku mengatai kaummu secara umum, makhluk apatis."

Shion terbayang satu wajah ketika mengatakan tuduhan terakhirnya.

"Hm, mungkin karena bukan calon ayah yang bisa merasakan kehadirannya secara langsung—sampai dia lahir nanti."

"Benar juga. Bagaimana ya rasanya."

"Apa suamimu butuh bantuan?" Naruto tergelak, apalagi ia melihat bagaimana Shion meletakkan telapak tangan di perut datarnya dengan muka pengin.

"Heh, aku yang menundanya." Shion meninju lengan Naruto dengan gereget.

Naruto mulai serius ketika tawa keduanya mereda. Ia tidak lupa tujuannya menemui Shion, tentu bukan sekadar kunjungan keluarga atau pertemuan antar sahabat, sampai ia memaksa Shion yang demikian sibuk meluangkan waktu untuknya.

"Kau mendendam pada Hinata? Atau mungkin masih menyimpan rasa tidak suka?"

Senyum Shion memudar mendengarnya, "Tidak lagi."

"Aa … jadi untuk apa pot yang kau jatuhkan?"

Shion terbeliak resah. Saat itu juga tangannya saling meremas gelisah. Ia tidak lagi berani untuk mengalihkan pandangan ke samping, ketika ia merasakan Naruto tengah menatapnya tajam.

"Aku iri padanya." Shion akhirnya mampu mengeluarkan suaranya yang terdengar bergetar, "Aku tidak rela Hinata punya anak dari Sasuke—tapi itu sebelum aku tahu yang sebenarnya."

"Ah, cemburu buta, ya." Naruto menanggapinya dengan terlampau santai. Ia justru menikmati bagaimana Shion kehilangan sikap tenangnya.

"Aku membenci anak itu, dialah sasaran yang sesungguhnya. Tapi aku tidak benar-benar bermaksud melukainya, aku hanya ingin menakutinya."

"Caramu tidak lucu, Shion. Lagipula Tokuma tidak bersalah."

Naruto tidak sekalipun mengira kalau Shion akan berlutut padanya setelah itu, hingga merelakan lututnya yang mulus tanpa cela tergores permukaan lantai selasar yang kasar.

"Aku mohon jangan rusak lagi hubungan kami dengan kau melaporkan ini kepada Hinata, Hanabi, atau anggota keluargaku yang lain. Aku sudah sangat menyesal—sungguh."

Suara Shion mulai parau. Tampak sekali ia tengah menahan tangisnya. Masalah lainnya pun turut menjejali pikirannya, seakan-akan menambah beban pada pelupuk matanya.

"Aku sudah mendapat balasan untuk kejahatanku—Toneri menolakku. Itu jauh lebih menyakitkan dari kehilangan Sasuke, dan aku tidak ingin ditambah dengan kehilangan keluarga lagi."

Naruto tentu tidak ingin menjadi pribadi yang berpikiran picik dan berjiwa kerdil dengan tidak memaafkan orang lain. Ia pun bukan seseorang yang hanya bisa melihat kesalahan orang lain tanpa koreksi terhadap dirinya sendiri.

Diraihnya lengan Shion untuk dibantunya berdiri. Bagaimanapun Shion juga teman baiknya, yang dikenalnya lebih dari 10 tahun. Selama Shion menyesal dan berkeinginan berubah, tidak ada salahnya untuk memberikan kesempatan.

"Aku bisa memaafkanmu karena Hinata tidak mempermasalahkannya lagi. Tapi aku tetap kecewa padamu."

"Maafkan aku, karena telah merusak kepercayaanmu padaku."

"Bukan aku yang rugi, kan."

Kali ini Shion tidak berusaha mencegah isaknya. Tak lama air matanya jatuh bercucuran membasahi wajahnya.

"Lalu untuk buket yang kau taburi halusinogen?"

"Buket apa?"

Naruto tercenung. Jika Shion hanya menjatuhkan pot dari rooftop Gallery 1010, lantas siapa pelaku lainnya?

.

.

.

Tidak terasa sudah berjam-jam Hinata berdiri, terlalu asyik dengan bahasan mengenai bidang yang digemarinya. Ia butuh duduk untuk mengistirahatkan kakinya, tetapi belum juga terwujud, apalagi rombongan juri tengah berkeliling untuk melihat secara langsung.

Jika permohonannya dapat dikabulkan saat ini juga, ia sangat berharap Toneri tidak mendatangi stannya. Bulu tengkuknya masih meremang jika teringat perbuatan iparnya itu di dalam lift pada hari pertamanya mendatangi FRAGMENTS sebagai calon peserta kompetisi.

"Rei-sensei kah?"

