-CHANYEOL-

"Kau membuat sarapan?" Tanyaku saat aku masuk ke dapurku sambil tersandung karena masih mengantuk. Baekhyun memakai kemeja hitamku lagi, dan terkutuk jika dia tidak terlihat lezat dengan pakaian itu. Rambut pirangnya yang terang di gelung secara asal-asalan di atas kepalanya, dan wajahnya bersih dari makeup.

Jantungku berkedut saat melihatnya. Dia cantik.

"Ya, Erghh dan sebenarnya aku tidak ingin membangunkanmu." Dia menyeringai, membawa setumpuk kentang goreng dan telur di piring.

"Maaf, Aku tidak punya bahan makanan di dapur." Gumamku dan mencium pipinya sebelum aku mengisi cangkirku dengan kopi panas. "Ya Tuhan, bahkan kau membuat kopi?" Baekhyun tersenyum manis dan mengangguk lucu tepat dihadapanku.

"Tidak. Aku pergi ke toko seberang jalan pagi ini. Kau tidak punya apa-apa kecuali bir dan kotak pizza."

"Kau pergi ke toko dengan pakaian seperti itu?" Aku melihatnya dan dia sempat melotot kaget karena suaraku yang menggema di sepanjang ruangan.

Aku harus membunuh setiap pria yang dia temui hari ini. Batinku.

Dia memutar matanya dan menyeringai. "Tidak Chanyeol sayang ... Tentu saja aku memakai celana." Aku tersenyum cerah setelahnya dan dia hanya mendengus menatapku dengan tatapan kesal bercampur malas.

"Yah, itu membuatku tenang." Aku menyesap kopiku dan tetap mengawasinya yang sedang menata meja.

Dia terlihat cantik di dapurku.

"Kuharap kau suka telur... Ergghh yang Berantakan." Dia bergumam saat mengeluarkan bacon dari oven. "Aku tidak tahu bagaimana membuat omelet." Alisku terangkat mendengarnya.

"Kau tidak tahu?"

"Tidak, hasilnya selalu berantakan. Lihatlah itu". Aku melihat hasil masakannya dan memang benar, ia tidak pandai memasak tetapi mengatakan dengan jujur jika masakannya tak layak disebut sebagai Omelet adalah sebuah pernyataan perang untuknya. Aku mengusak rambutnya namun dia hanya mengangkat bahu dan bergerak ke arahku untuk duduk.

"Ini luar biasa, terima kasih." Aku membungkuk dan menciumnya dengan lembut.

"Terima kasih kembali." Dia tersenyum lembut. Oh Tuhan, aku akan melakukan apa saja untuk membuatnya tersenyum padaku seperti itu.

"Apa acaramu hari ini?" Aku bertanya dan memasukkan kentang ke dalam mulutku. Sial, meskipun masakannya terlihat kacau tapi kuakui kalau rasanya tidak seburuk itu, dia adalah seorang juru masak yang baik.

"Aku akan pergi yoga. Kau tahu Aku belum banyak berolahraga sejak aku sakit."

"Baik."

"Bagaimana denganmu?" Dia bertanya dan menyeruput jus jeruknya.

"Aku harus melakukan beberapa pekerjaan." Dia duduk dengan gelisah di kursinya dan ia mengerutkan kening sesaat, tapi aku menangkapnya. "Ada yang salah?"

Dia mendongak, terkejut. "Tidak ada."

"Kau mengerutkan kening."

"Oh Ya?"

"Ya, kau melakukannya."

Dia menggelengkan kepala dan mengangkat bahunya. "Aku tidak sadar melakukannya."

"Kau yakin?"

"Ya." Dia menggigit bacon dan menjilati sisa remah yang menempel di bibirnya. Sialan! Kenapa aku melihatnya ketika aku harus menahan untuk tidak menggendongnya dan membawanya kembali ke tempat tidur dan berakhir kami akan benar-benar mengacaukan jadwal harian kami hari ini.

.

.

.

Kami membersihkan piring kami. Pandanganku kembali ke wanita cantik yang duduk di mejaku.

"Aku perhatikan saat aku mengambil t-shirt di lacimu, kau tidak memiliki t-shirt dari tur terakhir kami." Aku mengatakan dengan santai.

