...School Of Magic...

.

.

.

Disclaimer : Naruto [Masashi Kishimoto]

Created by : Al - kun666

Rated : T

Genre : Action, Adventure, Fantasy, Martial Art, School, Sci - Fi, SuperPower, Romance and Etc.

Pairing : ?

Warning : Typo (s), Miss Typo (s), OOC, OC, Alternative Universe and Etc.

Don't like, Don't read ..

Ide ini dihasilkan oleh imajinasi otak Author sendiri, jadi harap maklum jika masih banyak kesalahan.

.

.

Summary : Kyoto Akademi, salah satu sekolah sihir terbesar dijepang, Namikaze Naruto seorang pemuda dengan minat yang kurang tentang sihir, terpaksa harus masuk sekolah tersebut karena paksaan kedua orang tuanya.

.

.

Chapter 10 : Arc "Yamata No Orōchi" bagian tiga

.

.

"Shinnou - Ojiisan !" ucap atau lebih tepatnya teriak Naruto dengan raut muka heran, heran karena seharusnya Shinnou saat ini sedang berada didesa bersama para warga lain nya.

Sedangkan pria yang dipanggil Shinnou oleh Naruto itu hanya menyeringai kecil kearah Naruto yang kini tengah memandang heran kearahnya.

"Yah sebenarnya aku benci, jika aku dipaggil dengan nama itu, kau tahu kenapa? .."

Swuusshh ..

Pria tersebut nampak menjeda kalimatnya yang tak lama kemudian dirinya melesat kearah Naruto dengan cepat.

".. karena itu bukanlah namaku"

Naruto sedikit tersentak kaget saat pria tersebut dengan cepat melakukan pukulan kearah perutnya, namun dengan refleks yang ia punya Naruto dengan cepat menggeser tubuhnya kesamping untuk menghindari pukulan orang tersebut.

Duakhh .. Sett ..

Hal yang sama sekali tidak diduga oleh Naruto terjadi, pria tersebut dengan refleks yang luar biasa langsung menyikut Naruto menggunakan tangan yang tadi ia pakai untuk melancarkan pukulan kearah Naruto, sehingga membuat Naruto terseret beberapa meter kesamping.

Naruto kembali melompat, namun kali ini kebelakang saat dirinya melihat pria tadi kembali melayangkan pukulan lurus kearahnya.

Wuusshh .. Dakk ..

Pria tersebut nampak sedikit tersentak kaget saat Naruto berhasil menahan pukulan pria tersebut menggunakan kaki kiri nya.

Dengan cepat Naruto mengaitkan kaki kanan nya ke leher pria tersebut, dan dengan sekuat tenaga membantingnya ketanah.

Wuusshh .. Braakk ..

Bukan nya sukses membanting pria tersebut, Naruto malah terlempar dan menabrak pohon dengan keras saat pria tersebut dengan cepat menahan kakinya lalu melemparkan Naruto dengan keras.

"Kau cukup lincah juga ternyata, tapi jika kau menghalangi rencanaku, kau akan mati"

"Naruto !"

Drapp .. Drap .. Drapp ..

Terdengar suara teriakan yang disusul dengan suara langkah kaki banyak orang, datang ke tempat tersebut.

Dan tak jauh dari tempat Naruto, muncul Shinnou dan juga beberapa warga yang kini tengah mematung disana saat mereka melihat sosok yang sangat mirip dengan kepala desa mereka, Shinnou.

Naruto sendiri hanya mengernyit bingung, oke sebenarnya ini ada apa, dia sama sekali tidak mengerti, Shinnou ada dua? jangan bercanda.

Sedangkan pria yang tadi jadi lawan Naruto kini hanya menyeringai kecil saat melihat sosok yang sangat ia kenal.

"Lama tidak bertemu Ainiki"

Perkaataan sosok tersebut membuat semua orang disana tersentak kaget, Shinnou sendiri hanya menunduk diam menyembunyikan ekpresi yang ada diwajahnya, nampaknya dia tidak mau menatap wajah kembaran nya itu.

Tunggu dulu, kembar? ya mereka berdua adalah kembar, Shinnou sendiri hanya lahir 2 menit lebih dulu dari adiknya, dulu mereka hidup rukun di desa, sampai suatu kejadian mengubah segalanya.

Flashback On ..

