.
QUENDI
EXO © SMent & themselves
The Silmarillion © J. R. R. Tolkien
How To Train Your Dragon © DreamWorks
Cast:
Kim Jongin
Oh Sehun
Genre: adventure, fantasy, drama, romance, dll.
Warning: Shounen-ai, Fantasy/adventure gagal, OOC, misstypo(s), AU, dll.
SEPERTINYA MISSTYPO KALI INI LEBIH BANYAK DARI BIASANYA! BESOK GUE EDIT LAGI KALO ADA WAKTU! /soksibuk /dzig
DON'T LIKE? DON'T READ!
.
.
Bisa sambil dengerin lagu Unravel-nya TK from Ling
Jongin tidak tahu lagi harus bagaimana, keringat dingin terus mengucur di dahinya. Kedua tangannya yang terborgol- eh bukan, tapi terpasung oleh kayu itu kini terasa kebas. Suasana panas di tengah arena latihan itu terasa benar-benar menusuk kulitnya.
Tenggorokannya terasa kering, sulit untuk meneriakkan kalimat penyanggahan atas tuduhan yang dilayangkan padanya.
Dia bisa melihat Sehun yang berdiri gelisah dan wajah penuh kekhawatiran di atas sana. Ya, dia kini sedang berlutut di tengah-tengah arena latihan, dan semua orang mengerumuni di tempat untuk menonton. Sumpah ini saat-saat yang sebenarnya sangat menegangkan, tapi perutnnya terasa melilit karena kebelet pipis.
Dua orang berbadan kekar yang masing-masing membawa pedang berdiri di sebelahnya, mengawalnya.
"Katakan yang sebenarnya apa tujuanmu!"
Teriakan dari kepala desa─atau bisa dia sebut calon ayah mertua─menggelegar di arena latihan itu. dia sampai bergidik ngeri baru kali ini mendengar suara semengerikan itu.
"Jawab!"
Sungguh dia ingin pingsan saja karena ketakutan dan kebelet pipis. Dia mau menjawab apa memangnya? 'Menikahi Sehun'? Duh bisa-bisa dia langsung dipenggal di tempat, tapi tidak menjawab pun sepertinya dia akan tetap dipenggal. Serba salah kan jadinya?
"Kau memanfaatkan anakku untuk masuk ke desa kan?!"
Jongin menggeleng-geleng kuat, terlalu takut untuk menjawab dengan mengeluarkan suara. Banyaknya mata yang kini tengah menontonnya pun sudah membuatnya gugup setengah mati.
Dilihatnya Sehun tengah menatapnya khawatir sambil mencengkeram besi yang menjadi penghalang antara arena dan bangku penonton. Melihat tatapan khawatir itu sedikit membuatnya tenang, setidaknya masih ada yang peduli padanya saat ini.
"Aku..." akhirnya dia kembali menemukan keberaniannya untuk menjawab. "... hanya tidak sengaja tersesat di dunia ini!" jawabnya dengan keras agar kepala desa yang masih berdiri angkuh di atas sana dapat mendengarnya.
"Pembohong!"
BRAAKK!
Suasana semakin mencekam karena pukulan keras yang dilakukan oleh ayah Sehun pada jeruji besi.
"Katakan sejujurnya! Kau yang berniat mencuri kekuatan jahat Melkor kan?!"
Kali ini suara senyap seketika, sebelum suara bisik-bisik kembali menggaung dan terdengar lebih keras dari sebelumnya.
"Tidak! Aku bahkan tidak mengerti apa itu Melkor! Yang kutahu, aku tiba-tiba saja tertarik ke dimensi ini!" jawabnya lagi, si kepala ras itu terlihat marah akan jawabannya. Dan bisa dilihatnya Sehun yang menyeruak keluar dari kerumunan dan menghilang entah kemana. Mau kemana kau Sehun? Satu-satunya orang yang ingin dilihatnya terakhir kali adalah kau, Sehun.
