Precious

Bagian 9

HUNHAN/WINKDEEP

YAOI! Family

Ketika pagi hari tiba, Luhan yang baru saja membuka mata dari tidur lelapnya meraba-raba samping, mencari tubuh pria yang menikahinya 13 tahun lalu, namun pria itu tidak ada di sampingnya sekarang ini.

Pria kecil kelahiran Beijing itu kemudian mendudukkan dirinya dan menyentuh dahinya yang masih terperban. Dengan segera Luhan membasuh wajahnya dan menyikat gigi di kamar mandi. Selesai dengan itu, ia keluar dari kamar mandi dan membuka kotak obatnya, mengganti perban di dahinya dengan yang baru, serta meminum beberapa pil untuk membantu mempercepat mengeringkan lukanya. Rasa perih akibat luka yang masih basah masih ia rasakan.

"Bunda, aku lapar." Suara anak sulungnya yang sejak tadi berada di depan pintu kamar bundanya mengalihkan konsentrasi Luhan pada dahinya.

"Kakak udah bangun?" Luhan menoleh ke arah jam dinding yang masih menunjukkan pukul 5:30 pagi. "Tumben banget jam segini udah bangun?" ucapnya sambil berjalan menuju ke arah Baejin namun ia melewatkan keberadaan kantung mata besar di wajah putranya yang ternyata tidak tidur semalaman.

Keduanya turun ke dapur namun sebelum sampai dapur, langkah Luhan terhenti ketika menemukan suaminya tertidur di atas sofa di depan tv. Ia hanya menggeleng dan mengambil selimut di dalam lemari di dekat tv untuk ia pakaikan pada suaminya lalu melanjutkan langkahnya menuju dapur dimana Baejin sudah duluan menunggunya disana.

Di dapur, Luhan membuatkan omlette untuk Baejin dan juga suaminya. "Bunda, Haowen hilang ya?" tanya Baejin lancang. Tentu saja hal itu membuat bundanya sangat terkejut dan bingung harus menjawab apa. Maka diam adalah jawaban yang ia berikan.

Selesai dengan omlette buatannya, Luhan menghidangkannya di depan Baejin yang sudah sangat kelaparan. "Bunda kenapa gak jawab pertanyaan Baejin?" Tapi si sulung masih terus mengejar jawaban dari bundanya.

"Kakak makan dulu, bunda mau bangunin ayah." Ujar Luhan dengan terburu-buru melangkahkan kakinya meninggalkan anaknya sendirian di ruang makan.

'Gak bakat bohong..' batin Baejin kemudian melahap sarapannya.

Luhan berlutut untuk membangunkan Sehun. Ia mengelus pelan pipi suaminya dan mendekatkan wajahnya untuk berbisik di telinga Sehun, "Sehun, bangun, sarapan sudah siap."

Sehun masih terus memejamkan matanya tanpa ada sedikitpun keinginan untuk membukanya. Namun tangannya menggenggam pergelangan tangan Luhan yang tadi sempat mengelus pipinya kemudian menyingkirkannya jauh-jauh dari wajahnya.

"Aku masih ngantuk.." erang Sehun.

Perkataan singkat yang keluar dari mulut Sehun sukses membuat Luhan naik darah. Bukan karena Sehun yang menolak untuk bangun, tetapi karena bau alkohol yang menyeruak dari mulut suaminya.

Luhan kecewa, ia sangat kecewa dengan apa yang suaminya lakukan di belakangnya. Tanpa diketahuinya, tadi malam Sehun meninggalkannya sendirian hanya untuk pergi mabuk-mabukan.

"Kau mabuk kan?" Luhan berseru hampir menjerit. Ia menepuk-nepuk pipi Sehun agar suaminya membuka mata dan menghadapinya, menjelaskan apa yang sudah dia lakukan semalam.

"Hentikan!" Sehun membentak Luhan atas apa yang dilakukan sang istri padanya. Hal itu sama saja dengan istrinya mengusik tidurnya.

Bagi Sehun, tidur adalah segala-galanya. Ia yang biasa ditemani aktifitas public figure segudang yang melekat dalam dirinya tiap waktu, memiliki kesempatan untuk bisa tidur walau lima menit saja adalah segalanya. Dibangunkan ketika baru tidur saja dia takkan memaafkan orang itu, apalagi ketika masih hangover seperti ini.

"Kalau begitu jawab aku! Kenapa kau mabuk tadi malam!" Luhan masih terus menepuk-nepuk pipi Sehun agar bangun.

"APA YANG KAU INGINKAN LU!" Sehun akhirnya bangun. Ia duduk tegap menatap Luhan dengan matanya yang merah menyala. Kemudian berdiri tepat di depan Luhan yang sekarang juga berdiri.

