Yosh, minna. Saya balik lagi.

Disclaimer : Naruto by Masashi Kishimoto, Runa and this story plot belong to me.


Runa POV

Aku tersenyum puas. Shizune kini jatuh pingsan terkena genjutsuku. Aku memakai sepatu ninjaku, lalu memasang semua perlengkapanku jika keluar. Lewat jendela, aku kabur. Aku tak betah di rumah sakit. Pokoknya aku harus cepat pulang. Meloncati atap-atap rumah penduduk, tak butuh waktu lama untuk sampai apartemenku. Aku membuka pintu apartemenku, lalu tersenyum mendapati Mia yang kini tampak menatapku dengan bertanya-tanya. Aku mengambil makanan miliknya, lalu memberikannya pada kucing tersebut.

"Aku mengkhawatirkanmu," kataku pelan sembari mengelusnya.

Mia makan dengan lahap. Aku meminum teh yang sudah kuberi gula, lalu merebahkan tubuhku ke kasur. Setelah menghabiskan teh tersebut, entah kenapa peningku sedikit menghilang. Ah ya, mungkin gula darahku sama rendahnya dengan tekanan darahku.

Entah kenapa sekelebatan wajah Itachi melintas di benakku. Ia sangat tampan dan tampak tenang, walau ia masih memiliki raut sombong Sasuke, setidaknya ia tidak berlidah tajam seperti adiknya. Aku tak bisa memungkiri, ada perasaan aneh yang membuatku tak pernah bosan memandangnya. Perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Wajah teduhnya dulu saat ia berusia 12 tahun tak berubah, hanya saja bentuk wajahnya dan tatapan matanya tampak lebih tegas dan jantan. Ah, lagi-lagi aku hanya bisa meleleh jika teringat dengan caranya memandang.

Terlebih saat ia memandangku dan mengucapkan terima kasih sembari membetulkan selimutku tadi. Wajahnya...

Pipiku memanas. Aku sebenarnya kenapa?

'Kunoichi.'

"Kenapa ia harus memanggilku kunoichi sih?"

~oOo~

Sementara itu, di Rumah Sakit Konoha...

"Maaf Sakura, tapi Runa kabur setelah menjebakku dengan genjutsu."

Lima detik ia memandang kasur kosong itu sebelum akhirnya...

"RUNAAAAAAAAAAAAAA!" Sakura menjerit dengan aura hitam di belakangnya.

~oOo~

Normal POV

Itachi berjalan mengelilingi Akademi Ninja. Sesekali ia tersenyum pada Jonin yang menyapanya. Tampaknya para Jonin sudah tahu mengenai pembersihan nama baiknya. Suatu anugrah yang tak dinyana, ia bisa memijakkan kakinya lagi di Konoha, dan terlebih lagi, bisa kembali menjadi shinobi Konoha.

Ia menuju battlefield. Saat itu ia mendengar suara seorang wanita yang tampaknya sedang berlatih. Matanya membulat mendapati gadis berambut panjang itu kini tengah berlatih dengan sesosok wanita yang berpakaian serupa dengannya.

Bunshin Runa dan Runa.

Itachi memasuki battlefield. Runa terperanjat kaget, melepas bunshinnya, dan tubuh itu menghilang.

"Kau sudah membaik rupanya, kunoichi?" tanya Itachi. Runa sibuk menutup mata kanannya, tapi Itachi menahannya.

"Aku tahu kau pemilik Rinnegan,"ucap Itachi, sementara Runa hanya mengerling ke arah lain. "Darimana kau mendapatkan mata itu?"

"Membongkarnya berarti membongkar masa laluku yang tak mau kuingat lagi, Itachi-san..."

Itachi mengangkat alisnya. "Kenapa bisa?"

"Karena keingintahuan adalah watak manusia yang tak terbendung," Runa memunggunginya, berjalan ke salah satu tanah yang ditumbuhi rerumputan, lalu duduk. Itachi duduk di sebelahnya.

