TANGLED
10
.
Tangled. 2013 (original story)
by
Emma Chase
Re-maked as YunJae story by VANS voldamin
Disclaimer: God, Their Parents, and Themselves (GTT)
Warning: Adult!Theme, Out of Character(s), miss-types, NC, and Amburegul.
Enjoy!
.
.
.
.
.
Aku tahu apa yang kau pikirkan—apa-apaan ini?
Kalau aku sudah menyadari jatuh cinta kepada Jaejoong, dan dia jelas-jelas kasmaran kepadaku—bagaimana bisa dia kembali kepada Kim Bagaimana-kalau-Kau-Mati-Saja Hyunjoong?
Pertanyaan bagus. Kita sudah hampir sampai ke sana. Tapi, pertama-tama, pelajaran sains. Apa yang kau ketahui soal kodok?
Ya. Kubilang kodok.
Tahukah kau, kalau memasukkan seekor kodok ke dalam air mendidih, dia akan melompat keluar? Tapi, kalau kau memasukkannya ke dalam air dingin dan membiarkannya memanas pelan-pelan, dia akan tetap di dalam air. Dan, mendidih sampai mati. Dia bahkan tak akan berusaha keluar. Dia bahkan tidak menyadari dirinya sekarat. Hingga semuanya terlambat.
Pria sangat mirip dengan kodok.
Apa aku kaget dengan pencerahan kecil yang kurasakan ini? Tentu saja aku kaget. Ini sesuatu yang besar. Sesuatu yang mengubah hidup. Tak ada lagi perempuan atau bottom tak dikenal. Tak ada lagi cerita untuk teman-temanku. Tak ada lagi Sabtu malam. Tapi, semua itu sudah tidak penting. Sungguh. Karena, semuanya sudah terlambat. Aku sudah mendidih; untuk Jaejoong.
Sepanjang malam itu, aku mengamati Jaejoong tidur. Dan, membuat rencana… untuk kami. Hal-hal yang akan kami lakukan bersama, tempat-tempat yang akan kami datangi—besok, akhir pekan depan, dan tahun depan. Aku berlatih mengucapkan kalimat yang akan kukatakan, bagaimana aku memberitahu Jaejoong soal perasaanku. Aku membayangkan reaksinya dan dia akan mengakui merasakan hal yang sama. Rasanya seperti sebuah film, sebuah film gadis mengerikan yang tidak akan pernah kutonton. Sang player menawan bertemu dengan gadis impiannya yang gigih, dan gadis itu merenggut hatinya untuk selamanya.
Seharusnya, aku sudah menyadari, semua itu terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Biasanya, hal-hal terbaik memang terlalu indah untuk menjadi kenyataan; Sinterklas, G-spot lelaki, surga—daftarnya masih panjang.
Nanti, kau akan menyadarinya.
.
.
.
.
.
Kami sedang berjalan menyusuri Gangnam Street. Alih-alih membuang-buang waktu kami yang berharga dengan mengemudi ke apartemen Jaejoong di ujung kota, kami mampir ke sebuah toko pakaian dalam perjalanan ke kantor. Di sana, aku membelikan Jaejoong setelan Chanel baru berwarna navy. Aku tak mungkin membiarkannya masuk kantor dengan pakaian yang sama dengan akhir pekan kemarin, 'kan? Saat dia sedang mencoba pakaian di depanku, sumpah, aku merasa seperti Richard Gere dalam Pretty Woman sialan itu. Jaejoong bahkan membelikanku sebuah dasi.
Kau lihat, 'kan?
Kami mampir di J-Holic dan membeli kafein yang sangat kami butuhkan. Saat berjalan keluar, aku menarik tubuh Jaejoong. Aku menangkup pipi Jaejoong dan menciumnya. Dia terasa seperti kopi; ringan dan manis. Jaejoong mengusap pelan bagian belakang kepalaku dan tersenyum.
