Youngjae memandangi pintu di hadapannya yang baru saja tertutup, ia bahkan masih bisa mendengar derap langkah Daehyun yang menjauh dan sedikit terburu-buru. Ini masih jam 7 pagi, dan Youngjae tahu betul, Daehyun tidak memiliki jadwal shift ataupun panggilan emergency untuk ada di Rumah Sakit sepagi ini. Youngjae tahu betul, sudah dua hari ini, Daehyun menghindarinya.
Entah untuk apa, atau kenapa. Tiba-tiba saja Daehyun tidak menatap matanya saat berbicara, menjaga jarak dengannya saat ia mendekat, menyibukkan diri saat Youngjae hanya ingin menghabiskan waktu bersama seperti biasa.
Daehyun bersamanya tapi tidak ada untuknya. Membuat Youngjae merasa bingung, merasa kesal namun juga merasa sesak. Ia tidak mengerti, tidak mengerti kenapa kehadiran Daehyun menjadi begitu berarti baginya, kenapa mimpinya beberapa hari lalu tentang ciumannya dan Daehyun membuat jantungnya masih sering berdebar tak karuan, dan tentu saja kenapa tiba-tiba Daehyun berubah seperti ini.
Youngjae menghembuskan nafas yang entah sejak kapan ia tahan, memandangi pintu apartemennya sekali lagi, dan segera berbalik. Ia meraih ponsel dari saku celananya, menekan angka tiga dan segera mendialnya.
Nada tunggu yang menyapanya bertahan nyaris beberapa puluh detik sebelum akhirnya suara berat yang khas menjawabnya di ujung sana.
"Ja..e ?"
"Hyung—maaf, apakah aku membangunkanmu ?"
Youngjae tahu ini masih terlalu pagi untuk membangunkan hyungnya yang ia yakin baru saja tertidur satu atau dua jam yang lalu, tapi ia juga tahu, ia butuh membagi ini dengan orang lain. "Hyung—Yongguk hyung ?" panggilnya sekali lagi, perasaannya yang tak menentu membuat nadanya menjadi terdengar tak sabaran.
Ada suara sibakkan selimut, dan kemudian saklar lampu yang dinyalakan.
"I'm up Jae, I'm up.."
"Sorry.."
"Better be important, dimana Daehyun ? Kenapa menghubungiku sepagi ini ?"
"Daehyun sudah ke rumah sakit hyung.." Youngjae mengambil jeda, tiba-tiba merasa bersalah mengganggu Yongguk dan waktu tidurnya, untuk masalah sepele yang ia sendiri tidak mengerti apa dan karena apa.
"Kau sendirian ? Ada apa ? Apa terjadi sesuatu ? Kau sakit ? Terluka ?" Yongguk terdengar begitu serius sekarang, "Jae ? Youngjae ?!"
Youngjae tersadar dari lamunannya, merasakan kepanikan Yongguk yang terus memanggil namanya dan dari suara berisik yang ada, Youngjae dapat menebak Yongguk sedang bersiap untuk segera menemuinya sekarang.
"Hyung..I'm okay, really.." Yongguk diam, mendengarkannya. "…tapi bisakah kita ketemu ? Tidak perlu sekarang kalau kau masih ingin melanjutkan tidurmu, atau hari ini kau sedang sangat sibuk ? umm—"
"Beri aku, lima belas menit, aku akan segera tiba."
"Tidak perlu sekarang, hyung. Sungg—"
"Kau sudah sarapan ?"
"…belum."
"Beri aku tiga puluh menit kalau begitu, I'll be there with a breakfast."
"Hyung.."
"Buatkan aku kopi, oke ?"
"Oke."
Daehyun menyedot susu pisang yang baru dibelinya, menatap jam dinding yang tergantung di hadapannya dan menghembuskan nafasnya dengan berat untuk kesekian kalinya. Ia butuh melakukan sesuatu, namun jam kerjanya belum dimulai, ia juga sudah menyelesaikan seluruh laporan yang perlu diperiksanya kemarin, dan bahkan ruang darurat yang biasanya selalu sibuk terlihat lenggang pagi ini —bukan berarti Daehyun mengharapkan ada kecelakaan atau semacamnya. Tapi ia benar-benar harus melakukan sesuatu atau pikiran-pikiran yang menyesaki kepalanya akan membuat ia meledak.
"Selamat pagi dokter Jung, bukankah kau tidak memiliki jadwal sampai jam 10 nanti ?"
