Cerita berlanjut,..
Akan banyak typo, AU, lumayan OOC, minim deskripsi, deskripsi amburadul, deskripsi belum mewakili imajinasi author, pemilihan kata yang kurang bervariasi, penempatan tanda baca yang masih kurang sesuai dan kekurangan yang lainnya...
Disclaimer: sepenuhnya milik sunrise
Apabila terjadi kesamaan cerita, alur, dan tema mungkin saya terinspirasi dari cerita atau film yang pernah author baca atau tonton. Mohon maaf apabila ada yang merasa ceritanya saya jiplak. Mungkin cerita ini gampang tertebak atau malah sudah tahu?
Selamat membaca
CHAPTER 10
Waktu yang terus berjalan dan manusia yang terkadang membiarkan waktu berjalan meninggalkan manusia dengan keputusan yang diambil tanpa menghiraukan waktu untuk berpikir kembali.
"Ayo Ath!" panggil Cagalli sedikit meninggikan suaranya.
Athrun menuruni tangga dengan sedikit terburu-buru, "Aku bahkan belum memasang dasi," gerutu Athrun menghampiri Cagalli yang sudah duduk manis di sofa lembut berwarna putih beraksen coklat.
Cagalli bangkit dari duduknya, berjalan kearah Athrun dan membantunya memasang dasi, "Kita sudah hampir terlambat,"
"Pukul berapa sekarang?"
Tangan Cagalli sibuk merapikan simpul dasi Athrun agar terlihat rapi, "Sembilan," jawab singkat Cagalli.
Athrun langsung tertunduk lesu dan melepaskan tangan kirinya yang dari tadi sibuk memasangkan kancing pada bagian pergelangan tangan kanan.
Melihat perubahan sikap Athrun, membuat kening Cagalli berkerut. "Ada apa?" Tanya Cagalli.
"Ada apa? Itu berarti dua jam lagi acaranya akan berlangsung dan kau sibuk mengatakan terlambat?"
"Lebih cepat lebih baik," ucap Cagalli penuh kesungguhan.
Mendengar kesungguhan Cagalli membuat Athrun mengakomodasikan emeraldnya kehazelCagalli. "Kau terlalu berlebihan Cags!"desisnya saat retinanya berhasil membuat bayangan Cagalli.
"Tidak!" balas Cagalli membalas tatapan tajam dari Athrun. Entah sejak kapan Cagalli menyadari bahwa Athrun memang tampan dengan semua pahatan Tuhan ditubuhnya, mata yang menatap tajam penuh kegagahan, tubuh yang terbentuk sempurna, dan rambut yang sesuai dengan tubuh dan wajahnya. Sadar atau tidak, sekarang Cagalli menelan ludah kegugupannya.
Melihat hazel Cagalli yang sepertinya meneliti dirinya, Athrun memiringkan wajahnya, "Lalu?" Tanya Athrun masih dengan tatapan yang mengintimidasi Cagalli.
"Kita bisa pergi…" Cagalli merasakan efek dari memperhatikan Athrun, dirinya kehilangan kemampuan berdebatnya dengan pria berambut biru malam, "… kita bisa mencari sarapan terlebih dahulu," lanjut Cagalli setelah menemukan kata yang sesuai.
Athrun meyadari kegugupan Cagalli, dengan sengaja ia mendekatkan tubuhnya kearah Cagalli, sedangkan tangan kanannya mendekap pinggang ramping Cagalli, mencegah wanita berambut blode itu menjauh darinya, "Bisa aku menciummu lagi?" Tanya Athrun.
Mungkin karena takut atau mungkin untuk menghilangkan rasa kegugupannya, Cagalli memejamkan matanya yang diartikan sebagai jawaban iya oleh Athrun. Athrun mencium kening Cagalli secara lembut, Athrun sendiri tidak tahu mengetahui kenapa dirinya begitu tergoda untuk mencium Cagalli, bahkan sekarang entah sadar atau tidak Athrun sudah menempelkan bibirnya di bibir mungil Cagalli, melumatnya tapi tidak terburu-buru seperti saat ia berciuman dengan Meer. Mengingat nama Meer, membuat Athrun melepas ciumannya pada Cagalli, "Maaf," ucap Athrun lembut agar maafnya dapat diterima oleh Cagalli.
