.

By snowhitexo

.

"Bukankah ini terlalu malam untuk bayi seumuran Ziyu tetap terjaga?", ujar Sehun sambil memandang jam bulat yang menempel di dinding ruang tengah, di sana menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh menit. Karena melihat betapa aktif bayi mungil itu bermain dengan mainannya Sehun yakin keponakannya itu tidak ada niatan untuk tidur dalam waktu dekat.

"Kau benar, biasanya dia jam tujuh sudah tidur tapi malam ini dia terlihat sangat bersemangat, mungkin karena kau datang. Maklum di apartemen ini jarang ada tamu selain keluarga atau sahabat dekat..", Luhan memandangi putranya yang sedang asyik memukul mukul piano mainan tapi tak lama si kecil bosan dan beralih merangkak menuju boneka panda besar di sisi karpet yang lain. Tiba-tiba terbersit perasaan bersalah dalam hati Luhan melihat Ziyu hanya bermain seorang diri, dia benar-benar tidak punya teman selain boneka mainannya.

Tinggal di gedung tinggi di pusat kota Seoul memang ide yang buruk untuk membesarkan seorang anak. Setiap hari Ziyu menghabiskan waktunya di dalam rumah, jikapun mereka mengajaknya jalan-jalan itu tidak akan jauh dari sekitar apartemen. Mereka bahkan belum pernah berlibur bersama sebagai keluarga, selain jadwal Luhan yang padat Ziyu juga baru sembuh dari sakit pneumonianya. Ziyu adalah bayi yang ramah, selalu gembira ketika bertemu dengan orang baru tapi mereka sebagai orang tua justru lebih sering mengurungnya di dalam rumah apalagi apartemen yang dia huni merupakan kawasan mewah dengan tingkat kesibukan penghuninya yang tinggi. Tidak ada tetangga yang akan berbasa-basi menyapa apalagi datang berkunjung untuk sekedar mengobrol. Bahkan sepertinya hanya Luhan di apartemen itu yang memiliki bayi, penghuni lain kebanyakan adalah bisnisman yang tinggal sementara atau keluarga namun dengan anak-anak mereka yang sudah dewasa atau sedang kuliah di luar negeri. Mungkin juga Luhan harusnya seperti mereka jika saja saat itu Minseok tidak hamil. Tinggal di apartemen seorang diri untuk waktu yang lama,

Sebenarnya dua tahun yang lalu Luhan berniat mengijinkan Minseok mengambil S2nya di jepang. Dia sadar Minseok belum sepenuhnya menerimanya sebagai suami, memberikannya sedikit waktu mungkin hal terbaik yang bisa dia berikan untuk membuat Minseok perlahan mencintainya. Tapi siapa sangka sebelum Luhan mengatakannya, kejutan lain datang saat mereka datang ke rumah sakit untuk menunda kehamilan. Dokter justru mengatakan bahwa Minseok positif hamil, kabar yang membuatnya sangat bahagia tapi membuat istrinya kecewa meskipun bisa menerima pada akhirnya. Karena beberapa hari setelahnya Luhan mengetahui jika Minseok diam-diam masih sering menangis saat mereka tidur, sebegitu sulitkah membuka hati untuknya atau bahkan mungkin sebelumnya Minseok tidak pernah terpikir untuk memiliki sebuah keluarga dengannya.

Luhan ingin membuat Minseok bahagia tapi Luhan sendiri tidak tahu bagaimana caranya, setelah menjadi ibu dan berhenti bekerja dia malah mengurus rumah sendirian. Benar-benar menjadi ibu rumah tangga yang akan mencuci dan menyetrika baju, bersusah payah bangun tengah malam untuk menidurkan kembali bayi mereka yang menangis dan memasakkan makanan kesukaannya. Apa itu bentuk cinta Minseok pada keluarga ini? atau wujud tanggung jawabnya sebagai seorang istri dan ibu?

Luhan tahu Minseok bertahan dengan pernikahan karena Ziyu, dan Luhan berharap di usia pernikahan mereka yang berjalan dua tahun Minseok sudah bisa mencintainya layaknya seorang wanita yang mencintai seorang pria, bukan hanya sebagai orang yang terikat karena sebuah janji suci dan status formal di hadapan hukum.