Terlihat disebuah desa yang berada di kaki pegunungan Hiei, dua orang anak laki - laki yang kira - kira berumur 12 tahun tengah bermain di pinggir sungai kecil, dan dilihat dari manapun, kedua anak tersebut memiliki penampilan yang sama, mulai dari wajah, warna mata, bahkan warna rambut mereka juga sama, yang membedakan hanyalah tinggi badan yang salah satunya terlihat lebih pendek.

"Hei Temujin, jangan main air disana"

"Disini seru Shinnou - Nii"

Shinnou kecil hanya menghela nafasnya pelan saat adiknya Temujin bermain di tengah sungai, yah meskipun memang sungainya dangkal tapi tetap saja sebagai seorang kakak dirinya khawatir pada adiknya.

"Hei Shinnou, Temujin !"

Terdengar sebuah teriakan yang memanggil kedua kakak beradik itu, dan keduanya kemudian menoleh keasal suara, dan mereka dapat melihat teman mereka yang mempunyai rambut hitam jabrik tengah berlari kearah mereka sambil tersenyum lebar.

"Oh Tazuna, kemana saja kau?"

Shinnou segera mengeluarkan suaranya dan bertanya kepada Tazuna yang kini sudah sampai didepan nya sambil terengah - engah karena berlari.

"A-ahaha, aku tadi baru saja selesai membantu ayahku di ladang"

"Kau memang rajin Tazuna, tidak seperti Temujin"

"Heii aku dengar itu Nii - san"

"Hahaha"

Ketiganya tertawa bersama sambil bermain disana, saat itu ketiganya terlalu asyik bermain hingga tak terasa hari sudah mulai sore.

"Temujin, Tazuna, ayo kita pulang, aku rasa ayah akan mencariku dan Temujin kalau aku terus bermain disini, kau juga pasti dicari ayahmu Tazuna"

"Yah baiklah"

Tazuna menjawab dengan santai, berbeda dengan Temujin yang hanya mengangguk dengan wajah lesu miliknya.

"Kita akan bermain lagi besok oke"

"Umm baiklah Nii - san"

Shinnou tersenyum kecil melihat adiknya, tak lama kemudian ketiganya mulai berjalan kearah desa, dan diperjalanan banyak diantara penduduk yang menyapa mereka terutama Shinnou dan Temujin.

Mereka berdua adalah anak dari kepala desa disini, jadi tidak mengherankan jika perlakuan penduduk sedikit berbeda pada mereka, pada hakekatnya begitalah manusia, jika kau memilili derajat atau kedudukan tinggi, maka kau akan dihormati, tapi sebaliknya, jika kau tidak mempunyai kedudukan yang tinggi, orang - orang hanya akan memandangmu sebelah mata.

"Ne Nii - san, kau tahu aku bisa melakukan hal yang hebat"

"Hebat? hebat seperti apa Temujin?"

Shinnou nampak mengangkat sebelah alisnya sambil memandang Temujin yang kini nampak terlihat lucu dengan wajah bangga khas anak 12 tahun.

Sedangkan Temujin sendiri hanya tersenyum kecil alu mulai mengambil kuda - kuda tidak jelas.

"I wash strong steel"

"Would not be defeated by anything"

"Because i wash the strongest"

"Body Magic : The Blow Of Destruction"

Wuusshh ..

Setelah melafalkan mantra nya, muncul aura biru di kedua tangan Temujin, dan tentu saja itu membuat shock para penduduk yang melihatnya, terutama Shinnou sendiri.

Sudah bukan hal lumrah lagi jika di desa Futtohiruzu ini penyihir itu dianggap sesuatu yang jahat, karena pada dasarnya desa ini sedikit tertutup dengan dunia luar, jadi mereka hanya tahu kalau penyihir itu adalah orang yang bermaksud jahat dan pembawa malapetaka, dan tentu saja melihat Temujin bisa menggunakan sihir membuat semua orang disana shock bukan main.

"T-temujin kau .."

Temujin memandang Shinnou yang menatap kaget kearahnya dengan heran, Temujin sendiri memang tidak tahu tentang pendapat penduduk desa pada penyihir, tapi beda lagi dengan Shinnou, Shinnou bahkan pernah mendengar pembicaraan ayahnya dengan salah satu tetua desa yang isi pembicaraan nya adalah membunuh penyihir yang ditemukan didesa ini.

