WATCH IN TIME

.

.

Original Chara: Tite Kubo

Story: Ayra el Irista

Cover by Aezawa_Yuki

.

.

WARNING:

OOC, AU, GAJE, TYPO(S), dan lain-lain yang saya juga tidak tahu apa XD

.

.

Rated : M

Pairing: IchiRuki

.

.

Don't like, Don't read.

Please click back.

(^_^)

.

.

Last…Enjoy reading!

.

.

Chapter 10

Takdir Sang Pembawa Pesan

"Ha…hatsyu!"

Rasa gatal yang menggelitik di hidung Rukia tak kunjung berhenti. Justru bertambah parah dengan mengeluarkan lendir serta memerah berkat tangannya yang terampil menggosok. Serasa ada bakteri yang mengorek selaput dalam hidungnya menggunakan sikat bulu yang mengundang bersin. Dan seperti sebuah kerjasama yang handal, rasa berat menghantam bagian pusat kepalanya. Membuat kebas berlebih dan sakit seperti ditusuki paku besi tak steril yang menyebar infeksi ke seluruh penjuru syaraf.

"39 derajat."

Unohana, Kepala Maid Kuchiki, membaca termometer lalu kembali menatap wajah nonanya yang memelas. Mata sayunya cekung juga pipi kemerahan karena demam serta lubang hidung tersumbat oleh tisu yang dipilin. Mulutnya membuka sebagai ganti alat pernafasan yang tak stabil bekerja. Terengah karena menahan nyeri di sana-sini. Sementara seorang lelaki berpakaian formal berdiri menjulang di samping ranjang. Penuh penyesalan dengan dahi berkerut kelewat dalam, raut wajahnya.

"Nona sepertinya terserang flu." ucapnya menggenggam termometer dan Rukia mengeluarkan bunyi 'srooooot' panjang. Ia bergumam lemah sambil memegang dahi dan membuang tisu yang basah ke kotak sampah di dekat nakas. "Sebaiknya hari ini Nona beristirahat saja. Akan saya ambilkan obat."

Ranjang berderit ketika Unohana bangkit. Terkibas kimononya yang berwarna putih motif bunga camelia saat berjalan keluar dan menghilang di antara suara bersin-bersin yang berisik. Pintu kamar dibiarkan terbuka. Mengizinkan sinar kekuningan menjurus ke depan sampai karpet di pusat ruangan akibat lampu dari luar.

"Hatsyuuu! Ha…..hatsyu!"

Tangan dengan lengan kemeja terlipat sampai siku menepuk kepala berambut legam, cemas. Tanpa bicara. Hanya mengusap pesan dan telapak tangan itu bisa merasakan hawa panas yang menguap seperti kepulan dari air mendidih.

Rukia menyedot hidungnya yang kini setengah tersumbat. "Jangan memasang wajah seperti itu. Aku tak suka." gerutunya dengan suara parau seekor bebek terjepit pintu. Kakinya yang berselimut tebal menekuk. Memberi ruang untuk duduk pria yang tadi bermuka masam dan lelaki itu menurut. Selimut sedikit tertarik ketika ia duduki. Suaranya mengesah.

"Maaf, seharusnya semalam—"

"Ini bukan salahmu, Ichigo." serobot Rukia, menghela nafas dengan tenggorokan seperti terkena kemarau panjang nan gersang. Matanya terpejam, terasa kering dan pedas karena kurang tidur. Entah pukul berapa, ia tewas akhirnya. Pihak kalah yang tak ingat untuk melirik jam di dinding, tak ingat untuk berpindah dari ranjang basah tempatnya terlelap atau memakaikan tubuh telanjangnya sesuatu supaya tak menyerap dingin. Kelelahan memaksanya untuk segera mengistirahatkan diri. Memisahkan kesadaran dari bunyi hujan yang belum reda saat itu ke keheningan alam bawah sadar. Terkapar nyenyak. Sampai hidung gatal tak diundang mengusik. Bersin kerasnya membangunkan Ichigo yang tidur di sebelahnya dan akhirnya mengirim pagi yang seharusnya Rukia sambut dengan sebuah kecupan manis berubah suram.

Interior kamar tamu dan sebuah piyama adalah kepedulian pertama yang ia sadari dilakukan oleh suaminya begitu terduduk di kepala ranjang. Sebuah tindakan seorang pria dewasa yang tanggap dalam bertindak meski tak berhasil menyelamatkan Rukia dari demam. Wabah musim dingin itu melanda tanpa ingat waktu. Membuatnya terlihat bodoh karena bisa terkena flu saat musim semi.

Suara bersin sekali lagi terdengar. Bok tisu tergelimpang jatuh karena tertarik kasar. Terbalik dengan pantat boks menengadah.

Rambut terlampau cerah di pagi yang muram itu bergoyang ketika sang empunya menunduk, mengambil tisu yang malang. Meletakkannya kembali di pangkuan Rukia dan siluet jingga menerangi dunia kecil dalam kamar. Menggantikan mentari yang tak bersinar cerah, di luar. Terhalangi kabut kelabu tebal yang tak gentar disibak.

Perhatian Rukia teralih. Bersatu dengan sentuhan dingin yang membelai pipi pucatnya. Ia memiringkan kepala, seperti kucing yang dimanjakan dengan elusan.

"Kau panas sekali." Ichigo menautkan alis dan merasa dirinya berkali lipat bodoh. Ibu jarinya terdorong naik ketika sudut bibir mungil melengkung.

"Dan kau dingin. Bukankah itu perpaduan yang pas?" canda Rukia, memejamkan mata untuk menikmati kesejukan di pipinya dari tangan es Ichigo sementara lelaki itu mengulum senyum. Tubuhnya menjorok. Berhenti mendadak ketika satu tangan menahan dengan enggan.

Dengan mata bulat yang sedih, Rukia meringis, "Jangan dekat-dekat. Nanti kau bisa tertular."

"Kurasa seharusnya memang itu yang perlu kudapatkan."

"Untuk apa?"

"Karena sudah menyiksamu semalam." Ujung mata Sang Pangeran tertarik ke atas ketika ia menaikan satu alis senjanya, meminta persetujuan. Menyeringai kecil dan dengan cepat mengecup bibir kering yang merekah seperti bara api. Melumer di antara salju Kutub Selatan yang berbenturan. "Cepat sembuh." ucapnya dan Rukia menunduk. Tersipu mendapati bibirnya kini berubah lembab.

Setelah satu malam dilewati dengan saling memeluk satu sama lain, terasa ada yang berbeda setiap kali Rukia berdekatan dengan Ichigo. Gelenyar menghentak terus bermunculan dan dadanya berdebar tak seimbang. Kehangatan yang dirasa malam itu seperti membungkus tubuh rapuhnya dan tak bisa hilang. Ia bahkan masih bisa mengingat bagaimana lelaki itu menyentuhnya dengan begitu hebat. Oh—Rukia menyebut dirinya sudah terlempar ke adnan yang begitu indah.

"Mungkin selanjutnya Nona jangan berenang saat sedang turun hujan." Tiba-tiba Unohana berceletuk seraya membawa nampan berisi gelas dan mangkuk, membuat Rukia gelagapan dan menarik dirinya menjauh hingga terjeduk kepala tempat tidur.

"Kau tidak apa-apa?"

"Ah…iya…" Rukia meringis, membalas Ichigo yang menahan senyum serta mengusap kepalanya dan menerima beberapa pil.

"Apa yang sebenarnya Nona pikirkan? Nona bisa saja terkena sakit parah jika bertindak seceroboh itu." omel Unohana dan Rukia mengerutkan hidung ketika membaui obatnya.

"Aku baik-baik saja."

Unohana menggeleng lemah setelah mengulurkan gelas. "Bagaimana akan baik-baik saja jika berenang tanpa menggunakan celana dalam, Nona."

BRUUUSHHH

Air menyembur dari mulut Rukia dan mengenai sisi bahu Ichigo yang cekatan menghindar. Gadis itu tersedak dengan wajah memerah dan menutup mulutnya. Dia lupa total tentang celana dalam yang terlepas di kolam renang. Oh, tidak.

"Nona tidak apa-apa?"

Nona Kuchiki mengibaskan sebelah tangannya sambil mengangguk. Membayangkan kain berenda itu melayang-layang di permukaan air kolam dan ditemukan oleh Unohana. Itu sungguh pemandangan yang sangat konyol sekali!

"A…aku baik-baik saja, Unohana. Ce…celana dalam itu…"

"Aku yang melepasnya." aku Ichigo tiba-tiba. Berdiri kemudian menarik selimut dan berbalik. Tanpa beban, menjatuhkan selimut basah di bawah tempat tidur dan seolah tak paham dengan keheningan dua perempuan yang tengah mengerjap, ia justru kembali mengulang. "Aku yang melepasnya, Unohana. Sebenarnya semalam,—"

"Unohana!" Rukia menjerit, meremas gelas kuat dengan wajah tertunduk dalam. "A…aku… minta air lagi!" Ia menyodorkan gelas yang masih terisi setengah dan wanita berkepang itu menahan tawanya yang hampir meluncur.

Hampir seluruh hidupnya diabdikan untuk mengurus gadis kecil yang kini sudah begitu banyak berubah. Tak melulu ekspresi datar yang muncul seperti topeng dingin di wajah nona mudanya. Sekarang ada kikuk, merona juga gugup yang datang berganti-ganti. Gadis kecilnya nampak lebih hidup. Waktu mengubahnya dengan begitu bijaksana. Hati Unohana meremang. Garis matanya mendadak turun dan terlihat sedih. Ia terlalu mendramatisir keabsenan kepala keluarga Kuchiki. Berharap pria paruh baya itu hadir di sana, mengamati. Memberi senyum bangga padanya yang telah berhasil mengurus Sang Penerus. Sebuah penghargaan tiada tara bagi Unohana.

Wanita berumur itu memudarkan kecewa. Kaki bersandalnya lantas beranjak segera setelah mengambil gelas. Dan begitu kamar sepi, Rukia berang setengah mati.

"Kau!" tunjuknya dan Ichigo terjengit. "Apa kau akan menceritakan apa yang terjadi semalam pada Unohana?"

Ia bergumam seraya melipat tangan. "Bukankah itu hal yang wajar bagi yang sudah menikah?"

"Tapi tetap saja—" Rukia menarik nafas sekali hirup. "Bagaimana mungkin kau akan menceritakannya pada orang lain seperti memberitakan sebuah pertandingan bola? Itu memalukan!"

Lelaki itu terkekeh. Wajah memberengut tampak berkali lipat lucu ketika pipi Rukia menggembung dan dia menyerah. Orang gila mana yang mau menceritakan hubungan di atas ranjang mereka seperti dongeng panas, Ichigo tahu itu. Dia juga akan menceritakan sebuah kebohongan yang masuk akal sebelum ceritanya terpotong oleh kemarahan istrinya. Dia cuma iseng.

"Baiklah, baiklah. Maaf." ujarnya mengangkat kedua tangan kemudian mengamati deru nafas yang cepat akibat emosi landak. Cepat bangun ketika diusik sedikit saja.

Rintik hujan telah berhenti. Berganti bunyi burung bul-bul yang ribut. Rerumputan menunjukkan aksi. Bau segar dedaunan basahnya masuk ketika angin berhembus melalui jendela. Dingin dan lembab, bercampur dengan aroma gandum dari bubur yang ada di atas nakas. Masih mengepul dan tercium wangi kayu manis yang harum.

"Kau mau makan?" tanya Ichigo ketika memergoki mata sapphire memandangi isi nampan. Menelan gemuruh lapar yang anehnya bisa Rukia rasakan meski tenggorokannya malas dilewati makanan. Ia menganggukan kepala. Mengamati Ichigo yang mengitari tempat tidur dan mengambil mangkuk. "Ini masih panas."

"Kau bisa meniupnya untukku. Fuuh…fuuhh, seperti itu."

Sinar geli berkelabat di mata hazel yang seranum jeruk masak. Terbit di antara kulit putih wajah Ichigo yang tersorot lampu setelah dinyalakan Unohana dan membuatnya nampak lebih cemerlang. Seperti model iklan sabun muka ternama.

Ranjang tertarik turun ketika ia duduk dan mulai meniup. "Aku tidak mengatakan keberatan untuk melakukannya, Putri. Nah, sekarang bukalah mulutmu." perintahnya mendekatkan sendok dan dilahap.

Rukia memandang. Ujung rambut tergumpal yang masih basah dan membuat warna lebih gelap di kerah kemeja Ichigo. Air membasahi kulit lehernya seperti minyak mengkilap. Kemungkinan karena dia tak mau meninggalkan dirinya lama-lama hingga tak beres mengeringkan rambut. Kemeja lengan panjangnya hanya digulung asal. Mempertegas garis otot lengan yang sedang menahan mangkuk. Tetap terlihat prima. Beberapa hari tinggal di dunia, tak mengurangi sedikitpun kekekaran tubuhnya yang berjauhan dari ayunan pedang. Seperti disuntiki formalin, pesona maskulinnya. Terlalu tahan lama.

"Kau akan ke sekolah hari ini?"

Ichigo mengangguk sambil mengaduk-aduk bubur. "Jika aku tidak berangkat pasti nanti akan muncul kecurigaan."

Yah…dan aku tak mau itu, batin Rukia membuka mulutnya. Akan sangat merepotkan jika guru sekolah favorit ketahuan beristrikan muridnya sendiri. Dan dia bukan murid biasa, dia seorang Kuchiki yang selalu disoroti publik.

Dikunyahnya bubur beberapa kali sebelum ditelan. Melipat bibirnya ke dalam dan tak menanggapi sendok yang sudah menunggu. Violanya melirik ragu. "Apa…kau akan menemui Senna?" tanyanya.

Ichigo tampak sedikit menegang. Sendok yang ia pegang kembali ke mangkuk dan dengan senyum penuh kelembutan, disapuhnya ujung bibir Rukia yang belepotan dengan ibu jarinya. Oh, Rukia merasa dadanya tertembak. Lelaki itu terlalu lihai untuk memekarkan bunga di hati para wanita.

