Hahahaha, terima kasih atas salah satu guest yang udah nge-review,

tentang tulisanku yang kurang deskripsinya, kurang diksinya, banyak yang gak enak dibaca dan belum bisa menikmati tulisanku.

Jujur saja ya, saya dulu paling tidak suka disuruh buat karangan pas pelajaran bahasa Indonesia. Jadi sampai sekarang saya memang tidak terlalu tau mengenai hal-hal itu.

Jadi mohon dimaklumi ya…

Maaf kalau cerita saya belum dapat membuat teman-teman menikmati.

#bersimpuh menundukkan kepala.

Happy reading…

JJ

.

.

.

Pria itu tidak mempedulikan kondisi Hinata yang berbau busuk dengan pakaian yang kotor dan lengket. Sekarang Hinata digendong dan dimasukkan ke dalam mobil dan dengan sekejap mobil pria itu langsung saja berbau busuk.

"Tenang saja." Kalimat itulah yang terlontar dari mulut lelaki saat melihat raut wajah Hinata yang merasa tidak enak dan ketakutan.

Memang Hinata tidak mengetahui siapa nama pria yang sedang bersamanya, tapi ia meyakini bahwa pria itu adalah orang baik karena dia dengan rela menolongnya tanpa mempedulikan keadaan Hinata.

Disclaimer©Masashi Kishimoto

Love From You

Chapter 10

Mobil yang membawa Hinata melaju pelan, tidak ada suara yang terdengar dari kedua insan itu. Mereka membisu dengan pemikiran mereka masing-masing. Hinata beberapa kali melirik pria yang ada di samping, yang hanya fokus melihat jalanan. Hingga tidak terasa Gaara sudah memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah taman.

"Ayo." Kata Gaara sambil membukakan pintu di samping Hinata.

Hinata sempat ragu untuk keluar dari mobil itu dikarnakan penampilannya yang kacau.

"Sudah tidak apa-apa." Ucap Gaara seolah membaca keraguan Hinata. Namun akhirnya mereka pun berjalan menuju sebuah bangku yang berada di taman tersebut.

"A-Ano Mmm…" Ucapnya memikirkan panggilan yang tepat untuk pria yang berdiri di hadapannya.

"Gaara, Sabaku Gaara."

"A-aku Hyuuga Hinata. Sa-sabaku-san a-"

"Gaara, Kau cukup memanggilku Gaara."

Hinata mengangguk, "Ga-Gaara-san terima kasih telah menolongku." Ucapnya sambil mengangguk.

Gaara POV

Ada keraguan saat aku mengajaknya untuk turun menuju sebuah taman, ya aku tau ini pasti karena penampilannya yang berantakan. Tapi aku meyakkinnya untuk segera turun dari mobil dan mengikutiku. Aku melihatnya hanya berjalan menunduk, apa dia selalu seperti ini –menunduk. Aku tau dia menahan perasaan malu dan ku lihat ada setetes air yang jatuh dari wajahnya. Aku melihat sebuah bangku yang di taman tersebut, maka aku pun mengajaknya menuju tempat tersebut.

Saat ini aku menatapnya yang sedang menunduk dan menahan isak tangisnya. Saat aku mendengarnya seperti itu mengingatkanku pada kecelakaan Temari. Ada rasa tidak senang saat melihatnya seperti itu, tapi ada sebuah pemikiran gelap yang memenuhi pemikirannya karena mengingat kejadian itu. 'Aku aku akan membalas kalian terutama kau Sasuke dan lihat siapa yang akan menderita.'

Flashback On

Keesokan harinya setelah semalaman menunggu kabar dari dokter yang melakukan operasi pada Temari, akhirnya sang dokter keluar.

"Bagaimana keadaanya dok?" Tanya Kankuro dengan panik.

"Operasinya sukses tapi pasien masih mengalami koma" #gak tau aku kayak mana ngomong ala2 dokter gitu.

Setelah dokter pergi, Gaara pun beranjak pergi juga.

"Mau kemana kau Gaara?" Tanya sang kakak.

"Aku ingin menemui Shikamaru dan menghajarnya."

