White Flag
Chap 10
Don't like. Don't Read
BLEACH belong to Tite Kubo
White Flag belong to Dido
Yakuza Moon belong to Shoko Tendo
This Fic belong to me (Mitsuki Ota)
Rate
T
.
.
.
Pairing
Ichiruki
.
.
.
Genre
Hurt/ comfort
.
.
.
Author
Mitsuki Ota
.
.
.
Rukia's POV
Aku membuka perlahan-lahan mataku. Kepalaku masih terasa berdenyut pagi ini. Memangnya apa yang baru saja terjadi padaku? Aku tak ingat apa-apa kecuali. Hatiku sakit saat mengingat semua itu. Lukaku kembali terbuka pagi ini. Mengapa aku harus mengalami semua ini Kami-sama? Mengapa harus aku? Perlahan tapi pasti, mataku kembali mengeluarkan cairan asin itu. Aku menangis dalam keheningan. Tak ada seorangpun disampingku.
Mengapa kau meninggalkanku Ulqui? Aku tahu kalau aku salah, tapi mengapa kau menghukumku dengan cara seperti ini? Ini terlalu berat untukku.
Aku mengamati sekitarku, mnegapa begitu asing? Ini kamarkukan? Aku mengamatinya baik-baik. Kamar ini cukup luas. Cat dinding yang berwarna putih polos, ada sebuah laptop yang bertengger manis di atas meja. Hei, siapa itu? Apa ia sedang tidur? Aku menghapus jejak air mataku. Kulangkahkan kakiku untuk mendekati orang itu. Tapi, ada yang aneh dengan diriku. Aku menjerit, mengapa bajuku berubah? Seingatku aku tak punya kaos seperti ini. Kaos ini terlalu besar untuk ukuran tubuhku yang mungil.
"Hei, jangan berisik. Aku baru saja tidur jam 3 malam tadi." Ucap pria aneh itu. Aku tak bisa menahan air mataku untuk tidak keluar dari mataku lagi. Aku jatuh terduduk di lantai. Apa yang telah terjadi padaku? Apa aku, hentikan pikiran kotormu itu Rukia.
"Mengapa kau menangis? Apa aku telah melakukan sesuatu yang salah padamu?" suara pria itu terdengar panik. Apa yang telah kau lakukan padaku baka?
"Pergi! Aku tak mau melihatmu!" tangisku sejadi-jadinya. Aku kotor Kami-sama. Apa yang mesti aku lakukan? Kemarin aku baru saja kehilangan orang yang paling kusayangi. Lalu, apa ini? Saat aku terbangun aku sudah tak memakai pakaianku lagi, melainkan pakaian pria ini. Dan aku tidur di ranjangnya. Aku tak sanggup, aku tak sanggup.
"Berhentilah menangis, aku tak tahu kesalahan apa yang telah aku perbuat padamu. Kumohon, berhentilah menangis." Kuberanikan diriki untuk bersuara. "Apa yang telah kau lakukan padaku? Apa kau tak kasihan padaku? Kemarin aku baru saja kehilangan orang yang aku cintai. Lalu, apa yang kau lakukan padaku? Kau-" aku tak sanggup melanjutkan kata-kataku. Aku terlalu bingung dan juga takut kalau fantasiku itu menjadi kenyataan.
"…" lihatlah, dia diam, berarti apa yang aku fikirkan itu benar. Kami-sama, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku bisa menjalani kehidupanku?
"Hahaha…." Dia tertawa. Apa yang lucu? Aku sedang tidak melucu. Bisa-bisanya dia tertawa setelah melakukan hal itu padaku.
"Kau salah paham nona," pria aneh ini masih tertawa seenak jidatnya. Apa katanya tadi? Aku salah paham? Salah paham dari mana? Semua itu sudah jelas bukan?
"Apa maksudmu dengan salah paham? Semuanya sudah jelas. Kau sudah-"
"Apa kau tak ingat kemarin?" potongnya.
Kemarin?
Memangnya ada apa dengan kemarin?
Seingatku aku menangis di depan makam Ulquiorra dan pulang
"Aku tidak pernah mengingat pernah bertemu denganmu." Dia tertawa kecil.
"Baiklah, akan aku jelaskan. Kemarin di jalan kau menabrakku nona, setelah menabrakku kau malah jatuh pingsan." Aku baru saja tersadar, sepertinya aku memang melupakan sesuatu dan.
"Kau sudah ingat?" aku mengangguk malu. Tapi, bagaimana aku bisa berganti baju? Mana mungkin ada orang pingsan yang bisa mengganti pakaiannya sendiri.
