Kyungsoo menyandarkan tubuhnya dibalik tempok penghubung antara dapur dan ruang tengah. Wanita yang tengah berbadan dua itu tadinya hendak turun guna mengambil minum namun urung ketika dirinya tanpa sengaja mendengar bisik-bisik dari arah dapur.

Merasa curiga, Kyungsoo memilih mengikuti instingnya untuk berjalan mengendap-endap lalu menguping. Dan benar saja, apa yang didengarnya dari arah dapur sana membuatnya ingin mendengus keras.

"Ibu aku takut. Bagaimana jika jalang itu ikut mati? Aku tidak mau dipenjara ibu."

Ketika Kyungsoo mencoba mengintip. Wanita itu melihat bagaimana Jung yang tua mendorong bungkusan berisi sebuah botol kecil kepada si Jung yang muda. Tanpa diberi tahu apa isi bukusan itu Kyungsoo sudah bisa menebaknya.

"Bodoh. Ini hanya peluruh kandungan tidak akan membuat jalang itu sampai mati. Ia mungkin hanya kontraksi lalu melahirkan bayinya lebih awal dan kemudian bayi itu yang mati. Jadi cepat lakukan saja dari pada kau terus tersiksa begini."

Meski dengan tampang ragu Chaeyeon akhirnya menerima bungkusan dari ibunya itu. Wanita itu kemudian melirik ibunya sebelum membuka tutup botol itu lalu menuangkannya kedalam segelas susu.

Belum sempat isi botol itu habis, keduanya terkejut ketika tiba-tiba seseorang datang dari arah belakang. Dan itu adalah Kyungsoo.

Kyungsoo melipat tangannya, menatap remeh kepada dua orang yang terlihat panik menyembunyikan bungkusan yang berisi cairan peluruh kandungan untuknya. Ia maju selangkah guna mengintip apa yang keduanya sembunyikan –meski sebenarnya ia sudah tau apa isinya.

"Apa yang kalian sembunyikan?" tanya Kyungsoo belagak penasaran.

Wanita itu melihat bagaimana Chaeyeon yang memundurkan badannya sebelum kemudian mendelik kepadanya. "Apa urusanmu. Urusi saja urusanmu sendiri jangan mencampuri urusan orang lain."

Kyungsoo berdecih. Semakin ingin tertawa melihat raut wajah kedua Jung itu.

"Well... sejujurnya tanpa kau beritahu pun aku tau apa yang ada disana. Aku hanya mengetes saja."

Mendengar itu, Nyonya Jung maju kemudian mendorong pundak Kyungsoo dengan sebelah tangannya.

"Lalu apa mau mu sekarang? Kau ingin mengadukan kami berdua kepada Jongin dan ibunya? Kalau begitu adukan saja, kami tidak takut. Toh kau pun tidak memiliki bukti apapun."

Kyungsoo menggeleng kecil. Masih dengan senyum manis yang tersungging dibibir sexynya.

"No... aku tidak sepicik itu untuk mengadukanmu kepada Jongin juga ibunya. Dan maaf, menurutku itu tidak seru sekali karena kalian akan segera ditendang dari sini jika mereka tau apa yang kalian rencanakan untuk pewaris Kim yang tengah tumbuh diperutku. Aku lebih suka bermain cantik. Mengusir kalian tanpa harus mengotori tanganku."

Kyungsoo tersenyum lalu mengedikkan kecil bahunya. Wanita itu hendak berbalik namun urung ketika mengingat sesuatu.

"Ahhh.. dan satu lagi. Aku hanya mengingatkan jika kau sudah terlalu lama menetap disini Nyonya Jung. Tidakkah dirimu malu menumbang begitu lamanya dirumah besanmu? Jadi sebelum Ibu mengusirmu lebih baik kau segera kemasi barangmu karena aku merasa muak setiap hari melihat wajahmu."

