"Kau tau? Sialnya, kakak sepupuku si Shinwoo malah membela Gongchan dan Baro yang memulai segalanya! Argh! Kurang sial apa? Masa aku..."

"TOLONG! SESEORANG TERLUKA! SIAPAPUN TOLONG! AAAAAAHH!"

DEG

Jinyoung menoleh kearah Sandeul, yang masih melanjutkan ceritanya.

"Sshhttt... diamlah! Kau tak mendengar suara barusan? Dari gang gelap di samping situ kan?"

Sandeul mengangkat bahunya tidak peduli. "Paling hanya orang-orang yang sedang ber 'this and that'! Itu sudah biasa disini!"

Jinyoung memukul lengan Sandeul agak kencang. "Mana ada orang-orang begituan di gang tapi teriaknya 'Tolong! Seseorang terluka!' bodoh! Sudahlah, aku ingin pergi melihat." ujar Jinyoung, lalu pergi berjalan mendahului Sandeul, dan menelusuri setiap tempat terutama gang.

"YA! Tunggu aku! Aku belum selesai cerita!"

Sandeul berlari mengejar Jinyoung yang sudah agak jauh di depannya, sampai ia menubruk punggung seseorang.

"Kau gila ya tiba-tiba berhenti di tengah jalan?! Bagaimana kalau tiba-tiba saja kita bertubrukan, lalu di belakang kita ada banyak orang? Pasti bakal jatuh dan membuat efek domino! Jinyoung? Woi! Kau sedang melihat a-"

Mulut Sandeul menganga begitu ia menoleh kearah gang, yang berada tepat di hadapan Jinyoung. Sekarang, ekspresinya sama dengan Jinyoung. Bedanya, mulut Sandeul menganga terlalu lebar dan cukup untuk bola ping pong bisa masuk.

"I-itu Hyukkie... kan...?" bisik Jinyoung, yang melihat sosok makhluk mirip Eunhyuk, terisak sambil memeluk seseorang yang pernah ia lihat di cafe beberapa hari lalu.

"I-itu Donghae... kan...?" sahut Sandeul, yang malah berupa pertanyaan juga.

Tanpa pikir lebih panjang, mereka berlari memasuki gang. Jinyoung menghampiri Eunhyuk dan Donghae, sementara Sandeul mengecek isi gang.

"Euw, ada 2 orang tergeletak dengan bentuk badan tak beraturan disini. Sepertinya tulangnya pa-"

"PERGIIII! SIAPA KAU? PERGIII!"

Perkataan Sandeul mengenai betapa menyiksanya kondisi 2 manusia di dekat tembok buntu terpotong tiba-tiba begitu Eunhyuk berteriak dan memeluk Donghae erat.

"Jinyoung, apa yang kau lakukan padanya barusan?"

Jinyoung menatap Sandeul sebentar, lalu kembali menatap Eunhyuk. Ia melihat beberapa bercak khas di tubuh Eunhyuk, apalagi sekarang Eunhyuk hanya menggunakan jaket kebesaran Donghae, sambil memeluk Donghae. Jinyoung menggigit bibir bawahnya. Ia bisa menyimpulkan apa yang terjadi.

"Hyukkie-ya... ini oppa.. Jinyoung oppa... kau ingatkan?" tanya Jinyoung dengan suara selembut mungkin, meskipun tak bisa dipungkiri suara itu bergetar. Sebisa mungkin, ia tidak menyentuh Eunhyuk, namun menyentuh Donghae, melihat keadaannya. Kejadian ini persis seperti malam itu. membuat Jinyoung benar-benar mati-matian menahan air matanya yang ingin sekali terjatuh. Kenapa harus Eunhyuk lagi? Kenapa dengan orang yang paling Eunhyuk cintai lagi?

"JANGAN! JANGAN SENTUH DONGHAE! PERGI KAU ORANG JAHAT! PERGIII!" jerit Eunhyuk, membuat Jinyoung menatap keduanya miris. Sandeul sendiri hanya bisa menatap mereka sambil berdiri.

"I-ini oppa sayang, J-jung Jinyoung oppa, a...dik Jung Yonghwa, sepupumu... kau ingat...? Apa oppa perlu membawa Leeteuk ahjumma ke...sini...?"

Perlahan, Eunhyuk mengendurkan cengkramannya pada tangan Jinyoung yang tadi menyentuh Donghae, lalu beralih memeluknya. "O-oppa... hiks... oppa... benarkah ini kau? Hyukkie takut... hiks"

Jinyoung membalas pelukan Eunhyuk, namun sebisa mungkin tak melukainya, juga orang yang masih dipeluk Eunhyuk bersama dirinya. Jinyoung akhirnya melepaskan pelukan itu, lalu kembali mencoba berbicara baik-baik dengan Eunhyuk. "Oppa mau lihat namja ini dulu ya?"

Eunhyuk menatap Jinyoung ragu, lalu mengangguk. Merasa diberikan izin, Jinyoung menelusuri setiap inci tubuh Donghae dengan matanya. Bahkan Sandeul yang ingin mendekat pun dilarangnya.

