Disclaim: Highschool DxD bukan punya Saya

I Want to be Maou: Rise a Saint Templar baru punya Saya

Author:Tessar Wahyudi

Rating: T

Banyak Typo dan kadang ngawur tapi semoga bisa menghibur.

Chapter 10 hal hal yang selalu dirisaukan dari seorang kakak, Gubernur malaikat jatuh, dan Ayah.

Ikki pov

Aku berlari cepat untuk menyusul Lis di belakangku mengikuti Sona Kaichou dan Tsubaki senpai. Lalu bayangan ketika aku melihat masa lalu Lis muncul, Dia diperlakukan dengan kasar diberi makanan sisa dipukuli bila tidak menurut disurih bekerja keras oleh orang orang yang menangkapnya.

Tanganku terkepal keras serta bergetar ketika mengingatnya dan hatiku tersas teriris, Lis apa pun yang akan terjadi kau akan selalu menjadi adikku tak perduli jika kau memang bukan sepupu kandungku.

Lalu di depan nampak temanku yaitu Saji dan yang lainnya berhenti sambil mengatur nafas dan melihat sekitar. Ketika aku sudah dekat spontan aku bertanya.

"Lis! Lis!Lis!," teriak Saji, Reya, dan anggota Osis lainnya.

"Dimana dia?" Tanyaku dengan wajah mengencang dan tangan terkepal, dibelakangku ada Sona dan Tsubaki. Semua menggelengkan kepala.

"Dia berlari dengan cepat dan kami kehilangan jejak," jawab Saji mewakili.

Aku menggertakan gigi mendapati jawaban itu yang kuterima. Sial kemana kau pergi Lis sambil mengingat, tempat apa yang biasa dikunjungi oleh Lis.

"Lis! Lis! Lis!," teriakku dan lainnya.

Lalu Sona kaichou berbicara sambil meremas tangan yang disedekapkan didepan dada.

"Semua ini salahku karena keegoisanku yang selalu merasa dia merepotkan Ikki, malah membuat Lis pergi aku-"

"Jangan salahkan dirimu Kaichou mungkin aku kurang paham apa yang sebenarnya terjadi diantara kalian. Tapi satu hal kau juga jangan pernah meragukan kepercayaan kami padamu, aku yakin Lis melakukan semua itu bukan disengaja dia hanya kesepian," responku menanggapi keluhan Kaichou.

'(Yo master! gunakan saja Sage Mode dan fokuskan ke cakra yang kau berikan pada Lis itu pasti akan berhasil,)' ucap Gamaken dari dalam pikiranku.

'Kenapa lama sekali memberitahunya Gamaken,' jawabku kesal.

'Apa kau bertanya padaku sebelumnya.' Sanggah Gamaken.

'Tidak! Tapi setidaknya kalau kau punya solusi bilang dari awal dong. Sudahlah terima kasih idenya,' balasku dan memutus Link dengan Gamaken.

Kemudian aku langsung berfokus mengumpulkan cakra alam dan masuk ke dalam [Sage mode].

[Sage Mode]!"

Saat aku sedang fokus menemukan titik dimana Lis berada, sebuah cakra seperti benang berwarna biru terlihat menunjuk ke sebuah hutan. Lalu samar-samar aku melihat Lis sedang bertarung dengan 5 goblin raksasa, sekarang dia sedang hendak diserang oleh salah satu dari mereka.

"Semuanya cepat pegangan denganku!," ucapku tanpa menghilangkan fokus.

Mereka saling pandang satu sama lain lalu mengangguk, dan menjawab bersamaan sambil memegang pundakku.

"Ha'i!," jawab mereka bersamaan

'Lis bertahanlah,' batinku

Teleportasi membuatku cepat sampai di lokasi tempat Lis berada, saat lengan goblin raksasa itu mendekat langsung saja aku menghentakan lengan menuju dadanya.

"[Senpou Kawazu Tataki]"

Dum wus blar

Tubuh dari goblin itu terhempas jauh ke belakang dan berguling di tanah lalu goblin itu meregang nyawa. Pukulanku mungkin telah membuat organ dalamnya rusak yang membuatnya mati dengan cepat, pokoknya aku bersyukur tidak terjadi apa-apa dengan Lis.

"Kau tidak apa apa Lis?"

Tanyaku yang khawatir kepadanya dengan pandangan masih melihat ke depan, mengamati 4 goblin raksasa yang mengeram setelah melihat satu teman mereka meregang nyawa.

"Hm," jawabnya.

Aku senang mendengar jawaban darinya reflek menyunggingkan bibir, mataku mencuat ketika melihat 4 goblin mulai bereaksi dan aku membalas.