Dan kemudian Kyungsoo berbalik, hendak pergi meninggalkan Nyonya Jung yang sudah termakan oleh emosi serta Chaeyeon yang juga sama sakit hatinya.

Nyonya Jung mendengus keras. Memastikan jika wanita yang tengah mengandung itu mendengar suaranya.

"Ck, dasar tidak tau diri. Lagaknya semacam dia nyonya besar saja disini, padahal dia hanya simpanan. Benar-benar jalang tak tau diri. Lihat saja nanti ketika bayinya sudah lahir maka dia pasti akan dibuang oleh Kim."

Kyungsoo langsung menghentikan langkahnya saat itu juga. Tangannya yang tadi biasa saja kini terkepal erat disisi tubuhnya. Namun ia segera melenturkan otot wajahnya dengan langsung berbalik menghadap kedua Jung dan kembali tersenyum manis.

"Hanya ingat satu hal. Sebelum si Kim itu mencampakanku maka aku akan mencampakannya lebih dulu."

Dan ucapan Kyungsoo itu berhasil menjadi tanda tanya besar untuk kedua Jung yang masih tetap berdiri disana.


Jongin dibuat terkejut ketika merasakan sepasang lengan tiba-tiba memeluknya dari belakang. Namun lelaki itu tak lama tersenyum mengetahui siapa yang kini tengah memeluknya manja. Tak perlu memiliki IQ yang tinggi untuk menebak siapa yang memeluknya dengan perut buncit yang terhimpit diantara keduanya.

Itu jelas saja kekasihnya. Kyungsoo.

Memang siapa lagi dirumah ini yang memiliki perut buncit selain Kyungsoo.

"Ada apa hmmm? Tidak seperti biasanya."

Jongin berbalik badan. Membenarkan pelukan Kyungsoo agar wanita itu tidak sampai menghimpit hingga melukai malaikat keduanya yang berada didalam perutnya.

"Aku merindukanmu~~~" ucap Kyungsoo mendayu.

Wanita itu menyamankan dirinya dengan menyandarkan kepalanya dipelukan sang kekasih. Dia juga bisa mendengar bagaimana detakan jantung Jongin yang menenangkan membuatnya menjadi nyaman.

"Sudah lama kau tidak menyentuhku dan aku merindukanmu."

Jongin tersenyum mengusak gemas pucuk kepala kekasihnya itu. "Maaf." Ucapnya menyesal.

Namun dasarnya Kyungsoo yang sedikit sassy semanjak hamil, membuat Jongin harus memutar otaknya guna kembali menyusun kalimat agar ibu dari calon anaknya itu tidak tersinggung.

"Apa kau lupa pesan dokter? Bukankah mereka bilang jika kita dilarang berhubungan sejak kandunganmu berusia 7 bulan sampai 9 bulan nanti. Apa kau tidak ingat jika bayi kita lemah dengan goncangan? Aku hanya tidak menginginkan ada sesuatu yang terjadi kepada kalian berdua nanti. Jadi sabarlah, hanya tinggal satu bulan lagi."

Meski sedikit tidak terima tapi Kyungsoo tetap mengangguk. Membenarkan apa yang diberitakan oleh Jongin jika memang bayinya rawan guncangan sehingga Kyungsoo harus ekstra hati-hati untuk menjaganya.

Dan karena permintaan pertamanya tidak dikabulkan, Kyungsoo beralih kepada permintaan keduanya dan ia bertekat jika ini harus dikabulkan.

"Jongin-ah~"

"Ya sayang?" sahut Jongin masih sibuk membaui pucuk kepala Kyungsoo.

"Menurutmu... bagaimana dengan pantai?"

Jongin yang masih sibuk dengan menciumi kepala Kyungsoo dibuat mengernyit. Lelaki itu kemudian sedikit memundurkan kepalanya guna melihat wajah kekasihnya yang mendongak kearahnya.

"Maksudmu?"

"Aku ingin berlibur kepantai!" ucap Kyungsoo bersemangat.