Jinyoung menggigit bibirnya lagi, begitu melihat luka tusukan yang berada di daerah organ vital Donghae. Ingin sekali ia memberitahu Eunhyuk apa yang terjadi pada Donghae, tapi ia tak sanggup.

"Hyukkie... siapa yang menjahatimu?"

Eunhyuk menunjuk kearah 2 namja yang tergolek lemah dan seperti tak bertulang itu dengan tangan bergetar. Sandeul yang berada di dekat kedua namja itu, langsung menyeretnya.

"Kita ke rumah sakit nde...? Donghae-mu butuh perawatan." bujuk Jinyoung. 'Dan kau juga butuh perawatan penting.' lanjut Jinyoung, membatin.

Eunhyuk hanya bisa mengangguk. Tanpa aba-aba, Sandeul menelpon ambulans.

Tak lama, ambulans pun datang. Mengangkut Donghae, Taecyeon, serta Minho. Eunhyuk sendiri sebenarnya memaksa ingin ikut, namun ambulans sudah keburu pergi karena ia ditahan Jinyoung tadi. Akhirnya ia memutuskan untuk mengekori ambulans menggunakan mobil yang diparkir Jinyoung sekitar 3 blok dari jalan itu.

.

.

.

.

Searching for a Pure Love

By: CLA

Rated: T

Genre: Romance, Friendship,

School life, club life(?), etc

Disclaimer: seluruh cast disini

milik Tuhan dan mereka sendiri

Cast: Super Junior 13 + 2, Nari. Possible for another cast

Warning: OOC, GS, EYD, Typos(possible), dll

.

.

.

.

Kabar tentang Donghae dan Eunhyuk sudah menyebar dikalangan anak –sok- culun. Luka yang diterima Donghae membuatnya harus dirawat di rumah sakit, kurang lebih satu bulan. Sementara itu, Minho dan Taecyeon diperbolehkan pulang dalam waktu 2 minggu karena tak ada organ tubuhnya yang terluka dalam. Mereka juga dikeluarkan dari sekolah atas suruhan Lee Seunggi, yang belakangan di ketahui sebagai appa Donghae, yang berarti Donghae adalah anak pemilik sekolah.

Keadaan Eunhyuk sendiri tak jauh lebih baik dibandingkan saat ia ditemukan bersama Donghae di gang gelap itu. Eunhyuk malahan sepertinya mengalami trauma terhadap namja manapun, selain appa-nya sendiri, meski ia tak mau mengakuinya. Bahkan bila bertemu Jinyoung ataupun Yonghwa, ia akan segera berlari mengumpat di toilet, atau dibalik punggung Sungmin, Ryeowook, Kibum, Nari, atau Henry. Selama beberapa hari awal setelah kejadian itu, ia juga berteriak-teriak, dan tak jarang juga air mata mengalir beserta keringatnya saat ia tidur dan bermimpi. Bukannya ia berteriak takut, tapi ia berteriak memanggil eonni-nya yang sudah meninggal.

Sekarang, Eunhyuk hanya berani bertemu dengan namja yang sedang tak sadar. Sudah berkali-kali para yeoja mengajaknya untuk ke psikiater dan melakukan terapi, tapi Eunhyuk mengaku tidak apa-apa. Karena keadaan Eunhyuk yang sedang rapuh sekarang, mereka tak bisa memaksanya.

Hari ini, Eunhyuk kembali duduk disamping ranjang dimana Donghae dirawat. Ini sudah lewat 4 hari semenjak kejadian tidak mengenakkan itu. Dan kali ini, Eunhyuk datang ke ruang rawat Donghae yang masih belum sadarkan diri, tanpa ditemani Sungmin, Ryeowook, ataupun yang lainnya. Tak seperti kemarin-marin.

"Hae... bangunlah... ini sudah hari keempat... aku kesepian..."

Eunhyuk tau, Donghae tak akan mungkin menjawabnya, jadi ia meneruskan perkataannya. "Semua orang mengatakan aku harus terapi, tapi aku tidak merasa ada masalah tuh. Palingan hanya menghindari namja doang, bukan masalah apa-apa. Kekhawatiran mereka berlebihan."

"Ah, iya. Hae, kita belum putus loh. Bangunlah secepatnya kalau kau masih mencintaiku, atau aku akan mencari namja lain. Aku akan memaafkan segalanya jika kau bangun Hae..."

"Permisi nona." sela seorang perawat namja tiba-tiba, membuat Eunhyuk terlonjak dan memegang tangan Donghae gemetaran. "Waktu besuk sudah habis."

Eunhyuk segera mengangguk mengerti, lalu setelah ditinggal perawat, ia mendesah lega.

"Hah... tadi itu menegangkan, mengejutkan, dan menyeramkan..." ujarnya tak sadar.

"Eh, aku barusan ngomong apa?" tanya Eunhyuk pada dirinya sendiri. "Ah, Hae, mianhae. Aku harus pergi. Waktu besuk sudah habis. Cepat sadar nde?" ucap Eunhyuk sambil tersenyum tulus dan mengecup dahi Donghae, yang tak terluka dan tidak terpasang alat-alat medis yang menurut Eunhyuk mengganggu itu.