"Lalu kenapa guci penyegel di kuil pecah begitu saja?! Tidak ada quendi yang bisa menyentuh guci itu!"
Jongin menelan ludahnya susah payah sebelum menjawab, "Aku tidak sengaja."
Dan setelah itu terdengar keributan dari semua quendi yang menonton disana. Dia hanya menunduk berusaha tidak mendengarkan tuduhan-tuduhan yang diarahkan padanya.
"DIAAAM!" terdengar teriakan ayah Sehun lagi, dan suasana kembali senyap setelah itu hanya terdengar bisikan-bisikan kecil yang samar. "Maksudmu kau yang memecahkan guci itu, hah?!"
"Ya, dan itu tidak sengaja . Itu juga karena... karena aku terpeleset!" jawabnya asal, tidak mungkin kan dia menjawab semua itu karena Toothless yang menyenggolnya waktu itu? Bisa-bisa mereka menayanyakan tentang Toothless.
"Sekarang katakan dimana kau menyembunyikannya!"
"Aku tidak tahu! Benda itu menghilang tiba-tiba dan aku pingsan, sungguh aku tidak mengerti apa-apa."
"Katakan!"
"Aku bilang aku tidak tahu─"
"Cepat penggal dia!"
"Haa? Hey, tunggu-tunggu! Aku sudah menjelaskan semuanya dan kalian tetap akan membunuhku? Oh tidakkah kalian terlalu kejam?" ujarnya karena panik apalagi saat dua orang yang ada di sebelahnya mulai mengeluarkan pedang yang siap memenggal kepalanya. Oh sial, apa nyawanya akan melayang begitu saja?
"TUNGGU!"
Satu hembusan napas lega keluar dari mulutnya saat mendengar seruan Sehun itu. Apalagi saat melihat Sehun yang masuk ke arena juga. Dilihatnya Sehun yang kini berdiri di hadapannya, menghadap ke ayahnya sendiri.
"Apa yang kau lakukan disana, Sehun?!" ayah Sehun kembali berujar tidak percaya pada tindakan anaknya sendiri.
Jongin tidak bisa melihat ekspresi Sehun karena quendi itu tengah membelakanginya.
"Dengar ayah, kurasa ini semua salahku..."
"Apa?!"
Jongin membulatkan matanya mendengar perkataan Sehun. Tidak tidak! Sehun jangan katakan atau kau juga akan terkena hukuman karena dirinya!
"Aku yang menemukan Jongin waktu itu..."
Oh sungguh Jongin merasa dirinya seolah seekor anjing saat ini.
"Seharusnya aku langsung membunuhnya di tempat... tapi aku tidak bisa!" lanjut Sehun dengan suara mantap, membuatnya terharu dan tersentuh karena kata-kata Sehun itu. "Seperti apa yang ayah katakan... aku memang lemah!"
"Sehun, ayah tidak─"
"Aku tidak bisa membunuhnya yang terluka waktu itu. Kupikir setelah dia sembuh aku bisa membunuhnya... tapi ternyata aku tetap tidak bisa membunuhnya!"
Sehun, tidak bisakah gunakan kata-kata yang lebih manusiawi? Dia benar-benar merasa seperti anjing chihuahua saja.
"Kenapa Sehun?"
"Sebenarnya... kenapa kita membenci manusia?! Jongin jauh dari apa yang selalu ayah katakan padaku! Dia tidak berniat jahat dan mengambil alih Valinor, dia bahkan sangat lemah dan menangkap ikanpun tidak bisa!"
Dia benar-benar menghargai Sehun yang membelanya kau tahu? Tapi kalimat terakhir itu sungguh membuatnya tertohok, tapi yasudahlah... lagipula Sehun itu calon istrinya.
"Menyingkir dari sana Sehun! Kau tidak mengerti apapun!"