.

Ziyu mulai merengek dengan mengusak wajahnya dengan kedua tangan, tak ada lagi mainan yang menarik perhatiannya. Sehun yang ada di dekatnya mengusap-ngusap rambutnya pelan, membuat si kecil menoleh dan mengulurkan tangan padanya. Tanpa ragu Sehun langsung menggangkat dan menggendongnya. Awalnya Luhan ingin mengambil Ziyu dari tangan Sehun tapi si kecil justru memalingkan wajahnya dan menyandarkan kepalanya di bahu Sehun. Ziyu memang sudah cukup familiar dengan Sehun karena sering melihatnya, di beberapa moment Ziyu bisa menjadi manja jika di dekatnya, yang entah bagaimana mereka bisa menjadi akrab.

"Tidak apa-apa biar aku saja..", Sehun membenarkan cara menggendongnya menjadi lebih nyaman. "Sepertinya dia mengantuk..", ucapnya sambil mengusap-usap punggung si kecil.

"Baiklah, tunggu sebentar biar kupanggilkan Minseok..", Luhan kemudian pergi untuk mencari istrinya yang ternyata ada di dapur. Luhan berjalan mendekatinya dan langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggul ramping Minseok yang sedang berdiri membelakanginya, menurunkan kepala untuk membenamkan wajahnya di leher jenjang Minseok yang putih. Dari balik punggung sempit itu Luhan bisa melihat bahwa Minseok sedang membuat susu formula untuk Ziyu.

"Ada apa, hmm?", tanya Minseok tanpa kehilangan fokus ketika menuang air hangat ke dalam botol. Tanpa bersuara Luhan menggeleng pelan. Minseok yang merasa aneh dengan sikap suaminya menoleh ke samping dan membuat jarak pandang diantara mereka begitu dekat, cukup dekat untuk menyatukan kedua bibir mereka dalam sekali gerakan. Minseok memberinya pandangan bertanya saat merasakan pelukan Luhan pada tubuhnya mengendur dan lepas sama sekali. "ada apa, Lu?", tanyanya lagi.

"Bisakah kita sewa pembantu atau baby sitter saja? aku cemburu karena kau memprioritaskan semua hal kecuali aku?",

Minseok menggelengkan kepalanya sambil tertawa kecil, "Memangnya kapan aku tidak memperhatikanmu?", berbalik kembali meneruskan kegiatannya, kalimat Minseok barusan benar dan Luhan tidak bisa membantah. Setelah mengocok pelan botolnya Minseok menuangkan beberapa tetes ke lengan bagian dalam untuk mengukur suhunya. "Sebentar, kuberikan susu ini terlebih dahulu pada Ziyu sebelum dia benar-benar tidur. Aku tidak mau tengah malam nanti dia rewel karena perutnya lapar...", Minseok bergegas keluar dari dapur untuk menemui bayinya.

.

.

Sehun ada di dekat balkon memperlihatkan suasana malam kota Seoul pada Ziyu yang kelopak matanya mulai memberat. Bayi mungil itu terlihat nyaman berada dalam pelukan pamannya yang hangat. Tak ingin membuat bayinya kembali merengek karena melihat ibunya datang, Minseok menepuk pelan pundak Sehun dan memberikan botol susu itu padanya. Sehun yang mengerti langsung mengangguk dan menerimanya.

Duduk tak jauh dari mereka, Minseok mengawasi bagaimana Sehun dengan penuh perhatian memegangi botol susu itu selama Ziyu meminumnya. Masih sedikit merasa aneh melihat sahabatnya itu kini menjadi saudara iparnya. Dia tahu betul Sehun paling tidak bisa bersabar menghadapi anak kecil tapi sekarang dengan mudahnya bisa menidurkan Ziyu. Hampir sepuluh menit berlalu sampai gerakan di mulut Ziyu berhenti dan kedua kelopak itu telah menutup rapat. Sehun tidak bisa tidak mengagumi wajah angelic yang Ziyu miliki, dengan jari telunjuknya dia mengusap-usap pipinya yang chubby.

