Chapter 10
KISS
Main Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae
Other Cast: Kim Yesung, Cho Kyuhyun
Genre: Crime, Romance, Hurt
Rate: M
WARNING!
BOYS LOVE, NC
DON'T LIKE? DON'T READ!
Repost, banyak typo(s) dan tidak sesuai EYD
.
.
.
Happy Reading ^^
"Ah batraiku habis, tapi siapa yang menghubungiku? Ini bukan nomor telepon Korea."
Donghae kembali fokus mencari Hyukjae.
Sementara Hyukjae berlari semakin kencang dengan ketakutan yang menderanya hingga-
BRUUUKKK
DEGGG
Ia menabrak seseorang, jantungnya berdetak lebih kencang. Ingin menangis sekencang kencangnya saat melihat siapa yang baru saja ditabraknya.
Tes...
Air mata itu jatuh juga. Hyukjae mundur beberapa langkah
"Ba.. bagaimana bisa..."
-Chapter 10-
BRUUK
"Bagaimana bisa kau ada disini, Hae?" Dengan isak tangis, Hyukjae memeluk erat Donghae, suaminya. Ia tak menyangka akan bertemu Donghae di tempat ini, mungkin Tuhan mendengar doanya hingga memberi jalan untuknya.
BUG
BUG
"Kau jahat hiks... kenapa kau tutup teleponnya tadi? Itu aku, Hae. Aku sedang dikejar Yesung hyung. Dia benar-benar bajingan sakit.. dia ma-" Donghae membungkam bibir itu dengan bibirnya, pukulan ringan di dadanya pun berhenti. Bibir yang menyatu itu saling melumat dalam, menyalurkan rasa rindu yang kian membuncah. Merasa membutuhkan oksigen untuk bernafas, keduanya melepas ciuman panas itu.
"Kau baik-baik saja, sayang? Apa kau terluka? Kau tahu betapa menderitanya aku selama berminggu-minggu kehilanganmu. Aku sangat bersyukur bisa melihatmu lagi, Hyuk." Donghae memberondong Hyukjae tanpa jeda. Mereka kembali berpelukan seperti orang gila, saling mendekap erat di bawah guyuran salju. Samua orang memandang mereka haru, sampai-sampai beberapa orang merekam sweet moment mereka.
Sweet moment yang selama ini mereka impikan tak berjalan mulus saat namja berkepala besar bernama Yesung datang mendekat. Bajingan sakit yang disebut-sebut Hyukjae tadi menatap nyalang ke arah mereka. Sakit, kesal, cemburu dan iri melihat Hyukjae memeluk erat Donghae bahkan setelah dirinya menceritakan masalalu kelam tentang keluarga Donghae. Yesung membawa pistolnya dan hendak menembak Donghae, beruntung Donghae sempat menghindar. Saat ini Donghae tak membawa senjata apapun, jalan satu satunya adalah menghindar dan lari. Donghae menggenggam erat tangan istrinya, kali ini ia tak akan melepas tangan itu lagi.
"Hae, jangan menyeretku seperti ini!" Hyukjae memeluk protective perut datarnya.
"Jika tidak cepat kita akan celaka. Sial! Dia cepat sekali."
Terlalu ramai jika ia meneruskan berlari ke arah di depan sana, akan lebih mudah bagi Yesung menangkap mereka. Donghae menarik Hyukjae kearah tangga sebuah gedung dan terus naik sambil berlari. Di belakang sana Yesung terus mengejar dan semakin dekat saja, membuat Hyukjae semakin takut. Setidaknya rasa takut ini tak seberapa karena disampingnya saat ini ada Donghae.
"Oh iya, kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau matikan ponselmu, bodoh! Tadi itu aku yang menelpon, aku hampir mati dikejar orang gila itu."
"Ponselku kehabisan batrai."
"Bodoh! Lain kali jangan bawa ponsel jika kau tak mau mengisi dayanya!" Masih sempat sempatnya Hyukjae mengumpati suaminya itu.
"Hae! Bagaimana ini dia semakin dekat, kenapa kau tak lawan dia saja? Apa kau takut padanya?"
"Aishh sayang, aku tak membawa senjata. Dia itu tenaganya seperti setan, kau mau aku mati konyol dibunuh olehnya?" Hyukjae menggeleng sambil terus menapaki tangga dengan tangan mendekap erat perutnya.
"Darimana kau tahu? Apa kau pernah berkelahi dengannya?" Hyukjae masih terus saja bertanya. Sifat cerewetnya kambuh disaat yang tak tepat.
"Nanti kuceritakan yang sebenarnya. Ada banyak hal yang ingin kuceritakan, jadi kita harus selamat." Hyukjae tersenyum. Ia dapat merasakan genggaman tangan Donghae melembut.
'Aku juga, Hae. Ada satu hadiah besar yang ingin kuceritakan padamu.'
