hatimu, dalam tangan ini

disclaimer: mobile legends: bang-bang (c) moonton.

chapter 10: tryst; kagura/hayabusa [memory loss, guilt.] – 10 maret 2018.

sinopsis: sesuatu menariknya kemari, lagi dan lagi; ke sebuah kuil yang termakan usia.

note: diperkenankan untuk request, boleh segala macam pair (lebih baik lagi kalo ada prompt-nya!).

note2: saya dah pernah nulis hayagura sebelumnya; silakan dicek di profil saya bila tidak puas dengan tulisan ini:)

.


.

"Halo, tuan."

Kagura menyapa seorang pemuda yang berdiri di depan altar. Ninja, pikirnya. Ada sesuatu yang familiar dari mereka yang bekerja dalam bayangan, seperti sesuatu yang karib darinya adalah bagian dari bayangan itu sendiri. Gadis itu tersenyum saat pemuda itu mengangguk pelan ke arahnya. Ia bilang padanya: "Apa yang anda lakukan disini?"

Pemuda itu tidak bicara, mungkin itu yang terbaik.

Meskipun begitu Kagura tetap berbicara. "Sebenarnya aku tidak tahu apa yang harus kulakukan disini." Ia memutar gagang Seimei di tangannya, suara gemuruh dari dalam lebih riuh dari tetes hujan yang menghajar bumi. "Aku merasa sesuatu memanggilku kemari—ah, apa itu karena Seimei?"

Hening, kecuali hujan. Seimei memainkan nada pelan.

"Ada sesuatu yang membuatku merasa rindu akan sesuatu yang tak kuingat di tempat ini; perasaan seperti aku pernah kehilangan sesuatu di sini—apakah anda memiliki perasaan serupa?" tanyanya. Matanya melirik pemuda itu, tangannya disilangkan di depan dadanya, ia menatap lurus ke depan—padahal Kagura tahu pemuda itu sesekali melirik ke arahnya.

"Hei, tuan ninja, apakah anda akan kembali lagi besok?"

Saat ia menoleh, pemuda di sebelahnya telah menghilang.

.


Ia mengingat hantaman keras pada kepalanya.

Lalu seseorang berteriak memanggil namanya—ada darah; Kagura panik.

Pikirannya dibawa pergi oleh kehangatan yang melingkari tubuhnya, dan tetes air mata di pipinya yang bukan berasal dari matanya.


.

Semenjak itu, pikirannya mengambang.

Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan—atau apa yang ingin ia lakukan. Ia tidak tahu mengapa ia melakukan apa yang ia lakukan saat ini; berdiri sendirian di hadapan altar sebuah kuil yang termakan usia. Ia tak merasa ingin berdoa, ia hanya memandang lurus dengan hampa.

Tiba-tiba seseorang menghampirinya, pemuda yang kemarin. Wajahnya terbingkai jelas, tanpa ada yang menutupi setengah wajahnya. Kagura membungkuk sedikit—pemuda itu membuka mulutnya, hanya untuk menutupnya rapat-rapat beberapa detik kemudian. Mungkin lebih baik tidak bicara apa-apa.

Kagura menorehkan senyum kecil. "Halo, tuan."

Pemuda itu mengangguk,

"Apa yang membuatmu kembali kemari, lagi dan lagi?" ia bertanya—karena sesungguhnya tidak adil bila hanya Kagura yang menceritakan bagiannya; pemuda itu juga harus melakukan hal serupa. "Apa yang sedang anda cari?"

Tidak dijawab. Pemuda di sampingnya tak bersuara, ia hanya menatap lurus—meskipun begitu, Kagura tahu ia melirik ke arahnya, sekali dua kali.

"Tuan, apakah anda merasa nostalgia di tempat ini?" tak lelah, ia bersuara. Seseorang harus memulai percakapan. Kagura menoleh padanya, menatap pemuda itu tepat di air mukanya yang tenang. "Aku merasa memiliki kenangan yang kuat disini, tapi aku tak ingat—ah, mungkin itu yang menarikku kemari?"

.


"Haya, mereka bisa membunuhmu…."

Pemuda di depannya menggeleng, menyentuh bahu gadis itu dengan kedua tangannya. "Pergi, Kagura; selamatkan dirimu sendiri." Katanya.

"Aku tidak mau pergi tanpamu."

"Kagura, ini bukan taman bermain."

