Title : The Mad Baba
Main Cast : Xi Luhan – Oh Sehun
Rated : M (Mecuum)
Genre : Romance & Drama
Lenght : Chaptered
Warning : YAOI/ M-PREG!/ DLDR/ Typo(s)/ its HUNHAN AREA! SIDERS AND HATERS ARE NOT ALLOWED!
.
.
.
YO! I'm right here again
I'm drop the Hunhan Fict BL
The new revolution just started again..
.
.
Previous chapter
"Spoiler Byun." Dengus Kyungsoo.
"Siapa yang akan menikah?" tanya Luhan.
Sehun bersungut kesal dan melirik Baekhyun dengan tajam.
"Kita, sayang." Jawab Sehun. Ia menggenggam tangan Luhan dan memandang tepat ke dalam bola mata rusa milik Luhan. "Xi Luhan, menikahlah denganku!"
.
.
.
EPILOGUE -
Luhan hanya mampu terperangah. Ia merasa seperti tengah bermimpi dalam tidur indahnya.
"Baekhyun, tolong pukul aku."
Baekhyun memutar mata seraya mendegus jengah.
"Ayolah, Luhan! Berhenti memintaku untuk memukulmu, aku tidak mau merusak wajah cantikmu ini dihari pernikahanmu."
Luhan kembali menatap Baekhyun, dengan airmata tergenang di pelupuk matanya.
"Dan apa kubilang dengan berhenti menangis, Luhan? matamu sembab." Baekhyun menghapus airmata Luhan dengan secarik tisu yang berhasil dijangkaunya. Baekhyun mengulas senyum lembut. "Aku selalu berdoa dan bertanya-tanya kapan kiranya kau akan bahagia Luhan, dan kurasa kini Tuhan telah membalas doaku. Berbahagialah, Luhan!"
Bukannya berhenti menangis, Luhan justru semakin terisak dan menarik Baekhyun kedalam pelukannya.
"Baekhyun.." lirih Luhan disela-sela isakannya. Baekhyun ikut menangis tapi dengan cepat ia kembali menguasai dirinya.
"Luhan, berhenti menangis. Sehun sudah menunggumu." Heechul berkata saat memasuki ruang ganti dan menemukan Luhan tengah berpelukan bersama Baekhyun. Heechul kembali membenahi tampilan Luhan, Baekhyun pun membenahi tampilan dirinya.
"Aku akan menunggumu disana bersama Chanyeol, Lu."
"Baiklah, Baek. Selamat untuk kalian dan segeralah menyusulku."
"Terimakasih, Luhan."
"Yifan akan datang sebentar lagi." Heechul berkata dengan seulas senyum. "Rasanya baru kemarin aku menggendongmu dan sekarang aku akan melepasmu pergi, Luhan."
"Mama..."
"Sulit dipercaya jika selama ini kau memang terikat dengan Sehun. Masih ingat anak laki-laki yang memberimu setangkai mawar hasil curiannya ditaman milik Bibi Ahn? Aku baru sadar jika anak itu adalah Sehun." Heechul bercerita sambil tersenyum sementara Luhan terlihat terkejut. "Aku menyayangimu, Luhan. Maafkan mama bersikap keras padamu hingga membuatmu harus mengalami semua kesulitan ini."
"Tidak, ma. Aku memang pantas untuk dihukum. Akulah yang seharusnya meminta maaf."
Heechul tersenyum kembali. "Berbahagialah, Luhan. Aku tahu Sehun adalah orang yang tepat untukmu. Melihatnya menatapmu cukup membuatku tahu sebesar apa dia menyayangimu. Dan aku juga melihat itu didalam matamu, Luhan."
Pembicaraan ringan mereka terhenti kala Yifan datang, Heechul pamit dan berkata akan menunggu Luhan bersama yang lain di hallroom.
"Yifan.." Luhan berdiri dan merangsek kedalam pelukan Yifan.
"Heii, heii.. kau tahu, jika Sehun melihatmu memelukku, dia pasti akan memukulku." Yifan bergurau, tapi tangannya dengan sigap segera membalas pelukan erat Luhan pada tubuhnya.
"Yifan.."
"Hmm?"
"Aku merindukanmu.."
Yifan mendekap Luhan lebih erat lagi. "Aku lebih merindukanmu, Luhan. Maafkan aku, Luhan. Aku menyesal telah begitu keras padamu." Luhan menggeleng.