Tak terasa mereka sudah menapaki anak tangga terakhir. Terus menerus berlari mereka malah sampai di atap gedung. Yesung sudah berada di depan mata saat ini dan menodongkan pistol tepat pada kepala Donghae.
"Kemarilah, sayang... Atau kutembak suamimu ini!" Hyukjae bingung harus berbuat apa, ia merutuki kebodohan Donghae yang tidak bisa melawan Yesung. Tidak, ia tak boleh membiarkan Donghae mati. Baru saja ia bahagia dapat bertemu kembali dengan suaminya dan sekarang maut sudah akan memisahkan mereka. Hyukjae bersumpah tak akan rela.
"Berani kau menembaknya, aku akan membunuhmu YESUNG!"
"YA! Ada apa dengan panggilanmu itu padaku? AKU HYUNGMU!" Yesung semakin menekan kepala Donghae dengan pistolnya.
"KAU SETAN, KAU BUKAN HYUNGKU!" Hyukjae balas berteriak.
Bentakkan Hyukjae semakin membuat Yesung marah. Secepat kilat Yesung menarik lengan Hyukjae, pistol yang tadinya ditodongkan ke kepala Donghae beralih ke kepala Hyukjae. Di depan matanya Hyukjae yang ia sayangi lebih membela Donghae yang menurutnya lelaki brengsek, ini sungguh sungguh menyakiti Yesung. Bagi Yesung Donghae dan ayahnya adalah manusia paling bajingan di dunia.
"Mendekatlah jika kau ingin Hyukjae mati sekarang juga!" Yesung menyeringai senang melihat Donghae tak berani berkutik. Jika Hyukjaenya tak bisa mencintainya, maka tak ada yang boleh mendapat cinta Hyukjae. Yesung melangkah mundur dengan Hyukjae di pelukannya hingga sampai pada pembatas atap. Donghae mencari kesempatan untuk menarik Hyukjae kembali. Ia tak boleh gegabah atau peluru Yesung akan tersemat di kepala Hyukjae.
'SHIT! Dimana Kyuhyun'
Donghae menelan ludah, Yesung dan Hyukjae sudah menempel pada pembatas yang terlihat rapuh.
'Hae, aku tak ingin mati sekarang. Berbuatlah sesuatu, bodoh!'
"Kenapa kau diam? Kau pasti sedang ketakutan, bukan? Kau akan melihat tubuh istri manismu ini hancur berkeping keping di depan matamu." Yesung tertawa senang, tawa yang sebenarnya adalah tangisan tak terungkap. Ia tak tahu mengapa ia seperti ini, tak punya kesempatan sedikitpun untuk memiliki hati Hyukjae membuatnya frustasi. Donghae maju selangkah, ia tak bisa terus seperti ini. Hyukjae dalam bahaya ia harus melakukan sesuatu.
"Kumohon lepaskan istriku, kau boleh membunuhku asal kau melepaskan Hyukjae."
"Tidak, terima kasih!" Yesung mencengkeram leher Hyukjae membuat Hyukjae berontak dan saat itulah pagar itu terputus. Tubuh mereka berdua melayang di udara.
ARGHHHH-
GREEB
Donghae memegang erat kedua tangan itu, Donghae serasa tak mampu menahan beban keduanya. Tangan Hyukjae yang licin perlahan merosot dari pegangan Donghae. Pikiran Hyukjae sudah kalut. Apakah ia harus mati sekarang? Ia belum mengatakan pada Donghae soal anak yang sedang dikandungnya, ia tak ingin seperti ini. Sedangan Yesung menunduk miris sekaligus malu, tak seharusnya ia berbuat seperti ini. Jika Hyukjae tak bisa mencintainya seharusnya ia tak memaksakan kehendaknya. Kesakitan yang bersarang dalam hatinya, rasa iri, rasa benci semua itu ia ingin mengakhirinya disini.
"Kau harus hidup, Hyukkie..." Hyukjae menoleh ke sampingnya, ditatapnya Yesung yang mengalirkan cairan bening di sudut matanya.
"Mianhae, saranghae..." Yesung melepas genggaman tangan Donghae padanya, Hyukjae tercekat menyaksikan di depan matanya tubuh Yesung terjatuh dari gedung itu begitupun dengan Donghae. Hyukjae memejamkan matanya saat tubuh itu menyentuh tanah, ia tak sanggup melihat langsung saat-saat terakhir hyungnya itu.
Tanpa membuang waktu Donghae menarik tubuh Hyukjae sampai atas. Begitu berhasil selamat, Hyukjae langsung memeluk Donghae dan menangis pilu di dada suaminya itu. Donghae tahu perasaan Hyukjae sekarang, walau bagaimanapun Yesung adalah hyung yang sangat disayangi Hyukjae. Donghae mengusap rambut Hyukjae yang sedikit basah oleh keringat. Hyukjae masih menangis tersedu sedu dalam pelukannya.