"Aku tidak punya. Aku tidak bisa menonton konser mu. Karena aku ada di China untuk pernikahan Kris dan Zitao." Dia cemberut, bibir bawahnya terlihat menebal ke luar saat cemberut dan aku tidak bisa menahan tawaku.

"Itu hanya konser, Sunshine."

"Padahal waktu itu aku sempat berpikir untuk tidak ikut ke China, ... Hihihi.. Supaya aku bisa pergi menonton konser begitu.. tapi Kris menculikku dan membawaku ke China." Dia mengangkat bahu, pipinya memerah karena kesal. Aku menariknya berdiri dan membawanya naik ke atas.

"Yah, itu ide gila."

"Mau bagaimana lagi. Saat itu Aku ingin pergi, Chan!"

Aku melihat ke arahnya yang ada di anak tangga dibawahku lalu mengapit hidungnya dengan jari telunjuk dan tengah milikku dengan gemas. Dia hanya mengerucut lucu sementara kekehanku sudah menggelegar kemana-mana.

"Kenapa kau gigih sekali ingin pergi?"

Dia mengikutiku menaiki tangga, dan matanya memandang kaki panjangku. "... Aku ingin pergi karena drummer-mu sangat seksi."

Aku memutar tubuhku ke arahnya saat kami sampai ke di lantai atas. "Excusme?"

"Drummer. Kau tahu, orang yang duduk di belakang benda bulat dan besar yang membuat kebisingan?"

"Ya, aku tahu apa yang di sebut drummer, sayang. Tapi apa yang kau katakan tentang Taehyung tadi?"

"Yah, dia seksi."

"Kau suka Taehyung, ya?"

"Oh, itu namanya?" Ia bertanya dengan wajah sok polos.

"Kau sudah tahu pasti namanya sebelum aku memberitahumu, Baek."

"Aku tid-..." Aku memojokkannya ke dinding. Napasnya memburu, matanya menjadi lebar.

Dia sangat kecil dan lucu bagiku namun entah setan apa yang membuatku tetap bergairah saat menatapnya.

Aku menjatuhkan bibirku ke atas bibirnya lalu menciumnya dengan ciuman panjang dan lembut, saat aku mengangkat kedua kakinya dari lantai, kejantananku menekan perutnya. Dia mengerang dan membungkuskan lengannya di leherku, jemarinya tenggelam di rambutku dan dia menarik tindikanku dengan giginya secara perlahan.

Aku menurunkannya kembali agar berdiri lalu cepat berbalik menuju kamar tidur.

"Hei!" Serunya.

"Apa?" Aku melirik kembali dengan alis terangkat.

"Tadi itu apa maksudnya?"

"Karena membuatku cemburu dengan anggota Band ku sendiri, maka Sekarang kau tidak akan pernah bisa bertemu Taehyung lagi. Aku seharusnya sudah membunuhnya sekarang, tapi sialnya dia terlalu baik untuk digantikan anggota baru."

Dia tertawa serak, sangat serak, tapi masih mengikutiku ke kamar tidur.

"Jadi, kembali ke hal terakhir sebelum kita kesini."

"Maksudmu kembali ke ciuman?"

"Tidak, Sayang, subjek sebelum itu." Aku tertawa. Ya Tuhan, dia lucu. Aku mengambil tas dari lemariku dan menyerahkannya kepadanya yang tampak gugup.

Mungkin ini adalah ide bodoh.

Matanya bersinar saat melihat tas hadiah konser berwarna merah ditanganku.

"Untukku?" Dia bertanya lalu melompat-lompat dengan gembira.

Ini menjadi sesuatu yang berharga untuk kuketahui bahwa: Baekhyun senang dengan hadiah.

"Aku tidak melihat ada orang lain di sini, Sayang."

"Berikan padaku, Berikan padaku!" Rengeknya sambil merentangkan kedua lengannya, menggoyangkan jemarinya, wajahnya yang manis tampak bahagia dan bersinar seperti anak kecil.

Aku menyerahkan tas yang kupegang kepadanya, lalu menarik sesuatu yang ada di saku jeansku hingga melemparnya asal.

"Kenapa?" Dia memiringkan kepalanya ke samping, mengawasiku.

"Tidak apa-apa."

