Title: Lost in Love (Chapter 10)

Author: Byunkachu

Genre: Drama, Romance

Cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol and other

Disclaimer: Pure my imagination, all the cast belongs to God.

If it is meant to be, our heart will find each other when we meet

byunkachu©LostinLove'copyright2016


"Maafkan aku..." Baekhyun menunduk, tak berani menatap ke dalam manik Chanyeol yang menghipnotisnya untuk mengagalkan pikiran gilanya.

"Maafkan aku, oppa..."

"Tidak..tidak..hei love, kau tidak perlu minta maaf. Hei...sst..jangan menangis ku mohon. Dengarkan aku, Baek. Semua akan baik-baik saja. Kita semua akan baik-baik saja. Kumohon love, jangan menangis lagi... kau membuat ku sakit, sayang"

Perih menjalari hatinya, seakan ingin meninju apapun yang bisa membuatnya mengalihkan rasa sakit hatinya pada rasa sakit yang lain. Chanyeol menangkup wajah Baekhyun, mencoba membuat gadis itu menatapnya, tapi gagal. Baekhyun dengan paksa melepaskan rengkuhan tersebut dan kembali menduduk. Gadis itu pikir, dia tidak boleh goyah apapun yang terjadi. Ini benar-benar sudah keputusan nya, dan dia hanya berharap bahwa situasi akan membaik seiring dengan berjalan nya waktu.

"Baekhyun..."

"Maafkan aku, oppa. Maaf...ku rasa..." Terisak, Baekhyun menata kembali suaranya yang tampak tidak ingin mengucapkan kalimat fatal itu. Sungguh, tapi ini sudah jalan yang dia pilih.

"Ku rasa...kita akhiri saja" Entah bagaimana ketiga kata itu tepat menusuk jantung Chanyeol yang berdetak lemah. Sudah cukup dengan segala beban yang ia tanggung ketika mengizinkan miliknya berada pada rengkuhan orang lain, dan sekarang apa? Akhiri? Chanyeol merasa takdir terlalu kejam untuk membawa nya pada rasa sakit yang teramat saat ini. Akhiri? Oh, bibir mungil kesukaan nya itu dengan mudahnya mengatakan kalimat yang menjadi momok menakutkan bagi dirinya? Tuhan, kenapa tidak sekalian Kau bunuh pemuda itu sekarang juga?

Chanyeol masih tidak mengerti dan tidak mau mengerti. Pemuda itu bersabar, memberikan dirinya dan Baekhyun waktu untuk berpikir sehat akan semua yang telah terjadi tapi bukan, bukan ini yang ia harapkan menjadi kenyataan. Mana? Kemana imajinasi nya akan Baekhyun yang menghampiri nya, menatapnya sebentar lalu menjalani segala sesuatunya dari awal lagi? Kemana angan nya atas Baekhyun yang akan kembali pada pelukan serta rengkuhan nya lagi? Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Chanyeol tidak mau menerima keputusan gegabah ini. Dia yakin kekasihnya itu hanya terguncang, ya hanya terguncang dan perlu waktu untuk menenangkan pikiran nya sendiri.

Nyala kemarahan sudah terlihat di mata Chanyeol, tapi lagi-lagi dia menahan nya. Baekhyun dapat merasakan tatapan tajam itu, tapi dia memilih untuk tetap menunduk. Air mata terus mengalir, dan tidak satu pun dari mereka ingin memulai kembali percakapan yang tengah dilakoni. Hingga akhirnya, Chanyeol mengambil nafas berat, mencoba tegar.

"Love..." lirih Chanyeol sembari menghapus air mata Baekhyun.

"Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi" Baekhyun memegang tangan Chanyeol untuk menjauhkan nya dari wajah nya, tapi Chanyeol bersikukuh menangkup dan Baekhyun pun menyerah.

"Love..."

"Kumohon...jangan...aku...aku..tidak..."

Dengan itu, Chanyeol membungkam bibir Baekhyun dengan bibirnya. Menuntut, sarat akan letupan-letupan rindu dan kemarahan yang membuncah. Dia tidak peduli mereka sedang dimana dan dalam situasi apa. Chanyeol hanya ingin menyalurkan segala kefrustasian nya sekarang.

Baekhyun tidak bisa menolak. Dia bisa gila. Gadis itu begitu merindukan Chanyeol, tapi dia tidak bisa kembali lagi pada kekasih nya itu. Bibirnya terus bergerak mencoba mengikuti permainan Chanyeol hingga akhirnya pemuda itu melepaskan tautan mereka dengan kasar. Baekhyun yang terkejut menatap Chanyeol seketika. Dan yang bisa gadis itu lihat hanyalah luka. Dia telah melukai Chanyeol, dan itu bukanlah tujuan nya saat ini.