Sejujurnya, saat ini jantung Itachi berdegup cukup kencang. Ia tak menyangka bisa kembali berdekatan dengan Runa seperti dulu. Meski ia tak tahu apa yang menyebabkan perasaannya berdegup begitu hebat, perasaannya cukup senang. Seperti nostalgia.

Gadis berambut ikal itu memang tampak berubah. Tak seperti wajahnya yang dulu tampak riang saat bersamanya, wajah gadis ini sekarang lebih banyak menampilkan sebuah kekosongan. Itu mengingatkannya pada dirinya. Dirinya dulu saat masih menjadi anggota Akatsuki. Ia tak banyak menunjukkan ekspresi di depan banyak orang, disamping ia pun tak mau orang mengetahui siapa dirinya yang sesungguhnya. Selintas pertanyaan muncul di pikiran Itachi. Apa itu juga yang ia rasakan?

"Aku ingin bertanya padamu," katanya memecah sepi. "Darimana kau tahu mengetahui misi rahasia yang kulakukan atas perintah tetua?"

"Rei," sahut Runa, lalu memakan takoyakinya.

Aneh, batin Itachi. Rei bahkan bukanlah seorang shinobi yang tahu mengenai masalah intern desa, tapi kenapa ia bisa mengetahui maksud dari misi rahasia terbesarnya?

"Bagaimana ia tahu hal itu?"

Runa menaik sudut bibirnya, "aku tak tahu kalau soal itu. Aku terlalu sibuk mengurusi 'misi' soloku."

Itachi memandang Runa. Lagi. Ia memang tak tahu banyak tentang apa yang telah terjadi dengan Runa setelah insiden pembunuhan Yuichi Uchiha, tapi yang ia tahu, Rei telah membawa dampak buruk untuk Runa. Ia yakin, gadis ini memang memiliki kebencian dan terobsesi dengan kekuatan, tapi ia percaya ia tak akan sampai hati membunuh seseorang jika tak ada orang yang menyuruh atau memaksanya.

Ia bisa membaca gadis itu lewat tatapan matanya, meski kini tatapan mata hangat itu telah hilang menjadi tatapan mata yang kosong.

"Kau tahu? Awalnya aku takut karena telah membunuh seseorang," ucap Runa, menghela nafas. "Hampir seminggu setelah insiden itu aku tak bisa tidur, selalu bermimpi buruk. Saat itu aku merasa benar-benar kotor dan berdosa..."

"..."

"Rei mengatakan padaku bahwa itu adalah hal yang wajar terjadi saat aku baru pertama kali membunuh. Terutama saat aku mencoba memakai kekuatan mangekyou sharinganku,aku merasa berdosa, seolah aku hanya bisa bertanya-tanya, kenapa kekuatan ini harus diperoleh dengan cara membunuh? Aku shock, sampai mata yuichi akhirnya dicangkokkan bersamaan dengan mata rinnegan, aku masih takut. Rei mengatakan padaku bahwa perasaan takut itu akan menghilang jika aku kembali membunuh, dan aku melakukannya. Perlahan tapi pasti, aku jadi mati rasa..." Runa memelintir batang ilalang yang ia cabut. "Aku membunuh atas perintahnya, demi uang, dan hampir tak merasakan apa-apa, meski kuakui, ada hati kecil yang menjerit di sudut perasaanku yang telah menghitam seluruhnya."

Itachi memandang Runa dengan tatapan getir. Ia memahami perasaan itu. Hanya saja, mereka memiliki tuntutan yang berbeda dalam setiap pembunuhan yang mereka lakukan. Tapi tetap saja, mereka membunuh karena terpaksa, bukan karena keinginannya.

Mereka bukan psikopat.

"Kadang aku ingin mati saat itu..." Runa tengadah, memandang langit. Rambutnya yang tersingkap karena angin yang berhembus menampakkan matanya yang berwarna ungu keabuan itu, "tapi aku berpikir, apa aku akan diterima di akhirat dengan semua kejahatan yang sudah kulakukan?"

