Naruto belong to Masashi Kishimoto
.
Teratai putih
.
Mempersembahkan
.
Giniro Tsuki
.
Pair: Hyuuga Hiashi X Haruno Sakura
Genre: Family, hurt/comfort
Rate: M
WARNING : tidak menjanjikan EYD, crackpair, typo(s)
Summary: Pernikahan ini memang karena kesalahan. Tapi kesalahan itulah yang membuatku menemukan kebahagiaan.
.
Chapter 9
Egoisme
.
Terbangun oleh kehangatan sinar matahari adalah salah satu kesukaannya. Meskipun masih dalam keadaan bingung, Sakura tetap mencoba untuk sadar dan berusaha mengumpulkan serpihan ingatan yang berceceran.
Perlahan tapi pasti, memori semalam berputar seperti kaset film yang dipercepat. Seketika dadanya terasa sesak. Dia beruntung dan rasa syukur langsung meliputi hatinya.
Sasuke ...
Pemuda yang pernah dicintainya itu mulai menggila. Sakura sungguh sulit untuk percaya, Sasuke hampir memperkosanya.
Sakura menghela napas pelan dan mulai memindai sekitarnya. Dia menyadari ada dimana sekarang. Ini kamarnya dan sang suami. Rumah kediaman Hyuuga. Sang Sensei telah membawanya pulang.
"Kau sudah bangun?"
Sakura mengenal baik suara ini. Dan benar saja, Hiashi telah berdiri di pintu sambil menatapnya. Di belakangnya, telah berdiri seorang pelayan yang membawa nampan. Sakura merasa, pelayan itu tengah membawa obat untuknya.
Hiashi memberi isyarat pada pelayan di belakangnya agar menaruh obat di samping Sakura. Baru setelahnya, pelayan itu pergi meninggalkan mereka berdua. Hiashi menuju nakas di sudut kamar, entah sedang mencari apa, namun setelahnya, pria itu duduk di samping Sakura. Memandangnya dengan tatapan yang tak Sakura pahami.
"Apa yang sebenarnya kau pikirkan?" Meskipun Hiashi bertanya dengan nada monoton yang menusuk, Sakura merasa ada perbedaan dari emosi Hiashi yang dikenalnya. "Mengapa kau membiarkan bocah Uchiha itu mendekatimu? Akan banyak orang berpikir kau berselingkuh dengannya. Apa yang akan mereka katakan nantinya? Istri pemimpin klan Hyuuga menjalin hubungan gelap dengan pemimpin klan Uchiha? Kau seharusnya tahu, hal itu akan mencemari keluarga Hyuuga, bahkan mencemari namamu sendiri." Sakura menahan tangisannya. Kata-kata Hiashi menghantamnya dengan keras. "Jangan membuat dirimu buruk di mata masyarakat, karena jika kau tampak buruk, keluarga Hyuuga akan menerima dampaknya."
Sakura tertunduk lesu. Air mata telah mengalir dari kedua bola matanya.
"Maafkan... a-aku, Hiashi-san." Sakura berujar dengan bersusah payah.
Pria itu tidak menjawabnya. Dia diam seraya memandang Sakura yang masih menangis.
"T-tousan, N-Neji-nii mencarimu." Suara Hinata menyela di antara mereka berdua.
Hiashi berdiri dan melenggang pergi meninggalkan Sakura dan Hinata. Putri sulungnya itu segera duduk di tempat duduk Ayahnya tadi. Mata pucat meneduhkan milik Hinata tak mampu memberikan efek pada Sakura yang masih menunduk.
"Jangan dipikirkan, Sakura-san. Tousan memang selalu seperti itu. Meskipun begitu, semalaman penuh Tousan tidak tidur untuk menjagamu." Sakura mendongak, menatap Hinata dengan pandangan tak percaya. "Percayalah." Hinata memberikan senyum menyejukkan itu lagi.
"Terima kasih, Hinata."
"Karena kau sudah tersenyum, bisakah kau meminum obatnya?" Hinata menyodorkan mangkuk obat itu pada Sakura.
.o.
.o.
Chapter 9 : Egoisme
.o.
.o.
Dapur telah menjadi keseharian Sakura di rumah Hyuuga. Namun, tidak dengan malam hari. Sakura tidak pernah memasuki dapur lewat jam 10 malam untuk memasak miso nikomi udon.
Hanabi -yang entah sejak kapan menjadi begitu manja padanya- mendadak merasa lapar. Gadis itu memasuki kamarnya dengan terburu-buru setelah memastikan sang ayah tidak ada di tempat. Sakura telah berusaha menolaknya, namun apa daya, Hanabi memberikan tatapan maut pada sang Ibu tiri.
Sakura telah memasukkan ayam, udon, shitake dan daun bawang. Namun, dia kesulitan menjangkau letak garam. Tampaknya pelayan memindahkannya tadi, garam biasa ia taruh di konter bawah, bukan di dalam rak yang sulit dijangkaunya karena terlalu tinggi. Tinggi tubuhnya tidak sampai bahkan hanya untuk meraih ujung rak.
