Naruto © Masashi Kishimoto

Warning : AU, typos, possibly OOC

Yelena Milanova = Hyuuga Hinata

Happy reading minna ^^

.

.

.

Seorang putri seharusnya rela berkorban untuk keselamatan dan kesejahteraan bangsanya. Seharusnya ... karena yang dilakukan Velikaya Kyazhna justru sebaliknya. Entah sudah berapa banyak korban jiwa hanya karena Sang Putri tak peduli, lari, bahkan bersembunyi di balik penyamarannya yang sempurna. Dan semua hipokrisi itu dilakukannya hanya karena tak ingin kehilangan harta, sekaligus nyawanya.

Untuk pertama kalinya, Gaara benar-benar merasa seperti orang dungu. Bagaimana mungkin ... bagaimana mungkin ia bisa tertipu. Seharusnya ia tahu, alasan Katja menyerangnya saat pertama bertemu adalah karena dirinya memang benar-benar oponen dari boneka kasiku. Dan cinta Yelena menjadi komplemen yang terpadu.

"Seorang Velikaya Kyazhnya selalu tahu bagaimana cara membuat laki-laki bertekuk lutut. Muslihatnya bahkan sanggup membuat musuhnya, kita, menjadi seorang hamba yang penurut."

Demi sebotol Rodnik Vodka, kenapa segalanya tak lagi kredensial? Gaara tak tahu lagi yang mana informasi faktual. Informasi baru yang dilihatnya dari suguhan orasi klandestin milik Sir Shovkovsky seakan menyerang daya pikirnya secara radikal.

"Hey, Dungu. Kaulihat apa?" Untuk kesekian kalinya Sasuke mengguncang-guncang tubuh rekan sekaligus rivalnya. Ia mungkin tak tahu apa yang tengah disaksikan Gaara. Tapi ia tahu ada sebuah kenyataan yang mungkin mengguncang logika.

"Privyet~ Landak Tampan di sini. Panda Brengsek di sebelahku, kau mendengarku?" pancing Sasuke.

"Ty che, Blyad!" hardik Gaara.

Alih-alih terkejut, Sasuke justru menyunggingkan senyum lega. Setidaknya lelaki di sebelahnya masih Gaara yang biasanya. Dan itu berarti tak ada mantra apa pun yang digunakan Sir Shovkovsky untuk menjebak Gaara dalam permainannya. Sedikit shock tidak begitu buruk jika mengingat bahwa lelaki itu belum terbiasa.

"Ambilah," Sasuke melemparkan kotak rokoknya. Ia sendiri mengeluarkan pemantik api dan menyulut batang putih berdiameter lima milimeter di antara jari tengah dan jari manisnya. "Mari kita bicara layaknya pria dewasa. Jika kaulupa, kuingatkan kembali padamu bahwa aku adalah partner-mu dalam kasus ini."

"Aku ingat. Aku takkan lupa dengan Landak Tolol yang kemunculannya selalu membuatku sakit mata," berangsur-angsur pemilik surai merah itu menjadi tenang. Ia menghisap rokoknya dengan nikmat kemudian mengembuskannya perlahan-lahan. "Kau seorang Manipulator Waktu, posisimu netral. Itu katamu. Kalau begitu, beri tahu aku pendapatmu tentang Velikaya Kyazhna."

"Dia cantik," komentar Sasuke, "hahaha ... lihat dirimu, Panda. Wajah cemburumu itu benar-benar membuatmu seperti panda dungu!"

"Aku serius, Brengsek!" Gaara menukas dengan cepat.

"Velikaya Kyazhna seorang putri. Nyawanya adalah pembuka segel Yantarnaya Komnata. Dalam Yantarnaya Komnata ada harta berharga yang diinginkan Katyusha dan orang-orangnya. Pengikut utamanya menghendaki Iblis Merah dibebaskan. Sebagian pengikutnya lebih tertarik karena harta dari batu-batu amber-nya. Dan mungkin ada juga yang tertarik untuk meneliti organisme dan fosil yang terjebak dalam kepingannya," jelas Sasuke.

