Title : I LIKE YOU THE BEST (Nan Niga Jeil Joha)
Pairing : Dongseob (Dongwoon Yoseob B2ST)
Cast : B2ST, SHINEE, TVXQ, MBLAQ
Warning : Yaoi
Rating : PG 13
CHAPTER 10
KIDNAPPING
Suara koor anak-anak di dalam aula terdengar membahana di tengah malam. Acara showcase berjalan sangat lancar sehingga guru-guru dan panitia merasa puas dengan hasil yang mereka dapatkan. Anak-anak juga terlihat sangat bahagia dan senang dengan acara ini. Walaupun awal mulanya banyak anak yang deg-degan saat akan menampilkan kebolehan mereka, tapi akhirnya sekarang mereka bisa tertawa dan menyanyi bersama di akhir acara.
"Anak-anak terima kasih atas partisipasi kalian. Baiklah karena acara ini sudah selesai, sekarang saatnya tidur. Kalian sebaiknya kembali ke kamar kalian dan tidurlah. Acara kita untuk besok pagi adalah senam dan mencari jejak. Jadi siapkan stamina kalian sebaik mungkin. Kalian mengerti?" ujar Mr. Kim.
"Mr. Kim, bagaimana dengan kelompok mencari jejaknya?" tanya Junsu yang mengacungkan tangan kanannya dan melambaikannya ke kanan dan ke kiri berulang-ulang kali.
"Kami sudah mengaturnya Junsu. Jadi sekarang kalian tidur saja, besok akan kami umumkan," lanjut Mr. Kim.
"Ne, sonsaengnim."
Satu persatu anak mulai meninggalkan aula menuju kamar penginapan mereka. Karena terlalu senang, banyak anak yang belum mengantuk, namun karena besok paginya mereka masih mempunyai kegiatan untuk dilakukan, jadi mereka terpaksa tidur. Begitu juga dengan Dongwoon dan Yoseob.
Junhyung dan Hyunseung justru kelihatan mengantuk sekali. Junhyung bahkan sudah tertidur saat Mr. Kim memberikan perintah untuk kembali ke kamar masing-masing. Hyunseung sampai-sampai harus setengah menyeret Joker yang terus-terusan mengigau 'PIKA PIKA' dalam tidurnya. Apa dikiranya Hyunseung itu pikachu?
"Junhyung-ah, bangun dulu! Aish, kau itu berat," pemuda cantik itu menepuk-nepuk pelan pundak Junhyung.
"PIKA PIKA... PIKACHU," pemuda berambut cokelat yang sedang tertidur pun menirukan gerakan pikachu sebentar, kemudian kembali tidur.
"YAH! JUNHYUNG-AH!" Hyunseung berteriak karena si Joker tidak bangun-bangun juga.
Sambil celingukan, Junhyung mengucek-ucek kelopak matanya dan setelah beberapa saat melihat Hyunseung yang menatapnya galak.
"Hyunseung-ah," bukannya bangun sepenuhnya, Junhyung justru memeluk erat lengan kanan Hyunseung dan hampir tertidur kembali. Beruntung, saat itu pemuda cantik itu mengambil langkah cepat, dia berteriak dengan keras tepat di telinga Junhyung,"YAH YONG JOKER! BANGUN ATAU KUTINGGAL KAU DISINI!"
Sontak saja Junhyung membuka matanya lebar-lebar karena suara Hyunseung benar-benar keras.
"Hyunseung-ah, kenapa kau tidak berkata pelan-pelan saja? Aku khan tidak tuli," pemuda yang menggunakan kaos tanpa lengan itu menutup kedua telinganya dan cemberut.
Sebaliknya, pemuda yang ada di hadapannya menjawab,"Kalau kau tidak tuli, kenapa dari tadi kau tidak bangun? Yah! Lihat, semua anak sudah kembali ke kamar mereka masing-masing. Aku tidak mau tidur di sini. Sekarang, bangun atau kau tidur di sini sendirian!"
