Don't like, don't read, u can click "back" icon if u don't like this fanfic
Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning!
Sekali lagi saya ingatkan kalau tokoh dalam fic ini OOC sangat.
Apapun pairingnya yang penting jalan ceritanya :P
She is Mine
© Yoruichi Shihouin Kuchiki
Karin memasukkan segenggam keripik kentang ke dalam mulutnya. Ia terus memasukkan keripik ke mulutnya walaupun keripik itu masih belum tertelan sempurna. Gadis merah itu tak berhenti lagi mengunyah. Raut wajahnya nampak kesal, sesekali ia mengumpat, "Sebal!" lalu kembali memasukkan segenggam besar keripik kentang kedalam mulutnya.
"Sebal! Sebal! SEBAAAAALLLL!" teriakannya menggelegar seketika.
Gadis itu terbatuk-batuk ketika keripik yang dikunyahnya itu malah menyangkut di tenggorokan akibat teriakannya tadi. Well, itu adalah kesalahannya sendiri yang berteriak kencang saat sedang makan.
Ia langsung berlari menuju kulkas yang jaraknya hanya beberapa langkah dari ruang tamunya. Karin membuka pintu kulkas tersebut dengan cepat kemudian merogoh sebotol air mineral di dalamnya dan langsung meneguknya. Sesaat kemudian gadis itu menarik napas lega.
DRRRTTT DRRRTTT
Karin menutup pintu kulkas kembali ketika mendengar suara getaran ponsel di atas meja ruang tamu. Gadis itu menghampiri ponselnya yang tergeletak. Ia terlebih dahulu duduk di sofa apartemennya dengan menyilangkan kaki dan meletakkan botol air mineral di mejanya. Karin mengambil ponselnya yang masih bergetar dan melihat panggilan di layar ponsel itu.
Hidan Calling
Gadis merah itu terlebih dulu berdecak sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut dengan malas. "Ada apa?" tanya Karin ketus tanpa basa-basi.
"Nona Karin, Anda harus segera pulang. Tuan dan nyonya sangat mengkhawatirkan Anda." Suara bariton di ujung sana terdengar memelas.
Karin menghela napas berat. "Aku tidak mau!" tegas gadis berambut merah menyala itu.
"Tapi Nona...mau sampai kapan Anda kabur? Selain itu beliau juga mencari Anda. Ini perihal tugas yang beliau berikan untuk Anda."
Karin tertegun sejenak. Harus dirinya akui, sejak bertemu Gaara ia jadi lupa tujuan utamanya datang ke Konoha. Tapi mau bagaimana lagi? Jujur saja dia sudah tidak berminat untuk melanjutkan permainannya dengan putra bungsu keluarga Uchiha itu.
Gadis itu menarik napasnya dalam-dalam seakan mencoba mengumpulkan keberanian. "Katakan pada beliau, aku—Karin Namikaze minta maaf karena tidak dapat menjalankan tugas yang beliau berikan. Selain itu..." Karin memejamkan matanya, jeda sejenak, "Aku sudah tidak berminat lagi dengan cucu kesayangannya itu." Karin kembali membuka matanya—sorot itu nampak begitu tajam dan serius.
"No—nona, apa yang Anda katakan? Walau bagaimanapun, Anda tidak boleh bermain-main dengan beliau apalagi kalau sampai membuatnya marah."
"Aku tidak peduli! Aku bosan hidup diatur dan diperintah seenaknya! Aku juga ingin melakukan apa yang aku inginkan!" Karin mulai geram, nada bicaranya meninggi.
Si penelpon yang bernama Yahiko terdengar hanya menghela napas beratnya. Ia diam sejenak kemudian kembali berbicara pada Karin, "Baiklah kalau itu mau Nona. Saya akan menyampaikannya kepada beliau. Tapi...Nona harus tetap pulang ke Amerika. Tuan dan nyonya besar sangat mengkhawatirkan Anda."
Karin benar-benar geram sekarang. Kedua rahangnya mengeras. Dia bosan. Dia lelah. Bahkan orang yang seharusnya paling dekat dengannya pun hanya berpura-pura. Bagi Karin tidak ada yang benar-benar tulus padanya. Itulah yang gadis itu rasakan. Selama ini Karin selalu sendirian, kalaupun berdua itu hanya dengan Hidan—pengawal pribadinya.
"Kh, menyebalkan! Kalau memang mereka mengkhawatirkanku, kenapa bukan mereka langsung yang menghubungiku tapi malah kau?" umpat Karin sarkastik.
"Nona, Anda harus mengerti. Tuan dan nyonya sedang si—"
"Aku tidak terima alasan apapun!" Karin mematikan telepon tersebut secara sepihak. Ia melempar ponselnya ke sofa kemudian membenamkan wajahnya pada bantal di sofa itu.
Matanya kini berair, sudah menggenang dan akan jatuh membasahi wajah mulusnya. Semuanya sama saja, selalu seenaknya. Bahkan Hidan juga, batin Karin.
Gadis itu bangkit dari posisinya lalu menyeka airmata yang hampir jatuh. Lagi-lagi ia menarik napas dalam-dalam.
"MENYEBALKAAAANNN!" teriaknya untuk yang kedua kali di sore hari itu.
TOOOTT TOOOTT
Karin bersungut dari sofa ketika mendengar suara bel pintu apartemennya berbunyi. Ia berjalan dengan langkah malas dan wajah yang masih ditekuk. Bel apartemennya terus berbunyi tanpa henti membuat Karin lama-lama menjadi kesal dengan si pengebel yang belum ia ketahui siapa.
"Sebentar!" seru gadis itu.
Ia berdecak malas, "Siapa sih?"
Gadis itu menekan tombol monitor di samping pintu yang berfungsi sebagai kamera untuk mengetahui siapa tamu yang datang ke apartemennya sore-sore begini. Layar yang semula hitam itu kemudian berubah, menampilkan seorang pemuda yang juga tengah menghadapkan wajahnya di kamera luar.
Karin nampak sedikit terkejut. Pemuda itu kini melambai-lambaikan tangannya sambil tersenyum lebar.
oOo
"Teriakanmu itu terdengar sampai luar tahu," protes seorang pemuda yang usianya mungkin terpaut dua tahun di atas Karin. Pemuda tersebut berambut hitam panjang dan dikuncir satu asal ke belakang. Yang lebih penting lagi wajah pemuda itu sangat mirip dengan Uchiha Sasuke.
Karin nampak tidak mengindahkan omelan Itachi—kakak Sasuke yang mendadak bertandang ke apartemennya. Gadis itu menyediakan sebotol besar minuman bersoda lengkap dengan gelas beling berkaki di atas meja tamu ruangannya.
Itachi mengedarkan pandangannya ke sekeliling apartemen. Lantai keramik, beberapa guci porselen, perabotan dapur lengkap, TV LCD, apartemen yang tergolong luas dan berbagai benda mewah lainnya. "Besar sekali apartemenmu untuk ukuran kau sendirian." Itachi melirik Karin sekilas.
Gadis itu tidak merespon selain duduk di samping Itachi. Pemuda dengan kerutan di kedua sisi tulang pipnya itu diam sejenak, ia memperhatikan Karin yang kelihatannya sedang tidak baik.
"Kau ini kenapa? Sedang ada masalah?" Itachi tersenyum lembut sambil menepuk pelan pucuk kepala Karin.
Karin sedikit tercengang kemudian menggulirkan pandangannya ke sembarang arah. "A—aku..." jawabnya terbata-bata, nampak ragu.
Apakah ia benar-benar harus menceritakan semuanya kepada Itachi? Bagaimanapun juga Karin sadar kalau selama ini sudah banyak merepotkannya dan ia tidak mau membuat Itachi tambah kerepotan lagi kalau sampai tahu yang sebenarnya.
Itachi mengelus mahkota Karin pelan, "Tidak apa, ceritakan saja. Aku siap mendengarkannya kok," ujarnya lagi lembut.
Untuk yang kesekian kali, Karin menghela napas berat. Kalau sudah begini, ia tidak bisa menolak. Gadis itu tahu, Itachi malah akan semakin mengkhawatirkannya jika ia tidak mengatakan yang sebenarnya. Selama ini, Itachi sendiri sudah menganggap Karin sebagai adik perempuannya dan bagian dari keluarganya.
"Barusan Hidan telepon..." Jeda sejenak. "Dia menyuruhku kembali ke Amerika. Dia bilang ayah dan ibu yang menyuruhnya."
Itachi menatap lekat iris ruby Karin, memperhatikan setiap perubahan garis wajah dari raut gadis itu.
Karin membuka tutup toples berisi kacang yang ada di meja. "Kalau memang mereka yang menyuruhku pulang, kenapa bukan mereka saja yang meneleponku? Sebegitu penting dan sibukkah hingga keberadaanku tidak apa-apanya dibandingkan pekerjaan mereka?" Karin melemparkan segenggam kecil kacang masuk ke dalam mulutnya. Bibirnya masih mengerucut seraya ia mengunyah kacang di dalam mulutnya dengan tempo cepat karena sedang kesal.