Cagalli tidak menjawab ucapan Athrun, dirinya seperti kehilangan kendali karena tatapan emerald milik Athrun. Cagalli sendiri mengutuk dirinya yang tidak menolak saat Athrun menciumnya. Cagalli membuka mata hazelnya, lalu menatap Athrun dan menutupnya kembali menghilangkan rasa malu pada diri sendiri. Athrun yang melihat Cagalli menutup mata merasa ingin kembali mencium Cagalli. Perlahan Athrun mulai menempelkan kembali bibirnya di bibir Cagalli. Ciuman yang berlangsung lama penuh kelembutan dan rasa nyaman karena pasangan ini sepertinya tidak merasakan jijik atau berniat mengakhiri ciuman mereka.
Drttt..drttt
Ponsel Cagalli bergetar, menyadarkan sepasang manusia yang tengah berciuman tersebut tersadar, "Maaf," ucap Cagalli melepas ciuman mereka. Cagalli segera melihat pesan yang masuk pada ponselnya.
"Dari siapa?" Tanya Athrun.
"Kira,"
Raut wajah Athrun kembali datar seperti tidak terjadi apapun antara dirinya dengan Cagalli yang membuat Cagalli merasa tertipu. Tiba-tiba saja, Cagalli merasakan sesak di dadanya. Cagalli memutuskan untuk duduk kembali di sofa dan membalas pesan dari Kira yang menyatakan dirinya akan segera berangkat menuju kampus. Setelah membalas pesan dari Kira, Cagalli kembali mengedarkan pandangan ke segala arah di apartemen, sampai hazelnya tertahan emerald Athrun. Menatap manik emerald Athrun, mengingatkan memori otaknya akan adegan ciuman yang ia lakukan dengan Athrun, bagaimana dirinya dengan mudah membiarkan Athrun mencium keningnnya berulang kali dan mencium bibirnya dua kali. Kini, semua memori ciuman antara dirinya dan Athrun mengulang-ulang didepan matanya.
Kemudian dibayangan itu pula, Cagalli melihat Rey tersenyum kecewa pada dirinya yang membuat Cagalli menyesal telah membiarkan dirinya dengan mudah diperlakukan tidak sopan oleh Athrun. Cagalli menangis, membiarkan tetes demi tetes membasahi pipinya. Athrun yang melihat Cagalli menangis berniat untuk menghapus air mata yang turun dipipi, namun dengan cepat Cagalli menepis tangan Athrun dan menghapusnya sendiri. "Ayo kita berangkat," ajak Cagalli setelah dirasanya sudah cukup kuat untuk menghadapi hari ini.
Merasa diacuhkan oleh Cagalli, Athrun tidak kunjung berdiri dari duduknya, "Kau bisa berangkat sendiri," ucap datar Athrun.
"Baiklah," Cagalli berjalan menuju pintu dan memasang sepatu hak tingginya.
"Kau mau kemana?" Tanya Athrun menyusul Cagalli.
Cagalli berbalik, "Berangkat," balas Cagalli dengan nada datar pula.
"Marah?" tebak Athrun yang juga ikut memasang sepatu. "Tunggu sebentar," lanjutnya.
Pada akhirnya Athrun tetap mengantar Cagalli, "Apakah ucapanmu benar?" Tanya ambigu Athrun pada Cagalli. Jujur saja, kejadian dirinya yang lepas control pada Cagalli membuat sebagian kosentrasi Athrun buyar.
"Maksudmu?"
"Memilihku," jawab singkat Athrun.
"Entahlah, selama dua minggu ini pula Rey menghilang. Ia sama sekali tidak memberi kabar,"
"Jadi?"
"Bagaimana caranya aku memutuskan hubungan ini apabila Rey tidak menghubungiku sama sekali?"
"Kalau aku tahu dimana Rey, bagaimana?"
"Dimana?"
Athrun terseyum samar lalu memandang Cagalli tepat saat mobil yang mereka kendarai tiba di pemberhentian lampu merah, "Beijing, dia sedang sibuk mencari investor untuk bisnis yang ia bangun,"
"Bukankah ia pekerja keras?" Tanya Cagalli dengan nada sedih. Cagalli menundukkan wajahnya melihat sepatu yang ia kenakan, "Bagaimana mungkin, ia berkerja keras untuk kelanjutan hubungan ini, sedangkan aku malah memilihmu, menghianatinya dan berciuman denganmu," ucap Cagalli meneteskan air matanya lagi.