~Searching for a Pure Love~

Hari berikutnya, Eunhyuk kembali datang bersama Ryeowook dan Sungmin. Eunhyuk yang paling semangat, segera masuk ke ruang rawat Donghae, lalu duduk di sisi ranjangnya, sambil memegang tangan kiri Donghae. Sungmin dan Ryeowook yang melihatnya, hanya senyum dan geleng-geleng kepala.

"Hae, aku datang lagi! Aku baik kan menemanimu setiap hari? Hehe. Liburan sudah mau selesai loh. Bisa dihitung dengan jari. Eh, eh, terus,..."

Ryeowook menatap Eunhyuk khawatir, lalu menoleh kearah Sungmin. Sungmin pun melakukan hal yang sama. Sepertinya mereka satu pikiran. Apalagi begitu mengingat kejadian tadi pagi, dimana ada petugas satpam yang memeriksa mobil karena di tilang, Eunhyuk benar-benar mendempetkan tubuhnya pada Ryeowook secara refleks dan gemetaran.

"Donghae... masih belum bangun... Eunhyuk juga tak mau mengikuti saran kita untuk mencoba terapi... bagaimana kalau Donghae terbangun nanti?" bisik Ryeowook lirih, yang hanya bisa terdengar oleh Sungmin yang berdiri di sebelahnya. Sungmin sendiri hanya bisa terdiam.

"Oh iya, Hae. Waktu kita bertengkar dulu, Bummie kan menjanjikanku seekor anjing. Dan ternyata beneran dibelikan loh! Lucu deh! Namanya Choco. Cepetan bangun yah, biar bisa melihatnya. Kau pasti mau melihatnya juga kan? Nanti kita membesarkan Choco bersama-sama ya, bahkan sampai menjadi kakek-nenek pun, kita akan merawatnya bersama."

Ryeowook menahan air matanya begitu mendengar penuturan Eunhyuk barusan. Ia benar-benar tak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi jika Donghae bangun nanti.

"E-eh? Jarinya agak bergerak..."

Ucapan Sungmin barusan, membuat Eunhyuk segera memperhatikan kedua tangan Donghae. "Mana? Tidak ada tuh."

"Itu! Bergerak lagi!" seru Sungmin. "Donghae sudah mulai sadar!" seru Sungmin.

"Jinjja? Yay! Wookie! Panggilkan dokter ya!" suruh Eunhyuk kepada Ryeowook.

"Wuah, kita akan bertemu lagi Hae! Fighting!"

~Searching for a Pure Love~

Eunhyuk membenamkan kepalanya ke bantal, menangis, sementara seekor anjing kecil melompat-lompat diatas mengitarinya. Ia kesal. Benar-benar kesal. Sudah lewat 5 hari semenjak Donghae sadar, sementara setiap ia ingin menjenguknya, tubuhnya yang menyebalkan itu pasti mati-matian menghindarinya, refleks.

TOK TOK TOK

"Hyukkie-ah. Ini Wookie dan Sungmin. Boleh masuk?"

Eunhyuk yang tidak menjawab, membuat Sungmin dan Ryeowook ragu karenanya. Mereka ragu, apakah mereka diijinkan masuk, atau tidak. Tapi pada akhirnya, mereka memilih untuk masuk.

"H-Hyukkie? Kau... kenapa? Kenapa menangis?" tanya Sungmin, sambil menggendong Choco, dan mengelusnya dengan sayang. Anjing ini sungguh baik, jadi ia tidak akan menggonggong kepada orang yang dikenalnya.

Eunhyuk kemudian menoleh, lalu kembali membenamkan kepalanya. "A-aku.. aku mau ketemu Hae... tapi begitu melihat matanya, aku takut... tatapannya padahal biasa saja, tapi entah mengapa membuatku tak mau melangkah mendekat..."

Sungmin tau ini. Ia sudah yakin Eunhyuk akan berkata seperti ini. Eunhyuknya juga sih... sudah disuruh terapi, tidak mau.

"Makanya, kubilang, coba terapi dulu."

Eunhyuk menggeleng. "Aku tidak kenapa-napa!"

"Tapi kau kenapa-napa! Aku sudah menceritakan keanehanmu kepada Donghae, dan dia mengirimkan ini untukmu. Wookie, suratnya bacakan!"

Ryeowook segera membongkar tasnya, mengambil surat dan sebatang permen lolipop. Permen itu diberikan kepada Eunhyuk. "Ini makanlah dulu."

"Ehem. Sebelum membaca surat ini, tolong makan barang pemberianku yang kutitipkan kepada Sungmin dan Ryeowook. Hyukkie-ah. Sungmin dan Ryeowook sudah menceritakan segalanya. Termasuk anjingmu yang baru dibeli itu. Siapa namanya? Emmm... Choco! Ya! Choco!"

Begitu nama Choco disebut, anjing itu menggonggong, entah karena mengerti, atau bukan.

"Hyukkie, kumohon, demi aku, coba temui psikiater. Kalau kau mau dan berhasil, aku akan memberimu hadiah. Saranghae."

Eunhyuk yang sudah mendengarkannya seksama, kini duduk. "Sudah? Itu saja?" tanyanya. Ryeowook mengangguk. "Karena itu, bersiaplah. Siang ini, kita akan menemui psikiater. Kau tidak mau membuat Donghae kecewa kan?"

