ini hadiah "update cepet" buat kalian yg udh dukung cerita ini XD -riri-

arigatou minna-san... *bow

maaf nggak bs bales review kalian satu-satu... maapin riri yaaaak :p

Chapter 10-distance

"nggak natsu, kau tunggu di bawah" kata lucy tegas.

"hei aku suamimu..." kata natsu dengan wajah pura-pura tersakiti.

"kau mulai gila" kata lucy. "ayolah natsu, aku hanya ingin mandi dan ganti baju... kau kan sudah mandi, kau tunggu dibawah dan kita akan makan malam bersama... oke?" tawar lucy

"bukanya seorang suami harus mengikuti istrinya kemanapun?" tanya natsu seperti anak kecil.

Lucy mendecakkan lidahnya kesal. "bukan berarti kau boleh mengikutiku ke kamar mandi. Dan bukankah kau janji nggak akan melakukan hal yang aneh-aneh?" tanya lucy.

"aku nggak mengikutimu ke kamar mandi, aku menunggumu di sofa yang ada dikamarmu dengan menonton tv" kata natsu jelas.

Kesabaran lucy mulai habis. Sejak beberapa jam lalu natsu memintanya untuk bermain rumah-rumahan dengan dia sendiri sebagai istrinya. Lucy beruntung bibi lavia sudah pulang, jadi ancaman natsu tentang sama sadisnya bibi lavia dan erza nggak bekerja, tapi yang jadi masalah adalah natsu. natsu akan mengganggunya sampai lucy mau menuruti kemauannya. Untuk menyetujui permintaannya saja natsu menggelitikinya sampai rasanya perutnya kram. Peraturannya gampang kali ini. satu, lucy hanya harus bersikap seperti istri natsu dan natsu nggak akan mengganggunya. Dua, Natsu nggak boleh melakukan hal yang aneh-aneh. tiga, permainannya dilakukan sampai mereka pulang besok pagi.

Lucy memutar pikirannya untuk mencari cara agar natsu memberinya sedikit privasi. Sebuah ide muncul, tapi ide ini akan membuatnya benar-benar malu. Pipi lucy mulai memerah. Natsu menatapnya bingung.

"kenapa diam, lucy? apa artinya aku boleh menunggu?" tanya natsu senang

"nggak natsu!" lucy berbicara agak keras. natsu tersenyum nakal dan hendak menerobos penjagaan lucy dipintu sebelum akhirnya lucy memegangi lengannya. "baiklah..." kata lucy penuh keyakinan. Natsu mengangkat salah satu alisnya. Lucy mendongak pelan menatap ke arah natsu.

"b-bisakah k-kau menunggu di bawah?" kata lucy dengan tergagap pipinya merah. Natsu hendak menerobosnya lagi saat lucy meneruskan perkataannya. "s-sayang?" kata lucy pelan tapi cukup untuk membuat natsu membeku. Natsu menoleh ke arah lucy dan mendapati ekspresi malu lucy yang didapatinya terlihat menggemaskan. Natsu mengacak-acak rambut lucy pelan dan tertawa.

"begitu baru benar. Aku menunggumu dibawah" kata natsu sambil berbalik menuruni tangga. Saat punggung natsu sudah nggak terlihat lucy cepat-cepat menutup pintu kamarnya dan bersandar dibalik pintu. Tangan lucy menelungkup di atas dadanya mencoba untuk menenangkan jantungnya yang serasa seperti mau lepas dari tempatnya saat memanggil natsu seperti tadi.

"ini Cuma pura-pura... pura-pura..." lucy menenangkan dirinya lagi dan berjalan menuju kamar mandi


Lucy keluar dari kamar mandi dan mengencangkan baju mandinya. Dia melirik ke arah jendela dan mendapati sudah mulai gerimis di luar. Jam menunjukkan sudah pukul 7 malam. Dia sedang memilih baju dari kopernya saat ponselnya berdering. Nama lisanna tercantum di layarnya. Lucy duduk di tempat tidurnya menghadap jendela kamar. Dia ragu ingin menjawabnya atau tidak, seharian dengan natsu membuatnya melupakan apa yang diminta lisanna untuknya beberapa hari lalu. Lucy menghembuskan nafas panjang dan menerima telfonnya.