"Aku pantas mendapatkannya, Yifan."
Yifan melepas pelukan keduanya lalu menatap Luhan yang juga tengah berkaca-kaca. "Jangan menangis." Ucapnya halus. "Kau harus berbahagia, Luhan." Yifan mengecup kening Luhan dengan mengucapkan doa dalam hati untuk adik tersayangnya, sementara Luhan tersenyum dan memejamkan matanya.
"Aku menyayangimu, Yifan."
"Aku lebih menyayangimu, Luhan."
.
.
.
Pintu hallroom terbuka dengan lebar, membuat para tamu undangan berdiri menyambut mempelai pria yang tak lain adalah Luhan. Luhan tampil anggun dan elegan dalam balutan jas putih, dirinya seolah bersinar terutama dimata Sehun yang tengah menunggunya didepan podium dengan tampilannya yang tak kalah menawan.
Luhan berjalan memasuki altar pernikahannya dengan sesekali mengeratkan genggamannya pada Yifan, kentara sekali jika ia tengah gugup. Di langkahnya yang ketujuh dan Luhan merasa ingin kabur saat itu juga, ia menatap kedepan tepat kearah Sehun yang tengah tersenyum lembut padanya. Dan dengan ajaibnya, Luhan merasa begitu tenang hingga tanpa sadar langkahnya mantab hingga tepat dihadapan Sehun.
"Kuserahkan Luhan padamu, Sehun. Jaga dia dengan hidupmu." Titah Yifan pada Sehun membuat Luhan tersadar.
"Pasti." Sebuah kata yang singkat namun penuh kesanggupan didalamnya. Dengan satu kata itu, Yifan menyerahkan Luhan kepada Sehun dan berlalu.
"Hadirin sekalian, kita berada disini untuk menyaksikan penyatuan antara Oh Sehun dengan Xi Luhan." Sang Pastor memulai. Baik Sehun maupun Luhan saling menatap dalam selama pemberkatan. Sehun terlihat sangat tampan dimata Luhan hingga Luhan terkadang tersenyum sendiri saat menatapnya. "Tolong ulangi setelah aku." Pastor menatap kearah Sehun yang kemudian mengangguk dan kembali menatap Luhan.
"Aku Oh Sehun, mengambilmu Xi Luhan. Untuk memiliki dan terus menjagamu, saat bahagia maupun sedih, saat kaya maupun miskin, saat sakit maupun sehat. Untuk mencintaimu,untuk membahagiakanmu, selama kita berdua masih hidup, hingga maut memisahkan kita."
"Aku menerimamu, Oh Sehun." Luhan menjawabnya segera setelah Sehun selesai.
"Dan kau Xi Luhan, tolong ulangi setelah aku." Pastor menghadap Luhan.
"Aku Xi Luhan, mengambilmu Oh Sehun. Untuk memiliki dan terus menjagamu, saat bahagia maupun sedih, saat kaya maupun miskin, saat sakit maupun sehat. Untuk mencintaimu,untuk membahagiakanmu, selama kita berdua masih hidup, hingga maut memisahkan kita."
"Aku menerimamu, Oh Luhan." Jawab Sehun segera setelah Luhan mengakhiri ucapannya. "Aku mencintaimu, Luhan."
"Aku juga mencintaimu, Sehun."
Dan keduanya mempertemukan kedua belah bibir masing-masing dalam suatu penyatuan yang manis, sakral dan penuh dengan cinta.
.
.
.
Bangun dengan menyandang gelar 'Oh' nyatanya cukup membuat Luhan tersipu di pagi hari. Bahkan saking tersipunya, Luhan harus membasuh wajahnya berulang kali dikamar mandi. Gerakannya mungkin takkan terhenti, jika saja sebuah tangan tak menghentikan kegiatannya tersebut.
"Kau bisa melukai dirimu, sayang."
Ohhh dan panggilan sayang itu justru membuat Luhan meleleh hingga ingin menceburkan saja dirinya kedalam sumur terdekat. Tubuhnya menegang kilas saat dengan tiba-tiba Sehun memeluknya erat dari belakang dan membisiki telingannya kata-kata cinta.
