Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.
Pairing : SasuFemNaru
Rated : M
Genre : Romance, angst, hurt/comfort, family
Warning : Gender switch, OOC, OC, typo(s)
Note : Dilarang copy paste sebagian maupun keseluruhan isi fict ini maupun fict milik saya lainnya! Yang masih bandel saya kutuk terus ngejomblo seumur hidup!
Enjoy!
To Be With You
Chapter 9 : Tolong Aku!
By : Fuyutsuki Hikari
.
.
.
"Lord help me!
Lord help me!
Lord help me!"
(Lailah Gifty Akita, Pearls of Wisdom: Great Mind)
.
.
.
"Lalu apa yang harus kulakukan?"
Pertanyaan tiba-tiba Naruto membuat suasana hening seketika. Udara terasa sangat berat. Perhatian mereka kini tertuju pada Naruto yang terduduk di atas lantai. Saat ini Naruto tidak memperlihatkan ekspresi apa pun. Ekspresinya datar hingga sulit untuk membaca apa yang ada dalam pikirannya.
"Kau harus konsultasi dengan psikiater—"
Kekehan Naruto memotong ucapan Shikamaru. Wanita itu mendongak, menatap lurus Shikamaru yang balas menatapnya dengan berbagai macam emosi; sedih, khawatir, simpati, dan duka cita.
"Mereka sudah membawaku ke psikiater terbaik, Shika," bisik Naruto. Wanita itu mendesah panjang lalu bangkit berdiri, berjalan dan menudukkan diri di sofa terdekat. Ia tidak yakin sampai berapa lama bisa bertahan. Kedua kakinya tidak bertenaga. "Psikiater itu tidak bisa membuat suara-suara di dalam kepalaku pergi," ujarnya.
Naruto tersenyum. Sebuah senyum yang semakin membuatnya terlihat menyedihkan. "Suara-suara itu tidak mau pergi," sambungnya sembari memeluk tubuhnya sendiri. Dia menunjuk kepalanya sendiri, "Mereka terus bicara di dalam kepalaku. Di sini. Ya. Di sini."
Rapuh. Naruto terlihat begitu rapuh hingga Sasuke yakin jika wanita itu bisa hancur kapan saja.
"Ini hukuman yang harus kujalani atas kejahatan besar yang kulakukan."
"Bukan salahmu!" tegas Shikamaru untuk yang kesekian kalinya. Pria itu berlutut di hadapan Naruto. Digenggamnya kedua tangan wanita itu yang terasa begitu dingin. "Kau tidak bisa melawan takdir—"
"Bisakah kau mengatakan itu pada keluarga korban?" potong Naruto. Suaranya tercekat. Shikamaru memaki dalam hati. Dia tidak suka melihat kekosongan di kedua mata Naruto. Kekosongan itu membuat Naruto terlihat tidak hidup. "Mereka memiliki keluarga, Shika, sama seperti kita."
Ia menjeda untuk mengambil napas panjang. "Aku memisahkan seorang ibu dari anaknya. Aku memisahkan ayah dari anaknya. Aku memisahkan adik dari kakaknya. Aku memisahkan mereka," gumamnya setengah berbisik. "Terkadang aku bertanya; kenapa malaikat pencabut nyawa tidak mengambil nyawaku juga? Kenapa aku harus bertahan hidup dengan semua penyesalan ini?"
Naruto mengalihkan pandangannya. Ditatapnya Shikamaru lurus. "Katakan, Shikamaru, kenapa aku harus hidup?"
Keheningan meraja.
Naruto mengangkat kedua tangannya ke udara. "Beberapa tahun belakangan ini aku berusaha keras untuk melawan suara-suara itu," terangnya. Kedua tangannya gemetar hebat. Raganya serapuh jiwanya.
Terkadang ia merasa hilang pegangan. Naruto tahu jika ia tidak bisa menyalahkan orang lain atas apa yang dirasakannya. Semua salahnya. Salahnya karena tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Salahnya karena tidak bisa membuat dirinya sendiri bahagia.