Pertanyaan retoris. Itachi membiarkan Runa mengucapkan semua keluh kesah dihatinya, karena ia sendiri ingin tahu lebih banyak mengenai gadis itu setelah mereka berpisah selama sepuluh tahun.

"Aku sendiri rupanya belum siap mati, hahaha..." Runa tersenyum tipis. "Sampai misiku yang terakhir, aku benar-benar tak tahan. Dan hingga akhirnya Rei dibunuh anggota ANBU dan aku menyerahkan diri, saat itu aku benar-benar siap mati..."

"Siapapun, akan menyadari siapa dirinya yang sebenarnya saat mendekati kematiannya..." Itachi memandang Runa.

"Aku masih hidup Itachi," Runa mengerling pada Itachi.

Mau tak mau, Itachi tersenyum juga.

"Oh ya," Runa menyodorkannya sekotak makanan berisi dango, takoyaki, dan onigiri, "silahkan ambil."

Itachi tersenyum melihat dango, lalu mengambilnya 2 tusuk.

"Lalu, bagaimana denganmu?"

Itachi memandang lurus, "sepertinya kita tak jauh berbeda."

"Bilang saja kau tak bisa bicara panjang-panjang karena kau memang pelit kata," dengus Runa.

"Nah, kau tahu siapa aku, kunoichi..."

"Ngomong-ngomong, bisakah kau memanggilku Runa seperti dulu?"

Itachi tercenung sejenak, lalu menggeleng. "Sepertinya tidak."

Pria Uchiha memang semuanya menjengkelkan dengan gayanya masing-masing, batin Runa jengkel.

"Oh ya, mengenai pengangkatanmu sebagai ANBU, bagaimana?" tanya Runa. "Kapan kau mulai menerima misi?"

"Sekitar sehari atau dua hari lagi...malah mereka memintaku menggantikan posisi Sasuke karena dianggap lebih berpengalaman dan berbakat. Padahal staminaku tak cukup bagus..."

"Tapi, menjadi ANBU bukanlah sekedar stamina. Butuh pemikiran cerdas, intuisi yang baik dan pengambilan keputusan yang tepat," sahut Runa. "Sasuke tampaknya tak sebijak kau dalam menghadapi masalah."

"Kau belum tahu aku," Itachi tersenyum, mengambil onigiri yang tersisa di kotak Runa. "Kadang aku bisa ceroboh juga."

"Tidak, aku bisa melihat itu," Runa memandang Itachi. "Itulah sebabnya kau dipilih menjadi ANBU sejak usia 13 tahun, karena kau melampaui anggota ANBU lainnya yang diangkat saat usia mereka lebih tua darimu."

"Aku tersanjung," Itachi melahap onigiri tersebut. "Ngomong-ngomong berapa usiamu sekarang?"

"Duapuluh empat tahun, tahun ini..." sahut Runa. "Kau?"

"Kalau terhitung dari semenjak perang dunia ke empat, usiaku 26 tahun. Ya seharusnya 26 tahun,"

"Hm. Baiklah...ngomong-ngomong, apa pergeseran posisimu sebagai Ketua ANBU itu akan benar-benar dilaksanakan?"

"Hmh...entah. Sempat terjadi lempar-lemparan posisi. Aku ingin Sasuke tetap menjabat pada statusnya, tapi Hokage dan penasihatnya Shikamaru memintaku yang menggantikan Sasuke. Ia pasti cemberut seharian,"

"Oh ya?"

"Aku bisa membayangkannya. Sejak dulu jika keinginannya untuk main denganku tidak terwujud, ia akan menggerutu sambil memanyunkan bibirnya..."

"Benarkah? Aku bisa membayangkannya. Wajahnya pasti lucu sekali!" Runa tertawa.

"Ya, adik kecilku tak pernah berubah...meski ia digandrungi banyak wanita, ia tetaplah adikku yang lucu."

"Eit, maaf. Aku tidak termasuk dari gadis-gadis yang menggandrunginya ya, camkan itu..." Runa menggeleng-geleng.