Athrun menghela napas panjang, ia sendiri tidak tahu mengapa dadanya begitu sesak untuk pertama kalinya. "Kalau begitu, pilih saja dia," ucap Athrun setelah dapat meredakan emosinya.
Cagalli menghapus air matanya, lalu menatap Athrun, "Kalau pilihan itu mudah, aku akan melakukannya. Tapi, akan ada dua kubu yang bertolak belakang menentangnya. Kenapa aku harus memilih pilihan yang menyulitkan untukku dan Rey?"
Athrun sadar dirinya mendapat tatapan tajam dari Cagalli, tapi lampu hijau telah menyala. Athrun harus fokus pada menyetirnya atau mereka akan pergi ketempat Cagalli bekerja-rumah sakit.
Seperti biasanya, Athrun selalu mendapatkan sambutan luar biasa dari para penggemarnya saat mulai memasuki aula. Cagalli langsung mencari keberadaan Kira dan keluarganya melupakan keberadaan Athrun yang menemaninya.
Athrun yang merasa ditinggalkan oleh Cagalli hanya bisa menghela napas dan mengikuti langkah Cagalli menghampiri sahabat kecilnya, "Hisashiburi Kira," salam Athrun menjabat tangan Kira.
Kira membalas jabatan tangan Athrun, "Hisashiburi Athrun," balas Kira.
"Jangan lupakan janjimu yang sudah kau ucapkan," ucap dingin kepala keluarga Hibiki kepada putri bungsunya.
"Iya otou-sama," ucap Cagalli penuh kesungguhan. Melihat kedua orang tuanya menghadiri acara wisudanya mulai dari awal adalah kebahagiaan tersendiri bagi Cagalli.
Cagalli menoleh kearah Kira dan mendapat anggukan kepala penuh keyakinan dari Kira. Hari ini ayahnya resmi memandangnya sebagai seorang dokter muda.
Cagalli menuruni tangga untuk mengambil tempat duduknya, sedangkan keluarganya dan Athrun duduk di tempat duduk yang telah disediakan untuk para keluarga pendamping.
Acara wisuda berjalan lancar, Cagalli bukanlah mahasiswi luar biasa sepert Kira ataupun Athrun yang berhak memberikan sambutannya, jadi ia hanya duduk manis dikursinya sampai namanya dipanggil untuk maju mengambil gelar dokternya.
"Jangan lupa Cags, besok ada perayaan di yayasan. Athrun, jangan lupa datang bersama Caga ya," ucap Via kepada Cagalli selesai berfoto bersama, mengabadikan moment memakai baju toga.
"Iya, Kaa-san. Aku akan membuat kue basah dan kering, ada yang lain?" tawar Cagalli.
"Cukup, nanti malam Kaa-san akan memberitahumu apabila ada yang kurang. Athrun, Obaa-san titip singa ini ya," titip Via menatap Athrun yang berdiri tepat disamping Cagalli.
Kedua pasangan Hibiki senior masuk ke mobil berwarna hitam, Kira sebagai pengemudi menurunkan kaca, "Athrun, kami pergi dulu ya," pamit Via melambaikan tangan kepada Cagalli dan Athrun.
"Kau masih ingin berdiri disana?" tanya sinis Athrun berjalan menjauh dari Cagalli menuju parkiran mobilnya.
Cagalli berlari menghampiri Athrun yang sudah kedalam mobil. "Aku akan ada shift sore ini," ucap Cagalli melepaskan aksesoris yang ia kenakan.
"Hmmm," guman Athrun.
Selama perjalanan pun Cagalli sibuk melepas aksesoris yang melekat di tubuh dan bajunya, sedangkan Athrun memfokuskan semua perhatiannya pada jalan yang mulai penuh dengan mobil dan kendaraan lainnya yang akan istirahat makan siang.
"Ath," panggil Cagalli sesaat setelah Athrun melangkah melewati sofa ruang tamu.
Mendengar namanya disebut, Athrun menoleh mendapati Cagalli menundukkan kepalanya. "Ada apa dengan lantainya?" tanya bosan Athrun.
"Terima kasih," ucap Cagalli lirih.
Athrun tersenyum ringan, "Bisakah kau mengulanginya?" pinta Athrun menatap Cagalli.
Cagalli balas menatap Athrun, "Terima kasih atas hari ini,"
"Atas?"