"Tunggu dulu Gaara, kita belum tau bagaimana kejadian sebenarnya." Kankuro maju dan memegang pundak sang adik "Kita jangan sampai membuat Temari menjadi lebih sedih lagi. Sekarang lebih baik bawa Shikamaru kemari, mungkin saja Temari akan membaik."

Setelah mendengar perkataan sang kakak, akhirnya Gaara menyetujuinya dan memutuskan untuk menemui Shikamaru. Saat sudah sampai di kediaman Nara ternyata di sana juga ada Naruto, Sai dan Sasuke yang berbincang di dekat gerbang utama –tidak jauh dari tempat berdiri Gaara.

"Wah ternyata Shikamaru si pemalas satu ini hebat juga ya, bisa mendapatkan Temari." Ucap Naruto.

Saat Gaara mendengarkan nama sang kakak disebut, ia tidak jadi memencet bel dan hanya mendengarkan pembicaraan itu.

"Sudahlah." Ucap Shikamaru sambil menguap.

"Apa kalian tidak salah menjadikan Temari sebagai mainan? Itu terlalu jahat Shikamaru." Ucap Sai sambil tersenyum.

'Mainan? Apa maksud perkataan itu.' Batin Gaara.

"Aku juga merasa bersalah, tapi Sasuke terus saja memaksa kami untuk melakukan permainan ini." Ucap Naruto berusaha membela diri dan Shikamaru hanya menghela nafas.

"Aku tidak peduli, mereka sudah menyetujui permainan ini." Kata Sasuke.

"Kalian benar-benar jahat jika melakukan itu, kaliankan memiliki perempuan yang harus dilindungi." Ucap Sai sambil tersenyum palsu.

"Aku tau itu, Shikamaru dan aku juga sudah pernah untuk membatalkan permainan ini, tapi Sasuke tidak setuju." Balas Naruto.

"Kalian jangan menyalahkan aku Naruto, Shikamaru. Bukankah kalian yang setuju dengan ini semua dan aku tidak peduli dengan hal lainnya, kalian harus memainkannya dan kuharap kalian akan melakukannya. Shikamaru kau harus menyatakan perasaaanmu dan kemudian menyatakan itu hanya bercanda jika dia menerimamu." Sasuke menatap sambil menyeringai.

Gaara sungguh-sungguh marah mendengarkan perkataan Sasuke. Setelah itu dia pergi tanpa menemui Shikamaru. 'Kalian memang brengsek akan ku buat kalian menerima pembalasan dariku.'

Flashback Off

Dia terus saja terisak, sungguh menyedihkan jika aku berbuat jahat padanya tapi ini semua adalah salahmu Sasuke. Setelah itu aku berjongkok dihadapannya dan memegang tangannya yang terkepal di atas roknya, ia terkejut dengan apa yang kulakukan dan segera menarik tangannya.

"Sudah jangan menangis, kau sudah aman. Kalau kau terus menangis orang lain bisa mengira aku berbuat jahat padamu." Ucapanku ini benar, lihat saja beberapa orang sedari tadi menatap ke arahku.

Ia menghentikan tangisnya dan mulai menarik nafas berlahan untuk menenangkan diri, "Ma-maaf…"

"Sudahlah tidak apa-apa, kau bisa menungguku sebentar di sini? Ada yang tertinggal." Ucapku.

"Y-ya."

Aku segera berjalan menuju mobilku untuk mengambil sebuah jaket, sapu tangan, air mineral dan kota P3K. Sesudah mengambil barang tersebut aku berjalan kembali ke bangku taman tempat dimana Hinata menungguku.

Aku melihat sekelompok remaja yang sedang berjalan dan aku mengenal mereka. Aku menghentikan langkahku dan menatap kearah mereka –Sasuke, Sai, Shikamaru, Naruto dan seorang perempuan yang membelakangiku. Melihat arah mereka berjalan pasti sebentar lagi mereka akan melewati tempat Hinata, aku harus segera bergegas dan ayo lihat bagaimana reaksinya.

Segera ku letakkan semua barang yang ku bawa tadi ke samping Hinata dan segera berjongkok di depannya. Dia menatap heran ke arah ku yang sedang berjongkok di hadapannya.

"Gaara-san? Untuk apa semua ini?" Tanyanya.