Ia lalu menatap kakak dan wajah sahabat-sahabatnya secara bergantian. "Aku tidak boleh membuat keluarga dan sahabat-sahabatku sedih, bukan?"
Shikamaru tidak menjawab. Tidak ada satu orang pun di dalam ruangan itu yang menjawab pertanyaan Naruto.
"Jangan menatapku seperti itu!" tegas Naruto. "Aku tidak akan membunuh diriku sendiri," sambungnya dengan seringai khasnya. "Aku akan hidup untuk mengganggu kalian. Jadi jangan khawatir!"
Kurama tidak berkata apa pun. Pria itu menghambur dan memeluk adiknya erat. Dia menenggelamkan kepala pada bahu adiknya yang kurus. Kurama memaki dirinya sendiri. Dia merasa gagal karena tidak bisa melakukan sesuatu untuk adik kandungnya.
"Kau tahu jika kami semua mencintaimu, kan?" bisik Kurama lembut. Ia menepuk-nepuk pelan punggung Naruto. "Kau tahu jika kau sangat berharga, bukan?"
Naruto tersenyum.
"Kami akan membantumu," kata Kurama. "Kita akan mengusir suara-suara itu dari dalam kepalamu," sambungnya. "Kau tidak sendirian. Kami akan selalu bersamamu."
Kurama terdiam sejenak. Ia mengalihkan pandangannya pada Deidara yang sedari tadi belum buka suara. "Dei, kau bisa menyembuhkan Naruto, kan?"
Deidara tersenyum lembut dan menjawab, "Kita akan berjuang bersama-sama."
Sasuke masih tidak bisa mempercayai apa yang disaksikan oleh kedua matanya. Tidak seperti sahabatnya yang lain, pria itu memutuskan untuk tinggal lebih lama di kediaman Uzumaki, sementara Kurama, Deidara, Itachi dan Shikamaru berdiskusi mengenai kondisi Naruto di ruang kerja pribadi Kurama.
"Hei, apa kau butuh sesuatu?"
Naruto menoleh. Ia tersenyum lembut dan menggeleng pelan. Tatapannya tidak lepas dari sosok Sasuke yang kini mendudukkan diri tepat di samping kirinya. "Kalian pasti menganggapku gila," bisiknya sembari menyandarkan kepala pada bahu bidang Sasuke.
Hening.
"Kalian pasti menganggapku gila karena aku sendiri yakin jika diriku mulai gila," sambung Naruto masih dengan nada suara yang sama.
Dengan lembut Sasuke mengusap lengan atas Naruto. Dia mengecup kening Naruto dan menjawab, "Kita akan sama-sama berjuang. Kau akan sembuh. Tidak ada yang perlu kau takutkan."
"Benarkah?"
Sasuke mengangguk. Lidahnya mendadak kaku. PikiDalam hati dia mulai menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menangkap rasa sakit yang disembunyikan oleh Naruto. Wanita itu selalu bersikap tegar. Dia menyembunyikan kesedihan dan ketakutannya dibalik senyuman hangatnya.
Pria itu memejamkan mata. Naruto adalah Naruto. Wanita itu selalu menjadi matahari untuk orang-orang di sekitarnya, sementara dirinya sendiri berada dalam kegelapan pekat yang mungkin bisa saja menenggelamkannya. Membawanya pergi bersama kesedihan dan rasa bersalah yang menyelimuti dirinya dengan hebat.
"Apa yang kau pikirkan?"
Pertanyaan itu menyadarkan Sasuke dari lamunan pendeknya. Ia menunduk. Tatapannya bersirobok dengan Naruto. Dalam keheningan yang terasa tak berujung keduanya terdiam, saling menatap.
"Aku..." Sasuke kehilangan kata-kata. Pria itu tidak bisa melanjutkan kalimat yang sudah berada di ujung lidahnya. Entahlah. Ia merasa jika dirinya tidak bisa menemukan kalimat yang tepat untuk menghibur Naruto. Sasuke merasa jika kalimat penghiburan terdengar seperti omong kosong.