"HILANGKAN ITU SEKARANG JUGA TEMUJIN !"

Temujin tersentak kaget saat tiba - tiba kakaknya membentaknya dengan raut muka marah bercampur panik, Temujin yang memang pada dasarnya tidak mengerti hanya diam terkejut sambil menatap bingung para penduduk desa yang menatap benci dan takut kearahnya.

"N-nii - san, a-apa yang t-"

"Tangkap Temujin sekarang juga"

"Dia penyihir, desa ini akan terkena musibah"

"Aku tidak peduli dia anak kepala desa atau bukan, dia harus segera dimusnahkan"

Temujin yang perkataan nya belum selesai menatap shock beberapa penduduk desa yang menatap marah kearahnya, tak lama kemudian para penduduk mulai mengelilingi Temujin untuk menangkapnya.

"T-tidaakk, m-menjauh dariku !"

Duakhh .. Duakkhh ..

Shinnou melotot kaget dengan apa yang terjadi didepan nya, begitu pula para penduduk desa yang melihat kejadian tersebut, Temujin yang panik karena dikepung mengayunkan tangan nya kesembarang arah dan itu sukses membuat beberapa penduduk yang terkena pukulan nya terlempar beberapa meter dalam keadaan pingsan.

"D-dia monster !"

"C-cepat panggil kepala desa, bilang padanya kalau Temujin mengamuk"

Para warga desa nampak menjauh dari Temujin dengan sedikit panik, Shinnou sendiri hanya menatap kejadian tersebut dengan ekspresi kaget yang terlihat dengan jelas di wajahnya.

Drapp .. Drapp ..

Tak lama kemudian kepala desa dan juga beberapa tetua desa datang dengan raut wajah panik.

"Mana Temujin?!"

Kepala desa bertanya dengan nada yang lumayan tinggi, para warga hanya menunjuk kearah Temujin yang tak jauh dari mereka.

Dan saat kepala desa mengalihkan pandangan nya, dirinya hanya bisa melotot kaget saat melihat aura berwarna biru yang berada di kedua tangan Temujin.

Kepala desa nampak melirik sejenak para tetua yang kini juga tengah memperhatikan Temujin, tak lama kemudian dirinya menggigit bibir bawahnya.

Dirinya tidak akan bisa mengelak lagi sekarang, kekuatan Temujin sudah diketahui semua warga desa begitupula para tetua, dirinya memang sudah tau perihal kekuatan Temujin dan dirinya juga sudah memperingatkan Temujin untuk tidak menunjukan nya pada siapapun, bagaimana pun Temujin itu adalah anak kesayangan nya, dia tidak akan membiarkan Temujin dihukum mati.

"Kepala desa, Temujin harus dihukum mati ! dia adalah penyihir ! terlebih lagi, dia juga sudah membuat beberapa warga desa terluka"

"Ya itu benar ! bunuh Temujin !"

"Dasar penyihir ! bila nanti sudah besar kau pasti akan menghancurkan desa ini kan !"

"Aku tahu ini berat bagimu untuk menghukum anakmu sendiri, tapi ini demi desa kita juga, Kenzō"

Kenzō nampak tertekan karena para warga dan tetua nampak menyudutkannya untuk menghukum mati Temujin.

Bruukk ..

Pikiran Kenzō lenyap seketika, dan digantikan oleh ekspresi khawatir saat melihat Temujin yang tiba - tiba ambruk pingsan, mungkin karena kehabisan Mana, dan tanpa aba - aba lagi, Kenzō langsung berlari kearah Temujin dan memeluknya dengan erat.

"Apa kalian tega mau menghukum anak sekecil ini?!"

Kenzō nampak berteriak keras pada para warga dan juga tetua yang dari tadi terus berteriak hal yang membuatnya naik darah.

"Penyihir itu tetaplah penyihir Kenzō ! desa ini akan dalam bahaya jika kita membiarkan ada penyihir yang tinggal didesa ini"

Kenzō nampak menggeram marah atas jawaban yang dilontarkan oleh salah satu tetua desa.

"Baiklah, aku akan menghukum Temujin, besok datanglah kerumahku, aku akan mengurungnya di gudang, untuk sekarang biarkan dia beristirahat"

"Baiklah, kami pegang ucapanmu Kenzō"

...xxXxx...