Sambil terus-terusan mengucek-ucek matanya yang seakan sudah sangat berat dan tidak mau membuka sepenuhnya, Junhyung berdiri dan mengikuti Hyunseung yang sudah terlebih dulu meninggalkan aula pertemuan dengan sedikit kesal.
.
.
.
"Yoboseyo," pemuda yang sedang mengeringkan rambutnya yang basah setelah mandi itu menyapa orang yang ada di seberang saluran telepon.
"Kiki," tangan kanan Doojoon menggenggam handphone di dekat telinganya sedangkan tangan kirinya memegang sesuatu yang bertuliskan CAPTAIN.
"Hyung, kukira kau sedang mengikuti MT."
"Hm, iya aku sedang mengikuti MT. Bahkan sekarang satu acara telah selesai. Apa yang sedang kau lakukan?" diletakkannya tanda kapten ke dalam tas, kemudian ia keluar dari kamar sehingga tidak mengganggu Jonghyun yang sudah tertidur dengan nyenyak.
"Aku baru selesai latihan hyung. Kau sendiri hyung?" Kikwang balik bertanya.
Setelah menutup pintu kamar dan berjalan menuju sebuah bangku di tengah taman, Doojoon menjawab pertanyaan Kikwang,"Aku sedang berjalan-jalan sebentar. Entah kenapa, aku tak bisa tidur. Oya, mengenai tawaranmu waktu itu. Aku sudah memikirkannya Kiki."
Kikwang merebahkan diri di atas tempat tidurnya dan memeluk bantal guling yang ada di sampingnya erat. Dia sudah menunggu saat ini sangat lama. Saat dimana ia akan tahu sesungguhnya apakah pilihan Doojoon.
"Lalu, apa jawabanmu hyung?" Kikwang memejamkan matanya seolah takut bahwa jawaban yang akan keluar dari mulut Doojoon adalah penolakan. Dia sudah memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.
"A..aku...," jeda beberapa lama, Kikwang hanya bisa menahan napas menunggu kelanjutan perkataan hyungnya itu,"Aku akan kembali."
Lega sudah. Sekarang ia bisa tersenyum. Doojoon bersedia kembali ke dalam team.
"Hyung, kau sungguh-sungguh?" karena takut bahwa ia salah dengar, pemuda berotot itu menanyakan sekali lagi jawaban mantan kapten team sepakbola sekolah mereka.
"Iya, aku sungguh-sungguh. Tidak ada lagi yang bisa menghalangiku untuk kembali bermain bola Kiki," angin malam menyapu rambut pemuda yang duduk di bangku taman .
"Aku sangat senang kau mau kembali ke dalam team lagi hyung. Aku senang bisa bekerja sama lagi denganmu," Kikwang makin mempererat guling di pelukannya dan menatap bingkai foto yang ada di meja dekat tempat tidurnya. Fotonya bersama Doojoon saat team mereka berhasil memenangkan kejuaraan tingkat Provinsi. Doojoon yang memakai seragam berwarna biru itu tersenyum senang sambil mengangkat sebuah trofi sedangkan dirinya memamerkan piagam tanda juara. Tangan kanan Doojoon melingkar di pundak Kikwang dan keduanya sangat bahagia. Kikwang ingin, ada moment seperti itu lagi. Moment dimana ia melihat Doojoon bahagia dengan tulus.
"Nado. Hm, Kiki, sepertinya ini sudah larut malam. Aku takut mengganggu waktu tidurmu, jadi sebaiknya kita sudahi pembicaraan kali ini. Aku akan menghubungimu lagi besok. Jaljayo!"
"Ne, hyung. Kau juga istirahat hyung. Bukankah besok kegiatanmu masih banyak? Fighting hyung!"
.
.
.
Yoseob menarik selimut yang menutupi tubuhnya hingga ke dagu. Wajahnya sangat merah mengingat kejadian di aula tadi. Bagaimana ia bisa lupa bahwa banyak orang di sana? Apa yang akan orang pikirkan ketika melihat Yoseob tiba-tiba memeluk Dongwoon saat keduanya diumumkan sebagai pemenang acara showcase.