Itachi membuka tutup botol minuman bersoda dan menuangkannya ke dalam gelas beling yang telah disediakan Karin. "Mungkin mereka benar-benar sedang sibuk." Itachi meneguk pelan minumannya kemudian mengulum sebentar ketika merasakan lidahnya serasa digigit oleh efek soda dari minuman tersebut.
"Sejak dulu mereka memang lebih sibuk dengan pekerjaan daripada aku!" ketus Karin.
Wajah cantik itu kian menggeram kesal namun tetap saja sorot mata kesepian dan penuh kesedihan itu tidak bisa ditutupi. Karin mencengkram erat celana jeans pendeknya, berusaha menetralisir perasaannya yang membuncah. Ia menggigit bibir bawahnya. Gadis itu benar-benar kesal sekaligus sedih. Kesal. Kenapa orangtuanya hanya mementingkan ego dan pekerjaan mereka. Sedih. Karena orangtuanya bahkan tidak pernah acuh padanya.
"Karin..." Sepasang onyx kelam itu memandang prihatin gadis di hadapannya.
Karin menaikkan kedua kakinya ke atas sofa lalu duduk bersila. Dia membuang mukanya ke sembarang arah. "Sudahlah! Untuk apa aku peduli!" ucapnya sarkastik kemudian kembali menyantap setoples kacang dipangkuannya.
Itachi mendengus pelan. Dia tahu pastinya perasaan Karin saat ini sedang sedih. Gadis itu hanya berusaha untuk menghibur dirinya sendiri dan mengalihkan pembicaraan. Itachi pun tidak mau membahas hal-hal yang dapat membuat mood Karin semakin buruk.
Hening cukup lama. Itachi menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal. Bingung harus memulai pembicaraan yang seperti apa.
"Pokoknya aku tidak akan kembali ke Amerika!" tegas Karin tiba-tiba.
Itachi tiba-tiba menyeringai dan mengerling nakal. "Ehm, ehm, tugas dari beliau atau modus sambil menyelam minum air?" Pemuda nanggung itu terkekeh pelan.
Karin mendelik Itachi tajam, "Aku sudah tidak peduli lagi dengan tugas dari beliau." Dia mengangkat bahunya.
Pernyataan Karin tadi cukup untuk membuat Itachi membulatkan mata kelamnya. Pemuda bermata kelam itu bingung sekaligus penasaran dengan maksud ucapan Karin. "Jujur saja, aku sudah tidak peduli lagi dengan adikmu itu."
"Heh? Kau serius?" Itachi terbelalak. Soalnya Sasuke sudah menjadi incaran Karin selama beberapa tahun terakhir ini. Mana mungkin Karin melepaskan adiknya itu begitu saja kalau tidak punya alasan khusus atau...
Karin melipat kedua tangannya di depan dada lalu menganggukan kepala merahnya. Kepalanya menoleh ketika ia merasakan ada sesuatu yang hangat menempel di keningnya. "Kau tidak sedang sakit 'kan?" Itachi menatap ruby itu sambil menelengkan kepalanya.
Perempatan siku-siku kini muncul di dahi Karin. Refleks, tangan gadis itu menoyor wajah mulus Itachi dengan kasar. Membuat pemuda berparas tampan itu meringis kesakitan. "Aku sehat-sehat saja tahu!"
Itachi mengelus-elus hidung mancungnya yang tidak sengaja terkena tulang jari tengah Karin. Tenaga gadis itu memang kuat. Pantas saja kalau dia jago beladiri. Tidak terlihat sama sekali dari tubuhnya yang molek dan parasnya yang cantik. "Kalau begitu apa?"
Sejenak sepasang manik Karin membelalak lebar namun sesaat kemudian ia kembali memalingkan wajahnya. "Itu rahasia." Entah sejak kapan semburat merah muda itu terlihat di wajah mulusnya.
Itachi yang tadinya hanya melongo kembali menyeringai. Pemuda itu beralih mengelus-elus dagunya seakan menyadari sesuatu. "Jadi begitu. Aku mengerti sekarang." Seriangaiannya makin besar.
Karin sama sekali tidak mau menatap kakak kandung lelaki yang pernah ditaksirnya dulu. Kalau sampai bertemu pandang dengan onyx itu sedetik saja. Karin berani bersumpah, rona merah ini tidak lagi hanya terlihat guratan tapi akan menjalar ke setiap sudut wajahnya. Sekarang lebih baik, ia memilih untuk mengacuhkan Itachi dan berpura-pura tidak mengerti ucapannya.
Itachi membentuk jari-jari tangannya menyerupai sebuah tembakan kemudian mengarahkannya ke Karin. "Kau sedang jatuh cinta pada seseorang 'kan?" tebak Itachi sambil mengedipakan matanya.
Karin terdiam seribu bahasa. Ia bisa merasakan wajahnya yang mulai memanas dan rona merah yang sudah menjalar. "Kau tidak bisa berbohong pada kakakmu yang hebat ini, Karin." Itachi menunjuk dirinya sendiri dengan sebelah tangan.
Karin masih bergeming. Ingin sekali rasanya gadis itu melempar keluar tamu dadakannya ini dan segera menguburnya hidup-hidup.
Itachi memegang kedua pundak Karin dan menghadapkan gadis itu padanya. Kedua iris beda warna itu saling pandang. "Nah, ceritakan pada kakakmu ini. Siapa orang itu?" tanya Itachi dengan senyum lebar yang tidak hilang dari wajahnya.
Entah kenapa hawa dingin tiba-tiba merebak, membuat Karin merinding seketika begitu melihat senyum lebar yang mematikan itu. Ia meneguk ludahnya dalam-dalam.
oOo
"Ayo! Ayo! Cepat!"
PIIIPP PIIIPP PIIIPP
"Ayo! Ah, sedikit lagi!"
PIIIPP PIIIPP PIIIPP
"Ayo! Terus serang dia!"
Sasori dan Gaara semakin gencar menekan tombol-tombol berlambang segitiga, kotak, silang dan lingkaran secara bergantian. Sudah terlalu hapal dengan tombol-tombol itu, mereka bahkan hanya fokus dengan layar di depan mereka yang menampilkan dua ksatria dengan baju zirah sedang beradu pedang.
Saking nafsunya Sasori sampai menggigit bibir bawahnya dan ibu jarinya sekarang mungkin sudah bengkak akibat menekan kuat-kuat tombol-tombol tersebut. Sementara Gaara, pembawaannya yang memang tenang dan anteng membuat ia hanya menikmati permainan playstationnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Ayo! Se—agh! Sial!" Sasori membanting sticknya lalu menjambak-jambak rambut merahnya ketika layar di depan mereka berubah.
YOU LOSE
Si sulung kembar itu mendecak kesal. Ia terus saja merutuk tanpa henti sambil sesekali mengumpat character yang ia gunakan dalam permainan tadi. Toh, padahal tidak ada yang salah dengan characternya. Memang dasar Sasori saja yang payah dalam memainkannya.
"Ayo main lagi!" sahut Sasori tiba-tiba bersemangat. Ia langsung menyambar stick yang tadi sempat dibuangnya.
Gaara menoleh dan menatap datar kakak kembarnya itu. "Kau sudah kalah lima kali, Sasori."
Sasori tidak mengindahkan Gaara sama sekali. Ia sibuk memilih character lain yang akan dipakainya nanti. "Sudahlah, tak perlu dipikirkan. Ayo main lagi," ajak Sasori yang lebih tepatnya terdengar seprti paksaan.
Gaara mendengus, ia meletakkan stick yang tadi dipegangnya. Jari-jari tangannya terasa pegal setelah hampir empat jam mereka bermain permainan tadi tanpa henti. Ia menekuk-nekukkan jarinya satu per satu sehingga menimbulkan suara tulang yang tertekan. "Sudah, aku bosan." Pemuda itu bangkit dari duduknya kemudian merenggangkan sendi-sendinya yang pegal.
"Hei! Ayo main lagi!" Sasori masih tetap kukuh memaksa Gaara.
Si bungsu kembar itu menoleh sebentar, "Ogah!" Kemudian kembali membuang mukanya.
Sasori mengibas-ngibaskan sebelah tangannya di udara. Ia menyeringai dan menatap sinis adik kembarnya itu. "Bilang saja kalau kau takut kalah," ujarnya seolah menantang. "Dasar payah!" umpat Sasori kemudian, berharap setelah ini emosi Gaara terpancing sehingga adiknya itu mau meladeninya bermain lagi.
Gaara balik menatap sinis Sasori yang sudah menyeringai lebar dan memberi isyarat menantang. Tapi di luar dugaan, bukannya menyambar sticknya yang tergeletak di lantai, Gaara malah berlalu meninggalkan Sasori sebelum mendapat protesan keras dari kakaknya.
