Chapter 10
Hate
Kanon membuka matanya, begitu juga Milo dan Aiolia, mereka disambut Lecca yang berdiri di depannya, sambil melipat tangannya dan memandang Mereka bertiga dingin dan sinis.
"Lecca! ternyata benar suara yang kudengar itu adalah suaramu" ujar Milo, dia mencoba bergerak tapi dia tidak bisa, mereka bertiga, Milo, Kanon dan Aiolos, terikat pada sebuah pilar reruntuhan di tengah padang rumput yang sangat luas. Mereka terikat oleh akar tumbuhan rambat kelihatannya tumbuhan itu sangat mudah tercabut dari tanah ternyata mereka salah tumbuhan itu seperti tali yang sangat kuat.
"Sebaiknya jangan banyak bergerak, tumbuhan itu bisa mengikatmu lebih kencang jika kalian banyak bergerak." jelas Lecca
"Jelaskan padaku...jelaskan padaku Lecca kenapa?!" tuntut Aiolia
"Kenapa? Bukankah semuanya sudah jelas, Aiolia?" balas Lecca
"Dengar Lecca, semua ada alasannya, kenapa kami hanya berdiam diri seperti ini, ka-" cerocos Milo, mencoba menjelaskan duduk persoalannya segala alasannya.
"Alasan…aku juga membutuhkan alasan itu Milo, untuk menghancurkan kalian semua." Potong Lecca.
Milo membelalakan matanya mendengarkan ucapan Lecca. Tetapi Milo tak berhenti begitu saja dia masih terus mengoceh dan mencoba menjelaskan supaya Lecca mengerti, tetapi Lecca tak menanggapi semua penjelasan Milo, sepertinya kata-kata Milo bagai angin lalu saja.
"Hentikan Milo!" seru Kanon
"Tidak akan! Aku akan menjelaskannya semuanya...semuanya supaya dia mengerti! Jadi jangan suruh aku berhenti!" tukasnya
"Kanon benar Milo, sebaiknya kau hentikan, saat ini dia tidak bisa mendengar...semua penjelasanmu." kata Aiolia
"Tepatnya tidak mau." tambah Kanon dia memandang Lecca yang sekarang malah memalingkan wajahnya.
"Telinga, mata bahkan hatinya sudah tertutup kebencian, Milo, saat ini yang ingin dilakukannya adalah membalas untuk meredakan amarahnya, jadi percuma saja kau bicara panjang lebar." jelas Kanon.
Lecca tidak membalas omongan Kanon, dia kembali menatap mereka bertiga dengan pandangan yang sama datar dan dingin.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Aiolia
Lecca menatap Aiolia, dia memiringkan kepalanya, dan memejamkan matanya seakan berpikir enaknya dia akan berbuat apa.
"Tebak saja, apa yang akan kulakukan pada kalian. Dan para saint Athena." jawab Lecca santai
"Kau tidak akan melakukan sesuatu yang kau sesali Lecca." Kata Aiolia.
Lecca tersenyum sinis.
"Aku tidak akan membiarkan kau melakukan itu!" tukas Aiolia
"Lalu? Apa yang akan kau lakukan untuk menghentikanku Aiolia? Kau terikat tak berdaya disini." wajah Lecca hanya satu senti dari wajah Aiolia
"Kau akan semakin terluka jika kau melakukan itu, Lecca. Aku tahu, sebenarnya kau tidak ingin melukai Saga, ataupun para gold saint lainnya." celetuk Kanon
Lecca langsung mendelik kearah Kanon dan mendekatinya, lalu menampar Kanon
"Apa yang kau tahu tentang apa yang kurasakan saat ini Kanon!"
"Aku mengetahuinya Lecca!"
Lecca mengerucutkan bibirnya, mengepal tangannya, menekan amarahnya, tanpa menjawab dia berbalik meninggalkan Kanon, Milo dan Aiolia.