"Dia tertidur?", ucap Minseok setengah berbisik, takut kalau bayinya mengenali suaranya dan terbangun.

"Kurasa dia baru saja tidur, tapi dia tidak menghabiskan susunya..", Sehun mengangkat botol susu yang masih menyisakan seperempat cairan putih.

"Tidak apa-apa.. Oh iya apa kau jadi menginap di sini?",

"Jika tidak merepotkan, aku harus melihat tempat kerjaku yang baru dan mengurus beberapa hal jadi harus datang kesana besok pagi,

"Tentu saja, menginap saja di sini selama kau belum menemukan tempat tinggal di Seoul. Kami masih memiliki satu kamar kosong. Aku senang akhirnya kau kembali ke Seoul dan bekerja di sini. Sebelumnya apa Paris begitu menyenangkan sampai kau lupa jalan pulang ke Korea?", canda Minseok.

Sehun tertawa, "Tentu saja tidak, aku pernah pulang ke Gyeonggi-do sebelumnya untuk mengajak Eomma tinggal bersamaku di Paris, aku juga ingin menemuimu tapi ternyata kau sudah kembali ke Seoul".

"Iya, aku pindah setelah kakek meninggal, sebenarnya aku bersekolah di sana pun karena ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengannya. Bagaimana Gyeonggi-do sekarang? sudah lama aku tidak ke sana. Apa kau tetap berkomunikasi dengan teman-teman kita yang lain".

"Hanya beberapa saja, Gyeonggi-do masih tetap indah",

"Ah kau ingat dulu aku pernah berkata ingin membangun sebuah rumah di sana, pasti menyenangkan ya punya halaman luas dengan banyak tanaman dan udara pegunungan. Coba bandingkan dengan di sini, lihat apa yang aku tanam..", Minseok menunjukkan pot-pot kecil berisi kaktus yang tersusun rapi di dekat jendela.

"Oh itu benar-benar kaktus hidup? ku pikir mainan plastik..", Sehun hampir saja tertawa keras jika tak ingat ada Ziyu sedang tertidur di pangkuannya. Kaktus peliharaan Minseok memang memiliki bentuk yang unik dengan ujungnya yang memiliki warna berbeda, sekilas memang terlihat seperti hiasan. Ziyu menggerakkan kepalanya saat tertidur.

"Oh sepertinya aku harus memindahkan Ziyu ke tempat tidurnya..".

"Baiklah..", Sehun memberikan Ziyu pada Minseok dengan hati-hati.

"Kalau kau lelah dan ingin istirahat masuk saja ke kamar di dekat ruang tamu. Atau jika butuh sesuatu bisa tanyakan pada Luhan. Aku masuk ke kamar dulu ya. Selamat malam, besok kita lanjutkan lagi..".

"Malam..", balas Sehun masih tetap di tempatnya berdiri. Hanya seperti ini saja sudah cukup membuat Sehun merasa senang. Dalam hati dia mengkasihani dirinya sendiri yang bahkan tak berani bermimpi untuk dicintai oleh wanita seperti Minseok, dia bukan Luhan yang memiliki segalanya. Dia hanyalah anak pinggiran kota yang bahkan tidak memiliki marga ayah dalam namanya, seorang anak yang terpaksa harus pergi jauh dari tanah kelahirannya untuk mengejar mimpi menjadi fotografer dengan beasiswa yang dia dapatkan dengan susah payah. Mimpi yang telah dia bayar mahal dengan kehilangan impiannya yang lain.

.

.

.

Luhan sedang mengganti bajunya dengan piyama saat Minseok membawa masuk Ziyu.

"Oh dia sudah tidur, tunggu biar aku berikan ciuman selamat malam dulu..", Luhan mengikuti Minseok yang sedang berjalan ke arah tempat tidur bayi yang ada di sudut ruangan. Sebenarnya Ziyu memiliki kamarnya sendiri tapi Minseok belum tega meninggalkan bayi kecilnya tidur malam di sana sendirian, jadi sementara kamar itu hanya digunakan untuk tidur siang atau bermain saja. "Selamat tidur jagoan Appa, mimpi indah..", Luhan mencium kening Ziyu lembut.