"Tidak apa-apa."
Sasuke mengerjapkan mata.
"Aku tidak apa-apa," sambung Naruto. "Aku sudah mengatakan jika aku baik-baik saja."
Kau tidak baik-baik saja, batin Sasuke. "Berhenti bersikap seperti ini!" Sasuke berdecak saat Naruto menatapnya dengan ekspresi bingung. "Kau tidak baik-baik saja," sambungnya.
Sasuke menjeda untuk mengambil napas panjang dan mengembuskannya perlahan. "Menangislah saat kau ingin menangis. Izinkan kami untuk tahu apa yang sedang kau rasakan."
Naruto tidak menjawab. Ia memejamkan mata saat Sasuke menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Jangan menyembunyikan penderitaanmu dari kami. Bagi penderitaan itu pada kami walau hanya sedikit."
Sasuke berusaha mengusir perasaan sedih yang berkecamuk dalam dirinya. Dia harus bersikap kuat karena Naruto membutuhkannya. Naruto tidak memerlukan simpati saat ini. Yang wanita itu perlukan adalah dukungan moril dari semua orang yang ada di sekitarnya.
"Kau memiliki kami," sambung Sasuke saat Naruto membuka kembali kedua kelopak matanya. "Jadi jangan pernah berpikir jika kau sendirian."
Naruto tersenyum. Dia merasa sangat beruntung karena memiliki orang-orang yang benar-benar peduli padanya. Apalagi yang harus dikeluhkannya? Tuhan menjawab doanya. Tuhan menurunkan malaikat-malaikatnya untuk menyelamatkan Naruto dari kegelapan yang tak berujung, bukan hanya satu malaikat tapi sembilan malaikat tampan.
Di tempat lain, Tayuya menengadahkan kepala. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyum. Langit yang dilihatnya sama birunya, tapi tanah yang diinjaknya terasa berbeda.
Dia merasa terasing.
Tumbuh besar dan menetap lama di luar negeri ternyata membuatnya merasa terasing di negerinya sendiri. Tokyo terlihat sangat sibuk siang ini. Dengan langkah pelan wanita itu berjalan, melewati trotoar Kota Tokyo yang sibuk.
Dia berdiri di tengah-tengah lautan manusia yang berlalu lalang. Apa Tokyo memang seperti ini?
Orang-orang terlihat berada di dunianya sendiri. Mereka berjalan cepat, seolah mengejar waktu.
Rasa sepi menyergapnya. Namun secepat datangnya, rasa itu pun menghilang dengan cepat. Tidak lama lagi. Tidak lama lagi dia tidak akan merasa kesepian. Dia akan kembali bahagia. Seseorang akan menemaninya.
Ya. Tayuya berjanji jika orang itu akan menemaninya.
Tidak lama lagi.
.
.
.
To help yourself, you must be yourself. Be the best that you can be. When you make a mistake, learn from it, pick yourself up and move on.
(Dave Pelzer)
.
.
"Kau tidak pernah mengatakan padaku jika Tokyo bisa terasa sangat sepi," Tayuya bergumam pelan sementara kedua matanya menatap ke sekeliling. Bangungan-bangunan beton berdiri, menjulang tinggi di sekelilingnya. Orang-orang yang berlalu lalang terlihat larut dalam pikirannya masing-masing.
Tayuya merasa sepi dan kecil di kota besar ini.
Kota ini dirasakannya sangat tidak ramah. Ah, mungkin ini hanya perasaannya saja. Namun Tayuya tidak bisa menyingkirkan rasa sepi itu dalam dirinya.
Jiwanya yang rapuh terus berteriak protes, memintanya untuk meninggalkan kota ini secepat mungkin. Jiwanya menggigil ketakutan meminta dilepaskan. Namun tidak. Tayuya tidak akan pergi dengan mudah karena rasa sepi itu tidak akan pergi walau dia meninggalkan kota atau negara ini. Rasa sepi itu akan terus mengikutinya kemana pun dia pergi karena dia memang telah ditinggalkan.
