Okay... no cheap talk for now... Happy reading!

(BTW, maaf... karena cepet2, chap ini nggak sempat aku edit...)


Lu Xun

Sejak kedatangan Cao Pi di kamar ayah yang sangat tiba-tiba itu, baik aku dan ayah tahu untuk tidak menyalahi kemauannya. Meskipun masih tersimpan rasa penasaran, aku berusaha memendamnya karena tahu, sewaktu-waktu Cao Pi bisa menangkap basah aku. Sama juga halnya dengan Ling Guang. Bukan hanya aku tidak ingin mencari gara-gara dengan Pangeran Wei yang kupanggil 'kakak' itu, tetapi aku juga tidak mau kalau sampai Ling Guang mencelakakan Cao Pi saat melihat apa yang ia perbuat padaku. Selain itu, aku tidak ingin sampai jatuh korban lagi. Entah berapa hari aku menangisi kematian prajurit itu.

Sudah lebih dari seminggu berlalu. Dan rupanya, akhirnya hari ini datang juga padaku. Pagi-pagi benar Cao Pi sudah berangkat, katanya untuk mengunjungi Kaisar Xian. Kalau dia sudah pergi, berarti aku bebas bertemu dengan ayah.

Dengan langkah secepat mungkin, tidak inginn menyia-nyiakan waktu sedetikpun, aku beranjak ke kamar ayah. Tentu saja sesudah memastikan pada Jendral Xiahou Dun dan Xiahou Yuan apakah ayah sudah bangun atau belum. Mereka berkata sudah, jadi aku langsung mengetuk pintu dan masuk ke dalam.

"Selamat pagi, ayah." Aku tersenyum, mendekati ranjang ayah dan kemudian berlutut lagi di sebelahnya.

Ayah juga tersenyum melihatku. "Lu Xun, kau sudah lama tidak kemari."

"Maafkan aku, ayah." Jawabku. "Aku takut kakak pertama akan marah lagi, hingga menyebabkan kejadian yang tidak mengenakkan ayah seperti kapan hari."

Ayah menggeleng pelan sebelum menghela nafas. "Kejadian itu sungguh membuatku sedih. Tapi kau pasti lebih merasakannya, bukan?" Tanyanya, dan aku hanya bisa mengangguk pelan. "Tapi setidaknya aku tahu, berarti kau memang Phoenix itu. Benar yang dikatakan teks kuno tulisan para leluhur."

Aku hanya bisa menelan ludah mendengarnya. "Maaf, selama ini aku tidak berani menunjukkannya pada ayah." Bisikku pelan, kemudian segera mengubah topik pembicaraan sebelum kami terbenam dalam keheningan masing-masing. "Ayah, aku membawa lanjutan dari surat Kaisar Sun Jian terdahulu. Bisakah ayah membimbingku membacanya kalau ada hal yang tidak kumengerti?"

Atas pertanyaan itu, ayah mengangguk. Jadi aku mulai membaca lanjutannya.

Empat bulan sesudah kekalahanku di Guang Zong, tepat sembilan bulan sesudah kepergian Lu Yu dari rumah anaknya, pasukan Sorban Kuning menyerang Wu di perbatasan, tepatnya di kota Wujun. Beginilah yang kudengar sesudah aku bertemu dengan mereka.

Saat istri Lu Jun sudah hamil besar dan akan melahirkan, kabar bahwa pasukan Sorban Kuning akan menyerang sudah terdengar. Maka dari itu, segeralah penduduk kota Wujun diperintah untuk lari ke tempat lain guna menyelamatkan diri dari pasukan Sorban Kuning. Lu Jun dan istrinya segera menyingkir. Lu Jun tahu istrinya sebentar lagi akan melahirkan sehingga mencari tempat yang tidak jauh tetapi aman untuk mereka.

Sampailah keduanya di sebuah kota bernama Yu Yao, kota yang terletak di sebelah paling timur dataran China. Tetapi rupanya tempat itu adalah tempat perkumpulan pada Gaibang bermarkas, sehingga mereka harus bermalam di sebuah kediaman Gaibang.

Pada malam itu juga, istri Lu Jun melahirkan anaknya.

Jadi... itulah alasan bagaimana ayah mengatakan aku bukan berasal dari Wujun, dan dengan kata lain mengatakan bahwa teks itu benar. Tetapi, sesungguhnya, ada sesuatu yang membuatku bingung. Lalu kenapa kalau aku lahir di Yu Yao dan bukan di Wujun? Memangnya akan ada perubahan kalau aku lahir di Wujun?

Akhirnya, dengan mengerutkan dahi aku menengadah, menatap ayah dengan pandangan bertanya. "Ayah, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Ayah membalas dengan anggukan. "Aku hanya penasaran, memangnya kenapa kalau aku tidak lahir di Yu Yao? Apa hal itu terjadi cuma supaya perkataan para leluhur itu benar?" Tanyaku.

Mendengarnya, ayah hanya hening sejenak. Kemudian ia mengangkat tirai jendela, membuat cahaya matahari pagi masuk membuat mataku silau. Baru sesudah itu ia menjawabku. "Tidak tahu kah kau, Lu Xun, bahwa Feng melambangkan matahari?" Tanyanya. Mataku melebar, bukan karena terkejut akan itu tetapi tidak menangkap maksudnya. "Matahari terbit dari sebelah timur, bukan? Kurasa itu adalah pertanda bahwa kau pun akan lahir di kota sebelah timur, tempat matahari terbit."

"Oh..." Aku mangut-mangut mengerti, sebelum kemudian melanjutkan membaca.

Malam itu juga, para Gaibang-gaibang, adalah orang yang pertama melihat Phoenix. Teringatlah aku pada tulisan itu, yang mengatakan bahwa orang pertama yang menemukannya adalah para Gaibang. Mereka yang melihat anak itu sangat bergembira, kemudian berseru. "Kita ini orang-orang yang tersingkir, tetapi kita melihat yang telah dinantikan datang! Orang-orang akan melihat dan iri pada kita!"

Kemudian datanglah empat orang masuk ke dalam tempat itu. Seorang berbaju putih, mengenakan pakaian seperti petualang. Seorang lain berbaju biru, jubahnya panjang seperti pakaian orang bijak. Yang lain mengenakan pakaian sutra merah yang terlihat indah dan mahal layaknya bangsawan. Yang terakhir mengenakan baju perang berwarna hitam mengkilat seperti seorang jendral.

Mereka memberi salam pada kedua orangtua anak itu. Kata mereka, "Matahari terbit di sebelah timur. Cahaya akan terpancar dari tempat ini. Berjalanlah di bawah terang, sebelum matahari terbenam di ufuk barat." Dan kebingunganlah Lu Jun serta istrinya beserta para Gaibang itu, sebab mereka tidak mengenal keempatnya serta apa yang mereka ucapkan.

Sesudah mengatakan itu, mereka pergi dan tidak pernah kelihatan lagi. Sesudah itu, Lu Jun dan istrinya teringat akan perkataan San Zang, bahwa keempat pelindung, Si Xiang, akan melihat anak itu.

Aku mengerjap-ngerjapkan mata beberapa kali. Jadi, sebenarnya aku sudah pernah bertemu dengan keempatnya saat aku masih bayi. Tapi aku terlalu kecil untuk mengingatnya. Dan pertemuan pertamaku dengan Ling Guang rupanya bukan di tempat ini, tetapi di Yu Yao dulu. Aku hanya bisa menghela nafas, betapa membingungkannya hal ini.