Eunhyuk mengangguk. "Nah, bagus! Sekarang, mandi! Badanmu bau keringat dan air liur!"

~Searching for a Pure Love~

Musim berganti. Sekarang sudah memasuki musim dingin. Waktu itu, Donghae sempat tidak masuk 2 minggu, sementara Eunhyuk sempat dipindahkan tempat duduknya, yang sekelilingnya yeoja semua.

Sekarang ini, sekolah libur Natal, dan Eunhyuk sudah mulai kembali normal(?).

"Hyukkie! Kau tak mau ditemani oppa?"

Jinyoung, sudah menginap ke rumah Eunhyuk sejak awal liburan, sementara kakaknya, tetap sibuk dengan kesehariannya. Sudah lewat 3 tahun semenjak terakhir Jinyoung menginap di rumah Kangin ahjussi. Appa dan eommanya memutuskan untuk liburan ke Paris sehingga ia bosan tinggal sendirian di rumah. Maka dari itu dia memutuskan untuk menginap di rumah Kangin ahjussi.

"Tidak usah oppa. Nanti di tengah jalan, aku janjian sama Henry. Katanya dia ingin memberiku kejutan spesial atas kesembuhanku."

Jinyoung tersenyum, lalu mengangguk. Ia benar-benar senang, Hyukkie-nya kembali seperti dulu. Meskipun ia agak kasihan sih, karena Eunhyuk sama sekali bertemu Donghae. Mereka bertemu terakhir kali saat di rumah sakit, sebelum Hae membuka matanya.

"Baiklah, hati-hati nde?"

"Nde!" seru Eunhyuk yang mulai menjauh dari rumahnya.

.

.

.

.

.

"Henry! Bummie! Nari!"

Mereka yang dipanggil, menoleh dan tersenyum melihat Eunhyuk, sementara Henry memeluk Eunhyuk erat. "Meski baru seminggu, tapi aku sudah kangen!"

Eunhyuk hanya menggelengkan kepalanya. "Berlebihan ah. Seminggu itu belum lama tau! Ah iya, kok Bummie sama Nari bisa disini juga?"

Kibum dan Nari mendadak cemberut, meskipun sebenarnya pura-pura. "Jadi kami tidak boleh ikut nih? Bummie! Ayo kita pergi dari sini!"

Eunhyuk segera menarik tangan kedua yeoja itu, sebelum mereka benar-benar kabur. "Jangan dong! Aku kan cuma agak kaget doang!"

Nari dan Kibum terkekeh, lalu Kibum melirik Henry, sementara Henry melirik Nari, dan Nari melirik Kibum.

"Ehm... oke, jadi, kami benar-benar akan memberimu kejutan. Tapi bukan disini! Ini! Mawar untukmu." ucap Nari, sambil memberikan Eunhyuk setangkai mawar. Eunhyuk hanya bisa menerimanya dengan kebingungan.

"Dan ini, balon untukmu." Kibum memberikan Eunhyuk satu balon gas merah berbentuk hati.

"Apaan ini?" tanya Eunhyuk, tapi tak dijawab keduanya. "Henry akan menemanimu sampai beberapa waktu kedepan. Jangan buang apa yang kita berikan! Kita pergi dulu ya!" lanjut Nari, lalu bersama Kibum ia pergi meninggalkan Eunhyuk dan Henry.

"Nah, ayo kita pergi! Kita jalan kaki! Biar sehat!" ajak Henry.

Selama perjalanan, Eunhyuk selalu bertanya tentang apa yang terjadi kepada Henry, namun yeoja itu tak menjawabnya, melainkan hanya berkata, "Lihat saja nanti!"

Henry dan Eunhyuk terhenti di satu toko kue dan coklat. Henry menarik tangan Eunhyuk untuk masuk ke dalam, sementara Eunhyuk hanya bisa mengikutinya karena ia sendiri sebenarnya sedang bingung.

"Annyeong! Heechul ahjumma! Hangeng ahjussi!"

Heechul dan Hangeng yang sibuk membuat coklat, menoleh. "Oh, Henry! Hao jiu bu jian (lama tak jumpa)!" sapa Hangeng, "Dan yang disebelahmu... kau pasti Eunhyuk kan?"

Eunhyuk mengernyitkan alisnya karena bingung, namun ia tetap membungkukkan badannya, memberi salam. "Nde. Saya Eunhyuk."

Hangeng tersenyum, lalu memberikannya sebatang coklat, bertuliskan 'Wanna'. Heechul sendiri segera berjalan menaiki tangga menuju lantai 2. "Zhoumi! Henry dan Eunhyuk sudah datang!"

Dengan segera, Zhoumi turun sambil membawa satu kotak kecil. Ia berikan kepada Eunhyuk, sementara Eunhyuk semakin kebingungan dibuatnya. "Bawa saja, dan lihat semua!" suruh Zhoumi. Eunhyuk hanya mengangguk.

"Ah, itu dia! Shindong! Sini!"