Matanya menyipit saat ia mencurigaiku. "Uh huh. Yakin?"

Aku mengangguk dan menatap kearah tangannya yang kini membawa tas pemberianku. "Bukalah."

Dia mengangguk antusias sebelum melemparkan kertas yang ada didalamnya dan mengeluarkan t-shirt lembut berwarna putih, membentangkannya dan melihat bagian depan yang bertuliskan XXX , hingga mulutnya menganga.

"T-Shirt XXX?!" Bisiknya, matanya menelusuri foto yang terpampang di bagian depan, tentu saja itu aku dan anggota band-ku.

"Ya, sekarang kau masih bisa memilikinya meski kau ke China waktu itu." Aku mengangkat bahu.

Dia segera membuka plastiknya dan memasukan T-shirt yang ia pegang melalui atas kepalanya. Mata sipitnya melihat ke bagian depan T-shirt yang ia pakai, tepat kearah fotoku berada dan menatapku kembali dengan senyum lebar. "Aku menyukainya."

"Bagus. Karena Aku suka melihat diriku (Fotoku) ada pada dirimu." Bisikku.

Dia meluncurkan dirinya ke dalam pelukanku dan menciumku dengan keras. "Aku suka Kainnya karena benar-benar lembut." Gumamnya. "Apakah kau punya *Sharpie?"

"Entahlah. Mungkin aku punya, kenapa?"

"Maukah kau menandatanganinya?" Dia melompat saat melepas pelukannya dan berputar dihadapanku, seperti kipas. Aku terdiam sesaat.

Apa aku sudah memacari seorang penggemar gila?

Lalu aku teringat: Ini Baekhyun! Dia bukan seorang penggemar, Bodoh!

Aku menggeleng yang sepertinya terlihat aneh baginya karena ketika kulihat ia sempat mengerinyitkan dahinya kebingungan melihatku yang sempat terdiam.

"Kenapa?" Tanyanya.

"Tidak, Kenapa baru meminta tanda tanganku sekarang? Kukira kau lupa bahwa kau mempunyai pacar seorang Rockstar."

"Chanyeol!" Dia memukul lenganku manja. Aku terkekeh sebelum benar-benar menggirig kakiku mendekati meja komputerku. Dia mengikutiku dari belakang saat aku mencari Sharpie milikku. "... Hmm tapi ada untungnya juga Kalau saja aku ingin menjual T-shirt atau apa saja yang ada tanda tanganmu di eBay." Aku berbalik dan melihatnya mengedip–edipkan bulu matanya kepadaku, perutku seperti terlepas. Aku berbalik lagi untuk mencari Spidol di dalam tas komputerku dan mengeluarkannya.

"Di mana aku harus menandatanganinya Nona cantik yang licik?"

"Duh." Dia memutar matanya seolah kebingungan memilih tempat yang pas. Aku masih diam dan menatapnya yang heboh didepanku. "Di payudaraku!"

Aku merasakan kepalaku pening untuk sekedar sadar bahwa dia baru saja meminta tanda tanganku di Payudaranya?

"Di payudaramu?" Aku mencubit hidungku sambil tertawa.

"Sepertinya kau belum pernah tanda tangan di payudara, ya?" Dia menyeringai.

"Oh, apa kau bilang?"

"Aku tidak mengejutkanmu tentang hal ini kan?"

"Oh, kau adalah satu-satunya gadis yang ingin kutanda tangani dimanapun itu kau menyuruhku dan beruntung bagimu karena Aku menyukai payudaramu." Aku menunduk dan mencium pipinya. Kejantananku berkedut lagi, menyadari bahwa Dia memiliki payudara yang besar.

"Jadi tunggu apalagi? cepat tanda tangani." Dia melangkah mundur dan menyodorkan payudaranya, seolah menantangku. Aku bersumpah bahwa kejantananku menjadi tegang dibalik celana jeansku.

Aku perlahan-lahan menandatangani bajunya, tepat di atas dadanya dan mataku menatapnya. Dia menggigit bibir bawahnya yang padat dan saat tanganku menempel diatas payudaranya dia dengan cepat menarik napas hingga matanya melebar. Seolah sengaja memasang wajah seperti itu untuk menggodaku.