"Aku sudah menegaskan hubunganku denganmu semalam, seharusnya dia tahu itu tanpa perlu ku jelaskan lagi. Tapi, ya, ku rasa aku akan menemuinya untuk memastikan dia benar-benar mengerti."

"Kau akan menolaknya?" Rukia membelalak sementara Ichigo menaikan sebelah alisnya yang menukik seperti taji.

"Haruskah aku menerimanya sebagai selir?"

"Apa? Bu…bukan begitu…maksudku…" Rukia memegang dahinya. Mencoba menata huruf-huruf yang berlompatan dalam mulutnya seperti kelinci lepas. Namun Ichigo sudah lebih dulu menggenggam sebelah tangannya seraya mengangguk kecil.

"Ya, ya, aku tahu. Kau hanya ingin agar aku tak menyakitinya."

Rukia hilang suara. Terkesima pada koneksi di antara mereka berdua yang kini terjalin rekat hingga bisa saling membaca pikiran.

"Sebisa mungkin akan ku lakukan dengan baik. Tapi asal kau tahu, Putri, Senna bukanlah gadis yang bisa diajak berkompromi." ujar Ichigo menyendok bubur dan menerbangkannya kembali ke mulut mungil yang masih tampak berpikir. "Berhentilah memikirkan hal yang tak perlu dan buka mulutmu."

"Ah, aku lupa memberitahumu. Aku mendapatkan pesan yang baru kemarin." tukas Rukia menurut sebelum memakan suapan yang baru dan Ichigo mengangguk.

"Apa yang kau lihat?"

"Sedikit aneh." Ia menjilat sisa bubur lalu membiarkan Ichigo kembali mengusapnya. "Aku muncul di sebuah dimensi yang hitam seperti berada dalam gua. Lalu setelah keluar, ada sebuah pedang di sana."

"Pedang?" Ichigo mengernyit dan tangannya tak bergerak, yang memegang sendok.

"Pedang yang cantik. Berwarna putih dengan pita metalik. Ku pikir saat itu aku sedang melihat seorang putri salju. Dan dia punya nama, Shode no Shirayuki."

"Shirayuki?"

Ichigo memutar tubuhnya. Di depan pintu, Unohana berdiri dengan terkejut. Air yang berada di gelas bergoyang karena tangannya bergetar dan membentuk gelombang longitudinal halus. Bintik-bintik kecil berisi oksigen berenang ke permukaan. Pecah saat tersentuh udara.

"Ada apa, Unohana? Kau tahu sesuatu?" Rukia melihat Unohana mengaku. Berjalan tergesa dan meletakkan gelas di atas nakas seolah takut akan terlepas dari cengkraman jemarinya yang melemas. Ia menurunkan selimut yang dibawa, menyatukan kedua tangannya bahkan nyaris meremas.

"Saya tidak tahu apakah ini benar atau tidak. Tapi…bukankah Shode no Shirayuki adalah Pedang Kebangkitan?"

"Pedang Kebangkitan?"

Unohana mengangguk menanggapi kernyitan Rukia. "Saya hanya pernah mendengar cerita itu sewaktu kecil. Dahulu kala para penyihir dan Penguasa Tertinggi tinggal berdampingan, bercengkrama biasa. Namun kemudian suatu hari, seorang penyihir menghasut penyihir lainnya untuk memberontak dan tak mau mengakui Penguasa Tertinggi sebagai Yang Tertinggi di Dunia Sihir." Ia melirik Ichigo yang sepertinya juga mengetahui sesuatu. "Merasa murka, Penguasa Tertinggi lantas mengutuk para penyihir agar tak bisa melihatnya lagi dan akan membinasakan mereka. Tapi seorang gadis bernama Shirayuki lantas memohon pada Penguasa Tertinggi dan akan melakukan apa saja agar dunia sihir tak hancur. Melihat ketulusannya, Penguasa Tertinggi akhirnya memberkatinya sebagai satu-satunya yang bisa melihat, menemuinya dan kemudian para penyihir terampuni."

Rukia menatap dengan serius ketika Unohana mengambil nafas. Memamah cerita yang ia dengar dengan jalan terpisah. Jalur menuju sebuah kebingungan dan jalan buntu karena buta arah.

"Tapi kemudian perang untuk memperebutkan Shirayuki justru terjadi. Mereka menganggap Shirayuki sebagai sebuah senjata yang akan membawa kepada penguasaan dunia sihir."

"Itu karena hanya dia satu-satunya yang bisa berhubungan langsung dengan Penguasa Tertinggi. Dan demi menyelamatkan gadis itu, akhirnya Penguasa Tertinggi memasukan jiwanya ke dalam sebuah pedang yang kemudian menghilang." lanjut Ichigo merenung, mendapati istrinya mengernyit.

"Kau tahu ceritanya?"

"Itu legenda yang terus diceritakan ibuku sebelum tidur ketika aku masih kecil. Kurasa semua penyihir pasti mengetahuinya." Mata Ichigo mengarah pada Unohana yang juga sibuk menelaah. "Dan Penguasa Tertinggi itu adalah…Hogyoku? Lalu untuk membangkitkannya maka dibutuhkan Pedang Shirayuki yang merupakan penghubung antara mereka berdua?" tanyanya sampai pada sebuah kesimpulan.

Unohana menarik tangannya ke depan perut seraya mengangguk. "Menurutku begitu. Menemukan Shirayuki akan membawa kita pada Hogyoku. Tapi yang kudengar selama ini, belum ada yang pernah berhasil menemukannya. Banyak korban yang mati sia-sia hanya untuk membuktikan cerita itu dan pada akhirnya, mereka menganggapnya sebagai sebuah omong kosong."

Entah apapun itu, tapi Rukia merasa gugup dan takut hingga ia menelan ludah. Bulu kuduknya meremang. Ia sedang berada di kamar yang terbuat dari dinding bata, tak bergerak namun seolah sedang mengintimidasi lewat kebisuan. Ujung jemari kakinya yang kurus ditekuknya. Menguatkan urat-urat di permukaan kulit yang menonjol keluar. Bukan karena dingin. Si Kuchiki Mungil merasa tegang. Ada sesuatu yang berbahaya tengah menunggu kedatangannya. Seperti sebuah eksekusi yang sudah pasti. Ia tak merasa aman. Tulangnya menggigil ngeri setiap menyadari dirinya bisa mati kapan saja.

"Tapi Pembawa Pesan menegaskan bahwa itu bukan sekedar kebohongan." ujar Ichigo, mengalihkan raut beku gadis berambut sebahu yang beralih menatapnya. Mengerjap. "Rukia akan membawa kita kesana." Ia tersenyum, namun tak mampu menarik seulas garis tipis di bibir istrinya yang masih memandang hampa.

"Sebaiknya aku kirimkan pesan kepada Kepala Sekolah Urahara mengenai masalah ini." kata Unohana lekas.

"Aku saja."

Tiba-tiba Grimmjow masuk dan berdiri di depan pintu, lengkap dengan seragam sekolah barunya. Menenteng tas dengan satu tangan dimasukkan ke dalam celana. Jas putihnya dibiarkan tak terkancing dan rambut birunya yang tak biasa, disisir rapi ke belakang dan sedikit mencuat ke atas.

Ia menggumam pelan menatap lantai kayu. "Aku sudah mendengar semuanya tadi—bukan menguping, hanya saja semuanya terdengar saat aku akan masuk." kilahnya tak berani menatap seseorang yang akan menghadiahi tatapan tajam pada etika tak sopannya. "Jadi biar aku saja yang pergi ke Karakura dan menyampaikannya pada Guru Urahara."

Kecuali Senna yang tidak Ichigo ketahui tinggal dimana selama berada di dunia manusia, Grimmjow tinggal di Istana Kuchiki bersama mereka. Baru satu hari adiknya itu muncul di sekolah dan menimbulkan kehebohan dengan mengambil perhatian semua mahluk berkat kesupelannya, lalu sekarang dia akan pergi dan meninggalkan berhari-hari absen. Masalah akan muncul tanpa diminta. Staf pengajar bisa merecoki Ichigo yang sudah dikonfirmasi jelas adalah kakak kandung Grimmjow untuk menanyakan ketidakhadiran lelaki itu.

Dan akhirnya dia hanya bisa mendesah, Pangeran Kedua. "Kau tidak bisa pergi semaumu setelah terdaftar sebagai seorang pelajar di sekolah, Grimmjow. Itu akan menimbulkan masalah." jelas Ichigo dan Grimmjow siap memprotes namun diurungkannya.

Meski sedikit terpaksa, kepalanya mengangguk. Ia datang ke dunia manusia memang bukan untuk membuat kakaknya kesulitan. Kehadirannya di sana lebih seperti bala bantuan yang bisa diandalkan sewaktu-waktu bila diperlukan. Dan menurut adalah salah satunya.

"Kirimkan saja kupu-kupu pembawa pesan ke Karakura, Unohana. Lebih cepat akan lebih baik." perintahnya lugas khas seorang pejuang kerajaan dan wanita berkimono itu bergegas pergi.

.

.

.

Sepeninggal Ichigo yang mendatangi kamarnya lagi sebelum berangkat ke sekolah, Rukia terlelap akibat efek obat. Ia diminta untuk beristirahat. Jam di atas nakas berbentuk chappy-nya menunjukan pukul 11.45, hampir tengah hari dan dia belum menampakkan tanda-tanda akan terbangun. Jendela berderak pelan terdorong angin. Tirai putih menunjukkan gerakan bergelombang yang teratur. Seperti garis ombak yang meliuk keriting. Tak ada bunyi-bunyian bermakna yang menganggu. Nyaris senyap setelah hembusan udara luar tak lagi masuk dan membentur perabotan dalam ruangan.

Rukia terlihat seperti Putri Tidur yang sedang menunggu pangerannya. Tangan tertumpuk di atas perut dengan selimut tebal di bawahnya, membungkus tubuh mungil yang sedang berpenyakit. Bibirnya yang pucat hanya perlu riasan gincu. Supaya Sang Pangeran nanti akan tergoda untuk menciumnya dan membuatnya membuka mata. Meminangnya dan hidup bersama dengan bahagia. Tapi masalah terjadi. Kening Rukia terburu berkerut. Menggagalkan lakonnya sebagai Putri Tidur karena nampaknya bisa hidup tanpa perlu keajaiban cinta. Kelopak matanya berkeriput sebab terpejam berlebih. Dia terusik. Terjebak dalam suatu dimensi.

Gelap.

Gelap.

Semua gelap.

Aneh jika Rukia bertanya sedang ada dimana. Ia tahu, ia pasti sedang bermimpi. Masuk ke dalam fase tak sadar namun dibuat sangat sadar. Dia belum pernah mencoba Astral Projection yang gempar dibahas di dunia maya, tapi mungkin rasanya kurang lebih seperti ini.

Dunianya terbuka, pada keadaan yang sangat janggal. Demam tak lagi terasa. Tenggorokannya bersih dari radang. Ia sembuh total. Ia bisa melihat tubuhnya tergeletak di atas tempat tidur. Begitu tenang dan mirip seorang yang mati. Wajahnya putih mengerikan dengan tulang pipi yang menonjol. Membuatnya mengepal tangan ketakutan. Kenapa dia bisa melihat dirinya sendiri?

Rukia meraba dadanya. Ia tak bisa merasakan denyut jantung dan aliran darah. Semua organ dalam tubuhnya tak ada yang bekerja. Kakinya terhentak menjauh karena ngeri dan menembus kursi di tengah ruangan. Membuat matanya membelalak dan terkesiap pada apa yang baru saja terjadi. Dia terhenyak dengan bahu bergetar hebat. Menatap kursi kayu berplitur mengkilap yang kini berubah menyeramkan. Kepalanya mendadak pusing dan ia terjerambab jatuh, menopang dirinya pada dua tangan di belakang punggung. Tenaganya mendadak kosong. Sekali kerjapan mata, dunia Rukia beralih pada dimensi yang berbeda lagi. Semuanya hitam, seperti terkurung dalam lemari gelap.

Pikirannya berjumpalitan. Mendapati diri bercahaya, seperti roh suci dalam pelita yang hanya muncul dalam keadaan mati. Ia masih mengenakan piyama, bukan gaun putih semata kaki. Punggungnya utuh tanpa sayap untuk terbang. Hanya seorang diri, ditemani kelopak yang berkedip-kedip dan remasan jemari putih. Kakinya yang tertekuk ke depan menjadi amatan selanjutnya. Rukia kebingungan setengah mati.

Matanya berputar ke segala arah, tak menyambut sosok siapapun kecuali bayangan meliuk yang perlahan datang dan membesar dari kedua sisi. Tertuju lurus menuju Rukia seolah ada rel yang terpasang di bawahnya dan tak akan berhenti sebelum menghimpit sesuatu. Balok besar yang kini terlihat jelas. Gerbang besi dengan sebuah garis di tengahnya dan dinaungi atap bertanduk. Mereka akan menjadikan Rukia manusia pipih mirip kertas tulis dalam hitungan kurang dari tiga detik dan akhirnya berhasil memacu adrenalinnya meski ia sangat tahu, ini tidak akan membunuhnya.

Rukia hanya sedang…menerima pesan.

Suara gesekan yang meraung dan keras itu tandanya.

Ia menyilangkan kedua tangan, melindungi kepalanya yang merunduk seolah cara itu efektif untuk menghalau terjadinya ledakan otak yang akan terjepit dua tembok raksasa. Matanya terpejam kuat dengan tangan gemetar. Menahan nafas. Pikirannya melayang kemana-mana sementara raga bersiap untuk sebuah tabrakan.

Rukia hanya butuh menghitung mundur.

Tiga…

Dua…

Satu.

Ketika suara seretan telah berhenti dan berganti dengan keheningan yang mencekam, ia berpikir pasti sudah mati sekarang. Jiwanya terasa terpental jauh ke belakang dan membuatnya berakhir sebagai patung. Perlahan tanpa menghilangkan ketakutan, matanya terbuka. Mengintip apa yang terjadi.