"Ini… taman bermain kita, dulu—tidakkah kau ingat?" tanyanya. Ia melihat dirinya sendiri berlarian mengitari kuil; dengan Hayabusa mengekor di belakangnya, nampak kelelahan mengikutinya. "Haya… kumohon—aku… aku tidak akan menyusahkan. Aku bisa membantumu."

Jawabannya masih sama, pemuda itu mendorongnya, sedikit demi sedikit menjauhi altar—ada keragu-raguan di matanya; ia tak mau meninggalkan gadis ini sendirian, tapi bila tidak dilakukan, nyawa gadis ini dalam bahaya. "Aku bisa bantu—"

"Tidak, Kagura. Untuk kebaikan dirimu, tolong pergi—"

"Aku tidak mau pergi! Aku… aku mencarimu, selama ini, Haya—aku ingin bantu, aku bisa bantu, aku—"


.

Aku… apa?

"Ah, aku…."

Seimei menyanyikan lagu-lagu yang familiar. Lantunan nadanya mengingatkan Kagura pada sesuatu—ia seharusnya ingat, tapi ia tak ingat. Hanya perasaan mengganjal seperti seharusnya ia ingat pada sesuatu. Pemuda di sampingnya menghela napas—ini semua terasa terlalu familiar, tapi ia tak tahu.

"Anu, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"

.


Ada jari yang ia tautkan pada pemuda itu.

Ia tidak ingat apa janji yang ia buat.

Tapi ia ingat, pemuda itu mendekat dan mengecup pipinya. Wajahnya dibuat merona merah padam.


.

"Siapa namamu, tuan…?"

Pemuda itu menghilang secepat dia datang.

Kagura berdiri sendiri di depan altar. Mencoba untuk mengingat apa yang seharusnya ia ingat. Seimei bersenandung lirih—tahu ada sesuatu yang merisaukan pemegangnya. Memberikan petunjuk; semoga bisa dimengerti. Suara dari wagasa-nya semakin keras, familiar.

"Untuk apa bawa-bawa wagasa itu saat kita ingin pergi main?"

"Untuk perlindungan; untuk melindungimu."

Ini… suaranya.

Ia mendengarkan baik-baik, diselingi semilir angin yang membuatnya menggigil hingga ke tulang-tulang. Ia tetap berdiri di kuil itu, menanti suara Seimei—karena Seimei hanya bersuara bila ia berada dekat dengan sesuatu yang karib, dan kuil ini membuat wagasa-nya berbicara lebih sering daripada—

Daripada….

Daripada….?

Siapa?

Ada yang mengintainya dari bayangan di atas pohon.

Melindunginya.

.


"Kagura."

Ia masih mengatur napasnya yang tersengal karena berlari mengitari kuil. Pemuda di sebelahnya mengusap puncak kepalanya. "Istirahat."

Ah, tanpa disuruh pun, Kagura akan melakukannya. Ia lelah. Wagasa-nya ia biarkan terbuka, mengatapi dirinya bersama dengan pemuda itu—padahal mereka berdua duduk di bawah pohon rindang di samping altar. Matanya terpejam, menikmati senandung lembut dari Seimei.

"Haya, kau mendengarnya juga?"

Pemuda itu menoleh, alisnya bertaut. "Mendengar apa?"

Detak jantung yang memburu. Deru napas sinkron dengan satu sama lain. "Seimei, bernyanyi."

Hayabusa tidak menjawab dengan kata-kata—tapi kemudian ia mulai bersenandung; lagu mereka. Familiar.

Sama persis seperti apa yang Seimei nyanyikan.


.

Seimei.

Lagu ini familiar—tiap nadanya, akrab di telinga.

Hari ini pemuda itu tidak datang—atau, itu yang Kagura pikirkan.

Pemuda itu selalu bersamanya, mengawasi punggung gadis itu. Terlalu dekat membahayakan, terlalu jauh berbahaya.

"Ah, padahal aku ingin memperdengarkan sesuatu untuk tuan ninja." Pikirnya. Ia mulai bernyanyi, mengikuti irama Seimei.

Semua berubah.

Tapi perasaanku untukmu tidak.

Familiar, akrab. Kagura tidak ingat.

Tapi perasaan ini… ia mengingatnya dimanapun.

.


.

[end.]

(shogyo-mujo (yang kagura sebut tiap dia aktifin ulti) berarti semua berubah—ah semoga ini 2 burung 1 batu.)