"Yokata! Tidak usah khawatir, Onichan akan buat mereka membayar, karena telah menyakitimu. Ayo semua!," ucapku.

"Ha'i!," jawab mereka serempak.

Fight scene

Ikki dan yang lainnya bersiap menyerang. Semua menyiapkan senjata masing-masing, lalu mereka maju beberapa langkah menghampiri goblisn raksasa itu. Disisi lain Goblin raksasa itu juga mengankat gada tinggi-tinggi dengan bersorak besar.

"Wooaarrrggghhh!"

Ikki dan saji saling memandang satu sama lain, lalu berlari menghampiri satu goblin raksasa.

"Kami mengatasi satu sisanya kalian, ingat satu orang urus satu goblin!" teriak Ikki.

Mereka semua mengangguk atas saran Ikki.

"Sepertinya aku tidak masalah berduet denganmu penyihir angin," ucap Momo Hanakai kepada sesama bishop yang tak lain adalah Reya.

"Tentu saja! penyihir campuran." Jawab Reya menanggapi tawaran Momo Hanakai.

Mereka berdua mulai mengeluarkan rune sihir masing-masing sedangkan, Bennia dan Tomoe juga saling pandang satu sama lain. Meskipun mereka suka berdebat di waktu luang tapi jika dalam pertempuran, kedua orang ini bahkan tak perlu bicara untuk berkomunikasi.

Keduanya mengangguk bersamaan dan mengeluarkan senjta masing masing, Tomoe mengeluarkan dual bladenya dan Bennia mengeluarkan Katana kebanggannya. Lalu mereka menerjang satu goblin raksasa.

"Kita juga tidak boleh kalah Yura-chan!," Ujar Nimura dengan panah yang usdah di tangannya.

"Hah! Lis chan kami akan memberi mereka pelajaran karena telah menghajarmu," jawab Yura dengan aura hijau yang menyelimuti kedua kepalan tangannya.

Ikki dan Saji berlari menyilang untuk membingungkan Goblin tersebut. Lalu Ikki menghajar kaki kanan dengan tinjunya membuatnya mengerang, tapi goblin itu juga mengayunkan tangan kirinya.

Saat itu Ikki tidak siap menghindar dan wajahnya menegang. Tapi sebuah sulur ungu mengikat tangan goblin tersebut, tepat sebelum menghempas tubuhnya.

Ikki memalingkan wajahnya dan disana Saji sudah mengeluarkan sacred gearnya dan membuka gigi lebar.

"Oi kalau kau ingin menyerang jangan sembrono," Ucap Saji mengingatkan

Ikki menarik senyum mendengar ucapan Saji dan membalas.

"Ha'i kali ini kau benar, terima kasih bantuannya."

Krat Dum dum dum dum dum

Kemudian Ikki mengepalkan tangannya dan melancarkan serangan beruntun kepada goblin itu. Perut dada kanan dada kiri dan dada tengah membuat goblin itu terbatuk darah tapi tidak berakhir disitu, kepalan tangannya meremas kuat dan langsung dilayangkan pada bagian bawah wajah goblin tersebut.

"Ini karena kau telah mengganggu Adikku!.'

Teriak Ikki dengan mata menatap tajam sedangkan goblin raksasa itu terhempas jauh dengan kondisi mengenaskan, goblin itu melayang sesaat sebelum jatuh beberapa meter. Setelah terkena pukulan di wajahnya ketika jatuh dia sudah tak bernyawa.

Lis yang melihatnya melebarkan mata karena kagum, dengan kekuatan dari onichannya dan dalam hati dia amat senang.

"Kau lihat Lis semuanya bertarung dengan semangat."

Ucapan itu datang dari Kaichou dan Lis mengalihkan matanya kepada Kaichounya, mata Sona terpejam sambil tersenyum kemudian dia membuka mata dengan pandangan sayu .

"Sebelum Ikki datang anggotaku selalu menunggu perintahku, tidak pernah berinisiatif sendiri tapi sekarang mereka..."

Tepat ketika Sona mengucapkan kalimat itu mereka melihat yang lainnya menyerang, Hanakai menyiapkan sihir api dan Reya menyiapkan sihir angin.

"Kali ini kau akan jadi objek latihan kami!"

"Heyah! Rasakanlah serangan kombinasi kami."

Sebuah rune sihir berwarna jingga muncul di depan Hanakai dan mengeluarkan puasaran api, hal itu juga terjadi pada Reya sebuah rune sihir berwarna hijau muncul di depannya dan pusaran angin muncul.