Aku tidak menjawab pertanyaannya dan hanya bergerak mengambil kotak P3K. Aku memegang kakinya yang terluka namun dia segera menariknya.

"Sudah sini, lukamu harus diobati."

"A-aku bisa sendiri." Ucapnya dan ingin meraih apa yang kepegang.

"Sudahlah, biar aku yang melakukannya."

Setelah itu aku membersihkan luka di lutut kakinya dan kemudian mengobati dan menutupnya dengan perban. Aku kemudian membasahi sebuah sapu tangan dan segera membersihkan rambut dan wajahnya yang kotor mungkin karena ulah anak-anak yang mengejarnya tadi. Akhirnya semua yang kulakukan selesai.

"Te-terima kasih Gaara-san." Ucapnya sambil tersenyum tulus dengan wajah memerah.

'Lucu' Itulah pemikiran ku saat melihat wajahnya yang memerah dan kegagapannya.

"Ya, sama-sama." Aku pun memberikannya jaket yang ku bawa tadi untuk menutupi pakaiannya yang kotor.

Kami tidak segera pulang, ada beberapa perbincangan yang kami lakukan. Entah kenapa berbicara dengannya tidaklah membosankan dan sikapnya yang terlihat malu-malu itu membuatku ingin tertawa.

Normal POV

Tidak jauh dari tempat Hinata dan Gaara terlihat lima orang remaja, mereka berjalan pelan sambil berbincang-bincang serius.

"Apa kalian sudah mengetahui siapa yang melakukan itu?" Tanya Sasuke.

"Dia suruhan Sasori." Jawab Shikamaru.

"Sasori? Bukankah dia saudara Gaara?" Tanya Naruto.

"Ya, dia juga sudah menjadi anggota mereka." Jawab Shikamaru.

"Sepertinya masalah yang kalian bertiga perbuat, sudah menyebabkan masalah yang lebih besar lagi." Ucap Sai tanpa memperdulikan tatapan ketiga pria di depannya dan tetap mengeluarkan senyum palsunya. "Kenapa kalian menatapku seperti itu, itu memang benarkan?"

Tidak ada seorang pun yang menjawab hal itu.

"Sudahlah Sai-kun, itu hanya kesalahpahaman saja. Sasuke-kun, Shikamaru-kun dan nii-chan tidak bermaksud berbuat seperti itu." Ucapan itu keluar dari bibir saudara kembar Naruto.

Sai pun hanya menggerakkan bahu ke atas untuk menanggapi ucapan Naruko.

Flashback On

Saat Naruko berjalan seorang diri melewati gang-gang kecil menuju markas kakaknya, tiba-tiba ada beberapa orang yang menghambat jalannya.

"Siapa kalian?" Tanya Naruko pada beberapa pria yang menghambat jalannya.

"Wah kau benar-benar sombong sekali, sampai tidak mengenal kami." Ucap salah satu dari pria itu.

"Sudahlah tidak usah banyak bicara, kita hanya perlu membawanya kepada ketua."

Setelah itu beberapa orang menangkap dirinya dan menyeretnya, namun sebelum sampai di depan gang yang telah ada beberapa orang menunggu di dalam mobil, Naruko dapat melepaskan diri dari pegangan pria tadi dan melarikan diri.

Naruko melihat kebelakang dan masih melihat orang-orang yang mengejarnya bertambah banyak. Naruko mencoba bersembunyi dan kemudian melarikan diri namun tetap saja mereka masih mengejar dan mencarinya. Saat tiba di sebuah tempat ia melihat seseorang yang dikenalnya, "Shikamaru-kun.." Ucapnya berteriak.

Orang yang dipanggil pun menoleh ke asal suara dan terkejut melihat Naruko terjatuh dan beberapa orang yang menuju ke arah Naruko. Saat itu Shikamaru tau bahwa orang-orang itu adalah salah satu anak buah dari musuh 'devil'.

Saat salah satu dari mereka ingin menarik Naruko, tapi sebelum itu terjadi Shikamaru sudah menghentikan gerakan orang itu dan menghajarnya. Shikamaru memandang malas pada orang-orang dihadapannya sambil menguap. Setelah beberapa saat terdiam, mereka pun berlari kearah Shikamaru dan menghajarnya secara bersamaan. Shikamaru yang merupakan anggota dari devil sudah pasti ahli dalam bela diri dan tidak butuh waktu lama baginya untuk menjatuhkan semua lawannya.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya Shikamaru sambil membantu Naruko berdiri.