Kembali, Eunhyuk menoleh, dan melihat Shindong yang berjalan cepat memasuki toko itu. Dengan segera, ia membantu Eunhyuk membawa balon, coklat, beserta mawar itu, lalu berkata. "Ayo, kita pergi princess!"

Henry dan Heechul segera mendorong Eunhyuk keluar untuk menyusul Shindong. "Sampai jumpa! Semoga menyenangkan!"

.

.

.

.

.

"Kita sudah sampai!" ujar Shindong, begitu ia berdiri tepat di dalam lobby sebuah hotel. Shindong merogoh sakunya, lalu menelpon seseorang, sementara Eunhyuk sudah membaca habis permen itu.

Membaca? Iya benar, membaca. Permen itu seperti permen K*SS. Di belakangnya, banyak perkataan-perkataan romantis, dan dari sekian banyaknya permen, yang paling ia ingat adalah 'I Miss You' dan 'I Love You'.

Tak lama, Eunhyuk bisa melihat Siwon yang keluar dari lift, berjalan kearahnya. Shindong lalu memberikan barang bawaannya, beserta kotak permen, yang Shindong yakin Eunhyuk sudah membacanya habis kepada Siwon. Shindong kemudian merogoh sakunya, lalu memberikan isinya kepada Eunhyuk. Lagi-lagi coklat, hanya saja bentuknya lebih kecil. Dan terdapat tulisan 'Go' diatas bungkusannya, tapi bukan mereknya.

"Ayo kita naik!" ajak Siwon. Eunhyuk sendiri berlari kecil mengejar Siwon yang sudah dekat dengan lift sementara ia masih ditengah lobby.

.

.

.

.

.

TING

Pintu lift terbuka di lantai 12, menampilkan sosok Yesung yang tengah bersandar di tembok.

"Ah, sudah datang? Sini bawaannya!"

Siwon segera memberikan barang bawaannya kepada Yesung, lalu memberikan Eunhyuk lagi-lagi cokelat, namun bertuliskan kata 'Date'. Eunhyuk sendiri menerimanya, meski ia takut diabetes karena terlalu banyak makan cokelat.

"Sebenarnya ada apa sih? Aneh sekali kalian semua." tanya Eunhyuk kepada Yesung. Yesung sendiri hanya mengangkat bahunya pura-pura tidak tau.

"Kita sudah sampai! Sekarang, bawa barang-barangmu, dan sekalian. Ini!" Yesung memberikan Eunhyuk 2 tangkai mawar dan sebatang coklat lagi, bertuliskan 'With'. Karena melihat Eunhyuk yang tangannya sudah penuh barang, ia membantu Eunhyuk membuka pintu kamar bernomorkan 0415 itu.

"Di dalam, akan ada seseorang yang menunggumu. Masuklah."

Eunhyuk pun masuk, lalu pintunya ditutup oleh Yesung. Ruangannya terkesan biasa-biasa saja, namun ranjangnya dipenuhi mawar. Diatas ranjang itu, terdapat sesuatu yang membuat Eunhyuk bosan sedari tadi. Ya, cokelat. Hanya saja kali ini coklat itu terdiri dari empat huruf. 'H', 'I', 'W', 'T'.

CKLEK

"Wookie?"

Ryeowook yang baru keluar dari kamar mandi, tersenyum. Ia langsung merapikan mawar yang memenuhi ranjang itu, dan merangkainya menjadi satu, sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam keranjang bunga, beserta dengan 3 tangkai mawar yang Eunhyuk pegang, namun diambil paksa olehnya.

"Nah, sekarang tinggal empat bungkus coklat itu. Coba rangkai jadi satu kata Hyuk!"

Eunhyuk mengernyitkan alisnya bingung. "Wookie, ini acaramu ya?"

Bukannya menjawab, Ryeowook malah mengulang perintah yang sama. "Rangkai jadi satu!"

Eunhyuk terlihat berpikir, sebelum akhirnya menjawab. "With?"

Ryeowook mengangguk mengiyakan. "Bagus! Sekarang, bantu aku ambil keempat coklat itu, dan taruh di keranjang yang ini beserta dengan cokelatmu yang lain."

Eunhyuk hanya menurut saja. "Hari ini Chocolate atau Rose day ya Wookie? Dari tadi aku melihat mawar dan cokelat terus."

Ryeowook hanya menanggapinya dengan senyum. "Sudahlah, sekarang kau boleh keluar. Ada lagi sesuatu diluar sana."

Ryeowook segera menarik tangan Eunhyuk yang penuh barang, lalu membuka pintu kamar itu. Tepat di hadapan Eunhyuk, muncul Sungmin, dengan satu stel dress berwarna putih selutut dengan rumbai-rumbainya. Di tangan kanannya, masih ada kotak sepatu, dan perhiasan lainnya.

"Ayo kita masuk lagi!" seru Sungmin, sambil mendorong Eunhyuk ke kamar mandi, setelah sebelumnya barang-barangnya dititipkan kepada Ryeowook.

"Ganti bajumu dengan ini semua!" suruh Sungmin. Awalnya Eunhyuk menolak, namun akhirnya ia menerimanya juga.

Begitu Eunhyuk sudah keluar, Ryeowook membantu Eunhyuk memakaikan kalung, gelang, dan aksesoris lainnya. Sungmin sendiri lebih memilih mengurusi rambut Eunhyuk.