"Se-sehun.." Luhan melenguh pelan kala bibir Sehun mengecupi lehernya. Tanggannya yang semula mendekap Luhan juga sudah berpindah masuk kedalam baju yang Luhan kenakan dan membelai permukaan kulit halus Luhan.
"Aku meminta jatah malam pertamaku yang tertunda karena kau jatuh tertidur, Lu." Suara Sehun terdengar serak nan seksi. Malam pertama mereka memang tertunda karena Luhan yang kelelahan jatuh tertidur segera setelah ia membersihkan dirinya. Luhan yang memang menginginkan kegiatan ini pula hanya pasrah menerima segala belaian dari Sehun.
Sehun menangkap lampu hijau yang Luhan berikan, dengan segera ia balikkan tubuh Luhan menghadapnya. Bibir Luhan adalah hal yang menarik perhatian dan sangat sayang baginya untuk dilewatkan. Pagutan itu semakin dalam kala lidah Sehun dengan lihai membelit lidah Luhan dan mengajaknya untuk beradu sebentar. Melepas bibir Luhan untuk memberinya kesempatan meraup udara, Sehun beralih menuju leher Luhan dan membubuhkan tanda kepemilikannya disana.
Tubuh keduanya polos tanpa sehelai benang pun, tapi bukan dingin yang terasa melainkan panas. Panas karena gairah masing-masing yang berteriak meminta untuk segera dipuaskan. Sehun membalik lagi tubuh Luhan lalu mengecupi punggung hingga tulang ekornya semabri sesekali menggigitinya hingga timbul warna keunguan dibeberapa bagian. Luhan memposisikan dirinya setengah merunduk dengan kedua tangannya mencengkeram pinggiran wastafel dengan erat. Ia menatap kedepan, kearah kaca yang menampilkan wajah rupawan Sehun yang juga tengah menatapnya. Hal ini justru membuat keduanya terangsang, hingga bahkan penis Sehun telah membengkak pada ukuran masksimal.
"Meludahlah, Lu." Pinta Sehun membawa tangannya menengadah tepat didepan bibir Luhan. Bukannya meludah Luhan justru membalikkan badannya dan bersimpuh hingga kini wajahnya tepat berada didepan penis Sehun yang tengah ereksi. Tanpa babibu, ia segera melesakkan penis Sehun kedalam mulutnya hingga membuat Sehun menggeram. Ia manjakan penis Sehun dengan mulutnya, sesekali ia akan membeli dengan lidahnya dan bahkan mengocok sisa penis Sehun yang tak dapat tertampung didalam mulutnya bersama dengan kedua bola kembarnya dengan kedua tangannya. Sehun mendesah akan aksi Luhan dan hendak meledakkan spermanya namun dengan sigap ia membawa Luhan berdiri hingga kuluman penisnya terlepas.
"Aku ingin keluar didalam lubangmu, sayang." Jelas Sehun saat Luhan menatapnya tak mengerti. Luhan tersenyum dan segera membalikkan tubuhnya, kembali pada posisi awalnya.
'JLEB!'
"Ahhh..."
"Nghhh.."
Desah keduanya bersahutan saat penis licin Sehun melesak kedalam rektum Luhan. Sehun menunggu beberapa saat agar rektum Luhan tak begitu berkontraksi sembari menikmati hasil kontraksi itu sendiri yang membuat penisnya seraya dipijat-pijat. Setelah mendapatkkan sebuah anggukan dari Luhan, Sehun bergerak menumbuk rektum Luhan berulang kali. Desahan, suara becek dan kecipak keduanya terdengar bersahutan didalam kamar mandi kamar pribadi Sehun. Keduanya sama-sama merangsek nikmat ditengah penyatuan. Gerakan Sehun semakin tak terkendali, dengan brutal ia mengoyak rektum Luhan hingga pada tiga tusukan terakhir berhasil menghantarkan keduanya pada klimaks yang sangat menyenangkan.
"Love you.."
.
.
.
Sehun dan Luhan turun saat matahari tengah berada dititik tertingginya. Keduanya disambut oleh sapaan riang Ziyu, senyum hangat Heechul dan Sungmin, juga siulan-siulan nakal dari Chanyeol dan Jongin yang lebih ditujukan kepada Sehun.
"Appa!"
"Hey, jagoan!" Sehun menyambut uluran tangan Ziyu dan menggendongnya.