"Kyungsoo...?"

"Kumohon~~~"

Dan Jongin menghela nafas. Mengangkat tangannya menandakan jika ia kalah jika Kyungsoo sudah mengeluarkan rengekannya. Dia lemah dengan Kyungsoo yang manja dan manis.

Sedang Kyungsoo sendiri bersorak gembira ditempatnya karena jongin mengabulkan permintaannya. Wanita itu berjinjit guna mengecup bibir penuh kekasihnya.

"Terima kasih Jongin. Aku mencintaimu~"


"Kami ikut!"

Nyonya Jung berseru lantang dikursinya. Membuat Kyungsoo memandanginya dengan tatapan tidak suka. Namun sepertinya urat malu Nyonya Jung telah putuh hingga dia cuek-cuek saja.

"Mau bagaimanapun Chaeyeon adalah istri Jongin. Jadi kemanapun Jongin pergi Chaeyeon harus mendampinginya. Termasuk saat dia berlibur bersama jal_ -ah, maksudku kekasihnya."

Kyungsoo mendengus tak suka ketika tau apa yang akan Jung tua itu sematkan untuknya. Dan ini benar-benar merusak paginya.

Memang pagi ini dimeja makan Jongin dan Kyungsoo mengungkapkan renacana keduanya untuk berlibur kepantai kepada ibu Jongin. Namun dengan seenak pantatnya, si tua Jung itu tiba-tiba masuk kedalam percakapan mereka dan mengatakan jika dia akan ikut pergi bersama putrinya –istri sah dari Jongin.

Kyungsoo menatap tak terima kepada Jongin. Berharap lelaki itu mengerti dengan maksudnya jika dia hanya ingin berlibur berdua saja bukan dengan tambahan dua kuntilanak yang ia yakin akan mengikuti kemanapun keduanya pergi.

Namun sepertinya Jongin cukup tidak peka dan hanya menatap Kyungsoo polos. Membuat Kyungsoo mendengus dan menaruh sendoknya karena meresa kenyang tiba-tiba.

"Baiklah kalian bisa pergi bersama." Kyungsoo semakin kesal karena ibu Jongin mengijinkan saja dua tikus Jung itu merusak liburannya bersama Jongin.

"Tapi maaf, ibu tidak bisa ikut karena ibu harus ke Jepang untuk menyusul ayahmu yang membutuhkan ibu disana."

Jongin mengangguk. Memaklumi keadaan orangtuanya yang sama sibuknya dengan dirinya. "Tak masalah ibu. Kami bisa pergi bertiga."

Nyonya Kim tersenyum lembut.

"Kalau begitu apa yang kalian tunggu? Kalian bisa pergi sekarang dari sini dan berberes untuk liburan singkat kalian. Bukankah jadwal pesawat ke Jeju akan lepas landas 6 jam lagi? Kalian tidak ingin ketinggalan bukan?"

Dan dengan perintah tersebut, 4 orang yang ada dimeja makan itu menghilang. Diawali dengan Kyungsoo yang beranjak dari sana sambil menghentakkan kakinya kesal.


Meski awalnya tidak terima karena rencana liburannya harus diganggu oleh dua tikus Jung. Kyungsoo akhirnya tetap saja tersenyum lebar ketika sampai dibandara. Apalagi kurang dari satu jam lagi pesawat yang akan ia tumpangi ke Jeju akan lepas landas.

Ia lebih memilih mengabaikan kedua Jung yang ikut dengan mereka. Kyungsoo bahkan memonopoli Jongin agar lelaki itu selalu berada didekatnya.

Saat didalam pesat sedikit terjadi percekcokan antara Kyungsoo dan Chayeon yang berebut duduk disebelah Jongin, dan kalian tentu tau siapa pemenangnya. Jelas itu Kyungsoo yang Jongin bela karena Jongin sendiri tidak ingin Kyungsoo duduk disebelah mertuanya. Tau bagaimana hubungan keduanya yang kurang baik. Meski sejujurnya Jongin sedikit kasihan ketika melihat raut wajah kecewa Chaeyeon. Bagaimanapun wanita itu masih istri sahnya kan?