"Katakan pada ku bahwa kau tidak lagi mencintai ku, Baek" suara Chanyeol rendah, sarat akan penekanan yang memberat. Baekhyun masih terdiam, dengan pandangan yang saling terpaut satu sama lain.

"Katakan pada ku, bahwa kau, Byun Baekhyun, sudah tidak mencintai ku dan sudah tidak memiliki perasaan apapun pada ku"

"Oppa..."

"Lakukan dengan menatap mataku"

Baekhyun bergetar, dia memikirkan seribu satu cara yang ada agar bisa terlepas dari situasi seperti ini. Dia harus berhasil mengakhiri semuanya dengan Chanyeol, agar luka itu tidak akan pernah dia torehkan lagi. Masih menatap mata itu dengan takut, tangan Baekhyun mengepal, mulutnya sedikit terbuka untuk mencoba mengucapkan kebohongan bodohnya itu.

"Aku...aku..sudah tidak mencintai mu lagi" ujar Baekhyun gagap.

"Kau masih mencintai ku" sahut Chanyeol cepat mendekatkan wajahnya pada wajah Baekhyun, seakan tidak berjarak adalah sesuatu yang harus dilakukan Chanyeol untuk dapat melihat hati gadis itu yang sesungguhnya.

"Ti..dak..aku sudah tidak mencintai mu. Kita akhiri saja"

"Love, kau tidak bisa membohongi ku. Mata mu, mata mu mengatakan hal yang sebaliknya. Kau kira aku akan mudah percaya dengan kebohongan mu? Katakan Love, apa yang membuat mu bisa mengucapkan kalimat laknat itu?! Apa?!" Emosi Chanyeol tidak terbendung lagi, hingga Baekhyun ketakutan dan memundurkan langkahnya.

"Karena aku tidak mencintai mu lagi. Karena rasa itu sudah hilang, oppa!"

"Kau masih mencintai ku, Byun Baekhyun, dan aku masih tidak mengerti kenapa kau ingin kita mengakhiri..."

"Karena Jongin" Ucapan Chanyeol terputus dengan pernyataan Baekhyun yang membuat pemuda itu kembali bergemuruh. Nama pria yang saat ini pun masih ia bingungkan, apakah harus ia benci atau tidak. Nama pria yang membuatnya menderita tanpa alasan seperti ini.

"Jangan sebut namanya"

"Kenapa? Aku sudah tidak mencintaimu lagi. Kau sudah tahu kan bahwa aku adalah tunangan Jongin? Aku mencintai Jongin, aku masih mencintainya dan rasa untuk mu sudah lenyap"

Nafas Chanyeol tersekat. Dia tidak bisa bernafas. Dia ingin menyentuh Baekhyun, merengkuh dan mengelus surai gadis itu, mengatakan bahwa dia akan mengerti jika Baekhyun masih membutuhkan waktu, tidak perlu tergesa-gesa. Dia tidak akan marah dan selalu siap menunggu. Tapi dia tidak bisa. Tatapan itu seakan membunuhnya. Baekhyun tidak bisa tergapai lagi, seakan bila dia mendekat, gadis itu akan lari terbirit menjauhinya.

"Baekhyun"

"Akhiri saja oppa. Sampai disini saja" lirih gadis itu.

"Baekhyun..."

"Kumohon...ku mohon oppa...lepaskan aku, kita akhiri saja..."

"Apa yang harus ku lakukan agar kau mau tetap bersama ku, Baek? Jangan tinggalkan aku. Aku..aku tidak bisa, Baek. Aku...tidak..." Chanyeol bersimpuh, kaki panjangnya sudah tidak kuat menahan perih yang teramat itu. Dengan sisa-sisa tenaganya, pemuda itu mendongkakan kepalanya, dan menatap Baekhyun lelah.

"Kumohon, tetaplah disampingku, tetaplah bersamaku. Kumohon Baek, jangan lepaskan aku yang selalu memegang tanganmu. Aku tidak bisa tanpa mu, Baek. Tidak bisa. Jangan tinggalkan aku"

Baekhyun semakin menangis, dia ingin menghentikan dan menarik kata-katanya kembali, tapi tidak bisa. Baekhyun pikir, dia sudah terlalu lama menggengam Chanyeol. Sekarang dia harus melepaskan nya. Tidak ada lagi yang ia bisa lakukan untuk Chanyeol, ini adalah satu-satunya cara membuat pemuda itu bahagia. Maka dengan hati yang tercabik pun, Baekhyun harus melepasnya. Dia harus melepas Chanyeol.