"Kalian pembohong yang buruk." celetuk seseorang dari arah samping, Kanon, Milo dan Aiolia spontan menoleh.
"Siapa kau?" Tanya Kanon, Thanatos menyandarkan tubuhnya di salah satu pilar dan melipat tangannya.
"Namaku Thanatos." Jawab Thanatos.
Kanon, Milo dan Aiolia melebarkan matanya mendengar jawaban lelaki beranbut abu-abu itu, mereka mengetahuinya siapa Thanatos dan saudara kembarnya.
"Jadi tempat ini adalah..." kata-kata Aiolia terputus dia memandang ke sekeliling.
"Dream Realm milik Hypnos"
"Jadi kenapa kami berada disini? Dan bagaimana Lecca ada disini?" Tanya Kanon.
Thanatos tertawa mengejek. "Oh, jadi kalian belum tahu kenapa kalian ada disini? Aku akan berbaik hati memberitahu kalian saint Athena." Thanatos memandang satu persatu saint Athena di depannya, Kanon, Milo dan Aiolia. Lalu dia mulai bercerita tentang Samael dan kenapa Lecca bisa berada di Dream Realm.
"Itu sebabnya kenapa Lecca ada disini, Samael menyembunyikannya dari Hades dan Poseidon, karena dua Dewa itu menginginkan kepala gadis itu" kata Thanatos diakhir ceritanya.
"Jadi kalian berdua sudah memlih sekutu untuk perang ini? Aku pernah mendengar kalau dewa kembar adalah dewa yang netral, tak mau diperintah atau bersekutu dengan dewa lainnya, tetapi kenapa Hypnos malah membantu Samael." Kata Kanon.
Thanatos berjalan mendekati Kanon, wajahnya terlihat tak senang dengan perkataan Kanon barusan. "Yang Hypnos tolong bukan Samael tapi gadis itu...Lecca" ucap Thanatos tajam. "Tolong kau ralat itu. Kami tak pernah memilih sekutu dalam perang ini, bahkan kami tidak peduli dengan perang ini!" imbuhnya.
"Lalu katakan padaku kenapa?" tanya Kanon, Thanatos terdiam sejenak, lalu memandang Kanon.
"Karena Hypnos mencintai Lecca." jawab Thanatos lugas
Milo, Kanon dan Aiolia membelalakan matanya tak percaya dengan omongan Thanatos
"Awal lukanya adalah kekecewaan, semua penjelasan kalian mengenai alasan kalian kenapa kalian tidak datang menyelamatkannya itu saat ini bagi dia hanya omong kosong belaka, saat ini tindakan lebih banyak berarti dari kata-kata dan apapun yang Saga lakukan untuk Lecca saat ini tidak akan ada gunanya sebanyak apapun airmata atau seberapa banyak doa yang dia panjatkan, semuanya hanya akan seperti asap yang cepat menghilang." Thanatos melirik Kanon yang kini mendelik padanya. "Kau tahu Kanon...kadang cinta tidak memerlukan banyak kalimat untuk mengungkapkannya. Akan lebih baik kau memulai peperangan dengan Hades untuk mengeluarkan Lecca dari Balck Azzure, tetapi kalian terlalu pengecut untuk melakukan itu."
Kanon memandang tajam Thanatos, Thanatos menanggapinya santai ia malah tertawa sedikit mengerti arti pandangan menusuk dari Kanon.
"Santai-santailah kalian disini." ucap Thanatos lalu dia meninggalkan mereka bertiga..
"Apa kau memikirkan tentang para gold saint, Lecca?" tanya Thanatos dia menemukan Lecca sedang melamun di balkon depan kamarnya, pandangannya menerawang padang lavender di depannya. Lecca menoleh "Anda yang mulia Thanatos." katanya datar, lalu memalingkan lagi pandangannya ke arah padang lavender.