Tayuya telah ditinggalkan oleh seseorang yang selalu membuat dunia hitam putihnya menjadi berwarna. Wanita itu telah ditinggalkan oleh seseorang yang memberinya alasan untuk tetap bertahan hidup.
Sosok yang selama ini telah melakukan banyak hal untuknya, karenanya untuk kali ini ia yang akan membawa kebahagiaan itu untuknya.
Tayuya memejamkan mata. Senyum di wajah cantiknya terkembang, terlihat ganjil.
Kau tidak akan kesepian lagi. Sebentar lagi. Tolong tunggu aku sebentar lagi.
.
.
.
Setelah hari itu semua kembali berjalan seperti biasanya. Naruto bersyukur karena keluarga dan sahabat-sahabatnya memperlakukannya seperti biasanya. Well, mereka mungkin lebih protective tapi selebihnya mereka tetap bersikap biasa.
Naruto tidak pernah menyangka jika mereka akan memperlakukannya seperti orang normal lainnya. Mereka tidak memandangnya sebelah mata. Mereka tidak takut padanya, dan mereka tidak menganggapnya orang gila.
Mereka memperlakukannya sebagai Naruto yang mereka kenal.
"Kenapa Ibu memberinya bagian yang lebih besar?"
Pertanyaan yang dilontarkan dengan nada protes itu diucapkan oleh Kurama, pagi ini. Pria itu menekuk keningnya dalam, sementara mulutnya sibuk mengunyah sarapan paginya.
Kushina menaikkan kedua alisnya. Dia menatap piring milik kedua anaknya. "Kenapa kau melihat ibu seperti itu?" Ia balik bertanya saat Kurama menatapnya dengan ekspresi cemberut. "Ibu memberimu bagian yang sama," sambungnya tapi Kurama terlihat tidak setuju. Dengan sumpitnya Kurama menunjuk ikan bakar yang ada di piring milik Naruto.
Putra kedua keluarga Namikaze itu merasa jika ikan milik Naruto jauh lebih besar daripada miliknya.
"Demi Tuhan, Kurama, kau bahkan belum menyentuh ikan bakar bagianmu," tegur Kushina sembari memutar kedua bola matanya.
"Dia memang rakus, Bu," cibir Naruto dengan desisan sinis. "Di bagian dunia lain ada banyak orang yang sulit mendapatkan makanan, sementara kau malah protes karena ikan bakar milikmu lebih kecil?"
Kurama berdecak, "Jadi kau mau menukarnya dengan millikku atau tidak?"
"Tidak!" jawab Naruto dengan nada satu oktaf lebih tinggi. Ia menarik piring-piring makanannya untuk mendekat. Naruto mendelik, mendesis saat Kurama melotot ke arahnya, "Kenapa kau tidak mensyukuri apa yang kau miliki?" sambungnya sembari menyipitkan kedua matanya. Ia kembali mengingatkan untuk yang kedua kalinya. Naruto merasa jika Kurama kurang mensyukuri apa yang dimilikinya saat ini, atau mungkin jauh di dalam hatinya ia memang tidak rela untuk memberikan ikan bakar miliknya pada Kurama. Entahlah.
"Omong-omong kapan nenek pulang?" tanya Naruto mengalihkan pembicaraan. Ia terkikik saat melihat ibunya menepuk punggung tangan kanan Kurama yang berusaha menarik piring ikan bakar milik Naruto ke arahnya.
"Kenapa kau tidak bertanya langsung padanya?" keluh Kurama. Masih ada nada kesal yang terselip dalam suaranya. Kedua alisnya menyatu tiap kali Naruto menyuapkan potongan daging ikan bakar ke dalam mulutnya.
"Dua hari lagi nenek kalian pulang," jawab Kushina. Naruto hanya mengangguk samar mendengarnya. Pembicaraan mereka terhenti untuk beberapa saat hingga seorang pelayan datang membawa seorang tamu bersamanya.
"Apa yang kau lakukan di rumahku?" tanya Kurama, setengah berteriak. Ia mengaduh saat Kushina memukul kepalanya dengan sumpit. "Bu!" protesnya yang sama sekali tidak diidahkan oleh Kushina.
