Usai kejadian tersebut, Wendy pulang ke rumah membiarkan Chelia ditemani oleh Lyon. Dia menyalahkan diri sendiri, kenapa salah kaprah menanggapi sikap Jellal-senpai, lalu tanpa kepastian memberitahu sehingga menimbulkan salah paham. Ibu menyambut dari arah dapur. Harum ikan goreng tercium meski gagal membangkitkan selera makan. Ayah duduk di sofa. Menonton kartun doraemon kesukaannya. Bukan itu yang penting, melainkan perihal kepindahan mereka tiga bulan ke depan.

"Anak ayah sudah pulang ternyata. Ayo duduk dulu." Ajakannya langsung diterima. Wendy tidak fokus menonton dan memikirkan hal lain. Membuat pria separuh baya itu sadar, ada yang aneh dengan putri semata wayangnya.

"Mau cerita? Mungkin ayah bisa membantu."

"Ka-kalau ada teman berkata, 'sepertinya dia menyukaimu'. Bagaimana reaksi ayah?"

"Hmm…. Jika ayah tidak menyukainya, pasti masa bodoh. Namun beda cerita, kalau ayah naksir sejak dulu, pasti senang mendengar ucapan teman."

"Lalu, apa yang ayah lakukan?" Entah ini tindakan bodoh atau bukan. Wendy belum pernah sekalipun, curhat kepada lelaki selain Mystogan. Dia pendengar yang baik, biasanya cowok paling benci merespon hal-hal sensitif seperti itu.

"Mendekatinya, kalau sudah mantap maka ditembak. Jika ayah seorang perempuan…. Susah juga, ya. Kenapa menanyakan ini?"

"Chelia-san menembak Jellal-senpai tadi sore"

"Benarkah? Temanmu hebat! Apa jawaban Jellal?" Ya, hebat dalam hal melukai diri sendiri, walau dalang sebenarnya adalah Wendy. Penyesalan lagi-lagi datang di akhir, begitulah yang dia rasakan sekarang. Hubungan mereka berada di ambang kehancuran. Setelah dibodohi, apa Chelia mau menerimanya kembali?

"Ditolak, bahkan senpai berkata masih menyukaiku"

"Itu baru pria sejati! Jadi, kamu turut sedih untuk Chelia? Empati penting dalam pertemanan, kau membuat banyak kemajuan, Wendy. Bagaimana perasaanmu terhadap Mystogan?"

Hening…. Wendy enggan memberi jawaban secepat mungkin. Sekarang waktunya makan malam, ikan goreng ditemani sepanci sup asparagus hangat. Jarang-jarang ibu masak enak, mungkin suasana hati beliau sedang baik, karena pengunjung di café meningkat drastis. Tidak sampai menghabiskan setengah mangkuk nasi, Wendy beranjak bangkit menuju lantai dua, menaiki anak demi anak tangga lemas. Ia sempat mengirim SMS kepada Chelia, tetapi belum ada pesan yang masuk, kecuali….

From : Jellal-senpai

Malam Wendy. Bagaimana perasaanmu, agak baikan?

To : Jellal-senpai

Maaf senpai. Seharusnya kamu menanyakan ini kepada Chelia-san, bukan aku.

Sesekali Wendy merasa harus bersikap dingin, supaya Jellal menjauh, supaya Chelia senang karena tidak satu pun mendapatkannya. Jam menunjukkan pukul tujuh lewat dua belas menit. Malam panjang yang terlalu sunyi. Apakah ada cara, agar hari esok bisa dilewati tanpa perlu dijalani? Menatap wajah sang sahabat pun, Wendy ragu mampu melakukannya. Orang baik memiliki batas kesabaran. Entah kapan Chelia akan merasa marah, dan hubungan mereka hancur berkeping-keping.

From : Jellal-senpai

Kamu bersembunyi di balik tembok ketika aku menolak Chelia. Hatimu ikut sakit secara tidak langsung, bukan?

To : Jellal-senpai

Memang benar. Kenapa senpai menolak? Seharusnya diterima demi aku juga! Sengaja menyakiti hati dua perempuan sekaligus?

Tindakan itu egois, Wendy sadar betul. Kalau pun hubungan mereka harus hancur. Asalkan baik untuk Chelia maka…. Maka apa? Persahabatan mereka bagai drama. Penuh duka. Membosankan. Ujung-ujung berakhir buruk. Jika dia tokoh protagonis utama, cinta Jellal pasti tersampaikan walau terhambat. Sutradara yakni Tuhan merancang skenario seperti apa? Tidak. Ini improvisasi semata. Satu perkataan mengubah jalan cerita.