Akhirnya Hinata mengingat siapa sosok pria berambut merah itu setelah melihat lebih dekat ketika sang pria mengamati busananya. Bagaimana mungkin salah seorang pengajarnya di akademi mode yang 8 sampai 9 tahunan lalu tampil dengan rambut rapi yang terkesan klimis, kini malah tampak jauh lebih muda dengan style acak-acakannya.

"Kau ingat ternyata."

Hinata membungkuk dalam sebelum sang pria mendatangi stan lain bersama Toneri. Jalan baginya masih panjang untuk menjuarai kompetisi. Para pesaingnya tidak boleh diremehkan, bahkan banyak yang usianya jauh lebih muda darinya.

Selain hadiah berupa uang dan materi, FRAGMENTS menjanjikan penghargaan berupa kesempatan mengikuti pameran di gelaran Fashion Week sepanjang tahun 2017, dari awal Februari di New York, berlanjut ke London, Milan, dan Paris.

Belum lagi jaminan untuk mengenyam studi di akademi mode paling bergengsi di Jepang yakni Bunka Fashion College yang berpusat di Shinjuku, Tokyo. Untuk Hinata yang merupakan lulusannya, ia tetap dapat melanjutkan pendidikannya sesuai hadiah yang telah dijanjikan, andaikata ia mampu meraih juara tiga besar.

Sang juara juga akan berpartisipasi dalam fashion show di Japan Fashion Week yang dihelat setiap 6 bulan sekali, yang terbagi menjadi dua musim; Spring/Summer dan Autumn/Winter. Pun masih ada kesempatan untuk menjadi bagian dari FRAGMENTS.

"Dari 30 semifinalis yang berhasil kami jaring, hanya ada 5 finalis yang memenuhi harapan kami untuk dapat melaju ke babak final, yaitu—"

Hinata dan Tamaki harap-harap cemas, berdiri gugup tak jauh dari stan busana mereka. Seluruh perhatian pengunjung turut tertuju kepada pria berambut panjang di podium yang diketahui bernama Orochimaru, termasuk dalam jajaran pimpinan FRAGMENTS.

"Deidara, 28 tahun, dari kota seni Kyoto dengan seribu kuilnya—menerapkan paduan konsep semarak kembang api tahun baru namun tidak meninggalkan aroma tradisional yang sangat kental,"

Sorak sorai terjadi di stan yang diketuai oleh seorang lelaki cantik berambut pirang panjang dengan ikatan kuncir kuda. Melihat dukungan dan besarnya tim pria itu, cukup untuk membuat Hinata merasa ciut. Ia hanya berteman Tamaki setelah Naruto pamit.

"Sasori, 31 tahun, dari Sendai yang berjuluk kota pepohonan atau tempat nan hijau—mengusung perpaduan konsep mozaik penuh warna serta bermain proporsi dengan potongan asimetris,"

Kali ini Hinata sedikit terbeliak menemukan surai merah muda di antara gerombolan di stan pria berambut merah itu. Pantas saja ia seperti pernah melihatnya. Ternyata memang pria yang ia jumpai di Nippori yang saat itu digandeng oleh Sakura. Ia kian terkesiap melihat kehadiran seorang gadis berambut gelap yang memperkenalkan diri sebagai Aburame Mirai di pertunjukan balet A Midsummer Night's Dream, berada di antara tim Sasori bersama Sakura. Mungkin karena mereka berdua rekan di kelompok balet yang sama? Namun yang lebih mengganggu pikirannya, setiap melihat gadis itu ia selalu teringat Sarutobi Mirai.

"Sora, 21 tahun, dari Sapporo—finalis termuda kita yang dengan begitu mengagumkan memadukan konsep bangau mahkota merah, burung musim dingin Hokkaido yang tergolong spesies terlangka di dunia,"

Hinata berdecak kagum. Pemuda berambut abu-abu sebahu itu hanya tersenyum tipis menanggapi pujian dan dukungan para pendampingnya setelah namanya diumumkan.

"Uchiha Izumi, 23 tahun, dari kota kuliner—mengusung konsep pakaian musim dingin kontemporer yang dipadukan dengan keindahan alam laut—akuarium terbaik Jepang yang ada di Osaka adalah inspirasinya,"

Uchiha? Hinata nyaris ternganga ketika ia menemukan pria berkuncir di tengah tim perempuan yang disebut-sebut bernama Izumi itu. Ia belum lupa kalau sang pria adalah Itachi, kakak Sasuke. Jika dari Osaka, barangkali mereka memang masih berkerabat.

"—dan terakhir—dengan konsep busana hangat yang menerjemahkan bahasa kiku yang berwarna-warni, bunga nasional kita yang mampu bertahan hingga musim dingin—Uzumaki Hinata, 26 tahun, dari Tokyo."