"Selesai! Kau cantik Hyukkie!" puji Sungmin. "Setelah ini, ayo kita pergi! Aku menunggumu diluar!"

Setelah Sungmin keluar kamar, Ryeowook membantu Eunhyuk memakaikan High Heels putih, lalu mengangkut seluruh barangnya, dan menyuruh Eunhyuk berdiri. Setelah itu ia membuka pintu, dan memberikan semuanya ke Sungmin.

"Kita jalan Hyukkie-ya!"

.

.

.

.

.

Sekarang, Sungmin dan Eunhyuk sudah sampai di lantai dasar. Di depan hotel, terdapat sebuah mobil, yang menurut Eunhyuk mahal, yang ia sendiri lupa namanya. Disitu, Kyuhyun bersandar sambil melipat kedua tangannya di dada.

"Wuah, lama sekali ya, princess. Tentu saja, namanya juga seorang putri hahaha."

Sungmin menatap Kyuhyun tajam, menyuruhnya bungkam, namun Kyuhyun tak memperdulikan itu. Ia lalu membuka pintu mobil, dan menyuruh Eunhyuk masuk ke dalamnya. Selain balon, ia menaruh barang-barang di kursi tengah.

"Pegang sendiri balonmu! Itu harus utuh sampai kau tiba disana!"

Eunhyuk yang bosan bertanya mereka mau kemana, diam saja dan mengangguk. Pintu pun ditutup, dan masih sempat-sempatnya Kyuhyun dan Sungmin bermesraan.

"Hati-hati dijalan!" pesan Sungmin, sebelum Kyuhyun akhirnya menjalankan mobilnya.

Di dalam mobil, hanya ada satu kalimat yang Kyuhyun katakan. "Kata terakhir akan muncul sendiri."

Meskipun Eunhyuk bingung, namun ia mengangguk saja.

.

.

.

.

.

"Kita sampai!" seru Kyuhyun, lalu membukakan pintu Eunhyuk dan juga gerbang taman di depannya. Ia juga mengambilkan Eunhyuk seluruh bawaannya, sebelum akhirnya memberikannya kepada yeoja itu.

"Masuk ke dalam, sampai kira-kira 30 meter. Disitu ada gerbang lagi, bukalah. Atau jika kau beruntung, ada yang membukakannya. Dan, mawar, cokelat, permen, dan balon ini harus utuh sampai disana, mengerti?"

Eunhyuk hanya mengangguk, sampai akhirnya ia berjalan memasuki taman itu.

Seperti apa yang Kyuhyun bilang, sekitar 30 meter ke depan ada pagar berwarna putih, yang tingginya sekitar 3-4 meter, dan disisi kiri dan kanan pagar itu ditutupi tembok, membuat Eunhyuk tak bisa melihat isinya. Ia ingin sekali membuka pagar itu, tapi tak bisa. Tangannya penuh.

"Butuh bantuan?" bisik seseorang, tepat di telinganya, membuatnya geli. Ia tau, suara ini... suara ini adalah suara yang sangat dirindukannya! Selama di sekolah, mereka tak bertemu, karena keadaan Eunhyuk yang terpaksa membuat para yeoja dan namja pisah tempat pertemuan. Apalagi mereka semua sudah memunculkan wujud aslinya, membuat anak sekolah selalu menggilai mereka.

Eunhyuk menoleh ke belakang, dan melihat Donghae yang berdiri sangat dekat dengannya dan sedikit membungkukkan badannya, menyamakan tingginya dengan Eunhyuk. Tangan kiri dan kanannya memegang tiang-tiang kecil berukiran di pagar itu.

"Miss me?"

Air mata Eunhyuk mengalir, tak bisa ditahan lagi. Ia mengangguk dan ingin sekali memeluk Donghae, namun karena tangannya yang terlalu penuh, ia tak bisa memeluknya.

"H-hae... ini... terlalu dekat..." ucap Eunhyuk gugup dengan wajah merona malu, begitu baru menyadari posisi mereka yang membuat Eunhyuk sedikit terhimpit. Donghae tersenyum, "Memang kenapa? Kita sudah biasa kan?"

"T-tapi kali ini berbeda... dan kau juga belum menjelaskan tentang Donghae dan Aiden!"

Donghae yang gemas melihat tingkah laku Eunhyuk yang malu-malu kucing itu, langsung mengecup singkat bibirnya. "Kau cantik seperti itu chagiya. Ah, kujelaskan di dalam nanti. Mau pintu ini dibuka kan?" tanyanya.

Eunhyuk mengangguk.

"Kalau begitu, jawab pertanyaan itu."

Eunhyuk mengernyitkan alisnya bingung. "Pertanyaan apa Hae?"

"Seluruh pertanyaan yang ada di cokelat itu."

"Hmm?" Eunhyuk melihat cokelat di keranjang itu dengan teliti satu-satu. "Wanna... go... date... w..i...t...h..." Eunhyuk terlihat kebingungan. Namun sedetik kemudian, ia baru tau kata terakhirnya. Kata terakhir yang dimaksud... yang Kyuhyun bilang, akan muncul dengan sendirinya...