Persis seperti cerita dan buku-buku yang diperlihatkan Yelena, dalam versi yang lebih lengkap tentunya. Sebelumnya, ia tak pernah tahu bahwa harta yang diperebutkan itu adalah Yantarnaya Komnata. The Amber Room, warisan Kekaisaran Rusia yang menjanjikan harta, widya, juga kuasa. Dalam hal ini sekilas terlihat bahwa Velikaya Kyazhna-lah figur yang patut dibela.

"Iblis hanyalah isu yang diembuskan Velikaya Kyazhna. Ia hanya ingin menyimpan Yantarnaya Komnata untuk dirinya. Kalian tahu bahwa Velikaya Kyazhna selalu didampingi Boneka Katja? Boneka terkutuk itulah iblis yang sebenarnya. Yang kami minta adalah kesediaannya membuka Yantarnaya Komnata untuk memperluas wawasan akan kebudayaan kita. Tapi ia selalu menolaknya. Bayangkan! Putri macam apa yang tak menghendaki bangsanya maju."

Tutur kata Sir Shovkovsky—yang dilihatnya bagai video orasi—juga tak bisa diabaikan. Faktanya Katja menyerangnya dan ia juga tak pernah bertemu dengan iblis seperti yang Yelena katakan. Sementara kesaksian Sasuke mengenai Katyusha juga tak cukup kuat untuk ia jadikan pegangan.

"Jika kau memang benar ksatria Velikaya Kyazhna, kurasa kautahu apa yang harus kaulakukan," ujar Sasuke, "bahkan jika hal itu merenggut nyawamu. Seorang ksatria sejati takkan pernah takut mati."

Jika orasi Sir Shovkovsky benar, maka itulah yang dikehendaki Yelena. Wanita itu duduk di balik layar, menyaksikan dirinya yang bukan siapa-siapa mengorbankan jiwa dan raga untuk melindunginya. Karena sejak awal ksatria itu tak pernah ada. Ksatria Velikaya Kyazhna hanyalah bagian dari strategi semata untuk mendesak setiap lelaki di dekatnya agar merasa harus melindunginya.

Dalam sekejap Gaara merasa sudut hatinya dihujam sembilu. Jika Velikaya Kyazhna itu bukanlah kekasihnya—gadis yang dicintainya—mungkin hatinya takkan sedemikian alufiru. Hatinya memohon agar tak meyakini hal itu, tetapi logikanya terus berupaya membelu. Pada akhirnya hatinya tetap menerima teratu.

"Hey, Landak. Seberapa besar kemungkinannya aku bukanlah ksatria itu," Gaara menghisap lagi rokoknya.

"Kau takut mati?" Sasuke balik bertanya.

"Aku hanya tak ingin mati sia-sia jika ternyata ada orang lain yang lebih berhak mati demi membela Yelena," balas Gaara.

"Ternyata kau memang takut mati," ejek Sasuke, "kautahu, Velikaya Kyazhna pun sama sepertimu. Jika memang ia tak takut mati, kurasa ia sudah memilih bunuh diri sejak dulu agar para pemburunya tak lagi memiliki kesempatan untuk membuka Yantarnaya Komnata."

"Tsk!"

"Abaikan saja. Itu hanya pendapatku. Selebihnya penonton sepertiku tak punya urusan dengan pelaku drama sejarah seperti kalian," ujar Sasuke.

"Mencoba menjebakku, Tuan Landak? Kau sendiri yang bilang, kau berada dalam posisi netral kecuali jika ada tatanan hidup yang rusak. Dan menurutku, bunuh diri masuk dalam definisimu tentang tatanan hidup yang rusak itu," pungkas Gaara.

Sasuke hanya menyeringai angkuh. Mengagumi cara Gaara menarik simpulan walau ia tahu hati dan pikiran Gaara tengah bertingkuh. Meski tersamar, Sasuke tahu Gaara tengah meragukan segala hal yang diterimanya dari sang galuh.

Sepasang mata kuning pucat milik Orochimaru mengamati konversasi mereka dari satu direksi. Sebentar lagi ... sebentar lagi ... Sasuke pasti akan menunjukkan tendensi. Ketika Gaara memulai dispersi, maka saat itulah Orochimaru akan memulai aksi. Dengan begitu, repetisi sejarah akan terhenti sampai di sini.