Aku tak akan pernah bosan menatap Jaejoong. Atau, menciumnya. Budak seks, nama engkau Yunho. Yeah, aku tahu. Tak apa-apa. Aku tak keberatan jika selama itu bersama Kim Jaejoong. Karena, jika sisi kelam seperti itu? Aku daftar. Serius. Jangan kaget kalau aku mulai melompat-lompat di jalan sambil bernyanyi, "Saranghae-hi-ya-ya-ya~". Aku sebahagia itu.
Aku dan Jaejoong berbelok. Berpegangan tangan dan tersenyum pada satu sama lain, seperti dua orang idiot yang terlalu banyak minum obat anti depresi. Memuakkan, ya?
Kita harus berhenti dulu sebentar. Kau harus melihat kami. Bagaimana keadaan kami sekarang, saat ini—bergandengan tangan. Kau harus mengingat momen ini. Aku mengingatnya.
Kami… sempurna.
Kemudian, kami tiba di kantor. Aku membukakan pintu untuk Jaejoong dan berjalan di belakangnya. Hal pertama yang kulihat adalah bunga lili. Bunga lili putih. Sebagian ada di dalam vas meja sekuriti. Sebagian lain diikat pita. Sebagian tersebar di lantai, kelopak-kelopak bunga bertaburan di sana sini. Di tengah lobi, ada satu lingkaran penuh bunga lili putih. Dan, di tengah lingkaran itu, ada Kim Hyunjoong. Dia membawa gitar.
Tusuk. Aku.
Tidak, itu kurang menggambarkannya.
Tusuk aku dengan gergaji mesin.
Yeah—itu benar sekali.
Kau pernah melihat bajingan menyanyi? Inilah kesempatanmu.
.
I was so blind I didn't know
How much it would hurt to let you go
I want to heal us, want to mend
Come back, come back to me again
.
Kalau tidak sangat membencinya, aku harus mengakui dia tidak seburuk itu. Aku mengamati Jaejoong lekat-lekat. Semua emosi yang terpancar pada wajahnya, semua perasaan yang menari-nari di matanya.
Kau tahu rasanya terserang virus pencernaan? Dan, seharian kau berbaring sambil membawa ember karena merasa bisa muntah kapan saja? Tapi, ada satu momen—saat kau yakin akan benar-benar muntah. Sekujur tubuhmu dibanjiri keringat dingin. Kepalamu berdenyut-denyut, dan kau merasa kerongkonganmu melebar untuk memberi ruang pada cairan lambung yang naik dari perutmu.
Itulah yang kurasakan. Saat ini.
Aku sungguh-sungguh meletakkan cangkir kopiku dan menatap sekeliling. Mencari tong sampah terdekat, untuk memastikan bisa mencapainya tepat waktu.
.
And I need to say I'm sorry
For all the pain I caused
Please give your heart back to me
I'll keep it safe for eternity
We belong together
We've always known it's true
There will never be another
My soul cries out for you
.
Pada kesempatan berbeda, orang berbeda, aku pasti bisa mengubur Kim Sialan Hyunjoong. Bahkan, tanpa perlu berusaha. Dia sama sekali tak sebanding denganku. Aku ibaratnya Porsche, dia truk pickup yang tak akan lolos inspeksi.
Tapi, kita membicarakan Jaejoong. Mereka punya masa lalu bersama, satu dekade lamanya. Dan itu, Anak-Anak, menjadikannya kompetitor besar.
.
In the dark of night, it's your name I call
I can't believe I almost lost it all
One more chance, one breath, one try
No more reasons to say goodbye
.
Aku ingin membopong Jaejoong, dengan gaya manusia gua, dan menggendongnya pergi dari sini. Aku ingin menguncinya di apartemenku agar Hyunjoong tidak bisa melihatnya. Tak bisa menyentuhnya. Tak bisa menyentuh kami. Aku terus menatap Jaejoong, tapi dia tidak berpaling menatapku.
Tidak sekali pun.
.
And I need to say I'm sorry
For all the pain I caused
Please give your heart back to me
I'll keep it safe for eternity
We belong together
We've always known it's true
There will never be another
My soul cries out for you
.