Ya Tuhan, dia membuatku jengkel. Aku mempercepat kerja tanganku membubuhkan tanda tangan dan bernafas lega karena tanda tanganku tak terlalu rumit.

"Sudah selesai." Bisikku.

"Terima kasih." Bisiknya kembali, lalu matanya berkedip lagi. Dia melepas t-shirt yang ia pakai dari atas kepalanya, melipat dengan hati-hati dan menempatkannya kembali ke dalam tas dan berjalan bermaksud mengambil pakaiannya yang ia letakkan sebelum memakai T-Shirtnya.

"Berhenti." Perintahku.

Dia menoleh dengan terkejut. "Apa?" tapi kakinya tetap mendekat kearahku.

"Kemarilah."

Ia mengernyit dan berdiri di depanku lagi.

"Aku belum selesai." Kataku lagi.

"Kau kan sudah menandatangani t-shirtnya."

"Ya." Mataku mengikuti lekuk dan garis tubuhnya, dan putingnya mengerut di bawah tatapanku.

"Tapi aku ingin bermain."

"Dengan Sharpie?"

Aku mengangkat bahu.

"Kau ingin menggambar di tubuhku?"

"Kau adalah kanvas kosong yang indah, Sunshine."

Dia berkedip padaku, merenungkan ide itu, lalu tersenyum. "Oke tapi aku menginginkan sesuatu juga sebagai balasan."

"Apa yang kau inginkan?"

"Aku ingin menjilati tato bintangmu."

"Kau tidak perlu minta ijin dariku untuk melakukan hal itu, kau tahu." Perutku mengepal karena memikirkan hal itu. Oh Tuhan, dia tidak perlu meminta ijinku Ketika bibir kecil dan lidahnya menyentuh pinggulku hingga membuat pikiranku melayang.

Dia hanya mengangkat bahu dengan gembira. "Hanya Itu yang kuinginkan."

"Deal. Ayo berdiri di cermin."

"Apa aku tidak boleh berbaring?" Dia merengut.

"Tidak, agar kau bisa melihatnya." Aku menyeringai dan membawanya ke cermin yang menggantung di pintu kamar mandi lalu memutarnya menjadikan punggungnya menghadap ke cermin, tetapi dia dapat melihatnya melalui bahunya karena cermin ini cukup besar.

Aku membuka tutup spidol dan mulai menggambar dari bahunya untuk menggambar awan dan burung, matahari. Saat aku menggoreskan tinta hitam di sekujur tubuhnya dia mulai terengah-engah, menggigit bibirnya dan terpesona melihat gambar yang kubuat.

"Kau pintar." Pujinya yang kubalas dengan senyuman.

"Aku suka mencoret-coret." Bisikku dan tetap fokus pada apa yang sedang kulakukan. Aku membalik badannya lagi berganti mulai bekerja pada sisi payudara dan perut indahnya, aku akan kehilangan konsentrasiku dengan ini.

Aku terus menggambar diatas kulitnya, menambahkan gambar laut dan pohon palem, pasir, bintang laut. Sepanjang bagian bawah, di bagian atas pantatnya, aku menggambar bar musik dan menambahkan lirik salah satu lagu favoritku yang kutulis berjudul Wrapped In You. Ini lagu balada, dan merupakan salah satu lagu yang sudah dia tahu tentunya karena Kami (XXX) selalu menyanyikannya di setiap akhir Konser kami.

"Kau sedang menulis musik?"

"Aku hanya menambahkan beberapa lirik di bawah gambarnya."

Aku menarik spidol menuruni kakinya dengan garis melingkar panjang, menggambar desain abstrak di kulit putihnya.

"Wow, kau pintar. Apa kau juga yang menggambar tatomu?" Dia bertanya.

"Tidak juga. Beberapa dari tukang dan Sebagiannya lagi aku yang melakukan."

"Lalu, Apa arti tato di tanganmu?" Dia memandang lebih dekat ke tanganku. Dia selalu menelusuri tinta tato ku dengan ujung jarinya.

Aku mengangkat bahu. "Ini mengingatkanku untuk bersikap santai."

"Tapi kata yang tertulis menyiratkan harus lebih cepat." Dia mengernyit.

"Tepat."