"Maksudku karena Athrun tidak mengatakan apapun tentang hubunganku dengan Rey dan karena Athrun mau mengantarku ke tempat wisuda. Terima kasih, Ath!" balas Cagalli menatap Athrun.
Athrun berjalan mendekat kearah Cagalli, menatap kedua ember yang jernih meskipun terlihat lelah. Senyum tulus terpancar diwajah tampan Athrun, kedua tangan Athrun mengenggam kedua pergelangan tangan Cagalli. Perlahan Athrun mendekat dan mencium kening Cagalli-lagi-untuk kesekian kalinya.
Cagalli hanya dapat menyesap aroma tubuh Athrun yang terasa maskulin khas pria dewasa. Cagalli tahu aroma ini, aroma yang hampir sama dengan tubuh Kira. Menghirup aroma tubuh Athrun membuat Cagalli merasa waktu terhenti beberapa saat. Menikmati kelembutan tangan Athrun yang mendekap tubuhnya-mendekap?
"Maaf," ucap Cagalli tersadar dari lamunannya, tangan kanannya mendorong pelan dada bidang Athrun untuk melepas pelukannya.
Cagalli pergi meninggalkan Athrun yang masih berdiri ditempat semula. Meruntuki tindakan yang-lagi-diluar kendali dirinya.
...
Hari menjelang sore, Cagalli keluar dari kamarnya dalam kondisi yang segar dan siap untuk berangkat ke rumah sakit.
"Kau tetap kerja?" tanya suara sumbang yang berasal dari lantai atas.
"Memangnya ada apa?" tanya balik Cagalli menyahuti suara sumbang tersebut lalu duduk di sofa ruang tamu meneliti kembali barang bawaannya.
"Tidak lelah?" ucap Athrun berjalan menuruni tangga.
Cagalli menggelengkan kepalanya tanpa menatap Athrun, tapi yang jelas Cagalli tahu pria biru ini berjalan kearahnya.
Athrun duduk disebelah Cagalli, mengangkat remote control tv dan menyalakan tv flat yang sedang menyiarkan ramalan cuaca untuk hari ini sampai malam nanti.
"Malam ini akan hujan lebat, aku akan menjemputmu," ucap Athrun tetap menatap layar didepannya.
"Hmm, mungkin nanti pukul sebelas aku pulang," terang Cagalli ikut menonton siaran ramalan cuaca yang sama dengan Athrun.
"Baiklah, aku berangkat dulu," pamit Cagalli beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu sambil mengenakan mantel berwarna biru malam selutut. Athrun berjalan mengikuti langkah Cagalli.
Tangan kanan Athrun mencengkeram lengan atas Cagalli yang membuat Cagalli membalik tubuhnya dan berpaling menghadap Athrun, "Ada apa lagi?" tanya Cagalli.
Tangan Athrun menarik tubuh ramping Cagalli dan memeluknya erat-lagi. Cagalli membiarkan Athrun memiliki waktunya, "Berhati-hatilah, jangan terlalu lelah." Lirih Athrun yang tetap memeluk Cagalli.
Cagalli hanya membalas dengan anggukan lemah yang cukup diketahui oleh Athrun karena posisi mereka yang tidak berubah.
...
Sesampai di rumah sakit, Cagalli langsung berjalan menuju poli rehabilitasi.
"Selamat sore minna-san," sapa Cagalli memasuki ruang jaganya.
"Cagalli-chan, Kira-san memanggilmu ke ruangannya," sapa perawat senior yang sudah sejak awal mengenal kedua kembar tidak identik itu.
Tekukan di kening Cagalli langsung tercipta sepersekian detik setelah perawat senior tersebut keluar ruangan. "Ruangan?" guman Cagalli bingung.
"Memangnya Kira sudah punya ruangan?" tanya ulang Cagalli pada teman piketnya.
"Kira-san memang sudah mempunyai ruangan sendiri, dia menjabat sebagai pengawas keuangan dan investasi asing. Kau belum tahu?"
"Aku belum tahu. Baiklah, aku pergi dulu." Pamit Cagalli setelah meletakkan tasnya di meja kerja berwarna putih.
"Hati-hati Caga." Mendengar peringatan dari teman piketnya, Cagalli mengerutkan keningnya yang dibalas senyuman jahil.