"Soal pakaianmu, aku menuruh tetanggaku mengganti pakaianmu." Jelasnya. Sepertinya dia mempunyai kemampuan membaca pikiran orang lainm, buktinya ia langsung bisa menjawab pertanyaan yang ada dalam pikiranku tanpa bertanya dulu padaku. Apa dia dukun?
End Of Rukia's POV
###
"Senna," panggil Yourichi pada anak satu-satunya itu.
"Ya,"
"Itu makanan untuk siapa bu?" tanya Senna penasaran. Apa itu untuk dia?
"Antar ini untuk Ichigo,"
"Ichigo?" tanya Senna. Memastikan kalau pendengarannya itu masih baik-baik saja.
"Hei, Ichigo itukan calon suamimu. Kau harus belajar melayani suamimu. Mengerti?" Senna sebenarnya sangat enggan mengantar makanan ini untuk Ichigo. Nanti kalau Ichigo salah paham bagaimana? Kalau Ichigo mengira Senna berubah pikiran dan mau menikah dengannya bagaimana?
'Senna, jangan melamun. Cepat antar."
"Iya," jawab Senna kesal.
Dan disinilah dia, di depan pintu apartemen Ichigo. Dia sedang kebingungan, haruskah dia memberikan makanan ini pada Ichigo? Atau ia langsung saja pergi ke kantor? Pilihan yang sulit. Tapi, jika ia tak memberikan makanan ini pada Ichigo, ia harus menanggung omelan dari ibunya. "Pencet bel atau tidak ya?" batin Senna.
Tiba-tiba, pintu apartemen Ichigo terbuka. Senna berjalan ke belakang agar bisa langsung bertatap muka dengan si pemilik apartemen itu. Namun, yang pertama kali yang ia jumpai bukanlah sesosok laki-laki berambut orange, melainkan sesosok gadis pendek dan mempunyai rambut pendek sebahu. Mereka berdua saling bertatap muka. Senna memperhatikan baik-baik gadis yang ada di hadapannya, begitu juga Rukia.
"Senna," sebuah suara yang berhasil membuat ke dua gadis cantik itu tersadar dari dunianya sendiri.
"Ichigo?"
"Apa yang sedang kau lakukan disini? Dan apa itu?" Ichigo menunjuk barang apa yang sedang di bawa Senna.
"Ini, makanan untukmu." Senna menyerahkan makanan yang ia bawa kepada Ichigo. "Siapa dia?" tanya Senna.
Ichigo terlihat kebingungan untuk menjawab pertanyaan dari Senna. Ia menggaruk lehernya yang sama sekali tak gatal itu.
"Aku teman Ichigo." jawab Rukia
"Iya, dia temanku Senna. Rukia, perkenalkan dia Senna, calon istriku.' Jawab Ichigo kikuk. Senna dan Rukia nampak shock mendengar penuturan Ichigo. Senna tak menyangka kalau Ichigo akan mengatakan hal yang sebenarnya pada gadis yang ada di hadapannya ini. Sedangkan Rukia shock karena tak menyangka kalau Ichigo telah mempunyai calon istri. "Pasti akan ada perang dunia ke 3," batin Rukia.
"Aku permisi dulu," Rukia bergegas pergi dari apartemen Ichigo. Ia tak mau mendengarkan pertengkaran antara Ichigo dan Senna. Senna dan Ichigo hanya bisa memandangi punggung Rukia yang semakin lama semakin tak kelihatan.
"Kau mau masuk?" tanya Ichigo membuyarkan lamunan Senna, entah apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu.
Senna tersentak dari lamunannya. "Tidak, aku mau langsung ke kantor saja. Aku permisi." Senna melemparkan senyum sebelum melangkah pergi dari apartemen calon suaminya itu.
"Baiklah. Hati-hati di jalan." Senna mengangguk dan langsung pergi dari apartemen Ichigo. Setelah memastikan kepergian Senna, Ichigo langsung menutup pintunya.
###
Rukia menyandarkan tubuhnya dibelakang pintu apartemennya. Apa yang baru saja ia alami bukanlah hal yang menyenangkan. Kalau sampai terjadi apa-apa terhadap hubungan mereka—Ichigo dan Senna, Rukia pasti akan menyalahkan dirinya. Karena tak sepentasnya ia berada disana, dengan kondisi seperti itu. Lihatlah, pakaiannya milik Ichigo dan pagi-pagi ia sudah berada disana, semua orang pasti akan berfikir macam-macam bukan? Arrgghhh, Rukia menjambak Rambutnya sendiri.