Kenapa aku tidak belajar memainkan alat music? Saat berumur sembilan tahun, ibuku ingin aku belajar terompet. Setelah dua kali tes, tutornya berhenti karena aku membiarkan anjing kami mengencingi mouthpiece-nya.
Sialan, kenapa aku tidak menurut pada Eomma?
.
You are my beginning, you'll be my end
More than lovers, more than friends
I want you, I want you
.
Dia tak boleh mendapatkan Jaejoong. Silahkan mendamba seharian, Pecundang. Menyanyilah dari atap. Bermainlah sampai jemarimu copot semua. Semuanya sudah terlambat. Jaejoong sudah menjadi milikku. Jaejoong bukan tipe orang yang berhubungan seks dengan siapa saja. Dan, sepanjang akhir pekan, dia berhubungan seks denganku seakan-akan dunia berakhir. Itu pasti punya arti tersendiri.
Ya, 'kan?
.
And I need to say I'm sorry
For all the pain I caused
Please give your heart back to me
I'll keep it safe for eternity
You and me
.
Kerumunan kecil yang berkumpul di lobi bertepuk tangan. Pecundang meletakkan gitarnya dan menghampiri Jaejoong.
Kalau dia menyentuhnya, aku akan mematahkan lengan terkutuknya. Sumpah, demi Tuhan.
Dia sama sekali tidak menatapku. Perhatiannya tertuju kepada Jaejoong. "Aku meneleponmu sejak Jumat malam dan mampir ke apartemen beberapa kali, akhir pekan ini, tapi kau tidak ada."
Benar sekali. Dia tak ada di rumah. Dia sibuk. Sekarang, tanya apa yang dilakukannya.
Siapa yang bersamanya.
"Aku tahu, ini kantor, tapi apakah menurutmu kita bisa ke suatu tempat? Untuk bicara? Mungkin, ruangan kerjamu?"
Bilang tidak.
Bilang tidak.
Bilang tidak, bilang tidak, bilang tidak, bilang tidak, bilang tidak, bilang tidak, bilang tidak…
"Ne."
Sialan.
Saat Jaejoong mulai berjalan pergi, aku merenggut lengannya. "Aku harus bicara kepadamu."
Jaejoong menatapku dengan ekspresi bertanya. "Aku hanya se—"
"Ada sesuatu yang harus kukatakan. Sekarang. Ini penting." Aku tahu, aku kedengaran putus asa, tapi aku benar-benar tak peduli.
Jaejoong menyentuh tanganku, yang masih mencengkram lengannya. Dia tenang—meremehkan, seperti sedang bicara kepada anak kecil. "Baiklah, Yunho-ya. Biarkan aku bicara dengan Hyunjoong dulu, lalu aku akan menemuimu di ruanganmu, oke?"
Aku ingin mengentakkan kaki seperti bocah berumur dua tahun. Tidak. Ini tidak oke. Jaejoong harus tahu di mana posisiku. Aku harus menegaskan posisiku. Melemparkan topi ke dalam ring. Mengikutsertakan mobilku dalam balapan.
Tapi, aku tetap melepaskan genggaman. "Baiklah. Semoga obrolan kalian menyenangkan."
Dan, aku memastikan aku yang lebih dulu pergi.
.
.
.
.
.
Aku berjalan menuju ruanganku. Tapi mau tak mau, aku berhenti di meja Boa saat mereka lewat. Saat Jaejoong berbalik menutup pintu ruangannya, tatapan kami bertemu. Dia tersenyum kepadaku. Untuk kali pertama dalam hidupku, aku tak tahu apa artinya.
Apakah Jaejoong meyakinkanku tak ada yang berubah? Tak akan ada yang berubah? Apakah dia mengatakan terima kasih karena sudah mengembalikan pecundang itu kepadanya? Aku benar-benar tidak tahu.
Itu membuatku gila.
Aku menggeretakkan rahang dan berjalan menuju mejaku, membanting pintu hingga menutup. Lalu, aku berjalan mondar-mandir, seperti calon ayah di luar ruang bersalin. Menunggu apakah makhluk paling berarti baginya akan keluar dalam keadaan selamat.