Daehyun mengangkat kepalanya, tersenyum sedikit meringis kepada perawat yang baru saja menyapanya. "Well—yeah, aku bangun terlalu pagi dan kupikir aku bisa melakukan sesuatu disini, tapi sepertinya musim semi membuat orang-orang menjadi bahagia dan sehat, eh ?"
Perawat ber-tag nama Haemi itu tertawa kecil, "Sepertinya sih begitu, omong-omong tentang musim semi, beberapa perawat dan dokter akan pergi ke Jinhae akhir pekan depan untuk melihat cherry blossom, dokter Jung mau bergabung ?"
"Ahh, aku sudah mendengar tentang itu kemarin, tapi dari yang kulihat semua yang ikut sudah memiliki pasangan atau keluarga, iyakan ? Aku hanya akan menjadi nyamuk disana."
"Dokter Jung bisa mengajak Youngjae-ssi untuk pergi bersama, memangnya kalian tidak ingin seperti pasangan lainnya ? Berfoto berdua di antara bunga-bunga sakura yang bermekaran.."
Sungguh. Daehyun nyaris saja menyemburkan susu pisang yang ada dimulutnya. Ia dapat merasakan wajahnya memerah, dapat merasakan jantungnya beredegup kencang. Hanya karena mendengar nama itu.
"Ber—bersama Youngjae ?"
Haemi menganggukkan kepalanya antusias. "Kalian terlihat sangat serasi berdua, bahkan kudengar dari para perawat di ruang Kemo, dokter Jung selalu menemani Youngjae-ssi saat ia melakukan perawatannya, romantis. Kami semua mendukung kalian dokter Jung."
Daehyun tidak mengerti harus merespon bagaimana, dia bahkan baru tahu, hubungannya dengan Youngjae dilihat dengan sudut pandang seperti itu oleh rekan-rekan sejawatnya. Untung bagi Daehyun, ponselnya bergetar, membuat dia segera menjadikan itu sebagai alasan untuk segera pergi.
"Hal—"
"Yak! Jung Daehyun! Apa yang terjadi pada Youngjae ?!"
Suara teriakan menyapa gendang telingannya begitu saja, membuat Daehyun menjauhkan ponselnya sedikit, membaca dengan jelas siapa yang menghubunginya.
"Himchan hyung ? Ada apa ? Youngjae kenapa ? Di—dia baik-baik saja saat aku berangkat ke Rumah Sakit tadi."
Otak Daehyun berkerja cepat, berusaha mengingat segala detail tentang Youngjae pagi ini. Youngjae tidak mengeluh apapun padanya, suhu tubuhnya juga normal, semalam ia juga memastikan Youngjae untuk tidur lebih cepat.
Tapi Daehyun juga tahu, ia tidak benar-benar berbicara layaknya orang normal dengan Youngjae beberapa hari terakhir ini. Ia juga berusaha menghindari Youngjae dan memberi jarak antara keduanya. Bagaimana kalau itu semua membuat Youngjae jadi segan untuk mengeluh padanya ? Bagaimana kalau pengamatannya dalam diam ternyata salah ? Bagaimana kalau diamnya malah membawa hal negatif pada Youngjae ?
"…..Daehyun-ah! Yak! Jung Daehyun!"
Daehyun berjengit kaget saat suara Himchan menghamburkan lamunannya, membuatnya ingat masih ada Himchan di ujung telpon sana.
"Hyung.."
"Kau tidak mendengarkan apa yang ku ucapkan sejak tadi, iyakan ?"
"Maaf hyung, tapi bisa kau katakan padaku ada apa dengan Youngjae ? Aku bisa pulang seka—tidak, aku akan pulang sekarang."
"Dia sedang bersama Yongguk sekarang, dan Yongguk sudah mengabariku fisiknya oke." Himchan mengulangi kembali kalimat yang tadi telah ia ucapkan namun tidak di dengarkan. "Aku ada pemotretan sekarang, tapi aku akan menemuimu saat jam makan siang. Jadi kau jangan kemana-mana, mengerti ?"
Youngjae bersama Yongguk, dan Himchan akan menemuinya. Daehyun hanya dapat berdoa apapun yang telah terjadi pada Youngjae tidak akan membuat dua orang itu membunuhnya —meski Daehyun tentu akan menghukum dirinya sendiri jika sesuatu memang terjadi pada Youngjae.
