Title: LOVE YOURSELF BTS DRABBLE FF COLLECTION
Cast: Jungkook, Yoongi, Jimin, Namjoon, Taehyung, Hoseok, Jin
Lenght: Drabble Collection
Rating: 15+
Author: Tae-V [Line KTH_V95, Twitter KTH_V95]
Ini adalah cerita kumpulan drabble FF BTS based on my imagination tentang poster-poster comeback BTS di LOVE YOURSELF :)
.
STORY 10 : A CHOICE (PT.3) - NamV FF
"Would you not have left? If I had made a different choice. - Kim Taehyung"
.
.
.
APRIL 2017 - AUTHOR POV
"Aku tidak bisa memastikan operasi ini akan berhasil.. Karena aku sama sekali belum pernah melakukannya.. Dan operasi ini belum pernah sekalipun dilakukan di Korea Selatan.." sahut Ha Jiwon. "Tapi, hanya inilah satu-satunya jalan untuk menyembuhkan Taehyung-sshi.."
"Jangan bilang..." Minhyuk menatap Jiwon.
"Majjayo... Hepatektomi pasca pengangkatan..." sahut Ha Jiwon sambil menatap Minhyuk.
"Itu sangat beresiko, ssaem!" pekik Minhyuk.
"Tapi... Tak ada jalan lain selain itu..." sahut Jiwon.
"Lakukan saja, ssaem! Lakukan saja, asal Taehyung bisa selamat!" sahut Namjoon.
"Tapi, resiko keberhasilan teramat sangat kecil!" sahut Minhyuk sambil menatap Namjoon.
"Tapi operasi ini lebih baik daripada hanya melihat Taehyung meninggal secara perlahan kan?" sahut Namjoon sambil menatap Minhyuk.
Taehyung, yang ternyata sejak tadi ternyata tengah menguping pembicaraan mereka bertiga, keluar dari balik pintu kamar tempatnya dirawat itu, dan menatap ke arah Ha Jiwon.
"Kau mau mengoperasiku... Sementara kau belum pernah melakukan operasi ini sebelumnya? Apa kau... Sudah gila, ssaem?" sahut Taehyung sambil menatap tajam ke arah Ha Jiwon.
"Tae.. Taehyung ah... Kau... Kau dengar... Apa yang kami barusan bicarakan?" Namjoon terbelalak sambil menatap Taehyung.
Taehyung menatap Namjoon sejenak, lalu menganggukan kepalanya. "Aku.. Sudah dengar semua..."
"Kami baru saja berniat memberitahumu setelah kami memberitahu Namjoon-sshi.." sahut Minhyuk.
"Jadi.. Aku akan segera meninggal? Tiga bulan lagi? Paling lama enam bulan?" tanya Taehyung sambil menatap Minhyuk.
Minhyuk terdiam.
"Ada cara lain, imma! Kau akan sembuh!" sahut Namjoon sambil menatap Taehyung.
Taehyung menatap Jiwon. Tatapan Jiwon dan Taehyung bertemu. Mereka terdiam sambil saling menatap dalam waktu yang cukup lama.
Taehyung kemudian menoleh ke arah Namjoon.
"Aku... Tidak mau dioperasi, hyeong..." sahutnya pelan.
Taehyung segera membalikkan tubuhnya dan berjalan masuk ke dalam kamar rawatnya.
"Yaaaaa! Kim Taehyung! Apa maksudmu?" Namjoon segera berjalan cepat menghampiri Taehyung.
"Taehyung ah! Dengarkan aku! Kau bisa sembuh, imma! Kau harus melakukan operasi itu!" sahut Namjoon sambil memegang bahu Taehyung.
Taehyung menampis genggaman Namjoon di bahunya. "Lepaskan, hyeong!"
Taehyung berjalan menuju kasurnya dan berbaring di atas kasurnya.
Namjoon duduk di kursi yang ada tepat disamping kasur Taehyung.
"Waeyo? Kau bisa sembuh, imma!" sahut Namjoon.
"Ia belum pernah melakukan operasi itu, hyeong! Mana mungkin aku bisa mempercayakan tubuhku untuk dioperasi olehnya?" sahut Taehyung dengan nada ketus.
"Tapi setidaknya kita sudah mencobanya!" bentak Namjoon.
Taehyung malas meladeni kekasihnya yang sedang naik pitam itu. Taehyung berbaring sambil membelakangi Namjoon.