"TIDAK! Ayah yang tidak mengerti disini! Aku sudah mengenal Jongin beberapa hari ini... dia sungguh tidak seperti apa yang ayah bayangkan! Dia hanya... hanya sedikit bodoh dan mesum, kurasa. Tapi dia benar-benar tulus saat mengatakan ingin melindungiku!"
"Cepat singkirkan Sehun dari sana dan bunuh manusia itu!"
Perintah itu membuatnya menegakkan punggungnya dan waspada, tapi dia melihat Sehun yang mengeluarkan pedangnya dan menghunuskan ke arah prajurit yang berusaha membunuhnya.
"Jangan menyentuhnya atau kupotong tanganmu!" gertak Sehun pada dua quendi berotot itu. Sial, Sehun kau sungguh membuat hatinya merasa berbunga-bunga saat ini.
Dua quendi itu terlihat ragu dan mundur dua langkah, tidak berani melawan Sehun. Hah, dasar penakut! Malu sama badan dong!
"SEHUN MENYINGKIR DARI SANA ATAU AYAH YANG AKAN MENYERETMU PAKSA!"
"Coba saja!" tantang Sehun berani, tidak menurunkan siaga pedangnya sama sekali.
Jongin semakin gugup saat melihat ayah Sehun hendak turun ke bawah, tapi dilihatnya ayah Sehun dihentikan oleh beberapa orang yang menyeruak masuk ke kerumunan. Salah satunya si namja-tinggi-jelek-mirip-naga itu. Wufan!
Seorang quendi agak tua dan gendut membisikkan sesuatu ke ayah Sehun, ketiganya tengah menbicarakan sesuatu. Dan apapun itu, pasti sesuatu yang tidak bagus untuknya.
Ayah Sehun terlihat menghela napas mengalah dan mengangguk, sepertinya setuju pada apa yang orang tua gembul itu katakan padanya. Kemudian Wufan menghilang dari kerumunan, dia dan Sehun semakin waspada apalagi saat si namja-tinggi-jelek-mirip-naga itu muncul di gerbang arena latihan.
Sehun terlihat mengalihkan hunusan pedangnya pada arah datangnya Wufan. Quendi itu terlihat melangkah mendekat dengan angkuh, sambil perlahan mengeluarkan pedangnya juga. Tiap langkah yang Wufan ambil membuatnya dan Sehun semakin tegang dan waspada, jangan pernah berpikiran positif tentang quendi satu itu. Karena Wufan tidak pernah memikirkan sesuatu yang baik tentang mereka.
"Bagaimana kalau aku, Sehun? Kau mampu menghentikanku untuk membunuh manusia kesayanganmu itu?" tanya Wufan seraya menyeringai senang melihat Sehun yang semakin erat memegang pedangnya.
"Jangan mendekat!" teriak Sehun seraya memasang kuda-kudanya, semakin mundur ke Jongin saat melihat Wufan semakin maju. "Aku bilang berhenti!" teriaknya lagi.
"Coba saja hentikan aku!"
Setelah itu Wufan melesat cepat kearahnya sambil mengayunkan pedang. Dia hampir lengah, tapi berhasil menangkis serangan itu.
Wufan tidak berhenti disitu saja, tidak heran quendi itu mendapat julukan ksatria terkuat ras Noldor. Serangan Wufan sangat cepat, dia bisa menangkis serayangan pedang tapi tidak dengan tendangan dan beberapa pukulan.
Bertarung sekaligus melindungi Jongin itu tidaklah mudah. Wufan sepertinya benar-benar berniat membunuh Jongin saat ini. Dia sampai kewalahan karena Wufan terus-menerus berusaha melewatinya untuk menebas Jongin.
Zraaash!
"Sehun!"
"Ukh!" dia hanya meringis dan melompat menjauh dari Wufan ketika bahunya terkena tebasan pedang quendi ras Noldor itu. Satu tangannya menekan bahunya berusaha mengurangi pendarahan, tapi sepertinya Wufan tidak ingin berhenti disitu saja.