Eunhyuk mengangkat(?) kepalanya, menatap Donghae yang tengah merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum. "So, wanna go date with me?"

Dengan senyum malu-malu, Eunhyuk mengangguk. Donghae segera membantu Eunhyuk membawa barang-barangnya, lalu membuka pagar taman.

Eunhyuk yang baru melangkahkan kakinya ke dalam taman, terperangah. Taman di dalam taman ini lebih terlihat seperti taman mawar. Beratus-ratus bunga mawar merah, putih, dan merah muda memenuhi sisi tembok. Di tengahnya, terdapat satu meja berbentuk persegi panjang berwarna putih, dengan 2 kursi di sudut-sudutnya. Diatas meja, sudah disajikan banyak makanan, beserta satu set cangkir teh dan tekonya. Tak jauh di belakangnya, ada banyak balon-balon gas, yang bertulisan 'I Love You Forever, Lee Hyuk Jae.'

"Ayo, duduklah princess."

~Searching for a Pure Love~

"Merry Christmas and Happy New Year semua~"

"Hae, suaramu terlalu keras! Aku malu tau!"

Donghae menutup mulutnya agar bungkam, lalu mencubit pipi Eunhyuk gemas. "Ahaha, mianhae chagiya."

Leeteuk yang melihatnya, hanya bisa tersenyum bahagia. Tingkah laku mereka itu terlalu manis untuk tidak diberi senyuman.

"Sudah, sudah. Lebih baik kita mulai makan sebelum hidangannya menjadi dingin!" ajak Kangin. Yang lain pun hanya mengangguk dan memulai makan malam mereka.

Makan malam? Yap, Eunhyuk dan Donghae, beserta dengan keluarga mereka, berkumpul merayakan Natal dan tahun baru bersama. Sekalian membicarakan hubungan mereka. Siapa yang tau, ternyata orang tua Donghae dan Eunhyuk dulu adalah rekan kerja, yang sudah lama tak berjumpa. Awalnya Eunhyuk ingin mengajak Sungmin, Ryeowook, dan semua teman-temannya, tapi mereka menolak, karena mengadakan acara sendiri malam itu. Jadi, yang berkumpul hari ini adalah Kangin, Leeteuk, Seunggi, Eunhyuk, Donghae, dan Jinyoung. Choco juga sebenarnya ikut, tapi sedang tertidur dipangkuan Jinyoung.

Lantas, kemana eomma Donghae?

Maaf, tapi eommanya sedang di luar negeri bersama dengan hyung Donghae, Lee Donghwa, sibuk dengan pekerjaannya. Padahal mereka ingin sekali berkumpul bersama, tapi sebagai desainer terkenal, mereka dituntut untuk menuntaskan desainnya dan melihat fashion show spesial Natal. Agak mengecewakan sih, tapi Donghae dan yang lainnya bisa memakluminya.

"Ehm... jadi kapan kau mau melamar atau menikahi Hyukkie?" tanya Kangin, langsung ke intinya. Membuat Eunhyuk tersedak minuman. Jinyoung membantu menepuk punggungnya.

"Appa! Kita masih sekolah!" protes Eunhyuk.

"Appa Donghae juga sudah menanyakan ini sebelumnya kepadaku kok. Iya kan?" tanya Kangin kepada Seunggi. Seunggi mengangguk sambil tersenyum.

"Kalian kan setahun lagi sudah lulus, paling tinggal melanjutkan kuliah. Dan sepertinya urusan kuliah bisa dikesampingkan dulu." ujar Seunggi sesat.

"Dan eomma sebenarnya dari dulu ingin sekali menggendong cucu, secepatnya. Makanya waktu itu eomma minta kamu membawa pulang pacarmu Hyukkie-ah." sambung Leeteuk.

"Ehm... mian ahjumma, ahjussi-"

"Panggil kami appa dan eomma." sela Kangin.

"Iya, appa dan eomma. Ehm... sebenarnya beberapa waktu lalu aku sempat menanyakan ini kepada Hyukkie, tapi dia menolaknya."

Kangin dan Seunggi reflek memukul meja, membuat Eunhyuk dan Jinyoung kaget setengah mati.

"WAE? Kenapa Hyukkie-ah? Padahal kami sudah menaruh harapan besar." ujar Kangin kecewa. Entah mengapa, Eunhyuk jadi agak bersalah.

"Eum... kita kan masih sekolah, appa."

"Tapi kan kalian bisa menikah diam-diam." sahut Leeteuk. Entah mengapa pembicaraan kali ini semakin menyesatkan.

"Eomma! Kenapa eomma mendukung sih? Dia kan namja pervert yang pernah kuceritakan itu eomma~" rengek Eunhyuk. "Nanti kalau aku punya anak sebelum lulus gimana?"

Leeteuk menjentikkan jarinya. "Loh, bagus dong! Jadi eomma bisa lebih cepat menggendong cucu! Lagipula eomma dan appamu sudah tau tentang kepribadian Donghae kok. Dan kami tak terlalu mempermasalahkannya selama tak terlalu menyimpang."