Chanyeol pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik dibanding Baekhyun. Dia pantas memupuk bunga-bunga indah di taman dan menjadikan hal itu keabadian, bukan menjadi suatu kenangan seperti milik mereka berdua sekarang ini.

"Ku mohon, Baek...jangan...jangan..."

"Oppa, bangunlah, ayo bangun"

"Aku akan memperlakukan mu lebih baik lagi. Tidak seharusnya begini, Baek. Kita tidak seharusnya seperti ini."

Baekhyun menggigit bibirnya menahan perih yang berkepanjangan. Dia tidak tega, tapi sakit di awal lebih baik dibanding memberikan rasa itu terus-menerus. Dengan penuh keberanian, Baekhyun melangkah mundur satu langkah, membuat hati Chanyeol semakin teriris.

"Maafkan aku oppa, keputusan ku sudah bulat. Kita akhiri saja sampai disini."

"Baekhyun..."

"Terimakasih untuk segalanya, aku senang bisa mengenalmu"

"Jangan! Kumohon..."

"Jaga diri mu baik-baik dan selamat tinggal" Baekhyun mengakhiri, senyumnya mengembang. Setidaknya dia ingin memberikan senyum itu untuk terakhir kalinya. Senyum yang selalu diproklamirkan Chanyeol hanya miliknya.

Baekhyun kembali mundur, lalu perlahan membalikan tubuhnya, membiarkan Chanyeol melihat punggung yang amat asing itu. Langkah yang diambil nya gontai namun Baekhyun tetap harus melakukan semua ini. Baekhyun telah meninggalkan Chanyeol, membiarkan pemuda itu berlutut sepi dengan segala kekosongan hati, hanya bisa menangisi, seakan mati untuk kesekian kali.

.

.


.

.

Baekhyun adalah segalanya untuk Chanyeol. Gadis itu adalah satu-satunya orang yang tidak ingin ia lepaskan. Bahkan jika hati pemuda itu lelah, dia tidak bisa pergi ke jalan lain selain Baekhyun. Perkataan yang hati Chanyeol ucapkan, perkataan yang air mata pemuda itu lirihkan, dapatkah Baekhyun mendengar semua itu? Chanyeol hanya bisa tersenyum sendu memikirkan semua ini.

"Aku merindukan mu, Love. Sangat merindukan mu"

Ditatapnya foto mereka berdua dari layar handphone nya. Rasanya baru kemarin. Baru kemarin mereka memadu kasih, baru kemarin mereka merasakan kebahagiaan yang tak terbanding namun sekarang semua tinggal perih.

Karena Chanyeol mencintai Baekhyun, maka hatinya merasakan sakit yang berlebih. Chanyeol berkali-kali meyakini bahwa hatinya baik-baik saja. Namun semua terasa semakin memberat. Jantungnya terus berdetak ke arah Baekhyun, apa yang harus ia lakukan dengan itu? Semakin Chanyeol mencoba menghapus, bayang-bayang Baekhyun semakin jelas. Mencoba mengosongkan hati dan pikiran nya dari seseorang yang bernama Baekhyun adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya.

Ada saat dimana dia benar-benar merindukan gadis itu, ada saat dimana dia benar-benar ingin berlari ke arah Baekhyun saat itu juga. Dia tidak bisa melupakan nya. Dia tidak bisa melupakan kehangatan nya. Karena itu adalah Baekhyun, maka dia tidak bisa melupakan nya.

Menangis. Tanpa Baekhyun, yang bisa ia lakukan hanya menangis. Rasa cinta dan kesendirian, Chanyeol tidak bisa mengontrol nya seperti yang dia inginkan. Dia hanya ingin Baekhyun dan kenapa takdir begitu ingin memisahkan mereka berdua? Karena untuknya itu adalah Baekhyun. Pada akhirnya, semua hidupnya berpusat pada Baekhyun. Dia bisa memberikan semuanya, dia bisa menyerahkan semuanya, dan itu hanya untuk Baekhyun.

"Love...kembalilah, aku...tidak bisa tanpa mu.." lirihnya memegang wajah Baekhyun yang tersenyum pada foto itu.

Chanyeol menginginkan Baekhyun. Walaupun itu menyakitkan, dia ingin sekali saja. Bahkan jika sudah terlalu terlambat untuk diperbaiki, bahkan jika segalanya sudah terlihat rusak, bahkan jika air mata tidak bisa mengering, seandainya mereka bisa kembali ke awal, itu tidak apa. Dia tidak peduli apapun lagi. Dia hanya ingin Baekhyun kembali kepadanya, ke dalam pelukan nya.