'Mianhae, saranghae...'
Kalimat terakhir Yesung membuat luka baru di hatinya. Seharusnya ia paham akan perasaan Yesung. Perhatiannya, kasih sayangnya, kalau saja Hyukjae sedikit peka akan semua itu, mungkin Yesung tak akan sehancur ini.
"Menangislah, sayang. Aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang."
"Kau tak tahu Hae hiks... Kau tak tahu. Kau suamiku, kau jiwaku. Tapi disisi lain dia orang yang sangat kusayangi." Tangis Hyukjae makin kencang hingga nafasnya tersendat-sendat.
"Shhhhuttt sayang, sudah. Semuanya sudah terjadi. Lupakan hari ini, anggap ini semua hanya mimpi buruk." Diangkatnya wajah manis Hyukjae yang pucat dengan hidung dan mata yang memerah. Dikecupnya bibir kissable yang terbuka itu hingga tangisannya mereda.
'Maafkan aku yang tak mampu menyelamatkannya.'
Sebenarnya Donghae tak ingin ini terjadi, tapi Yesung sendiri yang memilih menyerah untuk bertahan.
"Aku takut hiks... Aku takut, Hae. Aku takut tak semp... hiks-"
"Sudahlah Hyukkie, jangan bicara dulu." Pelukan hangat Donghae membawa ketenangan untuk Hyukjae. Hyukjae melepas pelukan itu kemudian memandang Donghae malu-malu.
"Hae, bagaimana bisa kau ada disini?" Sebenarnya sudah sedari tadi ia penasaran dan baru sekarang sempat menanyakannya.
"Ceritanya panjang, sayang." Hyukjae cemberut lucu padahal tadi ia menangis tersedu-sedu dan sekarang ekspresinya itu begitu menggemaskan hingga membuat Donghae tak tahan untuk memeluknya lagi kali ini lebih erat. Sungguh moodswing.
"Aku sangat merindukanmu, sayang."
"Ahhh! Hae, jangan kencang-kencang..." Donghae langsung melepas pelukannya, ia panik saat Hyukjae seperti kesakitan.
"Apa kau terluka, Hyuk? Katakan padaku!" Hyukjae menggeleng sambil tersipu, rona merah menghiasi pipinya.
"Bukan itu, Hae..."
"Lalu?"
"Aku... Disini, ada baby kita." Hyukjae makin merona saat mengatakannya, ia menunduk sambil mengelus perutnya yang masih rata. Akhirnya ia mengatakan juga kepada Donghae. Jika dulu ia tak ingin mengatakannya karena ia penyebab kematian Sungmin, sekarang ia tak perlu bimbang lagi. Kejadian tadi saat nyawanya terancam membuatnya takut jika ia pergi dari dunia ini dan Donghae belum tahu ia hamil ia pasti akan sangat menyesal. Donghae masih memandang Hyukjae tak percaya, ia akan menjadi seorang ayah? Apa ia tak salah dengar.
"Katakan sekali lagi, Hyuk..."
"Aku hamil, Hae. Sudah dua bulan. Tentu saja ini anakmu, aku mati-matian menjaga kehormatanku demi kau. Aku tak bisa disentuh pria la-"
Hyukjae berhenti berbicara ketika bibirnya bertubrukan dengan dada bidang suaminya. Pelukan hangat dan lembut itu yang selama ini ia rindukan, aroma manly tubuh Donghae membuatnya bahagia hingga tak terasa kristal bening menuruni pipinya. Ini Donghaenya, kekasihnya, suami yang sangat dicintainya. Apapun yang terjadi Hyukjae tak akan melepas pria ini lagi, sudah cukup penderitaan saat ia tak bersama Donghae.
"Aku pun begitu, sayang. Hanya kau..." Hyukjae melepas pelukan Donghae dan menatapnya bingung, walau bagaimanapun Donghae pernah menghamili Sungmin tapi mengapa sekarang Donghae bilang hanya dirinya.
"Sungmin?"
Akhirnya nama itu terucap kembali dari bibir Hyukjae setelah sekian lama Hyukjae tak ingin menyebutnya.
"Sebenarnya inilah yang ingin kukatakan selama ini, sayang. Kau sudah salah paham. Kau tahu kenapa aku menciumnya saat itu?" Hyukjae merengut mengingat-ingat kejadian itu, rasanya ingin sekali menguliti Donghae hidup-hidup.
"Dengarkan dulu, sayang." Donghae memegang pipi Hyukjae yang memalingkan wajahnya.
"Aku melakukannya bukan karena aku ingin. Waktu itu aku begitu penasaran saat Sungmin bilang hamil anakku padahal kami tak pernah berbuat apa-apa. Aku ingin tau jawabannya dan ia bilang akan mengatakan yang sesungguhnya jika aku menciumnya. Dan setelahnya dia ternyata bilang tidak sedang hamil, aku begitu bahagia saat itu. Tapi ternyata ciuman itulah yang membuat kita seperti ini. Maafkan aku, sayang..."