"Kurasa aku mengalami jetlag." Keluh Kyungsoo usai pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan selamat. Dan keduanya kini tengah mengantri untuk mengambil koper. Sejujurnya Jongin menyuruh Kyungsoo duduk bersama Chaeyeon beserta ibu mertuanya namun wanita hamil itu menolak dan memaksa untuk mengekorinya.

Jongin yang mendengar keluhan Kyungsoo hanya bisa tersenyum. Lelaki itu lalu mengangkat tangannya membawanya keatas perut buncit Kyungsoo.

"Itu hal yang wajar, terlebih kau tengah hamil besar. Aku kan sudah menyarankanmu untuk menunggu didepan bersama eommonim dan Chaeyeon tapi kau malah mengotot ingin ikut kemari."

Kyungsoo mendengus. Malas mendengarkan nasehat Jongin yang ia rasa tidak penting. Wanita itu melempar pandangan kesegala arah sampai melihat bahwa kini giliran mereka mengambil koper.

"Oh, sudah giliran kita." Kyungsoo menarik tangan Jongin terlalu bersemangat. Sementara Jongin hanya dibuat menggelengkan kepalanya mengetahui jika kekasihnya itu menghindari nasehatnya.


"Kenapa harus Kyungsoo yang sekamar denganmu? Kenapa bukan Chaeyeon? Disini yang istrimu kan anakku sedang manusia satu ini hanya jalang selingkuhanmu yang kebetulan mengandung anakmu."

Mereka baru sampai dihotel dan Nyonya Jung sudah memulai perdebatan tentang pembagian kamar. Wanita tua itu memprotes tentang Jongin yang harus berbagi kamar dengan Kyungsoo bukan Chaeyeon. Padahal niatnya datang mengekori kedua pasangan itu guna mencari peluang untuk perbaikan rumah tangga Jongin dan Chaeyeon.

Jongin sendiri awalnya merasa biasa saja dengan protesan ibu mertuanya, namun ketika wanita tua itu menyematkan sebutan jalang untuk ibu dari anaknya, maka emosinya terpancing. Tangannya terkepal dan wajahnya mengeras ketika mendengar ucapan ibu mertuanya yang tidak henti-henti.

"Kalian bisa pulang jika mau. Toh kami kemari untuk berliburan berdua tapi kalian sendirikan yang memaksa untuk ikut."

Setelah mengucapkan itu, Jongin langsung berbalik sembari menarik tangan Kyungsoo untuk menuju kamarnya. Sedang Kyungsoo sendiri melambaikan tangannya beserta melempar senyuman mengejek kepada dua wanita bermarga Jung itu.

"Sialan." Umpat Nyonya Jung.

Wanita itu lalu berbalik menatap tajam putrinya. "Bodoh! Kenapa kau hanya diam saja tidak membantu eomma?! Apa kau benar-benar ingin diceraikan dan membuat keluarga kita bangkrut?"

Chaeyeon tertunduk. Merasa takut dengan ibunya yang terus berbicara dengan nada keras. Sejujurnya ia juga ingin tadi membantu ibunya, namun ia tidak punya celah untuk masuk antara pembicaraan ibunya serta suaminya.

"Maaf eomma." Ujarnya lirih.

Nyonya Jung mendengus sebelum menggeret kopernya dengan gerutuan disetiap langkahnya.


Ini sudah lewat dua hari, dan selama dua hari itu pula Jongin akan keliling pulau jeju dari pagi hingga sore. Mereka berdua seolah lupa dengan dua orang lainnya yang ikut bersama mereka terbang kepulau itu.

Dari kamarnya. Nyonya Jung beserta Chayeon terdiam melihat pemandangan bagaimana Jongin yang membantu Kyungsoo yang kesulitan berjalan dipasir dengan perut besarnya.