Seharusnya, aku memberitahu Jaejoong semalam, saat aku punya kesempatan. Seharusnya aku menjelaskan betapa berartinya dia bagiku. Apa yang kurasakan kepadanya. Kupikir, aku masih punya waktu. Kupikir, aku akan melakukannya perlahan-lahan, membuka jalanku.
Bodoh.
Kenapa aku tidak memberitahunya?
Sialan.
Mungkin, Jaejoong sudah tahu. Maksudku, aku membawanya ke apartemen, aku mengeloninya. Aku memujanya. Aku berhubungan seks tanpa pengaman dengannya—tiga kali. Seharusnya, dia tahu.
Boa masuk tanpa bersuara. Aku pasti terlihat kacau karena wajahnya terlihat penuh simpati. "Jadi, Jaejoong dan Hyunjoong mengobrol, hah?"
Aku mendengus. "Apakah sikapku sejelas itu?"
Boa membuka mulut, mungkin untuk menjawab "ya", tapi menutupnya dan mulai dari awal lagi. "Tidak. Aku hanya mengenalmu, Yunho-ya."
Aku mengangguk.
"Kau ingin aku pergi? Melihat apa yang bisa kulihat… atau dengar?"
"Menurutmu itu akan berhasil?"
Boa tersenyum. "Bahkan CIA akan beruntung kalau bisa mendapatkan aku."
Aku mengangguk lagi. "Oke. Yeah. Lakukan, Boa-ya. Lihat apa yang sedang terjadi."
Boa keluar. Aku berjalan mondar-mandir lagi, dan menyapukan tangan ke rambut hingga rambutku berdiri seperti habis tersambar petir.
Beberapa menit kemudian, Boa kembali.
"Pintunya tertutup, jadi aku tidak bisa mendengar apa pun, tapi aku mengintip melalui jendela. Mereka duduk di depan mejanya, berhadapan. Hyunjoong memegangi kepalanya dan Jaejoong mendengarkannya bicara. Tangan Jaejoong menyentuh lutut Hyunjoong."
Oke. Dia sedang mencurahkan isi hatinya. Jaejoong bersikap simpatik. Aku bisa menerimanya. Karena, artinya, Jaejoong akan mematahkan hatinya, ya 'kan? Dia akan menyuruhnya pergi. Memberitahu dia sudah melupakannya—menemukan orang yang lebih baik. Benar 'kan?
Benar 'kan?
Astaga, bilang saja iya.
"Jadi… apa yang harus kulakukan?"
Boa mengedikkan bahu. "Kau hanya bisa menunggu. Dan, mencari tahu apa yang dikatakan Jaejoong setelah mereka selesai mengobrol."
Sejak dulu, aku tidak pintar menunggu. Tak peduli sekeras apa orangtuaku berusaha, aku tak pernah bisa menunggu sampai pagi Natal untuk mencari tahu kado apa yang kuterima. Aku seperti Indiana Jones kecil—mencari dan menggali sampai menemukan semua hadiah.
Kesabaran mungkin sikap mulia, tapi bukan sikap muliaku.
Boa berhenti di depan pintu. "Kuharap ada jalan keluarnya, Yunho-ya."
"Trims, Boa-ya."
Kemudian, Boa pergi. Dan, aku menunggu juga berpikir. Aku akan memikirkan ekspresi wajah Jaejoong saat menangis di mejanya. Aku memikirkan rasa paniknya saat melihat Hyunjoong di bar.
Apa hanya itu maknaku bagi Jaejoong? Sebuah pengalih perhatian? Cara untuk mendapatkan keinginanku sendiri?
Aku mulai mondar-mandir lagi. Dan, berdoa kepada Tuhan yang tidak pernah kuajak bicara sejak berumur sepuluh tahun. Tapi, sekarang bicara kepadanya. Aku berjanji dan bersumpah. Aku melakukan barter dan memohon—sepenuh hati.
Agar Jaejoong memilihku.