"Jadi Sungmin tidak hamil?" Donghae mengangguk. Ternyata namja itu tidak hamil anak Donghae. Hyukjae berjoget-joget dalam hati, sungguh ini hal paling membahagiakan setelah tahu ternyata Sungmin tidak hamil. Ia kira Donghae sudah mengkhianatinya, tapi tunggu dulu kenapa Donghae penasaran jika ia tak pernah tidur dengan Sungmin kenapa ia harus takut.
"KAU PERNAH TIDUR DENGAN SUNGMIN?"
"Tidak sayang, aku.. aku kira aku mabuk saat itu dan aku yakin tak pernah tidur dengannya. Aku berani bersumpah, aku tak pernah menyentuhnya. Maafkan aku sebelumnya, jujur aku pernah dekat dengannya. Tapi aku sadar cintaku hanya untukmu. Dan saat itulah aku berniat menikahimu. Jika aku mencintainya, mungkin kita tak akan menjadi pasangan suami istri sekarang."
Hyukjae berfikir persetan soal Sungmin toh orangnya sudah meninggal yang penting sekarang Donghae sudah bersamanya but wait, bukankah masa tahanannya kurang lima tahun lagi.
"I iya Hae, tapi soal tawaranmu waktu itu... Emm kau punya banyak uang kan? Aku kan masih ditahan kurang lima tahun. Aku tak ingin kembali dipenjara, aku ingin hidup bersamamu." Hyukjae merajuk sambil menarik-narik kemeja Donghae imut. Andai ini bukan tempat terbuka ia sudah menerkam istrinya itu.
"Hahaha kau tak perlu khawatir, sayang. Aku tak perlu menghamburkan uang untuk membebaskanmu. Kurasa kau harus tahu sesuatu, Hyuk. Begini..."
Donghae pun menceritakan soal ayah kandung Hyukjae dan tuntutan itu sudah di cabut. Hyukjae sempat kecewa pada ayah kandungnya, tapi mendengar dari penjelasan Donghae akhirnya ia bisa memaafkannya. Untuk apa menyimpan dendam toh semuanya telah berlalu.
"Ahhh~ akhirnya aku bebas, Hae... AKU BEBAS!"
Donghae bahagia melihat istrinya yang berteriak senang, terlebih sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah. Betapa lengkapnya kebahagiaannya saat ini, diciumnya sayang kening Hyukjae lama hingga tak sadar Kyuhyun ada di belakangnya.
"Oh Kyu, kemarilah kau mau kemana?" Hyukjae menegur Kyuhyun yang hendak beranjak dari sana.
"Aku akan pulang, aku sudah tahu kronologisnya. Polisi sedang membawa jasad Yesung ke rumah sakit untuk otopsi. Biar aku yang mengurus pemakamannya nanti di Seoul, kalian tinggalah dulu disini. Hitung-hitung sebagai bulan madu kalian yang tertunda." Kyuhyun tersenyum melihat pasangan suami istri yang sedang bahagia itu. Walau ia masih menyimpan perasaan pada Hyukjae, bukankah akan lebih indah jika Hyukjae bahagia dengan orang yang dicintainya.
'Biar kusimpan perasaan ini hingga habis terkikis dengan sendirinya, hyung.'
.
.
.
London masih ramai walau hari sudah menjelang tengah malam. Salju yang bertaburan mempertebal lapisan yang sudah ada di atap-atap bangunan kota ini. Kamar hotel tempat Donghae dan Hyukjae menginap berhadapan langsung dengan pemandangan indah bangunan Big Ben. Hyukjae benar-benar senang, dulu ia pernah merengek pada Donghae untuk liburan ke London.
"Kau senang, sayang?"
"Umm... Tentu, kau tahu kan Hae aku sangat ingin liburan ke London. Aku ingin ke Baker Street, Hyde Park, Dartmoor wah.. itu tempat-tempat Holmes berpetualang dengan kasus kasusnya..." Hyukjae senang sekali menceritakan tempat-tempat yang ingin dikunjunginya. Ngomong-ngomong Hyukjae adalah penggemar berat Sherlock Holmes, jadi tak heran ia begitu senang berada di London.
"Hyukjae..."
"Humm?"
"Kau penggemarnya Holmes, kan?"
"Wae?"
"Apa kau merencanakan kasus-kasus yang sudah kita lewati seperti yang ada di novel Sherlock Holmes?" Pertanyaan bodoh yang entah terlintas darimana. Donghae masih menunggu jawaban Hyukjae sambil naik ke atas ranjang hotel bersprei putih bersih.
"Apa kau masih waras? Aku hampir mati berkali-kali dan kau bilang aku merencanakannya seperti di novel? Hahaha tapi kalau dipikir-pikir kisah kita memang seperti yang ada di novel, Hae-ah."