Selimutnya ditarik hingga ke kepalanya, menutupi kuping dan wajahnya.
"Taehyung ah..." sahut Namjoon.
Taehyung mendiamkan Namjoon seharian itu.
.
.
.
Keesokan harinya, Taehyung memaksa untuk pulang karena tidak betah terkurung dalam kamar rumah sakit itu.
Setelah Taehyung berdebat cukup lama dengan Namjoon, akhirnya Namjoon pasrah dan menandatangani surat permohonan pulang.
Setibanya di rumah Taehyung, Taehyung langsung duduk di sofa ruang utama, dan menyalakan televisi.
Namjoon segera duduk tepat disamping Taehyung. "Kau.. Berencana mendiamkanku lagi seharian ini?"
Taehyung tetap terdiam. Tatapannya tertuju ke layar televisi dihadapannya.
"Taehyung ah..." Namjoon menatap Taehyung.
"Kalau kau berniat membujukku untuk operasi, lebih baik kau pulang saja, hyeong." sahut Taehyung dengan nada ketus.
"Mengapa kau menolak? Itu satu-satunya cara untuk menyelamatkanmu!" sahut Namjoon.
Taehyung menatap Namjoon. "Kau ini bodoh atau bagaimana, hyeong?"
"Apa.. Maksudmu?" tanya Namjoon sambil mengernyitkan dahinya.
"Sudahlah, lebih baik kau pulang! Aku sedang malas berdebat denganmu lagi!" sahut Taehyung dengan nada ketus, lalu bangun dari sofa itu dan masuk ke dalam kamarnya.
Taehyung langsung mengunci pintu kamarnya agar Namjoon tidak bisa masuk ke dalam sana.
Taehyung terduduk di sudut kamar sambil memejamkan kedua matanya, kepalanya disenderkan ke tembok di belakangnya.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki Namjoon berjalan keluar dari rumah Taehyung.
Setelah yakin Namjoon sudah pulang, air mata mulai menggenang di kedua bola mata Taehyung.
"Dasar bodoh... Kalau aku menjalani operasi itu.. Dan operasinya gagal... Aku... Bahkan tidak bisa meninggal dalam pelukanmu, hyeong!" teriak batin Taehyung, sementara isak tangis terus terdengar dari mulutnya.
"Kalau aku menolak dioperasi, setidaknya aku bisa melewati tiga bulan atau enam bulan terakhirku dengan berbahagia bersamamu, hyeong!" teriak batinnya lagi. "Tapi, jika aku segera dioperasi, dan operasinya gagal, jangankan tiga bulan! Aku bahkan tidak lagi bisa menghabiskan sedetikpun dalam sisa hidupku dengan bahagia bersamamu!"
Air mata mulai membanjiri wajah manis Taehyung. Taehyung terus mengerang dalam tangisnya.
Sedikit tanya terlintas dalam benaknya. "Mengapa takdir.. Harus memanggilku secepat ini?"
.
.
.
Malamnya, Namjoon kembali mengunjungi Taehyung setelah berusaha menenangkan pikirannya.
Awalnya, Taehyung tidak mau menemui Namjoon, sampai akhirnya Namjoon berjanji tidak akan membahas masalah operasi lagi, dan Namjoon pun diijinkan masuk ke rumah Taehyung.
"Bagaimana keadaanmu? Sudah enakan?" tanya Namjoon.
Taehyung menganggukan pelan kepalanya.
"Aku membeli samgyetang kesukaanmu di rumah makan milik Jin hyeong.. Chef terkenal idolamu itu..." sahut Namjoon sambil meletakkan bungkusan itu di meja. "Ayo, kita makan bersama."
Taehyung hanya menganggukan kepalanya pelan sambil menjawab, "Hmmmm..."
Namjoon menatap Taehyung, kedua tangan Namjoon memegang kedua pipi tirus Taehyung. "Lihatlah, berat badanmu semakin menurun... Kau harus banyak makan, araseo?"
Taehyung menatap Namjoon. Tanpa sadar, air mata mulai menggenangi kedua bola mata indah milik Taehyung.
Namjoon terdiam ketika menyadari air mata Taehyung mulai tergenang.
"Aku ingin... Menghabiskan sisa hidupku yang singkat ini... Dengan bahagia bersamamu, hyeong..." sahut Taehyung dengan nada lirih.