Sembilan puluh menit terlama sepanjang hidupku kemudian, suara Boa mendesis melalui interkom di mejaku.
"Datang! Datang! Kim Jaejoong, arah pukul sembilan."
Aku melesat ke mejaku, menjatuhkan pulpen dan klip kertas ke lantai. Aku menegakkan kursi, merapikan rambut, dan memilah-milah kertas agar telihat sedang bekerja. Kemudian, aku menarik napas. Tenangkan diri.
Permainan dimulai.
Jaejoong membuka pintu, lalu masuk.
.
.
.
.
.
Jaejoong terlihat… normal. Benar-benar seperti dirinya yang biasa. Tanpa rasa bersalah. Tidak cemas. Tidak memedulikan apa pun di dunia ini.
Dia berdiri di depan mejaku. "Hai."
"Hei." Aku memaksakan diri untuk tersenyum santai. Walaupun jantungku berdebar di dada. Seperti seekor anjing—tepat sebelum dibunuh.
Aku harus memulai obrolan ringan agar tidak kelihatan terlalu bersemangat—telalu tertarik. Tapi, aku tak bisa melakukannya. "Jadi… bagaimana obrolanmu dengan Hyunjoong?"
Jaejoong tersenyum lembut. "Kami mengobrol. Kami mengucapkan hal-hal yang kurasa harus kami dengar. Dan, sekarang, kami baik-baik saja. Sangat baik, malah."
Ya Tuhan. Apa kau bisa melihat pisau yang menancap di dadaku? Yeah—yang baru saja dipuntir oleh Jaejoong. Mereka mengobrol, mereka baik-baik saja, sangat baik. Jaejoong menerimanya kembali.
Sial.
"Itu bagus, Jaejoong-ah. Kalau begitu, misi berhasil, hah?" Seharusnya, aku menjadi aktor. Setelah ini, aku berhak mendapat Academy Award.
Alis Jaejoong berkerut. "Misi?"
Telepon selularku berdering, menyelamatkanku dari percakapan bak mimpi buruk ini.
"Halo?" Ternyata Yoochun. Tapi, Jaejoong tidak mengetahuinya. Aku memaksakan suaraku terdengar kuat. Berenergi. "Hei, Karam-ah. Yah, Baby, aku senang kau menelepon."
Selalu menjadi yang pertama mencetak skor. Ingat?
"Maaf, aku tak bisa bertemu denganmu Sabtu kemarin. Apa yang kulakukan? Bukan sesuatu yang penting, hanya proyek kecilku. Sesuatu yang sudah lama ingin kulakukan. Yeah, sekarang sudah selesai. Ternyata, tidak sebagus yang kuharapkan."
Ya, ucapanku sudah diperhitungkan. Ya, kuharap ucapanku menyakitinya. Memangnya, kau ingin aku berkata apa? Kau sedang bicara dengan aku. Apa kau sungguh-sungguh beranggapan aku akan diam saja seperti orang bodoh saat Jaejoong menyingkirkanku?
Enak saja.
Aku mengabaikan kebingungan Yoochun di ujung sambungan dan memaksa paru-paruku untuk tertawa. "Malam ini? Tentu saja, aku mau bertemu denganmu. Baik, aku akan memesan taksi."
Kenapa kau menatapku seperti aku bajingannya? Aku memberikan semua yang kumiliki kepada Jaejoong, semua yang sanggup kulakukan. Dan, dia menendangku begitu saja. Aku membuka jiwaku kepadanya—dan, aku tahu, itu kedengarannya sangat feminis. Tapi, memang benar. Jadi, jangan menatapku seolah-olah akulah penjahatnya, karena—kali ini—bukan aku.
Aku mencintai Jaejoong. Ya Tuhan, aku sangat mencintai Jaejoong. Dan, sekarang, itu membunuhku. Aku merasa seperti salah seorang pasien di ruang operasi bedah yang dadanya dibuka menggunakan alat pembuka tulang rusuk.