"T-tidak apa-apa." Ucap Naruko lemah dan kemudian jatuh pingsan ke arah Shikamaru, kala itu Shikamaru menangkapnya –seperti meluk gitu. Mungkin ini karena dia kelelahan setelah berlari.

Tidak jauh dari tempat itu sepasang mata menatap Shikamaru dengan air mata berlinang –menyaksikan adengan pelukan itu. Ia datang dan melihat Shikamaru tepat saat Naruko pingsan, namun gadis yang menangis itu tidak mengetahui prihal itu.

"Shikamaru…" Ucapnya pelan namun terdengar oleh sang pemilik nama.

"Temari…" Ia terkejut melihat air mata yang jatuh dari mata perempuan di hadapannya yang kemudian berlari, "Temari, tunggu. Temari." Panggilnya.

Shikamaru yang sedang memegang Naruko yang pingsan tidak mungkin meninggalkannya dalam keadaan seperti ini. Akhirnya ia pun menghembuskan nafas frustasi dan mengangkat Naruko menuju parkiran.

'Nanti aku akan menemuimu dan menjelaskan semuanya Temari." Ucapnya dalam hati.

Namun saat sampai di kediaman Sabaku pada malam harinya, tidak ada seorang pun yang membukakan pintu. Yang ada hanya penjaga yang menyatakan bahwa seluruh keluarga Sabaku pergi dengan terburu-buru dan tidak menyatakan pergi ke mana.

Flashback Off

Saat mendengar cerita itu dari Shikamaru, Naruko sangat merasa bertanggung jawab atas kekacauan yang telah diperbuatnya. Tapi ia tidak dapat melakukan apa-apa karena Shikamaru sendiri tidak pernah lagi bertemu Temari sejak kejadian itu.

"Naruko kau mau kemana?" Kata Naruto.

"Aku mau ke toilet." Ucap Naruko dengan wajah yang sedih.

"Tunggu aku akan antar." Kata Naruto khawatir

"Sudahlah nii-chan aku hanya ingin ke toilet, nii-chan tidak perlu mengantarku." Katanya kemudian pergi.

Di lain sisi Sasuke sangat tidak suka mendengar perkataan Sai yang selalu menyalahkannya, terutama perkataan Naruto. Karena malas mendengar hal itu Sasuke lebih mempercepat jalannya.

"Sasuke tunggu." Ucap Naruto.

"Biarkan saja dia Naruto, dia hanya tidak suka mendengar perkataan Sai." Ucap Shikamaru.

Sasuke berjalan lebih cepat dan tidak memperdulikan panggilan Naruto. Iris hitam pekatnya melihat sebuah objek yang tidak asing.

Sasuke POV

'Hinata?' Aku berjalan lebih dekat untuk memastikan penglihatanku sendiri dan benar dia adalah Hinata, tapi dia tidak seorang diri. Ada seorang laki-laki yang berjongkok di depannya, aku tidak dapat melihat siapa laki-laki itu karena dia membelakangiku. Aku hanya terdiam memandang ke arah mereka berdua tanpa berniat untuk menuju ke sana.

Laki-laki itu sedang sibuk mengobati kaki Hinata, karena aku lihat sebuah kotak P3K di sebelahnya. Sekarang dia malah membersihkan rambut dan wajah Hinata dan kemudian memberikan sebuah jaket kepada Hinata. 'Sebenarnya apa yang terjadi dengan Hinata kenapa dia sampai seperti itu.'

Melihat itu aku merasakan perasaan aneh. Aku semakin penasaran ingin melihat siapa pria itu, tapi dia seperti tidak ingin menunjukkan wajahnya dan hanya tetap berjongkok di depan Hinata dan tidak berniat duduk di samping Hinata dan memandang wajah Hinata yang menunduk. Tapi rambut merah itu langsung membuatku teringat terhadap gang wind waves. Tapi dari mana Hinata dapat mengenalnya.

