_Chapter 10_
Setelah insiden yang cukup mengerikan itu, Sasuke dan Naruto kembali bersikap seperti biasa. Cuek nan stoic untuk Sasuke, dan riang serta ramah untuk Naruto. Sakura yang mencurigai adanya cinta segitiga antara Sasuke, Naruto dan Shikamaru langsung menanyakan hal itu ke Naruto esok paginya dengan sikap mengadili seperti biasa. Tapi ketika ditanyai, Naruto malah balik bertanya, "Kenapa kau bisa berpikir begitu?"
Sakura berdecak sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Aku nggak bodoh, Naruto. Itu kan yang menyebabkan kau bertengkar dengan Sasuke-kun kemarin?"
Sasuke yang duduk manis di dekat jendela sambil membaca buku seperti biasa sama sekali tidak bereaksi ketika namanya disebut.
Naruto tersenyum mendengar kata-kata Sakura. "Memangnya kemarin aku bertengkar dengan Uchiha?"
Sakura terbelalak sementara Ino menahan tawa di belakangnya.
"T-tapi kau kan kemarin…"
Naruto tertawa pelan, membuat beberapa cowok di kelas memandangnya dengan ekspresi memuja yang berlebihan. Naruto selalu manis saat sedang tertawa. "Ah, kau pasti salah mengerti, Sakura-chan. Aku tidak bertengkar dengan Uchiha, apalagi terlibat cinta segitiga seperti dugaanmu." Sesuatu dalam suara Naruto membuat Sakura tahu ia tidak ingin melanjutkan pembicaraan.
Sakura berbalik dan melangkah pergi, lega karena tampaknya Naruto tidak menunjukkan ketertarikan pada Sasuke, tapi juga bingung kenapa Naruto harus berpura-pura tidak bertengkar dengan Sasuke. Tapi sebenarnya Sakura-lah yang kurang bisa membaca situasi. Sebenarnya, Sasuke dan Naruto sama sekali tidak berbicara pada satu sama lain hari ini. Sama sekali. Bahkan saling memandang pun tidak.
"Er, Naru-chan," panggil Ino begitu Sakura pergi. Naruto mendongak, sedikit terkejut melihat Ino tidak mengikuti Sakura seperti biasanya.
"Ya?" jawab Naruto, tersenyum manis seperti biasa.
"Itu… boleh aku minta nomor ponsel sepupumu?" tanya Ino, tersenyum malu-malu dan menunduk menatap meja Naruto.
Sasuke kehilangan fokus pada bukunya saat ia menyadari sepupu Naruto disebut-sebut. Naruto sendiri hanya mengerjap-erjapkan matanya, tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Eh?" celetuknya, bingung.
Ino terkikik geli. "Yah… sebenarnya dia orang yang cukup menarik menurutku… jadi…" Ino terkikik lagi.
Naruto benar-benar tidak tahu reaksi macam apa yang harus ditunjukkannya saat ini. Senang karena ternyata ada cewek yang naksir dia, atau takut karena tampaknya Ino tipe fangirl yang bakal mengupas tuntas mengenai cowok yang disukainya? Ia tak mau identitas aslinya terbongkar.
"Eh, itu…"
Senyum Ino memudar begitu menyadari respon Naruto tidak begitu bagus. "Eh? Kau nggak mau memberikannya ya? Kenapa?"
"Eh, enggak, bukannya aku nggak mau memberikannya…" Naruto nyengir salah tingkah, menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.
"Trus?" tuntut Ino.
"Err… nanti biar aku saja yang memberi nomor ponselmu padanya. Bagaimana?" tawar Naruto pada akhirnya.
Ino langsung sumringah. "Jadi kau mau membantu? Yippie! Trims Naruto!" kata Ino senang, memberi Naruto pelukan singkat.
Sasuke kembali merasakan sengatan di dasar perutnya. Bedanya, kali ini ia tahu apa tepatnya sensasi menyebalkan itu.
"Titip salam untuknya ya, Naru-chan!" tambah Ino sambil berjalan kembali ke tempat duduknya, meninggalkan Naruto dengan senyum salam tingkahnya.
Sasuke menutup bukunya. "Tebar pesonamu membuahkan hasil rupanya," desisnya sinis seraya bangkit berdiri dan keluar dari kelas.