"Kau sudah mau tidur? tumben sekali?", ujar Minseok setelah menyelimuti Ziyu dan beralih pada Luhan yang masih berdiri di sampingnya.

"Berganti pakaian bukan berarti aku mau tidur, Sayang.., atau kau mau aku temani tidur hmm.", meraih bahu Minseok dan merangkulnya erat. Minseok berdecak dan dengan sengaja mencubit perut suaminya itu. "Aww.. Sakit tahu..!", Luhan mempoutkan bibirnya berpura-pura kesakitan dengan menggosok perutnya.

"Rasakan..!".

"Galak sekali, sedang pms ya? aku kan mencoba bersikap romantis. Ya sudah aku keluar saja, siapa tahu ada tontonan bagus di televisi".

"Jangan lebih dari jam sepuluh, besok kau masuk kerja, kau kan paling susah dibangunkan kalau pagi…", Luhan melongo dengan aturan baru yang Minseok terapkan per hari ini.

"Aku berangkat kerja Sayang bukan anak sekolah yang harus upacara bendera, lagipula tidak ada yang akan memarahiku kok kalau aku datang terlambat. .".

"Siapa bilang tidak ada?", Minseok melipat kedua tangan di depan dadanya dengan pandangan menantang.

"Oh iya ada.. Ada.. Baiklah, aku akan keluar sebentar mengecek apa Sehun butuh sesuatu atau tidak, setelah itu akan segera tidur..", Luhan menggelengkan kepalanya sambil berjalan keluar kamar. Reputasinya di kantor sebagai CEO kharismatik bisa hancur jika mereka tahu atasan mereka takut dimarahi istrinya, dalam hati Luhan meralat bukan takut istri tapi sayang istri.

Minseok menghela nafasnya begitu Luhan menutup kembali pintunya, dia tak bermaksud bersikap begitu pada Luhan. Tapi beberapa hari ini Luhan memang membuatnya jengkel dengan tingkahnya yang kadang tidak mencerminkan umur dan cenderung bersikap seenaknya. Atau mungkin dia yang terlalu stress dengan urusan rumah.

Minseok mendudukkan dirinya di depan meja rias, menatap pantulannya di dalam cermin. Begitu sederhana tanpa polesan make up sama sekali. Minseok bahkan lupa kapan terakhir kali menyapukan blush on dan eye shadow warna warni pada wajahnya, mungkin tiga bulan lalu saat menghadiri pesta pernikahan salah satu kerabat Luhan di Kanada. Bisa dibilang Minseok jarang menghadiri pesta, tidak semua undangan akan dia hadiri. Bukan dia pemilih, tapi beberapa bulan kemarin memang bayinya sakit, jadi dia tidak bisa meninggalkannya dengan orang lain. Syukurlah Luhan cukup pengertian dengan tetap menghadirinya meski tanpa pendamping.

"Apa aku terlihat gemuk?", Minseok menangkup kedua pipinya,. "Apa aku masih secantik dulu..", gumamnya sambil menolehkan pipinya ke kanan dan ke kiri. "Hah, apa yang aku pikirkan..", Minseok bangkit dari duduknya dan beralih ke lemari pakaian, tak butuh waktu lama Minseok sudah menggantinya dengan baju tidur yang cukup menggoda. Dress terusan berwarna putih gading yang dengan sempurna mengekspos paha mulusnya hingga lima centi di atas lutut. Luhan hanya pria normal yang memiliki istri cantik, jadi jangan salahkah dia jika setiap malam selalu tergoda untuk menjamah tubuh itu di setiap incinya.

Minseok memegang kalender meja yang menunjukkan bulan maret, telunjuknya melingkari angka 26 yang berarti hari Senin, besok pagi dan itu adalah ulang tahunnya. Tapi sejauh yang dia lihat Luhan sama sekali tidak menunjukkan gelagat ingin memberinya kejutan atau hadiah, apa suaminya itu lupa atau pura-pura lupa. Sebenarnya dia juga tidak akan marah jika Luhan benar-benar lupa, tapi entahlah Minseok merasa kecewa Luhan mengabaikan hari penting itu. Minseok tidak menginginkan hadiah mahal dia hanya ingin perhatian.