"Nado..." sahut Namjoon sambil mengusap pipi Taehyung yang mulai basah oleh air mata.
"Kumohon.. Jangan pernah lagi.. Mengungkit.. Masalah operasi itu..." sahut Taehyung lagi, kali ini sambil terisak.
Ini pertama kalinya, setelah sekian lama, Namjoon melihat Taehyung menangis seperti itu.
Sesakit apapun Taehyung, ia selalu berusaha terlihat kuat dihadapan Namjoon selama ini dan tidak pernah menangis.
Karena itu, Namjoon sangat terkejut ketika melihat Taehyung menangis malam itu.
Namjoon tersadar, ternyata di balik sikap Taehyung yang berusaha tegar sejak mendengar kabar akan penyakitnya kemarin, hatinya pasti sudah menangis sejak kemarin.. Dan Namjoon sama sekali tidak menyadarinya!
Namjoon langsung memeluk erat tubuh kekasihnya itu. "Araseo.. Aku tidak akan membahas masalah operasi itu lagi.. Aku akan membahagiakanmu di sisa hidupmu, Taehyung ah... Ayo, kita habiskan waktu yang ada dengan bahagia..."
Taehyung terus menangis dalam pelukan Namjoon malam itu untuk waktu yang cukup lama.
.
.
.
MEI 2017 - AUTHOR POV
Taehyung memutuskan untuk resign dari tempat kerjanya dan menghabiskan seluruh sisa waktu yang dimilikinya itu bersama dengan Namjoon.
Jimin terus menangis sambil memeluk Taehyung siang itu ketika Jimin mengetahui bahwa umur sahabatnya tidak akan bertahan lama.
"Mengapa takdir begitu kejam terhadapmu, Taehyung ah? Waeyo?!" sahut Jimin dalam isak tangisnya sambil terus memeluk erat tubuh Taehyung.
"Mengapa kau akan meninggalkanku secepat ini?" teriak Jimin dalam isak tangisnya.
Taehyung terus memeluk erat tubuh Jimin dan berusaha menenangkan sahabat terbaiknya itu.
Air mata juga membasahi wajah Hoseok siang itu.
"Mianhae, kwajangnim.. Karena aku.. Sampai akhir waktuku pun.. Aku tidak bisa membalas cintamu..." sahut Taehyung.
Hoseok menganggukan kepalanya. Air mata terus menetes membasahi wajahnya. "Mengapa... Kau akan pergi secepat ini?"
Taehyung tersenyum sekilas. "Semua... Sudah diatur oleh sang maha kuasa... Aku... Hanya bisa iklas menerima takdirku..."
"Andwe, Taehyung ah! Kau tidak boleh pergi secepat ini!" Jimin etrus meraung dalam tangisnya.
Membuat Taehyung merasa berat meninggalkan sahabat terbaiknya itu.
.
.
.
JUNI 2017 - AUTHOR POV
Setelah bulan lalu Taehyung resign dari kantornya, Taehyung selalu menghabiskan setiap ahrinya dengan bahagia bersama Namjoon.
Namjoon selalu menyempatkan waktu untuk menemani Taehyung mendatangi tempat-tempat yang selama ini ingin Taehyung kunjungi.
Taehyung seringkali mengeluh perutnya sakit dan berkali-kali jatuh pingsan selama ia bersama Namjoon, namun tetap saja Taehyung akan sangat marah setiap Namjoon kembali mengungkit masalah operasi itu.
Siang itu, mereka tengah berkunjung ke sebuah kebun sayuran yang terletak di perkampungan yang berada tak jauh dari Seoul.
Udara disana sangat sejuk, makanya Taehyung meminta Namjoon menemainya kesana.
Dan ketika sedang asik berjalan sambil bergandengan tangan sambil melintas di tengah kebun sayuran itu, tiba-tiba saja Taehyung kesulitan bernafas.
Namjoon ingat, ia menyimpan nomor handphone Minhyuk-ssaem, jadi ia segera menghubungi Minhyuk.
Setibanya Kang Minhyuk dan Ha Jiwon di kebun itu, Taehyung sudah pingsan dan tidak sadarkan diri dalam pelukan Namjoon.
"Ssaem! Kumohon, ssaem! Kumohon sembuhkan Taehyung, ssaem!" pinta Namjoon dengan tatapan memelas. "Ia tadi kesulitan bernafas, lalu pingsan."