"Lalu siapa yang kau sukai?"

"Eh?"

Itachi melebarkan matanya.

~oOo~

Itachi POV

Gadis ini tetap menyenangkan seperti dulu. Hanya itu yang bisa kuasumsikan setelah aku banyak berbicara dengannya hari ini.

"Jadi siapa yang kau sukai?"

Wajahnya memerah. Ia memalingkan muka.

"Tak ada," katanya. "Toh, kalau ada yang mencintaiku, aku belum tentu menerimanya. Aku tak pantas dicintai."

Aku tercenung. Kupandang wajahnya yang kini terpekur memandang tanah.

"Semua orang berhak mendapatkan cinta," aku mengangguk, dan ia memandangku.

"Ngomong-ngomong, kenapa kita tak makan siang?" katanya. Sepertinya mengalihkan pembicaraan.

"Baiklah, ayo..." aku beranjak berdiri, membersihkan bajuku dari rumput kering. Kami berjalan beriringan, menuju jalur keluar dari daerah battlefield.

Jalan cukup ramai. Banyak penduduk hilir mudik. Yah, ini memang sudah siang, wajar ramai. Runa yang kini tampak menatapi para pedagang satu per satu pun tampak tak punya pembicaraan. Sesaat kami bisu, ditelan kebisingan suasana ramai para penduduk yang sibuk sendiri.

"RUNAAAAAAAAA!" sebuah suara wanita tak asing terdengar berteriak.

"Sial! Itu SAKURA!" Runa tiba-tiba mengambil posisi bersembunyi di belakang tubuhku. Ada desiran aneh saat tangannya tak sengaja bersentuhan dengan tubuhku.

"Kau kenapa?"

"Aku kabur dari rumah sakit!"

Aku tersenyum. Ia benar-benar seorang pembelot.

Sakura mendekat padaku dengan aura hitamnya, sementara aku hanya kebingungan saat tubuhku menjadi tameng Runa untuk bersembunyi dari Sakura. Sakura berhasil menyergap tubuh Runa, dan tak ayal...

BLETAKKKKKK!

"Sa-sakit..." ringis si gadis berambut panjang itu memegangi kepalanya yang terkena pukulan super keras dari si iryo-nin tersebut

Aku hanya melongo melihat kekuatan monster darinya.

"KENAPA KAU KABUR DARI RUMAH SAKIT, HAH! BUKANNYA BERISTIRAHAT KAU MALAH BERKENCAN DENGAN KAK ITACHI!"

Tunggu d-dulu? Ke-kencan? Apa jalan bersama saja bisa disebut kencan?

"Ma-ma...maaf, aduhh..." Runa tampaknya kepayahan untuk berdiri, setengah terhuyung. "Jangan kau lampiaskan semua kesalahanmu padaku dengan pukulan monstermu! Ini kepala, bukan batu!"

"Siapa bilang itu batu, hah? Kau masih lemah tapi kau berani kabur! Dan kau malah membuat Shizune-senpai pingsan dengan genjutsu milikmu!"

"Aku punya alasan untuk itu, Saki..." Runa mengelus kepalanya. "Kau kelewatan, kepalaku sakit sekali..."

"Sudahlah, semuanya..." aku menenangkan mereka. "Mungkin ia memang punya alasan untuk itu..."

"Jangan bela dia, Kak Itachi, ia sudah jelas salah!"

"Ya, ya, aku mengaku salah," Runa membungkuk dalam, meminta maaf. Wanita bersurai pink itu melipat tangannya ke dada, memalingkan muka.

"Tch. Yasudah, kumaafkan,"

"Nah, bagus...kau mau ikut kami?" tanya Runa memandang Sakura. "Kami akan makan siang. Mau ikut?"

Eh, kenapa jadi mengajak Sakura? Ah, Runa...t-tunggu dulu, aku ini kenapa? Ini kan bukan kencan?

"T-tidak. Aku masih ada keperluan, selamat berkencan!"