Hela lega sanggup ia lepaskan dari mulutnya yang terasa kering. Bahunya merenggang dan lemas. Tertelan kegugupan ke dalam tenggorokannya dan ia menatap bingung, selalu demikian saat menerima pesan. Dia sudah terkurung di antara dua gerbang. Berwarna perak dengan atap putih bercahaya dan merah dengan kepala iblis menyalak. Sesuatu yang belum bisa dipahami. Dada Rukia mengerut. Tengkuknya berubah dingin saat melirik gerbang merah di sampingnya. Secara bergantian, rotasi penglihatannya terbagi dua sisi. Perlahan memberinya sebuah pemikiran.

Dia berada di antara dua strata—surga dan neraka?

Benarkah pendapatnya ini?

"Hah!"

Rukia membuka mata dengan tersentak, bangun dari mimpi dengan respirasi sekarat. Irisnya terlalu lebar membelalak, menatap atap putih dengan sengalan yang keras. Dada terpompa cepat, naik-turun seperti ditarik-ulur. Sekujur tubuhnya kaku di balik selimut. Berkeringat dan lembab.

Ia melenguh. Meraba dahinya yang ditempeli kompres dan menariknya perlahan. Terkulai lemas tangannya di atas bantal, masih gemetar. Mata ungu menatap awas, seperti ia membidik papan target. Kesan berani luntur ketika otak kembali memutar pesan. Rukia menelan ludah. Tak berlanjut menghirup oksigen. Malah memejamkan mata kuat, mengerat ketiga puluh dua giginya dengan kuat. Susah payah ia mengatur nafas serta kondisi jantungnya yang bergema kencang hingga bisa terdengar jelas. Sekali, dua kali, tiga kali, tarikan panjang nan berat itu terlaksana. Mukzizat, ia berhasil mengalahkan ketakutannya.

Demamnya sudah turun dan pusing yang ia rasakan telah berkurang. Tubuhnya lebih ringan ketika beranjak bangun untuk duduk dan memeriksa piyamanya. Butuh diganti. Rukia mengembus kesahan yang panjang ditemani detik jarum jam. Tangannya meremas kepala dengan kedua tangan, membuang ketegangan yang masih tersisa. Ia menelan ludah lagi. Merasa butuh air untuk menenangkan pikiran dan segera menyibak selimut.

Kamar begitu sepi. Hanya samar terdengar dengungan mesin penyedot debu di lantai bawah dan denting peralatan dapur. Suara berderit lemari yang ia buka dan gemerisik kain yang tengah dipakai. Sweater rajut salmon dan setelah selesai mengenakan training panjang hitam, ia termangu. Mencengkram sisi lemari kemudian menggeleng keras. Pergi dari segala kemungkinan arti dari mimpinya.

Apakah aku akan pergi ke surga atau neraka untuk menemukan Shirayuki? Apakah itu artinya aku harus mati lebih dulu?

Rukia membanting pintu lemari. Ketakutan sendiri untuk menerka yang benar. Mencari sandal bulu yang kemudian ia sadari, dia berada di kamar tamu. Ia berjalan keluar tanpa alas kaki. Menjejaki tangga kayu dan melewati potret-potret berbingkai di sepanjang dinding. Bocah lima tahun bersama seorang pria berambut hitam yang sedang memegang sekop kecil, wanita berambut cokelat tua yang duduk bermain piano ditemani gadis kecil bergaun ungu pucat selutut, dan yang paling besar, foto Rukia yang tengah tersenyum lebar sambil memegang boneka Chappy saat ulang tahunnya yang ke tujuh. Melingkar di sekelilingnya, bingkai-bingkai kecil yang menunjukkan betapa menyenangkannya masa kanak-kanak Putri Kuchiki bersama kedua orang tuanya.

Ah, andai mereka masih hidup, mungkin Rukia akan mengubur ayah-ibunya dengan timbunan pertanyaan.

Melewati sepuluh anak tangga, bocah yang sudah beranjak remaja itu sedikit terkejut ketika menjejaki lantai satu. Menangkap warna biru di meja makan dan punggung lebar menyatroni. Ia menggumam, Rukia yang perlahan mendekat bisa mendengarnya dan tanpa menunggu, suaranya sudah keluar. Ia lupa tujuan awalnya untuk menegak segelas air.

"Grimmjow, kau tidak ke sekolah?" tembaknya langsung dan lelaki itu tersenyum mendapati bahunya tertepuk pelan tanpa kekagetan berlebih.

"Kakak Ipar sudah bangun?" Ia segera berdiri. Menarik pelan Rukia untuk duduk di kursinya dan dia sendiri berpindah ke sisi lain. "Kak Ichigo memintaku tinggal di rumah untuk berjaga-jaga. Meskipun rumah ini sudah di kelilingi penghalang yang sangat kuat." jelasnya duduk dan mengamati wajah pucat yang lalu mengangguk pelan mengiyakan.

"Kakak Ipar sudah merasa lebih baik?"

"Ya, jauh lebih baik. Aku hanya tak betah jika harus terus berbaring di tempat tidur."

Bohong, dia merasa lebih buruk setelah mendapatkan pesan sekarang. Bahkan keringat dingin masih menuruni punggungnya seolah mengingatkannya untuk tak melupakan kewajibannya. Bersedia mati demi memenuhi janjinya pada Nel untuk menyelamatkan Dunia Sihir.

"Apa itu?" alihnya pada kertas di tangan Grimmjow. Memutuskan untuk melupakan keputusasaannya sebentar.

"Ini? Aku mendapatkannya dari Keigo kemarin. Teman-teman mengatakan ini kegiatan yang menyenangkan."

"Karyawisata? Kuil Kotohira-gu?"

"Kita akan menginap selama tiga hari tiga malam dan di hari terakhir akan ada sebuah festival, Hina Matsuri. Itu yang ku baca di dalam kertas."

Festival musim semi, ya? Apa para guru benar-benar akan mengadakan kegiatan ini tanpa kepala sekolah?

Rukia menarik nafas malas. "Itu adalah kegiatan tahunan di Karakura International High School untuk murid kelas satu dan dua yang memasuki ajaran baru." tuturnya membolak-balik pamflet. Terpaku pada foto kuil yang bersih dengan sakura mekar di depannya sebelum kembali bertanya. "Kau akan ikut?"

Grimmjow bersedekap. "Jika Kak Ichigo mengizinkan."

Sejauh apa yang diingat, seluruh pengajar akan ikut andil menjadi panitia dalam acara besar ini. Tanggung jawab untuk mengontrol puluhan siswa yang tiba-tiba selalu menjadi bandel saat karyawisata, mengharuskan semua staf yang dimiliki sekolah terjun sebagai pengawas. Tak ada istilah 'tidak ikut' bagi Ichigo, terlebih jika istrinya juga diharuskan datang sebagai perwakilan yang akan membawa bunga sakura. Dia akan pergi lebih dulu dari teman-temannya untuk berlatih menari dan itu membuat Rukia mendesah lagi. Sudah berapa kali ia menghela nafas?

"Bagaimana keadaan di Karakura?" Ia mengganti alur. Meletakkan pamflet lalu menatap pada adik iparnya yang melerai sedekap. Masih mengenakan seragam sekolah lengkap dengan dasi merah yang melonggar. Sepertinya ia menyukai pakaian barunya.

"Terakhir kali yang ku dengar, mereka berhasil menyelamatkan Ketua Yoruichi dan Ikkaku."

Rukia membelalak. "Apa yang terjadi?"

Grimmjow tersenyum menenangkan saat kernyitan timbul di dahi Kakak Iparnya yang terkejut berat. Matanya yang sedikit cekung membesar di antara lingkaran hitam yang belum menghilang.

"Mereka tertangkap di Seiretei hari itu. Ketua Yoruichi, Amagai, Ikkaku dan Rose. Hanya Renji yang berhasil kabur lalu kembali ke Karakura."

Jantung Rukia kian berdetak was-was. "Apa mereka baik-baik saja?"

"Sekarang? Ya, tentu saja." yakin Grimmjow. "Meski sedikit lebih lama karena Kak Ichigo tak hadir membantu. Tapi mereka sudah berhasil membebaskan Ketua, Ikkaku dan Rose. Soal Amagai, itu hanya masalah waktu." seringai Pangeran Ketiga berhasil melegakan hati Rukia. Ia menyandarkan punggungnya kembali dan memejamkan mata. Menenangkan diri yang sempat cemas karena menduga telah mengorbankan orang lain demi kelangsungan hidupnya. Meski perannya memang penting, setidaknya Rukia berharap kematian itu terpisah sejauh mungkin dari orang-orang di sekelilingnya.

Oh, dia benci sekali menjadi pihak yang lemah.

"Kakak Ipar?"

"Aku baik-baik saja." jawabnya sambil menganggukan kepala pelan. Mesin penyedot debu sudah berhenti berdengung di ruang depan. Mengganti suara ribut di kepala Rukia menjadi lebih jelas terdengar. Keluhannya pada sosok tak berdaya.

Ia menggeser kursi, bangkit dengan lunglai.

"Boleh aku tahu Kakak Ipar akan kemana?"

Grimmjow mengeluarkan tangannya dan menghentikan langkah Rukia yang baru terambil satu kali. Gadis itu mengibaskan tangan bebasnya seperti orang kepanasan. Sedikit ringisan palsu untuk lebih meyakinkan.

"Aku butuh udara segar."

Dan tanpa diduga, kursi di sampingnya ikut terdorong ke belakang. "Akan ku temani."

"Aku hanya ke kebun belakang."

"Kak Ichigo memintaku untuk mengawasimu, Kak. Aku tidak butuh penolakan." katanya teguh, menggaet lengan Rukia untuk segera berjalan dengan sedikit terseret. "Lagipula terkurung di rumah membuatku bosan. Dimana jalannya?" Ia berhenti di bawah tangga dan giliran Rukia yang menariknya keluar ruang makan. Menggeser pintu di teras belakang dan Grimmjow langsung turun menjejak rumput segar. Berniat pergi sampai lengannya tercekal lagi dan tubuhnya sedikit limbung.

"Kau harus memakai sandal jepit jika keluar rumah."

"Jepit?" Grimmjow mengernyit.

Mata Rukia berkeliling untuk mencari. Menemukan dua pasang di pojok anak tangga dan segera memakainya. Memberikan satu pasang lagi yang berwarna ungu dan sedikit kekecilan untuk Grimmjow. Dahinya meliuk lebih dalam.

"Ini…sedikit tidak nyaman." komentarnya meneliti separuh kakinya yang tetap menyentuh tanah dan kekehan Rukia membuat hatinya terketuk. Ia suka melihat bagaimana cara Kakak Iparnya menertawainya. Terutama binar jingga yang kini mulai menggantikan rona pucat di wajah Rukia. Itu warna yang Grimmjow tunggu, tanpa disadari.

"Maaf, aku tidak punya yang lain." sesal Rukia memegang perutnya dan Grimmjow hanya mengedikkan bahu, terlihat senang.

"Tak masalah. Ayo."

Ia mulai berjalan dengan santai, meski dengan janggal. Mengikuti Rukia yang berjalan di depan seperti seorang pemandu dan sesekali memutar kepala untuk melihat burung yang berkicau di pepohonan. Jalanan semakin menanjak, penuh oleh semak namun ada jalur pejalan kaki yang sepertinya memang dibuat khusus. Bebatuan ditumpuk untuk dibuat pagar setinggi lutut di sisi luar. Berwarna abu dan beberapa terlihat retak, yang terjemur sinar matahari. Tak ada keributan lain kecuali serangga dan hewan lainnya. Kehadiran manusia, nol. Tempat landai itu seperti sebuah arena untuk adu nyali.

"Ini lebih mirip hutan dari pada sebuah kebun." Grimmjow memetik buah merah serupa cherry yang tak Rukia ketahui apa namanya. Meneliti sebelum ia memutuskan untuk memakannya dan mengambil lagi. Rasanya manis.

"Menurutku juga begitu. Saat kecil dulu, aku dilarang datang kemari karena Unohana takut aku tersesat dan tak bisa kembali."

"Alasan yang masuk akal."

"Kuchiki memiliki apapun di dunia ini. Bukit yang sedang kita daki ini juga milik keluargaku." Rukia mengedikan bahu. Memberikan punggung kecilnya untuk ditatap Grimmjow yang ada di belakang. "Milikku sekarang, tapi mungkin saja akan menjadi milik pemerintah Karakura ketika aku tak kembali nanti." ralatnya seraya mengembangkan senyum kecut sebelum bungkam.

Grimmjow berhenti makan. Menelan apa yang tersisa di mulutnya lalu menunduk. Tak ada penghiburan yang keluar karena dirasa tak perlu. Ia melangkah ragu, ingin menggapai bahu yang nampak melorot karena letih memanggul beban berat. Tapi ketika tangannya akan sampai, Rukia tiba-tiba berteriak dan berbalik.

"Rasanya ototku pegal sekali karena seharian tidak bergerak." Semangatnya berlebihan dan terlihat dipaksakan. Matanya berkaca, namun Rukia berputar kembali dan melakukan pemanasan. "Sedikit berolahraga akan membuatku sehat sepenuhnya." ujarnya mengangkat tangan ke atas, mengendurkan otot dan siap membungkuk ketika tiba-tiba tubuhnya terkurung. Ia terkesiap.

Jemari Rukia, yang ada di atas kepalanya, mengaku seperti tersetrum belut listrik.

Grimmjow menekuk lutut untuk menjangkau badan Putri Tunggal Kuchiki, menumpukkan diri padanya yang tengah melirik ke bawah, pada kedua tangan yang mengait di depan perutnya. Berkedip-kedip tanpa berani bernafas dan sibuk menampik pikiran-pikiran negatif. Ia tak mau setuju pada prasangka soal prilaku adik iparnya yang akan membuatnya mati di tangan kakak kandungnya sendiri. Tidak, tidak. Itu tidak mungkin.