Gadis mungil itu melirik ke arah jam yang bertengger manis di atas meja kamarnya. Sudah pukul 07.00 pagi. Ia hanya punya sisa waktu 15 menit untuk berdandan dan 15 menit untuk perjalanan ke kantornya. Ia ragu, apakah ia harus berangkat kerja atau tidak? Ia begitu lelah, apa ia sanggup mengejakan tugasnya dengan baik di kantor nanti, jika kondisinya seperti sekarang? Aku rasa tidak.
Rukia merogoh kantung celananya, tapi ponselnya tidak ada. Ah iya, ia baru sadar kalau ia tak memakai pakaiannya sendiri. Pakaiannya pasti tertinggal di apartemen Ichigo. "Rukia bodoh! Bisa-bisanya kua meninggalkan ponselmu!" rutuk Rukia dalam hati. Lalu, bagaimana ini? Apa ia harus membolos kerja? Atau ia keluar sebentar untuk mencari telepon umun untuk menelpon pihak kantor kalau ia tak masuk kerja karena kurang enak badan? Tapi, kakinya terasa sangat lemas. Ia tak sanggup intuk berjalan lagi. Kalau ia sampai pingsan di jalan seperti kemarin bagaimana?
Oke, setelah beradu argument dalam pikirannya sendiri. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak berangkat ke kantor. Ia mau istirahat dulu. Bolos satu hari tak apakan? Akhirnya ia benar-benar telelap di atas kasur empuk miliknya.
###
"Kenapa tidak diangkat sih?" omel Rangiku.
"Kau sedang apa Rangiku?" tanya Momo, teman satu kantor Rukia dan juga Rangiku.
"Menelpon Rukia. Dari tadi ia tak mengangkat telepon dariku. Kau tahukan apa yang baru saja rejadi kemarin?" Momo mengangguk mengerti. Ia sudah mendengar kalau Ulquiorra meninggal kemarin. "Rukia pasti sangat sedih." Batin Momo.
"Bagaiman kalau sepulang dari kantor kita pergi ke tempat Rukia?" usul Momo.
"Ah, kau benar Momo."
###
Ichigo menatap layer ponsel Rukia yang dari tadi tak mau berhenti bergetar.
Rangiku
Itu nama si penelpon yang dari tadi menelpon Rukia. Sebenarnya Ichigo ingin mengangkat panggilan itu. Namun, terhalang oleh sesuatu. Ponsel itu bukan miliknnya, ia akan dianggap lancang karena mengangkat telepon yang bukan untuknya. Jadi, ia hanya bisa menatap layar ponsel Rukia. Ichigo bisa bernafas lega, pemuda berambut nyentrik itu tersnyum setelah ponsel Rukia sudah berhenti bergetar.
Ichigo menatap layar ponsel Rukia, hatinya sakit dan juga kecewa mendapati Rukia sudah punya kekasih. Apa ia sudah terlambat? Mengapa takdir mempertemukannya dengan Rukia, jika gadis itu tak mungkin menjadi miliknya? Ichigo hanya bisa tersenyum getir meratapi nasib percintaannya yang sangat tragis.
###
Janganlah percaya pada cinta jika kau ragu
Yakinlah pada cinta jika kau percaya
Buanglah cinta jika itu menyakitimu
Tapi, jangan pernah menyerah karena cinta
###
"Kau sering ke apartemen Rukia, Rangiku?"
"Yup!" jawab Rangiku ala kadarnya. Memang itukan kenyataanya?
"Rangiku, apa tidak apa-apa kita masuk tanpa memencet bel?" Tanya Momo. Ia merasa sangat tak sopan bertamu dengan cara seperti ini.
"Tak apa. Aku sudah biasa, lagi pula Rukia tidak menguncinyakan? Jadi aman-aman saja." Dengan berat hati, Momo mengikuti Rangiku dari belakang. Ia mengamati baik-baik apartemen Rukia. Tidak terlalu berantakan, meskipun penghuninya kini dilanda stress berat.
"Momo, Rukia pergi kemana ya? Ia tak ada di kamarnya. Apa dia pergi?"
"Aku tidak tahu. Aku kan datang bersamamu tadi, mana mengkin aku tahu kemana perginya Rukia."
"Kau haus? Aku akan mengambilkan minuman unukmu. Tunggu sebentar!" Rangiku lalu berjalan menuju dapur.
"RUKIA!" teiak Rangiku
.
.
.
+TBC+
.
.
.
Maaf, Ota belum bisa bikin crrita yang sedih. Rukia kurang sedih ya minna?
*mewek di pojokan*
Review Please!