Melihat kebingunganku, ayah tertawa. "Aku yang membacanya saja sampai heran, apalagi kau yang mengalaminya!" Katanya sambil menepuk punggungku. Aku hanya membalas dengan tawa kecil saja. "Tetapi aku kaget, rupanya kau tidak tahu tentang itu."

Aku menggeleng. "Tidak mungkin, ayah."

Ayah diam. Ia memandangku agak lama dengan matanya yang cekung itu, baru sesudah itu berkata lagi. "Mungkin sebagai Lu Xun kau memang tidak tahu." Katanya sambil melepaskan tatapannya padaku, memandang pada jendela yang tirainya terbuka itu lagi. "Tetapi sebagai Feng, kau tahu tentang itu."

Mendengarnya, aku hanya bisa mengangkat alis karena heran. "Hah? Maksud ayah?"

Tetapi ayah menolak untuk menceritakannya. Ia hanya menggeleng. "Kau lanjutkan membaca saja. Sudah sampai bagian terakhir, kan?" Aku hanya bisa menurutinya.

Tepat setahun sesudah kelahiran anak itu, aku pergi ke Wujun untuk melihatnya. Sebab saat itu pasukan Sorban Kuning sudah dimusnahkan dan mereka sudah kembali ke kampung halamannya. Aku pergi dengan membawa pedang itu karena aku bermaksud akan menyerahkannya.

Saat melihat mereka, aku menceritakan apa yang terjadi pada Lu Yu, dan mereka berdua sangat berduka. Kemudian aku melihat anak mereka dan menatangnya. Saat itulah aku tahu, bahwa memang dialah Phoenix itu.

Ketika aku melihat betapa masih kecilnya anak itu, aku mengurungkan niat untuk menyerahkan pedang yang harusnya menjadi miliknya itu. Dengan itu aku berpamitan dan meninggalkan mereka. Tepat sesudah kejadian itu, selama dalam perjalanan aku kembali ke Jian Ye, aku menulis seluruh hal yang aku tahu padamu.

Aku sangat bersukacita atas hal itu, dan aku menceritakannya padamu, karena aku ingin kau, rekanku yang baik hati, juga mengetahui hal itu dan dapat menyaksikan sendiri Phoenix yang kita nantikan itu. Kalau aku mati sekarang, aku tidak akan menyesal karena aku sudah sempat melihatnya dan mengabarkannya padamu. Tetapi kau, sahabatku, harus melihatnya sebelum ajal berjumpa denganmu.

Dengan paragraf terakhir itu, serangkaian surat Kaisar Sun Jian terdahulu diakhiri, juga kisah tentang bagaimana aku bisa dilahirkan di Yu Yao itu adalah fakta. Selama ini aku tidak pernah mengetahuinya, dan barulah sekarang seluruh teka-teki itu menjadi jelas di kepalaku. Dengan ini, setidaknya satu lagi kebenaran teks para leluhur dari Dinasti Zhou itu terbukti.

Aku membereskan lembaran-lembaran itu dan merapikannya bersama tumpukan yang lainnya. Dan tentang Kaisar Sun Jian terdahulu pun, sebenarnya beliau pernah melihatku. Kalau tidak salah, dalam perjalanan pulang ke Jian Ye itulah, Kaisar Sun Jian dicegat oleh Liu Biao dan Huang Zhu, yang kemudian sesudah itu menyebabkan kematiannya.

Sambil hanya bisa menghela nafas, aku menyayangkan hal itu. Sebelum mati ia sempat melihatku, tetapi cucu perempuannya sendiri yang lahir setengah tahun kemudian tidak sempat dilihatnya. Tapi, bukankah ini seperti suatu yang sudah ditetapkan sebelumnya? Seperti meninggalkan warisan terakhir, Kaisar Sun Jian terdahulu menyerahkan surat ini pada ayah. Bukankah dalam baris terakhir ia mengatakan ia tidak menyesal jika harus mati sesudah itu?

Saat masih tenggelam dalam pikiranku sendiri, ayah memanggilku. "Lu Xun," Aku pun menoleh. "Sekarang kau sudah mengerti benar?"

Aku mengangguk. "Ya. Terima kasih ayah sudah membantuku mengerti." Ujarku sambil menyunggingkan seulas senyum.

"Kalau tidak ada yang ingin kau tanyakan lagi, Lu Xun," Ayah berkata. "Akulah yang ingin bertanya padamu sesuatu."

"Apa itu, ayah?"

Ayah memandangku dengan tatapan yang seperti meluap-luap oleh emosi itu. Aku hanya bisa balik memandangnya dengan mata bertanya-tanya. "Kau adalah Feng, bukan?" Ia memulai. "Kalau begitu, dimana Huang? Apa kau sudah pernah bertemu dengannya?"

Akhirnya. Akhirnya pertanyaan yang selama ini berusaha kuhindari ditanyakan juga oleh ayah. Untuk sesaat lamanya, aku hanya terdiam, tidak bisa menjawab apapun. Bagaimana aku bisa menceritakan kalau aku dan Yangmei sudah bertunangan? Bagaimana aku bisa menceritakan kalau sesudah itu anaknya sendiri mengambil Yangmei dariku dan memaksanya menjadi selirnya? Yang pada akhirnya sampai menyanderanya dan menggunakan itu sebagai ancaman bagiku supaya aku bersedia melakukan segala hal yang dia perintahkan?

Aku hanya bisa menunduk.

"Ada apa, Lu Xun?" Ayah bertanya dengan alis terangkat. "Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan?"

Mendengar pertanyaan itu, aku tahu aku tidak bisa mengelak, dan aku pikir memang sebaiknya aku menceritakannya. Hal ini, meskipun pahit, adalah kenyataan. Aku bercerita bukan untuk lapor pada ayah, tetapi karena dia yang bertanya. Apapun yang akan menjadi respon ayah, aku akan siap menghentikannya, kalau itu adalah sesuatu yang akan membahayakan dirinya sendiri.

Jadi aku memulainya. Kuceritakan bahwa pada umur delapan tahun aku pertama kali bertemu dengan Yangmei. Sampai aku tinggal bersama dengannya. Kemudian perang di Xu Chang, yang membawa kami pada kekalahan kami di He Fei. Kemudian apa yang terjadi padaku dan Yangmei sesudah itu, sampai membawa kami di tempat ini.

Benar saja, sesudah mendengarnya, aku bisa melihat dengan jelas penyesalan dan kekecewaan di wajah ayah. Dia menggeleng pelan. "Cao Pi, memang anak itu sudah keterlaluan. Kalau suatu saat dia mengalami penyakit sepertiku..." Kalimatnya menggantung sampai di situ, dan tahulah aku bahwa ayah pun sangat memperhatikan Cao Pi, bahkan mengasihaninya.

"Oh, Lu Xun..." Ayah menepuk kepalaku dengan lembut. "Kumohon, tolong jangan sampai Cao Pi mengalami nasib sepertiku. Aku tidak tahu asal usul penyakitku ini, tetapi aku tahu pasti ini karena kejahatanku padamu."

Ayah sama sekali tidak tahu bahwa aku pun sudah tahu akan hal itu. Buktinya, saat kemarin Ling Guang akan menghukum Cao Pi seperti Zhi Ming menghukum ayah, aku langsung menghentikannya, yang aku sangat yakin membuatnya bertanya-tanya, sekaligus jengkel dengan yang dia sebut sebagai 'kelemahan'ku. Aku tidak tahu baik Ling Guang maupun Zhi Ming melakukannya karena itu adalah tugasnya, atau karena mereka dikendalikan oleh amarah mereka. Kelihatannya karena dikendalikan amarah mereka, sebab aku sendiri melarang Ling Guang melakukannya, dan mungkin Zhi Ming kalau aku bisa.

