More Than That

Jaehyun x Taeyong

NCT

.

.

.

Mereka berdiri di depan pintu. Mark yang mengetuk. Lima detik dibutuhkan agar pintu terbuka, menujukkan wajah kusut dan berantakan Prince.

"Aku kesini hanya mengantar Taeyong-hyung." Mark berbicara dengan senyuman cerah.

Yoonoh mengalihkan pandangannya sebelum melangkah keluar dari kamar. Dia menarik adiknya dalam pelukan erat. Mereka sudah lama tidak bertemu. Sayang sekali pertemuan mereka justru harus berakhir seperti ini.

"Maafkan aku, Mark. Aku bukan kakak yang baik."

Mark menertawakan itu.

"Bicara apa sih, hyung? You're the best bro in the world! My other half!"

Taeyong bisa melihat betapa kuatnya ikatan persaudaraan mereka dengan mudah sekarang.

"Jangan pikirkan apa yang Mom katakan, hyung. Tahu sendiri bagaimana Mom saat terbawa emosi."

Mereka saling menarik diri. Prince mengulurkan tangan untuk mengacak-acak rambut adiknya. Memandangnya adiknya yang sudah semakin dewasa dengan tatapan sayang.

"Aku ingin bercerita banyak pada hyung. Tapi aku lelah dan mau tidur. Lagipula aku tidak mau menganggu. Aku pergi saja agar kalian bisa bicara berdua lebih leluasa."

Pada saat yang hampir bersamaan, Taeyong dan Yoonoh sama-sama salah tingkah dengan alasan masing-masing. Tidak mau saling menatap dan membuang muka ke sembarang arah, membuat Mark tertawa lagi.

"Kalian mencurigakan." Komentarnya.

"Mencurigakan apa?"

Mark mengangkat bahu. Menjauh menyusuri lorong, menoleh hanya untuk tersenyum dan berteriak.

"Selamat malam, hyung! Bye!"

Hanya tersisa mereka.

Yoonoh menatap Taeyong, yang rupanya sedang menatapnya juga meski langsung menunduk.

Dia menghela napas, membuka pintu kamarnya lebih lebar.

"Masuklah ke dalam."

.

.

.

Taeyong berdiri canggung ditengah ruangan begitu masuk.

"Mark sudah mengatakan padaku apa yang- terjadi." Katanya setelah hening beberapa saat.

Prince mengkaku sejenak. Dia menyuruh Taeyong duduk di sisinya di samping tempat tidurnya dan tidak mengatakan apapun selama dua puluh menit penuh. Sibuk dengan pikirannya sendiri.

Taeyong jadi merasa bersalah.

Mungkin Prince sedang tidak ingin diganggu. Mungkin Prince sedang butuh waktu sendiri untuk berpikir. Mungkin keberadaannya disini sekarang tidak diinginkan.

"Apa sebaiknya aku per-"

"Tetap disini."

Kata pertama Prince sejak mereka masuk ke ruangan ini. Dia meraih tangan Taeyong untuk menghentikannya berdiri dari tempat duduknya.

"Mark- dia tidak tahu apa-apa. Dia masih terlalu kecil saat itu." Yoonoh bergumam sementara matanya bergerak-gerak gelisah seakan menghindari bertatapan mata dengannya.

Taeyong melepaskan pegangan tangan Prince, berbalik memegang tangannya. Keberanian itu tidak tahu didapatnya darimana. Bisa jadi karena ekspresi tertekan yang dilihatnya dari Prince.

"Aku tidak keberatan mendengar ceritanya dari awal lagi." Taeyong berkata hati-hati.

Yoonoh menarik dan menghembuskan napasnya berulang. Itu berhasil membuatnya sedikit bisa mengendalikan dirinya.

Dia mulai bercerita.