Pada malam hari, di suatu rumah bergaya tradisional, terlihat lampu menyala terang di salah satu ruangan di rumah tersebut, dan di dalam ruangan tersebut terlihat satu orang pria dewasa dengan rambut hitam dan satu anak kecil berambut pirang pucat tengah duduk berhadap - hadapan.

"Shinnou, Tou - san ingin mengatakan sesuatu padamu"

"Mengatakan apa Tou - chan?"

Kenzō nampak tersenyum untuk sejenak, yang tak lama kemudian mata kuning miliknya menatap sendu kearah Shinnou.

"Besok bawalah adikmu ke hutan, jangan biarkan dia datang ke de-"

Braakk ..

"A-apa maksudnya itu Tou - chan?! kau mengusirku?!"

Perkataan Kenzō terputus kala pintu ruangan tersebut terbuka dan menampilkan Temujin yang kini menatap marah padanya.

"Dengarkan Tou - chan dulu Temu-"

"Aku tidak mau mendengar apa - apa lagi dari Tou - chan ! aku benci Tou - chan !"

Braakk ..

"Temujin !"

Shinnou memanggil Temujin dengan suara yang tersirat dengan kemarahan saat Temujin kembali memotong ucapan ayahnya lalu menutup pintu ruangan dengan kasar.

"Biarkan saja dia Shinnou, kurasa memang lebih baik dia membenciku"

Kenzō nampak tersenyum kecut pada dirinya sendiri, ia nampaknya sudah gagal menjadi seorang ayah, tapi meskipun anaknya kini membencinya, sebagai seorang ayah, dia akan selalu melindungi anak - anak nya.

"Besok, jika para warga kesini, bilang pada mereka kalau Temujin ada di gudang"

"Bukankah Tou - chan tadi menyuruhku untuk membawa Temujin ke hutan dan tidak membiarkan nya kembali ke desa?"

Shinnou nampak bertanya dengan ekspresi bingung di wajahnya, ayahnya sungguh membuatnya bingung.

Sedangkan Kenzō yang melihat raut wajah bingung Shinnou hanya tersenyum kecil.

"Yah memang, dan Tou - san ingin kau menjaga Temujin dengan baik nantinya"

Kenzō nampak tersenyum tulus sambil mengelus surai pirang pucat anaknya.

"Sekarang, temuilah Temujin dan pagi - pagi sekali bawa pergi Temujin ke hutan, lalu kau harus kembali kesini sebelum para warga datang, dan katakan kalau Temujin sedang dikurung di gudang, oke?"

"Umm oke Tou - chan"

Kenzō tersenyum kecil mendengar jawaban Shinnou, namun tak lama kemudian matanya menatap sendu Shinnou.

'Maafkan Tou - chan, Shinnou, Temujin, semoga kalian berdua baik - baik saja'

Kenzō tersenyum kecut, rencananya ini mungkin bisa menyelamatkan kedua anaknya, meskipun itu artinya dia harus mengorbankan nyawanya.

"Baiklah Tou - chan, kalau begitu aku akan menemui Temujin dulu"

Kenzō hanya tersenyum lalu mengangguk kecil sebagai jawaban atas perkataan Shinnou, Shinnou yang melihat ayahnya mengangguk kemudian berdiri, dan berjalan keluar ruangan untuk mencari Temujin.

...xxXxx...

"Temujin ?"

Temujin yang sedang duduk diteras rumah sambil memeluk lututnya sendiri sedikit tersentak kaget saat Shinnou yang tiba - tiba memanggilnya dari belakang.

"N-nii - san? apa karena aku penyihir Tou - chan jadi mengusirku? a-apa Nii - san juga membenciku?"

"Tentu saja tidak baka - outoto, Tou - chan melakukan itu karena dia sangat menyayangi kita"

"B-benarkah?"

"Tentu saja"

Temujin menatap kakaknya dengan mata yang berkaca - kaca, tapi setahu Temujin, kakaknya ini tidak pernah berbohong padanya.

Shinnou sendiri hanya tersenyum kecil melihat Temujin.

Drapp .. Drapp .. Drap ..

"Kenzō ! serahkan Temujin sekarang juga !"

