Chapter 9 – The Date
Setelah konfrontasiku dengan Rose dan Alice, Emmett dan Jasper sama-sama tahu siapa aku sebenarnya. Jasper terkejut karena aku menyimpan rahasia itu selama ini, dan Emmett hanya mengangkat bahu dan mengacak-acak rambutku. Benar-benar khasnya mereka berdua. Aku tidak mengharapkan mereka benar-benar meledak, tapi sedikit kejutan juga lumayan menyenangkan. Tentu saja, mereka berdua sangat penasaran mengapa aku ada di sini, jadi mereka akhirnya tahu juga tentang taruhan itu. Emmett pikir itu sangat lucu, seperti yang dia katakan. Sedangkan Jasper hanya menggelengkan kepalanya padaku dan berkata, "Saudara. Kaya atau miskin, mereka semua sama saja."
Edward terus saja membuatku frustrasi, menggodaku sampai aku harus mengurus diriku di toilet. Hari Kamis pagi, dia memanggilku ke ruangannya dengan alasan untuk melihat beberapa pekerjaan, tapi aku tahu apa yang benar-benar diinginkannya. Benar sekali, di saat aku melangkah masuk ke ruangannya, dia meraih wajahku dan menciumku.
"Itu sama sekali tidak terduga," aku terengah-engah, setelah akhirnya dia melepaskanku. "Sedikit peringatan akan lebih baik."
"Hiburan apa yang ada disana?" dia tersenyum, mengelus pipiku dengan jari ibunya. "Kau harus lihat wajahmu."
Dia menangkap bibirku lagi dalam sebuah ciuman yang lembut dan pelan, menghabiskan nafasku dan membakar tubuhku pada waktu yang sama.
"Kau tahu, aku tidak berpikir kita harus berciuman sebelum kencan pertama," kataku, menjauhkan mulutku darinya.
"Yah, kita tidak benar-benar konvensional. Aku seharusnya menjadi bos."
"Ya, dan 'pertemuan' kita adalah untuk membicarakan pekerjaanku yang berjalan dengan baik-baik saja, bos"
Edward menarik tubuhku mendekatinya, aku bisa merasakan setiap inci dari tubuhnya. "Perkerjaanmu-" dia mendekatkan pahanya padaku "sangat memuaskan," bisiknya di telingaku, napasnya yang dingin bergemerisik di rambutku.
Aku merintih. "Mengapa, oh mengapa kau harus melakukan itu? Aku tidak bisa hanya membereskan diriku disini!"
Dia menyeringai padaku. "Mengapa tidak? Aku bahkan bisa menolongmu." Tangannya mulai merayap masuk kedalam rokku, pangkal dari telapak tangannya sudah benar-benar menempel padaku.
Aku mengerang, menekuk pahaku pada tangannya. Kita tidak bisa melakukan hal seperti ini di kantor. "Brengsek," desisku. "Kau akan menyesal besok."
"Aku meragukannya," dia menyeringai penuh percaya diri.
"Tunggulah dan lihatlah besok."
~xoxo~
Jumat pagi, aku bangun lebih awal dan menyiapkan pakaianku untuk kencan nanti. Aku tidak ingin terburu-buru sambil bersiap-siap. Aku tidak tahu kemana Edward akan mengajakku, jadi aku memutuskan untuk menggunakan teal sundress, sesuai dengan udara Manhattan yang hangat, dan sandal gladiator metal perak. Outfit yang sangat sempurna untuk kencan apapun, dan tetap cukup bagus untuk membuat Edward tunduk. Aku harus membalasnya untuk kejadian kemarin.
Kesimpulanku untuk minggu kedua di tempat kerja tidak berbeda dari yang pertama – kecuali minggu lalu aku keluar bersama yang lainnya ke klub. Minggu ini, aku punya kencan dengan bosku. Aku bertanya-tanya bagaimana reaksi ayahku jika dia tahu tentang hal ini. Sebuah pikiran liar melintas: Apakah Edward pernah kencan salah satu bosnya?
Aku mendengus dalam hati. Jika dia melakukan itu sekarang, dia akan berkencan ayahku. Aku ingin melihat hal itu terjadi.