Naruto memelototi Sasuke dan menjulurkan lidah padanya ketika Sasuke memunggunginya. "Dia kenapa sih? Sikap anehnya belum berubah, malah semakin menyebalkan," gumam Naruto emosi. "Kayaknya dia memang sakit jiwa."
-
Sasuke langsung pulang ke rumahnya begitu latihan drama usai hari itu. Ia masuk ke rumahnya, mengabaikan panggilan-panggilan sayang dari Sokoawa seperti biasa, dan langsung naik ke kamarnya.
Sokoawa mencibir melihat sikap cuek Sasuke. "Kok kayaknya cuma aku cowok Uchiha yang normal. Lainnya autis semua. Apa sih salahnya membalas sapaan saudara sendiri?" gerutunya sebal. Sokoawa memutuskan untuk mengurung diri di kamar juga beberapa detik kemudian. "Apa sih enaknya bersikap autis?" gumamnya sambil menutup pintu kamarnya. "Aku juga mau coba deh…"
Sokoawa memandang kamarnya, menerka kegiatan apa yang kira-kira dilakukan tiga saudaranya yang lain saat mengurung diri di kamar. Ia mulai dari kakaknya yang paling tua, Itachi. Karena Itachi anak baik dan pintar, dia pasti menghabiskan waktunya untuk belajar sepanjang hari di kamar. Sokoawa menggeleng, menolak ide untuk belajar. Sudah cukup baginya belajar selama beberapa jam di kampus, tak usah ditambah lagi.
Berikutnya, Niero. Sokoawa menghela napas ketika teringat kakaknya yang satu ini. Tak perlu diterka segala, ia sudah tahu apa yang dilakukan Niero saat mengurung diri di kamar, mengingat ia selalu membawa cewek bersamanya saat itu. Lagipula desahan dan erangan erotis yang menyusul setelahnya membuat Sokoawa sangat mudah mengira-ira kegiatan apa yang mereka lakukan. Karena dia tidak bawa cewek saat ini dan ia juga tidak terlalu menyukai kegiatan semacam itu, maka ia menolak ide itu.
Kemudian, Sasuke. Sasuke bukan tipe anak yang gila belajar seperti Itachi, atau tipe cassanova macam Niero. Jadi kemungkinan besar yang dilakukannya adalah…
Tok. Tok.
Sokoawa terlonjak ketika mendengar pintu kamarnya diketuk. Ia mengernyit. Uchiha yang lain sama sekali tidak pernah melakukan kunjungan kamar kecuali dia. Dan dia tidak pernah mengetuk, melainkan langsung nyelonong masuk. Perkecualian untuk Niero tentu saja. Sokoawa hanya melakukan kunjungan ke kamar Niero kalau yang bersangkutan dipastikan tidak ada di rumah.
Sokoawa membuka pintu, kaget melihat ternyata Sasuke-lah yang ada di luar kamarnya. Ekspresi kaget Sokoawa langsung berubah jadi cengiran lebar. "Kenapa Sasu-chan~? Kau kangen pada kakakmu yang imut-imut ini ya~?" goda Sokoawa, mengacak rambut hitam adiknya.
Sasuke memberikan glare-nya pada Sokoawa. "Berhenti memanggilku begitu, Sokoawa. Aku bukan anak kecil lagi."
Sokoawa pura-pura cemberut. "Apa sih susahnya memanggilku oniichan? Yah, paling tidak panggil aku aniki seperti kau memanggil Itachi…"
"Jangan harap," gerutu Sasuke, melangkah masuk ke kamar kakaknya tanpa menunggu dipersilakan. Dia memang tidak mau bersusah-susah memanggil dua kakaknya yang lain dengan embel-embel, karena memang Itachi-lah yang paling dihormatinya. Sejak orang tua mereka meninggal, Itachi yang menggantikan peran sebagai ayah sekaligus ibu dalam keluarga. Itu sebabnya respek Sasuke lebih besar dibanding respeknya pada Niero yang kerjaannya cuma main cewek dan Sokoawa yang kelewat sableng untuk ukuran Uchiha.
"Ada apa?" tanya Sokoawa, tahu mood adiknya sedang serius. Ia mendudukkan diri di tempat tidurnya, menunggu Sasuke bicara. Jarang-jarang adiknya mendatanginya begini dan ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, mungkin Sasuke sedang ingin sharing.
Sasuke menghela napas dan duduk di sebelah Sokoawa. "Apa kau pernah jatuh cinta?" tanyanya, langsung pada intinya.