"Baringkan ia di atas kursi kayu itu!" sahut Minhyuk sambil menunjuk sebuah kursi kayu panjang di tengah kebun.
Minhyuk segera mengalungkan stetoskop di lehernya, dan memeriksa Taehyung yang sudah terbaring di atas kursi itu.
"Bagaimana kondisinya, ssaem?" tanya Namjoon dengan nada panik.
Ha Jiwon menatap Minhyuk.
"Ssaem, coba kau bantu memeriksa kondisinya.." sahut Minhyuk.
Ha Jiwon segera memeriksa kondisi Taehyung. "Aku harus segera memberikannya obat. Minhyuk-ssaem, tolong ambilkan tasku di mobilmu."
Setelah Minhyuk membawakan tas Jiwon, Jiwon segera mengobati Taehyung.
Setelah selesai diobati, mereka membawa Taehyung ke sebuah rumah warga yang berada tak jauh dari kebun itu.
Tak lama kemudian, Taehyung sadarkan diri.
"Uh? Mengapa kalian ada disini?" tanya Taehyung sambil memegang keningnya karena masih terasa pusing. Taehyung terkejut melihat kedua dokter itu duduk dihadapannya.
"Aku dimana?" tanya Taehyung sambil memandang sekelilingnya.
"Kau nyaris meninggal tadi, imma..." sahut Namjoon. Kedua matanya masih terlihat sembab.
"Mwoya?" tanya Taehyung.
"Kalau saja Jiwon-ssaem tidak cepat-cepat mengobatimu, mungkin tadi terakhir kalinya kita bergandengan tangan..." sahut Namjoon. Air mata kembali menggenangi kedua mata kecil Namjoon.
"Mian, hyeong..." sahut Taehyung sambil menundukkan kepalanya.
"Kusarankan, kalian jangan berpergian terlalu jauh karena resikonya sangat tinggi." sahut Jiwon. "Kami juga akan kesulitan menghampiri kalian kalau kalian berpergian terlalu jauh."
"Araseo,ssaem.." sahut Namjoon sambil menganggukan pelan kepalanya sambil menghapus air mata di wajahnya.
.
.
.
Sebelum naik ke mobil Minhyuk untuk kembali ke Seoul, Minhyuk dan Jiwon berjalan-jalan sejenak sambil menikmati udara segar di perkampungan itu.
Keduanya berdiri di tepi danau sambil menikmati udara segar yang nyaris tak pernah mereka hirup selama mereka berada di rumah sakit.
"Menurutmu... Berapa lama lagi Taehyung-sshi akan bertahan hidup?" tanya Minhyuk.
Jiwon terdiam sejenak.
Tak lama kemudian ia menjawab, "Jika ia tetap menolak untuk dioperasi... Umurnya tidak akan bisa bertahan sampai empat bulan ke depan..."
"Padahal ia masih sangat muda..." sahut Minhyuk pelan.
"Majjayo..." sahut Jiwon.
Keduanya sama-sama kembali terdiam sambil kembali menikmati angin sore itu.
Mereka berdua memang selalu menjadi sentimental setiap menghadapi pasien yang akan segera kehilangan nyawanya.
.
.
.
JULI 2017 - AUTHOR POV
"Aaaaarghhhhhhhhhhh!" Taehyung tiba-tiba mengerang kesakitan sambil memegang perut bagian bawahnya. "Arghhhhhh!"
"Taehyung ah! Kim Taehyung! Kau kenapa lagi?" Namjoon segera berlari menuju ruang utama ruimahnya ketika mendengar teriakan Taehyung.
Saat itu Namjoon sedang memasakkan makanan untuk Taehyung di dapur rumahnya.
"Perutku... Perutku sakit, hyeong... Arggghhhhh!" rintih Taehyung.
Namjoon segera membopong tubuh Taehyung ke dalam mobilnya, lalu Taehyung segera dilarikan ke UGD Bighit Hospital.
.
.
.
"Kondisinya semakin parah..." sahut Minhyuk ketika menemui Namjoon.
"Kalau tidak segera dioperasi, nyawanya tidak akan lama lagi.." sahut Jiwon.
"Tapi Taehyung... terus menolak untuk dioperasi..." sahut Namjoon dengan nada lirih.
.
.
.
"Kau yakin bisa melaksanakan operasi itu, ssaem?" tanya Minhyuk ketika ia sedang berdua di dalam ruangan praktek Jiwon.