"Begitulah. Dan satu lagi, kau ingat tentang kasus pertama? Kau yang tertembak waktu itu, dan kita mencari orang di balik Siwon. Aku sudah menemukannya."
"Siapa?" Hyukjae ikut naik ke ranjang.
"Yesung. Tes DNA itu cocok, Hyuk."
Hyukjae kembali sedih mengingat Yesung yang ia sayangi sebagai hyung telah melakukan kejahatan sejauh ini. Beruntung saat itu hatinya bilang untuk percaya Donghae, jika tidak ia tak akan pernah tahu apa yang telah Yesung lakukan selama ini. Ia juga tak bisa menyalahkan Yesung, karena ia sendiri paham bagaimana perasaan Yesung padanya. Tapi mengingat Yesung sudah berkali-kali ingin membunuh Donghae, sungguh membuatnya kecewa. Hyukjae ingin melupakan hari ini, ia sudah memaafkan Yesung dan ia ingin hidup bahagia bersama Donghae setelah ini.
"Kemarilah sayang..." Donghae mendekap Hyukjae dalam pelukan hangatnya. Mengingat Hyukjae sedang hamil anaknya, Donghae tak akan macam-macam malam ini. Ya, walaupun batang kebanggaannya sudah berdenyut tak karuan hanya dengan memandang wajah manis Hyukjae.
'Arghhh sialan, kenapa kau tegang tanpa kuperintahkan'
Hyukjae merasakan benda keras yang menusuk-nusuk perutnya, seketika ia menyeringai nakal. Sepertinya si baby ingin sesuatu dari ayahnya.
"Hae, aku masih penasaran kenapa kau begitu takut saat Sungmin bilang sedang hamil anakmu. Kalau benar kau tak melakukan apa-apa dengannya mengapa kau harus takut dan ingin mendengar kepastiannya?" Donghae sudah gelagapan mendengar keraguan Hyukjae, tapi ia sungguh-sungguh tak pernah menyentuh Sungmin. Walau ia mabuk tapi ia masih sadar saat itu ia tak meniduri Sungmin.
"Aku.. saat itu aku, aku sebenarnya yakin tak pernah tidur dengan Sungmin."
"Ah... Jadi kau hanya ingin menciumnya, kan? Mengaku saja..." Hyukjae makin menyeringai dalam hati karena berhasil mengerjai suaminya itu. Ia sebenarnya percaya pada Donghae, hanya saja ia ingin melihat Donghae gelagapan dan akhirnya menuruti apa maunya. Jujur saja Hyukjae sangat merindukan sentuhan Donghae dan Hyukjae rasa Donghae pun juga begitu, buktinya ia merasakan punya Donghae sedang menegang sekarang.
"Tentu saja tidak, sayang. Untuk apa aku menginginkan itu, percayalah Hyukjae aku tak ingin itu terjadi aku mohon kau ingin aku melakukan apa agar kau percaya padaku..." Donghae makin frustasi dan membuat Hyukjae tertawa dalam hati.
"CIUM AKU!"
"Ha?"
Sebenarnya tak masalah bagi Donghae jika hanya harus memberi ciuman pada istrinya itu, hanya saja ia takut kelepasan dan malah berbuat hal mesum pada istrinya yang sedang mengandung itu. Terlebih lagi ia sedang tegang dengan nafsu yang berkobar saat ini, apa ia bisa menahan hasrat untuk tak menyentuh Hyukjae nanti.
"Kenapa? Kau tak mau? Bibirmu itu... Kau tahu seberapa marahnya aku saat Sungmin meninggal? Itu juga pertanda kau menciumnya kan. Saat itu juga aku selalu berfikir ingin menyikat bibir ini dengan sikat WC untuk menghilangkan bekasnya!" Hyukjae sebal sendiri mengingat bibir suaminya sudah pernah menyentuh bibir namja lain selain dirinya. Donghae bergidik ngeri membayangkan sikat WC menyentuh bibir indahnya. Dari pada sikat WC, Donghae lebih memilih bibir Hyukjae saja yang membersihkan bekas itu.
"Baiklah sayang, aku akan memberi ciuman paling dahsyat yang kumiliki."
Donghae tersenyum tulus, senyum itu mampu memenjarakan Hyukjae kedalam ruang-ruang cinta. Berawal dari Donghae yang mendekatkan wajahnya ke wajah cantik istrinya, perlahan harum nafas Donghae tercium oleh indra Hyukjae. Aroma mint yang segar dan manly membuat Hyukjae sungguh tak tahan untuk segera melumatnya. Biar saja ia yang agresif, bukankah ibu hamil memang sedikit agresif.
"Ah, persetan dengan ciuman yang kau bilang dahsyat itu aku sudah tak tahan..."