Edward menjauhkan dirinya dariku sepanjang hari ini. Dia tahu aku akan bertanya tentang kencan kita nanti malam, dan dia tidak ingin aku mendapatkan kesempatan itu. Aku tidak keberatan – setidaknya nanti malam aku bisa membalasnya. Dia akan melewati malam yang sulit nanti.
Edward tiba di apartemenku tepat jam tujuh, dengan bunga lili putih ditangannya. Alec membukakan pintu untuknya, tentu saja aku sudah membuatnya berjanji untuk tidak menakut-nakuti Edward.
"Dia akan turun sebentar lagi," aku mendengar suara Alec saat aku menuruni tangga.
"Aku disini," kataku sambil mengaitkan tali sandalku. "Hei, Edward."
Matanya menyapu seluruh tubuhku dan aku memberinya senyum polos, seolah-olah aku tidak tahu apa yang kulakukan padanya.
"Jane," desahnya. Dia menyodorkan bunga lili itu padaku, seolah-olah dia baru saja ingat kalau dia sedang memegangnya. "Ini untukmu."
"Terima kasih," kataku, menghirup aroma manis. "Tunggu sebentar, aku hanya akan menaruhnya di air." Aku cepat-cepat menaruh bunga dalam vas kaca, tidak ingin meninggalkan Edward lebih lama dengan Alec yang terus melototinya. Ketika aku kembali, mereka malah sedang mendiskusikan beberapa skor olahraga dengan santai. Dasar pria.
"Oke, aku siap," kataku, mengambil tasku. Aku berpaling ke arah Alec dengan pandangan tajam. "Jangan menungguku, makanan ada di lemari es, dan jika kau berani sedikit saja menginjakkan kakimu di kamarku, kau tidak akan pernah melihat matahari lagi."
Alec menyeringai, memelukku erat-erat. "Pergilah dan bersenang-senang, baby sis." Aku menampar tangannya ketika mendengar julukan itu, tapi dia hanya tertawa.
Segera setelah aku menutup pintu apartemenku, Edward menarikku.
"Ah ah ah," tegurku, menolehkan pipiku saat bibirnya mendarat di wajahku. "Kau tidak seharusnya melakukan itu."
"Baik," desahnya. "Kau akan membunuhku dengan penampilan seperti itu."
Aku menyengir. "Bukankah itu tujuannya?"
Dia tertawa, dan membawaku menuju mobilnya. "Kita akan makan malam di Grapevine," katanya. Nama salah satu restoran terbaik di East Coast. "Tidak apa-apa kan?"
Aku mengangkat alisku. "Dan bagaimana kamu bisa mendapat reservasi secepat ini?"
Dia tersenyum malu-malu. "Tanteku kepala koki disana."
"Oh? Sneaky little child," aku tertawa.
Grapevine adalah pilihan untuk tempat makan bergengsi, yang dikenal dengan layanan yang sempurna dan suasana yang nyaman, belum lagi masakan yang lezat. Masakan berkisar dari Italia sampai pada Mediterania, meliputi hampir setiap selera eksotis di daerah tersebut.
Para pelayan tidak membuang-buang waktu untuk membawa pesanan kami kurang dari 4 menit . Orang-orang ini tentu tahu siapa Edward.
"Menikmati makanannya?" tanya Edwrad, ketika hidanganku tiba.
"Sangat," aku tersenyum menggoda, menjilati garpuku sampai bersih. Matanya menggelap. "Kamu?"
Dia menarik napas tajam. "Ya, tentu." Sudah jelas dia terpengaruh olehku.
Aku tersenyum dan kembali menikmati makananku. Itu benar-benar sangat lezat. Edward terus menusuk-nusuk makanannya, sampai aku mengancam untuk mengambil garpunya. Sekitar setengah jalan menikmati hidangan kami, aku memutuskan memanaskan suasana. Aku melepaskan sandal gladiatorku, dan mencari kaki Edward dibawah meja. Itu bukan hal yang sulit – dia adalah pria yang tinggi, dan kakinya terentang jauh ke arahku. Tanpa sepengetahuannya, aku memasukkan kakiku kedalam melalui kaki celananya dan perlahan-lahan membelai bagian dalam betisnya.
Dia terkejut dan melompat cukup tinggi sehingga membuat makanannya berhamburan di meja. Pulih dari shock, dia memberiku tatapan membunuh.