"Kau lihat itu? Apa kau benar-benar ingin diceraikan oleh Jongin?"

Chaeyeon menggigit bibir bawahnya. Merasa kesal dengan perlakuan Jongin yang teramat lembut juga perhatian kepada Kyungsoo. bahkan seumur-umur ia tidak pernah diperlakukan sedemikian rupa. Belum lagi perkataan ibunya yang semakin membuatnya muak dengan Kyungsoo. sehingga membuat bisikan setan ditelinganya terdengar menggema begitu kencangnya.

"Eomma.. ayo singkirkan jalang itu."

Mendengar itu nyonya Jung tersenyum begitu lebar. Ia merasa puas karena akhirnya putrinya terhasut dengan ucapannya.

"Baiklah... ayo singkirkan hama kecil itu."


Jongin menuntun Kyungsoo untuk duduk disebuah bangku yang memang disediakan ditepian pantai. keduanya baru saja selesai jalan-jalan pagi mereka. Jongin tersenyum melihat bagaimana raut lelah Kyungsoo karena perut besarnya yang kentara.

"Lelah?" kyungsoo mengangguk. Tidak menolak ketika Jongin mengusapi keringat yang menetes dipelipisnya.

"Perut ini benar-benar merepotkan. Aku merasa seperti nenek tua yang sulit berjalan." Wanita hamil itu menggerutu kesal membuat Jongin yang disebelahnya tergelak melihat bagaimana lucunya wajah kekasihnya itu.

Chup~

Jongin memberikan satu kecupan kecil pada bibir Kyungsoo yang mengerucut. "Jangan menggerutu begitu, jika pun kau tak bisa berjalan karena berat perutmu. Maka aku akan menggendongmu kemanapun."

Kyungsoo tersenyum senang. Membalas mengecup bibir Jongin dengan kilat. Wanita itu kemudian menyandarkan kepalanya didada Jongin menikmati detak jantung kekasihnya yang menenangkan.

Lama mereka dalam posisi itu, tiba-tiba saja mata Kyungsoo menangkap sebuah warung penjual es kelapa muda yang berlihat menggiurkan disisi pantai. wanita itu kemudian menarik kaos yang kekasihnya gunakan.

"Jongin." Panggilnya. Jongin sendiri hanya menjawab panggilan Kyungsoo dengan gumaman karena ia terlalu fokus melihat bagaimana burung-burung berterbangan melingkar diatas air laut.

Namun Jongin harus mengalah untuk melepas pemandangan cantik itu karena kekasih cantiknya menarik bajunya secara berutal.

"Apa sayang?"

Kyungsoo yang tadinya merasa diabaikan tersenyum lebar. Wanita itu mengangkat tangan sembari menunjuk warung penjual es kelapa muda yang baru saja buka.

"Aku mau itu~"

Jongin yang mengerti hanya mengangguk lalu bangun dari posisi duduknya. Ia dapat melihat bagaimana Kyungsoo tersenyum senang ketika ia beranjak menuju tempat dimana es kelapa muda yang dia inginkan berada.

Setelah Jongin pergi, senyuman Kyungsoo luntur seketika. Wanita itu melengkungkan bibirnya kebawah sembari mengelus perut buncitnya. Matanya menerawang kedepan, mengingat jika saat ini kandungannya berada diusia 8 bulan yang artinya tinggal satu bulan lagi dan segalanya akan berakhir.

"Ingatlah, apapun yang terjadi nanti mama tetap akan menyayangimu." Kyungsoo tersenyum saat merasakan tendangan kecil dari perutnya. Ia menghela nafas lega karena setidaknya anak dalam kandungannya itu cukup mengerti perasaannya.

Wanita itu hendak turun dan berjalan mendekati tepian, namun ia dibuat terkejut ketika merasakan seseorang menarik rambutnya kebelakang dan membuatnya kembali duduk diposisinya semula dengan cara yang kasar.