Sudah tiga hari semenjak kejadian itu. Chanyeol kembali menangis, dan hampir lelah menangis, tapi itu tidak masalah, karena Baekhyun pantas mendapatkan rasa ketidakrelaan yang lebih lagi. Dia kemudian menutup matanya, ingin berimajinasi tentang Baekhyun yang berada disampingnya, memeluk dirinya dan menghapus air matanya. Bulan sabit gadis itu sangat ia rindukan. Dan dengan fatamorgana itu, dia tertidur, melewati satu hari lagi tanpa Baekhyun disisinya.

.

.


.

.

Hari keempat, dan Baekhyun harus meyakini semua baik-baik saja, tapi itu adalah kebohongan ulungnya. Dan menangis menjadi kegiatan favoritnya sekarang ini.

"Boleh aku duduk disini?" Suara lembut mendengung ditelinganya, Baekhyun mengangguk cepat sembari menghapus air mata yang masih berlinangan di wajahnya. Dengan cepat menggeser tubuhnya, untuk memberikan ruang bagi sang penanya tadi.

"Apakah aku menganggu mu?" Baekhyun menggeleng dan tersenyum lemah.

"Tidak, sama sekali tidak, Luhan" Luhan membalas senyuman Baekhyun, membawa dirinya untuk duduk disamping gadis itu kemudian menatap lurus keadaan di taman yang sudah tidak terlalu ramai.

"Kau bisa menceritakan nya pada ku jika kau mau. Aku pendengar yang baik" ujarnya tanpa mengalihkan fokusnya dari pohon-pohon besar yang di depan mereka.

Baekhyun menatap Luhan dengan ragu. Dia tidak tau apakah menceritakan segala sesuatunya pada Luhan adalah hal yang tepat, mengingat Baekhyun juga tidak terlalu mengenal Luhan, namun secara teknis, gadis itu mengetahui situasi mereka semua. Baekhyun memerlukan seseorang untuk berbagi, dan mungkin Luhan adalah orang yang tepat, setidaknya gadis itu bisa memberikan pandangan yang lebih objektif bukan?

"Aku sudah mengakhiri hubungan kami"

"Aku tau, lalu? Apa...kau menyesalinya?"

Sejenak Baekhyun terdiam, masih memikirkan jawaban apa yang memang benar-benar ia rasakan. Apakah dia menyesalinya? Apakah dia masih ingin mempertahankan segala sesuatu yang berhubungan dengan Chanyeol?

"Kau ingin mengetahui bagaimana keadaannya sekarang?" Baekhyun diam lagi, membuat Luhan akhirnya menatap Baekhyun.

"Dia.. hancur dan kacau Baek. Itu seperti neraka baginya setelah kau memutuskan hubungan kalian." Luhan memegang tangan Baekhyun, dan mereka pun berpandangan. Luhan menghapus air mata Baekhyun yang tidak bisa terbendung lagi mendengar Chanyeol menjadi seperti ini karena dirinya.

"Kau bahkan masih mencintainya, Baekhyun, untuk apa kau membohongi dirimu juga perasaan mu? Kau bahkan menyakiti dirimu sendiri"

"Aku...aku hanya tidak mau menyakitinya lagi, Luhan. Jongin...dia membutuhkan ku, dia sangat membutuhkan ku. Lihatlah keadaan nya sekarang, dia masih koma dan itu semua karena aku." Luhan mengelus pundak Baekhyun, mencoba menenangkan gadis itu, tapi nihil. Baekhyun semakin terisak, dan akhirnya Luhan membawa nya ke dalam pelukan.

"Sst...ini bukan salah mu, Baekhyun. Jongin tidak akan pernah menyalahkan mu, jadi ku mohon, jangan terus-menerus merasa bersalah padanya"

"Tapi..dia koma, Luhan. Ini sudah seminggu lebih dan dia masih tidak sadarkan diri. Bagaimana kalau...bagaimana kalau..."

"Tidak, percaya pada ku, Jongin akan baik-baik saja. Dia hanya beristirahat sementara, Baekhyun. Dia akan baik-baik saja" Baekhyun melepas tubuhnya dari rengkuhan Luhan dan menunduk, memegang tangan Luhan erat.

"Benarkah? Jongin akan baik-baik saja?" tanya Baekhyun, Luhan mengangguk.

"Jongin akan baik-baik saja, dia adalah pemuda yang kuat, Baekhyun. Dia akan baik-baik saja" Baekhyun mengangguk, menyetujui perkataan Luhan. Itu memang benar-benar harapan nya, dan semoga saja kenyataan baik akan berpihak pada dirinya. Mereka sempat terdiam dan sibuk dalam pikiran masing-masing, hingga Luhan membuka suara.