YOSEOB POV
Aish, apa yang telah aku lakukan? Yang Yoseob, tak sadarkah kau banyak sekali orang yang memandangmu dengan tatapan aneh. Kenapa kau tidak bisa menguasai emosimu? Aish, seharusnya aku cukup menggenggam tangan Dongwoon saja untuk menunjukkan kebahagiaanku, tapi kenapa justru aku memeluknya?
Yah, apa aku mau mati? Aish, bagaimana kalau ada fans Dongwoon yang tidak suka dengan tindakanku? Omo, apa yang harus aku lakukan?
Aku tahu walaupun Dongwoon adalah kingka di sekolah, tidak sedikit siswa putri di sekolah kami yang diam-diam menyukai Dongwoon. Beberapa di antaranya bahkan secara terang-terangan pernah menyatakan cintanya pada pemuda yang sekarang menjadi pacarku ini. Bahkan beberapa yang tidak berani menyatakan secara langsung, mereka meletakkan beberapa hadiah di atas loker Dongwoon. Tapi, tak pernah sekalipun Dongwoon mempedulikan hadiah-hadiah itu. Sehingga biasanya hadiah itu akan habis karena diambil anak lain atau dibawa petugas kebersihan yang kebetulan sedang bersih-bersih.
FLASHBACK
Semua anak mulai was-was saat Mr. Kim maju ke tengah panggung di aula guna mengumumkan pemenang acara showcase kali ini. Walaupun ini cuma ajang pertunjukan bakat tingkat kelas, tapi kami semua merasa sangat deg-degan dengan hasil yang akan keluar. Menang di acara ini merupakan sebuah kebanggaan. Karena pemenang acara ini akan menjadi panitia kecil yang akan mempersiapkan sebuah pertunjukan untuk dilombakan dengan kelas lain saat Ulang tahun sekolah.
Kulihat banyak anak yang mengharapkan bahwa merekalah yang terpilih menjadi pemenang. Kalau banyak yang berharap menang, aku justru kebalikannya. Kenapa? Karena aku benar-benar tidak tahu apa yang seharusnya aku lakukan kalau aku menang. Selain itu, aku hanya mengikuti acara ini agar aku terlepas dari hukuman yang diberikan apabila tidak turut berpartisipasi.
Di sampingku, kulihat Dongwoon sedang terus menerus memperhatikanku. Wajahku langsung memerah karena dia tidak bergeming saat memandangku. Tangan kanannya menggenggam erat tangan kiriku sejak acara dimulai. Aku tak tahu kenapa kami bisa bertahan seperti ini. Untunglah posisi kami berada di belakang sehingga tidak ada anak yang mengetahui tangan kami ini.
"Anak-anak, sekarang adalah saat yang paling ditunggu-tunggu. Bapak akan mengumumkan pemenang acara showcase malam ini."
Semua anak menyambut perkataan guru yang sedikit botak itu dengan tepuk tangan meriah.
"Baiklah, tenang semuanya!" Mr. Kim menyuruh semua anak kembali tenang sebelum melanjutkan,"Pemenang acara sowcase kali ini adalah...," jeda beberapa saat dan beberapa anak laki-laki seperti Junsu, Junho, Chansung, dan Taecyeon menirukan bunyi genderang drum menambah riuh suasana.
"Dreaming... yang dinyanyikan oleh Dongwoon dan Yoseob. Chukae untuk kalian berdua."
Entah apa yang merasuk ke dalam tubuhku, tapi seketika itu juga aku berteriak gembira dan memeluk Dongwoon yang duduk di sampingku. Belum pernah aku mengikuti sebuah kontes, apalagi menang. Ini adalah pertama kalinya dan ini semua berkat Dongwoon yang meyakinkanku.
Semua mata tertuju pada kami berdua, dan aku tersadar bahwa kami masih berada di antara teman-teman sekelas dan juga guru-guru. Aku berniat melepaskan pelukanku ketika Dongwoon mempererat pelukannya. Semua orang menganggap bahwa kebahagiaanku wajar dan bahwa aku memeluk Dongwoon karena terlalu bahagia. Namun, dari ekor mataku dapat kutangkap beberapa pandangan yang menyatakan rasa tidak senang mereka.