.

.

.

"Jadi Sir Shovkovsky memang telah berencana untuk bunuh diri," Naruto meletakkan ibu jari dan telunjuknya di dagu. Mata birunya menelusuri laporan yang baru saja diserahkan Sasuke.

"Aku juga tak begitu paham. Tapi Gaara bilang, bertahun-tahun lalu dia pernah bertemu dengan Sir Shovkovsky, memperingatkan Sir Shovkovsky agar lebih menjaga kesehatan jantungnya," Sasuke mengambil jeda sesaat, "dan Pak Tua itu malah tertawa dan mengatakan bahwa beberapa tahun lagi ia mungkin sudah tak bisa lagi menikmati kopi."

"Oh ... Sir Shovkovsky seperti mengatakan kalau ia ingin menikmati hal-hal yang menyenangkan di akhir hidupnya," ucap Naruto. Lelaki pirang itu membolak-balikkan kertas laporan hingga tiba-tiba ia berseru seolah berhasil mengingat sesuatu, "Ah, ya. Aku ingat. Kurasa Gaara memang pernah bertemu dengannya. Waktu itu dia masih di akademi. Aku masih seniornya waktu itu. Dan ... ya ... aku ingat waktu itu aku merasa sangat iri karena dia diundang Sir Shovkovsky setelah Gaara menyelamatkannya. Jadi itu yang mereka bicarakan."

"Aku juga sudah menelepon beberapa pekerja di rumahnya dan mereka membenarkan kalau Sir Shovkovsky memang melakukan beberapa kebiasaan yang memperburuk kondisi jantungnya," kata Sasuke, "kokinya bahkan memastikan dua atau tiga kali seminggu ia memasak beberapa menu tinggi kolestrol atas permintaan Sir Shovkovsky."

"Ya ampun ... aku tak percaya penyelidikan panjang kalian hanya untuk membuktikan bahwa Sir Shovkovsky meninggal bukan karena dibunuh," Naruto menelungkupkan wajahnya di atas meja, "hey, Sasuke. Kau orang pertama yang setuju untuk mengusut kasus ini ketika anggota partai dan mantan istrinya mengajukan masalah ini ke kepolisian. Aku tahu intuisimu cukup bagus dan karena itu kau pasti akan menolak jika ini bukan kasus yang menarik bagimu."

Lingual Naruto terasa menusuk, langsung, sekaligus membawa insinuasi. Sasuke tahu suatu ketika Naruto pasti akan mengajukan pertanyaan ini. Menjadi atasannya dalam dua tahun terakhir membuat Naruto cukup hafal dengan segala perangai yang ia miliki. Ia juga mengakui dirinyalah yang membujuk Naruto agar kasus ini diselidiki.

"Jangan bilang ini demi kepentingan negaramu," tuduh Naruto.

"Pemerintah Jepang tidak menggajiku untuk mengacak-acak stabilitas negaramu," balas Sasuke, "aku di sini untuk mengawasi seseorang. Bila segalanya tak berjalan baik-baik saja maka keamanan internal Rusia juga takkan baik-baik saja."

"Maksudmu ... terorisme?" Alis Naruto sedikit terangkat, "ya ampun ... SVR bahkan tidak memberi tahu apa-apa soal ini."

"Menjaga keamanan internal dan perbatasan adalah tugas FSB, Naruto. Kau pasti tahu hal itu. Dan bicara soal ancaman, siapa yang bilang ancaman hanya berurusan dengan fisik," ujar Sasuke.

"Kau terlalu berbelit-belit, Sasuke. Kau seolah ingin agar aku percaya padamu sementara aku sendiri tak mengerti hal macam apa yang harus kupercayai," lagi-lagi Naruto menepuk keningnya.

Pria Uchiha itu tak tertarik lagi menanggapi. Lelaki itu memilih untuk menyibukkan diri dengan tumpukan data dan informasi yang menjadi pekerjaannya sehari-hari. Atasannya hanya mengamati, masih penasaran dengan intelijen Jepang yang kini bekerja untuk FSB. Baginya, keberadaan Sasuke di sini adalah sebuah teka-teki.