Pria jangkung itu mengembus nafas dan Rukia merasa bulu kuduknya menegak tanpa izin. Ia ingin pergi dari rangkulan, tapi ototnya justru bermasalah. "Aku akan melindungimu, Kakak Ipar. Kau pasti akan kembali, aku janji." Sebuah bisikan ringan tepat di samping telinga membuat suasana berubah. Rukia butuh menjauhkan diri, segera dari aroma pinus itu.

"Grimm…jow…" Ia bergumam dan mengerutkan bahunya canggung. "kau…terlalu dekat." gumamnya tersenyum gagu meski tak dilihat dan anehnya, Pangeran Ketiga Karakura tak buru-buru mundur. Ia terdengar mendesah berat lalu dengan perlahan, seolah enggan, melepas Rukia dan mengambil jarak. Wajahnya murung, tertunduk di bawah bayangan pohon. Menahan sesuatu yang menggigit rahangnya hingga terlihat tegang. Ia persis berekspresi kecewa.

Rukia berdehem. Memukul dada Grimmjow ragu dan tertawa hambar. Tiba-tiba saja ia kehilangan kepandaiannya berbasa-basi. "Terima kasih." ucapnya dan lelaki itu mendongak. Tersenyum mengiyakan namun tak selebar sebelumnya. Mencoba menyembunyikan raut mendung, kepalanya kembali turun. "Ah, iya. Tadi aku mau berlari." kelit Rukia antusias dan berjalan mundur tanpa tahu arah, terlalu nampak ingin menjauh. Ibu jarinya menunjuk-nunjuk ke belakang, tak tentu ke sudut mana. "Kalau begitu aku lari dulu. Sampai nan—ah!"

Suaranya terputus cepat.

Kaki Rukia nakal bergerak. Tanpa sengaja terantuk pagar batu dan susunannya merapuh, pecah oleh pijakan tak seberapa yang mengakibatkan pinggiran tebing amblas. Ia tak mampu berbuat banyak. Keseimbangannya musnah. Dirinya bagai ditarik tangan setan yang muncul dari rekahan bumi dan meluncur licin, menuju jurang neraka. Memimpin sebuah teriakan kencang untuk bergema nyaring.

"Kyaaaaaaaaaaaaaaa!"

"Kakak Ipar!"

Grimmjow terlambat bereaksi. Jemarinya mencengkram udara kosong, tak berhasil menangkap. Melihat Rukia hilang di balik pepohonan dan suaranya perlahan tertelan. Ia panik. Mengambil beberapa langkah mundur untuk ikut melompat namun terhenti. Dahinya terlalu ganas berkedut. Respon terhadap sebuah reiatsu yang sangat kuat, yang menghentikan laju pernafasannya sampai kering. Seseorang yang akan memelototinya dengan mata api…sebentar lagi.

.

.

.

Rukia menahan pekikan. Tulang punggungnya mematahkan ranting dan tubuhnya terbolak-balik untuk membentur cabang yang lebih besar. Dedaunan rontok memenuhi rambut hitamnya yang berantakan. Kakinya tersangkut singkat di percabangan dan sebelum sempat ia menarik nafas, dirinya sudah melesat lagi dan mendarat dengan berdebam. Debu langsung membumbung ke udara bercampur dedaunan kering, menyisakan mulutnya yang kemudian mengerang. Merintih tertahan dengan ringisan sakit. Ia tak mampu bergerak dan memilih untuk tergeletak di sana. Menanti jantungnya berhenti berdetak dan rohnya meninggalkan tubuh astralnya. Setidaknya itu yang ia pikirkan sebelum sesuatu menyenggol betisnya, dengan keras.

"Hei."

Senggolan yang lebih keras.

Lebih keras.

Lagi…lagi…lagi…

"Bangun, kau belum mati."

Rukia membuka mata dengan lebar. Melihat bayangan hitam yang menutupi cahaya matahari terik dan membuatnya menyipit. Ujung rambut runcing bergoyang gelap. Tak terlihat jelas kecuali emerald cerah yang kini membawahi viola Rukia yang terkejut. Rupa tak dikenal. Nampak tampan dan masih muda, mungkin sejawat. Kerutan di dahi laki-laki itu sedikit renggang setelah mendapat kerjapan bingungnya.

"Akhirnya kau sadar juga." Suaranya semerdu angin yang lewat. Lembut juga ringan. Tubuh kecilnya berbalik, menarik kaki tanpa alas lepas dari betis Rukia. Menjejak tanah cokelat seperti sedang berjalan di karpet bulu mahal. Anggun dan menyatu. "Apa lihat-lihat?" Ia menggertak tak suka.

Rukia terkesiap. Segera bangun dari zona nyamannya dan terkesima karena punggungnya lancar bergerak. Ia tak cidera parah, hanya beberapa luka kecil di lengan dan betis yang robek. Matanya sibuk menekuri seluruh keajaiban mustahil yang terjadi pada tubuhnya ketika seseorang muncul dari balik pepohonan dan berseru:

"Ketemu!"

Hembusan angin membelai wajah Rukia untuk menoleh. Perempuan berkimono putih, rambut panjang secemerlang platinum dan halus yang terurai menghias raut dewasanya yang bak putri pada Zaman Heian. Kulit susunya bercahaya di bawah matahari. Memantul suatu siluet yang belum Rukia kenal, tapi terasa dekat.

"Tuan, kuharap Anda bisa memperbaiki kebiasan menghilang tiba-tiba itu lain kali." Dia mengeluh pelan, menggeleng kepalanya dan kemudian netra peraknya bersirobok dengan Rukia. Ia terkejut. Seperti gaya gravitasi, ada intuisi kuat yang menarik untuk tak melepas tatap hingga detik-detik ke depan.

"Ini sungguhan yang asli?"

"Sepertinya begitu."

"Dewi'kah?"

"Bukan!" Rukia merespon cepat dengan berteriak saat Si Wanita menebak konyol. "Aku terjatuh dari tebing di atas sana!" tunjuknya geram namun wanita di depannya hanya diam. Mengamatinya dari atas ke bawah, kanan ke kiri, dari sudut mana saja sampai membuat Rukia terganggu.

"Ini tetap saja membuatku terkejut. Dia…mirip sekali."

"Aku tahu."

Si bocah lelaki menyahut dengan malas. Memasukkan kedua tangan pada celana panjang hitamnya yang compang-camping di bagian mata kaki. Memperlihatkan persendiannya yang kokoh. Dandannya lusuh, sedikit terlihat seperti pengemis, dengan kemeja yang lengannya juga telah dirobek. Menyisakan serabut-serabut benang berwarna abu-abu tua. Tapi Rukia bisa menangkap aura yang sangat kuat darinya.

"Apa kalian penduduk sini? Tahu jalur untuk naik ke atas? Ku rasa aku harus segera kembali." Ia berusaha meminimalisir lamanya berada di sana. Instingnya kuat. Dua orang itu bukan tandingannya jika ia dirampok, diculik atau kemungkinan lainnya, dibunuh. Lebih cepat pergi, lebih baik jika tak ada seseorang di sisinya.

"Hei, kau." Tiba-tiba bocah pendek menunjuk Rukia dengan tegas. Wajahnya yang datar berkerut masam. "Tidak perlu berpikiran yang buruk tentangku. Aku bukan perampok, penculik atau pembunuh." katanya gamblang dan membuat Rukia terhenyak. Oh, tunggu, tunggu. Ia tahu kemampuan mengerikan itu.

"Aku tidak suka melakukan hal yang tidak menguntungkan seperti itu, jadi hentikan imajinasi bodohmu."

Wanita di depan Rukia terkikik. Menyembunyikan tawanya dengan begitu feminin sementara dia sendiri masih tercengang. Menganga dengan dugaan paling tepat. Dia tahu siapa mereka. Tidak, tidak…yang benar saja… Mereka berdua adalah penyihir?!

"Ka…kau..."

"Daripada itu, Nona, bagaimana jika aku meramalmu." potong Si Wanita merentangkan satu tangannya, meminta uluran tangan. "Kau tak perlu pergi kemana-mana karena pangeranmu akan segera datang. Cukup berdiam diri di sini saja dan menunggu."

Tak mendapat tanggapan, tangan Rukia yang masih diam ditariknya. Dibolak-balik seraya berucap, "Kau tidak merasa heran karena bisa hidup setelah jatuh dari atas sana?"

"A…aku tidak mengerti…"

Bocah judes mendengus keras. "Mereka hanya mirip di wajah saja. Yang ini jelas sekali tidak pintar."

"Hey—"

"Dia yang menolongmu, memberikan energinya supaya kau tetap hidup."

"Apa?"

"Nah, Nona, mau mendengar nasibmu di masa depan?" Kembali wanita berhiaskan jepit rambut biru dengan simbol bintang di kepalanya itu memotong. Menekuri garis tangan Rukia begitu serius. "Jangan khawatir, kami bukanlah orang jahat. Kita sudah ditakdirkan untuk bertemu di sini." Ia bicara sendiri, tak peduli Rukia tengah mengernyitkan dahi. Mata wanita itu sibuk mengikuti telunjuk dinginya yang menyentuh telapak Rukia dan menusuk nadi dengan kuku tajamnya.

"Hey, apa yang—"

"Garis tanganmu sangat rumit, tapi aku di sini untuk membantumu…Pembawa Pesan." Darah merembes keluar dan membasahi pergelangan tangan. Berwarna merah segar serta kental. Membuat Rukia meringis sekaligus tersengat kaget.

"Siapa…kau…"

"Kau tidak mau mendengar ramalanmu terlebih dahulu? Aku bisa memperkenalkan diri setelah selesai nanti dan—oh! Kurasa aku akan menyukaimu, itu sudah pasti." Wanita cantik itu tersenyum. Melirik anak lelaki yang berdiri di bawah pohon dengan tangan terlipat di depan dada. Seseorang yang akan Rukia panggil dengan sebutan 'Bocah Spike'. "Rukia, bukan?"

"E…eh?"

"Hidupmu sangat sulit, ya. Mirip ibumu."

"Kau kenal ibuku?" kejutnya, mendengar gumaman panjang yang datar.

"Hemm…kau akan mati demi orang yang kau cintai dan seseorang yang mencintaimu akan mati demi dirimu, persis ibu kandungmu. Sejarah yang terulang sepertinya."

Ibu kandung?

Batin mulai menggugah rasa tak nyaman. Pedas dan pengar, di bilik jantung terasa dentum tak sehat. Bayangan hitam yang tak bisa ia kenali memiliki sebutan dalam kepalanya, 'ibu kandung'. Bahkan yang terngiang saat seseorang menyebut kata 'ibu' adalah wanita berambut cokelat yang ada dalam lukisan.

"Jadi, semua ada di sini." Ia mengangkat tangan Rukia yang sudah tak berdarah. Memutarnya untuk memperlihatkan garis tangan yang dialiri darah seperti serabut akar tumbuh. Ajaib. "Pikirkanlah baik-baik. Mengorbankan diri demi orang yang dicintai bukanlah sebuah tindakan yang bijak kecuali kau ingin menyiksanya dengan rasa kesepian dan penyesalan seumur hidup. Tapi melindunginya juga tidak dikatakan salah. Semua akan bergulir sesuai kehendakmu, tanganmu yang akan tergerak untuk memilih."

"Rukiaaaaaaa!"

"Ah, dia sudah datang…pangeranmu." Wanita berkimono itu melepas tangan Rukia dan mundur. Diikuti Bocah Spike yang juga berdiri tegak dan menatapnya dengan dingin. Mereka berdua nampak membias, seperti benda transparan dan saat dua kaki kecil ingin melangkah mendekat, kelumpuhan melandanya hingga terjerambab di atas tanah kering. Rukia hanya bisa merentangkan satu tangannya tanpa daya.

"Tunggu! Kenapa kau bisa tahu tentang ibuku?!"

"Kau tahu dimana harus mencariku."

Yang terlihat kemudian adalah sebuah senyuman hangat. Bibir putih yang mengingatkannya pada bayangan seseorang...yang samar ia lihat saat sedang menatap mainan bayinya yang menggantung di udara. Suaranya yang begitu lembut dan kerap mengajaknya untuk tertawa. Putih tertutupi hitam. Ada tabir yang sulit sekali Rukia buka. Oh, kepalanya mulai kesakitan.

"Siapa…siapa kau sebenarnya?"

"Rukia, aku adalah 'Teman Karibmu'…" Angin berhembus bersama suaranya yang terpantul dimana-mana. Menajamkan penglihatan buram dari mata yang setengah menyipit karena menahan sakit. "…Shode no Shirayuki."

.

.

.

Ichigo baru saja masuk rumah ketika ia melihat istrinya tengah tertawa di teras belakang bersama Grimmjow. Membuatnya mematung dengan mata menyipit dan kernyitan tak suka. Ia bergegas pulang setelah meminta izin dari Wakil Kepala Starrk karena cemas. Tapi sepertinya omelanlah yang akan keluar nanti karena melihat Rukia tak beristirahat sesuai perintahnya. Ia melempar tas ke sofa dan akan beranjak keluar ketika Unohana memanggil. Mengabarkan tentang balasan Guru Urahara di Karakura dan melaporkan keadaan istana yang menyita kesempatannya untuk mengikuti Rukia serta Grimmjow. Mereka berdua telah pergi. Ichigo hanya bisa menajamkan konsentrasinya pada reiatsu Rukia yang perlahan bergerak menjauh.

"Seiretei sudah berhasil ditaklukan dan keadaan di Karakura berangsur tenang. Kepala Sekolah Urahara akan menjemput setelah semuanya benar-benar selesai."

"Aku akan memberitahu Grimmjow juga Rukia. Bisa tolong sampaikan pada Guru—"

Tubuh Ichigo tiba-tiba menegang. Menoleh keluar, menerawang ke balik pepohonan dengan wajah terkejut. Nyiur dedaunan membuat ketakutannya hidup. Ia memejamkan mata, mencoba menajamkan konsentrasi dan memang—reiatsu Rukia mendadak hilang. Seperti saat di Istana Karakura dulu, ketika Espada menculiknya.