"Baiklah hyung, aku akan menunggumu di Rumah Sakit. Kabari aku jika kau sudah disini."
"Dia tidak mau menatapku hyung, dan setiap aku menghampirinya dia selalu memberi jarak, aku sudah berusaha memikirkan semua yang ku lakukan atau ku katakan padanya, maksudku kalau aku membuat salah, kenapa Daehyun tidak bilang saja padaku langsung ? Aku tidak keberatan untuk minta maaf. Tapi kenapa Daehyun malah menghindariku seperti ini ? Aku harus apa hyung ?"
Youngjae terus mengeluarkan unek-uneknya pada Yongguk yang sejak setengah jam-an ini mendengarkannya dalam diam penuh perhatian. Dari semua yang telah Youngjae utarakan, dan jika memang betul seperti itu, Yongguk sendiri tidak mengerti kenapa Daehyun bisa berubah sedrastis itu.
Rasanya mustahil seorang Jung Daehyun mengabaikan Yoo Youngjae dalam hidupnya.
"A—atau Daehyun sudah lelah menemaniku ? Daehyun mulai sadar bahwa aku hanya beban dan menyusahkannya ?"
Youngjae duduk di pojok sofa, dengan kedua lutut yang terangkat dan menempel di dadanya. Mendengar pertanyaan Youngjae tersebut, Yongguk segera saja melingkarkan tangannya di tubuh Youngjae, menumpukkan dagunya di puncak kepala Youngjae sebelum memberinya kecupan lembut beberapa kali terlebih dulu.
"Kau bukan beban Jae, dan tidak akan pernah menjadi beban. Kau juga tidak melelahkan. Jangan pernah berpikir seperti ini." Yongguk berkata pelan, jari-jarinya mengusap tubuh Youngjae penuh empati. "Aku juga tidak tahu ada apa dengan Daehyun, tapi kalau ada satu hal yang aku tahu tentangnya, apapun yang terjadi, dia tidak akan pernah menyerah denganmu, Jae. Tentunya aku dan yang lain juga begitu, tapi kalau ada satu hal yang tidak akan pernah ku menangi dari Daehyun, adalah loyalitasnya padamu. He'll do anything for you, Jae. Anything, except leaving you."
Youngjae menggerakkan kepalanya, menyandarkannya di ceruk leher Yongguk. Menghirup aroma parfum milik Yongguk yang khas. Selalu menenangkan. Namun sekali lagi, tenang yang terasa berbeda dari apa yang ditawarkan Daehyun padanya.
"Hyung.." Suara Youngjae terdengar pelan dan tenggelam, hanya hembusan nafasnya yang begitu terasa di kulit Yongguk.
"Ya ?"
"Saat kau menjaga jarak denganku, aku merasa sedih…tapi tidak seperti ini.."
Yongguk mengeratkan pelukannya, dan Youngjae kembali mengerakkan kepalanya, menjadi bertumpu pada pundak Yongguk kali ini.
"Saat Jongup menjadi diam, aku merasa tidak berguna…tapi tidak sesesak ini…"
Suara Youngjae bergetar, dan usapan Yongguk menjadi semakin intens.
"Saat Junhong tidak bisa tersenyum padaku, aku merasa gagal…tapi tidak sesakit ini…" Youngjae berusaha bernafas dengan normal, entah kenapa, meluapkan perasaanya, membuat pintu emosinya seolah terbuka, dan terasa sulit untuk dikendalikan, "…begitu juga saat kau memelukku, atau saat Himchan hyung melindungiku, saat semua menenangkanku, rasanya juga berbeda, tiba-tiba saja, semua yang Daehyun lakukan terasa begitu berarti dan berharga, aku tidak ingin menjadi posesif, tidak ingin membatasinya, ta—tapi dua hari ini, aku merasa kehilangan meski kita tinggal di tempat yang sama, aku—aku—"
"Be easy Jae, take your breath.."
Yongguk tidak dapat melihat Youngjae, tapi ia tahu pasti ada air mata yang telah siap mengalir yang sedang Youngjae tahan sekuat hati.