"Hentikan!" seruan Jongin seolah bagaikan angin lalu.
Duaagh!
Rasa sakit pada bahunya sepertinya mengurangi fokusnya. Sekali lagi dia meringis merasakan tendangan Wufan di perutnya, berusaha tetap berdiri dan tidak lengah sedikitpun.
"Sudah hentikan! Jangan sakiti Sehun!"
Terkecoh oleh teriakan Jongin, dia bahkan tidak melihat serangan Wufan berikutnya. Membuatnya terpental menjauh dan jatuh. Wufan tidak segan-segan memukulnya atau menebasnya, tapi dia tahu Wufan tidak mengincar titik vital yang membahayakannya. Sepertinya itu perjanjian dengan ayahnya untuk tidak membunuhnya selain Jongin.
"Ukh..." kakinya sekarang seolah lemas untuk berdiri, tapi dia tidak bisa membiarkan hal ini berlanjut. Tangannya menopang berusaha untuk kembali berdiri dengan susah payah.
"Cukup Sehun! Kau pergi saja!"
Menarik napas dalam ketika dia berhasil kembali berdiri, dia kembali meraih pedangnya. Satu tangannya sepertinya terkilir, menggunakan satu tangan untuk mengayunkan pedang tidaklah mudah.
"Sehun cepat pergi dari sini, yang dia incar itu aku!"
"MANA BISA?!" teriaknya akhirnya, kembali memasang kuda-kuda dan menyiagakan pedangnya ke arah Wufan. "Setelah kau mengatakan menyukaiku dan menciumku dengan seenaknya, mana mungkin aku membiarkanmu mati begitu saja!"
Dia tidak peduli pada ekspresi Jongin yang tengah tertegun sekarang. Dia kali ini yang melancarkan sebuah serangan pada Wufan, tapi serangannya bahkan seolah hanyalah lalat kecil yang mengganggu, Wufan menangkisnya dengan mudah.
"Apa susahnya pergi dari sini?! Hentikan dan pergi dari sini! Anggap saja kita tidak bertemu sebelumnya, gampang kan?!"
Dia menggeretakkan giginya kesal mendengar hal itu. "Bodoh!" runtuknya seraya kembali berdiri membelakangi Jongin. "Setelah beberapa hari ini... dan setelah melihatmu berusaha keras menjadi kuat untuk bisa melindungiku... KAU PIKIR AKU BISA DUDUK DIAM MELIHAT KEPALAMU PUTUS HAH?!" napasnya semakin memburu setelah meneriakkan hal itu.
"Heh, menarik!" kini dilihatnya Wufan yang semakin menyeringai terlihat menyebalkan.
Setelah itu serangan cepat Wufan kembali dilancarkan, dia bahkan semakin terdesak mundur karena tangannya tidak mampu terus-menerus menangkis serangan cepat itu.
Zraash!
Duagh!
Tubuhnya kembali terpental ke belakang dan menabrak Jongin. Pedangnya terpelanting lepas begitu saja ketika tangan kirinya juga terluka karena sayatan besar disana. Pandangannya mulai berkunang saat ini, tapi dia tidak mungkin pingsan begitu saja!
Dilihatnya Wufan semakin melangkah mendekat dan mulai mengeluarkan kekuatan magisnya, sepertinya mulai serius. Api... dia tidak akan bisa melawan api Wufan dengan anginnya. Angin hanya akan membuat api itu semakin besar.
"Yixing! Dimana Yixing? Cepat panggil Yixing, Sehun berdarah banyak sekali disini!"
Ocehan Jongin semakin membuat kepalanya pening. "Tsk! Kau diam saja!" ujarnya seraya kembali berusaha bangkit.
"KAU YANG DIAM SAJA! Jangan bergerak, darahnya keluar semakin banyak!"