.

"Sehun bilang dia ingin mengedit beberapa gambar hasil jepretannya di kamar, jadi sekarang aku mau tidur saja. Aku baru ingat ada pekerjaan yang harus aku selesaikan besok..". Luhan menarik selimut hingga sebatas perutnya dan mulai memejamkan mata. Minseok meletakkan kalender itu di meja dan menoleh pada Luhan, ikut membaringkan tubuh di sampingnya.

Minseok yang masih terjaga terlihat ingin mengatakan sesuatu pada suaminya, tapi dia benar-benar ragu. "Lu..?!", Minseok memiringkan tubuhnya menghadap Luhan.

"Hmm..", Luhan menjawab sambil memejamkan matanya.

"Sudahlah tidak apa-apa, lupakan", Minseok memutar tubuhnya dan membelakangi Luhan. Di sisi lain Luhan membuka matanya dan menoleh ke samping. Tanpa mereka tahu, mereka berdua tetap terjaga dengan pikiran masing-masing untuk beberapa saat sebelum akhirnya jatuh tertidur.

.

.

.

Pagi hari

Celotehan riang terdengar di ruang makan, terlihat si kecil Ziyu sedang asyik memakan bubur dengan sendok plastiknya, ya meskipun lebih banyak yang tersebar ke wajah daripada masuk ke mulutnya. Minseok sengaja memberinya sendok untuk melatih syaraf motoriknya, cara ini juga sangat efektif untuk menyuapinya, karena saat Ziyu membuka mulut untuk sendoknya maka Minseok akan menyuapkan bubur dari mangkuk yang dipegangnya.

"Ma..ma..ma..", celotehnya.

"Eom-Ma..", Minseok mengajarkan kata pertama untuk Ziyu dengan memanggilnya Eomma. Sejak umur Ziyu tujuh bulan, Luhan dan Minseok memang sudah mulai menstimulasinya untuk menirukan sebuah kata. Mereka sering mengajaknya bicara, membacakan buku cerita, bernyanyi hingga memainkan piano untuknya.

"Ma..",

"Eom-Ma..", ulang Minseok lagi,. "Ap-Pa..".

"Da..', lalu Ziyu tersenyum lebar

"Ap-Pa.."

"Aaa-Da".

"Oh anak pintar..", puji Minseok, "Ayo suapan terakhir dan sarapanmu selesai, syuuu-, lihat ada pesawat..", Minseok memainkan sendoknya di udara. "Aaa..", dan Ziyu secara refleks membuka mulutnya. "Wah habis.. Tepuk tangan..", Ziyu sepertinya mengerti arti kata tepuk tangan karena dia langsung menyatukan kedua telapak tangannya senang.

"Hey, anak Appa memulai sarapan tanpa menunggu ya..", Luhan muncul dengan dasi yang belum sepenuhnya tertarik ke atas, tangannya langsung mengusak kepala putranya gemas.

"Aaa..Daa..", Ziyu langsung mendongak dan mengulurkan kedua tangannya minta digendong.

"Apa dia baru saja memanggilku Appa? Woahh..!", Luhan memastikan pendengarannya tidak salah, terkejut mendengar pengucapan Ziyu yang lebih jelas dari biasanya. Minseok menganguk sambil tersenyum.

"Ah tidak, jangan gendong dia tangannya kotor biar aku bersihkan dulu..", Minseok menahan Ziyu yang akan diangkat dari kursi tingginya oleh Luhan, dengan cekatan dia mengambil tisu basah dan membersihkan sisa makanan yang menempel di wajah dan kedua tangannya. Untung tidak ada yang menempel di bajunya karena sudah dipakaikan celemek makan bayi.

"Kupikir aku berlebihan tapi aku sangat senang dia bisa memanggilku dengan sebutan Appa..", Luhan menghujani Ziyu dengan ciuman di wajahnya yang direspon dengan gelak tawa si kecil. "Kata apalagi yang bisa dia sebutkan? Eomma? Halmeoni? Samcheon? Imo? ".