"Rukia…"

Apa yang terjadi? Apakah jangan-jangan…serangan?

"Ichigo!"

Ichigo bergerak cepat. Melesat tanpa alas kaki menjejaki rerumputan dan ber-shunpo sekilat yang ia bisa. Jantungnya tak berhenti mengirim sinyal perusak yang membuat tubuh Panglima Karakura gemetar. Tersandung akar pohon saat akan ber-shunpo lagi dan tak peduli pada ranting tajam yang menusuk telapak telanjangnya. Hanya dengan membayangan mereka akan terpisah kembali membuat Ichigo lupa bagaimana cara mengendalikan diri. Ia berakhir di dalam hutan, di hadapan seorang pria berseragam yang tengah memelototi jurang dan berdiri kaku. Pikiran Ichigo berkecamuk tak tentu.

"Dimana Rukia!?"

Ia berteriak tak wajar. Mengepalkan tangan dengan reiatsu tak stabil dan membelalak ketika melihat pagar tebing yang pecah. Tanda terakhir keberadaan Rukia yang nampak mengerikan dan tanpa ragu, kaki Ichigo berlari untuk melompati pagar. Terbang menyaingi burung bebas dengan berlandaskan pucuk pepohonan. Menuruni jurang dengan cara yang ekstrim, cara yang sama yang dilakukan oleh istrinya namun dengan hasil berbeda. Ichigo akan tetap hidup, tapi ia tak yakin manusia biasa seperti Rukia akan selamat setelah jatuh dari ketinggian ratusan meter. Dan hal itu membuatnya semakin terguncang. Ketakutan pada gema dalam kepalanya yang mengatakan bahwa Rukia telah mati.

Tidak…jangan ambil dia.

Ichigo memejamkan mata kuat. Berusaha memfokuskan diri pada medan yang ada di depannya, berbatang-batang pohon yang saling menyilang dan harus dilewati. Kakinya menggesek kulit batang kasar yang menukik ke bawah. Meraih percabangan, tanganya cekatan melempar diri pada percabangan lain untuk bergelantungan. Melompat tangkas layaknya tupai, dari satu dahan ke dahan yang lain. Pergerakan lihai yang sangat tepat tanpa kecacatan. Membawanya turun dengan mulus bersama dedaunan yang rontok.

"Rukiaaaa!"

Ia berteriak kencang begitu mendarat. Menghiraukan perih dan jejak merah dari kakinya yang kalang-kabut mencari.

"Rukiaaa!"

Hanya suara Ichigo yang bergaung di sekelilingnya. Tubuhnya berputar-putar, mencari ke segala penjuru dengan awas. Tak ada tanda-tanda kehadiran Sang Pembawa Pesan atau paling tidak, bekas ia terjatuh. Dataran itu terlihat alami, bersih dan menatap Ichigo dengan bingung.

"Rukiaaaaa!"

Teriakan frustasi menggelegar, sekali lagi. Menyuarakan kegundahan yang diliputi putus asa. Buku-buku jemari tertekan hingga menyaingi ronanya tulang. Berkerut telapak tangannya, seperti remasan kain usang. Ichigo berdiri di bawah matahari tanpa sedetikpun menghilangkan tekukan dalam dikeningnya. Ia berantakan. Dengan lutut gemetar tetap berusaha mencari.

"Ru—"

Dadanya berdetak keras. Bereaksi pada reiatsu yang kini terpancar sangat kuat, sangat dekat dengannya. Seolah keberadaan Rukia semula sengaja disembunyikan dan kini dibebaskan. Rukia seperti memanggilnya, menuntun ke arahnya. Mengajak Ichigo menulusuri perdu yang membuatnya masuk ke pinggiran hutan. Sebuah pohon ek yang sangat besar dan rindang, tumbuh di dekat tepian jurang dan melindungi Rukia yang tengah tertelungkup di bawahnya.

"Rukia!"

Ichigo berlari dan mendapati tubuh kecil itu bergerak untuk menoleh. Ia memeluknya begitu erat, mengangkatnya hingga terduduk dan hati Sang Pangeran bergumam lega kala lengannya telah membelit protektif.

"Ichigo…"

"Demi, Penguasa Tertinggi, Rukia. Aku sangat ketakutan saat reiatsu-mu tiba-tiba menghilang." desahnya bergetar.

Rukia berkedip-kedip. Melirik rambut oren yang disangkuti daun cokelat kering dan potongan ranting kecil. Ia merasa senang Ichigo berhasil menemukannya. Tapi sedetik kemudian muncul rasa bersalah ketika melihat warna merah menetes dari telapak kaki besar yang tertusuk pecahan kulit kayu. Jemari yang mengurung wajahnya saat ini juga menggigil. Prianya terlihat begitu lemah, bahkan baru pertama kali ia melihat. Ichigo yang selama ini menumpas banyak monster dengan begitu kuat, sekarang berubah tak berkutik.

"Ichigo, kakimu…"

"Jangan pernah meninggalkanku lagi, Rukia, ku mohon."

Bisikan kecil itu menohok hati Kuchiki Muda. Permohonan tulus yang seharusnya membuat dirinya berbunga-bunga tapi justru terdengar menusuk telinganya. Ramalan yang ia terima beberapa saat lalu bermain lagi seperti orckestra upacara berkabung.

"Kau akan mati demi orang yang kau cintai…"

Rukia menarik tangan, mengusap pipi yang tergores kecil dan memejamkan mata. Mencari kesiapan untuk mulai menerima takdir baru, perpisahannya dengan Ichigo. Ia tak sanggup mengiyakan atapun menolak. Hanya menanggungnya sendiri, mengucap lirih sesuatu yang mungkin nantinya tak sempat disampaikan. Ichigo tak boleh tahu tentang nasib naasnya kelak.

"Maaf…Ichigo…"

Bibirnya bergetar seraya menyebut nama yang begitu manis, yang akan selalu ia rindukan. Hidung bersinggungan, pengalihan apik untuk sebuah rahasia. Merapatkan wajah kian dekat. Mendorong bibir untuk menyatu, menautkan rasa sayang tanpa balutan nafsu. Hanya gerakan lambat yang saling melumat, mendekap, bertukar kelegaan setelah bertemu kembali.

Mata Rukia terbuka, menatap topaz yang menatapnya dengan lembut. Mendapat senyuman dari wajah tampan suaminya yang sekarang sudah hidup kembali. Nafas berbenturan, menyapu permukaan kulit masing-masing yang memerah. Rukia sungguh mencintai Ichigo.

"Kak Ichi—"

Grimmjow menahan diri untuk merapat jarak. Dia beraut terkejut. Mengerutkan dahi, memalingkan wajah seolah menolak untuk melihat apa yang baru saja tersorot di indigonya dan mengepalkan tangan. Rukia memilih bersembunyi di balik dada Pangeran Kedua Karakura yang menuntunnya untuk berdiri. Wajahnya tertunduk. Ada rasa bersalah yang lain, yang tak Rukia pahami saat melihat Grimmjow mengeluarkan ekspresi terluka.

"Apa kau juga melompat dari atas, Grimmjow?" tanya Ichigo. Adiknya mengangguk, mendekat pelan sementara tatapan Sang Kakak menerawang ke langit. Rukia tak berani menatap azure yang tengah menatapnya lekat. "Kurasa Unohana pasti akan datang mencari. Kita tunggu saja di sini."

Pangeran Ketiga mengangguk lagi. Berbalik badan dan saat itulah ledakan besar tiba-tiba terjadi.

Pusara yang kencang menabrak Grimmjow hingga terpental ke pohon sementara Ichigo berguling bersama Rukia yang terpekik. Asap kecokelatan dari debu membungkus udara, merajalela ke seluruh area dan menyisakan kepulan.

"Kau tidak apa-apa?"

Rukia mengangguk. Meringkuk di bawah Ichigo yang menimpanya dengan dua lengan menumpu badan. Matanya tajam melesat ke depan, menggapai sosok samar di balik dinding kecokelatan yang mulai merebak hilang. Dua mahluk yang langsung membuat Ichigo membelalak kesal.

"Grimmjow!"

"Aku di sini."

Lelaki berseragam itu telah kembali dan berlutut tepat di samping Ichigo. Wajahnya tercoreng debu dan juga terlihat tak kalah kesal dari kakaknya. Ia telah menggenggam pedang, mendengus tak percaya begitu mengetahui dengan jelas penyerang yang baru saja bermain-main dengannya.

"Espada, huh?"

Seringainya terbentuk nyalang.

"Tidakkah itu terlalu berlebihan?" Si wanita berkuncir dua berkomentar datar pada lelaki di sebelahnya, pria berambut merah jambu dengan kacamata seperti ilmuwan, tengah berkacak pinggang seraya tersenyum puas.

"Itu'kan penyambutan untuk Sang Pembawa Pesan." Ia berkilah. Pria berbadan bongsor di sampingnya bersedekap tanpa suara. Rambut bergelombang sebahunya bergoyang terkena angin. Pandangannya beradu dengan Rukia yang berangsur kaget.

"Starrk Sensei…Harribel…san…?"

Harribel menatap dingin. Menggerakkan satu tangannya untuk membuka masker yang selama ini menutupi separuh wajahnya, deretan gigi monster yang pernah Rukia lihat di wajah Ichigo dan membuatnya bergidik ngeri. Ia mencengkram kemeja Ichigo tanpa sadar dan menelan ludah.

"Aku ambil alih shinigami-nya. Syazel, kau tangkap gadis itu." perintahnya dan Syazel berteriak geram.

"Kenapa kau yang memerintah!"

"Aku urus wanita itu, Kak."

"Baik."

Ichigo merentangkan satu tangannya, memanggil Zangetsu yang langsung muncul dan bersiaga pada dua orang lelaki berbaju putih Espada. Tubuh besarnya menjadi tembok persembunyian Rukia yang menatap takut-takut. Kakinya siaga untuk melompat mundur atau menahan serangan kapan saja. Tak jauh darinya, Grimmjow mulai bertarung sengit.

"Serahkan saja gadis itu, aku tidak suka bertarung."

Ichigo menyeringai sinis. "Aku sama sekali tidak menyadari jika kau adalah seorang Espada, Wakil Kepala."

"Terima kasih, itu pujian untukku. Alat yang kuhasilkan dari eksperimen itu sangat membantu, iya'kan, Starrk?" timpal Syazel mengusap-usap telapak, seperti bandit yang tak sabar ingin membuka kantong berisi kepingan emas. "Bagaimana jika kau juga ikut menjadi ob—"

"Kau urus yang perempuan." potong Starrk, melangkah mantap seraya mengeluarkan lempengan tajam mengkilap dari sarangnya. Ia menghilang cepat, tak mendengar teriakan marah Syazel karena ikut memerintahnya dan muncul tepat di depan Ichigo yang menahan dengan pedangnya hingga berderit ngilu. Satu tangannya melilit pinggang Rukia dan menariknya, melompat menjauh.

"Bankai!"

Jubah hitam berkibar di udara. Tebasan panjang yang melintang di arahkan ke depan, menuju Starrk yang menangkis mudah dan menciptakan ledakan lain. Merobohkan dua pohon sekaligus dan Espada itu melejit kilat. Ichigo mendecih. Terdorong mundur oleh aduan kuat yang tak bisa ia tahan hanya dengan satu tangan. Menyakiti pergelangannya yang tertekuk ke dalam. Starrk bukan lawan sepele. Jika serius, Ichigo tahu ia harus mengerahkan seluruh kemampuannya, tanpa Rukia yang tengah ia gendong. Tapi melepasnya sama saja menyerahkan gadis itu ke kematian.

"Jangan mengurusi wanitamu ketika sedang bertarung, Shinigami." cemooh Starrk, mengayunkan pedangnya kencang dan berhasil merobek kulit dada Ichigo yang terlambat menghindar ke belakang. Darah menetes, membuat Rukia membelalak takut.

"dan seseorang yang mencintaimu akan mati demi dirimu…"

Ia ingat kembali pesan untukknya. Seseorang yang mencintainya akan mati dan tak ada yang lebih mencintainya selain Ichigo. Mungkinkah semuanya akan terjadi detik itu juga? Tidak!

Rukia terpaku dalam.

Ia meronta. Berteriak seraya menendang-nendang di udara. "Turunkan aku, Ichigo! Bertarunglah tanpa diriku! Kau tidak boleh mati!"

"Berhenti bergerak, Rukia."

"Turunkan aku! Jika kau mau melindungiku, kau harus bertarung dengan benar."

Ichigo mendelik tajam. Ia tak menyangka akan adu mulut kembali dengan istrinya di saat genting. Keningnya berkedut semakin kencang. "Berpegangan saja padaku."

"Tidak! Kau tahu dia bukan lawan yang bisa kau kalahkan hanya dengan menggunakan satu tangan. Cepat tu—khh!"

Rukia menggigit lidahnya sendiri saat terpelanting jatuh dari Ichigo dan berguling beberapa meter. Mulutnya penuh oleh butiran pasir akibat serangan tiba-tiba. Ia meringis mendapati punggungnya berdenyut nyeri saat akan bangun.

"Kalau mau cepat seranglah saat sedang lengah." tukas Syazel menelengkan kepala dengan wajah bosan. Ujung-ujung jarinya mengeluarkan asap putih setelah mengeluarkan serangan.

"Jangan membunuhnya. Aizen-sama menginginkan gadis itu hidup-hidup."

Ichigo terengah. Keningnya mengucur aliran darah yang merembes hingga dagu. Ia bersandar pada batang pohon yang berbunyi, goyang lalu tumbang. Matanya terbuka sebelah, kelelahan dan menahan sakit di tulang belakangnya yang sepertinya retak. Tangannya bertumpu pada pedang, bangkit berdiri.

Rukia tergeletak dan tengah menatapnya, khawatir. Perasaannya beragresi di dalam dada. Tak jauh darinya, Grimmjow juga masih terus bertukar serangan dengan Harribel. Bagian paha celanaya telah robek dan juga mengeluarkan darah. Semua terjadi demi melindunginya yang sangat lemah dan tak bisa apa-apa. Ia mengepalkan jemari, terisak.