Berusaha tidak mempedulikan teriakan itu, dia memfokuskan diri dan mengumpulkan angin berputar di sekitar dirinya dan Jongin , membuat tameng dengan tornado yang cepat. Setidaknya ini bisa memperlambatnya sedikit.
Sebentar lagi...
Sebenarnya kemana Yixing? Kenapa lama sekali?
"Hentikan!"
Dia menghilangkan anginnya seketika saat Wufan menyerang dengan api, membuat api itu berputar dan semakin besar karena anginnya dan menjadikannya tornado api.
"Ukh..." dia kembali meringis merasakan suhu panas yang luar biasa.
"Hentikan..."
Terbatuk sekali, dia mengambil napas dalam berusaha menetralkan napasnya yang semakin memburu. Padahal sedikit lagi...
Dia hanya mendecih kesal melihat seringaian Wufan, apalagi melihat api yang membara semakin besar dan kini membentuk seperti sebuah naga api. Sebenarnya sekuat apa Wufan ini?
Andai saja dia bisa sekuat ksatria ras Vanyar lainnya, mungkin dia bisa melindungi Jongin dari ksatria ras Noldor satu ini. Sial!
Dia tidak tahu harus bagaimana lagi ketika melihat naga api Wufan berputar di atas sana sebelum berhenti dan kini mengarah padanya dan Jongin.
Dia bisa mendengar teriakan ayahnya yang memprotes tidakan itu, tapi sepertinya Wufan tidak ingin menghentikan serangannya. Dengan api sebesar itu, mungkin bisa membunuh dirinya dan Jongin seketika.
Apa yang harus dia lakukan?
"Berapa kali harus kubilang..."
Dia mendengar Jongin berbisik di belakangnya, membuatnya menoleh dan mendapati manusia itu tengah menunduk dengan bahu tegang. "Jongin─"
"AKU BILANG HENTIKAAAANN!"
DHEG!
Tekanan berat datang tiba-tiba! Semua yang ada di sana tiba-tiba saja jatuh berlutut, dia justru jatuh terjerembab karena tubuhnya yang sudah lemas.
Dia bahkan sulit bernapas! Jongin─
Tidak mungkin kan?
Kepalanya semakin terasa berputar saat seolah ada beban berat tak kasat mata yang menimpa tubuhnya. Melirik ke atas, dan dia sudah tidak melihat adanya naga api milik Wufan lagi sepertinya sudah lenyap, dia bahkan bisa melihat Wufan yang juga tengah berlutut di sana.
"Kenapa sulit sekali menuruti perintahku, heh?"
Bisikan bernada rendah itu membuatnya menoleh kearah Jongin lagi. Dia tersentak melihat pusaran awan hitam yang berputar di sekitar Jongin, apalagi melihat bagaimana kayu yang membelenggu kedua tangan Jongin perlahan melapuk dan hancur menjadi debu begitu saja.
Tidak tidak tidak tidak tidak! Kenapa bisa kekuatan Melkor itu masih ada pada Jongin?
Slaph!
Sedetik kemudian jantungnya kembali berpacu cepat saat tiba-tiba saja sosok Jongin menghilang. Matanya bergerak ke segala arah berusaha mencari sosok Jongin lagi.
DUAAGH!
Dilihatnya justru Wufan terpental jauh dan menabrak tembok sampai tembok itu hancur. Ya ampun kekuatan macam apa itu?!
Tangannya bergetar melihat Jongin yang berjalan mendekati Wufan dengan langkah lambat. Suara tap tap lambat yang seolah menggema itu entah mengapa terdengar mengerikan dan meneganggkan baginya.
Sepertinya Wufan masih mampu berdiri. Quendi itu terlihat kembali bersiaga dengan pedang dan apinya. Tapi Jongin terlihat tidak gentar sama sekali, langkahnya meski lambat tapi mantap. Dan ekspresinya... tidak ada lagi senyum bodoh di wajah itu, tidak ada lagi ekspresi khawatir dan takut yang terlihat disana.
"Kau bilang... kau mau membunuhku?"