Perempuan itu memandang benci pada garam di atas sana. Dia berniat mengambil kursi sebelum sebuah tangan terulur untuk meraih garam di atas rak itu. Sakura tahu tangan siapa ini. Meskipun tanpa melihat pemiliknya, Sakura tahu, Hiashi tengah berdiri tepat di belakangnya. Perempuan itu membeku seketika.
Baru setelah dirasa Hiashi melangkah menjauh darinya, Sakura memutar tubuhnya dan menemukan sosok Hyuuga Hiashi tengah duduk di kursi dekat meja. Botol garam tadi telah berdiri tegak di atas meja yang sama.
"Terima kasih, Hiashi-san." Sakura berucap pelan sembari mengambil botol garam. Sang istri kepala klan itu segera menambahkannya ke dalam masakan.
Hiashi tetap duduk di kursi yang sama dan tampak sedang memandang taman di depan dapur. Namun Sakura tahu, Hiashi memperhatikannya sesekali. Dia dapat merasakannya. Ada rasa nyaman ketika Sakura menyadari hal itu.
.o.
.o.
Chapter 9 : Egoisme
.o.
.o.
Cuaca begitu dingin, namun tak mematahkan semangat untuk menyambut tahun baru. Tak terkecuali untuk keluarga Hyuuga yang kediaman menjadi begitu ramai dibandingkan hari biasa. Rumah utama keluarga Hyuuga akan menjadi tuan rumah pesta tahun baru, dimana setiap orang akan merayakannya.
Maka disinilah Sakura. Berdiri disamping Hiashi yang tengah berbincang dengan seorang petinggi Negara Api. Balutan kimono putih beraksen bunga matahari dengan sulur tanaman berwarna ungu tampak menambah kecantikan yang dimilikinya. Hinata jelas memiliki selera tinggi untuk urusan busana.
"Tunggulah disini." Hiashi berucap singkat sebelum pergi bersama petinggi Negara Api tadi.
Jelas Sakura akan patuh, sebelum dia merasakan lengannya ditarik dengan paksa oleh pemuda Uchiha di depannya. Sasuke membawanya melalui tempat yang jauh dari keramaian dan langsung membenturkan punggung Sakura dengan pohon ketika mereka sampai di taman yang sangat sepi.
Mata sang Uchiha berkilat marah. Sakura memindai sekitarnya. Benar-benar sepi dan berbahaya untuk dirinya.
"Kenapa?" Sakura memandang ragu sosok di depannya. Sasuke melanjutkan kalimatnya. "Apa yang kurang dariku sampai kau memilih pria tua bangka macam Hiashi?"
Sakura tak menjawab, dia hanya menunduk. menghindari tatapan benci yang diarahkan Sasuke padanya. Merasa Sakura tak mempedulikannya, Sasuke mencengkram dagunya perempuan itu hingga pandangannya dipaksa menatap mata onix itu.
"Apa kau menjadi bisu sekarang?!" Cengkraman itu menjadi semakin kuat. Reflek, Sakura mencoba melepaskan diri.
"Le...lepas...kan!"
"Untuk apa? Agar kau bisa berduaan dengan tua bangka itu? Jangan harap!" Sasuke beralih mencengkram leher Sakura. "Kenapa kau tak bisa bersabar? Apa kau begitu putus asa sampai beralih ke pria tua bangka sepertinya?!"
Sakura telah kesulitan bernapas sekarang.
"Baiklah, aku memiliki pertanyaan untukmu," Sakura mulai meraih lengan Sasuke, berusaha untuk melepaskan diri meskipun sia-sia. "Jika kau mati di tanganku, apa yang akan suami tercintamu lakukan?"
Jantungnya serasa berhenti. Membunuhnya? Sasuke berniat membunuhnya? Lagi? Cengkraman itu semakin kencang, dia mulai kehabisan napas.
Sasuke telah kehilangan akalnya. Wajah Sakura hampir membiru. Dia butuh bernapas untuk anaknya. Anaknya harus selamat. Sakura mengumpulkan segenap kekuatannya untuk mendorong Sasuke, tanpa menggunakan cakra sedikitpun. Dia tak ingin anaknya terluka karena cakra miliknya ataupun karena Sasuke.
Sakura merosot bersandar pada pohon di belakangnya dengan napas terengah-engah. Tubuhnya lemas seketika. Kekurangan oksigen bukan hal yang baik untuk perempuan hamil sepertinya. Karenanya, Sakura langsung mengarahkan tangannya ke perutnya. Memberikan cakra medis meskipun tubuhnya sangat lemah.
Sasuke yang tak memiliki rasa iba melemparkan kunai ke arah Sakura. Tepat mengenai bahu dan tangannya. Istri Hyuuga Hiashi itu memandang Sasuke yang berjalan ke arahnya dengan pandangan nanar.
"Jika tak bisa menjadi milikku," Sasuke mengeluarkan Chidori dari tangannya. "Lebih baik kau mati, Sakura."