Dentingan pedang kembali terdengar. Ichigo menebas kuat, melompat maju untuk mendekati perut Starrk yang terbuka lebar dan menusuknya. Tak berhasil. Starrk berkelit menyamping, memojokkan lawannya hingga terjerambab di atas tanah dan kembali dorong-mendorong pedang. Kaki Ichigo menyentak, membuat Starrk terpukul mundur dan berhasil mencicipi lengan kanannya yang kosong. Ia segera bangkit, berlari menuju Rukia yang sudah didekati Syazel dengan terburu-buru. Kakinya melompat ke batang pohon, terbang ke udara dan Starrk kembali mengiriminya tebasan panjang yang memotong perjalanannya.

"Sial."

Ichigo membalik tubuh, berjinjit kuat pada batang pohon sebelum meluncur untuk menghadiahi Starrk sebuah serangan pengalihan.

"Getsuga Tenshou!"

Rukia terduduk kaku. Di hadapannya sudah menjulang sosok menyeringai dengan mata bengis yang menyerupai penjagal. Tangannya terjulur dan sebelum sampai di ujung rambut Rukia, dirinya melirik ke belakang dan berbalik cepat. Menarik pedang dan berbenturan dengan milik Ichigo yang menyalak. Panglima Karakura menggeram galak.

"Jangan…sentuh dia…"

Syazel mendengus. Menampilkan sernyum licik yang mengerikan dan menunggu. Belalakan mata Ichigo, rintih tertahannya juga cipratan darah yang kemudian membuncah ke udara.

"Kena jebak." Pria Espada itu berucap enteng kala tubuh di hadapannya menegang.

"Ukhhh…"

"Sudah dia katakan, jangan mengurusi wanitamu saja."

"…kkhh…"

Ujung pedang menembus perut berbalut jubah hitam. Perak tertutupi cairan pekat nan amis dan bergerak pelan, semakin ke depan diikuti erangan pilu yang menggetarkan. Starrk berdiri dengan memegang gagang pedang yang menghubungkan rantai berjangkarnya jauh di belakang. Satu tangan menggerakan pedang menggunakan sihir, memutar sisi pedang hingga menggerus organ dalam Ichigo dan memuntahkan darah.

"Ohoeek!"

"Ichigo!"

Rukia tak sempat meraihnya yang telah ditarik mundur. Tergelimpang di dekat Starrk tanpa tenaga tersisa. Pedang hitam terlepas dari genggamannya dan menghilang. Darah merembes ke permukaan tanah, membentuk genangan seperti bekas siraman.

"Tidak…jangan…"

Jangkar berantai melejit masuk, berubah kembali menjadi katana tajam yang mengkilap. Tangan penggenggamnya mulai naik, membalik mata pedang mengarah pada jantung Ichigo dan mempersiapkan diri.

"Ja…ngan…bunuh…"

Sang Panglima Karakura mengerang pelan. Tak mampu membuka mata, hanya mencoba mencari suara Rukia yang kalah oleh dengungan nyaring. Dalam hati mengumpat, menyalahkan kelemahannya yang sekarang tak bisa melindungi gadis itu lagi. Ia ingin memeluknya, mengatakan maaf.

"Jangan…"

"seseorang yang mencintaimu akan mati demi dirimu…"

"…tidak…"

"seseorang yang mencintaimu akan mati demi dirimu…"

"…ku…mohon…"

"seseorang yang mencintaimu akan mati demi dirimu…"

"JANGAN BUNUH ICHIGOOO!"

Tanah bergetar hebat. Seluruh muka bumi bergoyang keras dan retakan merekah yang begitu besar membelah cepat, memisahkan Ichigo dari Starrk yang berlutut karena hilang keseimbangan. Raungan keras menggelegar. Dari lubang hitam, dua ekor singa bersayap mendobrak keluar dan terbang ke langit. Singa yang pernah Rukia lihat di Hueco Mundo dan menyerangnya dengan bola api, kini mengaum kencang, menyambar Syazel dan Starrk dengan taring besarnya. Menjauhkan mereka dari Rukia yang terkesiap.

Grimmjow dan Harribel berlompatan mencari pijakan baru, menghentikan pertarungan dan berkonsentrasi untuk menyelamatkan diri dari tanah yang tiba-tiba runtuh. Tebing yang mereka jejaki mulai berjatuhan seperti bangunan tua yang terkena longsor.

"Starrk!"

Harribel berteriak kencang, mendongak ke atas pada pria espada yang kini tengah terjepit di mulut singa dan berusaha melepaskan diri. Kebingungannya teraduk rata, mencari tahu darimana hollow berasal dan siapa yang telah memanggilnya. Mata bajak lautnya langsung mengarah pada tubuh mungil yang kini tengah berlari ke tebing dan melompat. Ia sungguh tak mempercayai kenyataan.

"Ichigoo!"

Rukia merentangkan kedua tangannya untuk menangkap tubuh Ichigo yang jatuh. Mendekap erat, memejamkan mata dan cengkraman kencang kemudian menyelimutinya. Kontraksi otot yang sangat besar. Ayunan yang membuat Sang Pembawa Pesan terbang di atas hutan dan tercengang. Hollow menangkapnya dan mengaum ketika mata mereka bertatapan. Mengirim maut yang lain. Oh, mereka akan menjadi makan siang seekor singa raksasa.

Tubuh Rukia bergidik. Sapuhan angin membawanya mengeratkan diri pada dada Ichigo, pasrah pada apa yang akan terjadi. Mereka meluncur ke bawah begitu cepat. Membuat nafas Rukia tertahan sakit. Menukik tajam, membenturkan diri ke tanah tanpa ragu dan secara ajaib, hilang dari pandangan mata.

.

.

.

Tubuh Rukia berguling beberapa kali di dataran keras bersama Ichigo yang selalu setia ia peluk kencang. Dirinya mengerang, menggelengkan kepala yang terasa berputar di atas tubuh Sang Pangeran yang tak bergerak dan melihat sekeliling. Hempasan angin menyapu debu ke arah Rukia ketika hollow mendarat. Ia mengaum sekali, menggerakkan kedua sayap putihnya sebelum tertekuk lalu berdiri tenang. Menelengkan kepala, menatap Rukia yang mengerjap melihatnya. Moncong berkumisnya perlahan mendekat. Menyundul-nyundul tubuh Ichigo yang tergeletak dengan dengusan yang menerbangkan rambut Sang Shinigami. Ia nampak tak berbahaya. Justru terlihat bersahabat dan…jinak. Putri Kuchiki tak habis bertanya, tapi ia memilih untuk melancarkan nafasnya yang sempat rehat terlebih dulu. Diangkatnya tangan ragu, antara berani dan tidak, mendekati rambut di kepala singa yang putih dan hollow itu tanpa menunggu waktu, mendekatkan kepalanya. Menyentuh telapak tangan Rukia yang berjengit dan terasa…hangat hingga ia memejamkan mata.

Rukia terpana tak percaya.

Hollow itu menerimanya, menyelamatkannya dari para Espada dan itu yang terpenting. Dia bukanlah seorang musuh.

"Hollow! Ada serangan hollow!"

"Siapkan senjata!"

"Ada hollow!"

Tubuh Rukia berbalik cepat. Membelalak waspada pada sekumpulan prajurit yang sudah melingkarinya. Zirah hitam dengan tombak serta pedang yang menghunus ke depan, mengancam hollow yang sudah menggeram, menyeringaikan taring dan membuka sayap, melindungi Rukia. Gambar burung phonix berwarna emas di bagian dada para prajurit mencolok di dalam ketegangan, lambang Kerajaan Karakura yang langsung melegakan hati seorang anggota kerajaan, Rukia Kurosaki.

Demi Tuhan, ia telah kembali ke dunia sihir.

"Serang!"

"Tunggu!"

Seruan dari dalam pintu masuk istana menghentikan pergerakan. Renji berjalan cepat, melompati dua anak tangga diikuti Nel yang mendekat tak kalah tergesa.

"Itu Pangeran Ichigo!" Ia berteriak marah, mendorong prajurit gusar agar segera minggir dan berdiri kaku. Nel yang baru tiba langsung membekap mulut.

"Penguasa Tertinggi, apa yang terjadi?!"

"Nel, tolong selamatkan Ichigo, dia terluka sangat parah." Rukia mengangkat tangannya yang berlumuran darah juga gemetar, meraih lengan Nel yang membantunya untuk bangun. Kakinya tak mampu menopang, terasa lunak tanpa tulang.

"Panggil Putri Orihime ke Ruang Pemulihan. Kau, bantu aku membawa pangeran kesana."

"Baik, Wakil Panglima."

.

.

Seharusnya di dunia sihir ada dokter bedah. Tidak, Orihime lebih baik dari dokter bedah. Ia mampu menyembuhkan orang terluka lebih cepat dari sebuah operasi. Pemulihannya bahkan sangat instan tanpa waktu berbulan-bulan. Ichigo pasti bisa disembuhkan, itu pasti. Tapi sekarang sebuah keraguan menyelinap masuk ke relung hati Rukia setelah melihat Orihime terengah, banjir keringat dan berkali-kali berusaha menutup luka yang tetap menganga mengeluarkan darah. Kedua tangannya yang diselubungi cahaya putih di atas perut Ichigo terlepas, membiru karena terlalu banyak menggunakan sihir. Ia begitu kelelahan.

"Kak Ichigo sekarat. Aku tidak bisa menyembuhkan tubuh yang tidak merespon sihirku."

Berita itu seperti letusan tembakan yang mengarah ke jantung Rukia. Mengosongkan pikirannya untuk sesaat sebelum ia teringat kembali pada takdir yang telah ia ketahui. Tubuhnya melimbung, tertangkap oleh Nel di sebelahnya.

"Nel, bisa bangkitkan Hichigo? Hanya dia satu-satunya harapan terakhir." pinta Orihime, membuka sedikit celah kehidupan dalam ruang mati Rukia.

Nel tampak berpikir, melirik Renji yang ada diseberangnya dalam kesunyian. Ruang pemulihan tertutup rapat, hanya membiarkan mereka berempat masuk untuk merawat Ichigo dan sisa anggota kerajaan lain sedang menunggu di luar.

"Kau tahu dia tidak akan semudah itu memberikan pertolongan, bukan? Hichigo menjadi Penyihir Penjaga karena kalah dari Ichigo. Mereka tidak berada dalam hubungan yang baik." tolaknya dan Rukia berdiri cepat.

"Kumohon…cobalah segala cara. Jangan biarkan Ichigo mati, Nel…" mohon Rukia dengan berlinang air mata. Wajahnya lusuh dan bibirnya kering. Serbuk tanah membubuhi kulit mukanya, bajunya berlumuran darah dan separuhnya sudah menguning.

Nel melirik Renji sekali lagi dan lelaki itu mengangguk. Ia lantas merentangkan jemarinya di jantung Ichigo, memfokuskan pikiran pada sesuatu yang bergerak, yang hanya bisa dirasakan oleh para Penjaga Gerbang. Tangannya kemudian menutup cepat, menyentak kuat dan menarik selaput panjang yang bening seperti gelembung balon sabun hingga ia mundur beberapa langkah lalu melemparnya sampai berbunyi 'bukkk' keras.

"Brengsek! Siapa yang memang—cih!"

Seorang yang sangat mirip Ichigo, berambut putih dengan bola mata berwarna emas yang menyala dalam daging mata sekelam malam, langsung mendecih begitu memalingkan kepala. Pembawaanya kasar, polah tak sopan dan bibir yang selalu tertarik satu centi ke atas meski sedang menggerutu.

Ia berdiri, menendang kursi yang menghalangi jalannya untuk mendekat. "Kau tahu kenapa aku paling benci dipanggil oleh Penjaga Gerbang? Kalian selalu memanggil tanpa memikirkan keadaan kami." desisnya seperti ular bertemu musuh pada Nel yang hanya menatap datar. Ia melipat tangan di depan dadanya.

"Tuanmu sekarat, Hichigo. Kau bisa lakukan sesuatu untuknya?"

Dan pria serba putih itu melirik, membelalak melihat cerminan dirinya tergeletak di pembaringan lalu membuka mulut. Pundak Nel digesernya keras untuk membuka jalurnya lebih dekat tanpa menggubris keluhan gadis kucing itu yang melotot. Dia tak mengerjap, tapi tak terlihat sedih. Justru terkesima dan kemudian mulutnya melebar. Terbuka, mengeluarkan tawa yang begitu keras sampai Rukia mengernyit kecut.

"Dia sekarat? Ahahahaha! Akhirnya dia akan mati!" teriaknya bahagia dan Rukia tak tahan untuk maju lalu mendelik.

"Dia tidak akan mati!"

Suaranya tak kalah melengking. Menghentikan tawa Hichigo yang langsung diam, membuat ruangan kembali senyap. Wajah congkak itu turun seperti kobra mengintai, tersenyum miring begitu menyamai irisnya dengan amethyst berkobar.

"Begitukah?" celanya. Dahinya tiba-tiba mengerut, menarik wajah menjauh. "Apa ini? Kau seorang cam—"

"Jangan macam-macam!" ancam Nel langsung mengarahkan ujung pedangnya tepat ke leher Hichigo yang sedikit mendongak. Pria itu tak terlihat terintimidasi, justru kesenangan. Terkikik pada Nel yang seolah ingin membunuhnya jika berani bicara sepatah kata saja.

"Menarik sekali." Ia menampilkan gigi taringnya ketika tersenyum. Dia punya rencana. "Baiklah, apa yang akan kau tawarkan padaku? Kau tahu harus ada yang kudapatkan untuk sebuah pertolongan bukan?"

"Tapi dia adalah tuanmu."

Hichigo mendengus mendengar ucapan Rukia. "Seperti aku peduli dia hidup atau mati."

Kepalan tangan sudah siap melayang ke arah pipi pucat yang begitu menyebalkan, milik Rukia. Ia ingin mendorong pedang Nel dari belakang agar menembus tenggorokan pemuda sialan itu, jika dia bukan satu-satunya penyelamat terakhir.