"Jadi apa alasan utama mu memutuskan Chanyeol oppa, Baekhyun? Karena rasa bersalah mu pada Jongin itu? Atau kau memang masih mencintai Jongin?" Baekhyun sempat terdiam lagi dan melamun mendengar pertanyaan itu, membuat Luhan harus menggoncangkan sedikit tubuh sang gadis. Baekhyun tersadar, kemudian terlihat seperti mengenang sesuatu dari raut wajahnya.

"Aku juga tidak mengerti. Aku hanya berpikir bahwa Jongin lebih membutuhkan ku sekarang, dan aku memang adalah miliknya. Jongin, dalam ingatan ku, dia.. sangat berharga. Jongin adalah cinta pertama sekaligus seseorang yang ku inginkan menjadi pendamping hidup ku. Dia yang ku inginkan untuk selalu berada disisi ku, menemani ku disaat-saat sulit ataupun senang. Dia sepenting itu dalam hidup ku. Dia adalah orang yang membuat ku ingin hidup bersamanya."

"Bagaimana dengan Chanyeol oppa? Seperti apa dia untuk mu?"

"Hmm...Chanyeol oppa, dia seseorang yang juga berharga untuk ku. Dia selalu ada disisi ku, menemani ku di saat apapun yang terjadi. Dia adalah kebahagiaan untuk ku, sesuatu yang ku rasa tanpa dia, kebahagiaan itu tidak akan ada. Seperti sesuatu yang ku sebut hidup, tidak akan ada tanpanya. Mungkin, dia adalah orang yang aku tidak bisa hidup tanpanya." Baekhyun tersenyum sendu mengingat pria tinggi kesayangan nya itu. Masih teringat dibenaknya bayangan Chanyeol yang berlutut dan menangis malam itu. Ah, betapa sakit pasti dirasakan oleh Chanyeol dan dia lagi-lagi ingin mengubur dirinya hidup-hidup karena telah menorehkan duri itu.

"Baekhyun, apakah kau menyadari apa yang barusan kau katakan?" Baekhyun mengernyit kebingungan, tidak mengerti arah pertanyaan Luhan. Luhan tersenyum menenangkan.

"Kembalilah pada Chanyeol oppa, Baekhyun. Itu yang seharusnya kau lakukan."

"Mengapa? Mengapa kau menyuruhku untuk kembali padanya? Aku hanya akan menyakiti nya Luhan. Aku akan membagi rasa sayang ku pada nya dengan Jongin. Dan lagi, Jongin membutuhkan ku, dia membutuhkan seseorang untuk berada di sampingnya."

"Baekhyun, hiduplah bersama seseorang yang kau tidak bisa hidup tanpa nya, bukan berada disamping orang yang kau ingin hidup bersamanya. Seperti kata mu barusan, kau tidak bisa hidup tanpa Chanyeol oppa, dan demikian pula dengan nya. Dia tidak bisa tanpa mu, Baek. Dia hancur lebur dan mungkin bisa menjadi lebih buruk dari pada ini."

"Tapi...aku tidak bisa meninggalkan Jongin, Luhan"

"Kau tidak perlu meninggalkan nya. Kau bisa berada disampingnya seperti keinginan mu, Baekhyun. Kau bisa menemaninya selalu."

"Tapi..."

"Baekhyun, Jongin mempunyai Kyungsoo yang sangat amat mencintai nya, apakah kau melupakan nya? Aku yakin kau memang belum terlalu yakin bagaimana perasaan mu pada Jongin sekarang, mengingat kalian juga saling mencintai di masa lalu dan melihat Jongin masih ingin mempertahankan mu, tapi kau harus mengingat kata-kata ku, Baekhyun. Jika hati mu berkata kau tidak bisa hidup tanpa Chanyeol oppa, maka jangan lepaskan dia. Karena seperti kata mu tadi, bahwa hidup tanpanya bukanlah hidup."

Baekhyun masih termenung. Tujuan nya hanya ingin agar Chanyeol tidak menderita lebih jauh lagi. Dia hanya ingin Chanyeol bahagia, tapi jika definisi kebahagiaan pemuda itu adalah dirinya, apakah itu berarti dia telah merebut kebahagiaan dari pemuda itu? Apakah dia memang harus kembali pada Chanyeol? Baekhyun masih ragu. Otaknya seakan ingin pecah dengan semua ini. Dia tidak ingin berpikir lebih jauh, semua ini membuat nya lelah.