Bukan ... bukan Naruto tak mengerti. Bertahun-tahun hidup dalam bidang spionase membuat Naruto paham bahwa terkadang mereka juga bekerja sama dengan intelijen asing agar afinitas terpenuhi. Hanya saja Uchiha Sasuke memiliki sebuah distingsi. Mengapa Sasuke dikirim Jepang justru untuk mengabdi pada negeri ini?

Naruto tak punya alasan yang bagus untuk memulangkan Sasuke ke negaranya. Meskipun ia adalah warga negara Jepang, ia bekerja dengan sangat baik untuk pemerintah Rusia. Bahkan Naruto juga harus mengakui Sasuke adalah yang terbaik di divisinya. Tidak, mungkin bukan divisinya saja. Terkadang bahkan Naruto merasa kemampuan Sasuke melebihi dirinya. Ia sempurna ... seolah datang dari level yang berbeda. Uchiha Sasuke ... sebenarnya kau siapa?

"Kembali ke ruanganmu, Kepala Durian. Caramu memandangku hanya menjadi fanservice bagi Nona Fujoshi," tukas Sasuke, melirik sekilas ke arah Yamanaka Ino yang sengaja berdiri di pintu ruangannya, mengamati pembicaraannya dengan Naruto dengan pipi bersemu merah.

"Ck ... sekarang aku mengerti kenapa Gaara sangat membencimu, Sasuke," tukas Naruto, "kau benar-benar menyebalkan."

"Pergilah," Sasuke mengibaskan tangannya.

"Tsk!" geram Naruto. Ia melangkah pergi lalu menatap—setengah melotot—ke arah Ino, "Hentikan ketertarikan abnormalmu terhadap homoseksual, Yamanaka. Dan kembali ke mejamu sekarang juga."

Yamanaka hanya tergelak ringan dan kembali ke mejanya. Sasuke pun kembali menatap layar digital di hadapannya. Jemarinya tergerak, membuka akses menuju data pribadi miliknya. Kembali menggerakkan jemari, ia tersenyum begitu mengenali salah satu IP address yang menjadi visitor dari data pribadinya.

Yelena Milanova ... akhirnya ia membuka matanya.

Bertahun-tahun Sasuke mengamati, gadis itu masih saja restriktif. Ia terlalu terpaku pada repetisi sejarah tanpa melihatnya secara eksesif. Sejarah memang berepetisi, tetapi perkembangan dunia juga akan tetap memberi aditif. Keberanian gadis itu menyusup menjadi anak buah musuhnya sendiri memang sebuah langkah inovatif. Hanya saja taktik itu takkan cukup kuat untuk mematahkan strategi musuhnya yang terlampau ofensif.

Katyusha pasti sudah datang menemuinya, menudingnya sebagai Velikaya Kyazhna. Entah bagaimana caranya, Yelena pasti bisa berkelit dan memengaruhi Katyusha. Di sisi lain Yelena pasti akan mencurigainya. Mungkin orang-orang Katyusha juga akan selalu mengawasinya. Justru inilah yang dikehendaki Sasuke Uchiha.

"Sir Shovkovsky ... kesalahan terbesarmu adalah melibatkan seorang Manipulator Waktu dalam permainanmu."

.

.

.

Yelena melirik penuh rasa khawatir ke arah Gaara. Semenjak pulang dari Permskaya, kekasihnya belum berkata apa-apa. Ia hanya menekan bel, masuk, dan hanya mencium bibirnya ketika Yelena bertanya. Dari meredupnya bola mata kehijauan milik Gaara, Yelena tahu terjadi hal-hal yang tak biasa. Lebih tepatnya ... apakah pemuda itu terluka.

"Ga-Gaara?"

Lelaki itu bahkan tak menyentuh darjeeling yang ia sajikan. Yelena mulai tak tahan. Ia tak tahan lagi terus menerus terabaikan. Apa pun permasalahan yang tengah dihadapi Gaara, ia merasa berhak mendapat penjelasan.

"Yelena."

Yelena merasa bersyukur iblis—atau apa pun yang ditemui Gaara—ternyata tak mengambil suara kekasihnya. Pun begitu Yelena sedikit merasa kecewa karena Gaara tak memanggilnya Hinata seperti yang biasa dilakukannya. Tetapi apa pun itu, hal yang terbaik yang bisa ia lakukan hanyalah duduk dan menanti Gaara bercerita.