"Cepatlah, aku tidak punya banyak waktu. Kalau sudah selesai, biarkan aku kembali ke dalam kekai." gusarnya, menggunakan telunjuk untuk menjauhkan pedang dari lehernya. Orihime dan Renji saling bertatapan, memikirkan kemungkinan tawaran yang bisa membuat Hichigo tertarik. Penyihir Penjaga sama sekali tak butuh emas dan menanyakan apa yang dia inginkan adalah jalan bunuh diri. Bisa saja Hichigo meminta sesuatu yang bisa mengakhiri hidup. Mereka belum mendapat jawaban sampai Rukia buka suara.

"Apa yang kau minta?"

"Rukia!"

Nel berteriak memperingatkan, sungguh melindunginya dan merekahkan ketamakan Hichigo.

"Aku mendapatkan hal yang bagus, tapi apa kau yakin akan memberikannya?"

"Akan kuberikan apapun untuk membuat Ichigo hidup."

"Rukia!"

Sekali lagi Nel berteriak, khawatir gadis manusia itu akan membuat keputusan bodoh. Tapi keteguhan dalam tatapannya membentengi peringatan apapun yang akan masuk.

Hichigo kembali tertawa, puas. Kali ini lebih kencang hingga ia terbungkuk. "Baiklah" Kepalanya mengangguk-angguk. Merapatkan diri ke Rukia yang tak sempat mundur dan merekam bisikannya. "kalau begitu berikan aku…"

Tak ada yang bisa mendengar. Nel, Orihime dan Renji hanya berdiri menunggu, ikut cemas ketika melihat Sang Pembawa Pesan membelalak dan lehernya menegang. Ia sempat menelan ludah. Bertatapan dengan Hichigo yang menaikan sebelah alisnya lalu mengerjap beberapa kali, berpikir keras.

"Bagaimana?"

Rukia mengangguk pelan. Setelah menarik nafas, anggukannya berubah mantap. "Baiklah." yakinnya, memegang lengan yang gemetar saat Hichigo kembali tertawa seperti iblis neraka.

"Hey, Tuan, kau dengar itu? Akhirnya aku bisa melihat wajah tersiksamu sekarang! Ahahahahaha! Ini adalah balas dendam yang paling hebat!"

"Rukia, apa yang kau lakukan? Apa dia meminta nyawamu sebagai gantinya?"

Gadis itu menggeleng. Mencoba tersenyum pada Nel juga Orihime yang menatap takut. "Tenang saja, aku akan tetap hidup. Misiku untuk menyelamatkan dunia sihir belum selesai, Nel. Aku tak akan mati sebelum itu terwujud seperti janjiku."

"Tapi apa yang dia minta?"

Rukia bungkam. Mengusap wajah dengan telapak tangannya yang basah karena keringat. Berlanjut meremas leher dan memperhatikan Hichigo yang mulai menepati persetujuan mereka, menyembuhkan Ichigo. Lelaki itu meliriknya, membuat bulu kuduk Rukia berdiri. Suaranya masih membekas di telinga.

"…berikan aku mata indahmu dan ingatannya tentangmu."

Rukia memejamkan mata dengan hati yang sakit.

.

.

.

Raungan Sang Raja Hutan menulikan bumi ketika lubang hitam di dadanya tertusuk. Kepingan cahaya berjatuhan seperti hujan dan hilang sebelum mencium dataran yang telah porak-poranda. Di bawah langit biru yang sangat cerah, Starrk terengah dengan lengan terkulai ke bawah dan pakaian yang tercabik. Ia tersengal, hanya melirik seseorang yang melompat dan berdiri di belakangnya, yang juga tengah tersengal.

Syazel menggerutu karena kacamatanya pecah akibat hollow singa yang menggigitnya. Berteriak-teriak tak jelas sementara Harribel diam, meneliti. Wajahnya geram tanpa ditutupi.

"Hanya seorang Espada yang bisa memanggil hollow." ucapnya pelan. Menarik resleting jasnya hingga menutupi separuh wajah. Mata tajamnya tak henti melihat ke tebing, tanah dimana Rukia hilang bersama hollow yang membawanya. Wanita Espada itu mengerucutkan kening, merasa ada sesuatu yang mengusik pemikirannya. Suatu kemustahilan baru yang belum bisa dipecahkan. "Dan gadis itu memanggil mereka."

.

.

.

(to be continue…)

.

.

.

Ichigo membuka mata. Begitu berat, lengket dan kaku. Serasa ada batang korek api yang menahan kelopak matanya. Samar dan berbayang, cahaya putih mulai merasuki kegelapan. Perlahan-lahan, Ichigo menemukan kesadarannya. Ia mengerang, memijit keningnya karena kepala menimbulkan efek berputar yang memusingkan, membuat perutnya mual ketika akan bangun. Ia berusaha menarik diri untuk bersandar di kepala tempat tidur, menghela nafas kemudian menatap dadanya yang telanjang. Berbalut kain putih yang terlilit di bawah rusuk, menjadikan pemandangan itu sebuah tanda tanya besar. Kapan ia terluka? Dan…tato apa ini?

"Kak Ichigo, sudah sadar?"

Orihime yang baru masuk ke kamarnya langsung berlari. Nampan berisi mangkuk obat diletakannya di atas meja dengan kasar sementara ia menghambur ke tempat tidur.

"Kakak, baik-baik saja? Apakah masih terasa sakit? Katakan padaku, akan ku obati segera."

Ichigo memejamkan mata, masih belum bisa berkespresi banyak. Ia menggeleng seraya tersenyum kecil. Menepuk kepala adik perempuannya yang tak henti mengucapkan syukur berulang kali lalu kembali menghela nafas. Ada yang aneh. Ia tak ingat kenapa bisa terbujur dengan luka parah. Kepalanya kosong, seperti telah melupakan sesuatu yang tak seharusnya terlupa.

"Bisa tolong pulihkan tenagaku lebih cepat, Hime? Aku harus segera meninggalkan tempat tidur ini." pintanya pelan dan Orihime mengangguk cepat. Membantu kakaknya untuk kembali berbaring dan memanggil kelima peri penyembuhnya.

.

.

.

Ichigo telah benar-benar sehat. Ia sudah memasang jubah kerajaannya dan menyematkan Zangetsu. Lukanya masih terasa berdenyut sesekali, jika ia terlalu banyak bergerak. Tapi hanya untuk berjalan, ia bisa melakukannya tanpa masalah. Kakinya mengajak pergi menuju ruang pribadinya di Istana Timur. Jika sempat, ia juga akan menemui Renji di barak istana yang sedang melatih prajurit.

Hari sedang cerah. Penyambutan yang baik atas kesembuhan Ichigo yang hingga detik ini, belum diketahui apa sebab ia mendapatkan luka tusukan itu. Seluruh anggota kerajaan sedang sibuk, bahkan Grimmjow yang biasanya selalu muncul di hadapannya kapan saja, kini hilang. Kaien pergi entah kemana, tak bisa ditemukan. Orihime dan bibinya memilih berkata 'Lebih baik tanyakan pada, Raja' ketika ia bertanya kenapa ada tato pernikahan di tubuhnya ketika ia tak ingat sama sekali jika pernah menikah juga peperangan apa yang telah membekaskan luka padanya?

Setiap Ichigo mengingat ia tak tahu apapun mengenai hal itu, dadanya terasa berdenyut nyeri.

BRUK

"Aduh."

Ichigo tengah melamun, ia tahu. Pikirannya bercabang kemana-mana hingga tak fokus pada jalan. Tanpa sengaja tubuhnya menabrak seseorang berkerudung hingga terjatuh dan kini terduduk di atas lantai, membelakanginya.

"Maaf, kau tidak apa-apa?"

Uluran tangan Ichigo tak bersambut. Menganggur di udara tanpa niat akan digapai. Gaun kuning panjang yang ditutupi oleh tudung kepala terlalu menarik perhatian. Wajah pemilik tubuh mungil tak terlihat, menarik satu alis Ichigo yang masih terbungkuk untuk naik sedikit.

Dengan gamang, tangan bersarung putih di balik kain sutera mengkilap merangkak di udara. Mencari ragu, ke sepuluh jemarinya yang terlihat kurus. Ia meraba kekosongan sebelum berhasil menemukan jemari Ichigo yang…membuat pemiliknya tersengat.

Sang Pangeran membelalak.

Gemuruh tiba-tiba memenuhi dalam dadanya hingga menyesakkan. Aliran darah bersirkulasi cepat seolah perlintasan nadi dalam tubuh Ichigo sangatlah singkat. Keganjilan yang tak biasa, sulit terungkap. Tanpa sadar ia menahan nafas. Meremas jemari ditangannya, mencoba menenangkan diri yang seperti tenggelam dalam gulungan air bah.

"Putri Rukia!"

Momo berlari kecil. Memutus kontak Ichigo dengan wanita berkerudung ketika gadis bercepol itu sampai dan langsung menarik tangan Si Wanita. Jemari Ichigo mendadak terasa hampa.

"Pangeran Ichigo." sapanya membungkuk setelah membantu Rukia berdiri. "Putri, tidak apa-apa?"

Rukia mengangguk pelan, terlihat tidak seimbang ketika berdiri lalu berpegangan pada bahu mungil Momo. Ichigo berdehem, tak mampu menahan suaranya lagi.

"Siapa dia?"

"Hati-hati bicaramu, Pangeran." Wanita itu membuat Ichigo terkesiap. Suara yang dingin nan tegas mencekik lehernya. Ia menatap Momo yang menunduk takut. Penasaran, mencoba melangkah ke depan untuk mencari tahu namun satu tangan sudah terentang di depannya.

"Adikku, kau sedang berdiri di depan Calon Putri Mahkota Karakura. Tunjukanlah sedikit kesopananmu." ujar Kaien yang tiba-tiba muncul dan sudah memotong jalannya. Pangeran Mahkota itu tersenyum, membiarkan Ichigo tercengang lalu terpaku pada genggaman tangan Kaien yang menuntun tangan Rukia untuk bertengger di lengannya. "Lain kali kau bisa memberi hormat padanya jika bertemu lagi. Ayo, Putri."

Ichigo membisu. Hanya mampu berdiri. Menatap kepergian wanita yang mencuri perhatiannya dengan risau. Ini sangatlah aneh. Ia merasa gelisah tanpa sebab. Ada yang hilang, ada yang kosong di hati Ichigo.

Ia menatap telapak tangannya yang masih merasakan kedutan. Sebuah nama terus terngiang.

"Ru…kia?"

.

.

.

This the real end of chapter 10, hoopla…

Akhirnya saya update juga setelah sekian lama…

Semoga masih pada ingat dengan alur cerita fic ini yang uda bulukan itu, huhuhuuuu

Ini adalah chap teramburadul, yang dari satu scene ke scene lainnya itu kurang klop dan maksa banget, hahaa #maafkan saya

Pengetikan chap ini banyak berhentinya, ngetik bentar jeda tiga hari, ngetik lagi, jeda lagi seminggu, sampai berbulan-bulan dan saya lost feeling. Kalo berenti'kan sayang.

Semoga masih bisa diterima dan menghibur…

No romance dan Ichiruki rasanya agak flat, sekali lagi maafkan saya…

Oke, let's talk about the story aja, deh…XD

Sudah muncul satu pesaing lagi dan seperti biasa, karena saya cinta sama Grimmy, akhirnya dia kembali dinobatkan sebagai saingan Ichi disini, gomen…

Byakuya belum muncul lagi…terus taraaa! Hitsugaya dan Shirayuki akhirnya muncul!

Saya sempat bingung untuk sebutan buat Yuki, "Pedang Kebangkitan" #pftt, apa itu? saya sempat ketawa sendiri tapi akhirnya saya pakai juga karena ngga nemu yg lain XD…

Scene actionnya, saya no komen…saya sudah sampe guling-guling buatnya, #ini susah sekali sampe jambak-jambak rambut buatnya, semoga bisa menghibur, hheee

Scene paling bawah itu pengantar untuk ke scene di next chap. Kenapa Rukia dingin sama Ichigo? Dan kenapa Orihime dan Rangiku ngga mw cerita soal tato pernikahan Ichigo? Akan muncul di chap 11 :D

Well, I think that's all…let's reply the review then XD:

Wakamiya Hikaru: Halo Hikaru-san…setelah sekian lama akhirnya saya datang, hhee

Terima kasih karena uda suka chap yang kemaren, #ehem, terima kasih banyak *muka blushing*

Eh, tanggung jawab? Maaf, saya sudah sold out, tidak bisa melakukan ini #ditampar

Makasih uda menunggu, kyaaaa #peluk balik

Ah, reviewnya ada dua, ya…:D (saya bales sekalian disini aja ya, hhee)

Kurang panjang? Walah…#ambil bom arahain ke Hikaru-san

Chap 10 uda saya update…moga suka, ya…gomen lama sekali update…

Terima kasih atas reviewnya…

Ketemu di chap berikutnya ya…*hug*

Gilang: Gilang-san, tangkap ini! #lempar sekardus tisu

Ehhh…kok diketek, sih? Eisshhh…kenapa, kenapa dari sekian banyak bagian tubuh harus disanaaaaa?! Sini saya sumpel pake daun sirih XD…biar mimisannya berenti #mitos

Chap 10 uda saya update…moga suka, ya…gomen lama sekali update…

Terima kasih atas reviewnya, Gilang-san…

Ketemu di chap berikutnya ya…*tos*

Ayu: Ayyyyuuuu-saan…aku datang buat bales review! Terima kasih uda suka buat chap kemarin dan nanti saya call 911 ('^')d

Ehh, benarkah? Uwaaa…terima kasih #guling-guling

Itu bahaya! Demi Menos Grande, klo saya ada disana, sya bakal turunin Ayu-san langsung, hhahaa

Saya juga mau, nih, kalo beneran ada XD…order satu, dibungkus!