Tiba-tiba ponsel di saku celanaku bergetar dan sebuah telpon masuk.

"Ada apa?"

"Sasuke kau harus kembali."

"Baiklah."

Segera ku tutup ponselku dan ku kembalikan ke saku celanaku.

Normal POV

Pagi ini semua murid sudah memasuki kelasnya masing-masing begitu juga dengan para murid dan saat ini di kelas A sedang mengajar Iruka.

"Setelah semua tugas di kumpulkan maka sensei akan memberikan tugas lainnya." Perkataan Iruka sensei membuat murid-murid bersorak tidak suka.

"Sensei terlalu sering memberikan tugas, lihat wajah kami sudah menjadi lebih tua dari sensei." Ucapan itu keluar dari Naruto, si pirang satu ini memang selalu membuat guru dihadapannya marah karena ditertawakan oleh murid lainnya.

"Naruto! Kalau kau tidak suka dengar tugas yang kuberikan segera keluar dari kelas" Ucap Iruka.

"Sensei… jangan marah-marah dong, aku kan cuma bercanda." Cengiran khasnya dikeluarkan deh.

"Aduh!" Ucap si pirang itu dan menatap teman sebangkunya, "Sakura ada apa?"

"Kau harus sopan terhadap orang yang lebih tua." Kata Sakura.

Mereka akhirnya berdebat kecil dan melupakan sensei mereka yang menatapnya semakin marah.

"Kalian berdua keluar dari kelas saya!" Kali ini nada bicara guru tersebut tidak dapat dianggap bercanda lagi, semua murid di kelas akhirnya terdiam.

"T-ta.." Ucap Sakura terkejut, dia yang ingin membela sang guru malah dikeluarkan dari kelas.

"Haruno Sakura dan Uzumaki Naruto segera keluar." Suara Iruka semakin menandakan amarahnya. Setiap kata yang dikeluarkannya penuh dengan penekanan.

"Baiklah Iruka-sensei." Ucap Sakura dan pergi keluar kelas.

Sakura berjalan cepat meninggalkan Naruto yang mengikutinya, "Ini semua gara-gara kau Naruto."

"Maafkan aku Sakura."

"Aku tidak mau memaafkanmu dan jangan ikuti aku." Ucap Sakura dan menghentikan langkahnya menatap garang pada Naruto. Setelah menyatakan itu dia pun pergi dan Naruto tidak lagi mengikutinya.

(^_^)

Hinata POV

Seperti biasanya Naruto-san selalu membuat Iruka-sensei sebagai candaan hingga tiap anak di dalam kelas tertawa. Tapi kali ini tanggapan sensei berbeda dari biasanya, dia menyuruh Naruto untuk keluar kelas dan saat itu juga Sakura erkena dampaknya. Aku sama sekali tidak mengetahui mengapa Sakura juga terkena namun yang pasti kali ini Iruka-sensei benar-benar marah.

Sesat aku memandang ke arah bangku Naruto-san dan Sakura-chan, entah kenapa suasana kelas berubah setelah Iruka-sensei menyuruh mereka berdua keluar kelas.

"Sampai kapan kalian terus diam, cepat kerjakan tugas kalian." Ucap Iruka sensei.

Aku menatap Sasuke yang berada di sebelahku yang sedang memainkan ponselnya. Kemudian aku kembali fokus pada buku pelajaran untuk mengerjakan tugas yang diberikan Iruka sensei. Aku sudah mengerjakan beberapa soal, namun terhenti di soal ke tujuh. Beberapa kali aku membolak-balikkan buku bacaan dan catatanku tetap saja aku tidak bisa mengerjakannya.

Aku menolehkan kepalaku pada Sasuke ternyata dia masih saja sibuk dengan ponselnya, 'Apa Sasuke-san sudah mengerjakan tugasnya?' Aku ingin bertanya mengenai soal yang tidak dapat ku kerjakan, tapi ada perasaan takut saat melihatnya.

"Ada apa?"

Jantungku seakan ingin berhenti karena terkejut mendengar pertanyaan yang tiba-tiba darinya.

"Kenapa kau memandangku?" Tanya Sasuke kembali.