Aku berbisik pada Dongwoon yang masih belum juga melepaskanku,"Dongwoon-ah, lepaskan!"
"Hm, baiklah," dia melepaskan pelukannya dan menatap wajahku yang memerah karena malu dan mengecup kilat pipiku saat tidak ada lagi yang memperhatikan kami.
"You're so cute Sobie."
End of Flashback
Kutarik selimut menutupi wajahku mengingat hal itu. Namun, seseorang menarik benteng pertahananku dan kulihat kekasihku menatapku.
"Dongwoon-ah, kembalikan selimutnya," aku memohon agar ia mengembalikan selimut itu sehingga aku bisa kembali menyembunyikan wajahku.
Bukannya mengembalikan selimut itu, Dongwoon justru menarikku ke dalam pelukannya. Kurasakan wajahku terbenam ke dadanya yang bidang. Kuhirup aroma parfum yang selalu menyelimuti tubuh Dongwoon. Aroma yang hanya Dongwoon yang memilikinya. Dia membelai pelan punggungku seolah menenangkanku yang masih terus memikirkan kejadian beberapa saat lalu. Dari posisiku sekarang, aku bisa mendengar detak jantungnya dan tarikan nafasnya yang teratur.
"Sobie, kenapa kau malu dengan semua itu?" dia mulai berbicara, tapi tangannya masih membelai punggungku.
"Karena, semua orang melihatnya," aku menjawab.
"Aish, kau benar-benar lucu Sobie. It's okay, we 're dating now. Tak ada salahnya kau memelukku," sekarang dia mencium puncak kepalaku. Walaupun tidak melihat wajahnya, aku tahu dia tersenyum.
"Tapi, bagaimana dengan fans mu?"
"Fans?"
"Ya, mereka yang menyukaimu Woonie," aku menatap matanya, dan dia menunduk untuk balik menatapku.
"Aku tidak peduli pada mereka Sobie. Aku tak pernah menyukai mereka, dan mereka juga tidak bisa memaksakan perasaan mereka padaku. Kalau mereka menyukaiku, seharusnya mereka senang kalau melihatku bahagia," dia kembali meyakinkanku. Aku sangat menyukai Dongwoon. Walaupun ia lebih muda dariku, tapi dia benar-benar dewasa. Dia bisa membuatku yakin akan suatu hal dan membuatku lebih tegar.
"Tapi," belum sempat aku menyelesaikan kalimat yang akan kuucapkan, ia menciumku. Ciuman kami kali ini tidak seperti ciuman kami siang tadi. Karena saat ini, aku bisa merasakan bahwa ia benar-benar sedang menunjukkan padaku betapa ia mencintaiku. Bahwa ia juga memberitahuku bahwa semuanya akan baik-baik saja dan aku diharapkan tidak perlu khawatir.
Aku sangat mencintaimu Son Dongwoon. Oh, God, bagaimana kau bisa menciptakan seseorang seperti dia untukku?
"Aish, kenapa tiap kelompok cuma tiga orang?" Hyunseung menggerutu saat berjalan menyusuri hutan yang digunakan sebagai tempat mencari jejak. Di belakangnya, Jonghyun dan Yoseob hanya diam saja mendengarkan Hyunseung yang terus-terusan mengeluh.
Sebenarnya Hyunseung tidak berkeberatan jika satu kelompok hanya tiga orang, tapi alangkah indahnya kalau dia satu kelompok bersama Junhyung. Pasti itu akan sangat menyenangkan. Bagaimanapun juga, hal itu hanyalah mimpi Hyunseung, si Prince Jang.
Jonghyun yang tidak ambil pusing terhadap perilaku Hyunseung, segera membuka peta yang merupakan bekal dari guru-guru.
"Jonghyun-ah, wae?" Yoseob bertanya pada Jonghyun yang tiba-tiba saja berhenti berjalan.
Salah satu alis Jonghyun terangkat dan dengan ragu-ragu ia membolak-balikkan peta di tangannya.