"Siapa yang tahu bahwa yang kau maksud begitu dalam?" Dia menyeringai dan aku menampar pantatnya keras. Dia menjerit senang dan tertawa. "Aku suka saat kau memukul pantatku."

"Bagus. Aku senang bisa melakukannya untukmu." Aku menyeringai ke arahnya dan memukulnya lagi hingga dia tertawa lagi lebih keras. "Oke, berbalik."

Dia menurut dan aku tersenyum mendapatkan persetujuannya. Bagian depan akan sedikit berbeda. Aku menggambar bar musik yang lain, secara diagonal, mulai dari pinggul kirinya, melalui tulang dada, ke bahu kanannya, tetapi sedikit ke bawah sehingga akan tertutup oleh pakaiannya.

Aku menambahkan tulisan, dari lagu yang sama di punggungnya. Ketika sudah selesai, aku mulai menggambar beberapa objek baru berupa bunga.

Bunga sakura, mengitari gambar bar musik, turun ke bagian perut dan melalui tulang rusuknya.

Dia menahan tangannya di bahuku, matanya menatap hasil karyaku di tubuhnya ke cermin melalui atas kepalaku, menonton dengan seksama. Napasnya menjadi pendek-pendek, dan aku bisa mencium bau gairahnya.

Dia begitu bergairah. Aku sudah tidak sabar untuk tenggelam dalam dirinya.

Aku tergesa menyelesaikan kelopak yang terjalin di sekitar vaginanya, lalu, di pinggulnya, Dan aku tak Lupa untuk menuliskan namaku.

Bukan karena aku artis, tapi karena dia milikku.

Aku benar-benar jatuh cinta padanya. Aku hanya tidak tahu bagaimana untuk mengatakan kepadanya karena aku takut jika setelah aku mengatakannya, dia akan lari.

"Sudah selesai." Bisikku dan berdiri kembali, melihatnya yang sedang memutar badannya, mengagumi sebuah seni yang kubuat pada pantulannya di cermin.

"Ini sangat cantik. Kupikir kau akan menggambar hal-hal yang konyol atau menulis 'Milik Chanyeol' dimana-mana." Dia tertawa. Wajahnya tampak tenang ketika dia menatap wajahku dari cermin.

"Aku memang menulis namaku karena kau adalah Milikku, Shunshine..." Aku mendekat lalu memeluknya dari belakang, menguburkan hidungku ke ceruk lehernya dan mengendusnya. "Aku menginginkanmu." Kataku padanya.

"Kau mendapatnya karena Aku ada di sini."

Aku melepas pelukanku dan berdiri tegak tidak bisa berhenti menatapnya. Pada goresan warna hitam yang mencolok pada kulit putihnya yang lembut. Pada pipi merah mudanya, yang memerah karena gairah. Mata panas cokelatnya, yang menyapu tubuhku yang setengah telanjang. Matanya terpaku pada tato bintang-bintang di pinggulku, lalu dia melompat ke arahku dengan cepat. Well, aku tidak bisa menolaknya.

Aku mengangkatnya ke dalam pelukanku dan membawanya ke tempat tidur, menurunkannya dengan lembut ke kasur dan melepas celana jeansku untuk bergabung dengannya di ranjang yang empuk.

"Sekarang giliranku." Bisiknya.

.

.

.

BAEKHYUN

Aku mendorong Chanyeol menjadi telentang dan menciumi dadanya, bahunya, terus turun hingga sampai ke tulang rusuknya. Aku mengusap pusarnya dengan hidungku, menikmati otot-ototnya yang menegang karena sentuhanku. Mencengkeram pinggulnya di tanganku, aku berlutut di antara kakinya dan menurunkan ciumanku ke tato bintang warna biru merah di pinggul kirinya, mencium dan menjilatinya, hingga menelusuri garis-garisnya.

"Aku sangat menyukai tato bintang-bintang ini." Bisikku, dan beralih ke sisi lainnya, memberikan perhatian istimewa pada bekas luka yang coba ia tutupi dengan tato, menelusuri garis ototnya V nya yang seksi.

Tangan Chanyeol mencengkeram kepalaku dengan lembut, sangat lembut dan aku tersenyum saat aku menanamkan ciumanku menuruni garis pusarnya menuju kejantanannya yang mengeras.