Entah kenapa aku merasa wajahku memanas setelah mendapat ucapan itu dari Sakura. Runa memandangku dengan pandangan satu matanya.

"Kau kenapa? Ayo kita cari makan."

Kami makan di sebuah rumah makan tradisional. Kami kembali mengobrol setelah memesan.

"Oh ya, aku jadi teringat sesuatu..."

"Tentang?"

"Aku teringat dengan ucapanmu di rumah sakit. Apa benar kau menyumpal mulut Sasuke dengan onigiri? Kalau kuperhatikan, tampaknya Sasuke kesal sekali saat mendengar perkataanmu," kataku dengan nada ingin tahu.

"Ah, itu rupanya. Sebenarnya memang kejadian lucu sih," Runa mengangguk. Rambut yang menutupi matanya bergoyang-goyang dengan manisnya. "Itu semua berawal dari Sakura yang belajar padaku memasak onigiri. Ia sangat menyukai Sasuke dan sering membawakannya onigiri, tapi adikmu berkomentar bahwa onigiri buatannya tak enak, jadi ia belajar masak lagi padaku. Nah, saat itu setelah memasak Sakura berencana memberikan masakan buatannya pada Sasuke ditemani olehku, tapi Sasuke menolak pemberian Sakura. Aku merasa adikmu cukup kelewatan karena tidak menghargai jerih payah Sakura yang sudah mencintainya bertahun-tahun, sehingga aku ambil alih kotak bento itu. Aku menyuruh Sakura untuk menjauh, mengancam Sasuke agar mau memakan onigiri tersebut. Ia hampir saja melawan jika tak kulilit dengan mokuton milikku. Saat itu ia tak bisa bergerak. Dengan susano'o aku sengaja menakutinya, tapi sebenarnya rencanaku hanya ingin membuatnya tergelitik dengan tangan Susano'o milikku. Mungkin karena tak kuat menahan tawa, ia tertawa terbahak-bahak. Saat itu aku menyumpal onigiri itu ke mulutnya."

Aku membulatkan mataku. "Kau benar-benar menyumpalkan onigiri itu pada mulutnya?"

Ia mengangguk. Aku tersenyum kecil. "Aku jadi ingin lihat wajahnya saat itu!"

"Kau pasti tertawa."

Saat itu pesanan datang. Kami makan dalam keheningan. Sesekali aku mengerling pada gadis yang ada di hadapanku. Rambut panjangnya yang ikal membuatku penasaran. Wajah manis dan bersahabat ini, siapa sangka bahwa ia adalah seorang pembunuh? Tak akan ada yang mengira bahwa gadis berkulit gelap ini adalah pembunuh bayaran di masa lalunya.

"Ngomong-ngomong, makanan kesukaanmu masih tak berubah kan?" tanya Runa memecah keheningan.

"Ya, masih tak menyukai steak..." jawabku singkat.

"Aku akan memasakanmu lagi kapan-kapan, jika aku tak ada kerjaan..." katanya, menjentikkan jari.

"Aku akan senang hati menerimanya," kataku mengangguk.

~oOo~

Normal POV

"Ah, kazekage dan Hokage-sama," sambut seorang jonin saat tak sengaja mendapati dua pemimpin desa tersebut masuk ke rumah makan yang sama dengannya. Beberapa jonin lainnya mengangguk takzim, memberi isyarat penghormatan pada kedua kage tersebut.

"Ah, kau rupanya. Ayo, lanjutkan saja makan siangmu!" Naruto tersenyum dengan senyum lima jarinya, sementara ia memilih tempat duduk. Ia duduk berhadapan dengan Gaara, memesan makanan. Saat itu tiba-tiba matanya tertuju pada gadis berambut panjang yang duduk berhadapan dengan seorang pria.

"Runa-san!"

"Ah, Tuan Hokage, dan Tuan kazekage juga..." Runa melongo. Sementara Itachi menoleh memandangi kedua pemimpin tersebut.