Dia tidak mengelak kalau dirinya ketakutan saat ini. Jongin yang seperti ini mengingatkannya ketika di kuil, saat tangan Jongin mencekiknya kuat dan berusaha membunuhnya.
Wufan terlihat bergerak maju menyerang Jongin sambil mengayunkan pedangnya, tapi saat pedang itu hampir menebas kepala Jongin...
Jongin kembali menghilang!
Tidak, itu bukan karena gerakan Jongin yang terlalu cepat. Tapi Jongin seolah bisa menghilang begitu saja.
"Mencariku?"
Sebelum Wufan sempat menoleh, sebuah tendangan kembali diterima dan tubuhnya lagi-lagi terpental jauh menyeberangi arena dan menabrak dinding lagi.
Sehun begidik ngeri melihatnya.
Apa itu teleportasi? Pengendali ruang? Baru kali ini dia melihat yang seperti itu, dia pikir pengendali ruang hanyalah mitos belaka. Ternyata kekuatan Melkor itu mengendalikan ruang? Atau mungkin lebih dari itu?
Tangannya saling menggenggam berusaha mengurangi getar ketakutannya. Dan tubuhnya tersentak saat Jongin menoleh kearahnya. Jantungya berdetak semakin cepat melihat tatapan dingin itu... apa-apaan mata itu? Seingatnya mata Jongin tidaklah semerah itu.
Jongin terus menatapnya, membuat kinerja jantungnya semakin menggila di dalam sana. Dia tersentak saat Jongin mulai melangkah kearahnya. Mengabaikan rasa sakit pada tubuhnya, dia berusaha bangkit duduk dan mundur perlahan.
Tangan dan kakinya terlalu lemas untuk bergerak mundur, dan langkah Jongin semakin dekat. Apa Jongin juga akan membunuhnya? Dari dekat, dia bahkan bisa melihat sklera Jongin yang menghitam, seolah mata merah itu mengkilat bercahaya dalam kegelapan.
Jongin berhenti tepat di hadapannya, dia bahkan sampai mendongak melihat Jongin berdiri di depannya.
Sehun merasa jantungnya akan meledak saking cepatnya berdetak saat Jongin berjongkok di hadapannya, apalagi saat tangan dingin Jongin menyentuh pipinya. Pedangnya terlempar jauh dan tidak ada apa-apa di sekitarnya, dia harus melindungi diri dengan apa?
Dia menelan ludah dengan susah payah ketika telapak tangan itu bergerak turun perlahan ke rahangnya... hingga ke lehernya.
"Jongin..." bisiknya takut-takut, tubuhnya bergetar takut merasakan tangan Jongin kini sampai di bahunya. "Ukh, Jongin hentikan..." ringisnya merasakan tangan itu menekan luka di bahunya semakin kuat, darahnya merembes keluar semakin banyak.
Lalu tiba-tiba saja segerombolan prajurit dan ksatria memasuki arena lalu mengelilingi dirinya dan Jongin dengan menghunuskan pedang dan tombak. Dia bisa melihat ayahnya dan Yunho juga ada di sana.
"Hm...? Kalian juga mau membunuhku?" nada bicara Jongin terdengar rendah, tidak ada ekspresi berarti di wajah yang biasanya dipenuhi senyum itu. "Kalian menentangku?"
"Pergi dari putraku!" teriak ayahnya menantang.
Sehun melebarkan matanya saat kabut hitam menguar semakin banyak dari tubuh Jongin, dan─
Zraaash!
Awan itu menyebar cepat, dan semua yang mengelilingi mereka berdua sudah tumbang begitu saja. Dia tidak mengerti apa yang terjadi, atau apa yang sudah Jongin lakukan, tapi jika terus seperti ini bisa-bisa seluruh desa akan hancur karena Jongin.
"Jongin..." panggilnya takut-takut pada Jongin yang masih berjongkok di hadapannya itu. Sedikit menarik napas dalam ketika sepasang mata merah itu berkilat menatapnya.