Dengan telepon yang masih menempel di telinga, akhirnya aku mendongak kepada Jaejoong. Sejenak, aku tak sanggup bernapas. Kupikir dia akan marah, mungkin kecewa karena aku yang terlebih dulu menyingkirkannya. Tapi, dia tidak terlihat seperti itu.
Apa kau pernah melihat seseorang dipukul?
Aku pernah. Changmin, saat aku masih kecil. Dan, Haha, terkadang kurang cepat bereaksi setelah berjuang habis-habisan demi perempuan yang salah. Saat mereka terpukul, ekspresinya seperti ini. Hanya bertahan beberapa detik. Wajah mereka memucat… dan hampa. Kurasa karena syok, seakan-akan mereka tak percaya apa yang baru saja terjadi kepada mereka.
Seperti itulah tampang Jaejoong.
Seakan-akan, aku menampar wajahnya.
Menurutmu, aku harus merasa bersalah? Kau ingin aku menyesal? Yah, sayang sekali. Aku tak bisa. Aku tak akan menyesal. Jaejoong sudah memutuskan. Dia sudah menentukan pilihan.
Sekarang, dia boleh tersedak pilihannya sendiri.
Aku menutup corong bicara pada telepon. "Mian, Jaejoong-ah, aku harus menerima telepon ini. Kita bertemu saat makan siang, oke?"
Jaejoong mengerjap dua kali. Lalu, berbalik dan keluar dari ruanganku tanpa sepatah kata pun.
.
.
.
.
.
Setelah Jaejoong pergi, semuanya tampak… samar-samar? Bukankah mereka selalu menggambarkannya seperti itu? Para korban bencana katastrofe? Itu, dan momen setelahnya, semuanya tidak jelas. Tidak nyata.
Aku memberitahu Boa aku sakit. Senyumnya sedih dan iba. Sebelum masuk ke lift, aku berpaling ke arah ruangan Jaejoong, berharap bisa bertemu dengannya lagi. Hanya untuk menyiksa diri.
Tapi, pintunya tertutup.
.
.
.
.
.
Di luar hujan. Hujan musim dingin. Hujan yang membuat pakaianmu basah kuyup dan membuatmu kedinginan luar dalam. Aku tak peduli.
Aku berjalan pulang ke apartemen, kebas dan linglung. Seperti zombie di sebuah film horor berbiaya rendah yang tidak bereaksi, bahkan saat dia memotong kakinya sendiri dengan gergaji listrik.
Tapi, saat tiba di pintu—pada saat itulah, akal sehatku kembali. Aku mendengar bisikannya di telingaku saat menjatuhkan tubuh ke tempat tidur. Aromanya menyelimuti bantalku. Dan, aku benar-benar tak bisa melupakan kenyataan dia ada di sini, beberapa jam yang lalu. Aku bisa menyentuhnya, menatapnya, dan menciumnya.
Tapi sekarang, aku… tak bisa.
Rasanya seperti saat seseorang meninggal. Kau tak bisa percaya mereka benar-benar sudah tiada karena kau baru bertemu mereka kemarin. Mereka ada di sana bersamamu, hidup dan nyata. Dan, memori itu yang kau pertahankan—momen yang paling membuatmu berduka.
Karena, itu momen terakhir.
.
.
.
.
.
Kapan hal itu terjadi?
Itulah yang tidak kupahami. Sejak kapan Jaejoong menjadi sesuatu yang sangat penting bagiku hingga aku tak bisa hidup tanpanya? Apakah saat aku melihatnya menangis di ruangannya? Atau, saat pertama menciumnya di ruanganku? Mungkin, itu terjadi saat Choi Siwon menghinanya, dan aku ingin menendang bokong pria itu. Atau, pada malam pertama di bar? Kali pertama aku menatap mata kelam itu dan menyadari aku harus mendapatkannya?
Atau di sini, di apartemenku? Di antara ratusan kali aku menyentuhnya…
Ya Tuhan, kenapa aku tidak menyadarinya lebih cepat.
Minggu-minggu—bulan-bulan, yang sia-sia. Semua perempuan dan bottom yang kutiduri, yang wajahnya bahkan tak kuingat lagi. Setiap kali aku membuatnya marah, padahal aku bisa membuatnya tersenyum. Hari-hari itu bisa kuhabiskan dengan mencintainya. Dan, membuatnya mencintaiku.