"Lagipula, apa kau pernah berpikir bagaimana perasaan Kyungsoo dengan keputusan mu yang seperti ini? Dia juga akan hancur, Baekhyun, karena Kyungsoo adalah kekasih Jongin, mereka juga saling mencintai." Nama itu, Kyungsoo. Astaga, lagi-lagi Baekhyun melupakan hal penting lain dalam hidupnya. Sahabat nya itu. Apa yang dirasakan Kyungsoo selama ini ketika melihatnya, setelah kabar dirinya memutuskan Chanyeol terdengar di telinga sahabatnya itu? Baekhyun merasa dirinya bodoh tidak pernah membicarakan hal ini dengan Kyungsoo. Dia merasa amat bersalah.

"Kau tidak harus memutuskan nya sekarang, Baekhyun. Aku hanya ingin kau mengambil keputusan yang terbaik dari yang terbaik yang pernah kau pikirkan. Kau pasti bisa melewati semuanya dengan baik." Mereka berdua tersenyum lalu menatap lurus ke arah depan mereka, tampak termenung.

"Terimakasih atas pandangan mu, Luhan. Aku menghargainya dan aku akan memikirkan nya lagi" ujar Baekhyun, Luhan mengangguk.

"Yang terbaik pasti akan datang pada akhirnya, Baekhyun, percayalah."

"Kau sangat cocok dengan Sehun. Kalian tampak begitu dewasa dan selalu bisa menenangkan ku. Pernahkah terpikir oleh mu untuk menyukai Sehun?" Luhan sempat panik, namun mencoba tenang mendengar pertanyaan frontal Baekhyun.

"Aku..ya Sehun adalah pemuda yang baik" jawab Luhan sedikit gugup.

"Dia itu sangat dewasa dan baik, kau bisa bersandar padanya karena dia sangat bisa diandalkan. Dia bisa menempatkan dirinya sebagai sahabat, ibu, ayah, kakak bahkan sebagai adik kalau sedang manja. Bisa ku bilang, dia paket komplit untuk dijadikan pasangan hidup." Baekhyun sedikit terkekeh dibalas tawa kecil Luhan yang kikuk. Setidaknya topik ini bisa mengalihkan rasa sedih Baekhyun walaupun hanya sebentar.

"Kenapa kau tidak ingin mengambil paket komplit itu kalau begitu, Baekhyun? Kau tau, kau dan Sehun sudah saling mengenal satu sama lain dari dulu. Tidak pernah terpikirkah sedetik pun untuk menjadikan nya milikmu?"

"Sehun dan aku sudah saling memiliki, bahkan tanpa hubungan dengan predikat hakiki, jadi kami tidak berniat untuk saling mencintai sebagai seorang pria dan wanita."

"Kami?"

"Eum, kau tidak berpikiran bahwa aku mencintai Sehun sebagai laki-laki, bukan?" Luhan menggeleng.

"Nah, dan dia juga tidak akan mencintai ku sebagai seorang wanita, jadi kalau kau tertarik dengan Sehun, aku yakin kalian bisa menjadi pasangan yang serasi." kata Baekhyun tersenyum lebar, tak mengetahui bahwa Luhan sudah ingin menangis meratapi cintanya untuk Sehun. Rasa perih menghinggapi hatinya, namun dia tetap melempar senyum manis pada Baekhyun. Luhan rasa perkataan Baekhyun hanya akan menjadi mimpi yang tak kan pernah terjadi. Karena Luhan tau, Sehun hanya mencintai Baekhyun, dan itu akan berlangsung dalam waktu yang tak tentu.

.

.


.

.

Kyungsoo menatap Jongin dalam diam. Apa yang bisa ia katakan jika ini yang terjadi? Kekasihnya melarikan diri bersama tunangan masa lalu nya yang merupakan sahabat dari gadis itu disaat mereka baru saja memadu kasih. Apa dia harus marah? Tidak, dia begitu mencintai Jongin dan telah mendapatkan hasil perjuangan nya selama ini untuk bersama pemuda itu. Apa dia harus membenci? Oh, bahkan itu tidak ada dalam kamusnya, membenci Jongin bagi Kyungsoo sama seperti mencintai seseorang yang tidak pernah dikenalnya. Tidak sulit, hanya saja tidak mungkin terjadi.

Gadis itu menggengam tangan Jongin erat, membawa nya lalu mengecup pelan punggung tangan pemuda itu. Melihat Jongin tidak berdaya dan dirinya yang tidak dapat berbuat apa-apa, semakin mengoyak Kyungsoo perlahan. Belum lagi permasalahan mereka dengan Baekhyun dan Chanyeol. Semua terasa begitu menyakitkan. Kyungsoo menghapus air matanya dan tersenyum pilu. Di benaknya, berputar kembali kenangan dimana mereka bersama dalam kurun waktu yang singkat itu.