Aku mengangguk meyakinkan ayah. "Tenanglah, ayah." Aku menggenggam kedua tangannya. "Tidak akan terjadi apa-apa dengan kakak. Dan mengenai ayah..." Aku terdiam sejenak. "Ayah tenang saja. Aku sudah tahu asal penyakit ayah, dan akan melakukan apa yang aku bisa untuk menolong ayah." Aku hanya mengatakan hal itu, meski tidak mengatakan apa yang aku tahu tentang penyakitnya.

Pintu diketuk sedikit kasar. "Masuklah."

Baru sesudah itu pintu itu terbuka, dan kulihat rupanya Jendral Xiahou Dun sedang bersoja memberi salam padaku dan ayah, baru sesudah itu ia mengutarakan maksud kedatangannya. "Lu Xun, sebaiknya kau cepat pergi dari tempat ini." Katanya memperingatkan. "Cao Pi sebentar lagi akan sampai ke istana, dan kalau dia melihatmu di sini, kejadian seperti beberapa hari lalu tidak akan bisa dihindari lagi!"

Aku terlihat ragu, kemudian menatap ayah. Ayah hanya mengangguk perlahan. "Pergilah, Lu Xun, Aku tidak mau melihat Cao Pi menyiksamu lagi."

Akhirnya aku keluar dari kamar ayah dan menuju Aula Yangxindian. Dalam perjalanan, aku memandang ke kejauhan, ke arah gerbang Shen Wu yang tinggi dan terlihat jelas. Mataku menyusuri gerbang itu. Dalam suratnya Yangmei pernah berkata padaku kalau dia berada di dekat gerbang Shen Wu.

Meskipun aku tahu benar ini sangat sangat beresiko, bisa membunuhku dan Yangmei sekaligus, tetapi aku sudah tidak dapat menahan diriku lagi. Entah sudah berapa lama aku tidak bertemu dengannya, dan sejak aku menjadi seorang Pangeran Kelima, Yangmei tidak pernah memberiku surat lagi, bahkan meskipun Zhang He datang kemari. Aku mulai berjalan melewati taman kerajaan sampai akhirnya aku sampai di tempat kediaman putri dan selir-selir berada.

Di antara puluhan kamar ini, pasti salah satunya adalah kamar Yangmei. Aku berjalan dari satu kamar ke kamar lainnya, mencari tanpa bisa melihat manakah kamar yang dihuni Yangmei. Untuk menemukannya, aku hanya bisa mengandalkan instingku saja, sambil menyusup dari pohon ke pohon, tembok ke tembok, agar tidak ketahuan oleh para dayang dan kasim yang berada di sana.

Mataku berhenti di sebuah kamar, yang paling banyak dayangnya. Aku curiga, jumlah dayang itu sepertinya sangat di atas normal. Sama seperti jumlah kasim yang ada di Aula Yangxindian yang ditugaskan untuk mengawasiku. Mungkin Yangmei pun diawasi oleh sebegitu banyaknya dayang.

Sekarang, sambil bersembunyi di balik sebuah pohon, aku mulai menyusun rencana untuk mengusir dayang-dayang itu dan masuk ke kamar Yangmei tanpa ketahuan. Tapi, bagaimana caranya?

Tengah berpikir, bahuku ditepuk dari belakang. "Hai!"

Suara itu... Suara Putri Mingzhu!

Aku langsung berbalik. Rasanya jantungku akan keluar dari tulang rusukku kalau tanganku tidak terlebih dahulu kuletakkan di dadaku. Ternyata benar, Putri Mingzhu ada di sini! Tapi... bagaimana bisa? Sekarang yang ada di pikiranku bukan bagaimana caranya masuk ke kamar Yangmei lagi, tapi bagaimana caranya bisa lepas dari tuduhan Putri Mingzhu.

"T-tuan Putri..." Aku membungkuk sambil mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak. "B-bagaimana anda bisa berada di sini?"

Putri Han itu dengan seulas senyum menjawab pertanyaanku. "Apa kakakmu, Pangeran Cao Pi, tidak memberitahumu kalau hari ini aku datang berkunjung kemari untuk menemuimu?" Sebagai jawaban, aku menggeleng. "Oh, mungkin kakakmu ingin menjadikannya kejutan."

Kejutan? Oh, ini memang kejutan untukku, terutama saat aku ketahuan menyusup di tempat kediaman putri dan selir ini.

"Dan kau, Cao Li." Gantian dia yang menanyaiku. "Kenapa kau berada di sini? Pangeran Cao Pi memberitahuku kalau tempatmu ada di Aula Yangxindian. Apa pantas seorang Pangeran Kelima datang ke tempat para gadis, apalagi dengan menyelinap seperti maling begitu?"

Oh, betapa aku benci sebutan 'Pangeran Kelima' itu. Cao Pi saja yang mengatakan pada Putri Mingzhu bahwa aku seorang 'Pangeran Kelima', tetapi dia sama sekali tidak tahu bagaimana aku diperlakukan disini. Tidak lebih dari seorang budak. Aku hanya bisa menatap ke sembarang batu yang ada di tanah berumput itu, sambil menghembuskan nafas sedikit lebih kuat dari biasanya.

Tetapi Putri Mingzhu sama sekali tidak sadar tentang itu. Dia terus mengintrograsiku. "Hmmm... apa kau ada di sini karena kau ingin bertemu dengan Selir Muda Sun?"

Wajahku terangkat, menatapnya lurus dengan penuh keterkejutan. Dari mulutku tidak keluar sepatah katapun, tetapi mataku pasti bisa mengatakan semuanya. Untuk sesaat dia hanya terdiam, kelihatan sedikit takut atas reaksiku. Tetapi kemudian ia menjadi lebih tenang, balas menatapku seolah berkata 'aku sudah tahu, kau tidak bisa membohongiku lagi'.

Dan aku tahu sesuatu, dia memang benar.

-o-o-o-o-o-o-

Yangmei

Sudah seminggu ini Cao Pi seperti bukan Cao Pi yang biasa. Akhir-akhir ini dia jadi rajin sekali mengunjungiku, membawakanku sekeranjang bunga, buah-buahan, gaun baru, dan banyak lagi. Bahkan, pernah suatu kali dia mengajakku pergi ke taman istana. Hanya kami berdua saja yang berjalan di tempat itu. Kata Cao Pi, taman itu adalah taman kerajaan tempat berbagai macam tumbuhan langka di seluruh China dikoleksi.

Di sana juga terdapat sebuah istana. Kalau tidak salah namanya Istana Kunning. Di dalamnya aku melihat sebuah patung burung merah yang besar. Kata Cao Pi burung itu adalah pelindung Wei, Zhu Que, begitu Cao Pi menyebutnya. Waktu itu aku sempat menatap patung itu beberapa saat, tetapi aku tiba-tiba jadi takut sendiri. Sebab, entah itu hanya perasaanku atau tidak, aku melihat seolah-olah burung merah itu marah padaku dan Cao Pi, tidak ingin kami berada di tempat itu. Aku juga tidak tahu kenapa.

Bukan hanya itu, wanita misterius itu juga semakin sering muncul akhir-akhir ini. Kalau tidak ada Cao Pi, pasti dia yang akan mengajakku mengobrol sampai malam. Kelihatannya wanita itu adalah wanita yang sangat menyenangkan, aku sangat suka menghabiskan waktu dengannya kalau tidak bersama dengan Cao Pi.

Yang tidak bersamaku cuma satu. Lu Xun.