Dalam hati Kyungsoo mengumpat, menyumpai siapapun yang telah berani melakukan hal itu kepadanya. Namun yang membuat Kyungsoo paling geram adalah karena gerakan tiba-tiba itu bayi dalam kandungannya menjadi gelisah dan ribut didalam perutnya.

Dan emosi Kyungsoo semakin meningkat ketika mengetahui siapa gerangan orang yang berani-beraninya menarik rambutnya.

"Sialan. Jalang apa yang kau-

PLAKKK

Wajah Kyungsoo terpelanting kesamping ketika merasakan seseorang menampar pipinya. Ia menatap tak percaya kearah Chaeyeon yang memandangnya penuh amarah beserta ibu wanita itu yang tersenyum penuh kemenangan dibelakangnya.

"Jangan panggil aku jalang dengan mulut kotormu itu karena yang berstatus jalang disini adalah KAU! Kau jalang sialan yang sudah merebut suamiku bahkan ibu mertuaku berbalik menyayangimu karena bayi sialan didalam perutmu!"

Kyungsoo berdecih keras mendengar ucapan Chaeyeon. Meski pipinya masih terasa nyeri dan panas karena tamparan Chaeyeon, Kyungsoo tetap memaksa dirinya itu menatap mencemooh kearah wanita yang terbakar cemburu didepannya.

"Kau bilang aku jalang sialan? Lalu lebih sialan mana aku yang merebut suamimu atau kau yang merebut kekasihku lalu kau jadikan suami? Bukankah aku hanya mengambil milikku kembali?"

Kyungsoo menghindar ketika Chaeyeon kembali hendak ingin menamparnya. Wanita itu menyeringai senang tatkala melihat bagaimana Chaeyeon yang terlihat semakin panas akan pancingannya.

"Lihat! Seberapa keraspun kau merebutnya dariku dia tetap akan kembali kepadaku. Karena sampai kapanpun tidak ada yang bisa menutupi bagaimana Jongin sedari dulu mencintaiku!"

"Arghhhhhhh!" Chaeyeon berteriak histeris. Menolak mendengar ucapan Kyungsoo yang menurutnya terlalu menjijikkan. Wanita itu tidak terima karena Kyungsoo semakin menginjak-injak harga dirinya, jadi dengan gerakan cepat ia memajukan langkahnya dan kembali menarik rambut Kyungsoo secara kasar bahkan hampir membuat wanita hamil itu jatuh terjerembab kedepan.

"Kau yang merebutnya dariku sialan. Dari dulu sebelum kau pacaran dengannya aku sudah terlebih dahulu menyukainya. Bahkan semenjak aku berada disekolah dasar dan kau tiba-tiba datang entah dari mana menghancurkan impianku untuk memilikinya. Jadi bukan aku yang merebutnya tapi kau! KAU! Rasakan ini! Mati saja kau!"

Chaeyeon semakin menarik rambut Kyungsoo dengan brutal. Sedang Kyungsoo sendiri sulit untuk melawan karena kini ibu Chaeyeon juga turut andil dengan memukul-mukul tubuhnya dengan sebuah balok kayu yang entah wanita itu dapat dari mana.

Pertahanan Kyungsoo hancur ketika merasakan balok yang dipukulkan ketubuhnya mengenai perutnya. Wanita itu jatuh terduduk dan mengerang keras. Merasakan perutnya yang menjadi teramat sakit.

Sedang Chaeyeon yang melihat bagaimana Kyungsoo menangis seperti itu tersenyum puas karena berhasil membuat wanita itu akhirnya kalah darinya.

Sebagai sentuhan akhir, Chaeyeon kembali mengambil rambut Kyungsoo sebelum berbisik "Enyah kau" dan menendang perutnya sekeras-kerasnya yang membuat Kyungsoo menjerit keras dan pingsan seketika.