"[Firestream!]"

"[Windstream!]"

Mereka meneriaki nama sihirnya lalu tangan kiri dari Hanakai dan tangan kanan dari Reya menyatu, membuat dua pusaran tersebut mulai mendekat satu sama lain.

Suhu udara meningkat kala itu terjadi dan membuat Sona, Tsubaki, dan Lis melebarkan mata melihatnya.

"Mereka telah menguasai penggabungan sihir bukankah itu sangat sulit!"

Itu ucapan yang keluar dari Tsubaki karena memang menurut pengetahuan yang dia baca, menggabungkan dua elemen sihir amat sulit dan butuh latihan berulang-ulang. Pengecualin buat Sona yang merupakan akuma kelas atas, ditambah dia juga jenius dalam beberapa hal.

Dalam kasus menggabungan sihir rasio dua kekuatan sihir harus 50:50, jika salah satunya melebihi yang lainnya maka sihir tersebut akan batal. Jenis penggabungan ini disebut dengan Magic Combination.

"[Magic combination : Big Fireball Stream]!"

Teriak keduanya dengan tangan yang menyatu di majukan kedepan. Membuat pusaran bola api raksasa itu menyerang satu goblin, dan langsung membuat goblin raksasa itu lenyap.

'Sugoi mereka hebat,' batin Lis

Setelah melihat serangannya berhasil. Hanakai dan Reya menyampingkan wajah dengan cemberut, dan tangan di sedekapkan didepan dada.

"Hanya kali ini saja! Aku mau menggabungkan sihir denganmu."

"Kau pikir aku juga akan peduli!"

Meskipun seperti bertengkar namun dalam hati mereka sangat senang, karena serangannya telah sukses membuat satu goblin tumbang.

Disisi lain Bennia menggigit bibirnya dengan mata menajam menatap mangsanya, pedang katana diangkatnya ke atas lalu aura ungu menyinari bilah pedang tersebut. Dengan cepat dia mengayunkannya ke arah goblin itu.

"[Samurai Tecnique : Ilai Slash]"

Hempasan serangan berbentuk sabit berwana ungu itu meluncur dengan cepat, ke arah goblin raksasa itu dan memberi luka sayat yang besar. Goblin itu meraung kasar saat menerimanya dan langsung menerjang ke arahnya.

Bennia memasang postur tubuh ditegakan dan kepalan tangan di katananya menguat, dengan mata menatap tajam menunggu serangan balasan. Saat goblin itu sudah dekat dan mengayunkan gada. Dengan mulut terbuka lebar seakan serangannya berhasil.

Bennia menaikan sudut bibirnya dengan mata tertutup poni. Lalu Tomoe muncul dengan dual blade di depan dadanya dan langsung diayunkan dari bawah ke atas, menyayat luka silang didada goblin itu dan membuat goblin itu tersungkur ke belakang.

Lima sayatan tiba-tiba tercipta di tubuh goblin raksasa itu, dan entah bagaimana Bennia sudah berdiri di bagian atas kepala goblin itu. Dengan pedang mengarah ke tanah serta berkas darah di bilahnya.

"[Samurai Tecnique : Five Silent Slash]"

Goblin itu mengerang nyawa dan kemudian lenyap, sedangkan Tomoe memasang wajah cemberut.

"Cih kau hanya membiarkanku menyerang sekali, Dasar Samurai."

"Ada apa Shinobi! Bukankah kau terkenal karena kecepatanmu."

"Lain kali kalau kau terdesak, aku tidak akan menolong."

"Wakatta, arigatou!"

Keduanya pun menaikan sudut bibirnya sambil memejamkan mata, dengan rambut berkibar lembut ditiup angin.

Sementara Yura melaju dengan tangan terkepal kuat dan diselimuti aura hijau karena sihir penguatan tubuh. Dirinya langsung menyerang bagian dada perut dan lengan kanan dari goblin itu yang membuat gada di tangannya terjatuh. Lalu tanpa diduga tangan kiri dari goblin itu menyerang Yura.

Bugh sreet

Beruntung instingnya sudah terlatih dia menahanannya dengan kedua tangan disatukan, untuk mengurangi dampak serangan tapi itu juga masih terasa dan tubuhnya terseret ke belakang beberapa langkah.

'Ikki senpai bahkan bisa memukul satu monster ini dengan sekali pukul karena itu aku tidak boleh kalah.' Batinnya

Namun rupanya saat pandangannya tertutup lengan karena menahan serangan tadi, dia tidak menyadari jika goblin itu sudah menerjang bersiap memukulnya dengan tangan kanan. Saat itu wajah Yura menegang karena serangan tiba-tiba.

