Terkejut? Tentu saja. Wanita yang di panggil Petra itu sama sekali tidak mendeteksi ekspresi ketakutan dari wajah Eren.
"Dunia itu begitu sempit ya. Tidak ku sangka jika pembunuh keluarga ku adalah sosok yang begitu dekat." Senyuman Eren semakin melebar jatuhnya begitu mengerikan bagi Petra. Alaram tanda bahaya pada diri Petra seolah berdering. "Setelah ini akan aku pastikan kau tidak akan hidup tenang. Tidak perlu cemas aku tidak akan membunuh mu atau keluargamu."
"Cih. Kau tidak sadar posisimu sekarang bagaimana huh?" Petra berdecih. Rasa takut itu ia enyahkan melihat kondisi Eren yang 100% terikat dan tidak bisa melakukan apa apa.
"Tidak akan lama."
Petra hanya menyerengit
PRANKKK
"ARRGGHH."
"SIAL PENYUSUP."
"ARRRGGGHHH."
Petra panik seketika. Pandangannya kembali menatap horror kearah Eren yang tersenyum sangat lebar. Amarahnya semakin memuncak setelah sadar jika Eren menjebaknya.
"KAU." Rauhnya dengan sebilah pisau yang sudah siap untuk menikam Eren.
DOOOR
Suara tembakan membisingi ruangan sempit itu. Pisau di tangan Petra sudah terlempar entah kemana. Darah segar sudah melumuri tangan putih wanita itu.
"AARRRGGHHH." Raungnya ketika rasa sakit menjalar di tangannya. Jari tangan miliknya hancur akibat tembakan itu membuatnya meringkuh di lantai sambil berteriak kesakitan.
"Jangan berani beraninya menyentuh Erenku dengan tangan kotormu jalang."
Eren hanya memiringkan kepalanya mendengar suara familiar lainnya.
"Eren."
Suara langkah kaki terengar mendekat.
"Levi-san? Mikasa?" panggilnya. Tidak lama kemudian penutup matanya terbuka dan nampaklah sosok sosok yang berdiri mengelilinginya termasuk dua orang yang ia panggil barusan. "Waw ramai sekali." Ucapnya ketika melihat Hanji, Erwin, Jean, Annie, Bertolt, dan Rainer yang juga ikut serta.
"Eren kau baik – baik saja?" Mikasa melepaskan ikatan Eren kemudian membolak balikkan badannya memastikan.
"Aku baik baik saja. Dia belum melakukan apa apa." Eren memandang jijik sosok yang sedang meringis meringkuh tangan kanannya yang terluka.
"Aku tidak menyangka Petra melakukan hal ini padamu." Levi tidak habis fikir ketika mantap wanita itu.
"L-levi.. a-aku."
"Bicaralah pada polisi Nn. Ral."
Levi menarik pergelngan tangan Eren untuk meninggalkan tempat memuakan itu di susul oleh yang lainnya. Setelah mereka keluar Levi langsung memberi titah pada pihak polisi yang sudah standby di luar untuk menangkap para penculik dan Petra yang ada di dalam.
Pesta di kediaman Yeager tlah usai. Ruang tamu keluarga Yeager tampak ramai. Zeke sedari tadi tak usainya mengelus helaian sang adik kelewat khawatir.
"Ramai sekali. Aku pikir hanya Mikasa dan Jean yang akan datang." Eren menatap sosok yang tidak masuk kedalam rencananya itu.
"Sebenarnya aku dan Hanji-san menggabungkan rencana." Jawab Armin dan Eren hanya menaikan sebelah alisnya. "Jujur saja jika Zake-san juga menjadi incaran tadinya. Karena Rainer dan kawan kawan ada di sini jadi mereka mengamankan Zeke. Lalu Mikasa dan Jean..."
"Aku sudah tahu rencana kalian dari dia." Levi menunjuk sosok Jean dengan arah pandangnya. "Aku tidak percaya kalau kau akan benar benar membiarkan dirimu tertangkap." Tampak raut marah di wajah Levi.
"Ehehehe setidaknya rencana berhasil. Bahkan bila tanpa bantuanmu Levi-san." Eren terkekeh. Gila memang rencananya. Tapi ampuh. Levi hanya bisa menghela nafas berat tidak bisa berkata kata.
"Setelah ini kau mau apa Eren." Mikasa menatap Eren yang masih di dekap oleh sang kakak.
"Aku akan ikut Nii-chan kembali ke luar negeri." Seketika elusan Zeke terhenti.
"Hah?" Levi memandang Eren tidak terima.
"Huh? Kenapa Levi-san? Kenapa Levi-san menatapku seperti itu?" tiba tiba Eren meringsut memeluk sang kakak karena tatapan mengerikan dari Levi.
"Kau masih berhutang penjelasa padaku Eren." Levi memaparkan sebuah kertas tepat kehadapan Eren sontak membuat Eren terbelalak.
"L-levi-saaaan d-darimana kau mendapatkan itu?" Eren menunjuk gugup surat laknat di tangan Levi. Levi hanya menaikan alisnya.
"Aku sudah tahu semuanya. Keinginan Dr. Yeager dari awal yang bilang ingin menikahkan ku dengan puteri bungsunya dahulu. Karena aku tidak tahu siapa jadi tidak terlalu aku gubris." Ujarnya. "Sekarang aku tahu dan kurasa tidak buruk juga."
Eren mengerjapkan matanya berkali kali mencerna setiap perkataan Levi. "Maksud Levi-san?"
"Maaf Nn. Yeager kau tidak bisa pergi keluar negeri. Karena itu perintah." Tukasnya sembari meletakan selembar kertas itu ke atas meja dan mendorongnya kearah Eren. "Ada hati yang harus kau pertanggung jawabkan di sini." Eren menutup rapat mulutnya setelah paham maksud sebenarnya dari ucapan dari Levinya itu. ya Levinya.
Mereka yang ada di sana hanya tersenyum memperhatika interaksi keduannya. Sama sekali tidak romantis memang tapi aura di sekitarnya benar benar terasa hangat. Hangat sekali.
Bersambung...
Review?