"halo?" lucy menyapa pelan.

"halo lucy? ini aku lisanna" kata lisanna diseberang.

"oh, hey lisanna, ada apa?" tanya lucy sopan. Didalam hatinya lucy bertanya apa lisanna sudah tahu kalau saat ini lucy sedang berlibur dengan natsu.

"ah~ aku Cuma ingin tahu apa benar kau sedang berlibur dengan natsu?" tanya lisanna secara langsung. Terdengar nada khawatir di suaranya

"begitulah lisanna, tapi ini..." lucy terdiam, dia agak ragu dengan apa yang akan dikatakannya. "terakhir kalinya..." lanjut lucy pelan. tatapannya lurus mengarah ke jendela yang menanmpakkan hujan mulai deras.

"maafkan aku lucy... tapi kumohon kau mengerti bagaimana perasaanku..." kata lisanna diseberang.

Lucy tersenyum. "aku mengerti itu, lisanna..." tangan lucy menggenggam erat cover tempat tidurnya. Didalam dirinya masih ada pertentangan untuk masih mempertahankan natsu, tapi melihat bagaimana natsu menyukainya dan dia sendiri nggak bisa dengan baik membalas rasa suka natsu membuatnya menjadi kasihan dengan natsu. dia nggak bisa terus-terusan memberi harapan ke natsu. lucy menghela nafas panjang.

"lucy... kau nggak menyukai natsu kan?" tanya lisanna.

"aku menyukainya... dia sahabat terbaikku..." kata lucy tenang. Puas akan jawabannya.

"baguslah kalau begitu...aku sudah menyukainya sejak lama lucy, tapi dia hanya menyukaiku sebagai teman. Dia nggak pernah melihatku dengan lembut seperti saat dia melihatmu. Dia melihatmu dimanapun kau. Dia marah saat ada yang mendekatimu... Dia memperlakukan kau secara special... dan aku ingin natsu memperlakukanku seperti dia memperlakukan kau... aku menyukainya lucy " kata lisanna diseberang, lucy hanya mendengarnya dengan hati-hati. Kenangannya dengan natsu mulai mengalir satu demi satu.

"lucy... mira-nee memanggilku... sekali lagi aku berterimakasih padamu.." kata lisanna lagi tanpa mendengar balasan lucy setelah mendengar mirajane memanggilnya.

"jangan pikirkan itu..." kata lucy pelan. kenangannnya dengan natsu mulai teringat secara detail. Hujan diluar semakin deras.

"kalau begitu sampai jumpa di sekolah, lucy... bye..." kata lisanna ceria.

"tunggu..." kata lucy tepat sebelum lisanna menutup telponnya.

"ada apa, lucy?" tanya lisanna

"kumohon... " lucy menggigit bibirnya "kumohon buatlah dia bahagia... selama aku nggak ada disampingnya" kata lucy pelan.

Terdengar suara tawa lisanna diseberang. "tentu saja aku akan membuatnya bahagia lucy, aku menyukainya dan dia sudah lama bersamaku... jadi aku yakin aku bisa membuatnya bahagia" kata lisanna.

"baguslah..." kata lucy pelan, senyumnya terukir saat mendengar janji lisanna untuk membahagiakan natsu.

"bye, lucy..."kata lisanna sebelum akhirnya terdengar suara sambungan telepun terputus.

Lucy melihat ke arah jendela, langit sepertinya mendengar kata hatinya. Petir beberapa kali terdengar di luar. Lucy merasakan seperti ada yang basah dipipinya. Dia baru menyadari kalau dia sedang menangis. Di otaknya kenangannya dengan natsu terpapar sangat jelas, dia baru menyadari bagaimana natsu memperhatikannya. Tapi satu hal yang pasti dia nggak boleh bersikap egois dan menyimpan natsu untuknya disaat dia menyukai orang lain. lucy menghapus air matanya, dia berusaha untuk menghentikan air matanya tapi pada akhirnya gagal dan membiarkan air matanya mengalir bebas. Dia nggak yakin akan bisa tersenyum seperti saat natsu bersamanya kali ini.