"[Triple Arrow strike!]"

Tiga anak panah mengenai dada kiri dada kanan dan tangan kanan yang hendak menyerang Yura, membuat goblin itu mengerang kesakitan lalu Nimura berkata.

"Sekarang habisi dia Yura!," Teriak Nimura

Yura menengok ke belakang, melekukan bibirnya dan mengangguk.

"Ah! Serahkan sisanya padaku." Jawabnya.

'Ya aku tidak boleh kalah dari Ikki senpai.' Batinnya

Yura mengumpulkan tenaga di bagian dada dan mengalirkannya di kedua kepalan tangan, membuatnya sedikit gemetar serta aura hijau menyelimuti kedua lengannya.

"Heeyyyyaaaa!"

Dum Dum Dum Dum Dum Woaarrrgghh

Matanya menajam menatap goblin itu dengan langkah kuat dia menerjang memukul tubuh goblin itu, paha perut dada pipi kiri pipi kanan dan terakhir tenggorokan dari goblin itu.

Saat serangan terakhir dilakukan mata goblin itu sudah menguning sempurna, dengan mulut terkatup katup dan selanjutnya menghilang.

"Huah huah aku tidak akan kalah darinya." Ucapnya lirih sambil menatap lekat Ikki.

Setelah melihat mereka semua menyerang, dan menghabisi goblin raksasa masing-masing Sona melanjutkan ucapannya.

"Jadi aku mohon padamu Lis, tolong berbagilah Ikki dengan yang lainnya. Karena mereka semua berusaha sekuat ini karena mereka terpacu, melihat Ikki berjuang menjadi lebih kuat dalam meraih impiannya menjadi Maou."

Mata Lis melebar ketika mendengr ucapan dari Sona Kaichou dan tanpa sadar air matanya menetes. Ditatapnya semua teman-temannya yang telah melawan goblin raksasa itu, dan terakhir pandangannya menuju ke punggung Ikki.

'Jadi selama ini aku benar benar egois, kupikir Sona kaichou bermaksud menjauhkanku dari onichan. Tapi yang diinginkan olehnya adalah aku berbagi onichan dengan yang lainnya, karena mereka semua kuat karena ada onichan sebagai penyulut semangat.' Batin Lis

"Hiks hiks gomenasai aku tidak tahu klau itu keinginan Kaichou, kupikir Kaichou membenciku."

Sona lalu menghampiri Lis, dan segera memeluknya lembut sambil berkata.

"Baka! aku tidak mungkin membencimu karena kau adalah keluargaku, alasanku marah adalah karena kau tidak bisa melihat situasi dimana kau bersifat manja dengan onichanmu."

"Uwaah gomenasaai." isak Lis

Ikki Pov

Setelah aku memukul satu goblin yang telah merepotkan Lis yang dibantu oleh Saji, aku mengatur nafas dan menghilangkan sage mode kemudian melihat sekeliling. Kemudian mendapati teman-temanku juga, mengatur nafas yang keluar masuk denga berat.

Pertarungan ini dimenangkann dengan kombinasi yang bagus aku dan Saji, Reya dan Hanakai, Bennia dan Tomoe, sedangkan Nimura dengan Yura.

Syukurlah semua berjalan lancar lalu pandanganku tertuju pada Lis, saat itu dia menangis dalam pelukan kaichou sontak aku langsung menghampiri mereka bertiga.

"Kenapa? Apa terjadi sesuatu padamu Lis?"

"Aku bertanya kepadanya karena cemas padahal dia tadi bilang tidak apa apa sekarang kenapa dia menangis." Lalu sona kaichou mengendurkan pelukannya dari Lis.

Dia menyapu bekas air matanya dan tersenyum kearahku sambil berkata.

"Tidak apa-apa onichan aku tidak apa apa."

Teman temanku yang lain juga mulai berdatangan dan menanyai keadaan Lis. Syukurlah kalau dia tidak apa apa.

Setelah kejadian itu kami kembali ke ruang Osis dan memulai rapat yang sempat tertunda. Tentunya dengan acara maaf maafan sebelumnya.

"Baiklah kita ke topik utama rapat. Ini membahas tentang rencana liburan musim panas perkenalan akuma muda dalam Rating game, ebut rating game kita dan puncaknya festival olahraga. Hah kita akan banyak pekerjaan untuk semua itu dan perlu mengaloksikan waktu dengan baik."

"Ha'i" jawab kami serempak.