"Hei! Mau kemana kau? Permainan kita belum selesai!" Dan benar saja, tidak sampai lima detik Sasori sudah mengomel tidak karuan di belakang punggung Gaara.
Sasori kembali berdecak lalu menyilangkan kedua tangannya di depan dada, "Sialan!" Pemuda merah itu bangkit dan menyusul Gaara dari belakang.
Gaara berbelok ke arah dapur. Terbilang mewah untuk ukuran dapur rumah biasa. Meja keramik yang memanjang di sudut tembok serta lemari perabotan lengkap yang tergantung di atasnya. Ia beralih ke arah kulkas dua pintu berukuran besar yang ada di dapur itu. Terlihat seorang gadis berambut merah muda setengah membungkukkan badannya dengan kepala yang hampir masuk ke dalam kulkas tersebut. Satu jari telunjuknya ia main-mainkan di bibir naik-turun sambil terus memperhatikan dengan seksama isi kulkas tersebut. Seolah ada sesuatu yang sedang ia cari.
"Sedang apa?" Gaara memegang pucuk pintu bawah kulkas sambil memandangi adiknya.
Kaget—dikejutkan oleh kehadiran Gaara secara tiba-tiba, Sakura menoleh. "Kak Gaara?" Dia menegakkan badannya.
Gaara menyandarkan bokongnya ke meja keramik panjang di samping kulkas itu. "Tubuhmu terlalu dekat dari kulkas. Kau bisa kedinginan nanti," ujarnya sambil melipat kedua tangan di depan dada.
Sakura tersenyum lalu mengambil dua bungkus cokelat yang masih tersegel. "Kak Gaara mau?" Sakura menawarkan salah satu bungkus cokelat ke depan wajah Gaara.
Pemuda bermata panda itu mengangkat tangannya, berniat mengambil cokelat yang diberikan Sakura untuknya. "Aaa—"
SREEETT
"Untukku." Dengan sigap Sasori menyambar bungkus cokelat untuk Gaara dari tangan Sakura.
"Kak Sasori! Itu untuk kak Gaara!" seru Sakura kesal dengan Sasori yang datang tiba-tiba lalu langsung mengambil bagian milik Gaara.
"Punya Gaara ya punyaku juga. Tapi apa yang menjadi milikku bukan milik Gaara." Sasori mengangkat bahunya, tersenyum senang tanpa dosa lalu tanpa ragu-ragu membuka bungkus cokelat itu dan menggigitnya.
"Itu egois namanya!" celetuk Sakura. Emeraldnya menyipit menatap kakak keduanya yang kekanak-kanakan itu.
Gaara menghela napas panjang, "Sudahlah, Sakura. Sasori itu memang egois dan kekanak-kanakan," ucap Gaara dengan raut datar tanpa dosa.
Sasori yang sedang asyik menyantap cokelat batangannya langsung mendelik Gaara tajam. Ia mematahkan gigitan cokelat dari batangnya hingga menimbulkan bunyi. "Apa kau bilang?" Tatapan mata hazel itu terlihat horor, kontras dengan sisa cokelat yang menempel di sekitar bibirnya.
Secepat kilat, Gaara menyambar bungkusan cokelat miliknya yang bersisa setengah dari tangan Sasori. "Milikku seratus persen," claim Gaara kemudian tanpa pikir panjang memasukkan sisa cokelat itu ke mulutnya tanpa sisa.
Perempatan siku-siku di dahi Sasori berkedut hebat. Dengan kasar, ia menjitak kepala merah adik kembarnya itu membuat sang adik meringis kesakitan sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan.
"Sialan kau!" Sasori menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya sambil menatap Gaara dengan pandangan kesal.
"Kak Sasori sudah hentikan!" geram Sakura yang tak tega melihat Gaara terus-terusan dianiaya oleh kakak kembarnya sendiri.
Sasori berdecak sebal kemudian berkacak pinggang. "Salahnya sendiri. Sebagai seorang adik seharusnya patuh kepada ucapan kakaknya," kilah Sasori lihai.
Sakura hanya bisa menghela napas panjang. Dia sudah jengah melihat pertengkaran kedua kakak kembarnya yang seperti anak kecil. "Aku mau ke dalam saja," ucap gadis itu kepada kedua kakaknya yang masih bertengkar.
Sakura berjalan melewati Gaara dan Sasori sambil merentangkan kedua tangannya. Membuat kakak-kakaknya sedikit menepi untuk memberi jalan kepada adik perempuan mereka satu-satunya.
"Aku heran kemana orang-orang di rumah ini pergi. Ternyata semuanya sedang ada disini." Suara bariton familiar itu menginterupsi kegiatan mereka. Ketiganya menoleh bersamaan.
Tampak seorang pemuda jangkung berambut cokelat panjang bersandar di ambang pintu dapur. Tampang pemuda itu terlihat lusuh dan kucel. Pakaiannya yang semula rapih kini berantakan. Dasi yang melingkar di lehernya sengaja ia kendurkan agar tidak terlalu gerah.
"Kak Neji..." Sakura menghambur ke arah kakak sulungnya.
Pemuda beriris lavender teduh itu tersenyum lembut kemudian mengelus-elus puncak kepala Sakura. "Mereka tidak berbuat yang macam-macam padamu 'kan?" Tatapan yang semula lembut itu berubah sedingin es beralih menatap dua pasang manik jade di seberang sana.
Sasori yang merasa terancam meneguk ludahnya, berharap Sakura menjaga mulutnya sore ini saja dan tidak mengatakan sesuatu yang dapat mengancam nyawanya sendiri. Gaara yang memang tidak merasa melakukan hal yang 'aneh-aneh', anteng-anteng saja membalas tatapan dingin Neji.
Sakura menelengkan kepalanya, manik klorofilnya membulat, "Aaa, tidak kok."
Diam-diam Sasori menghela napas lega. Dengan begini dia akan aman-aman saja dan bisa keluar dari dapur dalam keadaan hidup.
Neji melirik Sasori sekilas kemudian beralih merogoh saku jasnya. "Oya, Gaara..." Neji masih mencari-cari sesuatu di dalam saku jasnya. "Ada seseorang yang menitipkan ini untukmu," ucap Neji sambil mengangkat sebuah amplop kecil berwarna merah muda yang ia ambil dari sakunya tadi.
Ketiga pasang mata itu memandang benda yang dilayang-layangkan Neji di udara dengan tatapan bingung.
"Untuk kak Gaara?"
"Surat cinta?"
"Aku?" Gaara menunjuk dirinya sendiri. Wajahnya tampak linglung dan bingung.
Neji hanya mengangguk. Gaara lalu berjalan mendekati Neji yang berada di ambang pintu dan mengambil amplop itu dari tangan kakaknya. Penasaran dengan isinya, Gaara langsung membuka bungkus merah muda mencolok itu dan mengeluarkan kertas yang ada di dalamnya. Sasori yang juga penasaran langsung menghampiri Gaara dan berdiri di sampingnya. Begitu pula dengan Sakura yang harus menjinjitkan kakinya untuk dapat melihat isi kertas yang dipegang Gaara.
"Hei, Gaara! Apa isinya? Curang sekali kau malah dapat surat cinta segala dari penggemarmu," celoteh Sasori yang iri pada saudara kembarnya.
Gaara tidak menyahut, ia masih sibuk membuka lipatan-lipatan kertas itu. "Tadi ada seorang siswi berkacamata berambut merah yang memberinya padaku." Ketiga kakak-adik itu mendadak tercengang mendengar penuturan Neji barusan.
"Hah? Rambut merah?" Sasori menggaruk-garuk alisnya, merasa mengenal siswi dengan ciri-ciri yang disebutkan kakak sulungnya.
Neji mengelus dagunya sejenak. Iris lavendernya menatap langit-langit rumah mewah itu. "Kalau tidak salah namanya—"
"Karin Namikaze! Benar kan, Kak Neji?" sela Sakura yang dibalas dengan anggukan heran Neji.
"Bagaimana kau bisa tahu, Sakura?" tanya Neji heran.
Sasori menjatuhkan satu kepalan tangan ke telapak tangannya. "Aaa, aku ingat! Dia itu teman sekelas Sakura yang tadi menyatakan cintanya pada Gaara serta memanggil si bodoh ini dengan embel-embel 'pangeran', 'kan?" Sasori melipat kedua tangannya di depan dada kemudian menggulirkan iris hazelnya ke arah Gaara. Menatap iri pemuda yang sedang anteng memandangi isi kertas surat cinta pertamanya.
"Begitukah? Hebat sekali. Kau bahkan kalah telak, Sasori," ledek Neji dengan senyum miring nakal dibuat-buat.
Tentu saja hal itu berhasil membuat Sasori makin sebal karena merasa kalah saing dengan adik kembarnya yang masih polos itu. Sasori mengernyitkan dahinya, berusaha menahan perempatan siku-siku itu tidak muncul. "Apa peduliku?" geramnya kesal.