"Kau sudah sehat?" tanya Naruto, memberi isyarat pada Gaara agar duduk dengan Itachi dan Runa. Gaara mengangguk.

"Ah, iya aku sudah lebih baik...terima kasih telah membawaku ke rumah sakit..."

"Berterima kasihlah pada Gaara, ia yang menemukanmu tumbang di jalan..." Naruto menepuk bahu Gaara, tepat saat mereka duduk di meja yang sama dengan Runa dan Itachi. Naruto duduk di sebelah Itachi dan Gaara duduk di sebelah Runa.

"Ah, terima kasih Tuan Kazekage," Runa mengangguk pada Gaara, diiringi anggukan Gaara mengiyakan.

"Ia kabur dari rumah sakit," Itachi tersenyum tipis, dan seketika Runa melotot padanya.

"APA?" Naruto kaget. "Kenapa?"

"Aku khawatir pada Mia, tak ada yang mengurusnya...jadi aku kabur..." sahut Runa pelan.

"Mia...kucingmu?" tanya Naruto.

"Ah, jadi kucing peliharaanmu itu alasanmu..." Itachi mengangkat kedua alisnya, "Baiklah."

Gaara hanya tersenyum menimpali cerita Runa. Seorang gadis yang sangat penyayang, batinnya. Gaar kembali berpikir. Apa gadis ini benar-benar bisa ia jadikan calonnya nanti? Mengingat para tetua mulai mengomel tentang statusnya yang seharusnya sudah beristri karena ia adalah seorang Kazekage. Ah, dengan siapa ia harus menikah? Selama ia hidup, tak ada gadis yang benar-benar mencuri hatinya. Namun demikian, ia tak memungkiri, ada rasa yang tak biasa dengan gadis ini. Tapi mengingat Suna dan Konoha cukup jauh, tak mungkin ia bisa melakukan pendekatan dengannya secara terus menerus khan?

Sepertinya ia harus mencari cara, meski itu berarti ia membuka rahasianya sendiri.

"Kak Itachi, sepertinya kau akan langsung menggantikan Sasuke," kata Naruto. "Lagipula tampaknya teme rela dengan keputusanku."

"Aku paham," Itachi mengangguk.

"Sasuke sepertinya lebih setuju jabatannya beralih kepadamu," katanya lagi. "Ia mengakui bahwa kemampuanmu setingkat lebih tinggi darinya..."

"Sangat tidak Sasuke..." Itachi tercenung, "biasanya ia selalu berambisi mengalahkanku."

"Kedewasaan mungkin?" tanya Runa, mengangkat bahu.

Itachi mengangguk. "Mungkin."

"Naruto," panggil Gaara disaat mereka makan, "sepulang ini, ada hal penting yang harus kubicarakan denganmu."

"Hah?" Naruto melongo. "Baiklah."

"Para pemimpin memang selalu sibuk sendiri," Runa menimpali, tersenyum kecil pada Itachi. "Nah, Itachi-san, sebaiknya kita duluan saja bagaimana?"

"Ide bagus," Itachi mengangguk. "Kami duluan, Kazekage dan Hokage-sama."

Keduanya mengangguk. Kedua sosok itu berlalu.

Sasuke tercenung di sebuah atap rumah penduduk, menatapi kedua bayangan yang tak asing. Itachi dan Runa. Keduanya tampak mengobrol akrab. Sasuke menghela nafas. Kenapa perasaannya jadi tak enak? Padahal gadis itu telah mempermalukannya, lebih hebat darinya, dan selalu sok menasihatinya, tapi kenapa ia jatuh dalam pesona mantan kriminal tersebut? Sasuke menggeleng keras. Tidak-tidak, ia tak boleh mencintai gadis tersebut. Ia tak mau memiliki seorang istri yang bisa mengalahkannya. Ia tak mau kalah dengan seorang wanita.

Tapi hati, kenapa hatinya terasa sakit saat gadis itu bersama kakaknya?