Aku menjilati dari pangkal sampai ke ujung dan mengisapnya, mencengkeram miliknya dengan tanganku, dan mulutku. Rasanya begitu nikmat, halus, mengeras pada waktu yang sama.

"Oh Tuhan, Baek!" Ia menggeram dan tangannya mencengkeram rambutku, membimbingku keluar dan masuk pada kejantanannya yang keras.

Aku mengeluarkannya dari mulutku dan menjilati cairan diujung kejantanannya, aku mendengar dia mengeram lagi. Dia menutup matanya dan melemparkan kepalanya ke belakang, tetapi aku ingin matanya melihatku.

"Lihat aku sayang." Bisikku dan tersenyum senang ketika matanya menatapku lagi. Aku mencium bagian ujung penisnya lalu menjilatnya dan memasukkannya lagi ke dalam mulutku, sampai aku merasa miliknya menyentuh bagian belakang tenggorokanku. Aku mengencangkan bibirku di sekitarnya lalu mengangkatnya, dan mengulangi gerakan itu berulang-ulang sampai aku merasakan bolanya mengencang dan kakinya menjadi gelisah. Napasnya terengah-engah.

Aku begitu menyukai efek yang kumiliki padanya.

"Hentikan." Bisiknya.

Aku mengabaikannya.

"Hentikan, Baek. Aku tidak ingin keluar di mulutmu." Dia mencengkeram bahuku dan menarikku ke atas tubuhnya,lalu menciumku begitu dalam."Mulut nakalmu akan membunuhku."

"Aku senang bisa melakukannya." Bisikku dan menggigit dagunya. Aku duduk mengangkangi pinggulnya lalu meluncurkan miliku yang sudah basah keatas kemaluannya, Kami sama-sama mengerang. Dia menelusuri gambar bar musik di perutku saat diantara kami sama-sama terdiam setelah aku memasukkan miliknya kedalamku. "Itu lagu apa?" Tanyaku.

"Wrapped In You." Dia tersenyum dan aku terkesiap. Itu lagu XXX favoritku.

"Apa kau menyukai lagu itu?" Dia bertanya.

Aku mencoba untuk terlihat tenang dan aku mengangkat bahuku. "Mungkin."

Sebelum aku bisa berkedip, ia mencengkeram tanganku dan membalikkan posisi kami, Chanyeol mendorongku telentang, tanganku memegang salah satu lengannya yang besar di atas kepalaku dan panggulnya menekan milikku. "Akui saja." Bisiknya.

"Mengakui apa?"

"Bilang bahwa kau memang menyukainya."

Aku menyeringai ke arahnya dan mencoba menarik tanganku ke bawah, tetapi dia menahan kedua tanganku lebih kuat di atas tempat tidur. Mataku melotot kearahnya namun ia hanya tersenyum sombong diatasku. "Baiklah baiklah..." Bisikku frustasi.

Dengan tangannya yang bebas, dia menyingkirkan helaian rambut dari wajahku, menurunkan tubuhnya sehingga wajahnya hanya beberapa inci dari wajahku, dan lembut, sangat, sangat lembut, saat aku memejamkan mata ia mulai menyanyi.

You make me tremble

When I hold you like this

You skin glowing in the moonlight

You have me all wrapped in you…

Suaranya luar biasa. Bahkan ketika dia hanya berbicara, aku tidak bisa merasa cukup, tetapi ketika ia bernyanyi, aku tersesat ke dalam dirinya.

Dia melepaskan tanganku, aku membuka mataku dan membelai wajahnya lembut dengan ujung jariku. Aku menarik bibirnya mendekat kearah bibirku dan menuangkan bagaimana perasaanku tentang dia ke dalam ciuman ini, tanganku menangkup wajahnya.

Tubuhku terbungkus olehnya.

Ketika dia menarik dirinya kembali, aku tersenyum kecil. "Itu lagu XXX favoritku."

"Benarkah?" Dia bernafas, matanya terlihat senang.

"Iya. Untuk siapa kau menulis lagu itu?"

Dia mengerutkan kening untuk sesaat dan melihat ke bibirku, lalu menatapku kembali. "Aku tidak menulis lagu itu untuk siapa pun." Dia mencium hidungku. "Tapi aku berpikir lagu itu cocok untuk mengungkapkan bagaimana perasaanku padamu. Aku tidak akan pernah menyanyikan lagi lagu itu tanpa memikirkandirimu."