Melihat reaksi Sasori tadi, Neji hanya terkekeh pelan. Kentara sekali kalau dia benar-benar iri dan merasa tersaingi oleh adik kembarnya.
"Apa maksudnya?" Gaara menatap bingung kertas surat yang sudah hampir seperempat jam ia pegang.
Semuanya menoleh, menatap saudara mereka dengan tatapan tak kalah bingung. Sakura memanjangkan lehernya untuk bisa melihat isi surat itu. Gadis itu benar-benar penasaran apa yang sudah ditulis Karin disana. Ia juga heran bagaimana bisa Karin tahu secepat itu kalau Neji adalah kakak sulungnya.
Kemampuan gadis itu dalam mencari informasi memang benar-benar menakjubkan. Bahkan di hari pertama ia masuk sekolah, Karin sudah menemukan orang yang menjadi incarannya. Dan sekarang gadis bersurai merah mawar itu terang-terangan memberikan surat cinta kepada Gaara melalui Neji. Memang, seingat Sakura tadi, Karin pulang lebih telat dibandingkan dirinya dan saat itu Sasuke juga masih ada disana. Mungkinkah Sasuke yang memberitahu gadis itu dan surat itu dibuat dadakan saat itu juga? Kalau memang benar, Sakura patut mengacungkan dua jempolnya untuk keberanian dan kegesitan murid baru itu.
"Apa yang Karin tulis disitu, Kak?" Sakura belum menyerah untuk mengintip isi surat itu.
Gaara membalikkan kertas berisi tulisan Karin ke depan wajah Sakura. Spontan Neji dan Sasori pun ikut bersungut mendekat untuk membaca kertas yang hanya berisi sepenggal kalimat namun penuh dengan ukiran-ukiran di setiap barisnya. Manik beda warna mereka menyipit.
I LOVE YOU PANGERANKU :*
MINGGU PAGI KENCAN YA. AKU TUNGGU DI TAMAN KOTA KONOHA JAM 10. DATANG TIDAK DATANG AKAN TETAP KUTUNGGU. LOVE YOU ALWAYS PANGERANKU... :*
~Karin Namikaze. X-3~
Singkat, jelas dan padat. Itulah kesan yang mereka dapat setelah membaca surat dari Karin. Bahkan isi surat itu lebih tepat dibilang sebagai surat pemaksaan ketimbang surat cinta. Baik Neji, Sasori dan Sakura langsung sweatdrop membaca surat itu.
"Wah, berani juga ya gadis ini. Baru kali ini aku bertemu dengan yang seperti ini," tutur Neji kalem.
Sasori bergantian melirik Gaara kemudian surat yang ia pegang. Seolah masih tidak percaya, ia beberapa kali mengucek-ucek matanya. Kalau-kalau ada gangguan di matanya yang membuatnya salah membaca. "Ga—gaara diajak kencan? Secepat itu?" Sasori menatap Gaara histeris. Sepertinya kali ini dia benar-benar kalah telak.
Sakura masih bergeming memperhatikan kata demi kata yang tertulis di atas kertas itu. Mendadak ia teringat kembali cerita Sasuke di sekolah tadi tentang Karin yang pantang menyerah terhadap sesuatu yang menjadi target incarannya. Apalagi dengan ucapannya sepulang sekolah tadi yang masih membuat Sakura terngiang-ngiang. Sekarang terbukti kalau ia tidak main-main dengan ucapannya.
"Jadi kau akan pergi besok?" tanya Sasori.
Gaara mengangkat bahunya, ia menempelkan kertas tadi di dada Sasori kemudian berjalan menuju sofa di ruangan bersantai. Kedua tangannya ia pindahkan ke belakang kepala. Seolah tidak peduli dengan surat tadi. Gaara menghempaskan bokongnya di busa empuk sofa itu.
"Hei, jadi kau benar tidak akan pergi?" Sasori menyusul Gaara diikuti oleh Neji dan Sakura.
Gaara mengambil remote yang ada di meja depannya kemudian mulai memencet-mencetnya. "Aku tidak tertarik," sahut Gaara singkat.
Sasori menjentikkan jemarinya. "Kalau begitu biar aku saja yang menggantikan—"
BUUUKK
Sebuah kepalan tangan mendarat mulus di atas kepala Sasori. Pemuda berambut merah itu menoleh sebal dan hendak memaki orang yang menjitak kepalanya itu. Namun urung ketika sadar bahwa yang melakukannya tadi adalah Neji. Dan sebelum ia berhasil memaki kakak sulungnya itu, pemuda berwajah imut itu sudah kembali dihadiahi aura menyeramkan kakaknya.
"Kenapa tidak mau? Tidak ada salahnya kan sesekali jalan berdua dengan perempuan?" Neji memanjangkan satu tangannya di atas sofa.
"Tidak mau."
Neji mendengus pelan. Mau bagaimanapun juga Gaara bukan anak kecil lagi. Setidaknya dia juga harus merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta, berkencan dengan seorang gadis atau mengungkapkan perasaannya kepada seseorang. Gaara yang terkenal sangat cuek terhadap urusan yang seperti itu kadang membuat Neji merasa khawatir. Sebagai seorang kakak, ia harus bisa memantau adik-adiknya termasuk dalam urusan pribadi. Tapi kalau Gaara, bahkan Neji sama sekali tidak bisa memantaunya karena adiknya yang satu itu benar-benar terbebas dari 'virus merah jambu' yang bisa membuat galau para umat yang diserangnya.
"Sekali-kali tidak masalah 'kan? Lagipula sepertinya anak itu benar-benar serius. Aku salut dengan keberaniannya," bujuk Neji lagi.
Ya, apa mau dikata. Naluri seorang kakak yang ingin sekali bisa melihat adiknya pergi berkencan dengan gadis lain membuat Neji tanpa sadar malah setengah memaksa Gaara untuk mengiyakan ajakan Karin.
Sakura masih terpaku. Ia hanya mendengarkan pembicaraan mereka tanpa masuk ke dalamnya. Ia masih berpikir keras, apa yang harus dilakukannya. Kalau Gaara mengiyakan ajakan Karin, Sakura takut gadis berambut merah itu akan berbuat macam-macam kepada kakaknya. Tapi di sisi lain, Sakura juga kasihan dengan Karin kalau sampai Gaara menolak mentah-mentah ajakan gadis itu. Lagipula benar juga kata Neji tadi kalau Gaara sekali-kali juga harus merasakan bagaimana rasanya jalan berdua dengan seorang gadis.
Rasanya ini hal sulit yang harus Sakura tentukan. Pertentangan batin masih terus bergulir di dalam hatinya. Bingung, apakah ikut mendukung atau sebaliknya malah tidak sama sekali.
Gadis musim semi itu berjengit ketika merasakan ada getaran di balik saku celana pendek yang ia kenakan. Ponselnya bergetar lumayan lama, melihat ada beberapa sms masuk ke dalam nomornya. Sakura mengernyit, semua sms itu berasal dari nomor yang sama—nomor yang tidak ia kenal dan ada banyak sekali masuk dalam rentan waktu yang berdekatan.
Sakura menekan-nekan tombol ponselnya membaca satu per satu pesan singkat itu dan sukses membuat matanya membulat begitu membaca isi pesan itu. Dengan satu gerakan refleks, Sakura berpindah tempat—jongkok di bawah kaki Gaara dan nyaris seperti berlutut.
Melihat sikap tiba-tiba Sakura tentu saja membuat ketiga kakaknya tersentak kaget. "Sakura, apa yang kau—"
"Aku mohon..." Suara Sakura terdengar lirih.
"Eh?"
Sakura menggenggam kedua tangan Gaara dan mengangkatnya ke udara. "Aku mohon Kak Gaara mengiyakan ajakan Karin," pinta Sakura tiba-tiba.
Gaara semakin mengernyit. "S—sakura, kenapa ka—"
"Lagipula benar kata kak Neji, kalau Kak Gaara juga harus mencoba berkencan sekali saja." Sakura menatap Gaara semelas mungkin. Ketiga kakaknya memandang bingung perubahan sikap mendadak Sakura.
Sakura menelengkan kepalanya, memasang wajah sepolos dan semenyedihkan mungkin agar Gaara merasa iba padanya dan mengiyakan permintaannya. "Aku mohon... Ya, Kak?"
Jurus Sakura yang satu ini memang begitu ampuh dan mematikan. Tapi sorot mata mematikan dengan aura dingin yang mengancam dari Neji yang ada di seberang sana justru lebih mematikan lagi. Gaara meneguk ludahnya sendiri. Kali ini, ia benar-benar tidak bisa menolak.
oOo
Karin memandangi layar ponselnya, baru saja ada satu pesan masuk yang ia terima. Ia langsung membuka kotak masuknya kemudian membaca isi pesan itu. Gadis berambut merah itu menyeringai.
"Bagaimana?" Itachi nampak penasaran dengan tanggapan dari si pengirim sms tersebut.
Karin mengacungkan jempolnya ke Itachi sambil tersenyum riang. Itachi terkekeh pelan. "Tepat 'kan?"