Hyukjae langsung membalik posisi Donghae menjadi terlentang di ranjang. Ia naik ke atas Donghae lalu menubrukan bibirnya dengan bibir Donghae. Hyukjae seperti macan betina yang sedang hamil, begitu ganas dan liar. Donghae sampai tak dapat berkutik dan akhirnya menikmati saja apa yang Hyukjae lakukan pada bibirnya. Lumatan lumatan kasar membuat darah Donghae berdesir, kerinduan yang mendalam mungkin akan mereka luapkan malam ini.
Sudah sepuluh menit mereka saling melumat dan bertarung lidah. Hyukjae benar-benar tak melepaskan bibir Donghae sedetik pun, bahkan Hyukjae tak mengijinkan Donghae mengambil nafas. Ciuman dahsyat akhirnya dimenangkan oleh sang istri. Mungkin Hyukjae akan melepas bibir itu jika merasa sudah berhasil menghapus bekas bibir Sungmin. Donghae sudah tak tahan didominasi seperti ini, bisa runtuh reputasi Donghae sebagai suami yang manly jika terus berada di bawah seperti ini. Dibaliknya posisi mereka, tak perlu mengeluarkan banyak tenaga karena tubuh Hyukjae memang ringan dan semakin ringan setelah berada di tahanan. Hyukjae sedikit kesal saat Donghae membalik posisi mereka, padahal ia belum puas mengerjai bibir Donghae.
"Kau berhasil meruntuhkan pertahananku Hyukjae, jadi jangan coba-coba untuk menghentikanku." Hyukjae tersenyum senang, akhirnya apa yang ia mau terjadi juga.
Donghae sudah tak mampu menahannya lagi. Salahkan saja Hyukjae yang sudah berani beraninya menggodanya. Miliknya sudah memberontak di dalam sana ingin segera di bebaskan. Dengan tergesa ia melepas celana beserta celana dalamnya, sekalian juga kemejanya. Ia sudah sangat on saat ini, penisnya juga sudah sangat keras. Hyukjae memandang tubuh telanjang Donghae intens, seperti baru pertama melihatnya. Melakukannya di hotel dan ini adalah pertama kalinya setelah mereka menikah, suasananya benar-benar seperti malam pertama pengantin, ini semakin membuat Hyukjae bergairah.
"KYAA... Kita akan melakukan malam pertama..." Hyukjae menjerit heboh membuat Donghae speechless, padahal mereka kan sudah berkali-kali melakukannya. Tingkah Hyukjae semakin membuat Donghae tak tahan ingin segera menggagahi Hyukjae, menggarap tubuh sexy itu sampai lemas.
"Kau akan habis setelah ini Hyukjae..." Hyukjae merinding mendengar kalimat itu, begitu sensual di telinganya.
"Lepas bajumu, sayang. Atau aku yang akan merobeknya."
Hyukjae menggeleng nakal. Sepertinya Hyukjae lebih ingin Donghae yang memereteli bajunya. Donghae tak tahan melihat ekspresi nakal itu, Hyukjae benar-benar binal dan nakal. Baru Donghae sadari Hyukjae hanya menggunakan kemeja putih kebesaran yang entah dari mana ia dapatkan tanpa menggunakan celana. Sepertinya Hyukjae sudah merencanakan ini semua.
"Selain merencanakan pembunuhan, kau juga pandai merencanakan adegan ranjang ya Hyukjae-ssi." Hyukjae tertawa mendengar dirty talk suaminya.
Donghae mendorong pelan tubuh Hyukjae agar berbaring kembali. Dirabanya tubuh sexy istrinya dari luar kemeja itu, membuat Hyukjae mendesah tertahan. Ia tarik berlawanan ujung kemeja itu dengan keras dan satu tarikan berhasil membuat kancingnya terpental kemana-mana. Tanpa melepasnya Donghae sudah puas, ia lebih suka melihat kemeja itu menggantung di tubuh Hyukjae membuatnya makin sexy. Celana dalam segitiga berwarna hitam ketat itu dirobeknya kuat hingga tak mampu lagi menutupi daerah privat Hyukjae. Terpampanglah penis mungil setengah tegang yang sangat imut di mata Donghae.
"Perlu blow job?" Hyukjae menggeleng, sedetik kemudian Donghae malah menjilatinya sensual.
Hyukjae tak tahan untuk tak mendesah, gigitan gigitan kecil juga Donghae lakukan untuk membangunkan penis kecil itu. Tak puas hanya menjilatinya Donghae mengulumnya, menyedotnya kuat membuat Hyukjae menjerit nikmat. Tubuh Hyukjae bergerak-gerak gelisah, sedotan kuat Donghae membuat sesuatu dalam perutnya ingin meledak padahal baru beberapa hisapan.
"Ahhh Hae jangan terlalu anghh..."