Temujin dan Shinnou saling pandang untuk sejenak saat mereka mendengar suara langkah kaki banyak orang, disusul dengan teriakan yang menurut mereka adalah kabar buruk.

"Bukankah sudah kubilang besok ?!"

Shinnou dan Temujin kembali saling pandang saat indra pendengaran mereka menangkap suara ayah mereka.

"Ayo lari Temujin"

"T-tapi Nii-"

"Tidak ada tapi - tapian, ayo cepat"

Temujin hanya diam saat Shinnou menarik tangan nya dan membawanya lari ke belakang rumah.

"Biarkanlah dia istirahat untuk sekarang, kalian mengerti perasaan ku kan? aku hanya ingin menikmati malam terakhirku bersama anakku saj-Aarrrghhh !"

"Banyak bicara kau Kenzō !"

Temujin memberhentikan langkahnya dengan cepat saat mendengar teriakan kesakitan ayahnya, dia yakin kalau ayahnya kini sedang dalam bahaya.

"Apa yang kau lakukan Temujin?! ayo cepat pergi !"

"T-tapi Tou - chan ?!"

"Tou - chan pasti baik - baik saja, ayo cepat !"

Shinnou kembali menarik tangan Temujin untuk berlari, dirinya mencoba meyakinkan kalau ayahnya pasti akan baik - baik saja, meskipun dirinya juga tak kalah khawatirnya dengan Temujin.

"Dobrak pintunya sekarang !"

Braakk ..

Temujin memandang kebelakang dengan was - was, dirinya bisa dengan jelas mendengar suara dobrakan pintu didepan, disusul dengan banyak suara langkah kaki.

Ckk .. Ckkk ..

"Sialan !"

Shinnou mengumpat kasar saat pintu belakang rumah terkunci, dan parahnya lagi, dia tidak membawa kuncinya sama sekali.

"N-nii - san ? bagaimana ini?!"

Temujin nampak bertanya pada Shinnou dengan raut wajah takut, Shinnou sendiri sebenarnya tak kalah takutnya dengan Temujin, tapi prioritas utamanya sekarang adalah melindungi Temujin terlebih dahulu.

Mata Shinnou menatap kesegala arah untuk mencari tempat persembunyian, dan matanya berhenti pada sebuah kardus bekas yang lumayan cukup muat untuk satu orang, dengan cepat Shinnou mengambil kardus tersebut dan membawanya kepada Temujin.

"Cepat pakai ini, dan apapun yang terjadi jangan keluar oke? keluarlah jika para warga sudah pergi"

"T-tapi Nii - san bagaimana?"

"Mereka hanya mencarimu, Nii - san akan baik - baik saja"

Shinnou tersenyum kecil kepada Temujin untuk menanangkan nya, tak lama kemudian Temujin mengangguk mengiyakan lalu masuk kedalam kardus yang tadi dibawa Shinnou.

Draapp .. Drapp .. Drapp ..

"Akhirnya, ketemu juga kau penyihir kecil !"

Shinnou membalikan badan nya, dan menatap dalam diam kumpulan warga yang kini menatapnya dengan berbagai macam tatapan.

"Tunggu dulu, kau Shinnou atau Temujin?!"

Salah satu tetua desa yang ikut kesana nampak bertanya dengan raut wajah bingung, para warga juga ikut menatap bingung Shinnou.

"U-umm a-aku bukan Temujin !"

Shinnou berkata dengan nada gugup kemudian berlari kearah pintu belakang dan mencoba membukanya, meskipun dia tahu itu dikunci.

Temujin sendiri kini hanya menatap bingung tingkah kakaknya, sudah jelas kalau pintu tersebut terkunci, karena mereka sudah mencobanya tadi, tapi sekarang kakaknya dengan gugup dan panik berlari kearah pintu tersebut dan mencoba membukanya, tak lama kemudian Shinnou diam - diam mengoleskan tanah ke dada kirinya.

Mata Temujin seketika membulat saat dirinya menyadari sesuatu dengan tingkah kakaknya.

'Ja-jangan - jangan ...'

"Tangkap dia, dia Temujin !"

Para warga seketika langsung berlari kearah Shinnou saat Shinnou bertingkah mencurigakan.

Greepp ..