"—aku rasa—aku menyukainya hyung…aku menyukai Daehyun, lebih dari yang seharusnya, aku menyalah artikan perhatiannya, mengambil kesempatan dari kebaikan yang telah ia lakukan padaku, aku menyukai Jung Daehyun, hyung…aku menyukai sahabatku sendiri…"
Rasanya, Yongguk ingin berteriak dan mengatakan semuanya. Bahwa Daehyun telah lebih dulu menaruh hati dan mencintai Youngjae sepanjang persahabatan mereka. Tapi Yongguk paham betul arti kata rahasia dan privasi, jadi ia hanya memeluk Youngjae dengan sepenuh hati, menenangkannya, dan berharap dapat meyakinkannya, bahwa perasaan yang Youngjae miliki tidak sepihak.
"Spill it, what you did to my kiddo ?"
Himchan menatap Daehyun garang, dan yang di tatap hanya bisa menelan ludahnya beberapa kali, berharap tenggorokannya cukup basah untuk berbicara dengan suara yang normal.
"Aku tidak—"
"Kau menghindarinya, menjauhinya, dan bahkan menjaga jarak dengannnya," Himchan menunjukkan layar ponselnya, yang sekilas Daehyun lihat sedang menampilkan Ktalk dari Yongguk yang begitu panjang, "kau orang yang paling tahu Youngjae sedang memiliki kepercayaan diri yang rendah, tell me your reason, atau aku akan menyeretmu keluar dari rumah Youngjae dengan tanganku sendiri."
Daehyun tahu pasti ancaman Himchan bukan sekedar kata-kata kosong. Daehyun juga tahu semua yang Himchan katakan benar adanya. Jadi ia menundukkan kepalanya, menatap kimbab yang dibelinya sejak tadi namun tak ia sentuh sama sekali.
"I kissed him."
"You—WHAT ?!"
"Aku menciumnya hyung, bibirnya.."
"Lihat lawan bicaramu saat kau sedang bicara, Jung."
Himchan menggunakan nama keluargnya. Daehyun tahu ini serius. Daehyun mengangkat kepalanya, melihat lurus ke arah Himchan. Tapi bukan pandangan marah atau kecewa yang Daehyun temui disana. Tidak seperti berbelas tahun lalu, saat Himchan melarangnya untuk mendekati Youngjae ketika mereka masih anak-anak sekolah dasar.
Kali ini, ada tatapan cemas, khawatir, penuh tanya namun juga menenangkan dari sorot mata Himchan.
"Aku menciumnya saat Youngjae sedang tertidur hyung, dan saat aku sadar apa yang sudah aku lakukan, aku merasa marah pada diriku sendiri karena tidak bisa menahan perasaanku. dan semenjak itu, setiap ia ada didekatku, aku perlu berusaha sekuat mungkin untuk menahan diriku, segala bentuk pertahan yang selama ini aku bangun, hancur total hyung…aku tidak ingin jauh darinya, tapi aku juga tidak ingin membebaninya dengan perasaanku…"
Himchan mengenggam tangan Daehyun dan meremasnya pelan. Yongguk tentu saja telah menceritakan semuanya. Ini bukan lagi sekedar tentang dua orang yang tidak ingin saling kehilangan, Himchan tidak ingin keduanya akan mulai menyakiti diri sendiri tanpa sadar. Meski ia tahu, Daehyun telah melakukan itu sejak lama.
Sesayang-sayangnya Himchan pada Youngjae, Daehyun sama berartinya untuknya. Youngjae boleh jatuh hati pada semua yang Daehyun yang lakukan untuknya sekarang, tapi Daehyun telah jatuh lebih dulu bahkan saat Youngjae tidak melakukan apapun.
"You did a good job, Dae.." Himchan tersenyum ke arah Daehyun, membuat Daehyun bertanya-tanya untuk apa, "..bukan hal yang mudah mencintai seseorang dalam diam untuk waktu selama ini, kau memiliki cinta yang apa adanya untuk Youngjae, dan sungguh, meski kau selalu tersenyum dan tertawa, kadang aku merasa sedih melihatnya. Kau melakukan ini terlalu lama, sampai aku rasa, kadang kau lupa memikirkan perasaanmu sendiri.." Himchan menatap Daehyun dengan sorot yang tak mampu Daehyun tebak, "…kau berhak untuk bahagia, kau harus ingat itu. Dan aku tahu, bahkan kalau aku memaksamu melupakan Youngjae, kau tidak akan melakukannya, jadi kali ini, meski terdengar tidak adil untukmu, aku minta kau memberi satu kesempatan untuk membuat Youngjae belajar mencintaimu dengan cara yang sama.."
"Hyung—"
"He likes you, Dae. He likes you enough to even loves you, he just doesn't know how to do that.."