"Jonghyun-ah, waegurae?" Yoseob kembali bertanya saat pertanyaan pertamanya tidak digubris oleh Dino Boy ini.
Hyunseung yang sudah berada sekitar sepuluh langkah di depan ikut menghentikan langkahnya saat mengetahui kedua temannya tidak ikut berjalan lagi. Didekatinya mereka berdua dan dipukulnya pelan kepala Jonghyun dan Yoseob,"Yah! Kalian berdua kenapa diam saja? Kita harus segera keluar dari hutan ini." Si prince Jang terus mengomel sambil berkacak pinggang.
"Aish, sepertinya ada yang ingin mengerjai kita," akhirnya Jonghyun angkat bicara.
"MWO?" Hyunseung melotot mendengar kata-kata Jonghyun.
"Hyung, bisakah kau tenang sebentar. Jonghyun-ah, apa maksudnya ada yang ingin mengerjai kita?" Yoseob sekarang berusaha menahan rasa panik yang sudah mulai muncul.
"LIHATLAH!" Jonghyun menunjukkan sebuah tanda segitiga pada peta yang dipegangnya pada kedua temannya yang masih belum mengerti ucapannya barusan,"Sekarang kita berada setidaknya di sekitar segitiga ini. Tapi apa kalian tidak merasa aneh? Kalian lihat pohon itu? Sepertinya kita sudah mengitarinya sampai tiga kali. Dan bukankah seharusnya ada tanda di sekitar tempat ini? Tanda-tanda seperti di tempat-tempat sebelumnya yang telah kita lewati."
"Jadi, maksudmu kita tersesat?" Hyunseung memotong pembicaraan Jonghyun.
"Ne, sepertinya ada yang mengubah jalur mencari jejak ini," si Dino Boy mengamati sekelilingnya dan tiba-tiba saja sebuah bunyi misterius terdengar.
KRESEK KRESEK
Ketiga pemuda itu langsung menengok ke tempat asal suara. Yoseob sudah benar-benar panik sekarang. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi kalau-kalau perkataan Jonghyun benar. Bagaimana kalau ada binatang buas di hutan ini? Bagaimana kalau mereka tidak bisa menemukan jalan keluar dari hutan ini? Bagaimana kalau mereka berada dalam bahaya sekarang? Dan bagaimana bagaimana yang lain.
Jonghyun berbalik menatap semak-semak di belakangnya dan melihat beberapa pohon tinggi menjulang yang terlihat ganjil. Perlahan, Jonghyun mendekati pohon besar yang dicurigainya itu.
"Jonghyun-ah, ada apa?" Hyunseung juga mulai ketakutan. Jangan-jangan ada binatang buas yang sedang bersembunyi di balik pohon besar itu.
Yoseob mendekati Hyunseung dan memegang erat lengan hyungnya itu. Hyunseung juga berusaha tidak menunjukkan ketakutannya di depan dongsaengnya itu, karena ia tahu hal itu hanya akan memperburuk suasana.
Selangkah demi selangkah Jonghyun berjalan ke arah pohon besar yang sekarang sudah tinggal beberapa jengkal lagi dari tempatnya berdiri. Dilihatnya bayangan hitam di sekitar pohon itu dan saat diputuskannya untuk menyergap bayangan itu terdengar teriakan,"AAARRRRGGGGGHHH."
Secepat kilat Jonghyun berbalik melihat Hyunseung yang sudah tergeletak di tanah tak sadarkan diri. Dan karena lengah akhirnya Jonghyun pun tidak sadar ketika seseorang memukul tengkuknya. Jonghyun pun roboh seketika.
Kini tinggal Yoseob seorang diri yang masih sadarkan diri. Di hadapannya kini ada dua orang berpakaian hitam-hitam dan bertopeng lengkap dengan pemukul bisbol. Melihat Hyunseung dan Jonghyun roboh, tubuh pemuda mungil ini mulai gemetaran.