Kedua tangan yang sebenarnya sudah lemas dan terasa sakit luar biasa dia paksakan untuk bergerak perlahan, menangkup wajah Jongin.
"Jonginnie..." panggilnya lagi mengingat apa yang Jongin ajarkan padanya semalam. "Kau bisa mendengarku kan? Jangan biarkan kekuatan jahat ini menguasaimu...!" lanjutnya berusaha semakin dekat dengan Jongin. "Kau bilang ingin melindungiku kan?"
Jongin masih menatapnya dingin tanpa ekspresi, tangan Jongin menekan bahunya yang terluka semakin kuat membuatnya kembali meringis sakit.
"Lindungi aku dengan kekuatanmu sendiri... jangan bergantung pada kekuatan ini!" ujarnya dengan nada lirih. "Kau bilang tidak ingin melukaiku lagi kan? Berjuanglah... jangan menyerah pada kekuatan jahat ini!" bisiknya menatap mata Jongin semakin dalam.
Bisa dilihatnya Jongin mengerutkan dahinya sebelum meringis. Jongin mulai bereaksi, dia yakin Jongin yang sebenarnya bisa mendengar kata-katanya.
"Khh!" terlihat Jongin menggeretakkan giginya kuat.
Pandangan Sehun semakin mengabur dengan tubuhnya yang semakin terasa berat saat tekanan kuat kembali datang dari Jongin, bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
Dia tersenyum lega ketika mendengar sebuah dengkingan kuat dari langit, sekelebat bayangan hitam yang melesat di atas sana dan menuju kemari.
Toothless!
BRUUUUGH!
Pendaratan Toothless sepertinya tidak mulus.
"Aku tidak mau berurusan dengan naga lagi setelah ini─Ya ampun kenapa semua orang pingsan seperti ini?!" terdengar gerutuan Yixing yang bangkit dari posisi jatuhnya.
"Yixing!" panggilnya dan otomatis pandangan Jongin juga teralihkan pada Yixing dan Toothless.
"Sehun apa yang─huh, Jongin?" Yixing terlihat kebingungan saat ini.
Ah, kalau seperti ini sih sudah telat rasanya. Padahal niat awalnya menyuruh Yixing memanggil Toothless untuk membawa kabur Jongin. Sepertinya Yixing kewalahan untuk membujuk Toothless.
"Night Fury! Jadi benar kalian yang menyembunyikannya selama ini!"
Sehun tersentak mendengar suara Wufan lagi, terlihat quendi itu masih bisa bangkit padahal sudah menerima serangan kuat dari Jongin.
Toothless yang melihat sosok Wufan langsung bergerak mendekati quendi itu.
"Toothless..." bisiknya kecewa melihat Toothless justru memilih tuan lamanya daripada Jongin. Sekali lagi dia tersentak kaget saat Jongin tiba-tiba bangkit berdiri dan menghadap kearah Wufan sambil menjulurkan tangan kanannya.
"Kemari!" Perintah Jongin singkat.
Wufan terkekeh mendengarnya, "Kau pikir bisa memerintah nagaku begitu saja, huh?!" ujarnya dengan nada merendahkan.
Jongin terlihat diam saja tapi masih menjulurkan tangan kanannya dengan percaya diri. Dan naga hitam itu bergerak mematuhi perintah Jongin untuk mendekat lalu menunduk patuh di kaki Jongin.
"Kau─" Wufan terlihat geram melihatnya, entah kenapa Sehun merasa senang kali ini meski Jongin belum pulih sama sekali. "Hookfang!" kali ini Wufan berteriak, dan tak lama seekor naga berwarna merah dan berukuran lebih besar dari Toothless muncul dan mendekati Wufan. "Baiklah! Aku akan serius, ini pertarungan antara pengendali naga!" ujar quendi itu sambil mengambil lagi pedangnya.