"Tapi... Bagaimana Kak Itachi bisa tahu kalau Sakura maniak es krim?" Karin menutup ponselnya kemudian kembali menatap Itachi.
Pemuda itu mendengus geli menahan tawanya. "Sasuke pernah menceritakannya padaku waktu itu. Walaupun kelihatan pendiam, kalau soal Sakura anak itu bisa berubah menjadi cerewet." Itachi kembali terkekeh.
Karin membulatkan bibir tipisnya sambil mengguman kata 'oh' singkat. Ia baru tahu kalau orang sedingin Sasuke bahkan punya sifat manis jika sudah menyangkut gadis yang disukainya.
"Nah..." Itachi menepuk pelan pundak Karin dari depan. "Berjuanglah untuk hari Minggu nanti," ujarnya dengan senyuman lebar yang tak luput dari wajahnya.
Karin membenarkan letak kacamatanya kemudian tersenyum miring. "Tenang saja. Memangnya apa yang tidak bisa dimiliki oleh seorang Karin Namikaze?" Gadis itu kemudian tertawa puas sambil menutup bibirnya dengan satu tangan.
oOo
"Benar tidak apa?" Gaara menggulung lengan bajunya. Mata jadenya menyapu pandang ke suasana jalan yang sedang ramai di Minggu pagi itu.
Sesaat kemudian irisnya kembali bergulir kepada Sakura yang ada di sampingnya. "Akan bagaimana jadinya nanti?"
Namun adik perempuannya itu sama sekali tidak menggubris semua keluhannya sejak tadi. Gaara mendengus pelan. "Kenapa harus aku? Seharusnya ajak Sasori saja menggantikanku." Bukan hanya sekali Gaara mengucapkan kata-katanya tadi. Ini sudah hampir yang ke ketujuh kali di sepanjang jalan mereka menuju tempat yang dijanjikan.
Sakura menghela napasnya panjang-panjang. Sudah hampir seperempat jam Gaara mengeluh di sepanjang jalan. Gaara yang biasanya diam berubah menjadi banyak bicara pagi ini. Lama-kelamaan Sakura mulai bosan mendengar ocehan yang sama dari bibir Gaara. Gadis musim semi itu memilih untuk diam daripada meladeni pertanyaan Gaara yang sebenarnya sudah ia jawab sejak tadi. Sebelum pemuda itu kembali menanyakan hal yang sama lima menit kemudian.
Sesekali Sakura melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Mereka sudah terlambat hampir satu jam. Mau bagaimana lagi, semuanya ulah Gaara sendiri. Sakura sudah siap sejak pagi untuk menemani Gaara kencan dengan Karin. Sebenarnya bukan mau Sakura untuk menemani Gaara tapi Karin sendiri yang mengajak gadis itu. Karin juga sudah mengajak Sasuke untuk ikut. Alih-alih double date, Sakura sendiri lebih tertarik untuk mengintipi Gaara dengan Karin ketimbang harus kencan dengan tunangannya sendiri.
Entah karena kelewat cuek atau tidak mengerti bagaimana caranya berkencan. Gaara malah hanya memakai kaos merah oblong favoritnya yang bahkan warna kaos itu sudah pudar, celana pendek plus sandal jepit merah dengan rambut acak-acakan. Melihat penampilan sang kakak yang jauh sekali dari kata 'ganteng' apalagi 'keren' membuat darah Sakura serasa mendidih. Apalagi Sasori yang sudah terpingkal-pingkal melihat penampilan Gaara yang persis baru bangun tidur ketimbang untuk sebuah kencan.
Dengan kasar Sakura langsung menggeret kakaknya kembali ke dalam kamarnya dan mengobrak-abrik isi lemari pemuda berambut merah. Berkat instingnya yang cukup bisa diandalkan kalau masalah penampilan Gaara pun ia sulap menjadi 'cowok yang layak kencan'. Dengan kemeja kotak-kotak merah yang dilepas kancingnya dan dalaman kaos putih serta celana jeans hitam membuat penampilan Gaara setidaknya jauh lebih baik dari yang pertama tadi. Alhasil, mereka pun telat hampir satu jam sekarang.
"Sakura, apa saja yang akan kita kerjakan nanti? Lalu aku harus bagai—"
Sakura langsung menggaet tangan kakaknya ketika ia melihat bayangan seorang perempuan berambut merah dan pemuda berambut raven sedang berdiri di depan bangku taman itu. Gadis itu mempercepat langkahnya—yakin kalau mereka adalah Karin dan Sasuke yang sudah menunggu. Terpaksa, Gaara harus mengimbangi langkah cepat Sakura yang menggaet tangan kanannya.
Sakura melambaikan sebelah tangannya ketika melihat gestur Karin yang sedang melihat ke arah mereka juga. Gadis berkacamata itu pun balas melambai.
"Maaf kami terlambat," ujar Sakura sedikit menundukkan kepalanya.
"Kau terlambat satu jam," sahut Sasuke sarkastik. Pemuda itu melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap sinis tunangannya.
"Aku kan sudah minta maaf!" sewot Sakura tidak mau kalah.
Keduanya saling menatap dengan pandangan tajam dan tak mau kalah. "P—pangeranku..." Karin menutup mulutnya dengan kedua tangan. Pandangannya sama sekali tidak bisa lepas dari Gaara. Menurutnya Gaara saat ini benar-benar mempesona dan berkilau layaknya pangeran berkuda putih seprti di dongeng-dongeng pengantar tidur.
Sasuke dan Sakura yang tadi bertengkar spontan terdiam dan memandang kedua orang berambut merah itu. Karin langsung menghambur ke Gaara. Pemuda itu berusaha melepas tangan Karin namun tidak bisa. Ia hanya merasa risih dan belum terbiasa diperlakukan seperti itu oleh seorang perempuan. Perlu dicatat kecuali Sakura.
"Aku senang sekali kau mau datang. Aku tadinya sempat ragu kalau kau akan datang kemari," ujar karin dibuat semanis mungkin sambil menatapa mata jade itu.
Gaara menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Hn, aku dipaksa Sakura kemari." Sementara Sakura yang ada di seberangnya langsung memberi isyarat dan kode-kode tubuh begitu mendengar jawaban jujur kakaknya.
Karin melepaskan tangannya dari lengan Gaara. "Begitukah?" Iris rubynya bergulir menatap emerald Sakura—sedikit kecewa. Sementara yang ditatap hanya nyengir kuda merasa tidak enak.
Karin merapatkan kedua telapak tangan di samping wajahnya. "Ah, sudahlah tidak apa-apa. Asal pangeran datang saja sudah cukup membuatku senang," ujar gadis itu dengan senyum ceria.
Sedetik, jade Gaara tidak bisa berpaling dari wajah Karin. Ada perasaan lain yang tiba-tiba muncul di dalam hatinya. Entah apa yang ia pikirkan. Senyum Karin tadi terlihat begitu...manis di matanya.
oOo
Sakura menatap semangkuk besar es krim di hadapannya dengan pandangan berbinar. Es krim beda rasa yang ditumpuk menjadi lima tingkat di dalam mangkuk berukuran besar. Di atas es krim itu disiram dengan saus cokelat dan wafer di sampingnya, menambah kesan lezat dari es krim itu.
Tanpa mau menunggu lebih lama lagi, gadis musim semi itu mengambil sendok kecil yang disediakan di sampingnya. "Selamat makan..." Ia memasukkan suapan pertama ke dalam mulutnya kemudian kembali tersenyum semeringah.
Sasuke yang memperhatikan Sakura sejak tadi hanya mendengus pelan. Ia menatap malas kudapan manis yang ada di depannya. Pemuda itu menyendok-nyendokkan es krim tersebut namun belum ada satu pun yang masuk ke dalam mulutnya. Sasuke memang benci makanan manis makanya ia sama sekali tidak bernafsu dengan santapan siang mereka.
"Jadi termakan bujukan hanya karena es krim ini, heh?" Mata kelam Sasuke menyipit menatap Sakura yang masih asyik menyantap es krimnya.
Sakura mengurungkan suapan ke sekiannya dan balik menatap Sasuke. "Terserah padaku!" jawabnya ketus kemudian kembali memasukkan suapannya tadi.
Sasuke kembali mendengus kemudian mengambil wafer renyah di mangkuknya dan memakannya. Karin yang juga asyik makan melirik Gaara yang masih bergeming.
"Pangeranku kenapa?" tanya Karin pelan. Ia menghentikan kegiatannya dan memperhatikan Gaara.
Pemuda bertato 'ai' itu menoleh, "Ah, tidak ada apa-apa."
"Kau tidak suka dengan makanannya ya? Mau kupesankan yang lain?" tanya Karin perhatian.
Gaara menggeleng pelan, "Tidak, tidak perlu."