Natsu duduk di meja makan dan melihat-lihat foto yang diambilnya tadi pagi di kameranya. Senyum terukir diwajahnya saat melihat wajah ceria lucy. dia berhenti pada satu foto yang membuatnya benar-benar membuatnya puas. Difoto lucy sedang menutup matanya dan menengadahkan wajahnya kelangit dengan senyum khasnya. Rambut pirang lucy tertiup angin dan terlihat sangat lembut. Walaupun dia sedang memakai jaket dan hot pantsnya, lucy masih terlihat sangat elegant.

"kau bisa melanjutkan melihat foto itu setelah kita makan..." kata lucy yang ternyata sedang berjalan ke arahnya. lucy memakai sweater warna abu-abu longgar dan legging. Rambutnya dia gelung kebelakang menyisakan poni khasnya. Sebagai accessories dia menambahkna pita di rambutnya menimbulkan kesan imut. Natsu tersenyum, tapi saat lucy sudah semakin dekat dia melihat mata lucy agak memerah.

"apa kau habis nangis?" tanya natsu spontan dan khawatir

"aku nggak sengaja mengenai mataku saat keramas" jawabnya sambil menghela nafas panjang dengan ekspresi lucu.

"kau ceroboh" kata natsu sambil tertawa. natsu menyeret salah satu kursi disampingnya dan membiarkan lucy duduk disampingnya.

"ini kelihatannya enak." Kata lucy sambil mengambilkan nasi untuk natsu. natsu hanya mengamatinya takjub.

"sayang, kau mau yang mana?" tanya lucy santai pada natsu yang membuat natsu melongo. Lucy tertawa. "ayolah natsu... ikuti permainannya, kau bilang kau mau main rumah-rumahan..." kata lucy lagi.

"y-yang ini" kata natsu tergagap dia menunjuk ke arah makanan tanpa melihat makanannya, dia masih melihat lucy yang menyiapkan makanannya. Lucy meletakkan piring natsu didepan natsu dan mengambil makanannya sendiri. saat dia selesai dia menoleh ke arah natsu dan tersenyum manis.

"makanlah" kata lucy. natsu tersadar dan mulai memakan makanannya.

Tiba-tiba lucy menoleh ke arah natsu dan mengambil sapu tangan.

"sayang, kau makan seperti anak kecil" katanya sambil mengelap saus yang ada di pinggir bibir natsu. natsu lagi-lagi hanya terdiam menatap lucy nggak percaya.

"l-lucy... a-ada y-yang salah denganmu?"

"i'm perfect" kata lucy yang dengan santai melanjutkan makannya sementara natsu bingung harus senang apa ketakutan.


"waaaah... ini keren..." kata lucy saat bersandar di kursi balkon villa yang tepat menghadap laut. Hujan mulai reda saat mereka selesai makan tadi. Natsu yang baru keluar ke balkon langsung duduk disampingnya. lucy melirik ke arah natsu dan menggeser tempat duduknya ke arah natsu dan mengistirahatkan kepalanya di pundak natsu membuat natsu lagi-lagi menatapnya terkejut

lucy tertawa melihat ekspresi natsu "apa? Aku kan istrimu... ini wajar" kata lucy yang membuat natsu senang. dia mengacak-acak rambut lucy gemas. Natsu menyadari dia semakin menyukai lucy dari hari ke hari, dan dia berharap suatu saat lucy bisa membalas rasa sukanya.

"kurasa kalau aku jadi teman masa kecilmu kita akan menjadi pasangan favorit kalau main rumah-rumahan" kata natsu secara tiba-tiba.

"oh ya? Dulu kau sering main rumah-rumahan?" tanya lucy.

Natsu mengangguk. "lisanna selalu mengajakku bermain itu" kata natsu singkat yang membuat lucy mengingat apa permintaan lisanna.

"apa kau sering menjadi suaminya?" tanya lucy lagi.

Natsu mengangguk lagi."setiap saat dia memintaku jadi suaminya. Padahal aku ingin jadi anak mira, makanan yang diberikan mira lebih banyak" kata natsu senang. lucy hanya tertawa. dia bisa membayangkan apa yang dikatakan natsu mengetahui mira mungkin akan melakukakan tepat seperti apa yang dia katakan.