"Baegopa (lapar)..." Rengek Ziyu digendongan Sehun.
"Anak appa lapar, heum?" Sehun bertanya setelah mengecup pipi gembil Ziyu. Ziyu mengangguk.
"Ayo kita makan bersama." Ajak Sungmin yang diangguki oleh mereka disana.
Saat hendak berjalan menuju kursinya, Baekhyun dengan sengaja menepuk pantat Luhan dengan keras.
"Arrrgh!" Luhan dengan reflek berteriak karena sakit.
"O..ow.. sepertinya Sehun terlalu kasar padamu, Lu." Baekhyun kemudian tertawa dan melakukan tos bersama Kyungsoo yang juga tertawa lepas karena berhasil mengerjai Luhan. Sementara Sehun dengan segera membantu Luhan dan meminta maaf.
"Ma, dimana baba dan Yifan?" Luhan bertanya saat tak mendapati baik Hangeng maupun Yifan dikursi yang biasa mereka gunakan.
"Mereka ada keperluan, Lu. Jadi mereka tak akan ikut makan siang bersama." Jawab Kyuhyun.
Selepasnya mereka makan dengan tenang.
.
.
.
"Sulit dipercaya kita sekarang menjadi besan." Heechul berkata sambil menatap Sungmin.
"Kau benar, hyung. Aku bahkan lebih tidak percaya lagi jika Luhan adalah puteramu. Kalian sangat berbeda kecuali wajah kalian yang sama-sama cantik." Sungmin terkekeh jahil diakhir cerita membuat wajah Heechul berubah masam.
"Kalian saling mengenal?" Sehun bertanya tak paham.
"Heechul hyung dan aku dulu berada disatu sekolah mulai dari SD. Kami berdua sama-sama saling bersaing dalam segala hal terutama prestasi. Tapi bukan berarti kami bermusuhan, kami hanya berusaha sebaik mungkin dalam segala hal." Sungmin menjelaskan. Mereka pun kembali bernostalgia, menceritakan masa lalu mereka dan sesekali bercanda. Mereka berhenti kala mendapati Ziyu menguap dengan lebar. Secepat kilat Heechul dan Sungmin berlari kearah Ziyu dan menawarkan kepada anak berusia 3 tahun itu untuk menemaninya tidur. Keduanya saling mengiming-iming Ziyu agar mau mengikuti salah satu dari mereka.
"Baba!"
Adalah pilihan Ziyu, karena sesayang apapun Ziyu kepada kedua neneknya, Luhan adalah tempatnya kembali.
.
.
.
1 Tahun Kemudian
Banyak yang terjadi dalam satu tahun belakangan ini. Yifan telah kembali ke Cina untuk meneruskan bisnis ayahnya, dan akan sesekali kembali ke Korea untuk menengok Luhan dan orang tuanya. Sementara Kyuhyun dan Hangeng sepakat untuk membeli kompleks perumahan didekat rumah mereka yang mana mereka hadiahkan kepada Sehun-Luhan, Chanyeol-Baekhyun yang baru saja meresmikan hubungan keduanya dan juga Jongin-Kyungsoo yang ikut menyusul setelah enam bulan berpacaran.
Luhan sangat senang akan hadiah ayah dan mertuanya, karena selain mereka bisa berdekatan, ia tak perlu kuatir dengan Ziyu. Luhan hanya sedikit was-was karena maraknya kasus penculikan anak akhir-akhir ini. Ziyu sudah mulai bersekolah di taman kanak-kanak yang tak jauh dari kompleks perumahan mereka. Baekhyun dan Kyungsoo masih sesekali bergilir menjaga Ziyu disaat Luhan dan Sehun tengah sibuk. Atau ada pula Heechul dan Sungmin yang juga masih berebut untuk mendampingi Ziyu karena tak mau melewatkan pertumbuhan cucu pertama mereka. Luhan tersenyum saat mengingatnya, dan menyadari jika banyak yang sangat menyayangi Ziyu.
Luhan mengernyit saat mendapati rasa mual hingga ia berlari menuju wastafel didapur, area yang dekat dengan tempatnya berdiri saat ini. Ia mulai memuntahkan segala yang tadi ia makan, hingga kepalanya berkunang-kunang. Tubuhnya lemas hingga ia hanya mampu bersandar, hal terakhir yang ia ingat adalah suara Yifan meneriakkan namanya sebelum semuanya berubah gelap.