"Heh..."
Sehun melirik pada Jongin saat mendengar manusia itu terkekeh, bergerak mengambil sebuah pedang dari seorang prajurit yang tumbang. Dan setelahnya Sehun bisa melihat seringai dari Jongin.
"Tanpa naga pun, aku bisa langsung membunuhmu. Ckckck... kau tidak akan bertahan dalam satu detik pun!" ujar Jongin seraya memainkan pedang di tangannya, masih menyeringai dengan tatapan penuh nafsu membunuh.
"Jongin, jangan─"
Jongin kembali menghilang dalam sekejap. Semuanya tegang tiba-tiba, apalagi Wufan yang semakin menyiagakan pedangnya!
"Jongin hentikan─"
Zraaaash!
Sekali lagi sebuah tebasan pedang terjadi. Dilihatnya Yixing segera berlari ke arah Jongin dan Wufan. Dari posisinya, Sehun tidak begitu bisa melihat apa yang tengah di lakukan Yixing. Tapi gerakan Jongin yang tadinya menyerang Wufan membabi buta tiba-tiba saja terhenti dan kaku.
"A-apa yang kau─" suara Jongin terdengar tercekat sebelum berubah menjadi teriakan keras, "AAAAAAAAARGH!"
Sehun ingin mendekat dan memeluk Jongin yang terus berteriak dan memberontak itu, tapi untuk berdiri saja rasanya sulit sekali jadi dia hanya bisa menyaksikan dari sana.
Dan saat teriakan Jongin terhenti, tubuh itu langsung ambruk seketika ke tanah dan tidak bergerak. Sehun semakin was-was dan khawatir takut terjadi sesuatu pada Jongin. Wufan juga sudah tergeletak bersimbah darah di dekat Jongin.
"Yixing, apa yang terjadi?" tanyanya penuh dengan nada khawatir.
Tapi Yixing kemudian jatuh terduduk dengan napas memburu. Quendi itu melirik ke arahnya sambil tersenyum kecil di sela napasnya yang memburu. "Tenang saja... semua... sudah berakhir!"
Apa... maksudnya?
.
.
To Be Continue
.
.
A/N: APA SCENE BERDARAH-DARAH GINI MASUKNYA KE RATE M? Padahal darahnya cuma dikit kok! Dan klimaksnya ya ampun mainstream banget! orz
Pengen jelasin satu hal, Jongin yg matanya merah n skleranya item itu bukan dari Tokyo Ghoul lho, bukan. Sumpah deh sebelum TG tayang pun gue udah niat buat scene kayak gini. Yah plotnya emang udah beres dari awal buat ff ini sih jadi gue gak bakal bilang ini inspirasi dari TG, justru gue ambilnya dari Bleach si Ichigo cuma gue ubah warna emas pupilnya jadi merah. JADI JONGIN BUKAN KANEKI PLISS!
Kenapa? Karena gue suka main chara yang punya darkside. Dan seriusan gue kelepasan nulis bagian yandere Jongin ampun deh ya sebanyak itu! /lirik scene diatas/ tsk! Di awal chapter gue gak bisa serius padahal udah denger Breathless, tapi setelah ganti lagu jadi Unravel jiwa yandere jadi keluar dan tadaaa jadilah Jongin seperti itu! /kicked/ /SAMA AJA MIRIP TG NEL!/ NGGAAAAAKK! '-'
DAN KENAPA KALIAN BILANG FF INI LUCU DAN KOCAK? Duh ya gue gak pernah masukin humor padahal, tau sendiri humor dari gue selalu garing. =="
Yaudah deh ayo review sebelum berlanjut ke chapter terakhir!
P. S.: yg nanya tentang ff kolaborasi, itu bakal di upload di akun baru khusus, bukan akun gue maaf ya. kalian bisa search auhtor ukesehuNlOveRs, tolong jangan liat alaynya ya itu hanya... gahool mameen! XDD