"Setidaknya, aku sudah banyak mempelajari mengenai operasi ini..." sahut Ha Jiwon sambil terus berkutat dengan buku-buku di hadapannya, tanpa sedikitpun menatap ke arah Minhyuk. "Dan aku pasti akan melakukan semua yang terbaik yang ku bisa."
"Haruskah aku.. Kembali membujuk Namjoon-sshi agar ia mau membujuk Taehyung-sshi?" tanya Minhyuk.
"Selain operasi ini, tak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan nyawa Taehyung-sshi.." sahut Jiwon.
.
.
.
Pertengkaran kembali terjadi malam itu di kamar tempat Taehyung dirawat.
"Bukankah sudah kubilang? Ini pilihanku, hyeong! Aku.. Memilih untuk menolak dioperasi!" bentak Taehyung.
"Tapi... Hanya ini satu-satunya jalan untuk menyelamatkanmu!" bentak Namjoon.
"Bukankah sudah berapa kali aku mengatakan padamu, hyeong? Jangan pernah membahas masalah operasi.. Atau aku tak mau lagi menemuimu!" sahut Taehyung sambil membaringkan tubuhnya membelakangi Namjoon.
"Taehyung ah... Jebal..." pinta Namjoon sambil meneteskan air matanya.
"Aku tetap memilih untuk tidak dioperasi." sahut Taehyung dengan singkat.
.
.
.
Setelah Taehyung pulang dari rumah sakit, pertengkaran antara Namjoon dan Taehyung jadi semakin sering terjadi, karena Namjoon terus berusaha membuat Taehyung merubah pilihannya, namun Taehyung tetap bersikeras mempertahankan pilihannya untuk tidak dioperasi itu.
Sore itu, di atas jembatan dekat rumah Taehyung, pertengkaran itu kembali terjadi.
"Aku... Tetap tidak akan merubah pilihanku sampai aku mati nanti, hyeong!" sahut Taehyung sambil menatap Namjoon dengan ekspresi kesal di wajahnya.
"Lalu? Kau lebih memilih melihatku semakin menderita melihatmu menghitung detik-detik terakhirmu begini?" sahut Namjoon dengan ketus.
"Jadi.. Kau menderita selama bersamaku, hyeong?" sahut Taehyung.
"Bukan itu maksudku, imma! Aku tidak menderita bersamamu, tapi aku menderita melihatmu terus saja kesakitan seperti itu!" sahut Namjoon.
Taehyung terdiam sejenak, lalu menjawab, "Kau tahu mengapa aku menolak operasi itu?"
"Karena kau takut. Kau tidak mempercayai Jiwon-ssaem!" sahut Namjoon.
Taehyung menggelengkan kepalanya. "Aniya..."
"Lalu mengapa kau menolak dioperasi?" tanya Namjoon.
"Karena aku... Ingin menghabiskan sisa hidupku... Dengan selalu berbahagia disisimu, hyeong... Aku... Tidak ingin... Meninggal di atas meja operasi sebelum aku sempat menghabiskan waktuku dengan berbahagia bersamamu..." sahut Taehyung lirih.
DEG!
Namjoon terdiam sejenak.
"Tapi... Jika kau dioperasi, bukankah kita akan semakin banyak memiliki waktu bersama kedepannya?" sahut Namjoon.
Taehyung menggelengkan kepalanya. "Aku merasa... Bahwa memang sudah waktunya aku pergi dari dunia ini, hyeong..."
"Maksudmu, kau yakin operasi itu tidak akan berhasil?" tanya Namjoon.
Taehyung menganggukan kepalanya.
"Lalu.. Kau lebih suka melihatku seperti ini? Tertawa bersamamu namun hatiku terus menangis melihatmu menderita seperti ini?" sahut Namjoon dengan anda dingin.
Taehyung terdiam.
"Pilihanmu.. Sangat egois, Kim Taehyung! Kau memilih sesuatu yang kau sangka baik untukmu tanpa mencoba memahami posisiku!" bentak Namjoon.
"Hyeong..." sahut Taehyung dengan nada lirih. Ia sangat jarang melihat Namjoon seemosi itu.
"Kali ini.. Aku yang akan mengancammu, imma! Kalau kau tetap memilih untuk menolak operasi itu... Kau tidak akan pernah bisa menemuiku lagi, araseo?" sahut Namjoon dengan ekspresi sangat serius di wajahnya.