"Aku tidak akan memaksakan perasaanku padanya hyung."
"Kau tidak memaksakannya, Dae. Percaya padaku kali ini, ajari ia tentang cinta. Kalau pada akhirnya aku salah, dan kau terluka, aku akan melakukan apapun yang kau minta, aku akan bertanggung jawab untuk ini semua.."
Daehyun menatap Himchan tak paham, ia mengerti tentu saja dengan semua yang hyungnya ini ucapkan, tapi keyakinan dan pertaruhan yang Himchan lakukanlah, yang membuatnya tak mengerti.
"Kau tidak perlu seperti ini untukku hyung, aku akan berusaha untuk menjadi seperti biasa lagi pada Youngjae, aku akan—"
"Just trust me, Dae.." Potong Himchan sambil melirik ponselnya, "Oh! Yongguk bilang Youngjae demam, sebaiknya aku—"
"Aku akan ijin beberapa jam, tunggu sebentar hyung, aku akan pulang bersamamu !" Daehyun memotong kalimatnya balik, dan segera melesat pergi ke dalam bangunan Rumah Sakit, meninggalkan Himchan, dan smirknya, dan balasan pesannya untuk Yongguk.
Plan A. Succes.
Daehyun nyaris melompat dari dalam mobil Himchan dan segera berlari, ia bahkan mengabaikan Yongguk yang menyambutnya di depan pintu, melewatinya begitu saja, menuju kamar Youngjae.
Pemilik kamar itu sedang tertidur, dengan selimut yang menutupi setengah bagian badannya, dan rambut yang sedikit berantakannya. Bagian kelopak matanya terlihat merah dan sedikit bengkak. Lebih terlihat seperti orang yang habis menangis daripada sedang demam.
Daehyun menjulurkan tangannya yang dingin dan sedikit berkeringat, meraba kening Youngjae dengan lembut, yang kemudian membuat sahabatnya itu menggeliat sedikit, lalu terbangun. Keduanya bertatapan. Dalam hening, untuk beberapa detik.
"Kau sudah pulang ?" Tanya Youngjae berbisik. Suaranya parau.
"Badanmu tidak panas ?" Tanya Daehyun nyaris di detik yang sama. Nafasnya masih tersengal.
Youngjae mengangkat kepalanya, dan Daehyun segera melepaskan tangannya. Youngjae mendudukkan dirinya, dan Daehyun mau tak mau memperhatikannya.
"Kau baru saja berlari ?"
Daehyun mengangguk. Baru menyadari tenggorokannya yang kering dan keringat yang membasahi pelipisnya.
"Untukku ?"
Daehyun ingin mengangguk lagi, tapi Youngjae lebih dulu memeluknya. Membuat Daehyun tidak mengerti, tapi seakan reflek, tangannya bergerak sendiri untuk membalas pelukan itu.
"Jangan menjauhiku lagi, jangan menghindariku lagi, jangan memberi jarak diantara kita lagi," Ujar Youngjae dengan cepat, seolah takut Daehyun akan pergi begitu saja. "Kau membuatku hampir gila Jung Daehyun, kau membuatku hampir membenci diriku sendiri.."
"Jae.."
"Aku ingin memastikan satu hal.."
Youngjae melepaskan pelukannya. Menatap Daehyun yang memandangnya balik penuh tanya. Menangkupkan kedua tangannya di sisi kanan-kiri wajah Daehyun. Dan tanpa Daehyun duga, tak sampai sekedipan mata kemudian, bibir Youngjae mendarat di bibirnya dengan sempurna.
"Ehem.."
Dehaman khas milik Yongguk yang tidak diharapkan kehadirannya itu, membuat keduanya saling menjauh dari satu sama lain, dan menoleh ke arah pintu di saat yang sama. Yongguk menampilkan gummy smile-nya, tanpa merasa berdosa, dan Himchan memegang ponsel di tangan kanannya dengan kamera menghadap ke arah Daehyun dan Youngjae, yang Daehyun tahu, pasti baru saja digunakan, atau malah masih digunakan.
"Hyungggg~~" Youngjae memprotes kesal, yang malah menjadi aegyo tanpa ia sadari, wajahnya memerah, membuat ia menarik selimutnya, ingin bersembunyi saja.
"Kalian berdua mengerjaiku, iyakan hyung ?" Tanya Daehyun sengit, meski dalam hati ia juga berjanji akan mentraktir kedua hyungnya tersebut.