"Ada hal buruk yang terjadi?" tanyanya setengah menyelidik.

"Ya. Dan aku hampir mati," ucap Gaara, "ingat saat aku mengirim pesan padamu? Sebenarnya saat itu aku tidak sedang baik-baik saja."

Bohong ... saat itu Gaara memang terluka ketika bergulat dengan logika di kereta. Tapi tak ada hal yang serius hingga bisa membuatnya meregang nyawa. Hanya saja Gaara benar-benar ingin tahu apakah Yelena hanya berniat memanfaatkannya semata.

Lelaki berambut merah bata itu sibuk memaki dirinya dalam hati. Semula ia berniat mengintrogasi, bertanya secara langsung pada Yelena bahkan bersiap-siap bila terjadi konkurensi. Tapi kenyataannya ketika ia berhadapan dengan wanita itu, tak banyak hal yang bisa dilakukannya kecuali mengakui dalam hati bahwa Yelenalah gadis yang ia cintai.

"A-apa? Astaga, kenapa saat itu kau tidak bilang padaku? Bagian mana yang terluka? Biarkan aku me..."

"Sekarang aku baik-baik saja. Beberapa orang membawaku ke Kanavinskaya untuk mendapat pertolongan pertama," potong Gaara.

Jemari Yelena yang semula bersiap untuk memeriksa sekujur tubuh Gaara terkulai kembali. Ekspresi gadis itu sedikit lega, menatap ke arah kekasihnya, "Seharusnya kau kembali saja saat itu. Misimu berhasil atau tidak, aku tidak peduli. Hidupmu ... tolong hargai hidupmu, Gaara."

Sir Shovkovsky benar ... Velikaya Kyazhna memang teramat piawai membuatnya harus angkat topi. Tutur kata lembut itu ... ekspresi sarat afeksi itu ... adalah bukti. Bahkan jika kini Gaara mencoba untuk lari, sama saja ia menyiksa hati yang kini terdetensi.

Menggelikan.

Ia—Sabaku Gaara—profiler FSB yang kerap disebut berhati besi dapat dengan mudah takluk oleh afeksi. Logika yang kerap dibanggakannya menguap begitu melihat senyuman dan sentuhan yang membuatnya terbuai. Belum lagi kecupannya yang kerap membuat lupa diri. Yah, lupa diri. Seolah ia tak lagi berpijak di bumi

Astaga ... sejauh apa dirinya berubah semenjak kardiolog cantik itu hadir di hidupnya?!

"Kasus Sir Shovkovsky sudah selesai. Ia terbukti melakukan usaha-usaha untuk bunuh diri. Itu berarti kau dan teman-teman doktermu bebas," kata Gaara, "karena itulah aku memikirkannya sejak tadi. Yelena, kurasa lebih baik aku kembali ke apartemenku sendiri."

Yelena tak mampu menahan diri untuk tak terkejut, "Kenapa? Kenapa kau harus pulang dan kenapa semuanya serba tiba-tiba, Gaara?"

"Aku lelah," kata Gaara, "kejadian di rumah itu membuatku sadar bahwa manusia biasa sepertiku bukanlah lawan yang sepadan untuk iblis yang kaukatakan."

"Tapi kau bukan manusia biasa. Kau ksatria. Katja tak mung...,"

"Hentikan segala omong kosong ini, Yelena!" Gaara sedikit membentak, membuat Katja pun turut mengubah posisi berdirinya. "Sejak awal ksatria itu memang tak pernah ada. Kaulah yang menciptakannya. Jika aku memang ksatria, mengapa aku bahkan tak pernah tertarik dengan kekaisaran Rusia? Aku juga tak tahu apa-apa tentang mantra. Kaulah yang mengajariku. Kau yang mencoba membuatku menjadi sosok ksatria sempurna seperti mimpimu selama ini!"

Jika saja Yelena beberapa tahun lebih muda, ia takkan segan untuk meneteskan air mata. Perkataan Gaara terlampau tajam untuk seseorang yang mengaku mencintainya. Apa pun yang terjadi di Permskaya, yang jelas peristiwa itu telah benar-benar mengubah Gaara.