Sakura menahan napasnya. Menutup matanya pasrah, ketika Sasuke mengayunkan chidori padanya.
to be continued
.o.
.o.
see you next chapter
.o.
.o.
a/n:
hay hay, ada yang kangen gak, ya? hahaha #kepedean
baiklah, tampaknya udah keseringan minta maaf, tapi aku akan tetap minta maaf karena gak apdet ini cerita sampai berbulan-bulan. Alasannya, karena kemarin semester 6, banyak banget tugasnya, apalagi udah gk kos, harus PP 2 jam sehari, jadi kecapekan duluan. Dan gak ada liburan semester karena dipake magang sampai tanggal 31 Agustus 2018. yaps, baru selesai hari hahahaaa
sudahlah, pokoknya aku minta maaf ya... please maafin aku ya ...
yaudah, balas review yukk...
hikanee, anggap aja kebatuan Hiashi udah mulai ancur hahahhaa, dia emang ngidam koq, kamu gk salah. btw, gak bisa cepet nih, baru diupdet sekarang...
mawarputih, maaf ya lama...hehehe #peace
Arletta Lou, perkembangannya kecepetan gk ya hmmmmm #mikir
Guest, Nejisaku? Minasaku? bisa sih, tp gk janji hahahahaa kalo pun bisa mungkin habis skripsi #peace
Febri593, Hiashi mah malu-malu macan kali ya hahhaaa, sip dah... perjalanan menuju skripsi ini hehehe... maaf ya soal nama, aku udah punya ... betewe, anaknya HiashiSaku berawalan huruf S... hehehe
yuri rahma, kayaknya sekarang sama pendeknya deh hehehe cubit aja gak pa2 kok #dijyuukenHiashi
alluka-chan, aye udah apdet nih...
Andromeda no Rei, tsunderenya Hiashi mah gemesin hehehe betewe, pujianmu tinggi sekali, aku melambung ke angkasa lo nanti... Sasuke disini malah semakin gila soalnya udah nyiksa Sakura, sampek bingung gimana ya cara membuat Sasuke kembali ke jalan yang benar hehhehee And i think, Neji will be a good person after this. kemarin kemanisan gak sih???
Koalasabo, kurasa Sasuhina akan ada dific lain, masak iya Hiashi mau ngijinin anak gadisnya nikah ama orang yang mau ngebunuh istrinya #peace... kalo soal Kakashi, coba deh scrol kebawah, ntar juga nemu omake kok hahhaa, untuk kanzashi ???? nanti ya kapan2 ... selalu nyampe koq, apalagi kalo reviewnya sepanjang ini hehehehe #ciumjauh
MinzakyaRsl, sama2 hehehe makasih ya semangatnya... #ciumjauh
night, sama2 :)
kuririn, manis? la chapter ini masih manis toh??? aminnnnn aku juga suka perkembangan mereka berdua koq, selalu menikmati menulis scene mereka berdua deh...
makiko, perhatiannya mah gak kelihatan...
Riskaaa, kapan dilanjut? sekarang hahahhaa
yue, sekarang niiihhhh hehheh
Pindud, jangan donk, pengennya sih pas udah lahir udah bahagia tuh pasangan berdua...
reghideichan423, nih udah dilanjut... hehehe
guest, next nih...
valenwijaya, hallooo salam kenal, betewe bedanya dimana? beneran nanya nih, soalnya aku rasa ini fic koq pasaran ya...
Silverfield100, jangan kenak diabetes, obatnya mahal... T.T
Emillea, makasih udah bilang cakep, tapi aku gak rajin menabung sih... bukannya gak kasihan, tapi gak ada waktu ... maaf yaa...
Banyak yang suka keTsunderean Hiashi ya heheheee, makasih ya semuanya...
Untuk semua, terima kasih sudah membaca ficku ini. Masih banyak yang kurang, jadi aku menerima koreksi, kritik dan saran dari para pembaca lewat kotak review…
Review yang masuk adalah penyemangat buat author pemula ini…
Arigatou minna-san…
Sign,
Teratai Putih
.o.
Omake
.o.
Uchiha Sasuke...
Bocah tengik membuatnya sangat marah. Istrinya terbaring lemah di depannya sekarang. Jika bukan karena penguasaan dirinya, Hiashi sudah menghabisi anak tengik itu.
Hiashi memandang Sakura yang tengah tertidur, tampak jelas Istrinya tidak tidur dengan lelap. Dari tadi, Sakura terus bergerak gelisah. Tapi apa yang dapat dilakukannya?
Pria itu ingin menggunakan cara mendiang ibunya ketika menghadapi masalah yang sama dengannya. Yaitu pada saat ia dan Hizashi bermimpi buruk. Namun dia tak mungkin memeluk Sakura sekarang.
Hiashi menghela napasnya. Pemimpin klan Hyuuga itu meraih telapak tangan mungil sang Istri, menggenggamnya dengan lembut. Tindakan itu cukup berefek, napas Sakura menjadi teratur dan sudah lebih tenang dibandingkan yang tadi.
.o.
End of Omake
.o.