Lalu bagaimana dengan Sakura, gadis yang selalu baik dan menunggunya dalam tangisan dan harapan selama bertahun-tahun?

'Hargailah wanita, karena ibumu juga seorang wanita.'

Ucapan Runa kembali terngiang di kepalanya. Selama ini ia memang tak menghiraukan Sakura. Ia sibuk diam-diam membayangkan Runa, tanpa sadar bahwa ada orang lain yang memperhatikannya. Tidak, kali ini ia tak boleh egois lagi. Tidak boleh. Sakura sangat baik...terlalu baik. Ia saja yang tak bisa melihat kebaikannya dan memenuhi pikirannya dengan bayangan gadis berambut ikal tersebut.

Tampaknya Itachi lebih cocok dengannya, batinnya tersenyum.

Sasuke meloncat, menuju rumah sakit Konoha.

Ia tak boleh egois, tidak lagi. Keegoisan hanya membuatnya semakin jatuh.

Ia harus mencoba mendekatkan dirinya pada Sakura.

Tapi sisi hatinya yang lain tak bisa berpaling begitu saja.

~oOo~

"Jadi, apa yang mau kau bicarakan padaku?" tanya Naruto pada Gaara saat mereka kembali ke kantor hokage.

"Hm...ini soal Runa..." sahutnya singkat.

"Ada apa dengannya?"

"Aku ingin tahu status gadis tersebut,"

"Lho, bukankah kau sudah tahu statusnya sebagai mantan kriminal ninja kelas S?"

"Bukan..."

Flashback

"Kau sudah cukup umur, Tuan Kazekage. Terlebih, kau adalah seorang pemimpin. Kau tak mungkin terus melajang," ucap salah seorang tetua.

"Aku belum memiliki calon dan tak tertarik pada siapapun..." sahutnya, dengan wajah dingin seperti biasa.

"Kalau Tuan Kazekage tak langsung menetapkan pilihan, maka kami yang akan mencarikan!"

"Apa?" Gaara memandang para tetua dengan tatapan tajam, sejenak mengambil nafas, berusaha mengendalikan emosi. "Aku akan memberitahu calon istriku jika waktunya sudah tepat."

"Baiklah, kami tunggu," sahut salah seorang tetua.

End Flashback

"Hah, jadi kau ditekan untuk memiliki calon istri segera?" Naruto melotot, kaget.

"Begitulah..."

"Bagaimana ya," Naruto melipat tangannya ke dada, berdiri di sebelah Gaara, memandang ke seluruh daerah penjuru Konoha dari jendela. "Yang kutahu ia memang tak dekat dengan pria manapun."

"Lalu, Itachi?"

"Tidak, tak mungkin. Runa tak menyukai klan Uchiha. Entah mengapa. Bagiku juga suatu kejutan saat melihat Runa makan bersama dengan kakak si teme tersebut."

"Tapi, aku merasa Runa memiliki perasaan pada Itachi..."

"Bukannya tidak mungkin, tapi aku tak bisa memastikan itu benar atau tidak...mereka baru saja saling kenal..."

"Berarti kemungkinan ia masih lajang?"

"Ya."

"Nah, kalau begitu, aku minta tolong padamu..." Gaara menarik tubuh Naruto agar berhadapan dengannya. "Jika ada misi untuk ANBU ke Suna, tolong kirimkanlah dia. Aku ingin melakukan pendekatan padanya."

"Ka-kau benar-benar menyukainya?" tanya Naruto, matanya membulat.

Gaara hanya memberikan pandangan tanpa ekspresi meski kedua pipinya merona.

"Yosh! Baiklah, serahkanlah padaku. Kau tenang saja, Gaara!"

~oOo~


Saya memang penulis yang buruk. Maaf atas keterlambatan update saya. Dan jangan nangis, saya tahu kalian kangen saya #digaplok

Campe Jumpah, Repiu ditunggu. *kiss bye*

Nggak nerima flame, saran ditunggu. Kritik boleh tapi yang membangun dan jangan pedes-pedes :3