Salah satu dari orang itu mendekati Yoseob dan sontak pemuda ini berteriak dengan keras. Ia mengeluarkan semua kekuatannya untuk berteriak. Ia berharap ada orang yang mendengarnya. Ia harap Dongwoon akan mendengar teriakannya dan mengetahui bahwa Yoseob sedang berada dalam bahaya.
"."
.
.
.
Dongwoon POV
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya tiba juga giliran kelompok kami untuk masuk ke dalam hutan. Kelompok Yoseob sudah masuk terlebih dahulu, kira-kira sepuluh menit yang lalu karena mereka adalah kelompok pertama. Dengan sangat malas kuayunkan kaki ini mengikuti langkah Junhyung hyung dan Doojoon hyung. Doojoon hyung memegang peta sedangkan Junhyung hyung sibuk menyibak semak-semak yang menghalangi perjalanan kami. Inilah enaknya jadi magnae. Biarkan hyungmu melakukan pekerjaan dan kita tinggal bersantai.
"Hyung," kupanggil kedua hyungku itu karena aku bosan berjalan dalam diam.
Mereka menoleh dan ,"Yah! Waegurae?" Junhyung hyung menatapku dengan tatapan sebaiknya-kau-mengatakan-sesuatu-yang-penting-atau-kalau-tidak-kuhajar-kau.
"Aniyo," mengetahui hyungku itu sedang serius menyibak semak-semak akhirnya kutunda niatku untuk mengajak mengobrol.
"ARRGGGHH," aku berteriak saat sesuatu hinggap di bajuku. Sesuatu yang sangat kubenci. Kumbang.
Sontak kedua hyungku yang tadinya tidak memperhatikanku segera berbalik dan melihatku sedang bertarung dengan kumbang sialan. Yah, sebenarnya bukan bertarung, lebih tepatnya aku sedang berusaha mengusir binatang kecil menjijikan ini dari baju yang kukenakan.
Mereka berdua bukannya menolongku malah tertawa melihat ulahku yang seperti orang kesurupan ini. Junhyung hyung tertawa terpingkal-pingkal sampai-sampai ia memegangi perutnya dan Doojoon hyung tidak kalah menyebalkannya, ia tertawa sambil memukul-mukulkan gulungan kertas peta ke tubuh Junhyung hyung. Aish, kenapa mereka tidak membantuku?
Kukibaskan tangan kananku pada binatang menakutkan itu dan setelah beberapa kali percobaan, akhirnya makhluk terkutuk itupun melarikan diri. Sumpah, binatang sekecil itu mempunyai kaki-kaki yang bisa menempel sangat erat pada bajuku. Walaupun binatang itu sudah pergi dan aku berhenti berteriak-teriak, tapi kedua hyungku belum juga berhenti tertawa.
"Dongwoon-ah, kau masih takut juga dengan kumbang?" Doojoon hyung mulai mengejekku.
"Yah, hyung," kuangkat salah satu alisku dan menunjukkan muka seriusku pada mereka berdua.
"Dongwoonie, sang kingka sekolah yang takut pada kumbang. Apa yang akan orang katakan kalau mereka melihat ulahmu tadi?" Junhyung hyung malah semakin memperburuk keadaan.
"Hyung, bisakah kalian berhenti tertawa!" sekarang aku mengancam mereka berdua dengan memukul kepala mereka.
"YAH! BERANINYA KAU MEMUKULKU?" Doojoon hyung melotot padaku begitu juga dengan Junhyung hyung.
Tiba-tiba saja
"AAARRRRGGGGGHHH."
Suara itu. Kami mengenalnya. Suara Jang Hyunseung.
Kami bertiga langsung terdiam saat mendengar suara teriakan itu. Junhyung hyung langsung saja menunjukkan muka khawatir dan cemas.
Belum cukup dengan kecemasan Junhyung hyung, beberapa saat kemudian kembali terdengar teriakan," ."
YOSEOB.
Sekarang giliranku yang panik. Kami bertiga saling bertatapan kemudian seolah memberikan tanda menyerang, Doojoon hyung menganggukkan kepalanya. Kami bertiga langsung berlari menuju asal suara.