Cagalli berjalan melintasi jembatan perantara polinya dan kantor manejemen dengan tetap menggunakan jubah Harry Potter berwarna putih-jas lab.
Tepat berada di depan ruang bertuliskan "Kira Yamato", Cagalli mengetuk pintu sebagai ijin masuk. Setelah mengetuk pintu tiga kali, Cagalli membuka pintu dan berjalan menghampiri sofa yang tersedia, tanpa menghiraukan pemilik ruang yang menatapnya sebal.
"Ruang yang luas Tuan Yamato," sindir Cagalli sambil memandang seisi ruangan.
Kira bangkit dari duduknya dan menghampiri Cagalli dengan membawa beberapa map berwarna hijau, merah dan biru. "Ada tugas baru untukmu sayang," ucap Kira sesaat setelah ia mencapai posisi ternyamannya untuk duduk.
"Tugas? Kau pikir kau siapa?" tanya ulang Cagalli dengan nada acuh.
"Aku kakakmu, tugas ini adalah latihan untuk kita berdua mengelola rumah sakit ini untuk kedepannya. Sebagai tambahannya, kau juga akan mulai mengawasi beberapa kegiatan di pabrik,"
Cagalli yang sibuk mengamati ruang baru Kira, langsung menatap tajam kearah Kira. "Jangan bercanda Kira, ini bukan lelucon anak TK. Seingatku dulu, yang akan mengurus semua ini adalah kau. Aku hanya membantumu, selebihnya aku hanya dokter terapi biasa. Kau tahu kemampuanku dibidang ini meragukan, jangan bertindak gegabah Kira!"
"Aku ingat itu, kau hanya membatuku mengawasi beberapa bagian saja. Dengar, kau hanya perlu memeriksa ulang laporan bulanan dari poli rehabilitasi, bagian apotek dan laboratorium. Sedangkan di pabrik, Kaa-san dan Kisaka akan membantumu. Kau bisa Cags, kapan lagi kau berani mengambil tanggung jawab ini?" tawar Kira melembutkan suaranya agar mendapatkan simpati dari Cagalli.
Cagalli menghela napas berat, ini belum pernah ia bayangkan. Baru tadi pagi ia resmi mendapatkan wisuda, sekarang ia dipaksa berlari mengambil tanggung jawabnya. "Baiklah, aku akan mencobanya. Tapi ingat, saat aku melakukan kesalahan, kau hanya boleh menegurku dengan suara yang lembut tanpa nada kesal atau marah didalamnya!" ancam Cagalli.
"Ini laporan bulan Juli, kau bisa melihat ulang datanya lewat LIS* rumah sakit. Apabila memang terbukti ada kesalahan, suruh bagian penanggung jawab memperbaiki laporannya. Kau paham?"
Cagalli melemaskan beberapa otot yang berkontrasi selama mendengarkan penjelasan Kira, "Oke, aku pergi." Pamit Cagalli beranjak dari duduknya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Rey? Kalian sudah berakhir? Cinta kalian hanya antar sahabat, tidak perduli Rey memang mencintaimu secara tulus atau tidak, nyatanya kaulah yang berada di posisi kurang tepat," ucap Kira menatap Cagalli yang dibalas dengan tatapan tajam dari Cagalli.
Cagalli kembali duduk bergeser menjauh dari duduknya semula, lalu menepuk sisi kosong disampingnya meminta dengan isyarat agar Kira berpindah duduk di sampingnya. Kira yang mengerti akan tatapan memelas dari adik singanya ini segera duduk disamping Cagalli, "Kami memang sudah berakhir, saat ini Rey menghilang entah kemana. Ia sama sekali tidak bisa dihubungi, kata Athrun ia sedang sibuk mencari investor asing untuk membangun bisnisnya di Beijing. Aku hanya ingin menjadi kekasih yang baik, Kira."
"Kekasih yang menemani pasangannya membangun mimpi, memberi semangat bahwa ada orang lain yang pasti akan selalu memberinya dukungan. Bukan kekasih yang memilih pria mapan dan meninggalkannya mencari jalan kehidupan sendiri. Aku wanita licik," keluh Cagalli menyandarkan kepalanya di pundak Kira, berharap dapat mengurangi beban hidupnya.