Ternyata anggota Osis menjadi yang paling sibuk ketika acara musim panas tiba, itu karena festival olahraga akan jadi acara yang besar. Aku benar benar tak menyangkanya.

"Kaichou! Apa rencana liburanmu untuk musim panas tahun ini, kemana kau akan pergi?"

Dia menatapku lembut dan menyunggingkan bibirnya, sambil membetulkan kacamatanya.

"Aku akan pergi ke dunia bawah, itu adalah hal yang biasa kulakukan ketika liburan oanjang tiba."

"Jadi begitu ya,"

Jawabku, tentunya dunia bawah itu luas bukan, pertama kali aku pergi dari dunia ini adalah ke dunia para familiar dan itu memang luas walau ada tragedi disana. Berpikir ulang sebenarnya aku ingin berlatih ke sebuah bukit guna meningkatkan kemampuanku, apalagi kemampuanku berasal dari alam jadi aku harus mendekati alam tentunya agar kekuatanku meningkat. Ditambah Gamaken sudah menyiapkan beberapa pelatihan taijutsu lanjutan, yang sudah dikembangkan dari Kawazu Kumite.

Sungguh! Teknik yang diajarkan Saku dan Shima saja sudah hebat bagaimana jadinya, jika itu di uprage aku jadi tidak sabar dan tersenyum sendiri.

"Kau sendiri kemana akan pergi, dilihat dari wajahmu yang tersenyum sepertinya kau berencana pergi liburan," Ikki tegur Kaichou.

Aku yang mendapati pertanyaan itu mengangguk membenarkan, sambil membalas tatapan mereka yang mengarah padaku menunggu jawaban.

"Ya aku berencana berlatih di sebuah bukit untuk mengolah energi alam, dan tentu latihan lainnya sambil menikmati pemandangan alam."

Saji lalu menggerakkan pelipisnya dan menunjukku cepat dengan mata melotot.

"Temme! Kau sudah ada rencana liburan, kenapa tidak bilang-bilang dan lagi kemana kau akan pergi."

Aku yang mendengarnya tertawa cengah dan menjawab.

"Eheheh aku berencana pergi ke bukit yang ada di belakang kota Kuoh di sana cukup sepi jadi aman untuk beratih, tentu saja aku akan minta beberapa segel area pada Azazel sensei agar keberadaanku tidak diketahui."

Setelah ucapanku, Sona Kaichou lalu membuka suara.

"Ara jadi kau berencana latihan, kenapa tidak di dunia bawah saja Ikki? Aku yakin kau akan tertarik."

Aku yang mendapati ucapannya tentu melebarkan mata, karena tiba tiba kaichou berkata seperti itu lalu dia melanjutkan.

"Tidak hanya Ikki kalian juga akan pergi ke sana, sudah diputuskan liburan musim panas ini kita akan ke dunia bawah. Lagipula aku yakin Rias Gremory juga membawa keluarganya ke dunia bawah."

Dan begitulah keputusan diambil Kaichou sepihak, para gadis sepertinya terlihat antusias.

"Hah liburan ke dunia bawah sepertinya menarik ,"ucap Lis ceria

"Umu aku juga ingin kesana," tambah Nimura.

"Baiklah kalau begitu aku juga kan berlatih," ucap Yura sambil tangan mengerat kuat.

Itulah beberapa ucapan yang dilontarkan oleh para gadis, sedangkan pinggulku seperti ada yang mencolek. Ketika aku menyapu pandang siapa pelakunya dia adalah Saji.

"Oi kali ini kau dan aku akan berlatih di dunia bawah..."

Dia memejamkan mata dan menjeda kalimatnya, lalu tangannya mengepal kuat dan matanya tiba tiba terbuka.

"Karena itu aku tidak akan kalah darimu Ikki."

Aku menarik sudut bibirku karena gembira temanku satu ini ternyata sudah tersulut rupanya, tapi ya kalau dia sudah membara aku juga harus menjawabnya.

"Hah! tapi pastikan kau jangan kaget, karena aku tidak akan memberi kelonggaran."

Saji terkekeh sambil melekukan bibirnya, dengan mata terpejam dia menjawab.

"Aku juga!"

Perjanjian untuk menjadi kuat dalam latihan kami sepakati, setelah itu Sona kaichou membahas perihal masalah pertemuan untuk rating game di dunia bawah. Yang akan berlangsung 20 hari ke depan dan libur sekolah akan datang 2 hari ke depan, dengan kata lain kami punya waktu 2 minggu lebih untuk berlatih.

Aku mengepalkan tangan kuat pokoknya aku harus berkembang setelah liburan ini selesai. Semua topik sudah dibahas dan sampai pada alokasi waktu, kami semua membubarkan diri pulang karena matahari sudah terbenam.