Hinata terperangah. Ia yang nyaris menyerah tidak menyangka namanya akan turut disebut. Bahkan ia masih tampak linglung saat Tamaki mengguncang pelan tubuhnya sembari memeluknya disertai loncatan kecil. Beberapa pengunjung stannya juga ikut memekik gembira, terbawa dalam euforia.

Di saat yang sama, ia menjadi pusat perhatian para penghuni galeri. Pun dari beberapa pasang mata yang merasa tidak asing dengan namanya. Dari Sakura yang tak lama kemudian melambai riang dari kejauhan, Mirai yang bermuka dingin dengan tatapan datar ke arahnya, Itachi yang kelihatannya baru menyadari kehadirannya. Sisanya adalah orang-orang yang tidak dikenalnya.

Merasa dipandangi oleh seseorang, ia mengalihkan atensinya ke sisi kanan, menemukan pemuda yang ia ketahui bernama Sora masih di stan yang cukup jauh dari tempatnya. Ia sempat bertemu pandang dengan mata Sora, tetapi segera diakhiri oleh sang pemuda.

"Hinata-san, kita pulangnya menunggu Uzumaki-san atau naik kendaraan umum saja?"

"Tadi dia bilang akan menjemput kita, kan."

"Inilah susahnya kalau kita sama-sama tidak memiliki lisensi mengemudi." Tamaki mengikik kecil.

"Aku sudah mencoba sampai 5 kali tapi belum lulus juga. Akhirnya aku kehilangan minat menyetir."

"Kalau aku hanya bisa mengendarai sepeda dan motor, Hinata-san." Tamaki meringis, "Tapi malas sekali bayar biaya parkir, mahal. Makanya lebih suka naik bus atau kereta."

"Hm, kita sama Tamaki-chan. Tapi Naruto belum memberiku izin untuk menggunakan transportasi umum lagi, kecuali taksi."

Tamaki mengulum senyum siput. Bahunya menyenggol lengan Hinata dengan maksud menggoda. Mengerti yang dimaksud oleh Tamaki, Hinata membalasnya dengan senyum kikuk. Naruto yang protektif selalu mampu membuat hatinya deg-degan, bahkan hanya dengan mengingatnya ia merasa grogi.

"Ya sudah kita bersabar saja, Hinata-san." Tamaki kembali menyamankan duduknya.

Hinata mengangguk sebagai jawaban. Teras galeri di mana keduanya duduk-duduk untuk menunggu Naruto sudah mulai sepi, sama dengan keadaan di dalam gedung. Sebagian besar finalis sudah pulang selepas pengumuman. Tinggal para pengunjung yang masih penasaran dengan buah karya dari para calon tim desainer FRAGMENTS.

"Toneri…."

Hinata menggumam tanpa suara tatkala pandangannya bertemu dengan sang pria yang tengah menuruni tangga di teras gedung galeri. Cepat-cepat ia mengalihkan pandangan.

"Halo, Cantik. Senang berjumpa denganmu lagi."

Keberuntungan belum berpihak pada Hinata karena manusia menyebalkan yang paling ingin ia hindari justru menghampirinya.

"Aku membawakan titipan untukmu." Toneri meletakkan buket lili putih ke pangkuan Hinata, tak ketinggalan senyum misteriusnya, "Dari Rei-sensei-mu."

Seakan Tamaki tidak ada, Toneri merendahkan tubuhnya untuk menjangkau telinga Hinata, "Aku perlu meralat ucapanku tempo hari. Kau belum benar-benar menjadi pemenang dari perjudian kita, makanya aku tidak juga kembali padamu—karena dialah pria yang seharusnya kaupikat waktu itu."

.

.

.

.

.


NARUTO milik Masashi Kishimoto, saya tidak mengambil keuntungan apapun dalam penulisan fanfiksi ini | AU | OoC?

ingat konsep awal; tidak ada yang benar-benar baik atau benar-benar buruk
toneri harusnya buchou, sudah diralat :3
untuk judul tiap chapter, saya rada ngawur ya *kayaknya isinya juga* harap dimaklumi jika ada salah-salah

beberapa pembaca nebaknya benar :D

memang oke kalo A bersatu sama B xoxo, untuk goldar himawari, mikirnya dia cocok AB karna dia bisa kalem sekaligus garang *lah*
jangan panggil sensei, gak pantes nih xD
penggemar apanya, mari berteman ;)

untuk yang baca For U, From U juga, side story dari fic ini, fic itu memang tidak bertema baik *termasuk fic ini sih* makanya dari awal publish sudah cantumin 'segala keburukan tidak untuk diikuti'
semoga ke depannya saya bisa menulis dengan lebih bijak ^/_\^

[15052016] terima kasih banyak, selalu terima kasih dan sampai jumpa -/\-