Ingin sekali Eunhyuk menjeduk-jedukkan kepalanya ke tembok, mendengar penuturan eommanya barusan. "Tapi eomma, sekolahku bagaimana?"

"Nanti bisa private school kok." jawab Seunggi, yang kemudian disetujui dengan diacungkannya jempol Leeteuk dan Kangin.

"Tapi aku tetap tidak mau sekarang! Nanti saja, tunggu aku lulus!"

Kangin, Leeteuk, dan Seunggi mendesah kecewa. Jinyoung sendiri hanya makan dengan diam-diam, meskipun ia agak tersenyum mendengar keributan yang menurutnya aneh itu.

"Hah, baiklah nanti kita bicarakan lagi. Sudah, kita lanjutkan makan dulu. Nanti keburu dingin sebelum habis. Jadi tidak enak."

Semuanya mengangguk dengan suasana agak sedikit menegangkan, meskipun hangat, lalu kembali melanjutkan makan malam mereka.

~Searching for a Pure Love~

"Hae, bisakah kau membujuk Hyukkie?"

Donghae sendiri hanya menggelengkan kepalanya tanda tak tau. "Memangnya ahju- appa dan eomma mau secepat itu?" tanyanya balik. Kangin dan Leeteuk mengangguk. "Setidaknya, dengan melakukan itu, eomma merasa lega karena bisa melepas Hyukkie, dan mempercayakannya kepadamu."

"Tapi seperti yang Hyukkie bilang tadi, aku namja mes-"

"Selama kalian sudah menjadi sebuah keluarga tak apa kan? Lagipula aku yakin kalau kau sebenarnya anak baik." sela Leeteuk, tersenyum. Dalam hati, Donghae mengiyakan kalimat pertama Leeteuk.

Donghae kemudian terdiam, berfikir. Tak lama kemudian, ia menjentikkan jarinya. Tanda mendapatkan ide. Ia kemudian membisikkannya kepada Leeteuk dan Kangin.

"MWO? Tapi-"

"Tenang dulu! Ini hanya rencana, bukan sungguhan kok. Masih rencana doang." ujar Donghae, menyela Kangin.

"Hah, baiklah." setuju Kangin. "Selamat berjuang, Hae-ah." Leeteuk menyemangatkan.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Author's Territory:

Mian, CLA gak ngasih preview next chapter. CLA memang labil. Haha.

Ehm... setelah membaca review kemarin... memangnya adegan kemarin parah ya? Malahan CLA ngerasa kurang banget loh feelnya ._.a Sampe ragu mau dipublish dulu apa nggak.

Ehm, mianhae kalau chap ini tidak jelas ;A; dan, adegan kirim-mengirim Eunhyuk diatas itu sedikit terinspirasi sama drama Taiwan 2007, Romantic Princess.

Dan sepertinya, chapter depan itu END ceman-ceman~ Sebagai gantinya, bakal CLA kasih pilihan pair mana yang mau dibuat side story. Tapi itu juga paling 1/ 2 chapteran paling panjang ._. Tapi kalo ada yang mau aja ya.

Cho Kyura: karakter Donghae ya? Mungkin karakter itu akan jarang banget muncul sekarang ;A; makasih :D ah, ini udah lanjut, lebih panjang dari kemarin ^^ gomawo reviewnya :D

nannaa: kalo CLA jelasin, takutnya nanti salah QAQ gomawo reviewnya :D

Lee Eun Jae: tuh, hae masih hidupkan?^^ gomawo reviewnya :D

love haehyuk: masih hidup tuh ^^ udah apdet, gomawo reviewnya :D

minmi arakida: iya tuh. Berapa banyak komik yang dia baca sampe kayak gitu ya? Haha. Udah lanjut ^^ gomawo reviewnya :D

myfishychovy: nggak mati, takutnya hyuk diambil chingu, terus pairnya ganti#plak# boong, jangan dianggep serius ._.v udah lanjut ^^ gomawo reviewnya :D

nvyptr: mungkin mata hyuk lagi rabun(?) Nih, chapter ini panjang kan? Udah lanjut ^^ gomawo reviewnya :D

nanalee: kan hyukkie gak pernah bilang mereka putus~ nggak kok, nggak parah banget. Hae cuma pingsan 5 hari *whuattt?* udah lanjut ^^ gomawo reviewnya :D

nurul. p. putri: hahaha. Iya, mungkin pabbonya hyukkie keluar selalu disaat yang tidak tepat haha #plak# Gomawo reviewnya :D

SSungMine: ohh.. hahaha. Mungkin hyukkie lupa sama yang namanya handphone saking paniknya :D udah lanjut ^^ gomawo reviewnya :D

anchofishy: emang serem. Makanya di chap 1 Hae bilang, yang ngeroyok itu cupu ._.v gomawo reviewnya :D

raerimchoi: ohhh... CLA juga suka yewook xD *gak nanya* *oke* Hmm... selamat datang di dunia suaka margasatwa! #digebukjewelfishy# Udah lanjut^^ gomawo reviewnya :D

LeelysLeelys: eum... maksudnya hae ngelakuin yang mana? ._.a Udah lanjut^^ gomawo reviewnya :D

Thanks bagi yang fav, follow, review, visitors maupun readers!

See you~