Donghae tak peduli dengan peringatan Hyukjae, ia senang saat Hyukjae berteriak tak karuan merasakan penisnya dihisap begitu kencang maju mundur Donghae makin cepat membuat Hyukjae mendesah desah keras. Sudah lama ia merindukan kegiatan ini bersama Donghae. Donghae menghentikannya, ia mengurut penisnya sendiri sebelum memasuki lubang hangat Hyukjae. Hyukjae tak protes saat Donghae melepas penisnya walau sudah akan klimaks ia tahu Donghae ingin keluar bersama.
"Cepat masukanhh... Arghh... sakith.."
Baru masuk ujungnya Hyukjae sudah berteriak sakit, mungkin karena lama tak dimasuki lubang Hyukjae menjadi semakin ketat. Perlahan Donghae menanamkan penisnya semakin dalam. Saat berhasil masuk setengah, Donghae mengeluarkan sedikit penisnya kemudian ia hujamkan keras-keras sampai masuk dan mengenai benda kenyal di dalam sana.
"ARGHHH~ Eunghh..."
Hyukjae melengkungkan tubuhnya kedepan saat junior itu menumbuk prostatnya keras. Ngilu memang, tapi nikmat luar demi tumbukan Donghae lakukan dengan keras dan cepat. Gerakannya benar-benar liar menyodok Hyukjae hingga bagian terdalam. Penisnya seperti diremat-remat di dalam sana, lubang Hyukjae sungguh sempit seperti menghisap-hisap miliknya. Ini luar biasa. Seperti pertama kali mereka melakukannya, penuh gairah dan memabukkan. Sambil terus menyodokkan penisnya kasar, Donghae melumat bibir rasa cerry Hyukjae. Dihisapnya dalam, sampai Hyukjae kuwalahan untuk mengimbanginya.
Tubuh Hyukjae terhentak-hentak seiring tusukkan Donghae yang brutal. Berkali-kali prostatnya tertumbuk ujung penis Donghae yang keras dan panjang. Bosan hanya saling melumat, Hyukjae berinisiatif untuk bertarung lidah. Dengan senang hati Donghae melayaninya dengan ganas pula. Lidah terlatih mereka Saling membelit mengabsen isi rongga mulut mereka hingga Hyukjae melepas paksa tautan bibir mereka karena sudah tak tahan untuk klimaks.
"Hae more enghh... Its so crazy...oughhh-"
"As you wish, baby..."
Gerakan Donghae semakin menggila. Penisnya juga sudah berdenyut pertanda akan segera menyemburkan spermanya. Diangkatnya kedua kaki Hyukjae dan dihujamkan kejantanan besarnya semakin dalam. Keringat membasahi tubuh mereka berdua, desahan erotis menghiasi seisi ruangan.
"Ahhh Hae akuh keluarhh angghhh.."
"Keluarkan Hyuk... Oughhh"
Cairan putih kental menyembur dari penis mungil Hyukjae langsung meleleh ke perutnya dan jatuh ke sprei putih itu. Tak lama kemudian rasa hangat menjalari perut dalam Hyukjae, benih Donghae menyembur deras memenuhi perutnya. Nafas keduanya terdengar putus putus kegiatan mereka barusan sungguh menggairahkan dan berbeda dengan malam malam sebelumnya. Bahkan baru saja mencapai klimaks, mereka menjadi ketagihan untuk menyatu kembali.
Donghae menarik Hyukjae turun dari ranjang lalu membuatnya berdiri. Setelah itu ia berdiri di belakang Hyukjae sambil menarik kedua tangan Hyukjae ke belakang. Donghae menyetubuhi istrinya dengan posisi berdiri, ini serasa lebih menantang. Sedikit sulit memang, memasukkan kejantanannya ke lubang anal Hyukjae karena lubang itu menyempit ketika Hyukjae berdiri seperti ini. Begitu berhasil, Donghae langsung memulai gerakan maju mundur. Tangannya menahan beban berat Hyukjae dengan menarik tangan Hyukjae ke belakang. Kepala Hyukjae mendongak ke belakang sambil mendesah-desah nikmat. Seakan tak ada puasnya menikmati persetubuhan ini, mereka bergerak brutal sambil saling mencari kenikmatan.
"Oghhh nikmat Hae... shhh so big..."
Donghae memanjakan penis Hyukjae, ia mengocoknya cepat membuat Hyukjae menggeliat resah. Merasa tak mampu menahan tubuhnya lagi Hyukjae merosot ke lantai. Meski begitu tusukan Donghae tak juga dihentikan, Donghae menggagahi Hyukjae yang menungging.
"Hyukjae... Oughhh... "
Takut terjadi apa-apa dengan kandungannya, Hyukjae memegangi perutnya untuk mengurangi guncangan. Hyukjae sudah tak tahan untuk klimaks lagi, cairan itu menyembur begitu saja diiringi desahan panjang Hyukjae. Hyukjae dibuat lelah oleh klimaks yang berkali-kali, ia ambruk di atas lantai. Donghae tak ingin Hyukjae kedinginan, ia mengangkat istrinya itu kembali ke ranjang, membuatnya terlentang dan kembali mengejar klimaksnya yang tertunda. Hyukjae hanya mampu mendesah ringan, pria manis itu sudah lelah.