Kyungsoo yang sangat gembira akan penerimaan cintanya, tak berhenti untuk terus mengulang memikirkan pemuda itu. Satu detik pun tidak pernah hilang kata 'Jongin' di kepalanya. Dia selalu tersenyum dan merasa tidak percaya akan keajaiban yang ada, bahkan ketika jelas-jelas Jongin ada di sampingnya. Dengan itu, dia mencoba meyakini semua kenyataan ini, menggengam jemari Jongin erat, membuat si pemilik menatap lembut sang gadis.

"Kenapa?"

"Tidak. Hanya saja, ini seperti keajaiban untuk ku" Jongin tersenyum, mengerti maksud dari kalimat Kyungsoo.

"Bukan hanya untuk mu, ini juga keajaiban untuk ku. Terimakasih untuk selalu memperjuangkan ku, Soo" Jongin memutus jarak diantara mereka dan mengecup puncak kepala Kyungsoo pelan. Kehangatan seakan menjalari keduanya, mereka lalu berpandangan.

"Bolehkah aku bertanya sesuatu?" Pemuda itu mengangguk, masih tajam menatap mata indah bulat, keindahan karya Tuhan favoritnya saat ini.

"Berapa kali dalam sebulan hubungan kita berjalan kau memikirkan ku?" Kyungsoo bertanya dalam pelan dan sedikit merutuki ketika Jongin menyunggingkan senyum mengejeknya mendengar pertanyaan konyol itu. Ya, dia akui memang itu adalah pertanyaan tidak bermutu tapi dia hanya ingin menanyakan nya.

"Hmm...mungkin dua kali" Kyungsoo langsung menurunkan bulan sabit di wajahnya. Dia menunjukan tatapan tidak suka nya.

"Ah tidak...maksudku satu kali, ya dalam sebulan ini, aku hanya memikirkan mu sekali. Kenapa memangnya, Soo?"

Kyungsoo melepas genggaman mereka pelan lalu menyenderkan diri di bangku taman rumah sakit tempat mereka berada. Gadis itu tidak percaya apa yang baru saja di dengarnya. Hanya sekali? Mereka tengah dilanda kasmaran, masih berada pada fase aman dalam suatu hubungan, dan Jongin hanya memikirkan nya sekali? Rasanya dia ingin menangis saja. Mungkin Jongin memang tidak mencintainya. Mungkin Jongin hanya kasihan padanya. Dan berbagai kemungkinan lainnya berkecamuk dalam kepalanya.

"Kenapa hanya sekali, Jongin? Kenapa...ke..napa hanya sekali? Tidak taukah kau bahwa aku..."

Jongin memegang pundak Kyungsoo, mengarahkan tubuh mungil yang wajahnya sudah dihiasi air mata itu ke hadapan nya, lalu menatapnya sebentar. Tatapan Jongin sarat akan kekecewaan atas reaksi Kyungsoo terhadap pernyataan nya tadi. Kyungsoo masih tidak mengerti mengapa pemuda itu terlihat kecewa. Ia hanya mengerjapkan bulu mata lentiknya dan sedetik kemudian merasakan benda tebal berwarna merah milik Jongin telah mendarat di miliknya. Mendesak sela bibir bawah Kyungsoo, melumat bagian atasnya, tangan Jongin merambat memegangi kedua pipi gadis itu yang sudah memerah dan menghangat. Detik berlalu dan Jongin memperlambat gerakan nya, kemudian memisahkan bibir mereka sebentar, lalu mendaratkan kecupan ringan, tanda tidak ingin berhenti mencicipi bibir itu.

"Aku lelah memikirkan mu, itu akan membuat ku menjadi stres" Kyungsoo masih terdiam, bingung ingin memberi tanggapan atas pernyataan yang tidak dimengertinya itu.

"Memikirkan mu, membuat ku membayangkan yang tidak-tidak, seperti kau yang bosan berhubungan dengan ku karena sudah terlalu banyak yang kau ketahui tentang aku, atau kau yang masih menyimpan sakit hati mu saat kata-kata tajam keluar dari mulutku ketika aku berusaha menolakmu, atau kau yang marah karena mengetahui bahwa aku bukanlah tipikal pemuda idaman mu yang kau impikan, akhirnya kau akan meninggalkan ku dan itu pasti membawa kehancuran untuk diriku."

"Jongin..."