Semakin lama aku semakin curiga. Cao Pi dan wanita yang masih tidak mau memberi tahu namanya ini memberitahuku kalau Lu Xun sudah mulai melupakanku. Benarkah itu? Sesudah apa yang kami alami bersama? Tapi... kalau memang dia tidak melupakanku, kenapa dia tidak datang kemari? Dia kan bisa datang diam-diam, atau sekarang kan dia pangeran. Pasti dia bisa melakukan apapun, bukan?

Kalau memikirkan tentang ini, apalagi kabar bahwa hari ini Cao Pi pergi untuk menjemput Putri Mingzhu dan mempertemukannya dengan Lu Xun, aku jadi makin kesal.

"Benar itu..."

"Whoa! Kau mengagetkanku saja!"

Rupanya, wanita misterius itu datang lagi kemari. Dan seperti biasa, kemunculannya sangat tiba-tiba. Kali ini dia tiba-tiba saja sudah duduk di sebelahku saat aku sedang termenung-menung sendiri. Sekali lagi aku menghela nafas, panjang sekali sampai membuatnya tertawa kecil.

"Hei," Panggilku, sebab aku belum tahu namanya dan dia juga enggan memberitahuku. "Aku ingin sekali bertemu dengan Lu Xun." Kemudian aku membenamkan wajahku di kedua tanganku yang berlipat. "Aku benar-benar kangen padanya. Kalau tidak bersama dia, rasanya aku seperti ikan yang hidup tanpa air..."

Wanita itu tertawa. "Kau jangan berlebihan begitu."

"Aku tidak berlebihan!" Balasku. "Ini betulan! Aku benar-benar-benar-benar-benar-benar bisa mati kalau tidak bersamanya!" Perlahan aku mulai merasakan airmata memenuhi pelupuk mataku. Aku kangen sekali, tapi juga sedih dan kesal, karena Lu Xun itu! Kenapa sih dia tidak mau menemuiku? Sekali saja tidak apa-apa, kok. Aku bosan kalau hanya berhubungan lewat surat.

"Kalau begitu..." Wanita itu menepuk punggungku. "Kau harus terbiasa menjadi ikan yang tidak hidup dalam air."

"Hah?" Aku mengangkat wajahku, menatapnya dengan penuh kebingungan. "Kenapa bisa begitu?"

Kemudian wanita itu menjawab, dengan sebuah perkataan yang membuatku semakin sakit hati, semakin kesal dan jengkel pada laki-laki yang paling kucintai itu. "Karena dia sudah melupakanmu..."

Sebelum aku sempat berteriak, membantah, atau melakukan apapun, wanita itu menarikku dari kursiku, kemudian membawaku mendekati jendela. "Persiapkan dirimu untuk melihat ini." Ia memperingatkanku. Lalu ia mengangkat tirai itu, untuk menunjukkan sebuah pemandangan yang paling terakhir ingin kulihat.

Tenggorokanku seperti tercekat sebuah sumbat yang besar. Mata dan wajahku memanas melihatnya. Di balik jendela itu, aku melihat... Lu Xun! Dia sedang berdiri dengan sedikit bersandar pada sebuah pohon. Sementara di depannya adalah Putri Mingzhu! Putri yang berusaha ingin menggantikan posisiku di hati Lu Xun! Mereka sedang bercakap-cakap, dan sepertinya Lu Xun tidak sedikitpun menunjukkan kalau dia sedang keberatan. Itu hanya berarti satu hal.

Putri Mingzhu sudah memenangkan perebutan ini, dan aku kalah.

Padahal, aku dengan bangganya telah yakin bahwa Lu Xun tidak mungkin membuangku hanya demi seorang putri yang juga tidak dia kenal siapa. Tidak peduli dia putri dari Dinasti Han, aku tetap dengan polosnya berpikir bahwa Lu Xun pasti akan memilihku!

"L-lu Xun..." Mulutku mengucapkan namanya dengan terbata-bata. "Aku... katakan aku salah melihat!"

"Tidak..." Wanita itu menggeleng, menunjukkan seulas senyum sedih, bersimpati padaku. "Yang kau lihat itu benar. Itu Lu Xun, dan Putri Mingzhu. Kau tahu kenapa dia melakukannya tepat di depan kamarmu?"

Aku hanya bisa diam.

"Karena dia ingin terang-terangan menunjukkan kalau dia memang ingin kau melupakannya. Dia ingin menunjukkan kalau dia memang sudah membuang dan tidak peduli denganmu lagi, dan memilih Putri Mingzhu." Jawab wanita itu sambil menghela nafas panjang. "Yangmei, sudah kubilang bukan? Kau memang terlalu polos."

Tanganku terkepal erat-erat. Mataku kututup rapat-rapat seolah tidak mau melihat pemandangan itu lagi. Tapi, meski yang ada di pengelihatanku hanyalah kegelapan belaka, di otakku pemandangan itu masih terputar dengan jelas, seolah ingin menghantuiku terus-menerus, dan memaksaku untuk tetap membuka mata.

"Kali ini kau sudah melihatnya, kan?" Suara wanita itu masih terdengar. "Yang kukatakan selama ini memang tidak salah. Dia tidak pantas untuk dicintai. Kau harusnya membencinya dari dulu, Yangmei, bukannya malah mencintainya."

Airmata kekecewaan dan kemarahan sudah membanjiri wajahku yang memerah. Bibirku bergetar sambil membisikkan seribu satu kata sumpahan, sementara dalam otakku aku terus mengulang-ulang satu kalimat. Kalimat yang aku tahu akan sangat menyakitkan Lu Xun kalau dia sampai mendengarnya. Aku benci padamu, Lu Xun... Jeritku dalam hati. Aku benci padamu sampai mau mati rasanya! Secepat kilat otakku merencanakan sesuatu... sesuatu untuk menghancurkan hatinya! Aku mulai memperhitungkan, apa yang bisa kulakukan dalam waktu yang sangat singkat, tetapi bisa membekas lama di benaknya.

Jadi, tanpa bisa menahan diriku lagi, aku berlari secepat kakiku bisa ke arah pintu, membukanya dengan sebuah bantingan yang keras, membuat wanita itu serta para dayang yang berjaga di depan pintu kamarku terkejut bukan main. Beberapa dayang itu malah sempat terjatuh saat aku berusaha menerobos. Tetapi aku sudah tidak peduli lagi. Dari atas balkon, sambil berpegangan pada pagar yang sengaja dipasang agar tidak jatuh, aku melihat dengan jelas pemandangan itu. Sangat jelas sekali.

-o-o-o-o-o-o-

Lu Xun

Bagaimana mungkin aku bisa menyangkalnya? Aku punya dua alasan kenapa aku harus menjawab jujur. Pertama, Putri Mingzhu tidak bodoh, dan pasti tahu kalau aku membohonginya. Kedua, aku tidak mau menyangkal perasaanku sendiri pada Yangmei. Kalau memang ada seseorang yang bertanya begitu padaku, bahkan meski itu adalah Putri Mingzhu sekalipun, aku tidak akan ragu untuk menjawab jujur.

Badanku semakin kurapatkan ke batang pohon sementara tanganku berada di sisi-sisi pohon itu. Sambil menatap ke arah lain, aku mengangguk. Mengangguk dengan jelas. Sekarang, aku benar-benar terjebak dalam situasi ini, entah apa yang akan dilakukan putri ini sekarang.

Di luar dugaan, kedua tangannya dilingkarkan di bahuku. Sebelum aku bisa menghilangkan kekagetanku, ia memelukku dengan erat, hampir membuatku tidak bisa bernafas. Bukan hanya karena eratnya pelukan itu tetapi juga keterkejutanku. Mataku melebar dan tubuhku kaku. Tanganku tidak membalas pelukannya itu.