Sokoawa mengerjap. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Empat kali. Lima kali. "Hah?"
Sasuke memainkan jari-jari di pangkuannya. "Apa kau pernah jatuh cinta, Sokoawa?" ulang Sasuke, sedikit enggan.
"Nggak, nggak, aku sudah dengar pertanyaanmu. Maksudku, kenapa tiba-tiba kau tanya begitu? Kau salah makan ya?" Sokoawa memandang Sasuke, ngeri.
Sasuke menggeleng. "Aku baik-baik saja sebenarnya."
"Trus?"
"Yah… ada seseorang… kami nggak terlalu saling menyukai satu sama lain sebenarnya. Aku menganggapnya bodoh dan dia menganggapku brengsek…" Sasuke tertawa getir. Sokoawa mengerjap lagi. Ini pertama kalinya dia melihat adiknya tertawa, walaupun tawanya nggak terlalu menyenangkan.
"Lanjutkan," pinta Sokoawa, memeluk gulingnya dan semakin serius mendengar kata-kata Sasuke.
Sasuke berdehem, Sokoawa menyadari ada sedikit kilat antusias di mata adiknya. "Kami satu kelas dan dia duduk di sebelahku. Kami juga berada di klub yang sama. Dia juga akan jadi pasangan mainku di drama berikutnya."
Sokoawa nyengir senang. "Itu bagus kan? Kau tinggal nyatakan saja perasaanmu padanya! Kelihatannya kalian juga sudah cukup dekat… semua akan mudah, dia tak mungkin menolakmu. Tak ada cewek yang menolak Uchiha, Sasuke. Bahkan Niero tak pernah ditolak meski semua cewek tahu dia brengsek. Aku juga nggak pernah ditolak meski aku nggak se-autis kalian."
Sasuke mendengus geli. "Kurasa kalau yang satu ini akan menolak, Soko."
Mata Sokoawa menyipit. "Kenapa bisa begitu?"
"Dia membenciku. Sangat."
Sokoawa memutar bola matanya. "Benci dan cinta, apa sih bedanya?"
"Lagipula," Sasuke melanjutkan. "Sebenarnya aku nggak terlalu yakin aku mencintainya atau nggak."
Sokoawa benar-benar cengok kali ini. "Begini, adik kecilku yang manis dan polos dan sama sekali nggak mengerti cinta," Sokoawa berdehem. "Kau membicarakan cewek ini dengan mata berbinar-binar begitu, dan kutebak kau juga memikirkannya setiap saat. Jadi simpel saja, itu namanya cinta! Sudah deh, nggak usah mengelak lagi. Nyatakan perasaanmu padanya, Sasuke."
Sasuke memandang Sokoawa. "Soko, kau harus tahu satu hal."
"Apa?"
"Sebenarnya, orang yang kumaksud itu cowok."
JLEGER!
Sokoawa terbelalak ngeri, mulutnya menganga. Ia menatap Sasuke tak percaya. Petir bagai menyambarnya saat ini, membuatnya membeku, tidak bergerak.
Sasuke menatap kakaknya, melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Sokoawa agar kakaknya kembali sadar.
Sokoawa menutup mulutnya dan berdehem, mencoba netral. "A-aku nggak salah dengar?" tanyanya takut-takut.
Sasuke tersenyum kecil. "Itu yang jadi masalah sebenarnya." Ia sudah menduga kalau reaksi Sokoawa akan seperti ini.
Sokoawa masih menatap Sasuke, kemudian menghela napas. "Whatever the way you choose, I'll stay in your back," ucapnya.
Sasuke terperangah, menoleh memandang Sokoawa. "Kau…"
Sokoawa memegang bahu Sasuke dan tersenyum. "Yah… aku sudah lama berpikir kau aneh," celetuknya. "Bayangkan saja, tujuh belas tahun, tampan, masih perjaka dan belum pernah punya pacar. Dan sekarang kau memutuskan untuk cerita padaku kalau kau menyukai seseorang. Harusnya aku sudah menduga dari awal kalau yang kau maksud adalah cowok."