"Ada banyak hal yang ku takuti ketika aku memikirkan mu, jadi aku memilih untuk tidak memikirkan nya" Pemuda itu tersenyum lalu menghapus air mata Kyungsoo. "Tapi ketika aku tidak memikirkan mu, aku melihat mu" Jongin mengambil jeda sebentar dan kembali memegangi tangan Kyungsoo, mengisyaratkan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

"Dan melihat mu tentu saja terasa 1000x lebih baik dibanding hanya menyatukan figur-figur tidak nyata di dalam kepalaku. Disini, ketika aku melihat ataupun mendengar mu, aku menyadari bahwa kau nyata, dan kau memang milikku. Aku tidak perlu mengimajinasikan apapun, karena yang ku lakukan adalah sebuah kenyataan" Jongin tersenyum membuat gadis itu tersenyum juga.

"Itu terlalu manis, aku tidak bisa menerimanya" ujar Kyungsoo terkekeh membuat Jongin gemas dan mengecup bibir gadis itu lagi.

"Jadi tenang saja, Soo. Ketika aku berpikir bahwa aku akan memikirkan mu, maka secepat mungkin aku akan berusaha melihat mu. Jadi jangan melintas di kepalaku..." Kyungsoo mengangguk lucu, Jongin mengelus halus puncak kepala gadis itu. "Melintaslah dihadapan ku dan mari buat kenyataan indah sebanyak-banyaknya." Jongin mengakhiri pernyataan nya dengan sebuah kecupan yang lebih manis daripada sebelumnya.

Kyungsoo pikir apa yang dikatakan oleh Jongin itu benar. Dan dia berpikir apakah pemuda yang tengah koma itu tidak lagi mau memikirkan nya, sehingga selama koma ini, Jongin masih sibuk tidur dan tidak ingin menemuinya? Buliran kristal tidak berhenti turun dari mata memerah gadis itu. Dia bahkan menggigit bibirnya, takut menganggu tidur lelap kekasihnya. Dia sudah tidak sanggup lagi dan bahkan ingin menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi.

Namun saat kata-kata makian ingin ia lontarkan, gerakan tangan pelan dari Jongin membuatnya mengurungkan niat itu. Saat mata Jongin bergerak perlahan, tanda mencari secercah cahaya, Kyungsoo berusaha untuk tidak menjerit bahagia. Dengan cepat dia mendekatkan diri dan menatap wajah Jongin lekat, menghapus air mata yang mengalir dengan satu tangan yang tidak menggengam Jongin. Tersenyum senang karena mendapatkan nafasnya kembali, meski sedetik kemudian dia ingin melempar diri mendengar satu nama yang keluar pertama kali.

"B..a...e..k..h..e..e..."

-TBC-

.

.


Halooo semuanyaaa, astaga betapa aku sangat merindukan menulis, huhu. Jadi yeay aku bawa chapter 10 dari Lost ini Love, setelah hampir genap dua bulan ga update cerita ini, mohon di maklumi dan dimaafkan ya, huhu :( Aku br bisa nulis hari ini dengan waktu yang amat terbatas.

Daan dikarenakan hal itu pula sepertinya chapter 10 ini menjadi sangat amat kacau, iya ga? Aku rasa alur nya kecepatan dan tiap part kurang sinkron? Apa cuma perasaan ku aja? Mungkin karena udh lama juga udah ga update, aku susah buat nangkep feelingnya lagi. Jadi aku mohon maaf bila ga sesuai sama ekpektasi kalian, tapi aku akan mengusahakan yang terbaik untuk menyelesaikan nya ;)

Well, kebanyakan cuap2 nya, selalu mengharapkan kritik dan saran terkait penulisan ataupun alur berantakan yang ku buat agar bisa jadi lebih baik lagi yaa ;) Mohon berkenan meninggalkan review nyaaa. Semoga tetep suka dan selalu menghibur yaaaa. Selamat malam minggu dan salam Chanbaek! Review udh ku bales lewat PM yaa, yang dari guest aku bales di bawah ini yaaa ;)


rly : Iya nih bebek masih labil dan dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Chanyeol,huhuhu :( Makasih banyak udh mau baca dan review :) Semoga menghibur yaa ;)

ChanBMine : Maafkan akuuu huhuhu, tapi Chanbaek ku buat putus di part ini karena emang dr awal mau buat kaya gituuu, puk puk mereka berdua :( Takdir tampak terlalu kejam yaa? Hueee #padahalakuyangkejam. Makasih banyak udah mau baca dan review yaa :) Semoga menghibur :D

BPark : Huhuhuhu, aku juga sedih ngeliat mereka gini, huaaaaaaa #mewekdipojokan. Makasih banyak udh mau nunggu, maaf mengecewakan yaaa, kayanya chapter ini berantakan banget :( Daaan makasih banyak udh mau baca dan review, semoga bisa selali menghibur ;)