"KEMANA KAU SEMALAM?! KENAPA MULUTMU BAU ALKOHOL?!" Luhan mendorong tubuh suaminya dengan kedua tangan.

Sehun reflek menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia tidak membalas perlakuan Luhan walaupun dirinya sempat terdorong ke belakang.

"SEHUN! APA YANG KAU LAKUKAN SEMALAM! KATAKAN!" Luhan terus menyerangnya dengan bentakan.

Sehun yang tadinya tidak mempunyai niat menjawab sama sekali akhirnya emosinya ikut tersulut. "AKU MABUK! TADI MALAM AKU MABUK BERSAMA JUNMYEON HYUNG! KAU PUAS?!" geramnya dengan mata melotot lalu melangkah menjauh dari Luhan kembali ke kamarnya.

"SEHUN!"

Langkah tergesa-gesa Sehun terhenti, ia menoleh sekilas ke belakang dengan tatapan marah pada istrinya. "APA LAGI?! AKU MAU TIDUR!"

"KENAPA KAU TIDAK PERNAH MEMIKIRKAN KESEHATANMU SAMA SEKALI?! FIKIRKAN ORGAN DALAMMU! FIKIRKAN GINJALMU! KAU BERJANJI PADAKU UNTUK TIDAK PERNAH MABUK LAGI SETELAH KEJADIAN ITU! TAPI KENYATAANYA KAU—"

"DIAM!" bentakan Sehun yang luar biasa keras membuat Luhan menutup mulutnya seketika. Genangan air mulai muncul di kelopak matanya. Tapi Sehun tidak peduli, ia meneruskan kembali langkahnya untuk naik ke kamar. Rasa pusing karena hangover masih menguasainya.

Walaupun tidak peduli, namun perkataan Luhan tentang organ dalamnya memang benar. Sehun sangat membenarkannya. Ia memang mempunyai masalah dengan ginjalnya karena sering mengabaikan rasa haus ketika berada di panggung dan juga banyaknya mengkonsumsi soda dan alkohol secara berkala.Sehun pernah 4 kali masuk rumah sakit hanya karena itu bahkan saat tour dunia juga.

Niat Luhan sebenarnya baik, ia tidak ingin suaminya sakit lagi hanya karena tindakan bodohnya itu. Luhan sangat mencintai Sehun tapi Sehun tidak pernah bisa memahami kenapa Luhan selalu melarangnya untuk minum-minum walau hanya sebulan sekali. Setidaknya Sehun juga ingin merasakan alkohol sama seperti teman-temannya.

Luhan terduduk di sofa tempat tadi Sehun tidur. Ia menangis disana tanpa bersuara. Keduanya lupa bahwa anak sulung mereka sudah bangun dan sedang menyantap sarapannya di ruang makan. Baejin mendengar semuanya. Ia mendengarkan pertengkaran kedua orang tuanya untuk kesekian kalinya yang selalu diakhiri dengan sesenggukan ibunya.

"Tua bangka kurang ajar.."

"Gilaa.. laper banget gue!" Dahwi mengusap perutnya di meja makan kantin. Kini, ia dan kedua sahabatnya, Jihoon dan Baejin tengah berada di kantin untuk makan siang setelah melewati pelajaran matematika.

Jihoon yang melihat tingkah Daehwi hanya bisa tertawa kecil. "Makan lah kalo laper." Ucapnya sambil menyodorkan ramyun Daehwi yang baru dipesan. Ketiganya sama-sama memesan ramyun walau awalnya Baejin tidak mau memesan apapun tapi Jihoon ngotot menyuruhnya makan.

Anak dari Kim Jongin itu tau bahwa Baejin tidak baik-baik saja. Kantung mata hitam dan tidurnya Baejin di kelas selama pelajaran berlangsung menjelaskan semuanya.

"Lo gak makan?" Jihoon menoleh ke arah Baejin.

Baejin mengedikkan bahu tidak peduli.

"Ya udah kalo lo gak makan, gue juga enggak." Jihoon meletakkan sumpitnya ke atas mangkuk ramyunnya.

"Bodo amat, gue laper dan gue tetep mau makan." Daehwi bersiap memakan hidangannya namun Jihoon segera memukul tangan sahabatnya itu untuk meletakkan sumpitnya kembali. "APAAN SIH WINK!" Daehwi sewot.

Mendengar seruan Daehwi dan tingkah konyol Jihoon yang ikut-ikutan tak mau makan, Baejin melirik Jihoon tajam lalu melirik ramyun di depannya.

"Kenapa deh lo?" tanya Jihoon yang menangkap ekspresi aneh Baejin.