Thankkk you soo much for waiting my update…akhirnya chap 10 menetas,

Semoga suka dengan jalan ceritanya dan terima kasih reviewnya…

Ketemu di chap selanjutnya ya *hug*

Ella Mabby Chan: Halo Ella-san…apa kabar? Saya harap baik #halah

Terima kasih uda suka chap yg kemarin XD…Yep, agak pendek, sih…tapi semuanya full Ichiruki (ada Senna nyempil dikit), hhee

Itu pasti…masalahnya akan dimulai lagi di chapter berikutnya…

Terima kasih untuk suggestnya (kissu)…sepertinya saya terlalu kebawa fandom sebelah, hhaaa

Gomen…gomen…akan saya perbaiki…sekali lagi terima kasih banyak atas sarannya,

Oke, terima kasih untuk reviewnya Ella-san…semoga suka dengan cerita di chap 10,

And see u soon on chap 11, ya…

Jaaaa…

a.f: Yeayyy! Saya update juga, nih, meski lama banget, hhaaaa

Makasih uda menunggu updatenya fic ini A.F-san…(hug)

Ahaha…silakan tambahkan gula kalo asem…

Saya publish untuk yg chap 10, semoga suka dengan ceritanya, ya…

Terima kasih juga karena sudah mereview…

Jaaaa….

Fuuchi: Iyaaaaaaa! #kemaren dipanggil nyahutnya baru sekarang *plakh*

Kali ini update sy ngga tepat, ya? Padahal saya uda semedi, loh…

Hot, ya? Syukurlah…itu bikinnya puyeng hhaa #pegang dahi

Ngga, dong…kalo dicut lagi pasti saya bakal didorong ke sumur nanti (-_-)

Hhha…akhirnya ada yg mengerti juga kekhawatiran saya terhadap Rukia #hikhikhik

But nope…she's not pregnant, for now #lirik Ichi

Rukis tsundere itu uda ngga bisa diubah XD…pst bkl begitu lg klo ada kesempatan, trust me! It works!

Makasih Fuuchi-saaan…uda setia membaca fic ini…(hus, hug, hug)

Uda update untuk chap 10, moga suka dgn ceritanya…

So, see you soon then…Jaaaaaa…

Ichigo: Hai Ichigo, akhirnya datang setelah sekian lama #muka datar

Singkirkan tanganmu dari hidungku, Kepala Jeruk! #merengut

Aku sudah membuatnya kemarin, kau puas sekarang?

Apa? Apa? Apa? Aku tidak bilang menyukaimu #eh

A…aku apa? Kau mau bilang aku Gadis Kelinci lagi? (T_T)

BODOH! Dasar Kepala Jeruk Bodoh! Memang muka siapa yang memerah? I…ini karena udaranya sangat panas…kau tahu banyak asap dimana-mana bukan?

Itu karena aku suka makan…kenapa? Kau keberatan?

Aku tidak kaget #buang muka

A…aku tidak memikirkan hal-hal se…seprti itu! Berhentilah menggodaku!

Hey, coba lihat sini? Kenapa kau memerah? Memang aku bicara seperti apa? Ah, jangan-jangan kau…

Hhaa…siapa yg bilang? Akan kubuat kau mati ditangan ayah mertua, fufufu

Itu rahasia #senyum lebih devil

Tapi dia'kan kakakmu. Mana mungkin kau bisa berpikiran buruk tentangnya?

(T_T) oh, jd kau tdk mau menceritakannya? Baiklah #pulang

Kau'kan memang mesum #smirk, coba apa yg kau lakukan terhadap Rukia, hah?

Astaga, Ichigo, aku suka dengan gayamu yg ini! XD "sekarang dia sudah menjadi nyonya Kurosaki" #kasi jempols

(-_-) entahlah…aku jg tidak mengerti kenapa dia tetap disana. Mungkin dia ingin melihatmu telan… #ah…telantar, maksudku

Ahahahaha…dasar jJeruk mesum :D, kasihan Rukia. Berikanlah dia istirahat, Ichigo.

Kau baru tahu pesona Rukia, huh? Dia itu…sangat ajaib, seperti bom. #apasih

Oh, Tuhan…sejak tadi kau selalu saja menyindirku. Hentikan itu #tunjuk hidung

Benarkah? Kau merindukanku? Sungguh? Terima kasih #puppy eyes

Aku jg merindukanmu…untuk kuajak berperang mulut #hahhaaa

Oke, thank you sooo muchhh for reading the latest chap…moga suka dgn cerita kelanjutannya, ya…

Ketemu lagi di chap 11…byeeee (hug)

Ichirukiholic: Aha…saya memang begitu, Ichiruki-san…suka ilang-muncul kayak jin. Kyaaa…ini uda lebih dari sebulan semenjak terakhir saya update…jd saya bkal digebukin ini? #huaangggg. Ahaha…gomen…gomen…sy sedikit rada sibuk di real life, jd ngetik klo lg senggang aja. Kalo hiatus pasti akan saya woro-woro, deh…meskipun, ya, saya belum berencana untuk hiatus, sih XD #dilempar kayu bakar

Eh, saya yg berterima kasih, loh…uda menunggu fic ini dan suka#terharu (saya suka yg rasa yg original soalnya, hhaa *gaje*)

Okeh…terima kasih banyak Ichiruki-san untuk reviewnya…semoga suka dengan kelanjutan ceritanya, ya…

Ketemu lagi di chap selanjutnya…Jaaaa *lambai tangan*

Uzumakisanti: Halo, Uzumaki-san…saya muncul, nih! #cling

Maaf…sy memang lama banget klo update dua chap belakangan, hhee…mohon maaf lahir batin, ya #eh

Hamil? Sy belum setuju klo anak saya hamil saat ini dengan Ichigo…dy terlalu muda, Demi Menos Grande #ketawa nista

Ada…ada…ada bebrapa chara baru di chap 10 #taraaa, silakan cek, ya, hhee uda sy update, semoga suka dengan kelanjutan ceritanya, ya…

Ketemu lagi di chap selanjutnya…baaayyyy *kissu*

Lilo: Hai, Lilo-san…saya datang untuk membalas review. Ini silakan #kasi tissue yg terlambat sekali. Terima kasih uda baca fic ini dan review, ya…juga sudi untuk menunggu author yg lama sekali munculnya ini…semoga suka dengan kelanjutan ceritanya…dan terimaksih atas reviewnya…ketemu lagi di chap berikutnya, ya…bbaaayyyyy (lambai tangan)

Kaname: Hey, kok ngga ada komen? (T_T) setidaknya tampar aq karena uda buat chap yg nista, dong #hhhaaa. Uda update, nih XD…moga suka ya Kaname-san…makasih uda review…ketemu lg di chap selanjutnya, ya….Jaaaaa (hug and kiss)

Darries: #Ow author langsung nyanyi "basah…basah…basah…" Berarti kita masih polos, ya…segini aja mimisan XD, hhaaa #dideath glare massal. Ah, Ichigo memang gitu kok…ngga ada yg boleh ganggu kalo uda sama Ruki. Makasih uda suka, Darries-san…semoga suka dengan kelanjutan ceritanya. Ketemu lg di chap depan, ya…babayyyy :D (lambai-lambai)

Lawlietsft: Aha…kita jd curhat-curhatan..kikikk. Makasih uda menunggu fic ini Lawlietsft-san…moga suka dengan kelanjutan ceritanya, ya…*hug, hug, hug*. Ketemu lg di chap selanjutnya ya…bbaaayyyyy :D *huph, nemplok kek koala*

Rembulan: Entah kenapa tiap sy baca nama ini saya jd kepengen nyanyi dangdut #sungguh, sy suka nama Rembulan-san, ahahaha XD. Lucu-lucu manis gimana gitu…uda diplanning, kok…pkoknya ngga pas puasa klo bs, begitu, hhee…Yosh! Sy makasih doanya Rembulan-san (peluk). Maaf, ya, lama updatenya…semoga suka dengan kelanjutan ceritanya…makasih buat reviewnya…ketemu lg di chap depan yaaa…Jaaaaa (^_^)/

Guest: Udaaaaa updateee Guest-saaaan XD…moga suka, ya, sama kelanjutan ceritanya. Makasih uda review *kasi bakpau goring*. Ketemu lagi di chap depan, ya…babayyyy (^_^)/

Guest: Uda, nih, uda update meskipun lama :D…maaf, ya, sy baru muncul lagi. Tapi chap 10 ngga bikin mimisan, kok…maaf, ya..hhaaa. next chap mungkin, ya. Makasih uda Review, ya…moga suka dengan kelanjutan ceritanya. Ketemu lagi di chap depan, ya #kissu.

IRL: Aha…ayo review tentang sy aja kalo gitu. Misalnya tentang sy yg mirip Kim tae hee XD #digebukin se-RT. Iya, iya, betul, betul, betul. Ngga ada kata 'terlambat', kok. Makasih, uda review, ya, IRL-san…moga suka dengan kelanjutan ceritanya. Ketemu lagi di chap depan, ya…babayyy (hug)

Guest: Bole minta tissunya? #ngomong sambil pegang idung yg mimisan. Kelanjutannya…emm, silakan baca XD…uda sy update. Ngga ada Senna, sih, hhee…dia sy buat menghilang, khukhukhu. Moga suka dengan kelanjutan ceritanya, Guest-san. Makasih uda review…ketemu lg di chap selanjutnya, ya…Jaaaa (lambai-lambai tissue)

Kusumanvta: Makasih uda suka Kusumnvta…moga bisa suka dengan kelanjutan ceritanya ya. Emm, pake Shirayuki ngga, ya…ahahaaa silakan baca di chap 10 XD #promo. Yosh, makasih uda review ya…ketemu lg di chap berikutnya Kusumnvta-san…Jaaaaa (^_^)/

Motherfucka: Ahahaaaa…slow mas/mbak. Kok, marah-marah…cepet tua, loh. Begini ketika saya bicara, nada yg saya pakai adalah seperti miliknya Kisuke Urahara, Anda tahu? Seperti itulah kira-kira.

Yare-yare…kenapa Anda bawa-bawa Si Bok**…memang Anda tahu seperti apa dia? Kalo begitu Anda mesum jg, dong, karena tahu ini mirip adegan Bok** #kyaaaa XD, plok

Ngga semua author di fandom ini membuat rate M. Ada yg T, K, semi M juga ada. Saya hanya kasihan pada mereka yg tidak ada kaitannya dengan masalah rate M jadi ikut kena juga. Mereka'kan tidak bersalah, hikhikhik.

Jika Anda kurang suka dengan adegan rate M, sy sarankan, sih, jangan membuka fic dengan rate ini. Bukalah yg MA #hhaaa, geblek XD

Emm…gimana, ya…yah, mungkin bagi Anda ini not make a sense (diperkosa kemudian malah jatuh cinta), sy sulit menjelaskannya. But there is. It's really exist, loh. Silakan baca artikel-artikel tentang psikologis, deh, hheee. Emm kalo sy yg digituin sama Ichigo? Hhaaa…sy yakin Ichi-lovers di luar sana punya jawabannya #senyam-senyum.

Merusak bangsa? Well, ada pembelajaran yg bisa anda pelajari. Masalahnya, umur menentukan apakah reader bisa mengambil pelajaran itu atau tidak. Makanya sy bilang, fic ini lebih cocok untuk Mature, ya, kawan-kawan. Kalo yg bandel mau baca, sy bs apa? That was their right, Baby

Yare-yare…saya selalu membalas review yg masuk ke saya, meskipun sedikit telat tp sy selalu berusaha untuk membalasnya. Buat saya reader itu sangat berharga sekali, termasuk Anda. Sy berterima kasih karena sudah membaca fic ini #hug (^_^)

Terima kasih untuk reviewnya…Jaaaaa (lambai-lambai)

Thalia: Ahaa…maaf, maaf, ya…sy lama banget, nih untuk update chap 10nya…huhu. Ngga, kok…sy orangnya dibawa enjoy, aja…klo ada yg bicara ini-itu, ya, apa boleh buat. They have mouth, so they can say everything they want #sok nginggris XD. Tapi terima kasih uda peduli sama saya #terharu :P. Yep, sy yakin jg begitu. Tp pihak FFn ngga melakukannya jg. Yah, mungkin ada pertimbangan sana-sini yg kita ngga tahu kali, hheee. Aha, sy juga suka ke fandom sebelah XD. Disana memang lebih hotty. Okeh…sy uda update, nih, yg chap 10…semoga suka dengan kelanjutan ceritanya, ya…terima kasih uda review…ketemu lg di chap depan, Thaliaaaaa. Jaaa (hug)

Shopia: Yah, itu ada benernya jg, ya…hhaaa. It's okey..I'm fine, kok. Terima kasih atas supportnya Shopia :*. Uda,nih…chap 10 uda muncul. Moga suka dengan kelanjutan ceritanya, ya. Makasih uda review…ketemu lg di chap berikutnya, ya…jaaaaa (lambai-lambai-lambai)

Nameana: Makasih uda suka Nameana-san…uda dilanjut, nih…moga suka dengan kelanjutan ceritanya, ya. Makasih banyak uda baca dan review. Ketemu lg di chap berikutny…babaayyy (hug)

Pion: Kayak catur, ya (ups). Uda sy update Pion-san, semoga suka dengan kelanjutan ceritanya, ya. Makasih uda review…ketemu lg di chap berikutnya babayyyyy….(^_^)/

Untuk yg login sy bales ntar besok, ya. I promise I'll reply your precious review, guys XD! Arigatou untuk yg uda fave, follow, like and read. Fic ini tak berharga tanpa kalian teman-teman, hahahakk.

Special thanks to Rentenir Fic saya (hahahakk), yg selalu mengingatkan sy kapan update lewat PM jg di grup …ni, sy uda update, niih. (Azura Kuchiki, Hesty Éclair, Ema Sabaku No Gara, Ciel Strife, 8Eight, Minni The Pooh, dan beberapa yg sy lupa nama akunnya di sini yg tidak tersebut *maaf bawaan umur, kikikk*). Love you, gals! :*

Oke, sampai jumpa di chap 11,

Baabayyyy,

October, 10th 2015.

Ayra el Irista