"Kau begitu baik padaku." Bisikku.

"Kau layak mendapatkan yang lebih." Bisiknya dan menciumku lagi, lebih dalam dan aku merasa dia melepas penyatuan kami dan beringsut ke sisi tempat tidur.

"Aku ingin kau berada di dalam diriku, sayang." Bisikku yang diselebungi gairah.

"Aku akan melakukannya." Dia tersenyum lalu memakai kondom yang ia ambil dan mendorong miliknya masuk ke dalam diriku, sampai dia benar-benar terkubur di dalam diriku hingga mataku terpejam merasakan kenikmatan atas penyatuan kami kembali ...dan berhenti. "Bagaimana rasanya?" mataku terbuka lagi dan menatapnya liar yang hanya disuguhi wajah pongah miliknya.

"Lumayan." Aku mengangkat bahu dan menggigit bibir bawahku, menggodanya.

"Apa kau pikir kau bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari ini?" Dia mengangkat alis dan kemudian dengan cepat dia membalikkan posisi kami lagi, jadi aku duduk mengangkang di pangkuannya dan berbaring di atas tubuh rampingnya. "Jika Seperti ini?" tanyanya lagi.

Aku dengan senang hati duduk dan mulai menungganginya, mengepalkan otot kewanitaanku di sekelilingnya dengan setiap gerakan mendorong dan menarik, atas dan bawah, menikmati tangannya yang tertanam kuat di pantatku, membimbingku. Matanya terlihat liar, terpaku padaku.

"Terasa begitu nikmat." Gumamku dan mencondongkan tubuhku ke depan untuk menahan tanganku di pundaknya, menekan pinggulku, menggosokan klitorisku terhadap tulang kemaluannya, dan aku merasa kumpulan energi dari dalam intiku, siap untuk merobek diriku.

"Ya Tuhan, kau begitu cantik." Tangannya menangkup payudaraku dan menjepit putingku, lalu ia membelainya secara bergantian dengan jemarinya. Tiba-tiba, dia bangkit dan terduduk, wajahnya sejajar denganku. Bibirnya menciumku dengan keras, menggigit bibirku dan tangan kirinya menampar pantatku kananku.

Aku menunduk untuk menghisap lehernya, menggigit otot di bagian atas bahunya dan aku menjadi gila ketika dia tiba-tiba menarikku ke bawah dengan satu hentakan yang keras, memutar pinggulnya, dan membuatku orgasme.

"Ini, Sayang." Dia menjilati leherku, dan ketika aku mulai reda dari orgasme, dia menyelipkan tangannya di antara kami, menggosok klitorisku dengan ibu jarinya, kemudian aku merasa akan datang lagi, yang tak kusangka akan membuat dirinya mengerang.

Aku merasakan tubuhnya menegang, tangannya mengepal di sekitarku, dan dia datang bersama denganku, meneriakkan namaku saat ia membiarkan dirinya terlepas.

"Oh Tuhan." Bisikku dan tertawa terkekeh setelah semua yang dia bisa lakukan hanyalah tersenyum. "Kupikir Aku tidak perlu pergi ke yoga hari ini."

"Nanti kita jogging saja." Dia menyingkirkan rambutku ke belakang telingaku. "Aku sudah melewatkan jam berlari bersamamu."

"Oke. Apakah kita akan tinggal di apartemenmu malam ini? Karena Aku butuh beberapa pakaian olahraga."

"Aku ingin bersamamu, Berada dimanapun itu tak masalah. Jika kau mau kita bisa pergi ke apartemenmu."

"Aku tidak keberatan." Aku menyeringai. "Aku akan pergi lebih dulu, kau bisa mengemas barang-barang mu dan bertemu aku di sana nanti." Dia menggeleng tidak setuju.

"Kita pergi bersama." Dia mencium keningku dan mengangkat tubuhku darinya.

Kami bukannya tak terpisahkan, aku merasakan bahwa aku tidak ingin berpisah darinya.

Aku sangat menikmati bersama dirinya.

Terlalu menikmati.

.

.

.

A/N Sharpie: merk spidol permanen yang biasa dipakai untuk menulis diatas kanvas.