"Alay." Baejin mendehem hingga akhirnya ia mau menyentuh ramyunnya dan melahapnya. Dengan itu, Jihoon pun tersenyum lega dan ikut makan. Sedangkan Daehwi, ia bahkan sudah hampir menghabiskan setengah dari ramyunnya dan berencana memesan lagi.

Baejin memang belum menceritakan rencananya pada Jihoon. Baru Daehwi lah yang mengetahuinya karena Daehwi dilarang Baejin untuk bercerita pada Jihoon. Biar dia sendiri nanti yang akan cerita.

Bruak!

Suara tubuh Baejin yang membentur pintu kamar mandi terdengar hingga luar. Para murid yang berada di dalam kamar mandi pun segera keluar meninggalkan anak sulung Oh Sehun tersebut bersama dengan tiga orang yang tadi mendorongnya hingga punggungnya membentur pintu.

"Apa?" dengan perasaan tak gentar, Baejin menatap sosok yang lebih besar di depannya dengan tatapan remeh.

"Udah gue bilang kan, jadi orang jangan sok berani padahal aslinya lo itu pengecut!" sembur lelaki seumuran Baejin tersebut yang merupakan teman seangkatannya walau beda kelas. Namanya adalah Wu Daniel. Anak dari mantan personil EXO-M yang dulu pernah digawangi bundanya juga. Wu Yifan dan Wu Zhi Tao.

"Lo ngajak berantem apa gimana?" ucap Baejin seperti biasa. Inilah kegiatan sehari-harinya ketika berhadapan dengan orang-orang menyebalkan seperti Daniel. Ia tidak takut seperti anak-anak lainnya yang akan selalu menghindar ketika berhadapan dengannya. Karena sikapnya inilah, Baejin jadi sangat dibenci oleh Daniel karena keangkuhannya. Ia tidak suka jika ada seorang anak yang berani padanya dan Baejin adalah satu-satunya di sekolah ini yang mempunyai nyali bahkan untuk menatap tajam ke arahnya.

Gestur tubuh Baejin sekarang ini pun sudah menandakan kalau dia menantang Daniel untuk berkelahi. Merasa diremehkan, Daniel mendorong Baejin keras hingga ia tersungkur jatuh.

Daniel bukan sosok yang bisa diremehkan. Bukan karena ia berbadan besar tapi ia terkenal suka berkelahi di luar sekolah, mempunyai banyak teman dari SMA dan hebat dalam menggandeng anak perempuan. Sangat bertolak belakang dengan Baejin yang hanya mempunyai dua teman dan menghabiskan waktunya di kamar untuk bermain game.

"Baejin lo lama bangee—" Daehwi yang sedari tadi menunggu di kantin akhirnya menyusul Baejin ke kamar mandi yang katanya Cuma mau pipis sebentar. "BAEJIN!!" Daehwi kaget setengah mati karena melihat sahabatnya tersungkur jatuh di lantai. Ia juga melihat Daniel dan dua temannya berdiri memojokkannya.

"WOY KAMPRE—" Daehwi yang bersiap menolong Baejin kini dipegangi oleh dua teman Daniel agar tak melakukan gerakan. "LEPASIN GUE! KALO BERANI JANGAN KROYOKAN GINI ANJING!"

Baejin yang sudah mendidih sejak tadi, membalas Daniel tanpa ragu dengan mendaratkan pukulan keras di wajahnya. Ia mengamuk karena teringat bagaimana bundanya menangis tadi pagi gara-gara ayahnya. Membuatnya terlibat pergulatan sengit dengan Daniel. Daehwi yang melihat tingkah Baejin yang bahkan mungkin bisa membunuh Daniel, hanya bisa mematung diam tanpa meronta lagi dari jeratan dua teman Daniel. Seumur-umur, ketika menghadapi Daniel, baru kali ini Daehwi melihat Baejin sekesal dan semarah itu.

Anak Sehun dan Luhan ini hanya ingin melampiaskan kekesalan dalam hatinya dengan berkelahi melawan Daniel. Mereka bahkan berguling-guling di lantai kamar mandi sampai baju mereka kotor dan basah tak berbentuk untuk saling mengalahkan satu sama lain. Baejin memang mendominasi, ia bahkan memukul lebih dulu. Tapi jika perkelahian ini sampai ketahuan guru, maka semuanya akan tamat.

"OH JINYOUNG! WU DANIEL!"

Dan benar saja, entah darimana, guru BK masuk ke kamar mandi dan menangkap basah mereka.

"Jelaskan kenapa kalian berkelahi?"

Daniel dan Baejin sudah berada di ruang BK, sang guru menceramahi mereka habis-habisan dan takkan membiarkan mereka pulang sebelum orang tua keduanya datang ke sekolah saat itu juga.