Yelena tahu Gaara memang sarkastik, tapi kali ini tutur katanya benar-benar membuatnya tercekik.

"Aku mengerti. Pergilah. Aku takkan melarangmu. Pastikan kau takkan pernah kembali kecuali kau ingin mati."

"Yeah, kurasa aku harus pergi sekarang."

"Katja, biarkan dia pergi," ucap Yelena tepat ketika Katja hendak melompat dan menyerang Gaara. Ksatrianya—atau mungkin mantan ksatrianya—hanya menoleh sejenak lalu meneruskan langkahnya.

Yelena memijat pelipisnya perlahan. Rasanya ia baru saja menerima sebuah pengkhianatan. Sungguh, ia tak mengira bahwa seorang ksatria akan meningalkan Velikaya Kyazhna yang seharusnya ia selamatkan. Gaara baru saja menorehkan sejarah baru yang selama ini tak pernah tercatatkan.

Tidak, bukan itu.

Rasa sakit di hati Yelena bukan karena Gaara adalah ksatrianya. Yang membuatnya sakit adalah Gaara sebagai kekasihnya. Ksatria atau bukan, bukankah seorang laki-laki selalu memiliki naluri untuk melindungi kekasihnya—wanita yang dicintainya? Dan Gaara...

Katja melompat ke arah Yelena. Mengerjapkan mata birunya seolah mengharapkan Yelena untuk segera pulih dari duka. Gadis itu tersenyum getir, mengusap helaian ikal milik sang boneka. Setidaknya ia masih memiliki Katja yang akan selalu bersamanya.

Sepasang bola mata kuning kehijauan milik Orochimaru mengerjap penuh kepuasan. Tak salah memang jika ia memilih untuk mengikuti langkah pemuda berambut merah itu ketimbang mengikuti Manipulator Waktu berkarakter arogan. Ia menggerakkan jemari di atas sebuah piranti komunikasi, ia mengirim sebuah pesan.

Ksatria bodoh itu baru saja meninggalkan Tuan Putri. Jadi Sasuke, kau mau ambil bagian atau tidak?

.

.

.

Gelap. Terasa pengap. Dan dirinya seolah tengah terperangkap.

Bau anyir darah bercampur membusuknya daging manusia membuatnya kian tersiksa. Yelena baru saja hendak berlari ketika ia menyadari, ada rantai yang membelenggu kedua kaki dan tangannya. Mimpi ... ini pasti hanya mimpi belaka. Seingatnya ia hanya mencuci muka dan menepuk-nepuk bantal sebelum memejamkan mata. Hal itu dilakukannya untuk mengurangi luka pasca ditinggal sang ksatria.

Jadi, seharusnya tak ada hal yang memungkinkannya terperangkap di tempat yang entah berada di mana.

Crrakk!

Alih-alih terlepas, rantai itu justru semakin kuat mencengkram. Rasa nyeri tiba-tiba saja menghujam. Yelena bisa merasakan ada likuid pekat yang mengalir perlaham-lahan dari pusat rasa sakit yang mungkin bindam. Gadis itu paham, dalam mimpi pun mereka berusaha membuatnya tak tentram.

Mungkin saja mereka telah menemukannya, mengucap mantra untuk merusak tidur lelapnya agar menjadi ultimatum agar ia selalu siaga.

Dan Yelena tak ingin kalah walau hanya dalam mimpi dan meski tak ada Gaara di sisi.

Senandung lirih sang putri membawa untaian elegi. Samar-samar seberkas sinar mulai menyelubungi. Sekarang Yelena bisa melihat bahwa beberapa meter dari tempatnya, berdiri Katyusha Shovkovskaya dengan beberapa bilah pisau kecil di kanan dan kiri. Ia tersenyum, bahagia menyaksikan Yelena didera rasa nyeri.

Katyusha melangkah mendekati. Menyanyikan sebuah lagu yang dapat membuat bulu kuduk berdiri. Lagu yang biasa digunakan agar maut rela mendekati. Tapi Yelena tak peduli. Ia tetap mencoba berkonsentrasi untuk menyenandungkan bait-bait elegi.