Aku tersenyum malu-malu. "Kupikir kau tampak sedikit tegang di sana." Aku terus membelai kakiku, naik dan turun, menikmati tekstur kasar kakinya terhadap kakiku.
Dia merengut padaku. "Jika aku menyerangmu di sini, itu semua salahmu."
"Balas dendam itu menyenangkan, honey." Aku menyeringai penuh kemenangan padanya.
"Ini adalah tentang kemarin, bukan? Ketika aku meninggalkanmu dalam keadaan seperti itu?"
Nada dari suaranya membuat napasku tercekat ditenggorokan.
"Itu benar," dia menyeringai. "membayangkan jika aku mendorongmu sampai melewati batas di dalam restoran ini, meninggalkanmu basah dan mengerang…untukku. Kau mau itu?"
Perlahan, dan sangat perlahan, aku menarik kakiku dari celananya. Kini gilirannya untuk menyengir puas padaku.
"Ini belum berakhir," bentakku.
"Tentu saja, sweetheart."
Syukurlah, kami menyelesaikan makan malam tanpa ditangkap karena melakukan hal yang tidak pantas ditempat umum, yang mana kami sudah sangat dekat untuk melakukan hal itu. Pelayan kami terus melirik kearah kami, seolah-olah kami akan mulai bercinta di atas meja. Itu hal yang sangat menyenangkan tentunya.
"Jadi..." Edward memulai, setelah membayar makanan kami. "Mau jalan-jalan sebentar?"
Aku mengangkat bahu. "Mengapa tidak? Masih belum larut malam."
Dia menyeringai, menawarkan tangannya padaku. "Ada sebuah taman yang benar-benar bagus di sekitar sini. Tenang, juga. "
"Kedengarannya bagus." Aku menyelipkan tanganku ke dalam tangannya, menikmati kehangatan memancar dari dirinya. Sepanjang jalan, dia menunjukkan tempat-tempat kecil yang dia ketahui – toko cupcake terbaik di sisi timur, restoran pertama yang dikunjunginya, tempat laundry di mana dia diserang dengan semprotan lada karena seseorang berpikir dia tampak menyeramkan…dan masih banyak lagi.
Pada saat kita tiba di taman, aku tertawa histeris saat dia menceritakan bagaimana tulang anjing bisa berada didalam tas kerjanya.
"Woah," kataku, melihat pemandangan di sekitar kami. "Ini benar-benar sangat cantik."
"Ya, itu benar," Edward setuju. Tapi dia sedang menatapku, matanya merasuk ke jiwaku. Aku mengangkat tanganku dan mengecup pipinya, menarik wajahnya mendekatiku. Mulutnya mengklaim mulutku, dia menaruh tangannya di pinggangku dan mendorongku lebih dekat kepadanya. Lidahnya meluncur masuk ke dalam mulutku, menjelajahi seluruh kontur mulutku. Aku mengerang di bibirnya, sensasi yang dia ciptakan membuatku tidak bisa berpikir.
Ciuman kami mulai panas, tangan-tangan yang mulai bergerak dengan liar, dan aku bahkan tidak ingat bahwa kami sedang berada di tempat umum.
"Mom, mengapa pria itu mencoba memakan wajah wanita itu?"
Kami berhenti berciuman saat mendengar suara anak itu, ibunya berusaha keras untuk menutupi mata putrinya. Dia melototi kami – tidak diragukan lagi kami sudah merusak gadis kecil itu dengan pemandangan yang tidak pantas.
Aku terkikik, masih dalam pelukan Edward. "Kita membuatnya takut."
"Eh, dia akan segera melupakannya," ia menjawab, menciumi leherku. "Jane, aku tahu ini hanya kencan pertama kita, tapi aku hanya…aku…" dia terdiam.
Aku tersenyum, memahami arah pembicaraannya. "Nah, itu harus dilakukan di tempatmu, karena aku punya saudara kembar dengan pendengaran yang luar biasa."
Perasaan lega terlihat jelas ketika dia menarikku ke dalam pelukannya lagi. "Apa kau yakin?"
"Apakah kau benar-benar akan menanyakan hal itu?"
Dia tertawa. "Tidak. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menyentuh tubuhmu itu."
"Nah, ayo kita kembali ke tempatmu dulu-" Aku menarik telinganya ke mulutku "Dan kemudian kau bisa menyentuhku sesukamu."