.
.
.
"Yifan?" Luhan terbangun saat merasakan sakit di tenggorokannya. Yifan dengan sigap mengambilkan air minum untuknya. "Yifan, apa yang terjadi padaku?" Luhan bertanya saat mendapati tangannya diinfus.
"Kau dehidrasi, Luhan." Yifan mengusap sayang rambut madu milik Luhan.
"Astaga! Ziyu, aku harus menjemput Ziyu!" Luhan memekik dan hendak turun dari ranjang, namun Yifan dengan sigap mencegat tindakan Luhan.
"Sehun yang menjemput Ziyu, Lu. Mereka sedang dalam perjalanan kemari." Yifan menjelaskan. Dia menatap Luhan dengan seulas senyum yang membuat Luhan mengernyit.
"Ada apa, Yifan? Kenapa kau menatapku dan tersenyum seperti itu?"
"Karena aku sedang berbahagia, Luhan."
Kerutan di dahi Luhan semakin dalam, namun Yifan hanya terkekeh ringan menanggapinya seolah membiarkan Luhan penasaran. Luhan hendak bertanya kembali namun Sehun dan Ziyu datang menginterupsi.
"Baba!"
"Ziyu.." Luhan tersenyum. "Bagaimana sekolahmu?"
"Menyenangkan, hali ini Ziyu belajal mewalnai."
"Ziyu, ayo ikut paman keluar." Yifan mengajak Ziyu yang langsung dianggukinya. Yifan pun meninggalkan Sehun dan Luhan.
"Sayang, bagaimana keadaanmu? Apa kau masih merasa mual dan pusing?" Sehun bertanya sembari mendudukkan dirinya didekat Luhan. Luhan menggeleng. Sehun pun beralih menunduk dan menatap perut datar Luhan yang tertutup baju. "Lalu bagaimana denganmu, sayang? Cepatlah tumbuh sehat dan jadilah jagoan appa." Sehun tersenyum dan mengusap perut Luhan. Luhan mengernyit bingung namun sedetik kemudian matanya membulat.
"SEHUN? A-AKU HAMIL?" Luhan bahkan tanpa sadar berteriak, matanya juga berkaca-kaca. "Sehun jawab aku, cepat!" Pintanya seraya menggoyang-goyang tangan Sehun.
"Benar, kau hamil, sayang. Tiga minggu dan dokter berkata kau tidak boleh terlalu lelah. Yifan sedang keluar untuk mengambil obatnya."
Setelahnya Luhan dan Sehun saling berpelukkan. Keduanya tak dapat memungkiri rasa bahagia yang datang. Jika boleh dikata, mereka telah menanti kehadiran jabang bayi ini sejak delapan bulan yang lalu. Dan mereka sangat bersyukur karena bayi tersebut sekarang tengah tumbuh dalam perut Luhan.
"Baba, apa Ciyu akan punya adik? Paman Yifan belkata Ciyu akan punya adik."
Sehun yang melihat kedatangan putera mereka segera mengangkat tubuhnya dan menempatkan Ziyu dalam pangkuannya.
"Ya, sayang. Kau akan punya adik yang sangat tampan. Apa Ziyu senang?" Sehun bertanya. Ziyu mengangguk dengan antusias.
"Sehun, bagaimana jika dia perempuan?" Luhan bertanya karena sejak tadi Sehun selalu mengatakan jika bayi mereka kelak laki-laki.
"Aku punya feeling yang kuat, Lu. Feeling antar lelaki." Sehun membanggakan diri. Luhan cemberut.
"Lalu kau pikir aku ini perempuan?"
Dan dengan itu Luhan sama sekali tidak mau melihat Sehun selama dua bulan kedepan, membuat Sehun terlihat sangat lesu dan bersalah.
Dua Bulan Kemudian
Sehun memberengut, menatap Luhan yang tengah bermanja-manja dengan Yifan. Di kehamilan Luhan yang kedua ini sungguhlah menyiksa Sehun. Entah karena Luhan masih marah atau memang murni karena emosional kehamilannya, Luhan menolak untuk berdekatan dengan Sehun. Luhan menjadi manja dan merengek untuk tetap berada didekat Yifan, hingga bahkan Yifan memutuskan untuk menetap di Korea Selatan dan menugaskan asisten kepercayaannya untuk menggantikannya bekerja di China.