"Walau aku punya kakak laki-laki, kami tidak bisa akrab. Aku tahu Yunho-hyung menyayangiku, aku juga menyayanginya, tapi dibagian kecil hatiku aku juga menaruh kebencian dan perasaan iri padanya. Mark sudah menceritakan tentang namaku kan?"

Taeyong mengangguk.

"Aku melakukannya karena muak Mom selalu membanding-bandingkan kami. Yunho-hyung selalu menjadi anak kesayangannya." Yoonoh menggeram mengingat itu semua.

Taeyong tidak tahu bagaimana rasanya karena dia tidak pernah punya adik atau kakak kandung.

Taeyong selalu menganggap dirinya tidak berguna saat dibandingkan dengan slave laki-laki lain. Terutama karena dia tidak pernah bagus melakukan apa yang harusnya dilakukan. Dia lemah dan kecil. Tidak bisa dibandingkan dengan mereka.

Sedikit berbeda, tapi pikirnya mungkin seperti itu perasaan Prince.

"Aku sangat kesepian. Aku memang punya Mark, tapi adikku masih terlalu kecil untuk aku ajak bermain.

Suatu hari, Mom membawa anak kecil ke rumah. Katanya dia anak yatim piatu. Ayah dan ibunya meninggal saat rumah mereka kebarakaran. Dia akan dikirim ke tempat penampungan slave karena tidak ada harta benda atau keluarga tersisa. Mom tidak tega dan justru membawanya ke rumah kami.

Ten anak yang ceria. Dia hanya berbeda beberapa bulan dariku yang saat itu belum genap tujuh tahun. Kedatangannya benar-benar mengobati kesepianku. Kami bermain, melakukan apapun bersama dan bersenang-senang. Aku menyukainya. Aku ingin bersamanya selamanya."

"Aku mendesak agar Ten boleh tidur bersama dikamarku agar kami bisa bercerita atau main game sepanjang malam. Aku bersikeras ingin satu meja dengannya saat makan atau tidak makan sama sekali. Kami benar-benar tidak terpisahkan.

Mom mengajarkan segala hal pada Ten. Kadang aku juga akan mengajarkan padanya apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Sampai aku mulai masuk sekolah dan mengambil berbagai kursus.

Aku pikir Ten akan dibiarkan bersamaku, tapi ternyata Mom tidak membolehkannya mengambil sekolah yang sama denganku. Dia juga tidak perlu mengambil berbagai kelas kursus sepertiku."

Yoonoh mengambil waktu sejenak sebelum melanjutkan.

"Semuanya berubah sejak itu. Kami tidak bisa lagi menghabiskan waktu bersama. Justru sebaliknya, dia lebih sering bersama Yunho-hyung! Aku sangat marah melihatnya tertawa senang dengan kakakku, padahal aku tidak pernah merasakan itu.

Aku merasa dikhianati. Aku merasa Ten bukan hanya meninggalkanku, tapi sekaligus mengambil tempatku disisi kakakku dengan begitu mudahnya. Padahal dia bukan siapa-siapa. Padahal dia bukan aku!

Aku mulai berhenti bicara padanya. Aku mulai membencinya dan memperlakukannya dengan buruk. Tapi itu justru membuat Yunho-hyung bersimpati padanya dan berbalik membenciku- setidaknya itu pikiran bodohku dulu."

Yoonoh menutup mata.

Ibunya benar. Semua usahanya sama sekali tidak berarti. Perasaan bersalah ini akan terus dia rasakan selamanya.

"Bertahun-tahun berlalu seperti itu. Saat aku berusia lima belas, Ten mencoba bicara padaku. Katanya kami masih bisa kembali bersama seperti dulu. Jika tidak ada gunanya kami terus seperti ini.

Aku tidak mau mendengarnya. Aku sangat marah. Aku tidak tahu apa yang membuatku begitu marah saat itu. Kemungkinan karena semua perkataannya yang begitu tepat. Bahwa aku hanya merasa cemburu dan iri.