"Sedikit lagi Hyuk... Shhh"
Dua tusukkan terakhir membuat cairan kental kembali memenuhi rongga hangat Hyukjae. Donghae menarik Hyukjae untuk berbaring menyamping agar miliknya bisa tetap tertanam dalam Hyukjae.
"Kau pasti lelah, sayang..." Donghae mengusap peluh yang membanjiri wajah istrinya.
"Eummm... Kau harusnya pelan-pelan, kau tak ingat aku sedang hamil." Hyukjae mengomel di sisa tenaganya.
"Maafkan aku, sayang. Kau begitu nikmat hingga aku kelepasan. Tadinya aku ingin menahannya tapi kau malah menggodaku"
"Sudahlah, aku juga senang Hae. Kita bisa bersama kembali ini seperti mimpi bagiku."
Hyukjae mendusalkan kepalanya ke dada manly Donghae
"Kau benar, sayang. Begitu banyak hal yang sudah kita lewati membuatku percaya kekuatan cinta kita."
"Di balik kasus-kasus yang sudah kita lewati tetep membuktikan kau hanya ditakdirkan untukku Hae."
"Dan kau tahu, Hyukkie. Baby kita telah memberi kekuatan untuk kita tetap bersama. Dia akan tumbuh menjadi jagoan seperti ayahnya."
"YA! Dia akan jadi anak yang imut dan cantik seperti ibunya!"
"Bagaimana bisa? Dia begitu kuat, sayang. Kau kugempur sedemikian rupa dan dia baik-baik saja di dalam sana. Pasti dia jagoan seperti ayahnya." Donghae menjulurkan lidahnya mengejek Hyukjae. Menyebalkan sekali membuat Hyukjae kesal dan mencubiti perut Donghae brutal.
"Ya.. Hyuk, ahhh sakit..."
"Rasakan itu, brengsek!"
Ruangan itupun dipenuhi canda tawa pasangan mesum yang baru saja menuntaskan hasrat. Mereka berpelukan erat menyalurkan cinta yang begitu besar. Kebahagiaan mereka sangatlah sempurna ketika ada kehidupan baru yang akan mengisi hari-hari indah mereka nanti. Tidak ada yang menduga cerita cinta mereka akan serumit ini, namun mereka bersyukur Tuhan masih memberi kepercayaan pada mereka untuk tetap bertemu kembali dan membuat mereka bersatu dengan cinta.
.
.
I don't know what is love, but I know love make us together forever
When Minerva Glass tell about 'Love Is Zero' I believe all of something must begin from zero
.
.
.
[Mobit Cafe, Seoul]
"Kau tahu hyung, saat kau dibawa kabur oleh Yesung apa yang Donghae lakukan?" Kyuhyun, Hyukjae dan Donghae sedang makan siang bersama.
"Ya ya ya! Jangan macam-macam kau Cho!" Donghae melotot ke arah Kyuhyun yang akan membongkar aibnya.
"Katakan Kyu!"
"Dimalam yang dingin... Di atap sebuah gedung perusahaan berdirilah seorang pria tampan yang terlihat frus-"
TAKK
"Arghh.."
Sendok naas melayang di kepala Kyuhyun.
"Lanjutkan Kyu! Apa yang dilakukan namja itu?" Hyukjae begitu penasaran apa yang dilakukan Donghae di atap.
"Akan kubunuh kau Cho!"
"Arghh.. kau tanya saja padanya hyung hahaha..."
"Ya! Kau sudah membuatku penasaran."
"Berani kau mengatakannya, kujamin lidahmu akan keluar dari tempatnya!"
"Kyaaa... Ampun hyung..."
"Ya Cho Kyuhyun! Katakan apa!"
"KYAAA~"
.
.
.
END
.
.
Akhirnya saya datang bawa happy end kkkk'. Semoga tidak membosankan dan puas dengan Ncnya (?) Jangan tanya si Kyu Kyu bakal sama siapa hehe saya juga tidak tahu. Biarkan Kyu memendam dalam-dalam cintanya pada Hyukjae. Saya tahu ini sangat lama, ada sesuatu yang membuat saya lama tidak update. Setelah ini mungkin saya hiatus, tapi tidak lama XD
Untuk yang terakhir, yang belum review silahan review. Yang belum pernah menyampaikan uneg-unegnya dari awal, mohon sampaikan di kolom review chapter ini ^^ dirapel tidak masalah. Sepatah dua patah kata saya sangat menghargai. Luangkanlah sedikit waktu, saya saja bisa meluangkan waktu untuk ngetik panjang pastinya readers juga bisa menyempatkan diri. Oke saya akhiri cuap-cuapnya ^^ thanks yang sudah setia menunggu, baca dan review.
Sherlyxiu