"Appa cedih?" Ziyu bertanya pada Sehun yang tengah terduduk dan menatap Luhan dari kejauhan. Sehun beralih menatap puteranya dan menarik seulas senyum.
"Babamu tidak mau bersama appa. Appa rindu baba." Sehun mengatakannya sembari menatap Ziyu yang berada dipangkuannya. "Tapi tidak apa-apa, appa masih punya Ziyu." Sehun menambahkan sembari mengecup kedua pipi Ziyu.
Ziyu menatap Sehun lalu memandang kearah Luhan yang masih dengan setia merajuk didekat Yifan.
"Appa lelah, ingin tidur. Apa Ziyu mau tidur bersama appa?" Sehun bertanya karena tak dapat dipungkiri, beban pekerjaannya membuatnya harus segera merilekskan diri.
"Ciyu belum mengantuk, appa. Ciyu akan tidul belcama paman Yifan nanti."
Sehun mengangguk mengerti lalu menurunkan Ziyu dan segera berlalu kedalam kamarnya. Sementara Ziyu dengan segera berlari ke arah Luhan yang langsung menyambut kedatangannya.
"Baba.." lirih Ziyu meminta perhatian Luhan. "Appa cedang cedih, appa cakit. Appa lindu baba." Terang Ziyu membisikkan perkataannya ditelinga Luhan, kemudian memandang Luhan. "Adik Ciyu juga lindu appa." Tambahnya kemudian setelah mendekatkan telinganya diperut Luhan yang mulai membuncit. Luhan tiba-tiba merasakan sesuatu memukul dadanya dan dia menangis malam itu.
.
.
.
Terbangun karena sesuatu yang basah merangkap penisnya bukanlah sesuatu yang Sehun inginkan. Dia dengan tergesa membuka selimut dan mengangkat tubuh atasnya untuk melihat siapa yang berani menyentuh milik Luhan. Ia sudah menyiapkan segala bentuk makian, namun saat melihat siapa sosok yang tengah mengulum penisnya ia terdiam, terkejut.
"Luhan?" tanyanya memastikan. Ia bahkan mengucek matanya lagi untuk memastikan penglihatannya. Diliriknya jam dinding yang masih menunjukkan pukul empat pagi.
"Hmm?" Luhan menggumam membuat Sehun mengumpat dalam hati, karena getaran suara Luhan seperti merambat dan menyentuh penisnya yang kemudian terbangun ereksi.
"L-lu..ahh.." Sehun mendesah keenakan kala Luhan memompa penisnya dan sesekali menggigiti. Tak lama kemudian ia keluar didalam mulut Luhan. Cairan spermanya bahkan membasahi sekitar mulut, dagu hingga leher Luhan. Sehun menetralkan nafasnya yang terengah pasca orgasme. "Luhan, apa yang kau lakukan?"
"Aku baru saja mengoral penismu." Jawab Luhan apa adanya membuat Sehun menggeram karena ini pertama kalinya Luhan berkata kotor padanya.
"Ya, aku tahu. Maksudku apa yang kau lakukan sepagi ini dan yeah kau tahu.."
Luhan dengan tiba-tiba merangkak ke arah Sehun dan menempatkan dirinya duduk diselakangan Sehun. Pantatnya menghimpit penis Sehun yang perlahan mulai menegang kembali karena bersentuhan dengan kulit Luhan. Sehun bahkan baru menyadari jika Luhan tak memakai sehelai apapun, sedang dirinya hanya memakai kaos singlet miliknya.
"Sehun.." Luhan menunduk. "Maafkan aku. Aku mendiamimu dalam waktu yang cukup lama. Aku merindukanmu, Sehun." Ungkap Luhan sembari menenggelamkan kepalanya diceruk leher Sehun. "Bayi kita juga rindu appanya." Tambah Luhan. Sehun menghela napasnya.
"Jadi apa kau sudah tidak marah lagi padaku?" Sehun bertanya dengan lembut sembari menangkup wajah Luhan dan memintanya untuk menatap Sehun. Luhan menggeleng. "Jangan mendiamiku lagi, Lu. Aku sangat tersisksa dan aku juga sangat merindukanmu." Sehun memeluk Luhan dan mengecup surai madu Luhan. Keduanya saling berpelukan dalam waktu lama menyalurkan perasaan rindu masing-masing, saling meresapi aroma pasangan masing-masing.