'Bagaimana Sasuke-san mengetahui aku menatapnya? Pertanyaan yang terlontar darinya membuat aku malu. Ya ampun aku tertangkap basa memandangnya. Mungkin saat ini wajahku sudah memerah.

"A-ano Sa-sasuke-kun, b-bisa beritahu cara mengerjakan soal ini?" Tanyaku sambil menunjuk pada soal yang ada di buku pelajaran.

Normal POV

Setelah menunjuk soal yang tidak dapat dikerjakannya Hinata menunggu jawaban dari Sasuke. Wajahnya sudah menunduk ketika tidak ada jawaban dari teman sebangkunya, hal itu jelas membuatnya semakin gugup.

"Ka-kalau Sasuke-san tidak mau, tidak apa-apa." Ucap Hinata pelan dan kembali membuka catatannya.

Saat itu Sasuke hanya memandang ke arah Hinata di pikirannya hanya ada pertanyaan mengenai pria yang bersama Hinata di taman kemarin. Dia sudah bertanya pada Naruto dan Shikamaru tentang anak yang memiliki rambut merah dan mereka menjawab anak itu antara Sasori dan Gaara. 'kalau benar itu mereka, bagaimana mereka mengenal Hinata? Dan apa tujuan mereka mendekatinya.?' Itulah yang selalu dipertanyakannya. Karena tidak menemukan jawaban, akhirnya Sasuke pun menghela napas.

Saat Ini Hinata masih membolak-balikkan bukunya dan tiba-tiba dia dikejutkan oleh Sasuke yang menarik buku bacaan di depan Hinata.

"Nomor berapa yang tidak kau mengerti?" Ucap Sasuke datar. Ia segera memasukkan ponsel yang sedari tadi menemaninya ke dalam saku celananya, menggeser bangku yang nya agar lebih dekat pada Hinata.

Hinata hanya diam dan menunjuk soal yang tidak dimerngertinya. Dan Sasuke mulai menjelaskan secara rinci.

Saat Sasuke menjelaskan, Hinata tidak benar-benar mendengarkan karena kegugupannya. Sebelumnya ia tidak pernah duduk sedekat ini dengan pria lain kecuali Hiashi dan Neji. Wajahnya memerah saat lengannya bersenggolan dengan lengan Sasuke. Ia menatap Sasuke yang seakan tidak mempedulikan mengenai hal itu.

"Sudah puas memandang wajahku?" Ucapan Sasuke benar-benar membuatnya terkejut. Ia langsung memalingkan wajahnya saat itu juga untuk menutupi wajahnya yang merah.

Melihat Hinata yang salah tingkah membuat seulas senyum tipis melengkung di wajah Sasuke. Entah ini hanya perasaannya saja, atau memang seperti ada hawa panas di sekitarnya. Walaupun dia tidak menunjukkannya di hadapan Hinata, tapi ia berusaha keras untuk bertingkah biasa saja saat lengannya menyenggol lengan Hinata.

"Lebih baik kia lanjutkan lagi." Ucap Sasuke.

"I-iya."

(^.^)

Sakura POV

'Naruto benar-benar mengjengkelkan karenanya aku jadi harus keluar dari kelas. Mengingat kejadian di kelas tadi membuatku hanya menghela nafas. Baru pertama kali diusir dari kelas saat jam pelajaran dan itu karena tunanganku yang bodoh.'

Setelah menenangkan diri di kamar mandi aku keluar untuk mencari Naruto, karena tadi seorang murid kelasku menyatakan bahwa Iruka sensei memanggil kami ke kamarnya. Menelusuri bagian sekolah hanya untuk mencarinya, benar-benar menguras tenaga.

Setelah mencari cukup lama akhirnya aku menemukan Naruto di perpustakan. Saat ingin mendekatinya, tiba-tiba datang seorang cewek dan duduk di samping Naruto. Mereka tidak mengetahuiku karena mereka membelakangi pintu tempat aku masuk.

Aku sudah mengetahui siapa perempuan yang ada di sampingnya dan itu adalah Saara. Kenapa selalu saja Saara dengan dia. Apa tidak ada orang lain yang dapat ditemuinya selain Naruto? Melihat itu benar-benar ingin marah dan menariknya dari tempat itu, tapi aku masih memiliki akal sehat untuk tidak melakukan perbuatan memalukan itu.