Kushina memasang senyum ramah dan berkata, "Senang melihatmu di sini," katanya membuat Kurama memutar kedua bola matanya, jengah. "Apa kau sudah sarapan?"
Sasuke mengangguk samar lalu mendudukkan diri di samping kanan Naruto. "Sudah," jawabnya pendek. "Saya datang untuk menjemput Naruto—"
"Apa kau tidak bekerja?" potong Kurama.
"Aku mengambil cuti," jawab Sasuke pendek. "Kenapa?" tanyanya saat Kurama mendelik ke arahnya. "Apa seorang CEO tidak boleh mengambil cuti?"
"Tidak!" bentak Kurama. "Seorang CEO harus bekerja lebih keras demi anak buahnya," sambungnya dengan ekspresi serius. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. "Seharusnya kau mementingkan kepentingan ank buahmu, bukan mementingkan masalah asmaramu—"
"Kurama, bisa kau berhenti bicara?" potong Naruto tanpa ekspresi. Kurama berdeham pelan dan dengan gerakan perlahan dia menundukkan kepala. Kurama selalu tahu kapan waktunya untuk mengalah pada Naruto.
Naruto menggelengkan kepala samar. Sifat antik Kurama terkadang membuatnya sakit kepala. Dengan gerakan pelan dia melap sisi-sisi bibir dengan serbet. "Aku segera kembali," katanya sembari menatap lurus Sasuke.
"Kalian akan pergi kencan?" tanya Kushina setelah Naruto pergi untuk mengambil tas tangannya di kamar. Sasuke mengangguk samar. "Boleh aku tahu kemana kalian akan pergi—"
"Rahasia, Bu!" sambar Naruto dari belakang punggung Kushina. Ia merangkul ibunya dari belakang sebelum mengecup pipi kanan wanita paruh baya itu. "Jangan mengatakannya Sasuke. Dia bisa mengikuti kita," ujarnya. Tatapannya tidak terlepas dari Kurama yang tertangkap basah tengah memasang telinganya.
"Tenang saja, dia tidak akan mengganggu acara kencan kalian," kata Kushina dengan ekspresi serius. "Ya, maksud ibu padamu, Kurama," sambungnya saat Kurama menunjuk batang hidungnya sendiri. "Pergilah!" kata Kushina lagi.
"Kalian harus pulang tepat pukul tujuh malam!" teriak Kurama dari ruang makan saat Naruto dan Sasuke berlalu pergi. "Bu, kenapa Ibu mengizinkan Sasuke pergi membawa Naruto?"
Kushina tidak menjawab. Wanita itu hanya memutar kedua bola matanya bosan.
Kurama bergerak dari tempat duduknya saat Kushina berdiri dan berbalik pergi. "Ayolah, Bu, dia Uchiha Sasuke."
"Lalu?"
Sebuah desahan napas keras meluncur dari mulut Kurama. Ia sama sekali tidak percaya jika ibunya akan memberi restu dengan mudahnya pada Sasuke. "Sasuke seorang player," katanya. "Bagaimana jika dia melukai perasaan lembut Naruto?" tanyanya dengan ekspresi berlebihan.
"Kau hanya cemburu."
Kurama tertawa keras mendengarnya. Dia melempar kedua tangannya ke udara. "Aku cemburu? Yang benar saja!"
"Ya. Kau cemburu," sahut Kushina sembari menunjuk dada Kurama. "Kau takut kehilangan perhatian dan cinta adikmu hingga kau bersikap seperti ini."
Kurama melipat kedua tanganny di depan dada. Dia menggelengkan kepala cepat. "Tidak. Aku tidak cemburu."
"Kau cemburu, Namikaze Kurama!" Kushina bersikeras. "Tidak ada yang perlu kau takutkan. Naruto tetap akan mencintaimu. Hal itu sama sekali tidak akan berubah walau ada seorang pria yang mengisi hatinya nanti," sambungnya dengan senyum lembut yang menenangkan.