Wajah Karin kembali ditekuk mendengar tanggapan Gaara yang datar. Ia menyuap lagi es krim ke dalam mulutnya. Entah sejak kapan suasana mereka menjadi hening dan kaku. Karin menghela napas berat, setidaknya ia ingin Gaara juga ikut menikmati kencan ini—bukan hanya dirinya atau Sasuke dan Sakura.
oOo
Kedua pasang muda-mudi itu menyusuri jalan kecil di tengah pertokoan padat. Kios-kios kecil di pinggir jalan yang semula tutup kini sudah dibuka dan ramai didatangi oleh pengunjung. Keempat orang beda gender tersebut berjalan beriringan. Karin masih setia menggaet lengan Gaara. Sementara Sakura dan Sasuke mengikuti mereka dari belakang.
Manik ruby Karin teralih ke sebuah stand kecil di pinggiran pertokoan. Stand itu menjual beragam pernak-pernik dan cenderamata unik. Merasa tertarik, gadis bersurai merah mawar itu melangkah mendekati stand tersebut. Sepasang rubynya mengamati pernak-pernik yang digantung di sebuah papan kayu kecil. Sebagian lagi disusun rapih di atas papan kayu kecil.
Sakura yang sedaritadi berjalan di belakang Karin langsung menghampiri gadis itu dan berdiri di sampingnya. Ia juga ikut mengamati beberapa gantungan kunci yang menurutnya lucu. "Wah, lihat yang ini. Cocok sekali dengan namaku." Gadis musim semi itu mengambil sebuah gantungan kunci berbentuk kelopak bunga sakura.
Karin juga ikut mengambil sebuah gantungan kunci berbentuk manekin kayu kecil. "Yang ini juga lucu," ujarnya sambil mengangkat gantungan itu.
"Ah, kalau yang itu ada pasangannya," ucap sang kakek penjual itu. Kakek tersebut mencari pasangan gantungan kunci yang ditunjukkan tadi di antara deretan gantungan kunci lainnya yang tergantung di papan kecil tersebut.
"Nah, ini dia pasangannya." Kakek itu menyerahkan satu gantungan kunci lainnya ke Karin. Modelnya sama dengan milik Karin. Hanya saja manekin kayu kecil yang dipilih kakek itu tadi adalah lelaki sementara yang Karin pegang adalah perempuan.
"Itu sedang populer di kalangan pasangan remaja sekarang," ujar kakek itu sambil tersenyum.
Karin memperhatikan sejenak kedua pasang gantungan kunci itu. Gadis itu kemudian menolehkan kepalanya ke Gaara. "Ah, pangeran—"
"Kau mau yang itu, Sakura?" Gaara yang sedaritadi sedikit mengambil jarak dari mereka mendadak mendekati Sakura. Ia memperhatikan gantungan kunci yang dipegang adik semata wayangnya itu.
Sakura sedikit terkejut dengan kehadiran Gaara. Ia menoleh, "Ah, Kak Gaara..." sekilas ia melirik ke arah Karin. Gadis berkacamata itu nampak terdiam sambil memperhatikan dirinya dan Gaara. Ada raut wajah iri dan kecewa yang terpancar jelas darinya.
Tiba-tiba Sakura merasa tidak enak dengan Karin. Walau bagaimanapun juga acara kencan ini seharusnya agar Karin bisa dekat dengan kakaknya. Sakura juga tidak mau mengecewakan gadis itu. Gaara semestinya memperhatikan Karin bukan dirinya.
"Tidak u—"
"Kau mau yang ini?" Entah sejak kapan gantungan kunci yang Sakura pegang telah beralih ke tangan Sasuke.
Pemuda berambut raven itu mengamati sekilas gantungan tersebut. "Ini berapa?" tanya Sasuke kepada si pedagang.
"Ah, itu 50 yen," sahut si pedagang.
"Hn." Sasuke mengeluarkan dompetnya kemudian menyerahkan selembar uang kepada kakek itu.
"Ah, terima kasih ya..." Si pedagang tersenyum senang.
Sasuke menyerahkan gantungan kunci itu kepada Sakura. Gadis itu sempat tertegun sejenak namun kemudian ia akhirnya mengambil pemberian tunangannya itu. "T—terima kasih..." Semburat merah sudah menjalar di wajah mulus gadis itu.
Sasuke menggulirkan onyxnya ke arah Gaara. "Sakura punya pasangannya sendiri, Kak Gaara. Begitu juga dengan kau." Pemuda itu tersenyum miring namun penuh dengan isyarat dan makna tersendiri.
Gaara terpaku sejenak, masih berusaha meresapi dan mencerna maksud ucapan Sasuke barusan.
"Bagaimana gadis cantik, yang itu juga mau?" Kakek penjual itu menunjuk dua gantungan kunci yang dipegang Karin.
Karin agak terkejut. Barusan ia terlalu fokus sehingga tidak ingat kalau dia masih memegangi gantungan kunci tersebut. Karin tersenyum malu sekaligus kikuk. Ia berniat untuk menyerahkan kembali gantungan itu kepada kakek tadi. "Ah, m—maaf sepertinya tidak—"
"Aku ambil yang itu."
Karin menoleh. "Eh?"
"Yang itu berapa dua-duanya?" Gaara menunjuk kedua gantungan kunci yang masih dipegang Karin.
"Ah, kalau yang itu sebenarnya 100 yen. Tapi untuk kalian ku berikan potongan jadi 80 yen saja," sahut kakek tadi.
Tanpa pikir panjang lagi Gaara mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya kemudian menyerahkannya kepada si penjual. Kakek itu tersenyum senang seraya mengucapkan terima kasih kepada Gaara. Karin sendiri masih tercengang dan tidak menyangka.
"Yang ini punyaku 'kan?" Pertanyaan Gaara seketika membuyarkan lamunan Karin.
"Eh ah i—iya..." Karin menyerahkan gantungan manekin kecil laki-laki kepada Gaara.
Gadis cantik itu masih belum berani menatap iris jade Gaara. Saat ini dia benar-benar senang, rasanya seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di sekitar perutnya. "T—terima kasih, pangeranku..." semburat merah itu kian menjalar di wajahnya. Gaara membalasnya dengan seulas senyuman tipis.
Karin mendekap gantungan kunci pemberian Gaara barusan. "Terima kasih, aku sangat senang sekali." Karin kembali berujar dan sekali lagi ia tersenyum sangat riang.
oOo
Matahari sudah merangkak naik, namun cuaca dingin di penghujung musim membuat udara di Konoha tidak terlalu terik seperti biasanya. Puas menjelajahi setiap sudut pertokoan dan keramaian di Konoha, mereka pun memutuskan untuk mampir sebentar ke sebuah kuil yang ada di pinggiran kota Konoha. Empat anak manusia beda gender tersebut berniat untuk memanjatkan doa sejenak sambil menikmati penghujung musim gugur di dalam kuil yang dipenuhi dengan beberapa pohon besar nan rindang.
Keempatnya sampai di depan sebuah kuil kecil. Terlebih dahulu mereka memasukkan beberapa rincing koin ke dalam kotak kayu kecil yang ada di depan kuil tersebut. Setelah itu mereka pun khusyu' memanjatkan doa masing-masing. Suasana berubah hening, hanya terdengar suara gemerisik angin yang bergesekan dengan daun gugur.
Dalam hatinya, Karin memanjatkan doa sungguh-sungguh. Bisa dibilang ini pertama kalinya ia kembali ke kuil Konoha setelah beberapa tahun ia tidak pernah lagi menginjakkan kakinya disini. Gadis itu berdoa dengan khusyu', berharap doanya didengar oleh sang pencipta dan mengabulkannya.
Selesai berdoa, mereka kembali berjalan beriringan mencari bangku panjang atau semacamnya yang bisa dijadikan tempat beristirahat. Gaara juga nampaknya mulai terbiasa berbicara dengan Karin. Terlihat jelas dengan ekspresi wajahnya yang berbeda ketimbang tadi pagi. Ia juga tidak lagi diam saat Karin memulai kembali pembicaraan mereka. Gaara sudah mulai ikut menanggapi setiap ucapan Karin, membuat gadis itu juga merasa nyaman dan tidak terlalu kaku.
Berbeda dengan Sakura dan Sasuke yang sejak tadi hanya diam seribu bahasa. Sasuke lebih tertarik memperhatikan pemandangan sejuk dan teduh di sekelilingnya. Sementara Sakura sendiri layaknya seorang penguntit yang terang-terang memperhatikan perkembangan hubungan kakaknya dengan Karin. Pasangan baru itu bahkan tidak sadar kalau sedaritadi dirinya memperhatikan mereka. Saking terhanyut dalam percakapan dan candaan mereka sendiri
"Aw..." Sasuke meringis ketika merasakan ada sesuatu yang keras menginjak ujung sepatunya.
Sakura langsung mendelik tajam pemuda itu. "Ssstt!" Gadis itu meletakkan satu telunjuknya di depan bibir.