Ketika sampai dirumah dan aku memandangi langit yang bertabur bintang diatas atap rumah kami, sambil dikipasi oleh angin malam yang menyejukan sebuah sayap hitam jatuh.

"Hoh! seorang yang bermimpi menjadi Maou iustru bermalas-malasan, bagaimana nasib rakyatmu kelak kalau Maounya malas-malasan begini."

Suara itu adalah Sensei yang datang dengan pakaian khasnya yaitu yukata hitam, dan mengenakan bakiak kayu jati dengan tenang dia melangkah mendekat. Lalu merebahkan diri di bangku tidur sebelah diriku.

"Hah! Apa tak boleh aku menikmati sedikit waktuku untuk menghilangkan jenuh, kau tahu Sensei liburan musim panas ini aku punya jadwal yang padat. Jadi sekarang ini aku sedang mengistirahatkan pikiran dan tubuhku sebelum waktu itu datang."

Dia terkikik geli dengan ucapanku dan membalas.

"Mah itu juga berlaku untukku..."

Dia menjeda kalimatnya dan pandangn matanya sayu keatas langit.

"Ayah menciptakan semua sistem ini, dan pergi meninggalkn kita sendiri...entah apa maksud Dirinya itu."

Ayah siapa dia? Apa mungkin itu panggilannya kepada Tuhan. Soalnya Michael sama juga selalu memanggil Ayah untuk menyebut Tuhan, wajar saja mereka berdua adalah makhluk yang dulu dekat dengan Tuhan.

"Aku juga tidak tahu, yang aku tahu dalam Al kitab Tuhan menjadikan ini semua. Agar semua makhlukNya mengambil pelajaran dari apa yang telah dibuatnya ini."

Sensei menarik sudut bibirnya mendengar ucapanku dan berkata.

"Neh Kurogane apa perdamaian itu akan ada?..."

Kali ini ucapannya sedikit bergetar seolah dia trauma akan sesuatu, dan dia menjeda kalimatnya lagi dengan wajah yang kehilangan harapan.

"Aku pernah menjadi saksi saat AnakNya diserahkan untuk umat manusia demi perdamaian, tapi nyatanya hal itu malah membuat peperangan berlanjut. Dan malah makin membara hebat saat aku mendengar dan memikirkan kata perdamaian, entah mengapa aku merasa itu seperti sebuah ilusi untuk menghibur hati yang orang yang lemah dari ancaman para orang jahat. Apa kau percaya sebuah keselamatan dan kedamaian seperti itu Ikki?."

Aku merenung sejenak setelah mendengar pertanyaannya, ayolah ini pertanyaan berat yang hanya diketahui oleh mereka yang sudah mengalami sendiri. Usiaku baru belasan dan lagi aku bukanlah pahlawan seperti di negeri dongeng, tapi kalau menurut buku yang ditulis Jiraiya dia juga mencari arti perdamaian sejati.

"Aku tidak tahu jawabannya karena belum hidup ratusan atau ribuan tahun sepertimu, dan lagi harusnya aku bertanya hal itu ke dirimu Sensei!"

Dia sedikit terkejut dengan ucapanku dan tertawa kecil.

Haha!...bahkan orang yang mengetahui seluk beluk gereja dan mendalami Injil sepertimu masih belum mengetahuinya, dengar Ikki hidup puluhan ratusan dan ribuan tahun sekalipun. Tidak menjamin kau akan tahu arti hidup sesungguhnya karena menurutku sendiri, hidup itu adalah sebuah rahasia yang memiliki banyak makna sesuai dengan sang pelaku alami rasakan dan lalui. Jadi art hidup itu tidak bisa di terjemahkan dalam satu kalimat utuh. Tapi yang kutanyakan adalah apa kau percaya akan keselamatan dan kedamaian?"

Keselamatan dan kedamaian itulah yang ingin kutahu juga jawabannya, tapi masalahnya orang ini menanyai masalah yang ingin kutanyakan dari dulu kepadanya. Dan karena hal itulah yang mendorong aku untuk menjadi Maou agar aku bisa menyelamatkan orang-orang dan menciptakan kedamaian, tapi jika di tanya apa aku percaya pada hal itu maka. Tidak semudah membalikan telapak tangan untuk menjawabnya perlu pengalaman hidup yang panjang, dan bila sensei yang sudah hidup lebih lama dariku saja masih mencari tahu jawabannya bagaimana diriku yang baru semumur jagung ini.