Lihat saja saat ini dia benar-benar menyebalkan, bagaimana bisa Naruto diam saja Saara melingkarkan tangannya pada lengan Naruto dan bersandar di pundak Naruto. Ini benar-benar membuatku 'mendidih'. Apa dia sama sekali tidak menganggap aku ini calon istrinya. #What! Sakura sudah mau mengaku sebagai calon istri Naruto.

"NARUTO!" ucapku.

"Sakura…" Kulihat dia terkejut dan segera melepas pegangan tangan Saara pada lengannya.

'Aku tidak boleh terlihat kampungan di depannya, bisa-bisa aku dianggap cemburu. Tenang Sakura… tenang…'

Kutarik nafas dan tersenyum kepada Saara, "Hai Saara." Ucapku manis.

"Hai Sakura." Balasnya.

"Saara bisa pinjam Narutonya sebentar? Iruka-sensei memanggilnya." Terangku.

Saara hanya mengangguk, "Sudah bawa saja dia Sakura." Ucapnya dengan senyum.

"Naruto ayo ke ruang Iruka-sensei." Ucapku datar dan kemudian pergi duluan.

"Sakura tunggu, aku bisa jelaskankan." Ucapnya sambil menahan tanganku saat aku hampir membuka pintu ruangan Iruka-sensei.

Aku tersenyum padanya dan berkata, "Tidak usah, aku tau kok kau menyukainya. Lagian itu bukan urusanku. Lebih baik kita jumpai Iruka sensei saja."

Sebenarrnya aku ingin mendengarkannya tapi ada perasaan marah jika aku mengingat kelakuannya tadi di perpustakaan. Tanpa menunggu lama respon darinya aku langsung melepas tangannya dan masuk ke dalam ruangan sensei.

"Kalian sudah mereng atas kesalahan kalian?" Tanya Iruka sensei pada kami berdua.

"Ya, sensei." Jawabku.

"Kau Naruto?"

Ku lihat ke arah Naruto yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Iruka-sensei.

"Naruto!" Iruka sensei yang awalnya bicara biasa sekarang sudah marah kembali karena si bodoh di sampingku ini.

"Ma-maaf Iruka-sensei, aku tau kesalahanku." Ucap Naruto.

Iruka-sensei hanya menghela nafas dan tampak frustasi dengan tingkah Naruto.

"Oke kalau begitu, kuharap kalian tidak mengulanginya lagi. Sekarang kalian bisa pergi."

"Terima kasih sensei." Ucap kami berdua dan memberi hormat lalu keluar.

Naruto POV

"Tidak usah, aku tau kok kau menyukainya. Lagian itu bukan urusanku. Lebih baik kita jumpai Iruka sensei saja." Ucap Sakura.

Aku benar-benar terkejut dengan perkataanya, Ingin sekali aku langsung menjelaskan kejadian di perpustakaan tadi tapi Sakura sudah masuk ke ruangan Iruka-sensei. Saat Iruka sensei bertanya aku sama sekali tidak mendengarkannya. Itu membuat Iruka-sensei marah. Untung saja kami tidak mendapat hukuman lainnya.

"Sakura tunggu sebentar." Ucapku dan menarik tangannya.

Pandangannya tidak suka saat tanganku memegang tangannya namun sama sekali tidak ku pedulikan. Malahan aku menariknya setempat yang lebih sepi. "Sakura dengar."

"Tidak perlu ada yang ku dengarkan."

Mengapa dia sangat keras kepala sih dan tidak ingin mendengarkan penjelasanku.

"Kau ha-"

"Sudahlah itu bukan urusanku, kalau kau suka padanya aku akan menyatakan untuk membatalkan pernikahan kita."

'What! Ini benar-benar membuatku marah, bagaimana dia bisa dengan mudah menyatakan itu. Padahal besok orang tuaku akan datang untuk menentukan tanggal pernikahan.'

Ia berusaha melepaskan pegangan tanganku namun aku semakin memegang keras tangannya.

"Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan?" Ucapku penuh emosi.