Aku mengambil figura foto dari meja. Aku tahu itu adalah satu-satunya foto Ten dan orangtuanya yang masih tersisa. Aku berlari keluar dan melemparkan itu ke jalan. Mengatakan semua hal kejam dan kebencianku padanya. Aku berteriak, menyuruhnya pergi dan tidak usah kembali.

Ten tidak menghiraukan itu. Dia berlari ke tengah jalan untuk mengambil figura itu. Sama sekali tidak sadar ada mobil melaju kencang tepat ke arahnya.

Yunho-hyung melihat semua itu. Dia berlari untuk menyelamatkan Ten tapi dia malah ikut tertabrak. Aku tidak ingat apapun. Suaranya tabrakan keras dan mengerikan. Darah ada di mana-mana. Aku- aku-"

Taeyong meremas tangan Prince saat dia mulai tergagap panik dan menangis.

Yoonoh menarik napas dalam-dalam, meyeka air matanya dengan tangannya yang bebas.

"Aku berlari mendekati mereka. Ten masih membuka matanya tapi Yunho-hyung dia tidak sadar, ada banyak sekali darah. Aku berteriak panik memanggil siapapun untuk meminta tolong. Aku melihat saat tubuh Yunho-hyung dan Ten dibawa ambulans.

Ten meninggal di perjalanan menuju rumah sakit sementara Yunho-hyung meninggal di meja operasi. Tamparan keras Mom dan perkataannya tentang akulah penyebab kematian mereka tidak pernah aku lupakan sampai saat ini. Aku sangat terpukul dan depresi selama bertahun-tahun sejak saat itu."

Taeyong lebih mengerti situasinya sekarang.

Dia juga akan menyalahkan dirinya sendiri jika dia ada diposisi Prince. Tapi perlakuan Nyonya Jung pada anak-anaknya juga tidak bisa dibenarkan. Karena itu secara tidak langsung menjadi salah satu alasan semua ini bisa terjadi.

"Apa kau sempat berbicara dengan Ten sebelum dia meninggal?" tanya Taeyong.

Yoonoh mengangguk pelan.

"Aku meminta maaf padanya. Aku berkata jika aku sangat meyesal. Ten hanya tersenyum sambil berkata tidak apa-apa, bahwa dia menyayangiku. Aku tidak tahu apa yang membuatku begitu buta sampai tidak bisa melihat ketulusannya sebelum kejadian itu."

Taeyong melepaskan tangan Prince dan berdiri dari tempat tidur.

Selama beberapa saat tidak ada suara. Taeyong melangkah mendekati seseorang yang selalu dianggapnya sebagai penyelamat itu, berlutut dan memeluk tubuhnya yang besar.

Dulu saat Taeyong sedih, akan selalu ada orang memeluknya seperti ini di tempat penampungan slave.

Pelukan selalu bisa membuat Taeyong tenang. Dia berharap itu akan berefek sama pada Prince.

Yoonoh terkaget sejenak tapi akhirnya menariknya semakin dekat. Dia menyembunyikan wajahnya di leher Taeyong.

"Ten dan kakakmu akan memaafkanmu. Aku tidak pernah mengenal mereka tapi aku tahu mereka pasti sangat menyayangimu. Mereka ingin kau bahagia. Sudah saatnya berdamai dengan masa lalu dan melupakan semuanya." Taeyong berbisik, mengusap lembut bagian belakang kepala Prince.

Apa ini terlalu lancang?

Taeyong bukan siapa-siapa untuk mengatakan hal-hal seperti itu. Dia hanya ingin membuat Prince merasa lebih baik.

"Aku lelah, Taeyong." bisik Yoonoh.

"Kalau begitu tidur. Aku akan pergi-"

"Jangan pergi." Yoonoh bergumam di telinga Taeyong. Sengaja memeluknya lebih erat lagi.

"Tapi-"

"Tetap disini."