Sasuke mengernyit melihat perlakuan tunangannya itu. Tanpa sempat menjelaskan apapun kepada Sasuke, Sakura menggaet pelan Sasuke kemudian mengendap-endap menjauhi Karin dan Gaara dengan hati-hati agar tidak ketahuan. Kedua orang itu pun menepi di dekat pohon besar yang tumbuh di jalanan setapak itu. Beruntung Gaara dan Karin sama sekali tidak menyadari kepergian mereka.
Sakura menghela napas lega dan melepaskan tangannya dari lengan Sasuke. "Kenapa harus bersembunyi segala?" tanya Sasuke heran.
Sakura menatap tajam pemuda di hadapannya itu. "Kalau tidak begini, mereka tidak punya kesempatan untuk berduaan. Kehadiran kita mengganggu mereka." Sakura mengangkat kedua bahunya. "Aku hanya mau membantu mereka."
Sasuke menyeringai mendengar penuturan Sakura. Dia melipat kedua tangannya di depan dada. "Bilang saja kalau itu hanya alasanmu untuk bisa berduaan denganku."
Sakura membelalakkan matanya. Ia ingin muntah rasanya mendengar pernyataan Sasuke yang diucapkan dengan penuh percaya diri itu. "Sembarangan kau!" bantah Sakura keras.
Diluar dugaan Sasuke malah merangkul pinggul Sakura, membuat gadis itu jatuh ke dalam pelukannya dan meletakkan sebelah tangan Sakura di depan dadanya. Tentu saja perlakuan Sasuke langsung membuat wajah Sakura merona merah. Pemuda itu menempelkan keningnya ke kening lebar Sakura, mempertipis jarak di antara mereka.
"Lalu kau mau aku melakukan apa?" Dengan jarak sedekat itu Sakura bisa merasakan deru dan hembusan napas Sasuke. Posisi yang seperti ini tentu saja sangat menguntungkan bagi Sasuke. Hanya seperempat jarak saja untuk—
"JANGAN MACAM-MACAM! DASAR MESUM!"
PLAAAKK
Sebuah tangan berukuran mungil mendarat dengan mulus di wajah halus Sasuke, meninggalkan cap kemerahan berbentuk tangan di pipinya. Sakura yang masih kaget dan takut mengatur napasnya dan mengambil jarak sejauh mungkin dari tunangannya. Hal yang paling menyebalkan adalah perlakuan jahil dari tunangannya yang sering sekali meledeknya.
Jantung Sakura masih berdebar kencang dan bisa dipastikan wajahnya sekarang sudah memerah sempurna. Tampaknya akan jadi suatu kesalahan baginya membiarkan dirinya hanya berduaan saja dengan pemuda raven itu.
oOo
"Loh? Kemana Sakura dan Sasuke?" Karin celingukan ke kiri dan kanan mencari kedua orang itu. Terlalu asyik mengobrol dengan Gaara membuatnya tidak sadar kalau dua orang itu sudah menghilang atau lebih tepatnya melarikan diri entah kemana.
"Apa sudah pulang duluan?" tebak Gaara ngaco.
Karin membenarkan letak kacamatanya. "Tidak mungkin. Apa mereka sengaja meninggalkan kitra?" gumamnya pelan. Keduanya kemudian hening sejenak. Tampak berpikir masing-masing.
Tiba-tiba Karin menolehkan kepalanya dengan cepat. Iris rubynya bergulir ke arah semak-semak pepohonan yang ada di seberangnya. Manik indahnya menyipit seakan menyadari kehadiran seseorang.
"Ada apa?" tanya Gaara heran melihat kejanggalan pada Karin.
Karin mengibas-ngibaskan sebelah tangannya di depan dada. "Ah, t—tidak. Tidak ada apa-apa," sahutnya sambil tertawa dibuat-buat.
Gaara terdiam, bingung dengan sikap Karin yang mendadak berubah.
"Err, pangeranku, aku kebelakang sebentar ya." Karin memegang kedua pundak Gaara. "Kau tunggu disini saja sebentar. Nanti aku akan kembali lagi ya."
Tanpa sempat protes terlebih dulu, Karin sudah terlanjur melesat pergi. Ia melambaikan tangannya kemudian kembali melesat. Larinya benar-benar cepat hingga Gaara tidak sempat memanggil namanya. Pemuda itu mendengus, memandang ke sekelilingnya yang sepi. Sekarang ia malah sendirian.
oOo
Karin sampai di sebuah lapangan kosong berumput, tak jauh dari tempat ia meninggalkan Gaara tadi. Tempat itu nampak sepi. Hanya ada semak-semak rerumputan dan beberapa pohon serta binatang-binatang kecil yang tak sengaja lewat.
Wajah cantik yang biasanya riang itu terlihat lebih serius sekarang. Alisnya berkerut, kedua tangannya terlipat di depan dada, sorot matanya penuh dengan amarah dan seolah menantang. "Keluar kalian!" seru Karin dengan nada tinggi.
Tak berapa lama, muncul beberapa orang berpakaian serba hitam lengkap dengan kacamata hitam. Begitu meihat sosok Karin di hadapan mereka, semuanya langsung berjongkok seolah memberi salam hormat kepada gadis itu.
"Cih, kalian rupanya." Karin berdecak sebal.
Ia tidak menyangka akan mendapat kiriman bodyguard dari Amerika sana. Moodnya yang sedang baik langsung berubah drastis begitu melihat kehadiran mereka di depan matanya. Karin tahu benar apa maksud dan tujuan mereka datang kemari serta orang yang mengirimkan mereka kepadanya.
"Maaf Nona, tapi kami diperintahkan untuk membawa Anda kembali ke Amerika," tutur salah satu dari mereka.
"Aku menolak!" tegas Karin cepat.
Pengawal tadi menghela napas berat. "Kami sudah menduga kalau Nona pasti akan menolak. Oleh karena itu dia memerintahkan kami membawa Nona secara paksa."
Karin hanya ber-oh-ria seolah tidak menggubris sama sekali penuturan pengawalnya tadi. "Kami tidak mau melukai Nona. Jadi turutilah perintah untuk kembali ke Amerika," ujar pengawal itu lagi.
Karin mengibaskan rambutnya ke belakang kemudian membenarkan kacamatanya. "Jadi kalian berani menantangku?" Ia memajukan kaki kirinya ke depan dan sedikit memundurkan kaki kanannya ke belakang. Gadis itu memasang kuda-kudanya.
Karin menjulurkan tangan kirinya kemudian menggerak-gerakkannya, memberi isyarat menantang. "Ayo, kesini kalau begitu." Gadis itu menyeringai.
oOo
Sudah lima kali Gaara melirik arlojinya dan sudah seperempat jam berlalu setelah Karin meninggalkannya. Bukannya karena bosan menunggu, ia hanya sedikit cemas dimana gerangan gadis itu. Kalau hanya kebelakang seharusnya tidak selama itu kan? Dan memangnya dimana kamar kecil di tempat seperti ini?
Gaara menghela napas berat. "Memangnya kamar kecilnya dimana?" gumam Gaara pelan. Jadenya menyapu pandang ke segala arah namun sosok yang ditunggu belum nampak juga.
Lelah dan bosan menunggu sendirian, Gaara pun memutuskan untuk mencari Karin. Ia melangkah menyusuri jalan yang tadi dilalui Karin. Walaupun Gaara bukan termasuk yang handal dalam urusan percintaan tapi dia orang yang handal di kelas kalau soal pelajaran. Jadi wajar saja kalau dia masih lebih sedikit ingat jalan yang dilaluinya tadi. Kalaupun nantinya nyasar, ia bisa menghubungi Sakura untuk menanyakan keberadaan gadis itu.
Belum sampai setengah jalan Gaara melangkah, telinganya mendengar suara dentuman-dentuman keras. Terdengar seperti suara baku hantam. Ia mengernyit, penasaran dengan suara tersebut Gaara pun berbelok—mendekati sumber suara itu berasal. Kedua maniknya langsung terbelalak begitu melihat apa yang ada di hadapannya.
Gadis itu—Karin yang sejak tadi dicarinya tengah berkelahi dengan beberapa orang berpakaian hitam lengkap dengan kacamat hitam mereka. Tanpa sadar, Gaara berlari mendekat. Khawatir dengan keadaan Karin, pasalnya satu lawan lima itu benar-benar tidak adil apalagi untuk ukuran seorang perempuan.
Baku hantam itu benar-benar terjadi. Tendangan, pukulan tangan, tonjokan diperut dan lain-lain. Namun sejauh yang Gaara lihat justru Karin yang mendesak kelima orang itu. Wajar saja, karena Karin sendiri sebenarnya jago aikido. Sejak kecil Karin sudah berlatih ilmu itu sehingga ketika dewasa ia sudah benar-benar menguasai ilmu tersebut.
"Karin!" Gaara berteriak memanggil namanya. Pemuda itu segera berlari menghampiri Karin.
Gadis itu menoleh, ia tengah berjongkok di atas tanah rerumputan. Nampak sedikit terkejut. "P—pangeranku..."
"Awas!"