From : Jellal-senpai

Aku tidak memintamu berpikir positif. Wendy mustahil kau mengerti. Harga diriku sebagai lelaki dipertaruhkan. Masalah ini menyangkut perasaan. Wanita yang kusukai!

To : Jellal-senpai

Harga diri apa? Jangan mengelak! Lakukan untukku. Terimalah Chelia dan aku bahagia.

From : Jellal-senpai

Mana mungkin aku mencintai orang lain? Itu sama saja membohongi diri sendiri. Akan kutunjukkan artinya harga diri. Cepat atau lambat terimalah jika kau menyukaiku. Berhenti melakukan pembodohan. Kau bisa salah jalan.

Berakhir sudah. Wendy mematikan ponselnya yang tersimpan rapat di laci. Chelia sama sekali tidak membalas. Entah apa kabar sang sahabat di sana. Pastilah buruk setelah ditolak mentah-mentah.

Keesokan harinya….

Hari kemarin sangat buruk. Jauh lebih parah dibanding ulangan matematika Laxus-sensei. Dengan mata setengah terbuka Wendy beranjak. Sendal kelincinya menuruni tangga pelan. Membuat kaget Ayah dan Ibu yang berkutat di meja makan. Kantung hitam terukir jelas di bawah kelopak. Bagaimana tidak, mimpi buruk beruang kali menghampiri. Belum lagi kelelahan akibat jatuh-bangun di malam hari. Dia terlalu mengkhawatirkan Chelia.

"Pagi. Ayah, Ibu." Menyambar sepotong roti tawar. Wendy setengah nikmat melahapnya sambil berpikir macam-macam. Ingin cepat-cepat sekolah, bertemu Chelia dan menanyakan kabar.

"Kemarin malam Ibu memberitahu Jellal atau Mystogan, entahlah, kita akan pindah ke Crocus. Mereka pasti terkejut mendengarnya."

Ting… tong….

"Tunggu sebentar!"

CKLEK!

"Maaf. Ini Mystogan atau Jellal, ya? Jika mencari Wendy dia masih sarapan. Siap sekitar sepuluh menit lagi. Tante jamin itu." Seakan tahu pola pikir remaja di depannya. Ibu berceloteh riang menyambut tamu, tetangga mereka sendiri.

"Jellal. Kalau begitu saya tunggu di luar. Tolong beritahu Wendy. Terima kasih, tante."

"Sayang. Calon kekasihmu ada di depan pintu. Jangan membuatnya menunggu lama!" Suara batuk menyahut sebagai balasan. Wendy tersedak susu vanilla. Manis mendadak tawar mendengar bariton Jellal bersenandung.

Calon kekasih? Sejak kapan pula Ibu menekuni hobi meramal? Tak enak hati menolak. Wendy mempercepat gerakan mandi, mengganti baju sampai mengenakan sepatu, semua serba buru-buru. Telah siap dengan penampilan terbaik, mereka berangkat bersama seperti biasa. Bedanya Jellal rela menunggu sembari melawan udara dingin. Terbilang musim sakura pun angin kurang bersahabat. Prediksi cuaca sering salah.

"Selamat pagi, Wendy. Aku merasa kurang jika belum menyapa."

"E… eto…. Selamat pagi juga, Jellal-senpai." Suasananya canggung! Wendy melirik kesana-kemari. Apa pun asal jangan sepasang hazzle. Kebetulan Chelia keluar rumah. Ia memanggil minta dihampiri.

"Chelia-san, di sini!"

"Wendy!" Langkahnya terhenti dua meter. Berbalik badan melihat Jellal mematung di samping."

"L-lho. Tunggu aku, Chelia-san!"

Jadilah dia ditinggal seorang diri. Setiba di sekolah Wendy justru asyik menemani Chelia. Kondisinya jauh lebih baik. Mereka juga banyak mengobrol, tidak ada yang berubah atau menunjukkan perilaku aneh. Terutama sang sahabat terus tersenyum, bukan terpaksa melainkan secerah mentari pagi di luar sekolah, hangat. Diam-diam Jellal memperhatikan. Setidaknya ia bisa bernapas lega setelah memastikan keadaan.

"Sebenarnya ada yang ingin kuberitahu. Dengarkan baik-baik, oke?" Warna merah tersapu merata. Tingkah Chelia berubah jadi malu-malu kucing.

"Uhm! Kabar baik?"

"A-aku… aku dan Lyon… kami…."

"Kami pacaran. Itu kabar baiknya!" Cowok bersurai silver itu muncul tiba-tiba. Memotong ucapan Chelia yang dibalas dengan jitakan pelan. Dia hampir tiba di ujung kalimat. Benar-benar merusak suasana.

"Benarkah? E-eh…. Kalian pacaran?! Perasaanmu terhadap Jellal-senpai bagaimana?"