"Buka bajunya, kudengar Temujin memiliki tanda lahir seperti bekas kotor tanah di dada kirinya"

Mata Temujin membulat dengan cepat, benar dugaan nya, kakaknya mencoba melindunginya dengan menjadi dirinya, sekarang dia tahu kenapa kakaknya tadi bertingkah mencurigakan, itu disengaja.

Breett ..

"Lihat, ada bekas seperti kotor tanah didada kirinya, dia benar - benar Temujin !"

Tetua desa yang merobek baju Shinnou nampak berteriak senang, tak lama kemudian tetua desa tersebut mengambil katana dari salah satu warga.

"Selamat tinggal penyihir kecil, semoga kau mati dengan tenang"

Temujin ingin berteriak keras saat tetua tersebut mengangkat katana yang dipegangnya keatas, mencoba memenggal Shinnou, tapi raut muka Shinnou yang seolah berkata 'tidak boleh' itu membuat suara Temujin tercekat ditenggorokan.

Jrasshh ..

Mata Temujin membulat seketika saat dirinya melihat kakaknya dipenggal didepan mata kepalanya sendiri oleh salah satu tetua desa, suaranya tercekat ditenggorokan saat melihat kepala kakaknya yang sedang tersenyum itu menggelinding tak jauh dari kardus tempatnya bersembunyi, darah nampak merembes di tubuh tak berkepala Shinnou.

Brruukk ..

Tubuh tanpa kepala tersebut ambruk dengan darah yang menggenang di sekitarnya, para warga nampak memandang kejadian itu dengan ekspresi yang sulit diartikan, sedangkan tetua desa yang memenggal kepala Shinnou hanya menyeringai kecil.

"Buang mayatnya keluar desa, desa ini akan dalam bahaya jika ada mayat penyihir di desa ini"

Tetua desa tersebut nampak memerintahkan beberapa warga untuk membuang mayat Shinnou, dan tak lama kemudian para warga dan tetua desa pergi dari rumah kepala desa mereka sambil membawa mayat Shinnou.

"Sialan, sialan, SIALAN ! hiks Nii - san"

Setelah para warga dan tetua desa pergi, dengan cepat Temujin keluar dari persembunyian nya, dan bersimpuh di genangan darah milik Shinnou.

"Nii - san hiks, hiks"

Temujin menangis sambil mengelus genangan darah dibawahnya.

"NII - SAN ! hiks, sialan !"

"T-temujin?"

Temujin mengalihkan pandangan nya keasal suara dan matanya membulat saat dia melihat sosok ayahnya kini tengah berjalan dengan satu kaki diseret kearahnya, nampaknya para warga menusukan senjata tajam pada kaki ayahnya.

Temujin tersenyum kecut dengan air mata yang mengalir dikedua pipinya, keluarganya kini hancur berantakan, bahkan kakaknya mengorbankan nyawanya untuknya, dan mulai saat itulah Temujin memerankan sosok kakaknya, Shinnou.

Flashback Off ..

"Hentikan itu Amaru"

Semua mata memandang sang kepala desa mereka dengan pandangan tanya, 'Amaru? siapa itu?'.

"Apa maksudmu Shinnou - sama?"

"Heh, aku sudah menunggu selama lebih dari 20 tahun, dan akhirnya dendamku akan terbalaskan"

Para warga semakin bingung dengan tingkah laku dan perkataan yang baru saja dilontarkan oleh kepala desa mereka, terutama Tazuna yang kini memandang bingung Shinnou.

Tap .. Tap ..

Kepala desa yang mereka ketahui bernama Shinnou tersebut berjalan pelan kearah 'kembaran' didepan nya yang ia panggil Amaru.

ew

"Sudah kubilang hentikan itu Amaru !"

Mendengar bentakan dari orang yang dianggap tuan nya itu, Amaru pun menonaktifkan Body Magic miliknya, sehingga membuat seluruh tubuhnya meleleh dan mengelupas, dan tak lama kemudian sosok kembaran Shinnou tersebut berganti dengan sosok laki - laki berumur 18 tahun dengan rambut merah jabrik panjang, kulit cokelat, serta mata biru langit dengan pakaian yang masih sama seperti sebelumnya (A/N : Amaru disini saya buat bergender laki - laki).