Karin lengah, ia tidak menyadari salah satu pengawalnya sudah berdiri di belakang siap melayangkan pukulan di pundak gadis itu. Sudah tidak sempat lagi untuk menghindar.
BUUUKK
Gaara berhasil menghalau pukulan itu dengan tinjunya dan membuat pengawal itu tadi jatuh tersungkur. Karin terbelalak kaget melihat Gaara yang melindunginya. "P—pangeran—"
"Kau lengah." Gaara mengusap mulutnya dengan punggung tangan.
Pemuda itu menolehkan kepalanya ke gadis bersurai merah itu. "Apa yang kau lakukan? Dan siapa mereka semua?" Gaara nampak sedikit berang.
Karin bergeming dan tidak menjawab sepatah pun. Ia bingung harus menjelaskan darimana. Kalaupun diceritakan akan panjang dan sekarang bukanlah waktu yang tepat. Melihat para pengawalnya itu masih belum jera untuk memaksanya pulang.
Gaara mendecak sebal melihat mereka yang kembali bangun seperti tak kenal lelah. "Cih, masih belum menyerah juga." Gaara pun sudah bersiap-siap untuk menerima serangan selanjutnya.
"Sudah cukup!" Suara bariton lain menginterupsi mereka dari belakang.
Semua mata berpaling ke sosok lelaki berpakaian hitam sama dengan pengawal Karin tadi namun tanpa kacamata hitam. Lelaki itu berperawakan tinggi dan berambut silver dengan potongan klimis. Lelaki itu berjalan mendekat.
"Hidan..." gumam Karin.
Sesampainya di hadapan Karin, lelaki itu menundukkan kepala sebagai tanda hormat dan meletakkan sebelah tangannya di depan dada. "Maaf, aku telah lancang padamu, Nona."
Rahang Karin mengeras, kepalan tangannya mengerat. "Jadi benar kau yang menyuruh mereka kemari?" ucap Karin sarkastik.
Lelaki itu—Hidan, memjamkan matanya dan masih menunduk. "Maafkan aku, tapi aku terpaksa melakukan ini, Nona Karin," tuturnya sopan.
"Sudah aku bilang, aku menolak pulang! Aku sudah menyampaikan itu berkali-kali padamu 'kan? Apa kau masih belum mengerti juga?" Karin makin geram.
Hidan memberanikan diri menatap nona mudanya yang sedang diliputi amarah. "Nona..."
"Aku punya kehidupanku sendiri dan berhak menentukannya sendiri!" Wajah Karin kian memerah, antara menahan tangis dan kesalnya yang hampir meledak di waktu yang bersamaan.
Gaara yang sejak tadi diam, mendadak maju selangkah dan memundurkan Karin dengan sebelah tangannya. Pemuda itu menatap tajam Hidan yang ada di depannya. "Maaf, aku memang tidak mengerti masalah kalian. Tapi memaksa seorang gadis untuk menuruti kehendakmu sampai hampir menangis seperti itu menurutku tidak baik," sela Gaara tiba-tiba.
Kedua manik Hidan menyipit menatap Gaara. "Siapa kau?"
Gaara menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuknya. "Aku?" Gaara melirik Karin sekilas. "Aku teman kencan Karin hari ini." Pemuda itu lalu merangkul pundak Karin membuat rona merah menjalar di pipi gadis tersebut.
Hidan berdehem singkat kemudian kembali menanggapi Gaara, "Jadi kau pacar nona Karin?"
"Heh? Pacar?" Gaara bingung dengan pertanyaan Hidan namun tidak terlalu memusingkannya.
Ia menggedikkan bahunya singkat. "Entahlah, yang pasti aku tidak setuju dengan caramu. Seharusnya kau bersabar menunggu sampai ia benar-benar mau kembali bukan memaksanya untuk ikut denganmu..." Jeda sejenak. "Lagipula Karin berhak menentukan pilihannya sendiri kan? Tidak ada seorangpun di dunia ini yang berhak mengekang kebebasan seseorang—siapapun itu."
Hidan sedikit tercengan dengan penuturan Gaara. Perkataan pamuda itu tadi membuatnya teringat akan memori-memori lamanya. Saat-saat bahagia dimana ia bisa melihat nona mudanya itu tersenyum riang dan ceria seperti biasanya. Senadainya ia memaksa Karin untuk kembali sekarang. Lalu, apa ia masih bisa melihat senyuman ceria itu kembali? Apa senyum bahagia itu masih tetap melekat di bibir tipisnya?
Hidan mendengus pelan, ia memejamkan matanya kemudian tersenyum tipis. Lelaki itu berjalan mendekati Karin yang masih awas terhadapnya. Tangan lelaki itu terulur, menyentuh pucuk kepala Karin. "Nona Karin sudah besar sekarang. Tetaplah tersenyum ceria seperti biasanya." Hidan tersenyum lembut.
Karin masih bergeming, belum mengerti maksud perlakuan Hidan tadi. Lelaki itu melangkah menjauh kemudian membalikkan badannya sebentar. "jaga diri Nona baik-baik." Ia beserta para pengawal tadi pun berlalu meninggalkan Karin dan Gaara.
"Hidan..." panggil Karin lirih.
"Kau tidak apa-apa 'kan?" Gaara tampak khawatir.
Karin diam sejenak kemudian menggeleng pelan sambil tersenyum.
"Maaf..."
Karin membulatkan matanya. "Eh?"
Gaara menutup wajahnya dengan satu tangan. "Maaf, tadi aku berkata yang bukan-bukan." Wajah pemuda itu kini sudah memerah penuh. Ia berusaha menutupi wajahnya tersebut.
Karin menatap bingung Gaara. Pemuda itu tidak bersalah, kenapa harus minta maaf? Sedetik kemudian Karin tersenyum. "Terima kasih, hari ini aku benar-benat senang sekali." Suaranya begitu tulus.
Keduanya tersenyum. Karena Karin percaya, setelah ini semua akan baik-baik saja.
oOo
Lelaki berambut hitam dengan mata merah menyala itu berjalan di sepanjang koridor. Di tangannya terdapat beberapa map dan amplop yang digenggamnya kuat. Langkahnya mantap hingga ia terhenti di sebuah pintu besar dengan ukiran-ukiran rumit di sisi-sisinya.
Lelaki itu masuk ke dalam ketika pintu ruangan itu terbuka. Tampak sebuah ruangan berukuran besar dengan sebuah meja kerja dan kursi putar di depannya. Rak-rak buku yang menjulang tinggi menghiasi di setiap sudut kiri dan kanan tembok ruangan itu. Sebuah sofa panjang beserta mejanya juga disediakan tepat di sudut kiri ruangan. Kaca jendela full membuat arak-arakan langit dan jalanan kota yang padat terlihat jelas dari ruangan yang berada di ketinggian limapuluh meter itu.
Lelaki tadi sedikit menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat. "Tuan, ada kabar dari nona Karin Namikaze kalau dia tidak akan melanjutkan tugas yang Anda berikan."
Orang yang dipanggil 'tuan' itu masih memunggungi lelaki tadi. Ia memutar-mutar kursinya ke kiri dan kanan. "Begitu? Seperti yang sudah kuduga sebelumnya."
"Iya Tuan, tapi berkatnya ada beberapa informasi penting yang kami temukan," tutur lelaki tadi sopan.
"Apa?"
"Salah satunya kalau dia—Sasuke Uchiha sudah mempunyai tunangan." Obito—lelaki tadi membuka salah satu mapnya. Ia mengambil beberapa berkas yang telah ditempeli dengan foto seorang gadis di depannya. Obito meletakkan berkas tersebut di meja kerja 'tuan'nya. Kemudian kembali mundur ke belakang.
"Kami sudah mencari beberapa informasi penting tentangnya."
Lelaki itu membalikkan kursi putarnya menghadap meja. Ia kemudian mengambil berkas tersebut dan membacanya singkat. Diambilnya sebuah foto berukuran 4R dengan gambar seorang gadis berambut merah muda yang nampak sedang tersenyum. Lelaki dengan rambut hitam panjang itu menyeringai lalu meremas foto tersebut dengan sekali permainan tangan.
"Sakura Hatake... Akan kubuat menyesal karena telah berani beramain-main denganku." Bola mata merahnya berkilat tajam. Sorot mata kebencian terpancar jelas dari iris semerah darah itu.
~TBC~
Author's Note :
8k+, =A="
ini chapter terpanjang yang pernah aku buat selama ngetik fict ini. Semoga kalian gak bosen n gak capek bacanya.. T^T
terima kasih sebelumnya yang sudah mereview di chapter kemarin. Maaf gak bisa nyebutin satu-satu. Jam sudah menunjukkan pukul 12 dan Yoru sudah amat sangat ngantuk. Maaf.. :'(
Apapun kritik, komentar, dan segala macam unek2 kamu di chapter ini silahkan tulis di kolom bawah ini. Makasih untuk semua yang udah baca fict ini.
So Mind to Review?