Sudah lewat.
Mereka lebih cepat jatuh cinta dibandingkan pria alpha. Lebih mudah dan lebih sering. Tapi, saat alpha jatuh cinta? Kami jatuh lebih keras. Dan, saat keadaan memburuk? Saat bukan kami yang mengakhirinya? Kami tidak bisa pergi begitu saja.
Kami merangkak.
.
.
.
.
.
Seharusnya, aku tidak mengatakan semua itu, di ruanganku. Jaejoong tidak pantas menerimanya. Bukan salahnya jika dia menginginkan apa yang kuinginkan. Jika dia tidak merasakan apa yang kurasakan.
Ya Tuhan, ini benar-benar buruk. Bunuh saja aku.
Di mana peluru nyasar saat kau membutuhkannya?
Apa kau pernah merasa seperti ini? Pernahkah kau mendapatkan sesuatu yang… sangat berarti bagimu? Apa pun itu—kau menatapnya dan bersumpah akan menyimpan itu selamanya. Karena, memang seistimewa itu. Berharga.
Tak tergantikan.
Lalu, suatu hari—kau tak tahu bagaimana atau kapan itu terjadi—kau menyadari benda itu tidak ada.
Hilang.
Dan, kau mendambakannya. Bersedia mengorbankan apa pun asal kau bisa menemukannya lagi. Menyimpannya lagi di tempat benda itu seharusnya berada.
.
.
.
.
.
Aku meringkuk di bantal. Tak tahu berapa lama aku seperti itu, tapi ketika membuka mata lagi dan melihat keluar jendela, di luar sudah gelap. Menurutmu, mereka sedang apa? Mungkin, merayakannya. Pergi ke suatu pergi, atau mungkin tetap di rumah.
Aku menatap langit-langit. Ya, itu air mata. Penyesalan dalam bentuk cair.
Ayo—sebut aku cengeng. Sebut aku jalang. Aku pantas menerimanya. Aku tak peduli.
Tidak lagi.
Apa menurutmu Hyunjoong menyadari betapa beruntung dirinya? Betapa diberkahi?
Tentu saja tidak. Dia si idiot yang membiarkan Jaejoong pergi. Dan aku si idiot yang tidak bisa mempertahankannya.
Mungkin, mereka tak akan bertahan lama dan akan putus lagi. Saat Jaejoong menyadari dirinya pantas mendapat yang lebih baik. Tapi, kurasa itu tak ada bedanya bagiku, ya 'kan? Tidak setelah semua yang kuucapkan. Tidak setelah aku membuat Jaejoong memperlihatkan ekspresi seperti itu.
Astaga.
Aku turun dari tempat tidur dan terhuyung menuju tong sampah. Aku nyaris tidak sempat mencapainya sebelum muntah. Semua yang ada di dalam perutku memang tidak berhasil bertahan.
Dan, pada saat itulah—saat berlutut. Pada saat itulah, aku meyakinkan diri terserang flu. Karena ini… sosok kacau ini, tak mungkin aku.
Tidak mungkin.
Kalau aku hanya sakit, maka aku bisa minum aspirin, tidur, dan aku akan merasa lebih baik. Aku akan menjadi diriku lagi, pada akhirnya. Tapi, kalau aku mengakui patah hati, kalau aku mengakui hatiku hancur berkeping-keping… maka, aku tak tahu kapan bisa pulih lgi. Mungkin, tak akan pernah.
Jadi, aku kembali ke tempat tidur. Untuk menunggu penyakitnya sembuh.
Sampai aku sembuh dari flu.
.
.
.
.
.
TBC
Chapter 10 untuk minggu kedua UAS. Yoyoii~
Mohon maaf sebelumnya karena belum bisa membalas review reader-ssi satu per satu. Tapi Vans selalu membaca dan juga sangat berterima kasih atas aspresiasinya. Love ya :* hhe
Review?