"Entahlah aku juga masih mencaritahunya, maaf kali ini aku tidak bisa menjawabnya Sensei."

Dia mengangguk dan berkata.

"Setidaknya berikan kepadaku pendapat tentang apa arti dari keduanya?"

Arti dari keselamatan dna kedamaian bagi diriku.

"Baiklah kalau kau memaksa, sebenarnya ini jawaban dariku ynag menurutku sedikit naif. Keselamatan adalah sebuah pemikiran atau doktrin bahwa manusia bisa melakukan perubahan kehidupan, dari yang pahit dan penuh derita menjadi lebih baik. Sedangkan kedamaian menurutku adalah sebuah keadaan dimana manusia sudah memutuskan rantai kebencian, dan balas dendam serta mulai saling bersatu untuk memahami keadaan satu sama lain."

Sensei kemudian menarik simpul mulutnya setelah mendengar ucapanku.

"Hm! menarik sekali jawaban yang kuterima darimu, entah mengapa sedikit membuat diriku tergugah. Lupakan masalah itu Ikki, aku ingin memberimu sesuatu."

Dia melemparkan surat padaku dan berkata.

"Seseorang mengirim surat dan itu ditujukan kepadamu, dia juga bilang jika ada surat dari Yudhi tolong titipkan saja padaku. Mattaku aku seperti tukang pos saja kalau bukan dia yang menyelamatkanku, dari para kolektor aku tidak mau membantunya."

Ah aditya Irawan kah jadi ini surat darinya lalu aku juga langsung mengeluarkan surat, yang dititipkan Yudhi dan menyerahkannya kepada Sensei.

"Ini sensei tolong!"

Sensei mengerutkan pelipisnya dan mendecih.

"Oi aku bukan tukang surat tahu," bantahnya

"Tapi kan harus diserahkan kepada sensei!"

Syut-

Dia meraihnya dengan kasar dan berkata.

"Aku ini Gubernur jenderal malaikat jatuh, dan kalian akuma muda dan manusia memperlakukanku seperti pengantar surat."

Aku terkekeh geli mendengar protesnya dan membalas.

"Ya itu sih sudah deritamu sensei."

"Hah! Terserahlah tapi Ikki, apa kau mau memancing ikannya kali ini besar lo."

Aku memicingkan mata mendengarnya, kalau dia bicara soal memancing disaat begini dengan bercanda itu gila. Pasti ada seseorang yang akan berulah di suatu tempat.

"Heh! Tapi aku tidak memiliki pancing yang kuat."

Dia tersenyum dan membuka suara lagi.

"Tak apa kau cukup jadi pancingannya saja. Bagaimana?"

Aku terhentak berarti ini bukan soal memacing ikan, seperti yang kuduga.

"Eh! tapi untuk ukuran umpan aku tidak begitu besar, aku takut ikannya tidak tertarik padaku."

Sensei lalu menjawab sebelum pergi.

"Tenang saja! Para pemancing Profesional akan mengurusnya, jadi bagaimana apa kau tertarik?"

"Tertarik apa?"

Ucap suara yang tak lain adala Sona kaichou dalam hati aku sedikit terkejut, tapi karena dia hanya mendengar tentang pancing jadi aku membalasnya cepat.

"Baiklah aku akan menjadi umpannya."

"Bagus aku akan pergi."

"Tunggu apa maksud-"

"Ha'i kalau begitu aku pamit dulu."

Sensei langsung pergi setelah itu, dan kaichou menatapku lekat dan bertanya.

"Ikki apa yang kau sembunyikan?"

"Heh! Apa maksudmu kaichou kami hanya membahas tentang-"

"Bohong!"

Dia menunjukku cepat dn menatapku lebih lekat kemudian melanjutkan

"Aku tahu kau suka berbicara bahasa isyarat jadi jelaskan padaku?"

Aku hampir runtuh mendengar gertakannya tapi, karena dia juga baru mendengar sedikit jadi aku berani membantah.

"Kau bicara apa sih kaichou? Aku tidak ada apa-apa dengan Sensei hanya masalah kecil."

Dengan itu aku melangkah masuk untuk membaca surat dari Aditya Irawan, dan Sona kaichou mengejarku walau pada akhirnya menyerah dan masuk ke dalam kamarnya.

Aditya Irawan Pov

Aku sangat senang sekali surat dari putraku akhirnya datang juga, aku akhirnya memutuskan untuk membuka langsung dan membacanya.

[Untuk Ayah

Salam hormat Ayah Ayah maaf aku tidak bisa datang sesuai keinginanmu tapi aku menyampaikan terima kasih atas suratmu, sang pengirim surat kini menjadi temanku namanya adalah kurogane Ikki darinya aku belajar banyak hal dan ingin bertemu dengannya lagi.