Seumur hidup, hanya Yangmei saja satu-satunya wanita yang pernah memelukku, selain mungkin mendiang ibuku sendiri. Bahkan Zhou Ying yang kuanggap adik sendiri saja tidak pernah kupeluk atau kuizinkan memelukku. Yang boleh melakukannya hanya Yangmei saja, satu-satunya, karena hatiku tertutup untuk gadis lain, dan hanya akan terbuka untuknya.

Tetapi Yangmei, satu-satunya gadis yang kusayangi itu, ternyata melihat ini semua. Dia melihat bagaimana eratnya Putri Mingzhu memelukku, dan bagaimana aku tidak menolak pelukannya. Namun ada satu hal yang tidak dia lihat. Dia tidak bisa melihat bagaimana inginnya aku mendorong Putri Mingzhu saat ini juga.

Aku pun baru tahu itu, ketika tiba-tiba jeritannya yang dipenuhi isak tangis memenuhi langit siang yang sangat terik itu. Dari atas istana itu, kurang lebih tingginya tiga meter dari tempat berdiriku sekarang, ia berseru, dengan seluruh suaranya, seolah ia ingin mengumumkannya ke seluruh dunia, dan menusukku kuat-kuat dengan perkataannya.

"AKU BENCI KAMU, CAO LI!"

Perkataannya itu adalah yang dia ucapkan seperti saat di Xu Chang dulu.

Dia tahu betapa kalimat itu bisa menghancurkanku. Dan dia juga tahu apa arti kata 'Li', nama yang diberikan Cao Pi padaku. Tetapi toh dia memanggilku seperti itu. Bukan hanya untuk menyamarkan nama asliku dari Putri Mingzhu, tetapi sepertinya dia memang ingin menyebutku seperti itu.

Untuk sesaat, aku seperti kehilangan nafasku saat matanya menatapku dengan tajam. Kalau matanya itu bisa membunuhku, mungkin aku sudah mati sekarang. Kali ini dia mengatakannya dengan sengaja, dengan penuh perhitungan dan tidak main-main, bukan dorongan emosi seperti saat di Xu Chang dahulu. Aku tahu itu, dari nama yang ia gunakan untuk memanggilku, dan bagaimana matanya tidak berubah bahkan sesudah melihat tatapanku yang kosong karena perasaan terluka.

Tetapi, lain dari bagaimana ia memanggilku dengan nama baru yang sangat nista artinya itu, aku tetap memanggilnya dengan namanya yang dulu. Nama yang ia suruh untuk aku menggunakannya kalau aku memanggilnya. Nama yang membuatnya senang kalau aku memanggilnya begitu.

"Meimei... tunggu...!"

Tetapi dia sama sekali tidak menyadarinya. Atau mungkin, dia sudah menutup telinga dan hatinya untuk mendengar suaraku. Saat dia berbalik dan berlari masuk ke kamarnya, aku pun akhirnya berhasil melepaskan diri dari Putri Mingzhu. Dengan sepenuh keberadaanku, aku berharap aku dapat mengejarnya, dan mengatakan bahwa yang barusan dia lihat adalah salah. Aku tidak seperti yang dia pikirkan.

Aku masih sangat menyayanginya, bahkan sesudah dia berkata begitu.

Namun aku tahu harapanku itu pada akhirnya hanya menghancurkanku lagi saat pintu kamarnya itu ia banting keras-keras. Aku berani menjamin sesudah itu pintu itu ia kunci, agar tidak seorang pun dapat masuk, apalagi aku.

Langkahku terhenti perlahan, sampai aku jatuh di atas kedua lututku. Kedua telapak tanganku di atas tanah, menyangga tubuhku. Tanpa mempedulikan lagi Putri Mingzhu, atau dayang-dayang yang ada di sana, aku membiarkan airmataku berjatuhan. Kalau hatiku yang telah ditusuk dengan begitu kuat oleh Yangmei itu diibaratkan sebagai tubuhku, maka airmataku ini adalah darah yang keluar ketika ia mencabut tusukannya.

Aku sudah tahu ini akan terjadi, cepat atau lambat. Tetapi yang aku tidak siap adalah, dia mengatakannya bukan pada saat aku jauh darinya. Tetapi pada saat dimana aku sangat merindukannya, sampai aku mengambil resiko datang ke kamarnya menempuh bahaya. Apa dia tidak tahu bahwa aku berada di tempat ini karena aku sedang berusaha ingin menemuinya, sampai tiba-tiba Putri Mingzhu datang kemari dan menghancurkan segalanya?

"Cao Li..."

Putri Mingzhu masih berada di sini.

Dia berjalan mendekatiku, berlutut di sebelahku sambil mengusap punggungku. Tapi, bukan simpati darinya yang kuharapkan! Aku tidak butuh siapapun sekarang, kecuali Yangmei! "Ternyata benar, kau masih mencintai Selir Muda Sun..." Benar, bahkan sampai sekarang. Dia tidak pernah tahu bagaimana aku sangat sangat menyayanginya. "Tapi, Selir Muda Sun sendiri sudah mengatakan begitu."

Aku berusaha untuk mengumpulkan ketenanganku kembali, sebelum menatapnya sekilas, dengan tatapan yang seperti apa aku sendiri tidak tahu. "Putri," aku memanggilnya.

"Ya?"

Dengan sedikit kuat, bahkan mungkin terlalu kasar untuknya, aku menjauh darinya, membuat tangannya terlepas dari tubuhku. "Tolong, jangan menyentuhku..." Permohonanku itu pasti membuatnya shock, sampai ia sendiri pun menjauhkan dirinya dariku. "Akan kuakui, Putri. Aku sangat mencintai Selir Muda Sun, sampai-sampai aku tidak ingin disentuh gadis lain selain olehnya."

Putri Mingzhu tidak dapat mengatakan apa-apa. Jadi, meskipun aku tahu ini sangat menyakitkan untuknya, aku melanjutkan. "Putri, kumohon anda mengerti. Kakakku memang mengambil Selir Muda Sun sebagai selirnya, tapi dalam hati aku masih tidak bisa melupakannya. Hatiku ini hanya untuk dia seorang." Saat mengatakannya, airmataku mengalir semakin deras. Aku membayangkan dengan ucapannya itu, Yangmei seperti memegang hatiku yang rapuh dan dengan sengaja membantingnya sampai hancur berkeping-keping.

"T-tapi..." Putri Mingzhu berusaha membantah. "Selir Muda Sun sendiri tadi sudah mengatakan dia membencimu, Cao Li..."

Aku mengangguk, meskipun mengakui hal itu membuatku lebih terluka lagi. "Tetap saja, Putri, aku tidak akan bisa balik membencinya..." Kataku penuh keputusasaan. "Jangankan membencinya, hanya untuk tidak mencintai dan melupakannya saja aku tidak bisa..." Kedua tanganku kini menutupi wajahku. Aku tidak tahu seberapa rendahnya aku di mata Putri Mingzhu saat aku mengatakan ini. Aku orang yang baru saja ditolak, tetapi masih berharap untuk bisa memiliki Yangmei kembali.

Putri Mingzhu menggeleng, menunjukkan simpatinya sekali lagi. "Jadi, apa yang harus kulakukan untuk membantumu?"

"Aku hanya memohon satu hal, Putri." Jawabku dengan suara lemah sekali, berharap dengan sepenuh hati dia tidak akan mendengarnya, tetapi juga ingin agar dia mendengarnya. "Kakak berkata padaku bahwa dia akan menikahkanku dengan anda... tolong... batalkan itu, Tuan Putri..."