Jleb!

Yelena bisa merasakan benda tajam berbahan besi itu bergerak menembus ulu hati. Helaan napasnya sempat terhenti, tak siap menerima rasa sakit tak terperi. Rasa sakit bercampur ngeri semakin membayang tatkala Katyusha kembali mengangkat pisaunya untuk dihujamkan lagi.

Hup!

Beruntung lagu kekaisaran Rusia mampu membuat belenggu pada tangan kirinya terlepas. Kini ia bisa menggerakkannya dengan bebas, termasuk untuk menangkis serangan si bocah culas. Lebih mujur lagi lilitan rantai pada tangan kanan dan kedua kakinya sudah sedikit mengendur, membuat Yelena yakin sebentar lagi dirinya akan terbebas.

"Wow," ucap Katyusha nyaris tanpa ekspresi.

Entah mantra macam apa yang diucapkannya dalam hati hingga membuat rantai yang masih mengikat Yelena kembali menguat. Napas Yelena kembali tercekat. Bocah iblis ini ... sungguh benar-benar 'petarung' yang hebat.

"No-Nona...," panggil Yelena dengan pasrah. Tangan kirinya menggenggam pisau yang masih menancap di ulu hati, "Kenapa Anda melakukan ini?"

"Hahaha ... lucu sekali, Kyazhna. Aku bosan mengikuti permainanmu. Jadi, ayo kita akhiri saja," Katyusha tertawa. Bocah itu menjilat darah Yelena yang tertinggal di ujung jari, "Sudah kuduga, rasa darah dari seorang putri memang akan seharum dan selezat ini."

"Tapi saya bukan Velikaya Kyazhna, Nona. Nama saya Yelena, abdi Anda," tutur Yelena sedikit parau, "tetapi jika memang saya perlu dikorbankan untuk menemukan Velikaya Kyazhna, saya tidak keberatan, Nona. Kemarilah, bunuh saya lebih cepat."

"Sampai kapan kau berniat untuk berpura-pura, Kyazhna? Tapi baiklah, kukabulkan keinginanmu dan...,"

Jleb!

"Jadilah tour guide saya di neraka, Nona. Tunggu saya di sana," Yelena memasang senyum kemenangan. Ia bisa membaca keterkejutan di wajah Katyusha tepat setelah gerak cepatnya mencabut pisau—yang telah ia beri mantra—dan berbalik melemparkan benda itu pada Katyusha.

"Kau!"

Yelena tak membuang waktu lagi. Kali ini ia mengucap doa-doa agar terbangun dari mimpi sebelum Katyusha bisa melepas pisau itu dan menyerangnya kembali. Sayangnya sepertinya rencananya tak mengalami fluensi. Karena Katyusha...

Begitu Yelena membuka matanya kembali, ia mendapati dirinya tengah terbaring di ranjang. Napasnya terengah-engah, peluhnya bercucuran seolah baru saja mengalami mimpi buruk yang panjang. Memperoleh kesadarannya kembali, ia menjangkau tombol lampu agar mendapat pencahayaan terang. Ia meraih gelas berisi air putih demi mendapatkan kembali rasa tenang.

Sesaat sebelum ia terbangun dari mimpi, tepat saat Katyusha hendak menyerangnya lagi, Yelena yakin ia melihat ada sebuah pedang yang menghalangi. Dengan kata lain, ada pihak ketiga yang mengintervensi. Apakah sosok itu benar-benar kawan baginya, Yelena tak tahu pasti.

"Dorogaya Moya..."

Satu frasa yang seharusnya manis itu membuat kesadarannya kembali membeku. Mencari sosok pemilik suara, Yelena melihatnya berdiri dengan santai di depan pintu. Astaga ... baru saja ia diserang di alam mimpi, kini ia harus kembali berhadapan dengan seorang 'pemburu'.

"Hidan? Siapa yang memberimu ijin untuk masuk ke..."

"Aku selalu tahu kau memang menggairahkan, Yelena," Hidan membelai wajahnya.

Yelena tahu, baju tidurnya basah karena keringat. Tapi ia yakin Hidan tak hanya datang hanya untuk menggodanya untuk bercinta di saat yang sangat-sangat tidak tepat. Yelena tahu si mesum satu ini adalah salah satu 'prajurit' iblis yang paling taat. Karena itu...