Sasuke tertawa. "Bilang saja aku gay kenapa… nggak usah berbelit-belit begitu…"
Sokoawa benar-benar terkesiap melihat tawa Sasuke. Tawa yang, menurutnya, baru pertama kali dilihatnya selama lima belas tahun hidup adiknya. Sasuke waktu bayi masih sering tertawa sebenarnya. Sokoawa menggelengkan kepalanya sekilas, tak ingin tertangkap sedang mengamati Sasuke. "Jadi… eh, tapi kau bilang dia lawan mainmu di drama berikut? Dia dapet peran cewek atau memang dramanya juga percintaan sesama jenis?"
Sasuke mendadak serius. "Aku akan memberitahumu, tapi jangan beritahu siapapun. Hanya antara kita berdua, oke?"
Sokoawa mengangguk, membentuk tanda peace dengan kedua tangannya. "Seorang Uchiha tidak ingkar janji."
"Jadi begini, dia terjebak suatu masalah dengan ayahnya. Dan ayahnya menyuruhnya untuk menghabiskan masa SMA sebagai cewek."
"Hah?" celetuk Sokoawa kaget. "Ayah macam apa yang menyuruh anak laki-lakinya menyamar jadi cewek? Kalau Itachi berani menyuruhku begitu, kupotong 'anu'-nya."
Sasuke mengernyit mendengar omongan Sokoawa, ia yakin Soko takkan berani melakukan itu pada Itachi. "Yah…" Sasuke memutuskan untuk mengabaikan komentar tak penting kakaknya. "Ini hanya masalah prinsip. Intinya, sekarang dia terjebak dalam peran menjadi cewek sebagai SMA. Sebenarnya kalau ada orang tahu identitas aslinya, ia dalam masalah besar."
Sokoawa nyengir. "Tapi kau tahu itu."
Sasuke mengangguk. "Aku bersedia merahasiakannya."
Sokoawa menghela napas dan merebahkan dirinya di kasur. "Kau pasti cinta banget sama dia, Sasuke… Uchiha kan harusnya cuek…"
Sasuke terdiam, baru menyadari itu. Kenapa dia mau merahasiakan identitas asli Naruto saat itu? Kalau dipikir-pikir, itu sama sekali bukan urusannya. Dan kalau dia cukup pintar, dia harusnya langsung membeberkannya ke publik waktu dia merasa amat marah pada Naruto kemarin. Sasuke semakin terdiam ketika sampai pada pemikiran ini. Dia marah pada Naruto. Kenapa dia bisa terpancing emosi begitu? Lagian Naruto cuma memanggil Shikamaru dengan nama depannya, sesuatu yang tidak dilakukannya pada cowok lain, bahkan Sasuke. Dia harusnya cuek karena itu sama sekali bukan urusannya. Tapi pada kenyataannya, dia merasa sangat marah.
Sasuke tertawa geli. "Kau benar. Aku pasti benar-benar menyukainya."
Sokoawa berguling di tempat tidurnya, dari sisi satu ke yang lain, begitu terus, sambil berkata, "Kenapa kau membicarakan hal itu denganku? Kenapa bukan Niero?"
Sasuke memutar bola matanya. "Aku tidak menyukainya. Dia brengsek."
Sokoawa tertawa. "Kan kau juga tidak menyukaiku, Sasu-chan~…" masih melanjutkan acara bergulingnya.
Sasuke memandang kakaknya dengan tatapan kalau-kau-berani-memanggilku-begitu-lagi-akan-kubakar-kau-hidup-hidup. "Entahlah," Sasuke menggeleng pelan. "Hanya kau yang bisa diajak bicara di rumah ini walau kau norak."
Sokoawa memutuskan untuk berhenti berguling dan kembali duduk. "Nah, yang harus kau lakukan sekarang hanya bilang padanya kau menyukainya."
"Kalau dia menolak?"
Sokoawa mencibir. "Dia menolak ya sudah. Habisi saja. Dia cowok kan? Jadi tidak perlu menahan diri."
Sasuke meninju lengan Sokoawa. "Bicara denganmu terlalu lama memang tidak baik untuk kesehatan jiwa. Aku mau tidur," kata Sasuke seraya keluar dari kamar Sokoawa. Sokoawa masih bergeming di tempat tidurnya, memandang pintu kamarnya. Itachi yang tidak pernah mengenal cinta. Niero yang terlalu banyak bercinta. Dan Sasuke yang mencintai cowok. Ternyata dugaannya kalau hanya dia satu-satunya Uchiha yang normal ada benarnya.
_tsuzuku _
Oke, Sasuke sudah sadar akan perasaannya. Sekarang tinggal Naruto.