Saat kalimat itu habis, Putri Mingzhu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, menahan pekikkan yang akan keluar dari mulutnya. Aku tidak tahu apa yang dia rasakan, tetapi mungkin tidak jauh berbeda dari perasaanku sekarang. Dia hanya mengangguk pelan, kemudian segera berdiri. "Baik kalau itu maumu... aku akan mengatakannya pada Pangeran Cao Pi..."

Sesudah itu dia berlari, meninggalkanku lagi sendirian. Aku tersenyum lega, tidak menyangka ternyata akan semudah itu memohon padanya. Aku tahu, aku sudah membuat perasaan seorang gadis terluka, tetapi aku lebih tidak bisa kalau membuat Yangmei terluka. Ini bukan berarti aku membenci Putri Mingzhu. Aku akan lebih senang jika bertemu dengannya sebagai seorang teman. Dia baik dan menyenangkan, tetapi aku tidak mau kalau dia menuntut lebih dari itu.

Tetapi, tiba-tiba suatu pikiran terbersit di kepalaku. Putri Mingzhu bilang dia akan mengatakannya pada Cao Pi. Dan kalau itu sampai terjadi, maka semua rencananya untuk memperoleh tahta Dinasti Han ini akan menemui kegagalan. Dan sesudah itu... apa yang akan terjadi padaku? Dan terutama pada Yangmei?

Kepalaku semakin sakit memikirkannya. Membatalkan pernikahan ini, dan membuat Yangmei lebih menderita tetapi setidaknya aku tidak perlu menikahi Putri Mingzhu. Atau bersedia meneruskan pernikahan yang menyiksaku ini, dan pada saat yang sama membuat Yangmei makin benci padaku?

Aku kembali pada prioritas utamaku. Sekali lagi tujuan utamaku adalah menolongnya, bukan membuatnya tahu bahwa aku menolongnya. Bagiku, tidak peduli apa yang menjadi balasan Yangmei padaku, asalkan dia bahagia, aku tidak ragu-ragu untuk melakukan apapun.

Jadi dengan segera, aku pun berdiri, kemudian mengejar Putri Mingzhu. Benar sekali. Ternyata dia tidak sedang mencari Cao Pi. Tetapi dia sedang berada di tengah taman kerajaan di depan Istana Kunning, menangis sambil menyandarkan tubuhnya di batang sebuah pohon.

"Tuan Putri!" Aku berhenti dan memanggilnya.

Dia menatapku, kemudian segera menghapus airmatanya dengan cepat. "M-maaf, Cao Li..." Dia berusaha untuk tenang, tetapi aku tahu suaranya masih terdengar terbata-bata. "A-aku hanya ingin menenangkan diri... sebentar lagi aku akan mencari kakakmu..."

Aku yakin, dia pasti kaget saat melihatku menggeleng. Sejujurnya, aku pun tidak ingin melakukannya. Aku hanya terpaksa melakukannya. Kepalaku terasa berat saat kugerakkan, terutama bibirku yang akan berbicara padanya. "Putri Mingzhu..." Kataku padanya. "Setelah kupertimbangkan, permohonanku itu kutarik kembali..."

Putri Mingzhu hanya bisa mengangkat alis karena terkejut, tetapi aku tahu dia pasti merasa senang.

"Aku memang masih sangat mencintai Selir Muda Sun..." Kumulai dengan menyatakan sebuah kebenaran, baru sesudah itu dengan kebohongan. "... tetapi aku akan mencoba untuk mencintaimu juga..." Saat mengatakannya, aku merasa ribuan pisau menghujamku, dan lagi-lagi airmataku mengalir. Baru sesudah itu aku melanjutkan lagi. "Aku tidak tahu apakah akan berhasil atau tidak..."

Kalimat itu kuakhiri sampai disitu saja, sebab kalau melanjutkannya, aku bisa semakin hancur. Ya Tian... kenapa aku bisa berada dalam situasi seperti ini? Kenapa aku harus terus-menerus berbohong demi melindungi Yangmei? Tidak tahukah para dewa-dewa yang mengatur nasibku ini bahwa mengucapkan kebohongan adalah sesuatu yang selalu kuhindari? Aku memang bisa menyembunyikan kebohonganku di balik wajahku, tetapi dalam hatiku sendiri tidak.

Putri Mingzhu kelihatan percaya padaku. Dengan langkah perlahan dia mendekatiku, sampai sudah cukup dekat barulah dia berhenti. Kali ini aku tidak menjauhkan diriku darinya dengan harapan kebohonganku itu akan semakin teselubung. Kepalaku tertunduk agar mataku ini tidak melihat padanya, karena mataku tidak mungkin bisa berbohong.

"Cao Li? Benarkah itu...?" Sebagai jawaban, aku hanya mengangguk. Mataku kututup sepenuhnya.

Tetapi dia tidak tahu tentang itu, jadi segeralah ia memelukku lagi. Kali ini aku sama sekali tidak bisa menolak. Saat dia melakukan itu, tubuhku sekali lagi lumpuh. Selalu seperti ini. Aku tahu Putri Mingzhu mencintaiku, dan dia tidak jahat. Tetapi saat dia tidak tahu bahwa saat dia memelukku, dia sedang menyiksaku, membuat tubuhku seolah dirambati kalajengking beracun yang bisa membunuhku dengan sengatnya.

Bajuku basah karena airmata yang mengalir dari matanya. Ia menangis bahagia. Tetapi aku tidak bisa merasakan kebahagiaan yang sama, meskipun airmataku juga membasahi bajunya. Airmataku adalah airmata kesedihan, ketidakberdayaan, dan keputusasaan.

Hanya dalam hati aku bisa mengatakannya, tetapi tidak bisa keluar dari mulutku. Tolong lepaskan, Putri... Tolong jangan lakukan ini...

-o-o-o-o-o-o-

Yangmei

Aku tidak bisa percaya akan hal ini.

Lu Xun benar-benar sudah melakukannya! Dia memang sudah tidak peduli lagi padaku, bahkan untuk menemuiku saja tidak! Sewajarnya, dia harus menemuiku sesudah aku berkata begitu padanya! Tapi pada kenyataannya dia tidak melakukannya. Aku yakin dia sekarang masih sedang bermesra-mesraan dengan Putri Mingzhu! Dan dia pasti sedang menjelek-jelekkanku di depannya karena aku dengan sengaja mengatakan itu padanya. Biarlah! Toh aku sudah membalasnya!

Sekarang aku sedang berbaring tertelungkup di ranjangku. Kepalaku kubenamkan dalam-dalam ke bantalku. Wanita misterius itu juga hilang entah kemana sekarang. Aku hanya bisa menangis sendirian. Sial, kenapa Lu Xun sebegitu teganya padaku? Percuma saja selama hampir sepuluh tahun ini aku mencintainya! Dan segala perkataannya bahwa dia mencintaiku dan tidak bisa mencintai gadis lain itu bohong belaka!

Aku benci padanya! Biar saja dia mendengarku mengatakan itu, agar dia tahu yang sebenarnya. Aku sudah muak padanya! Aku tidak akan pernah mengharapkannya lagi! Memang benar kata Cao Pi, aku menyayanginya hanya karena dia baik padaku, jadi kalau sekarang dia tidak baik lagi, kenapa aku harus terus menyayanginya? Aku tidak butuh orang seperti itu! Toh tanpa cintanya itu, aku bisa hidup, kok!