"Ya! Ya! Ya! Aku tau dan aku sadar. Kita lebih baik memba-"

Aku menariknya mendekat padaku, ku hentikan ucapannya dengan menempelkan bibirku pada bibirnya –hanya menempel. Dia sangat terkejut dengan perbuatanku, aku mengetahui dari matanya yang membelalak. Aku benar-benar tidak mau mendengar ucapannya, aku sudah terlanjur menyukainya dan tidak akan ku biarkan kau pergi begitu saja.

"Apa yang kalian lakukan?"

TBC

.

.

.

Wah akhirnya selesai juga di chapter ini. Aku sih gak tau ini bagus atau tidak, menarik atau tidak.

Tapi aku harapin semua berpendapat positif.

Aku mau tanya ya, tolong di tanggapi

"Menurut kalian lebih baik begini atau kayak chapter sebelumnya -sudut pandang tokoh/POV atau sudut pandang aku aja?"

...

.

Review bagi yang gak login :

Kenapa dibuat Gaara yang nolongin Hinata sih. Padahal aku mau slight GaaSaku. Hehehehe, sudah terlanjur dibuat nih. Tapi dari usulan kamu, salah satu temanku bilang mungkin bisa dibuat juga tuh. Gaara dan Saara yah? Padahal gw pengennya Ino sih buat konflik NS, tp gpp lah. Ya, maaf aku sama sekali gak kepikiran ke Ino. Jadi mohon yang tabah ya.. Hahaha #peace. Gaarakan hanya punya masalah ma Shika soal Temari, tp knp SN yg di incar? Sebenarnya yang di incar mereka semua, tapi karena yang sudah and abaca di atas, Sasuke itu lebih berperan dalam hal ini. #Itu sih menurut saya. Hinata break aja sama Sasuke. Aku lebih suka GaaHina wah itu sangat tidak mungkin, bisa-bisa nanti banyak yg gak suka ama aku, pairnya apa isinya apa. #Aku juga penggemar Gaara juga sih. Gaara suka sama Hinata donk Kasihan tau kalau dia suka ama Hinata.

Thanks to (review) :

Namikaze Fansboy, Hyacinth Uchiha, Sasuhina69, mikaze9930, Ihfaherdiati395, AyaseChihaya0503, SR not AUTHOR, NurmalaPrieska, .29, Oormiwa, HipHipHuraHura, Hinatachannn2505, Keita Uchiha, guest-guest.

Thanks to (Favorite) :

2015.1.10718, AyaseChihaya0503, Baby niz 137, Cappucino Chocolate, Chiharu Kazawa, ChintyaRosita, Ega EXOkpopers, Emily20, Furi Tsuyoko, GhiRiuta, HipHipHuraHura, Lavienda, Makaron126, Miss lily lavebder, Namikaze Fansboy, NurmalaPrieska, Nurul851 II, Raffie D'Rocket Rokers, Uzumaki Danty, artroye, azizaanr, .19, candybar-honey, chiwichan, hinatachannn2505, hyacinth uchiha, , keita uchiha, kuuderegirl3, kyucel,lavender bhity-chan, .29, miiko mimi, mikaze9930, minami1990, nanda setyawan416, oormiwa, pinkorangepurple, redblue2213, siiuchil, tanpopohime9

Thanks to (follow) :

Aileem712, AyaseChihaya0530, CallistaLia, ChintyaRosita, Emiily20, Ghiriuta, HipHipHuraHura, Hyuuhi Ga Ara, Indrikyu88, Jullianna1, Makaron126, Michishige Westwick, Missaturnus, Miss lily lavender, MysteriOues Girl, Namikaze Fansboy, NurmalaPrieska, Nurul851 II, Raffie D'Rocket Rokers,Sabaku No Aira, Uzumaki Danty, arisankjm, azizaanr, .19, candybar-honey, chiwichan, clareon, eldergrayskull,heztzander, hinatachannn2505, hyacinth uchiha, , jeenrish, keita uchiha, kuuderegirl3, kyucel, lavender bhity-chan, lighting69, liyaneji, .29, miiko mimi, mikaze9930, minami1990, mitsuka sakurai, nandasetiawan0, nandasetyawan416, ricchan's matahari, sasuhina69, tooBleez, yesicayopaf

Review kalian merupakan semangat baru untuk ku.