"Hyeong!" Taehyung memegang tangan Namjoon.
Namjoon menampis tangan Taehyung. "Aku serius kali ini!"
Namjoon pun berjalan menjauh dari Taehyung.
Dan saat itu juga.. Tepat dihadapan Taehyung... Ketika Namjoon sedang berusaha menyeberangi jembatan itu, sebuah truk yang melaju sangat cepat menghantam keras tubuh Namjoon.
DUG!
CIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTTTTTTTTT
Suara decitan ban trus itu terdengar begitu mengerikan di telinga Taehyung.
Kedua mata Taehyung terbebelak sangat sangat lebar.
Untuk beberapa detik lamanya, ia tidak bisa menggerakan tubuhnya.
Tubuhnya kaku.
Jantungnya nyaris melompat keluar dari tubuhnya.
"Hyeo... Hyeong... Hyeong..." Hanya desahan kecil itu yang keluar dari mulutnya.
Dan ketika supir truk itu turun untuk melihat kondisi Namjoon, Taehyung segera berlari menghampiri tubuh Namjoon yang tergeletak di jalanan di jembatan itu.
Tubuh Namjoon terkapar lemah. Darah merah pekat membanjiri aspal jalanan di sekitar tubuh Namjoon.
Kepala Namjoon mengeluarkan darah yang sangat banyak, bahkan kemeja putih yang dikenakannya sore itu berubah menjadi warna merah karena darah begitu banyak membasahi kemeja Namjoon.
"HYEOOOONG! NAMJOON HYEOOOOOOOOOONGGGGGGGGG!" Taehyung terus berteriak sejadi-jadinya sambil memeluk erat tubuh kekasihnya yang bersimbah darah itu.
.
.
.
SEPTEMBER 2017 - AUTHOR POV
Setelah Namjoon meninggal, Taehyung merubah warna rambutnya.
Karena warna ash grey selalu mengingatkan Taehyung akan ucapan Namjoon dulu, ketika pertama kali Taehyung menunjukkan padanya warna rambut ash greynya itu.
"Aku kurang suka warna rambutmu begitu, imma! Kau jadi terlihat seperti kakek-kakek tua yang akan segera mati, cih!" gerutu Namjoon ketika Taehyung memamerkan warna rambut barunya.
"Doamu jelek sekali, hyeong... Ckckck..." gerutu Taehyung sambil menggelengkan kepalanya.
"Cat lagi rambutnya jadi coklat keemasan.. Aku paling suka melihatmu dengan warna rambut itu." sahut Namjoon.
"Ani~ Aku akan tetap mempertahankan rambut ash greyku. Kalau kau tidak suka, kau bisa minta putus dan berpisah saja denganku, cih!" sahut Taehyung, berpura-pura jual mahal terhadap kekasihnya.
"Araseo, imma.. Araseo... Aku akan menerimamu apa adanya, puas?" sahut Namjoon sambil mengacak pelan rambut Taehyung.
Membuat Taehyung tersenyum sangat manis.
Suara gemuruh petir menyadarkan Taehyung dari lamunannya.
Tak lama kemudian, Taehyung berjalan keluar dari halaman rumahnya.
Hujan yang baru saja berhenti sore itu masih menyisakan sedikit rintik - rintik kecil yang berjatuhan dari langit ke muka bumi ini.
Udara masih terasa sangat dingin
Taehyung terus berjalan dengan mengenakan kemeja tipis bermotif kotak - kotak berwarna biru putih dengan beberapa bagian berwarna orange, celana panjang berbahan tipis berwarna coklat muda, dan sepatu kets putih, menyusuri sepanjang jalan dari rumahnya menuju ke jembatan itu.
Jembatan...
Dimana ia.. Kehilangan sosok Kim Namjoon yang paling berharga baginya itu.. Dua bulan yang lalu.
Taehyung terus berjalan, membiarkan udara yang begitu dingin menusuk tulang - tulangnya. Tubuhnya semakin kurus akibat kanker rektum yang dideritanya itu
Beberapa mobil melintas di jalanan itu dan membuat percikan dari genangan air hujan di jalanan membasahi kemeja Taehyung.
Namun, Taehyung mengabaikan semua itu. Padahal, biasanya Taehyung akan marah - marah jika ada yang berani - beraninya membasahi pakaiannya dengan air kotor seperti itu.