Ciuman mendadak dari Hidan tak mampu diantisipasi Yelena. Berusaha memberontak, tapi ia kalah cepat dari Hidan yang malah menarik selimut untuk menyelubungi mereka. Sial! Bahkan di tengah tugas untuk membunuhnya, Hidan masih sempat mencari keuntungan dan kepuasannya.

"Hi-Hidan, apa yang kaulaku...,"

"Mendesahlah," pinta Hidan di telinga Yelena, "agar dia tak bisa mendengar apa pun yang kukatakan padamu."

Apa pun yang Hidan rencanakan, Yelena tahu Hidan tak berniat membunuhnya. Juga intonasinya ketika menyebut kata 'dia'. Siapapun 'dia' Yelena tahu itu bukan Katyusha. Karena Hidan selalu memanggil bocah iblis itu dengan sebutan Nona. Karena itu tak ada salahnya menuruti apa yang dikehendakinya.

"Namanya Orochimaru. Dialah yang meniupkan mantra untuk mengendalikan mimpimu."

Baik, orang bernama Orochimaru itu adalah salah satu anak buah Katyusha. Dan dia datang untuk memberi peringatan, bahkan mungkin menangkapnya.

"Besok pagi, perkamen legendaris. Temukan kuncinya. Lord Sasuke menunggumu di sana."

Untuk ke sekian kalinya, Yelena mendapatkan kejutan malam ini. Cara Hidan memanggil Sang Manipulator Waktu seolah mengatakan bahwa ia adalah seorang abdi. Di sisi lain, ia juga belum mendapatkan kepastian di kubu mana Sasuke memberikan tendensi.

Ya Tuhan ... sebenarnya permainan macam apa yang tengah Yelena hadapi?

.

.

.

TBC

.

.

Thank's to : Michelle Aoki, thelittlething, Hyuu Hikari, Yamanaka Emo, Freeya Lawliet, Thi3x Noir, Bocah namikaze *Nama akun facebook saya Svetlana Arlovskaya ^^*, adeanawinchester *gpp, santai saja adeana-san ^^. Boleh dibilang Sasuke ini tandingannya Sir Shovkovsky dalam hal strategi, makanya saya sengaja membuatnya jadi pribadi yang rumit. Soal adegan kayak di House of Wax, saya suka sih scene-scene horor di film itu. Kadang sampai membayangkan adegan-adegan full action yang hantunya boneka lilin #curhat*, dandelion19, Hanyou Dark, Mitsuki Ota, Dae Uchiha, dan Ryu Lawliet.

Chapter 10 dan masih banyak misteri yang belum tergali. Nggak yakin fic ini cuma bakal selesai di chapter 13 LoL. Secara singkat chapter ini menunjukkan bagaimana Gaara terpengaruh dengan memori-memori yang disajikan Sir Shovkovsky sampai-sampai meninggalkan Hinata. Sebenarnya saya ingin membuat efek brainwashing yang lebih kuat dan masuk akal, tapi nyatanya saya memang belum punya kapasitas di situ. Terkait Sasuke, saya rasa sudah jelas pihak mana yang ia bela.

Soal FSB dan SVR, FSB itu dinas intelijen rahasianya Rusia yang tugasnya lebih banyak di dalam negeri. Sedangkan SVR lebih banyak mengurusi masalah luar negeri. Tadi saya menyebut Sasuke sebagai intel Jepang, sejujurnya saya kurang tau apakah Jepang memiliki dinas intelijen atau tidak. Tetapi seandainya tidak pun anggap saja Jepang punya dinas intelijen yang sangat rahasia seperti ASIS (Australian Secret Intelligence Service) yang sempat dirahasiakan bahkan dari pemerintahnya sendiri selama 20 tahun sejak didirikan.

Entah kenapa saya merasa chapter ini sedikit melankolis. Mohon maaf ya buat yang kurang suka.

Seperti biasa, feedback saya harapkan baik berupa jitakan, tabokan, cubitan, kritikan, ataupun pujian (kalau ada) di kotak review.

Спасибо ^^