Itu merupakan salah satu kemampuan Body Magic milik Amaru, yangbernama Transformation, Body Magic ini bisa membuat sipengguna menirukan bentuk fisik targetnya, meskipun hanya bentuk fisiknya saja yang ditiru, sedangkan kekuatan fisik tidak bisa dia tiru dan lagi sihir itu merupakan sihir yang lumayan menguras Mana.

"Baiklah, karena tujuanku sedikit lagi akan tercapai, biar kuberitahu kalian semua, kalau aku sebenarnya adalah Temujin"

Temujin menyeringai sambil menunjukan tanda lahir didada kirinya, para warga yang tahu tentang Temujin membulatkan matanya, terutama Tazuna, dirinya tidak menyangka sama sekali.

"L-lalu dimana Shinnou?"

"Hah? dimana kalian bilang? bukankah kalian yang membuang mayatnya keluar desa sialan !"

Temujin menjawab penuh murka, sedangkan para warga desa yang tahu kejadian malam itu hanya menundukan kepalanya menyesal.

Temujin terkekeh pelan melihat ekspresi 'basi' yang ditunjukan oleh warga didepan nya.

"Kalian tahu kenapa aku membawa kalian kemari?"

"..."

"Hahaha, apa kalian benar - benar berfikir kalau aku ingin mencari bocah ini?!"

Temujin tertawa keras sambil menunjuk Naruto yang berada tak jauh darinya, tak lama kemudian dirinya menyeringai pada kumpulan warga didepan nya.

"Aku mengajak kalian kesini, agar kalian bisa kujadikan tumbal untuk membuka segel Yamata No Orōchi, dan aku akan menyuruh Yamata No Orōchi untuk menghancurkan desa hahaha"

Temujin tertawa kesetanan saat mengutarakan ambisinya, sedangkan para warga hanya menatap horror Temujin, meskipun ada sebagian dari mereka yang lari dan berujung pada kematian karena dibunuh Oni yang tiba - tiba muncul.

"Tapi sebelum itu, biar kuperlihatkan apa itu sihir pada kalian"

"Iam the strongest and the fast"

"Body Magic : Speed Up"

Blaarr ..

Tercipta sebuah ledakan kecil di sekitar Temujin, diikuti dengan aura biru yang nampak keluar dari lingkaran sihir dibawahnya.

Rambut kuning kusam Temujin nampak berkibar liar, Amaru sendiri kini sudah sedikit melompat jauh dari Temujin.

inSwuusshh ..

Temujin menghilang dari tempatnya dengan cepat, dan muncul di depan salah satu seorang warga, tanpa aba - aba Temujin langsung mencekik leher warga tersebut dan mengangkatnya keatas.

"Ughh-Arrghhh"

Kraakk ..

Warga tersebut nampak meronta - ronta, yang tak lama kemudian berteriak kesetanan saat lehernya dipatahkan oleh Temujin.

Jraashh .. Dukk ..

Kepala yang tadi berteriak kesetanan tersebut nampak terlepas dari tubuhnya saat Temujin mengeratkan cekikan nya dan membuat leher tersebut putus.

Bruukk ..

Dengan santai Temujin melemparkan tubuh tak berkepala itu ke arah altar batu tak jauh darinya, danseperti yang sudah - sudah, altar batu yang dihiasi pentagram sihir tersebut bersinar terang lalu menghisap tubuh tersebut.

Dan dengan tubuh dan wajah yang dinodai oleh darah, Temujin menyeringai keji kearah para warga.

"Baiklah, siapa selanjutnya?!"

...xxXxx...

To Be Continued ..

A/N : Yo minna, yah chap ini masih pendek seperti sebelum - sebelumnya, maaf deh, author lagi ruwet sama Real Word, oh ya, ada yang nanya kalau Ladon sama Yamata No Orōchi itu dari DxD? saya sih gatau ya, tapi saya sendiri ambil Yamata No Orōchi sama Ladon itu dari Mitologinya masing - masing.

Dan maaf buat yang reviewnya tergolong ke spoiler ga bakal saya jawab, makasih juga buat pembaca setia saya, tentu saja nanti kalau udah end fic ini, balal saya cantumkan para pembaca setia yang selalu dukung saya.

Makasih buat dukungan nya, buat fav, foll, review dan juga makasih buat yang udah baca fic ini.

Silahkan kasih kritik dan saran nya buat chap ini ..

See you next chap ..