Sampaikan pesan kepada adik bahwa aku akan datang ke sana pada awal musim gugur jika tidak ada halangan, Serta alasan aku tidak bisa datang karena sedang membantu pembangunan ulang tempatku bekerja dan memulihkan tanah jawa.

Oh ya kini aku sudah menjadi Danhyang. Maaf jika kita sudah berbeda ras tapi tetap aku masih mengakuimu Ayah kuharap kau juga demikian terhadapku, Dan terakhir anakmu ini sekarang adalah pemegang dari salah satu mustika yaitu tombak Garuda.

Saat aku kesana aku akan perlihatkan kehebatanku didepan kalian semua, sampai saat itu tiba aku harap kalian baik baik saja.

Dari puttamu

Yudhi. ]

Aku menggenggam surat itu dengan gemetar hatiku penuh akan sesuatu, dan tanpa sadar mataku sudah berair dan tetesan air mata membasahi surat dari putraku.

"Anakku! Ayah sangat merindukanmu semoga kau baik-baik juga nak."

Ikki Pov

"Hah surat dari Aditya Irawan kira-kira isinya apa ya."

[Dari Aditya Irawan Salam hormat,
Ikki terima kasih atas suratmu kenapa aku tahu karena aku bertelepati dengan Yudhi, dan dia bilang menitipkan sesuatu padamu. Maaf lagi-lagi putra dan anak ini merepotkanmu aku benar-benar malu.

Lalu aku juga kembali mengucapkan terima kasih telah membantu mereka mengalahkan gandasura, aku tidak percaya anak raksasa itu masih hidup padahal dulu di masaku kakeknya sudah disegel oleh prabu jayabaya.

Ikki kurasa rasa terima kasih tak akan cukup untuk membayar apa yang telah kau lakukan karena itu, aku menyelipkan sesuatu sebuah kertas berisi segel kuno negeriku dan untuk membukanya kau perlu memberikan sedikit darahmu.

Terima kasih untuk semuanya.
Dari Pendeta Tua yang kau selamatkan Aditya Irawan. ]

Sebuah hadiah lagi padahal hadiah dari Ki Semar saja sudah cukup, lalu aku mengambil sebuah kertas lain yang terbuat dari kulit kijang yang telah dihaluskan. disitu terlukis sebuah rune sihir dengan aksara jawa.

Baiklah hanya cukup setitik darah bukan, aku melukai ujung jempolku dan meneteskan darah disegel tersebut. Kemudian setelah kutetesi darah segelnya berwarna merah dan memunculkan sesuatu.

And cut~

Saa minna ini adalah chapter sepuluh melanjutkan scene kemarin kuharap kalian puas dengan fight scenenya.

Oke disini kita bisa melihat bagaimana perkembangan kemampuan kelompok Sona, meskipun beberapa chapter terlewat jarang ke sebut soalnya pucuk masalah hanya berpokus pada Ikki dan jarang melihat yang lainnya.

Jadi chapter ini sama seperti chapter arc sebelum penyerangan Kokabiel. Dimana waktu itu yang baru tumbuh adalah mereka mengakui Ikki sebagai teman, tapi sekarang mereka berusaha mengejar Ikki.

Pemberian dari Ki Semar dan Aditya Irawan sepertinya agak aneh, potion ibu hamil untuk apa itu? kalau merah mungkin bisa dimaklumi. Tapi tenang itu semua akan dijawab di chapter selanjutnya.

Sebenarnya aku gugup untuk memulai Arc Loki itulah kenapa aku mencoba mengulurnya dengan dua chapter ini, takut kalau hasilnya buruk tapi setelah kupikir pikir bila terus mengulur yang ada Arc Loki tidak akan pernah dibuat.

Pokoknya mohon dukungannya semua agar Arc Loki bisa lancar seperti Arc-Arc sebelumnya.

Terima kasih banyak atas kesabaran kalian yang menunggu Fanfic ini update dan selalu mendukungku.

Terakhir aminkan doa ini di hati aja ya.
Ya Tuhan! Berikanlah kepada Author ini kemampuan untuk terus berkarya dengan baik dan lancar, ditambah kebahagian di dunia dan di alam selanjutnya.

Oke Itu aja dulu seperti biasa bacalah terus I Want to be Maou: Rise a Saint Templar, dan ikutilah perjuangan Akuma reinkarnasi menempuh jalan berliku demi menjadi seorang Maou di masa depan.

Jaa nee