Taehyung terus berjalan, dan tanpa ia sadari akhirnya ia tiba juga di jembatan itu.
Jembatan... Yang ingin dibuangnya jauh - jauh dari benaknya.. Namun, tak pernah berhasil..
Taehyung berjalan ke tepi jembatan, menatap sungai yang terbentang luas di bawah sana.
Tak lama kemudian, Taehyung berjalan ke pinggir jalan yang berada tepat di jembatan itu. Jalanan di jembatan itu sedang kosong.
Tak ada satupun kendaraan yang melintas.
Taehyung menatap sebuah genangan air yang terbentuk di pinggir jalanan itu.
Taehyung pun berjalan mendekat ke arah genangan air itu, dan ia segera berjongkok di pinggir jalanan itu.
Taehyung menatap ke genangan air yang ada di hadapannya itu dengan ekspresi sedih. Menatap pantulan wajahnya yang terbentuk di genangan air itu.
"Hyeong..." gumamnya pelan. "Would you not have left? If I had made a different choice."
Tanpa disadari, air mata Taehyung mulai menetes membasahi kedua pipinya.
"Hyeong..." gumamnya lagi sambil memejamkan kedua matanya, merasakan betapa dinginnya angin yang menyeka wajahnya. "Seandainya saja.. Aku membuat pilihan yang berbeda waktu itu.. Seandainya saja... Aku mendengarkan permintaanmu dan memilih untuk dioperasi.. Apakah saat ini kita sedang tertawa bersama karena aku selamat dari penyakitku ini?"
Air mata Taehyung menetes, ikut menggenang di genangan air di hadapan Taehyung itu.
"Seandainya aku merubah pilihanku waktu itu.. Apakah kau tidak akan pergi dari dunia ini dan masih berpijak di atas muka bumi ini?" gumam Taehyung lagi. "Walau aku meninggal di meja operasi, setidaknya.. Kau masih bisa bernafas kan di muka bumi ini?"
Penyesalan itu selalu menghantui Taehyung selama dua bulan itu.
Kondisi Taehyung juga semakin parah semenjak Namjoon meninggalkannya. Ia jadi semakin sering pingsan dan kesulitan bernafas, makanya Jimin memutuskan pindah ke rumah Taehyung untuk menjaga Taehyung.
Dan sore itu, Taehyung akhirnya memantapkan pilihannya.
Setelah menghapus air matanya, Taehyung berjalan ke tepi jembatan itu dan kembali menatap sungai yang terbentang luas di bawah sana, lalu menatap ke langit yang terbentang indah di atas kepalanya.
"Hyeong... Semoga kali ini, pilihanku tidak salah..." gumam Taehyung sambil memejamkan kedua matanya, menikmati hembusan angin untuk terakhir kalinya.
"Aku kali ini memilih untuk segera menyusulmu di alam sana.. Semoga kau akan menyambutku dengan senyumanmu dan berkata padaku bahwa aku telah membuat pilihan yang terbaik kali ini..." gumam Taehyung sambil menggenggam erat tepi jembatan itu
Taehyung menaiki tepi jembatan itu, dan kembali memejamkan kedua matanya.
"Lets meet again there, Kim Namjoon... The person that i really love..." bisiknya pelan sambil melompat ke dalam sungai itu.
.
-END-
NOTE: YIHAAAAA~ SUKSES NGE-ANGST KAN AKHIRNYA wkwkw XD
Setelah gagal ngeangst di 7 chapter kemarin, akhirnya sukses angst di FF ini :)
Oke, FF "A Choice - NamV" ini END sudah :) Semoga FF ini bisa menghibur kalian semua :) /deep bows/
Dan untuk next project adalah... "I'M ALRIGHT - YoonSeok YoonMin FF" :) Silakan ditunggu untuk next projectnya ya :)
reply for review:
ichikawa haru : here lanjutannya haru :)
kkeuji : wkwkw suka jhope ji? :) nice to meet u btw :) kanker rektus itu di usus bukan di hati, tapi operasi hepactomy itu memang ada hubungannya sama pengangkatan hati gt deh wah kok km ngerti? jgn2 kedokteran ya jurusannya? thx buat semangatnya ji :) km jg semangat ya! :)
VnRM09 : salam kenal vn/? saya panggilnya apa nih biar enak? thx btw for reading this ff :) hope u like it :)