"jadi bagaimana struktur keluarga permainan kalian?" tanya lucy tertarik.

"erza tentu saja dengan jellal walaupun pasangan mereka terlihat mal-malu tapi mereka cocok. Anak mereka levy"

"jellal? Bukannya dia baru pindah beberapa tahun lalu?" tanya lucy.

"dia pindah ke kota era saat masih naik smp" jelas natsu. lucy hanya mengangguk "mira dengan freed, elfman jadi anak mereka" lanjut natsu

"itu aneh" komentar lucy yang membuat natsu tertawa.

"cana?"

"gray jadi suaminya" kata natsu. lucy lagi-lagi hanya tertawa.

"aku bisa menebak kalu mereka akan bertengkar terus" kata lucy.

"kau benar" kata natsu bangga melihat gadis disampingnya yang sepertinya sudah sangat tahu kepribadian teman-teman masa kecilnya. Kepribadian lucy yang hangat memang membuat orang-orang disekitarnya nyaman. Dan kepribadian itulah yang membuat natsu kadang kalang kabut menjauhkan laki-laki yang datang dan pergi ingin mendekati lucy.

"kau nggak menanyakan tentang loki?" tanya natsu.

"ah~ aku pikir loki akan menjadikan semua perempuan yang tersisa jadi istrinya, apa aku benar?" tanya lucy.

"kau benar lagi" kata natsu dengan senyum hangatnya.

"jadi kau dan lisanna pasangan terakhir?" tanya lucy sambil mengamati wajah natsu

Natsu mengangguk dan tersenyum.

"kau senang lisanna jadi istrimu?" tanya lucy. natsu mengangkat alisnya dan tertawa.

"lebih baik dari pada aku dipasangkan dengan cana. Paling nggak lisanna adalah gadis yang manis" kata natsu. lucy hanya tersenyum pahit.

"kau suka gadis manis?" tanya lucy sambil menatap natsu.

"aku lebih suka gadis manis dan pedas, seperti kau" kata natsu sambil mecubit hidung lucy. lucy hanya tertawa dan memejamkan matanya.

"terimakasih natsu.." katanya pelan. mereka hanya duduk dengan diam setelah itu.

"lucy..." natsu menoleh ke arah lucy yang nggak merespon apapun. Lucy ternyata telah tertidur. natsu tersenyum.

"andai..." tiba-tiba lucy berbicara membuat natsu menoleh ke arah lucy dengan tertarik. Lucy mengigau.

"hm?" pancing natsu.

"andai aku datang lebih awal..." kata lucy lirih tapi masih bisa didengar natsu. natsu mengangkat alisnya bingung tapi akhirnya tersenyum dan meletakkan kepala lucy di dadanya. Natsu akan membiarkan lucy tidur di sana sebentar sebelum dia menggendongnya ke kamar lucy.


Mata natsu terbuka pelan. jam dinding menunjukkan jam delapan. dia mengamati keadaan sekitar dan menyadari dia sedang ada di ruang keluarga yang tepat berada di depan kamar lucy. setelah dia menggendong lucy ke kamarnya, natsu nggak bisa tidur dikamarnya jadi dia memilih melihat tv yang akhirnya membuat dia tertidur di sofa. Natsu bangun dari posisinya dan mendapati selimut di atas tubuhnya, seingatnya dia nggak memakai selimut tadi malam. Hidungnya menangkap bau sedap masakan. Natsu mengerutkan dahinya.

bukannya bibi lavia libur kalau minggu? Pikir natsu. dia beranjak dari sofa dan berjalan ke arah dapur yang ada di lantai bawah. Senyumnya mengembang saat melihat gadis berambut pirang berapron yang sedang berdiri membelakanginya. Natsu bersandar ke tembok dan melihat gadis yang sudah lama disukainya itu menyelesaikan apa yang dikerjakannya. Hatinya terasa hangat saat melihat pemandangan seperti ini.

lucy berbalik dan melihatnya kaget.

"oh, kau sudah bangun..." kata lucy dengan senyum manisnya.

"aku lapar, dan bibi lavia belum datang... jadi aku memasak untuk kita berdua" kata lucy lagi.