Aku berteriak sekuat tenaga memanggil Yoseob sedangkan Junhyung hyung memanggil-manggil nama Hyunseung hyung. Kami berlari seperti orang yang sedang mengejar perampok. Tanpa lelah kami menerobos semak-semak dan kami tidak peduli saat beberapa semak berduri mulai melukai kulit kami.
Yang sekarang kami pedulikan adalah keselamatan Yoseob, Hyunseung hyung dan Jonghyun. Kulihat Doojoon hyung berbelok ke kanan dan begitu juga dengan Junhyung hyung. Aku mengikuti mereka namun sial, akar pohon yang muncul ke permukaan tanah membuatku tersandung dan akupun jatuh terjungkal dan sialnya lagi di depanku ada sebuah parit alam yang agak dalam.
"Dongwoon-ah!" Doojoon hyung berhenti berlari dan kembali ke arahku. Dilihatnya aku tengah terduduk dan mengerang kesakitan karena kaki kananku terluka agak parah.
Kurasakan darah mulai mengalir di kaki kananku dan celana panjang yang kukenakan sekarang sudah robek-robek tidak karuan di bagian bawah. Seluruh tubuhku kotor terkena tanah hutan yang agak basah.
Junhyung hyung dan Doojoon hyung mengulurkan tangan mereka dan aku menerimanya. Mereka membantuku keluar dari lubang ini.
"Gwaenchana?" Junhyung hyung berusaha memastikan bahwa luka di kakiku tidak terlalu parah. Karena aku tahu bahwa ada yang lebih parah sedang terjadi sekarang, maka aku tidak menghabiskan waktuku untuk mengeluh. Kuanggukkan kepalaku dan kuberikan tatapan yakin pada hyungku yang satu ini.
"Gwaenchana. Hyung, sebaiknya kita lanjutkan mencari mereka!" usulku. Doojoon hyung dan Junhyung hyung pun setuju dengan usulku.
Tidak berapa lama setelah kami berjalan, akhirnya kami menemukan dua tubuh tergeletak tak sadarkan diri di dekat sebuah pohon besar. Kami langsung mengenalinya sebagai Hyunseung hyung dan Jonghyun. Tapi, dimana Yoseob? Kenapa dia tidak ada di sini?
Doojoon hyung menghampiri Jonghyun dan Junhyung hyung mendekati Hyunseung. Mereka berdua berusaha menyadarkan dua orang yang pingsan itu.
"Yah! Jonghyun-ah, bangunlah!" Doojoon hyung menggoyangkan sedikit kepala Jonghyun dan menggerakkan tangannya serta mengecek denyut nadinya.
"Hyunseungie, bangunlah! Apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini semua?" Junhyung hyung juga berusaha membangunkan Hyunseung hyung.
"Yoseob-ah!" kupanggil-panggil namanya dan kulihat sekeliling tempat ini. Mataku tertuju pada sebuah surat tertempel di salah satu pohon. Surat itu terbuat dari potongan tulisan majalah sehingga tidak mudah dikenali.
Kuambil surat itu dan kubaca dengan seksama:
SON DONGWOON SEKARANG KAU MENDAPAT BALASAN DARI APA YANG TELAH KAU LAKUKAN. PEMUDA YANG KAMI TAWAN INI AKAN MERASAKAN APA YANG TELAH KAU LAKUKAN PADA KAMI. PEMUDA INI HARUS MENDERITA SAMA SEPERTI KAMI.
"Kurang ajar. Siapa yang berani melakukan ini semua?" aku sangat marah mengetahui bahwa orang-orang kurang ajar ini telah menahan Yoseob. Apa yang akan mereka lakukan pada Yoseob? Awas saja kalau mereka berani melukai Yoseob. Aku tak akan segan-segan membunuh mereka.
Tiba-tiba saja handphone di dalam saku celanaku bergetar.
"SON DONGWOON!"
Suara itu.
"Kau merindukan pemuda dalam tahanan kami?"