"Well, like I said, just trust me, Dae.." Himchan memberinya wink, dan dari sudut matanya, Daehyun dapat merasakan pandangan penuh tanya dari Youngjae untuknya.
Daehyun tidak dapat berhenti tersenyum bahkan setelah ia kembali ke Rumah Sakit, ia menyapa semua orang yang ia temui di koridor-koridor, kenal ataupun tidak, bersenandung kecil, dan sesekali bersiul-siul.
Kalau orang bilang, cinta itu itu lebih memabukkan dan adiktif daripada zat apapun, maka rasanya saat ini, Daehyun mempercayai itu seratus persen.
Kalau tidak ingat, dokter Kim memintanya untuk ditemui sore ini, rasanya Daehyun tidak mau meninggalkan Youngjae sendiri dan kembali ke Rumah Sakit.
"Kim sunbae.." Daehyun mengetuk daun pintu ruangan seniornya yang telah terbuka itu, menampilkan senyumnya yang seolah melekat kuat di bibirnya.
"Ahh, kau sudah datang, duduklah Daehyun-ah.."
Daehyun mengangguk, dan segera duduk di hadapan sunbaenya tersebut. "Jadi, hal apa yang ingin kau bicarakan denganku, sunbae ?"
"Aku sudah membaca hampir seluruh laporanmu, dan menerima hasil penilaian praktekmu dari dokter-dokter yang lain, mereka semua memujimu, dan kau memang berhak menerimanya.."
Daehyun menganggukkan kepalanya dengan dalam, sambil mengucapkan terimakasih dengan sungguh-sungguh.
"Masa magangmu akan selesai pertengahan bulan depan, seperti yang kau minta di awal masa magangmu waktu itu, aku akan menuliskan rekomendasiku untuk menjadikanmu dokter militer sebagai bagian dari masa wamilmu, ku dengar kau sudah menerima surat pemberitahuannya ?"
Senyum menghilang begitu saja dari bibir Daehyun kali ini. Ia menatap sunbaenya, dan hanya dapat menganggukkan kepalanya, yang tiba-tiba juga jadi terasa berat.
"Aku memiliki beberapa kenalan dokter militer, dan kurasa, aku bisa membantumu untuk memprosesnya lebih cepat, seperti yang orang lain bilang, wajib militer itu lebih cepat lebih baik, lagipula Rumah Sakit membutuhkan keahlianmu secepatnya. Bagaimana ?"
"Aku butuh waktu untuk memikirkannya, sunbaenim. Maksudku, aku bahkan belum mengabarkannya pada orang tua dan keluargaku di Busan, jadi..ya…"
"Baiklah, aku mengerti. Kau akan selesai magang bulan depan, dan dapat mengambil cuti setelahnya jika kau ingin menemuimu keluargamu. Satu bulan, bagaimana ?"
Daehyun tidak dapat berpikir jernih sekarang, kalaupun harus bernegosiasi, ia bahkan tak tahu alasan logis apa yang mampu diutarakannya. Hanya wajah Youngjae yang terus terbayang di benaknya.
Dan memang hanya Youngjae yang mampu ia pikirkan saat ini. Yoo Youngjae-nya.
"Aku rasa itu cukup, terimakasih atas bantuanmu Kim sunbae.." Daehyun berdiri dan menjabat tangan seniornya itu.
"Kabari aku secepatnya.."
Daehyun hanya mengangguk kecil dan segera pamit berjalan cepat, berbelok ke arah tangga darurat, menutup pintunya dengan keras, dan merosot duduk ke lantai, kehilangan tenaga di kakinya.
Bahagia seolah mengoloknya, menawarkan diri kepadanya, namun kemudian berlari menjauh darinya seperti ini.
TBC.
Berhubung aku bukan anak kedokteran dan juga bukan orang Korea, jadi enggak begitu tahu tentang masa magangnya dokter atau proses wamil disana, so...kalau jalan ceritanya kelihatan aneh, maafin ya hehehe
Aku update ini di airport, jadi sedikit buru-buru, maafin kalau ada typo, hehe. Makasih banyak untuk review(s) di chapter sebelumnya, makasih banyak buat yang masih mau nungguin dan baca cerita ini, maaf karena belum bisa aku tulisin satu-satu unamenya, tapi review-review dari kalian semua, super berarti dan penyemangat buat aku, jadi aku tunggu lagi ya reviewnya buat chapter ini, makasiiiiih!