Sesudah beberapa lama aku hanya berdiam diri saja, pintu kamarku diketuk pelan. Dalam hati, ada sedikit harapan bahwa Lu Xun-lah yang mengetuknya. Tetapi segera kubuang jauh-jauh harapan itu saat aku mengingat kejadian yang baru saja terjadi di depan mataku. Siapapun dia, aku tidak ingin menemuinya sekarang.

"Keluar!" Seruku tanpa melihat siapa orang itu.

Pintu itu masih tidak berhenti diketuk.

"AKU BILANG KELUAR!"

Justru pada saat itulah pintu itu terbuka, menampakkan seseorang yang tidak lain dan tidak bukan adalah Cao Pi.

Aku tahu dia tidak ikut-ikutan dalam membuatku marah seperti ini. Yang ada tadi hanya Lu Xun dan Putri Mingzhu saja. Tetapi aku sudah terlanjur sangat marah, sehingga aku langsung mengambil bantalku dan meleparkannya padanya. "KELUAR KAU! KELUAAARRR!"

Tetapi dengan mudahnya dia menghindari lemparanku. Kali ini aku tidak menganggapnya sama sekali, selain hanya kembali meringkuk di sudut ranjang. Cao Pi berjalan mendekatiku, tetapi aku tidak mau tahu apa yang akan dia lakukan sesudah ini.

"Yangmei... kau kenapa?" Tanyanya.

Aku masih diam.

Tiba-tiba aku merasakan tangannya membelai rambutku, membuat sedu-sedanku berhenti untuk sedetik. "Apa ini tentang..." Dia seperti mencari kata-kata yang tepat. "... Lu Xun?"

Mendengar nama itu, aku langsung duduk tegak, menatap sembarang arah dengan mata berkilat-kilat karena marah. Tanganku mengepal kuat-kuat. "Dia bukan Lu Xun! Benar katamu itu, dia cuma Cao Li! Cuma seorang 'Li'!" Seruku kuat-kuat dengan suara dan bibir bergetar. Tapi, bagaimanapun aku berusaha memendam kesedihanku dengan amarah, airmata itu masih tidak juga berhenti, dan membuatku makin membenci diriku sendiri. Kenapa aku harus menangisinya?

Cao Pi menggeleng pelan, seperti sedang menyayangkan nasibku. Kemudian ia meletakkan tangannya di kepalaku, sekali lagi membelai rambutku. "Sudah kubilang, bukan? Lu Xun sudah menentukan pilihannya..."

Aku tidak tahan lagi saat mendengar ucapan Cao Pi itu. Kalau Lu Xun boleh dipeluk oleh orang lain selain aku, kenapa sekarang aku harus selalu menjaga diriku untuknya? Tidak perlu, bukan? Toh dia tidak bisa memberikannya padaku. Jadi, aku sungguh tidak peduli lagi dengan perasaanku, perasaan Cao Pi, atau bahkan Lu Xun lagi. Aku menatap Cao Pi dengan mata penuh permohonan, kemudian berbisik padanya. "Cao Pi, maukah kau melakukan sesuatu untukku? Aku berjanji akan balik mencintaimu kalau kau mau melakukannya..." Pintaku.

Cao Pi mengangguk. "Apa itu, Yangmei?"

Aku mendekatkan diriku padanya, tatapanku semakin memohon. "Peluklah aku, Cao Pi... Maukah kau? Tadi aku melihat Putri Mingzhu memeluk Lu Xun dan Lu Xun membiarkan saja dia melakukannya..." Suaraku seperti mengemis padanya, tetapi aku sudah tidak peduli lagi. Kalau Lu Xun boleh melakukannya, kenapa aku tidak? Tadi aku melihat dengan jelas Lu Xun mengangguk di depan Putri Mingzhu, lalu Putri Mingzhu memeluknya. Aku yakin maksud anggukan Lu Xun adalah bahwa dia mengizinkan Putri Mingzhu memeluknya.

Tanpa berpikir dua kali, Cao Pi langsung memelukku, membuat tangisanku semakin pecah rasanya. Rupanya selama ini aku tidak bisa melihat Cao Pi, hanya karena mataku terus tertuju pada Lu Xun dan Lu Xun saja! Betapa bodohnya aku selama ini telah ditipu olehnya! "Tentu saja aku mau, Yangmei..." Bisiknya di samping telingaku. "Apapun asal kau mau mencintaiku..."

Aku mengangguk kuat-kuat. "Dan satu permohonan lagi, Cao Pi." Kataku lagi. "Mulai sekarang, jangan panggil aku Yangmei. Panggil aku 'Meimei' saja, ya? Sebab nama itu yang digunakan Lu Xun untuk memanggilku... sekarang aku ingin kau memanggilku dengan nama itu..." Aku sekali lagi memohon, dan menjadi lega saat aku merasakan kepala Cao Pi mengangguk mantap.

Kami saling melepaskan pelukan kami. Aku langsung cepat-cepat menghapus airmataku dan berusaha tersenyum, meskipun sangat susah. "Terima kasih banyak, Cao Pi..." Ujarku.

Aku mulai sadar. Aku memang sudah tidak butuh Lu Xun lagi.

-o-o-o-o-o-o-

Lu Xun

Tangan Putri Mingzhu yang menggandengku rasanya seperti belenggu yang mengekang tanganku. Itulah yang kurasakan selama beberapa jam ini kami berkeliling Istana Wei. Aku berusaha bersikap sewajarnya, dan sepertinya aku berhasil. Dia menganggap aku sudah melupakan kejadian barusan itu, tetapi sesungguhnya hal itu masih tetap membekas di pikiranku.

Setelah kelihatannya ia puas berkeliling, kami pergi ke Aula Taihe. Sekali lagi kami menghabiskan waktu di sana untuk berbincang-bincang mengenai rencana... pernikahan kami. Pikiranku buntu, sehingga aku hanya bisa menyetujuinya saja saat dia mengatakan ini-itu.

Sampai beberapa saat lamanya, seseorang masuk ke dalam ruangan itu. Cao Pi dan Sima Yi. Keduanya tersenyum dan memberi salam hormat pada Putri Mingzhu, begitu juga dengan Putri Mingzhu sendiri.

Tanpa banyak basa-basi, Cao Pi langsung menyatakan maksud kedatangannya. "Putri, bisakah aku bersama adikku sebentar? Aku ingin mendiskusikan sesuatu." Katanya pada Putri Mingzhu. Dan Putri Mingzhu yang tidak tahu apa-apa hanya mengangguk, menganggap Cao Pi akan mendiskusikan soal pernikahan kami. Jadi, pada akhirnya aku pun memberikan salam perpisahan padanya, kemudian pergi untuk mengikuti Cao Pi.

Aku berjalan mengikutinya ke arah Istana Qianqing, istana tempat kediamannya dan ayah. Aku hanya mengikuti Cao Pi dari belakang, sementara Sima Yi sendiri berjalan di belakangku, memastikan aku tidak akan lari kemanapun.

Akhirnya, sampailah kami di Istana Qianqing, tepatnya di bagian aulanya. Cao Pi berhenti melangkah sesudah memastikan para kasim telah menutup pintu luar agar tidak seorang pun bisa masuk atau melihat. Aku sudah bisa menduga apa yang akan dia lakukan, toh aku sudah terbiasa dengan ini. Dia berbalik dan menatapku lurus-lurus.

"Cao Li, kau kelihatan semakin akrab dengan Putri Mingzhu. Benar?"

Aku menangguk, kemudian menundukkan kepalaku.