"Kau tidak jawab pertanyaanku"
"Kurasa anda sudah mengetahuinya." balas Lecca singkat
"Apa kau benar-benar membenci para saint Athena?" tanya Thanatos
Lecca terdiam dan menyunggingkan bibirnya sedikit "Tidak…..Aku tidak benar-benar membenci mereka." Lecca terdiam sejenak "Sampai tadi..." lanjutnya
"Jadi, kau hanya memanfaatkan kakak untuk memantapkan hatimu?" kata Thanatos pedas
Lecca tertawa kecil "Aku butuh alasan." kata Lecca.
"Alasan?" ulang Thanatos
"Mereka mempunyai alasan kenapa mereka mengacuhkanku. Aku butuh alasan untuk membenci mereka semua."
"Kenapa kau butuh alasan itu."
"Setiap manusia butuh alasan tersendiri untuk memantapkan hatinya, kelak di kemudian hari kau tidak akan menyesali apa yang pernah kau lakukan, dengan memiliki alasan kau akan lebih bebas menujukkan perasaanmu apapun itu. Kebencian, kesedihan juga cinta" jelas Lecca.
"Cukup masuk akal." ucap Thanatos, dia menyambar tangan kiri Lecca dan menempelkan telapak tangannya ke telapak tangan Lecca.
"Tahanlah sedikit." ucapnya, Thanatos menggenggam erat tangan Lecca, bersama dengan itu rasa sakit yang luar biasa menjalar di lengan kiri Lecca sepertinya pedang berukuran panjang sedang di masukkan ke tangannya, spontan Lecca menarik tangannya, tapi Thanatos menahannya.
"Yang mulia apa yang sedang anda lakukan!" seru Lecca dia meringis menahan sakit yang menderanya itu, airmatanya sampai keluar, dia masih berusaha menarik tangannya, tangan kanannya berusaha merarik tapi Thanatos malah menahannya, Lecca memejamkan matanya rasa sakit itu perlahan menghilang, Thanatos pun mengendurkan pegangannya, dan melepas tangannya dari tangan Lecca. Ia memandang Lecca dan menghapus airmatanya.
"Untukmu" ucapnya lembut di telinga Lecca.
"Untukmu?!" tukas Lecca sengit, Ia melihat telapak tangan kirinya tidak ada apa-apa tidak terluka atau yang lain, Thanatos sekali lagi menempelkan telapak tangannya ke telapak tangan Lecca, dan menarik keluar sebuah pedang panjang, hitam, berkilauan, Lecca ternganga melihat pedang itu, pedang itu keluar dari telapak tangannya, pedang yang begitu indah, terlihat sangat kuat. Thanatos menyerahkan pedang itu kepada Lecca, diluar dugaan Lecca pedang itu sangat ringan, rasanya seperti memegang udara, pedang itu sangat tipis, namun terlihat kuat, dan lentur.
"Yang mulia ini"
"Kau akan berhadapan dengan para Gold Saint dalam waktu dekat ini bukan? Ini kuberikan untukmu untuk melindungi dirimu" kata Thanatos
Lecca memandang Thanatos. " Kenapa anda memberikan ini...kenapa anda membantuku" tanya Lecca.
Thanatos menyunggingkan bibirnya "Kau butuh alasan kenapa aku melakukannya?"
Lecca mengangguk. "Alasannya…..tidak ada, Lecca" jawab Thanatos, Lecca melebarkan matanya tak percaya.
"Jika kau memerlukan alasan untuk membenci Athena atau Saga, aku tidak memerlukan alasan untuk melakukan ini padamu..." Thanatos memandang Lecca lekat-lekat pandangan yang penuh kelembutan pandangan yang sama dengan Hypnos ketika memandang Lecca.
Lecca sedikit mengerti apa yang mendasari Thanatos melakukan itu, Lecca tidak bisa membalas ucapan Thanatos, dia hanya membungkukkan badannya.
"Terimakasih yang mulia." ucapnya
Thanatos tersenyum, dia tahu sekarang dirinya juga menyukai gadis ini, sama seperti kakaknya, dan mengerti perasaan Hypnos. Tanpa bicara Thanatos berbalik dan meninggalkan Lecca.