"Luhan?"
Sehun bertanya dengan nada terkejut saat dengan tiba-tiba Luhan melepas pelukannya dan mendorongnya untuk tertidur. Tak hanya itu, dengan tiba-tiba Luhan memundurkan pantatnya, dan meremas penis Sehun dengan kuat membuat Sehun melenguh antara kesakitan dan nikmat. Tak butuh waktu lama penis Sehun kembali mengeras dengan lelehan precum. Luhan meludahi tangannya dan membalurkan air liurnya dipermukaan penis tegak Sehun. Sehun hanya terdiam, terlalu terkejut dengan tingkah agresif Luhan.
'JLEB!'
"Argghh..nghh.."
Keduanya menggeram, menikmati saat-saat yang memabukkan bagi keduanya. Setelah cukup lama tak berhubungan badan, keduanya merasa rindu akan sentuhan masing-masing.
"Luhan..nggh..bayi kita.."
"Sssshh.. aku sudah bertanya jika ini aman dilakukan selama gerakan kita tidak terlalu kasar dan brutal." Luhan menjelaskan sembari menaik-turunkan tubuhnya. Membiarkan penis Sehun membobol lubangnya dengan gerakan teratur dan hati-hati.
"Ahhh..oohh..shit!" Sehun meracau merasakan nikmat saat rektum sempit Luhan seperti menjepit penisnya dan memberikan pijatan disetiap bagian penisnya.
"AHH!" Luhan memekik kala ujung kejantanan Sehun menumbuk titik manisnya didalam sana. Ia gerakkan berulang kali penis Sehun agar menumbuk titik tadi. Beberapa tusukan kemudian, Luhan berhasil keluar dengan terengah. Sperma miliknya mengotori perut dan dada Sehun, sebagian mengalir jatuh meresap kedalam seprai mereka.
Sehun menikmati masa orgasme Luhan yang juga memberikan kenikmatan tersendiri untuknya. Rektum Luhan yang berkedut-kedut memberikan sensasi memabukkan untuknya. Dirasa cukup ia membalikkan posisi. Membaringkan Luhan dibawahnya dengan hati-hati dan bergerak menghujam penisnya kembali untuk menuntaskan miliknya.
"Sehun..nghh.. keluarkan diluar.." Luhan meminta, Sehun menghentikan gerakannya dan menatapnya tidak setuju. "Aku ingin mandi sperma milikmu, Sehun. Kumohon, keluarkan diluar. Basahi tubuhku dengan spermamu." Luhan menambahkan.
"SHIT!" Sehun mengumpat dan kemudian bergerak kembali, saat dirasa akan keluar ia mencabut penisnya dan menyiramkan sperma miliknya ketubuh Luhan. Luhan dibawahnya menerima semburan sperma Sehun dengan senang hati. Ia bahkan ikut membalurkan cairan Sehun keseluruh permukaan wajah dan badannya terutama perutnya. Beruntung, Sehun selalu keluar dengan takaran yang cukup banyak. Luhan bahkan sesekali akan mengeluarkan lidahnya dan menjilat-jilat.
Sehun melihat pemandangan didepannya. Luhan yang polos dengan kilatan sperma miliknya diseluruh tubuhnya.
"Sehun, aku ingin spermamu lagi." Luhan merengek. Sehun kembali mengeras hanya dengan kata-kata Luhan. Ia hendak menghujamkan kembali penisnya dilubang Luhan, namun Luhan dengan cepat merapatkan kakinya. "Tidak, Sehun! Aku ingin mandi sperma dari hasil permainanmu sendiri. Aku ingin melihatmu mengurut penismu sendiri, mengocok penismu lalu menyemburkan spermamu padaku saat kau keluar. Itu yang dinamakan mandi sperma, dan aku ingin itu." Luhan dengan nada tak terbantahkannya mengeluarkan ultimatum yang membuat Sehun meringis. Karena sejak mandi sperma pertama mereka, Luhan akan terus memintanya bahkan disiang hari saat Sehun hendak melakukan meeting. Dan itu berlangsung selama tiga bulan kehamilannya. Poor Sehun...