Kira tersenyum tipis, "Cag, kau terlihat seperti gadis SMA yang galau ingin putus dari pacarnya. Kalian masih berpacaran, Rey belum datang ke rumah untuk memintamu mendampinginya sampai dia sukses. Athrun dan orang tuanya yang datang ke rumah memintamu untuk mendampingi Athrun menjalankan kehidupanya,"
Cagalli memandang Kira sebal, "Intinya, kau selalu membela Athrun karena dia sahabatmu, investormu, dan yang menurutmu pantas mendampingiku. Tapi sungguh, aku merasa rendah disampingnya!" jelas Cagalli dengan membara.
...
Hari ini Cagalli resmi merasakan bagaimana rasanya seseorang yang mempunyai hubungan spesial dengan lembaran dokumen yang berisi empat lajur yang masing-masing harus diperiksa dengan teliti nominalnya agar sesuai dengan laporan bagian administrasi.
Lelah dengan banyaknya dokumen yang harus diperiksa, Cagalli meletakkan kaca mata bacanya, "Ini melelahkan," keluhnya pada diri sendiri.
"Aku pulang dulu Cag, jangan terlalu lelah. Besok ada shift pagi,"
"Iya, hati-hati di jalan!"
Melihat teman berjalan menjauh, membuat Cagalli meletakkan kepalanya di meja, memejamkan mata dan ia teringat sesuatu, segera ia mencari ponsel hitamnya dan menemukan sepuluh panggilan tak terjawab, lima belas pesan singkat dan beberapa pesan di media sosial miliknya dan itu semua dari satu nama yakni, Athrun zala. Pria mapan itu mengiriminya pesan yang semuanya menanyakan apakah pekerjaannya sudah selesai dan kapan ia bisa menjemput. Belum sempat Cagalli membalas pesan dari Athrun, pintu ruangnya terbuka dan menampakkan hantu yang selama beberpa saat mendiami ponselnya, hantu bermata zambrud yang indah.
"Athrun?" panggil Cagalli yang masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Athrun-hantu yang mendiami ponsel Cagalli-melangkah masuk dan menutup pintu ruang Cagalli, "Kenapa tidak menjawab teleponku?" tanya Athrun mengintimidasi.
"Aku baru saja selesai mengerjakan tugas baruku dan baru akan membalas pesanmu," tenang Cagalli.
"Cepatlah! Aku lelah menunggumu," perintah Athrun yang duduk di depan meja Cagalli.
Cagalli segera merapikan map-map berwarna warni sesuai dengan bagian yang diawasinya. Memindahkan data dari LIS kedalam flasdisk dan mulai mematikan komputer di meja kerjanya.
"Ayo!" ajak Cagalli.
Athrun berjalan di belakang Cagalli, saat mereka melewati lorong rumah sakit, mereka berpapasan dengan Ahmed. "Malam Cagalli," sapa Ahmed.
"Malam," balas Cagalli dengan ramah.
"Sudah mau pulang?"
"Iya, kau shift malam?"
Belum sempat Ahmed menjawab, Athrun menyela pembicaran antara Cagalli dan Ahmed, "Cepatlah, aku sudah lelah!" keluh Athrun menyeret lengan Cagalli berjalan menjauhi Ahmed yang menatap bingung pada Athrun.
...
Athrun menatap ngeri melihat puluhan rak berjejer rapi di depannya, bukan rak buku yang seperti yang sering ia lihat atau rak yang memajang berbagai jenis pakaian limited edisi dari brand ternama, tapi lihat ia sekarang! Berada diantara barisan rak yang menjual berbagaia kebutuhan dasar pangan, Athrun bukannya ingin mencari suasana baru dengna datang ke swalayan ini, melainkan ia dipaksa masuk oleh wanita blodie yang sering dipanggil singa-singa manis-menurut Athrun.
"Caga!" panggil Athrun yang langsung mendapat tatapan dari pembeli lain.
Cagalli yang mendengar namanya dipanggil segera menoleh ke Athrun, "Ayo, jangan memalukanku dengan berteriak seperti itu," bisik Cagalli menyeret lengan Athrun dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mendorong kereta belanja.
Seperti sudah hapal dengan apa yang dibelinya, Cagalli mengambil berbagai macam bahan kue. "Athrun!" panggil Cagalli.
"Hmmm?" jawab Athrun ikut berjongkok didepan rak selai.
"Kau ingin kue apa? Mungkin aku bisa membuatkan sesuatu untukmu?" tawar Cagalli.