"Tidak punya alasan? Tidak cukup jujur" kata Hypnos yang menyambut Thanatos ketika dia keluar dari kamar Lecca, dia bersandar pada dinding koridor.
"Kakak." balas Thanatos datar
"Kenapa kau tidak mengatakannya terus terang padanya."
Thanatos mendengus, dan melirik kakaknya "Kau yang paling tahu, kenapa saat ini aku tidak bisa berterus terang."
Hypnos tersenyum menanggapi ucapan adiknya itu, dia paham sekali.
"Walaupun kita berwajah sama, hidup bersama, tumbuh bersama, berkuasa bersama, mencintai orang yang sama, tapi jelas kita berbeda, aku dan kau punya cara sendiri menjalani hidup, dan...mengungkapkan perasaan." jelas Thanatos
"Kau benar, tapi..." Hypnos memandang Thanatos. "Kadang kita harus berterus terang tentang apa yang kita pikirkan dan apa yang kita rasakan."
"Aku tahu, aku bermaksud mengatakan tapi tidak sekarang."
"Apa kau bermaksud mengalah dariku?"
Thanatos menatap Hypnos, lalu menyungguingkan senyumnya.
"Untuk yang satu ini aku tidak akan mengalah kakak"
"Bagus kalau begitu." Hypnos menepuk bahu Thanatos, dan masuk ke kamar Lecca.
Di kamar Hypnos menemukan Lecca sedang duduk di tepi tempat tidurnya sambil memandangi pedang yang di berikan oleh Thanatos.
"Rapier" ucap Hypnos, dia langsung duduk di sebelah Lecca, membuat Lecca terlonjak kaget.
"Yang mulia, jangan membuatku kaget" ujar Lecca
"Kau tidak akan kaget kalau kau tidak melamun." balas Hypnos sambil tertawa. "Kau menyukai pedang itu Lecca?" tanya Hypnos.
Lecca mengangguk.
"Pedang itu adalah pedang kesayangan Thanatos, namanya Rapier, yang dapat menandingi pedang itu adalah pedang thunder celestial milik Zeus dan pedang silent death milik Hades" jelas Hypnos
"Berarti pedang ini sangat berharga bagi yang mulia Thanatos?" tanya Lecca
"Benar." balas Hypnos, Lecca mengerutkan keningnya kembali menatap pedang itu, ia tidak menyukai rasa yang menggeliat di dadanya ini, sepertinya sebuah sinar sedang mengusir semua kegelapan yang ada di dalam dirinya, tidak ini tidak akan terjadi sampai ia membalas semuanya dia inginkan kegelapan ini terus melahapnya, membiarkannya menjadi jahat dan berdarah dingin.
"Apa kau sudah yakin dengan keputusanmu Lecca"
"Ya." balas Lecca pelan
"Aku tidak akan melarangmu, tapi berhati-hatilah" kata Hypnos.
Lecca memegang dadanya, rasanya sangat tidak enak, ketika Hypnos ataupun Thanatos memperlakukannya seperti ini.
"Baik, aku akan hati-hati." balas Lecca singkat
"Bukan hanya berhati-hati, kau tidak boleh lengah dan jangan sampai..." Hypnos terdiam sejenak dan menatap Lecca serius. "Saga menyentuhmu. " lanjutnya
"Aku tidak mengerti yang mulia."
"Kau harus ingat pesanku ini Lecca!" Tegas Hypnos. "Jangan sampai Saga menyentuhmu!" ulang Hypnos, dia terlihat sangat serius dengan peringatannya.
Lecca dan Hypnos saling pandang, Lecca tidak mengerti kenapa Hypnos bicara seperti itu, apa yang bakal terjadi kalau Saga sampai menyentuhnya. Dan sepertinya Hypnos terlihat sangat cemas.