Jongin keluar dari warung penjual es kelapa muda dengan gembira. Ia merasa senang karena mendapat sebuah gelang pasangan yang diberikan oleh penjual sebagai hadiah untuk pembeli pertama.

Namun ia dibuat mengernyit ketika melihat keadaan pantai tiba-tiba menjadi ramai dengan orang-orang yang bergerumbul.

Merasa penasaran, Jongin kemudian bertanya kepada seorang pemuda yang kebetulan lewat didepannya.

"Maaf, tapi apa aku boleh bertanya ada apa disini kenapa tiba-tiba jadi ramai sekali?"

Pemuda itu menunjuk kearah gerumbulan orang-orang dan mengatakan: "Disana ada seorang ibu hamil yang disiksa oleh sepasang ibu dan anak."

Dan tiba-tiba saja dada Jongin berdentum dengan keras mendengar jawaban dari pemuda yang ditanyainya barusan. Tanpa mengucapkan terimakasih. Jongin langsung berlari, menghiraukan es kelapa muda yang ia buang sembarangan.

Ia hanya merasa tiba-tiba khawatir saja, takut-takut jika orang-orang yang dikatakan pemuda tadi adalah Kyungsoo dan istri serta ibu mertuanya. Ia hanya takut jika terjadi apa-apa dengan Kyungsoo. lebih-lebih wanita itu tengah mengandung besar. Dan hal yang membuatnya berkali-kali lipat cemas adalah kata "disiksa" yang diucapkan pemuda tadi.

Setelah mendesak kerumunan orang-orang bahkan mendapat umpatan, akhirnya Jongin tiba ditempat kejadian. Matanya membulat melihat apa yang ia takutkan terjadi.

Emosinya meluap ketika melihat wajah pingsan Kyungsoo serta kaki Chaeyeon yang belum turun dari perut buncit kekasihnya. Dengan langkah besar dan tangan terkepal, Jongin menghampiri tiga orang itu sebelum menampar Chaeyeon keras dan membuat wanita itu terkejut karena suaminya yang tiba-tiba ada disana.

"J-jongin..."

Menghiraukan Chaeyeon yang berkaca-kaca menatapnya, Jongin beralih menatap khawatir Kyungsoo yang pingsan. Tangannya bergetar meraba wajah kekasihnya yang terpejam erat.

"Sayang~?" panggilnya lirih. Namun wanita itu tak kunjung membuka matanya juga setelah beberapa kali Jongin memanggilnya. Dan hal yang membuat Jongin takut adalah cairan merah yang menggenang disela-sela kaki Kyungsoo.

Ia dengan sekuat tenaga memaksakan tubuh lemasnya untuk menggendong bridal Kyungsoo dan melarikannya ke rumah sakit terdekat.

Jongin tidak hentinya-hentinya menciumi kening Kyungsoo diantara larinya.

"Bertahanlah sayang... kau harus bertahan untuk anak kita juga aku. Kita akan sampai dirumah sakit sebentar lagi, oleh karena itu bertahanlah sebentar."


To Be Continue~


Hello everyone~~~

Wkwkwkwkwk, maafkan beby vee yang menghilang bak tertelan bumi 3 bulan ini. Real life baby vee beneran padet dan yeachhh beby vee berasa kek orang sibuk sekarang. Hahhhhh~

Terimakaish juga yang udah teror beby vee buat cepet-cepet up. Maaf gk bisa up panjang karena waktu buat ngetiknya juga bentar._. tapi pastinya beby vee sayang kalian. Semoga gak bosen nungguin updatean beby vee yang tak tentu.

Oh ya, sedikit bocoran. Chapter 12 flashback dan rentan antara chapter 14 atau 15 kita bakalan ketemu kata END. Untuk itu, mari berdoa banyak-banyak biar baby vee gak kebanyakan rapat biar bisa cepet ngetik wkwkwkwk

Akhir kata seperti biasanya, see yaaa~ love you guys :*


Next update: Perfect Velvet (soon)