"Lupakan saja. Anggap masa lalu! Sekarang giliranmu mengungkapkannya. Berhentilah kabur dan membohongi diri sendiri, paham?" Menyaksikan kepercayaan diri Chelia. Api semangat berkobar dalam dada, Wendy mengangguk mantap.

"Hari ini semuanya harus jelas. Aku punya jawaban untuk Jellal-senpai juga Mystogan-senpai."

"Baguslah. Kuharap Jellal-senpai beruntung."

"Ahya. Aku hampir lupa memberitahu satu hal. Setelah kelulusan kelas sembilan kami sekeluarga pindah ke Crocus. Ayahku pindah tugas." Satu kabar baik dan buruk. Chelia termenung mendapatinya. Itu berarti waktu mereka tinggal sedikit.

"Meski begitu kita tetap berkirim kabar, oke? Jellal-senpai pasti sedih."

"Entahlah. Aku tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang."

Kesedihan itu mengambang dalam benak. Jellal harap-harap cemas perasaannya diterima. Terlebih mereka tak bertemu setengah hari, hanya sewaktu berangkat sekolah. Wendy memastikan agar Chelia benar-benar baik. Bertanya kabar di sela obrolan walau semua terlihat jelas. Dia tidak menyalahkan atau memandang rendah perhatian tersebut. Memang sulit dipungkiri melepas perasaan dalam sehari amat menyusahkan.

Namun jika Lyon di sisinya. Gundah itu lenyap ditelan harapan baru.

"Wendy tidak akan kemana-mana selama dia di sekolah, Kak." Istirahat masih berlangsung, dan sudah tiga belas menit Jellal berdiri di daun pintu. Penggemarnya mengungkit-ungkit si twintail biru yang asyik mengobrol.

"Apa maksudmu? Aku mencari seseorang!"

"Bohongmu kelihatan sekali. Jujurlah aku ini adikmu. Lagi pula seantro sekolah tahu Kakak menyukai Wendy. Mengakulah. Mana harga diri yang ingin ditunjukkan?"

"Kau akan menyesal."

Tok… tok… tok….

"Cepat ke sana. Jellal-senpai pasti mencarimu!" Mereka sama-sama memalingkan muka. Wendy ragu menatap hazzle kakak kelasnya, sedangkan si bodoh itu malah gugup sendiri. Tergagap memulai pembicaraan.

"La-langsung saja. Wendy aku me…."

Ding… dong… ding… dong….

"Memalukan. Mengucapkan suka pun sampai dipotong bel masuk."

Andaikata Wendy tidak di depannya, Jellal sangat ingin menjitak kepala sang adik. Dia balik tanpa membawa hasil. Sore-sore jadwal rapat terakhir menanti untuk dilaksanakan. Mereka gagal bertemu lagi, pemaksaan di jam istirahat juga terhitung. Jam menunjukkan pukul lima sore. Kedua sahabat itu jelas sudah pulang. Menyisakan lorong sekolah yang sepi kecuali lapangan baseball. Waktunya anggota junior berlatih.

"Gawat. Padahal aku berjanji tidak akan menahan diri!" Salahkan jantungnya yang melompat macam kelinci nakal. Jellal mengambil sepatu di mana sepucuk surat bertengger. Wangu parfum kesukaan dia. Punya Wendy!

Sementara di jalan pulang Mystogan khidmat membaca surat miliknya.

Selamat sore, Mystogan-senpai.

Sejak awal valentine aku ingin memberikan surat ini. Namun yang sekarang kutaruh di lokermu berbeda. Ketika tahu Jellal-senpai pahlawan sesungguhnya. Itu berarti perasaanku keliru menilai, bukan kau melainkan kakak kembarmu. Ultear-san memberitahu langsung, meski dia agak kasar, menyebalkan dan terkadang menyeramkan, Mystogan-senpai pernah mempunyai pacar yang baik. Hanya cara penyampaian saja berbeda.

Benar-benar maaf. Aku tidak bermaksud mempermainkanmu atau apa. Murni kesalahanku yang sulit membedakan. Sekarang sudah jelas. Terima kasih banyak. Kuharap Mystogan-senpai menemukan wanita terbaik untukmu. Kau teman curhat sekaligus kakak terhebat. Bagaimanapun perasaanmu saat ini, sedih, senang atau kecewa terimalah dengan lapang dada.

Sekali lagi. Terima kasih banyak.

Salam manis,

Wendy Marvell.

"Setidaknya aku bersyukur pernah menyukaimu. Dalam diam sekalipun bukan masalah besar."

Mystogan menyesal di akhir. Jellal merekahkan senyumnya menatap senja. Dia berhasil.

Tamat.