"kau yang memberikanku selimut?" tanya natsu dengan senyum lembut diwajahnya. Dia berjalan ke meja makan dan duduk di salah satu kursinya. Tangan kanannya dijadikan sebagai penopang wajahnya.

"aku nggak tega membangunkanmu dan aku nggak bisa menggendongmu ke kamarmu, jadi aku hanya bisa memberikanmu selimut" kata lucy sambil memotong-motong bahan masakannya.

"terimakasih" kata natsu. lucy hanya memutar bola kepalanya dan tertawa.

"kau menggendongku ke kamar tadi malam, terimakasih" kata lucy.

"kau perlu bantuan?" tanya natsu tiba-tiba.

Lucy tertawa. "aku hampir selesai. Lebih baik kau mandi dan jangan menggangguku"

Natsu hanya membuang nafas panjang dan melangkah ke arah kamar mandi dengan lemas.


Saat natsu keluar dari kamar mandi lucy masih dalam proses menata meja makannya. Makanan yang disiapkan lucy cukup banyak membuat natsu sudah nggak sabar mencobanya. natsu melompat ke arah kursi yang didudukinya tadi dan menatap lucy yang masih sibuk menuangkan air digelas natsu dan gelas lucy sendiri.

"kau masak cukup banyak" kata natsu senang

"nggak cukup banyak untukmu" kata lucy dengan tertawa yang disambut oleh tawa natsu.

"kau sangat mengerti diriku lucy" ucap natsu.

"itu sepadan dengan penderitaanku sebagai sahabat dua tahun ini" kata lucy lagi.

"nah, you're the best lucy" kata natsu sambil mengacungkan jempolnya. Lucy hanya tertawa pelan.

Natsu terus mengamati apa yang dikerjakan lucy, rambut lucy yang dibiarkannya jatuh tanpa accessories apapun berkali-kali jatuh menutupi pandangannya dan natsu sangat suka kalau lucy menyelipkan rambutnya ke belakang telinga saat sibuk menaruh makanan dan menuangkan air untuk natsu dan untuk dirinya sendiri.

"nah, selesai" kata lucy puas. Dia hendak melepaskan apronnya tapi natsu mencegahnya.

"tunggu. Jangan lepas dulu" kata natsu yang langsung berlari ke arah ruang tamu dan kembali membawa kamera. Lucy tahu akan maksudnya dan langsung tersenyum menghadap kamera. Setelah melihat fotonya dengan puas natsu meletakkan kameranya di meja makan dan duduk ditempatnya tadi.

"aku akan mengingatnya lebih dari baju apapun yang kau pakai. Rasanya kau benar-benar terlihat seperti istriku." Kata natsu yang disambut lirikan garang lucy. natsu langsung membuat gestur mengunci mulut. Lucy menghembuskan nafasnya dan melepaskan apronnya dengan senyumnya yang kembali ke wajahnya.

"tapi lucy, peraturannya kau masih jadi istriku sebelum kita pulang atau permintaan ke empat nggak akan sah" kata natsu lagi.

Lucy menghembuskan nafas panjang.

"cepatlah makan sayang, atau aku akan membunuhmu agar kita bisa cepat pulang" kata lucy yang membuat natsu langsung memakan makanannya


Perjalanan menuju magnolia memakan waktu yang lama dari saat mereka berangkat karena mereka berdua sering berhenti untuk mampir ke taman hiburan atau membeli oleh-oleh. Di mobil lucy hanya diam dan melihat keluar jendela. awalnya natsu agak khawatir dengan muka murung lucy, bagi lucy sebab dia murung tentu saja karena permintaan lisanna tapi dia berbohong pada natsu dan mengatakan dia murung karena liburan mereka berdua berakhir. Alasan lucy membuat natsu tersenyum dan mengatakan mereka akan berlibur lagi suatu saat yang disambut oleh senyum lucy.

Sampai di rumah, hari sudah sore dan natsu mengantarkan lucy ke rumahnya dulu. dia mau beranjak mau pulang saat lucy menghentikan mobilnya. Lucy membungkuk menjajari jendela kaca mobil natsu.

"natsu, terimakasih. Kemarin dan hari ini sangat menyenangkan" kata lucy senang.

Natsu hanya mengangguk.