"Kau membuatku senang, Li, sangat senang." Pujinya dengan nada licik yang aneh. Aku tidak tahu dia sedang menyindirku atau tidak. Tiba-tiba saja tangannya sudah sampai ke rambut di belakang leherku, kemudian menariknya sekuat mungkin. "Tapi bagaimana kau bisa berani menginjakkan kaki ke tempat Yangmei?" Serunya, mula-mula dengan suara rendah yang naik menjadi sentakan. Saat itulah jambakannya juga makin menyakitkan.

"K-kakak..." Aku merintih, tetap berusaha untuk patuh padanya. "Aku... aku minta maaf... aku tidak bisa menahan diri..."

Akhirnya Cao Pi melepaskanku. "Tidak bisa menahan diri, hah?" Sahutnya dengan nada mengejek. "Yah, tapi biarlah... berkat itu akhirnya Yangmei bisa termakan bujukanku."

Mataku menoleh ke arahnya.

"Ya, Yangmei sudah mengatakan semuanya padaku." Cao Pi menyeringai licik, membuatku ketakutan setengah mati, bukan akan diriku sendiri tetapi akan Yangmei. Dia sepertinya berusaha mencari ketakutan itu, dan dia lebih dari sekedar berhasil. "Justru sepertinya aku harus berterima kasih padamu, benar kan, Li?"

Detak jantungku berdengup kencang, sebenci itukah Yangmei padaku sekarang? Saat Cao Pi mengatakannya, bukan hanya aku, tetapi seakan duniaku pun runtuh. "Apa yang kau lakukan?" Tanyaku dengan suara pelan, sedikit terbata-bata. "Kau tidak melakukan sesuatu yang buruk padanya, kan?"

Dia menggeleng pelan, sebelum melanjutkannya dengan jawabannya. "Kalau menurutmu memeluk dan menghiburnya adalah sesuatu yang buruk, jawabannya adalah ya."

Aku tersentak kaget, sama sekali tidak menyangka jawabannya akan seperti itu. Ya, menurutku itu adalah sesuatu yang buruk, tetapi untukku sendiri. Sementara untuk Yangmei, tidak. Dan karena itukah aku hanya bernafas lega. Meskipun menyakitkan untukku ketika tahu bahwa Yangmei mengizinkan Cao Pi untuk memeluknya, aku tidak bisa tidak bersyukur saat tahu Yangmei tidak disakiti olehnya.

"Tidak hanya itu, Li." rupanya Cao Pi masih belum selesai juga. Aku tetap menyendengkan telingaku untuk mendengarnya. "Justru Yangmei-lah yang menyuruhku melakukannya." Ujarnya sambil tertawa licik. Kelihatan sekali dia semakin senang saat melihat wajahku menengang karena marah, tetapi pada saat yang sama kehilangan harapan.

"Sekarang, tanpa perlu kusuruh lagi, dia sudah mengatakan dia membencimu."

"Kakak..."

Kali ini, aku memberanikan diri untuk mengangkat kepalaku. Cao Pi mengangkat alisnya, seperti terkejut akan tindakanku tersebut. "... Kenapa kau melakukannya?"

Aku sudah tidak peduli lagi apa yang akan dia lakukan! Aku langsung berlari ke arahnya, menarik kerah bajunya sekeras mungkin. Dia tahu, dia pasti tahu bagaimana sekarang dia berhasil mengalahkanku! Dan seandainya dia belum tahu pun, aku tidak akan ragu menunjukkannya! Airmataku ini buktinya!

Cao Pi terkejut melihatnya, aku tahu itu. "Cao Pi! Kenapa?" Cengkeramanku itu bukan untuk menyakitinya, melainkan untuk berseru, bertanya dengan dengan penuh ketidakberdayaan. Suaraku melembut, begitu juga tanganku yang sekarang mulai mengendur genggamannya. "Kenapa? Aku sudah menyerahkan semua yang aku punya padamu! Kehendakku, kehormatan dan martabatku, pikiran bahkan seluruh keberadaanku! Semua itu demi Yangmei!" Aku berhenti untuk mengatur nafasku yang terisak-isak. "Tetapi sekarang kau pun merampasnya dariku! Apalagi yang aku miliki sekarang?"

Kenapa...? Kenapa...? Sementara pertanyaan itu terus terngiang-ngiang di kepalaku, tanganku kulepaskan dari kerah baju Cao Pi. Tubuhku perlahan meluncur ke bawah, sampai akhirnya jatuh dengan kedua lutut tertekuk di depannya. Satu tanganku kugunakan untuk menyembunyikan wajahku, sementara yang lain terkulai lemah di atas lantai.

"'Kenapa'. Itu pertanyaanmu." Aku mendengar Cao Pi berkata, tanpa perasaan sama sekali. "Kau bertanya kenapa, bukan?" Aku tidak melakukan apapun selain hanya mengangguk perlahan. Sesudah itu, sekali lagi aku mendengar jawaban Cao Pi. Tetapi tentu bukan jawaban yang ingin aku dengar.

"Siapa bilang dia milikmu, Li?" Cao Pi berjalan memutariku, kemudian berhenti. "Sejak awal, sejak dia setuju akan menjadi selirku, dia sudah menjadi milikku, bukan milikmu lagi." Kepalaku yang menunduk langsung menengadah saat dia mengatakannya. "Yang kau lakukan selama ini adalah untuk melindunginya, bukan untuk memilikinya. Kau harus tahu itu."

"Sekarang, kau tidak perlu melindunginya lagi. Dia sendiri yang menolakmu, kan?" Matanya jatuh melihatku yang hanya mengangguk.

"Keberadaanku ini hanya untuk melindunginya saja..." Aku bergumam, sambil berusaha menahan isakanku. "Kalau sekarang dia tidak membutuhkanku, lalu untuk apa aku di sini?"

Aku sadar Cao Pi melihatku, melihatku yang menunjukkan sejelas-jelasnya kegagalanku. Aku tahu aku sedang bertarung dengannya selama ini, tetapi aku berada dalam pertarungan yang tidak seimbang, yang bahkan aku sudah tahu aku akan kalah. Aku sudah tahu suatu saat Yangmei akan mengatakan ia membenciku, tetapi toh aku tetap melakukannya. Perasaan malu, dikhianti, terbuang, kekecewaan, dan kesedihan seperti cambuk yang dikibaskan mengenai sekujur tubuhku.

Tetapi... tidak sedikitpun aku menyesal. Aku tidak menyesal telah mengorbankan semua yang aku punya untuknya, meski pada akhirnya inilah yang menjadi balasannya untukku.

"Kau bisa memulainya, Li, dengan hal yang baru. Misalnya, dengan membantuku merebut tahta Han ini. Itu akan menjadi tujuan keberadaanmu yang baru." Di tengah tenggelamnya aku di dalam pikiranku sendiri, aku masih bisa mendengar suara Cao Pi. "Bulan depan pernikahanmu dan Putri Mingzhu akan dilaksanakan. Selama satu bulan ini, berjuanglah untuk melupakan Yangmei."

Sesudah berkata begitu, ia melangkah menuju pintu, sambil tertawa. Aku tahu dia sedang menertawakanku sementara dia pergi meninggalkanku sendirian.

Sangat sendiri.


Gila, man... pas bikin chap ini aku jadi geregetan sendiri ama Yangmei... Tapi kok bisa2nya aku juga dapet ide kayak getu ==a... Eh, tapi beneran, deh... kalau aku punya pacar kayak Lu Xun, selamanya aku nggak akan ngelirik cowok lain... *dinuklir*

Yaaa... update hari minggu... biasa...

Next chap: Tui Chu Wu Men Zhan Shou (Kali ini authornya sok pake Mandarin...)