"Dia yang mulai pak, Baejin menantang saya berkelahi." Daniel berkata jujur tapi terkesan berlebihan.

Guru mereka menatap Baejin yang menunduk dengan lebam di pelipis dan sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. "Apa itu benar Jinyoung?" dan Baejin mengangguk mengaku salah. Memang benar ia yang memukul Daniel duluan. Sejak kecil ia tidak pernah diajarkan untuk berbohong oleh kedua orang tuanya, terutama oleh Luhan.

Tok! Tok!

Suara ketukan pintu menginterupsi ketiganya. Saat pintu terbuka, masuklah Kris dan juga Sehun yang sangat tidak disangka Baejin bahwa ayahnya akan datang ke sekolah. Karena jauh sebelum ayahnya datang, ekspektasinya adalah bundanya.

Baejin terkejut kenapa malah ayahnya yang datang.

Di dalam ruangan tersebut, suasana menjadi semakin panas karena Kris dan Sehun sejak dulu memang terkenal tidak bisa akur. Di masa lalu, Kris dan Sehun diketahui sering terlibat perkelahian dan juga perdebatan sengit hanya karena memperebutkan Luhan.

Guru BK pun bisa merasakan suasana mencekam ketika Kris dan Sehun ikut masuk ke dalam ruangan. Akhirnya tanpa kebanyakan bertanya karena mendapat intimidasi dari tatapan tajam Kris dan Sehun, guru BK pun memberikan teguran pada Sehun dan Kris untuk Baejin dan Daniel. Baejin diskorsing selama empat hari dan Daniel mendapat tugas kebersihan selama seminggu.

Keluar dari ruangan BK, Sehun dan Kris tidak saling menyapa, bahkan saling menatap pun tidak, seperti orang yang tidak pernah mengenal satu sama lain. Baejin bisa merasakan suasana menusuk dari ayah dan Kris, tapi ia memilih untuk terus menunduk agar Sehun tidak melihat wajahnya yang babak belur. Ia hanya mengangguk ketika Sehun menyuruh Baejin untuk meninggalkan sepedanya di sekolah saja agar mereka bisa bicara berdua di mobil.

"Kenapa kau cari masalah dengan anaknya Kris?" tanya Sehun dengan nada menusuk saat keduanya dalam perjalanan pulang.

"Bukan urusan ayah." Sahut Baejin dingin.

Sehun mendecih. "Kau masih marah pada ayah?" tanyanya tanpa melirik dan tetap fokus menyetir.

"Ayah bisa diam tidak? Seperti ketika ayah menyuruh bundaku diam. Sekarang giliran ayah yang harus diam." Ketus Baejin hampir membentak ayahnya sendiri.

Sehun sadar bahwa anaknya yang satu ini mengetahui perdebatannya dengan Luhan tadi pagi. Ia mendecak kesal dan menginjak gas mempercepat laju mobilnya.

"Tinggal jawab saja apa susahnya?" Sehun masih merayu anaknya untuk bercerita.

"Sudah kubilang bukan urusan ayah."

"Kau ini anakku. Segala sesuatu yang kau alami di sekolah adalah urusanku, Jinyoung. Sekarang ceritakan padaku, kenapa kau berkelahi? Apa kau selalu seperti ini di sekolah?"

"Tau apa ayah soal aku? Yang bisa ayah lakukan hanya jauh dari keluarga kan? Kehidupanku di sekolah bukan urusan ayah."

Sehun memilih diam. Berdebat dengan anaknya sendiri hanya akan membuang-buang waktu karena ia tahu bahwa Baejin sedang tidak ingin diganggu.

"Jinyoung."

"Aku tidak mau bicara pada ayah."

Sehun tercekat atas jawaban Baejin. Ia mengencangkan kepalan kedua tangannya pada stir kemudi. Ingin sekali membentak mahluk kecil di sampingnya tapi ia ingat bahwa itu adalah anaknya.

Anak bungsunya masih belum diketahui dimana keberadaannya. Ia masih saling diam dan terlibat perang dingin dengan istrinya sendiri karena masalah mabuk semalam. Dan sekarang anak sulungnya terlibat perkelahian dengan anak Kris Wu yang ia sendiri tak tau apa masalahnya.

Hanya diam yang menyelimuti ayah dan anak itu selama perjalanan. Hingga tiba-tiba Baejin berucap lagi, masih dengan nada datar, dingin dan menusuk.

"Ayah." Panggilnya.

"Hm?" Sehun tidak mengalihkan pandangan sedikitpun dari depan.

"Aku benci padamu."

.review? xoxo