"Dia baru memulai kata pertamanya, Lu.. Beri dia beberapa bulan lagi untuk menambah huruf konsonannya..", Minseok datang membawakan dua cangkir kopi ke meja makan. "Ziyu, ayo dengan Eomma, biarkan Appa sarapan..", dan tentu saja Ziyu dengan cepat berpindah tangan pada orang yang difavoritkannya.

"Selamat pagi..", sapa Sehun bergabung dengan keluarga kecil itu.

"Selamat pagi..", balas Minseok

"Wow, penampilanmu keren sekali, kau ke kantor dengan celana jeans dan jaket kulit itu.. Senangnya..", Luhan mengomentari cara berpakaian Sehun yang sangat santai, berbanding terbalik dengan dirinya yang memakai setelan jas lengkap dengan sepatu hitamnya.

"Memangnya apa yang harusnya dipakai oleh fotografer sepertiku? kerjaku kan lebih sering di alam terbuka dan belakang kamera. Jadi aku hanya akan memakai pakaian yang membuatku merasa nyaman saja", Sehun menarik kursi di samping Luhan. "Ini untukku..", menyadari ada secangkir kopi di hadapannya.

"Iya untukmu, kami jarang sarapan makanan berat, apa roti panggang dengan telor setengah matang cocok dengan seleramu?",

"Oh tidak apa-apa, aku juga biasa makan seperti itu..",

"Aa-Daaa..", tunjuk Ziyu pada Sehun, "Aa-Daaa..".

"Hey, dia itu Sehun Samcheon..", Luhan tak terima anaknya memanggil Sehun dengan sebutan Appa. "Sam-Cheon..".

"Aa-Daaa-Daa- ".

'Sam-Cheon..', ulang Luhan tak putus asa.

"Luhan.. itu terlalu rumit.. biarkan saja dia bicara sesuai keinginannya..", baru setelah kalimat itu terucap luhan berhenti berdebat dengan putranya. Lagi-lagi kekonyolan Luhan membuat Minseok menjadi jengkel.

Luhan dan Sehun memulai sarapannya segera, sedangkan Minseok menemani mereka dengan bermain-main dengan Ziyu yang ada di pangkuannya. Dia tidak ikut makan karena sudah makan lebih dulu saat menyiapkan sarapan tadi, lagipula untuk ibu menyusui seperti dia roti panggang dan telor tidak akan cukup untuk mengganjal perutnya yang cepat lapar.

"Oh iya Minseok aku hampir lupa mengatakannya", Sehun meletakkan sendok di tangannya. "Selamat ulang tahun. Ini ada hadiah untukmu..", Sehun mengulurkan album foto seukuran post card, "Aku menyelesaikan itu semalam, semoga kau menyukainya. Beberapa kali aku ke sini dan memotret kalian, kupikir kebersamaan keluarga ini sangat manis jadi kubuat kolase dengan menambahkan hiasan..".

"Ini bagus sekali", Minseok menerima hadiah yang diberikan Sehun..", Minseok membuka lembar demi lembar album foto itu, hampir semuanya adalah foto candid. "Wah Sehun terima kasih banyak, aku terharu kau adalah orang pertama yang mengucapkannya secara langsung padaku hari ini",

"Uhukk..", Luhan tersedak dengan kopi yang ada di tenggorokannya, buru-buru disekanya sudut bibirnya yang basah. Dan dalam hitungan sepersekian detik bisa dirasakan sebuah tatapan tajam diarahkan padanya. Seseorang tolong bantu dia karena tiba-tiba Luhan lupa caranya bernafas. Skak Mat, tamat riwayat Luhan.

.

.

Author Note

Mau ngomong apa ya? Uhm.. selain agak receh, maaf ya fic ini slow update, kadang pengen update seminggu sekali tapi stress kerjaan bikin writer block. Padahal tiap malem ya laptopnya dibuka cuma ya itu jumlah kata yang diketik ga nambah-nambah hehe.. So far sih masih semangat lanjutin.

.

Thanks to my beloved readers as always

Muyasexiu, ELF Japan, Moonbabee, Yuliya Dyakonenko, NunaaBaozie, xiuxiupao, XiLunara, Nadhefuji, Luminouschan, Chaeri Zhang

Kalian adalah alasan fiction ini tetap diupdate

.