"natsu, apapun yang terjadi... kau sahabat terbaikku" kata lucy lagi.

"kau juga sahabat terbaikku, lucy" ucap natsu.

"ingat natsu, apapun yang terjadi" kata lucy lagi. Lucy mendekatkan dirinya ke natsu da mencium pipi natsu.

"terimakasih" katanya senang lalu berlari memasuki mansionnya. Natsu yang masih terkejut memegangi pipinya dan tertawa.

"kau benar-benar aneh lucy" kata natsu sebelum menginjak gas mobilnya.


Pagi harinya lucy hanya bisa menghembuskan nafas panjang saat melihat natsu menjemputnya, dia berharap lisanna tidak apa-apa dengan itu karena akan sangat terlihat perbedaan yang drastis kalau dia tiba-tiba menolak pergi ke sekolah dengan natsu.

"kau nggak terlihat di kamarmu tadi malam?" tanya natsu khawatir.

Lucy terlihat sedikit salah tingkah, ini sebagian dari rencananya. "aku pindah ke lantai bawah. AC dikamarku rusak" kata lucy.

"kuharap kau segera pindah ke kamarmu lagi" kata natsu lemas. Lucy hanya tersenyum.

"natsssuuuuuu! Lucyyyy!" terdengar suara dari kejauhan yang membuat mereka berdua menoleh. Ternyata yang memaggil mereka adalah lisanna. Lisanna berlari menghampiri mereka.

"selamat pagi" sapa lisanna

"pagi, lisanna" jawab lucy dan natsu.

"kalian berangkat bersama?" tanya lisanna yang disambut anggukan senang natsu. lisanna menoleh ke arah lucy dan mengedipkan sebelah mataya. Lucy mengerti apa maksudnya dan tersenyum sedikit terpaksa.

"boleh aku jalan dengan kalian?" tanya lisanna

"tentu saja boleh, ayo" kata lucy. tiba-tiba lisanna berjalan ditengah mereka dan menggandeng lengan natsu yang membuat natsu mengerutkan dahinya. Lucy melihat kejadian itu dan tersenyum pahit. Dia memperlambat jalannya sehingga dia berada di belakang mereka berdua. Natsu hendak menoleh ke arah lucy dan menanyakan kenapa dia berjalan lambat saat lisanna tiba-tiba mengajaknya berbicara.

"natsu, dulu kita berangkat bersama, ya kan?" kata lisanna manis.

"oh, i-iya" kata natsu canggung. Dia menoleh ke arah lucy lagi yang melihat ke arahnya dengan senyum. Lucy menunjuk ke arah ponselnya dan membuat gestur mengetik lalu mengibaskan tangannya ke depan. Natsu mengerti apa yang dimaksudkannya dan mengangguk. Itu artinya lucy sedang mengirim pesan jadi jalannya agak lambat dan lucy menyuruhnya tetap berjalan didepannya agar lucy nggak menabrak orang. Lucy sering sekali mengirim pesan sambil berjalan dan menyuruh natsu didepannya agar dia nggak menabrak orang jadi natsu tahu apa maksudnya. Natsu melihat ke arah lisanna yang menggelayut di lengannya sambil bercerita tentang masa kecil mereka. natsu hanya menghembuskan nafas pelan dan tersenyum. masa kecilnya indah, tapi melihat lucy tertinggal dibelakang, seperti memberikan anggapan bahwa lucy orang asing baginya dan natsu nggak menyukai itu.


Lucy menghembuskan nafas puas saat natsu berbalik menatap depan lagi. Lucy menatap ponselnya. Apa yang diisyaratkan pada natsu tadi bukan sepenuhnya bohong. Dia memang benar-benar menerima pesan, tapi dia belum berniat membalasnya. dia melihat pesannya sekali lagi dan melihat ke arah natsu. ada raut muka sedih pada mukanya, lucy menatap ponselnya sekali lagi.

08x xxx

Kau ada waktu, manis?

Aku dan rogue mengundangmu makan besok. Datang ya?

Sting.

Lucy menggelengkan nafas panjang dan memaksakan senyumnya. Jari lucy mulai bergerak di layar ponselnya.

Sebutkan tempatnya senpai. :p

lucy

to be cont...