"FUCK! SIAPA KAU? DIMANA KAU MENAHAN YOSEOB? KATAKAN!" kuremas surat di tanganku hingga kertas itu tidak berbentuk lagi.
"Sabar Dongwoon-ah, pemuda ini baik-baik saja."
"BAIK-BAIK SAJA KATAMU? SIAPA SEBENARNYA KAU? KATAKAN SIAPA KAU ATAU KUBUNUH KAU!" saking marahnya aku bahkan melupakan bahwa kaki kananku sedang cedera.
"WOW, SON DONGWOON marah rupanya. Kau ingin aku melepaskan pemuda ini?"
"CEPAT KATAKAN APA MAUMU!"
"Aha, kau menawarkan sesuatu dan aku dengan senang hati mengatakan keinginanku. Son Dongwoon, datanglah ke gedung XXXX nanti pukul sebelas malam. Kuharap kau cukup bernyali untuk datang sendiri, dan ingat kalau kau membawa polisi. Maka riwayat pemuda Yang Yoseob ini akan tamat!" suara misterius itu kemudian tertawa.
"Kurang ajar kau!"
"Oya, satu lagi. Kalau kau berani membawa Junhyung dan Doojoon atau bahkan sekadar memberi tahu mereka, maka aku tidak akan segan-segan melukai pemuda imut yang sekarang ada di tanganku ini. Jangan kira kau bisa mengelabuhiku, karena mata-mata dan ank buahku sangat banyak Dongwoon-ah."
"Jangan sekali-sekali kau menyentuhnya! Kalau kau berani menyentuhkan tanganmu ke kulitnya, maka tamat riwayatmu BRENGSEK!"
End of Dongwoon POV
.
.
.
Yunho POV
Hari ini, aku kembali ke rumah sakit untuk mengunjungi Jaejoong. Sudah tiga hari Jaejoong dirawat di rumah sakit karena staminanya drop. Aku sangat khawatir padanya, apalagi setelah aku mengetahui bahwa Jaejoong telah mendonorkan ginjalnya pada Dam Bi. Aku tidak pernah berpikir bahwa lelaki yang selama ini kucintai melakukan sesuatu yang nekat tanpa mengatakannya padaku terlebih dulu.
Aku masih tidak habis pikir dengan tindakan Jaejoong. Kutatap lampu lalu lintas di pinggir jalan raya. Lampu masih merah saat sebuah mobil, ah tidak lebih tepatnya van berhenti di samping mobilku. Dari kaca mobil yang gelap itu dapat kulihat bahwa setidaknya ada tiga orang di dalamnya. Salah seorang di antaranya sepertinya aku kenal. Tapi, dimana aku mengenalnya?
Pemuda yang kukenal itu kelihatan sedang tidur. Namun, setelah kuperhatikan dengan seksama, ternyata pemuda itu tidak tidur. Bagaimana mungkin orang tidur dengan mulut dibekap dan tangan terikat? Sekarang aku yakin ada sesuatu yang tidak beres dengan pemuda itu dan dua pemuda yang bersamanya. Jangan-jangan, pemuda itu korban kejahatan. Aku tak bisa membiarkannya begitu saja.
Lampu berubah menjadi hijau. Dan saat itu juga aku tersadar. Pemuda di dalam van itu adalah anak Mr. Yang, rekan bisnisku yang baru beberapa saat lalu kukunjungi rumahnya. Ya, dia adalah Yang Yoseob, putra temanku. Aku harus menolongnya, bagaimanapun caranya.
End of Yunho POV
...
To be continued
Author note:
Mian karena lama g update chingu... hehehe author lagi stres karena kuliah udah mulai masuk lagi, jadi maaf ya kalo buat chaper ini rada' terlambat.
Ya udah, nie die chapter 10. Maaf juga buat yang request untuk meninggikan rating, kayaknya author pikir-pikir jangan dulu deh, soalnya ... ada deh rahasia alasannya. Oya, author juga g tau nie chapter bagus pa kagak, soalnya banyak typo dan ceritanya mungkin rada maksa.
Ok seperti biasa, comment ma reviewnya ditunggu selalu chingudeul...