.
.
.
"Jadi, kita akan kemana?" tanya Naruto semangat.
Sasuke tidak langsung menjawab. Dia menggeser tubuhnya untuk membantu memasangkan sabuk pengaman untuk Naruto. "Disneyland?" ujarnya. "Woah, coba lihat ekspresimu itu," kata Sasuke. Ia terkekeh kecil saat melihat melihat binar di kedua mata Naruto. "Setelah puas di Disneyland, aku akan mengantarmu ke Harajuku dan malamnya aku akan membawamu ke Roppongi."
"Roppongi?" beo Naruto. "Aku tidak menyangka kau akan membawaku ke sana."
Satu alis Sasuke diangkat naik. "Memangnya kenapa?"
Naurot mengangkat bahunya sama. "Entahlah. Rasanya kurang cocok denganmu."
Sasuke tertawa renyah. Ia mengacak pelan rambut Naruto dan berkata, "Kau sama sekali tidak mengenalku," ujarnya. "Karena itu aku akan membuatmu mengenalku lebih baik."
.
.
.
Terus terang, Naruto sama sekali tidak menyangka jika Sasuke akan berhasil membuatnya segembira ini. Pria itu bahkan tidak menolak saat Naruto memintanya mengenakan sebuah bando dengan hiasan telinga kelinci berwarna merah muda saat di Disneyland.
Sasuke bahkan tidak menolak saat Naruto memintanya mengantri hanya untuk mendapatkan satu cone es krim cokelat. Dia bahkan kembali dengan satu kantung besar gula kapas bersamanya.
"Apa kau lapar?" tanya Sasuke. "Apa kau yakin?" tanyanya lagi saat Naruto menggelengkan kepalanya samar. Sasuke menghela napas panjang sebelum mendudukkan diri di samping kanan Naruto. Keringat membuat kaos putih yang dikenakannya lengket.
"Maaf, kau aku membuatmu repot."
Sasuke mengendikkan bahu. "Tidak masalah. Aku suka direpotkan olehmu."
Hening.
"Kenapa?" tanya Sasuke saat Naruto tertawa lepas.
"Bukankah kau mengatakan jika kau tidak suka direpotkan olehku?" ujar Naruto setelah tawanya reda. "Coba lihat bagaimana cepatnya hati manusia berubah."
"Tidak ada yang berubah, Naruto," jawab Sasuke. Wajah pria itu begitu dekat hingga Naruto yakin jika ia nyaris lupa cara bernapas karenanya. "Dari dulu aku masih suka direpotkan olehmu," sambungnya sebelum menempelkan mulutnya pada mulut Naruto.
.
.
.
"Kau menciumku?" bisik Naruto saat ciuman itu berakhir. Ia berdeham, kedua pipinya memerah sementara jantungnya berdetak sangat heboh. "Apa maksudnya itu?"
Sasuke tersenyum simpul.
Oh, ingin sekali Naruto menghajar wajah tampan yang menyiratkan ekspresi penuh kemenangan itu.
"Menurutmu apa?"
Naruto menggelengkan kepala dengan cepat. "Aku tidak tahu."
"Dasar bodoh!" bisik Sasuke. Ia kembali mendekatkan wajahnya pada Naruto. "Artinya aku—"
"Kakak?!"
Sasuke menghela napas kasar. Ia mengumpat di dalam hati. Dia bersumpah akan memberi pelajaran pada siapa pun yang dengan lancang sudah berani memotong kalimat pernyataan cintanya pada Naruto.
"Kak?"
Kata itu kembali terdengar. Lebih lembut kali ini.
Sasuke dan Naruto saling memandang. Dalam hitungan yang sama mereka menoleh ke arah sumber suara dimana seorang wanita muda berambut merah berdiri tidak jauh dari kursi taman yang tengah mereka duduki.
"Lama tidak berjumpa," ucap Tayuya dengan senyum yang terlihat memikat.
.
.
.
TBC
Sampai jumpa dichap selanjutnya!
#WeDoCareAboutSFN