"Buatkan saja kue kering manis, aku membutuhkannya untuk isian toples," jawab acuh Athrun.
Cagalli lalu memasukkan tiga botol selai berbeda rasa kedalam kereta belanjanya.
Mereka berjalan beriringan menyusuri deretan rak, "Kau ingin buah?" tanya Cagalli saat mereka tiba di rak yang menjual sayuran dan buah.
"Apa saja, ku pikir kau lebih paham tentang makanan sehat," jawab Athrun.
Cagalli memilih buah jeruk, melon, stroberi, apel, pir dan semangka yang mendapatkan tatapan aneh dari Athrun, "Keretamu sudah penuh!" peringat Athrun.
Mendapat peringatan dari Athrun, Cagalli ikut melirik kereta belanjanya dan langsung menatap ngeri, "Banyak sekali," guman Cagalli pada diri sendiri.
Ia langsung mencari kereta dorong yang kosong disisi pojok rak sayur, " Athurn, bisa kau membantu mendorongnya?" pinta Cagalli dengan nada lembut yang dibalas anggukan kepala oleh Athrun.
Cagalli berjalan menyusuri rak sayut dan langsung mengambil sayur segar seperti wortel, kentang, sawi, bunga kol dan sayuran segar lainnya.
Cagalli menggela napas panjang melihat hasil belanjanya, ada berbagai jenis daging, bahan kue, sayur, buah, perlengkapan mandi, perlengkapan dapur, perlengkapan rumah, dan kebutuhan tambahan seperti persediaan obat dan yang paling penting itu semua dibayar dengan menggunakan uang Athrun-sekali lagi dengan UANG Athrun!
Cagalli menatap tidak enak Athrun, sadar dirinya ditatap begitu intens, Athrun bertanya heran. "Ada apa? Masih ada yang kurang?"
"Sudah lengkap, hanya..." penggal Cagalli.
"Apa?"
"Apa tidak apa-apa menggunakan uangmu semua?" lanjut Cagalli dengan ragu.
"Lalu kau ingin apa? Kau yang membayar semua dan besok aku akan mendapatkan omelan dari ibuku karena telah membiarkanmu belanja sendiri?"
"Terima kasih Ath," ucap Cagalli bahagia dan mulai bersenandu kecil.
"Berhenti menyanyi, kau bukan Lacus!" ucap Athrun mengintrupsi kegiatan Cagalli.
Hari ini, mereka terlihat kompak. Satu hari yang menurut semua orang adalajh perkemabnagn dari hubungan mereka.
T...B...C
LIS = laboratory information system, adalah sebuah sistem yang didukung oleh perangkat software untuk menjalankan pengolahan data kesehatan yang ada di rumah sakit dan biasanya hanya dapat diakses oleh pegawai rumah sakit.
Selamat me-review ya,...jangan lua tinggalkan saran, kritik atau apapun yang ada dipikiran kalian setelah membaca chap ini...
see you,,,love you
Akhirnya bisa update juga...gagal update hanya karena "internet sehat" , tapi akhirnya bisa publish pake lepi teman...semoga chap ini memuaskan...tinggalkan jejak kalian..
Balas Review
popcaga : sekarang Cagalli yang rela diciumin oleh Athrun. Suami?siapa?
#pura-pura gak tahu!# review lagi nee-cahan...
alyazala : maaf, sudah terlalu lama menunggunya,. Sedang sibuk dengan magang,,, gomen ne alyazala-san...sekarang jadi bingung sendiri sebenarnya Athrun suka apa cuman menjalankan peran dengan baik sih?#gembur author#review lagi ya...
nawdblume : feel itu bagaikan hantu yang selalu membayangi setiap ketiakan kata di chap ini...sekarang malah gk tahu gimana feelnya,,,,maklum saat nulis chap ini, perasaan saya juga amburadul...#malah curhat#
untuk pembatas saja juga begitu paham...#author eror# review lagi y Blume-sannnnnnnnn
Lenora Jime : sekarang gmn?hubungan mereka bisa lanjut atau hanya status saja? Review lagi ya...
: sekarang Meernya absen dulu,,,,mungkin chap depan...
cagalli atha zala : sekarang Athrun ciumannya sama Caga trus..jangan iri ya...
Athrun gk mau pilih, karena dia merasa dirinyalah yang berkuasa...review lagi ya..