Taeyong tidak berpikir itu pantas.

"Baik. Aku tidak akan kemana-mana. Tidurlah. Aku akan tidur di lantai-"

Yoonoh menarik diri untuk memberi sedikit ruang.

"Tempat tidurku masih cukup luas."

"Ta-tapi-"

"Aku ganti baju sebentar," katanya parau. Suaranya sedikit berbeda karena habis menangis.

Kenapa bisa dia terlihat begitu menyedihkan di hadapan pemuda kecil itu? Sekarang, Yoonoh baru merasa luar biasa malu.

.

.

.

Dia mengganti pakaiannya dengan cepat. Membawakan satu pakaian tidur lain untuk Taeyong dan menyuruhnya berganti di kamar mandi.

Taeyong kembali saat Prince sudah berbaring diatas tempat tidur. Pakaiannya jelas terlalu besar ditubuh kecil itu. Membuat Yoonoh tidak bisa menahan senyum.

Nanti dia akan meminta Somin dan Jiwoo menyuruh dia makan lebih banyak.

Taeyong memutuskan untuk merangkak ke tempat tidur saat Prince menyuruhnya mendekat. Kasurnya terasa sangat nyaman. Dia mengambil posisi di paling ujung tempat tidur, memasukkan kakinya ke bawah selimut putih yang tadi tersingkap.

"Kau bisa jatuh jika tidur di sana."

Taeyong menggelengkan kepalanya, berusaha menyingkirkan noda merah kecil di kedua pipinya.

"Tidak apa-apa."

Yoonoh bangkit sebentar untuk mematikan lampu di sampingnya dan kembali berbaring. Perlahan, dia mengulurkan tangannya dan menarik Taeyong agar bergeser ketengah.

Hening sejenak.

"Kau tidak membenciku, kan?" bisik Yoonoh.

Taeyong menghadap ke samping. Meski dia tidak bisa melihat wajahnya dalam kegelapan, dia bisa membayangkan Prince sedang memasang raut sedihnya lagi.

Taeyong tidak langsung menjawab. Dia meremas selimut ditangannya.

Kenapa Prince bisa berpikiran seperti itu?

Dia yang menyelamatkan Taeyong. Berlaku begitu baik dan perhatian padanya meski dia hanyalah seorang slave.

Bagaimana bisa Taeyong membencinya?

"Tidak sama sekali." Balasnya berbisik.

Taeyong bisa merasakan pergerakan kecil di sampingnya. Napas Taeyong tercekat. Prince kini berada sangat dekat dengannya. Tepat menatapnya.

"Boleh...aku memelukmu?" bisiknya.

Taeyong mengagguk kaku.

Prince melingkarkan lengannya di sekitar tubuhnya, membawanya mendekat. Dia meletakkan hidungnya di atas kepala Taeyong.

"Hangat," gumamnya pelan sambil tersenyum kecil. Dia memejamkan matanya setelah mengucapkan selamat malam.

Taeyong membalasnya dengan terbata. Jantungnya terasa aneh karena berdetak semakin cepat. Dia sampai takut suara itu akan menggangu tidur Prince.

Hening.

Di kegelapan ruangan itu. Taeyong memberanikan diri melirik wajah tampan milik Prince, memandanginya lama.

Dia meringkuk lebih dekat pada tubuh besar yang sedang memeluknya, mendengarkan deru napasnya yang mulai tenang.

Hangat?

Ya, hangat dan nyaman sekali.

Setelah beberapa saat, Taeyong tahu Prince akhirnya tertidur. Dia bisa tenang karena tahu Prince baik-baik saja.

Taeyong mendesah lembut sebelum menutup matanya.

Sebuah pertanyaan terus mengganggunya malam itu. Bersama perasaan sedih dan kecewa yang tidak seharusnya ada.

Apa Prince... memang melihatku hanya sebagai pengganti Ten?

.

.

.

TBC

Mind to Review? :)