Title: Reborn—chap 10. Owuooooo~ jengjeng. ouwowowowo~ jengjeng *buak!

Disclaimer : Gundam Seed – Destiny punyanya bandai dan Sunrise. Ane pinter kan? *digampar*

A/N : ayeaye~ akhirnya bisa apdet jugaaaa! yeah! XD udah berapa lama ya kalo d itung-itung? *ngitungin jari* ah sudahlah. yang penting sekarang udah apdet. hehehe ini pertama kalinya ane apdet d warnet lho~ haha. curi2 kesempatan selagi main ke rumah sodara gimana gitu *kok jadi curcol gini?*

oke, readers. terima kasih sebanyak-banyaknya telah mengikuti cerita abal saya ini sampai sekarang *bow*. mohon bersabarlah karena chapter kali ini lumayan panjang. saya sampe pusing sendiri. Nah, terima kasih juga untuk para reviewers yang sudah menyemangati dan membangun saya selama ini. Gak terkecuali pokoknya makasih semua! n

oke, akhir kata, Enjoy please! ^^

.


.

"Dengan ini kau akan mengerti, jangan main-main dengan kami."

Kalimat itu terdengar jelas di telingaku yang bising. Aku bangkit dan menggoyangkan pelan badan Nona Cadrid. Dingin, adalah yang kurasakan begitu tanganku menyentuhnya. Aku tersentak. Mataku menangkap sesuatu yang mulai mengalir dari punggungnya dan menetes ke lantai. Kucelupkan jariku ke sana dan sesuatu berwarna merah menempel.

Darah? Ini darah... Nona Cadrid...?

Dadaku terasa sesak. Kuangkat sedikit kepalaku dan melihat orang-orang berseragam yang tadi panik sekarang diam melihatku. Orang yang bicara tadi juga diam, masih memegang pistolnya yang berasap. Mataku melihat ke arah lain, ke arah orang berseragam lain yang entah kenapa ekspresinya terlihat aneh. Walau samar bisa kulihat bibirnya bergetar dan ada yang berkaca-kaca di balik goggle-nya, seolah menahan tangis atau sesuatu. Kenapa? Memangnya dia siapa? Ah..

Aku lupa, dia Meyrin. Yaya, Meyrin yang menyamar. Kenapa dia menangis?

Pandanganku kembali ke Nona Cadrid yang masih tergeletak. Kenapa punggungnya mengeluarkan darah?

Tiba-tiba semuanya berubah menjadi hitam. Gelap, tak ada ruang dan tanda-tanda waktu berjalan. Kosong seperti ruang hampa.

.


.

"Dia ditembak, bodoh. Dorr! Dorr! Seperti yang biasa kau lakukan dulu. Menembaki orang-orang."

Suara? Sepertinya pernah kudengar di suatu tempat. Mm.. koridor? Aku bisa melihat seseorang berambut biru yang sedang menyeringai tiba-tiba muncul dan berdiri di depanku. Mirip denganku. Atau itu aku? Aku ada dua?

"Jangan berpikir yang sulit-sulit. Kuberitahu saja, aku adalah kau. Kau di masa lalu. Menyenangkan bukan? Bisa berbincang-bincang seperti ini padahal kita satu individu," katanya lagi dengan santai.

"Aku di masa lalu? Oh, apa kau yang menampilkan bayangan-bayangan itu selama ini?"

"Tidak. Pikiranmu sendiri yang membuatku muncul lagi setelah pergi sebentar. Lupakan saja, terlalu rumit kalau harus dijelaskan." Ia berjalan memutar ke belakangku lalu berbisik, "Tadi kau lihat wanita itu, 'kan? Wanita yang ingin kau panggil ibu? Sekarang dia mati. Ah, apa kau ingat kalau dulu kita juga punya 'ibu'? Dia juga mati," tanyanya sambil merangkul leherku pelan.

"Ibu?" Sekelebat bayangan wanita pirang berjas putih muncul. Di bibirnya terukir senyum sendu. "Ah, jadi dia 'ibu-ku'?"

"Tidak. Dia 'ibu-ku' karena dia hidup di masa lalumu. Tapi baiklah, karena aku sayang padamu jadi kuperbolehkan dia jadi 'ibu-mu' juga. Kau tahu kenapa dia terbunuh? Semua itu karenamu—kita! Karena dia melindungi kita! Dan kenapa Nona Cadrid tersayangmu itu juga mati? Karena kau tidak mendengarkanku!"

"Tidak mendengarkanmu? Nona Cadrid mati?"

Ia menghela nafas berat lalu kembali jongkok di depanku. "Ya, waktu itu sudah kubilang, bunuh mereka semua! Kau tidak mengacuhkanku dan lihat apa yang terjadi. Mungkin sebentar lagi pacarmu itu yang terbunuh."

"Pacar?"

"Meyrin Hawke itu. Yang sedang menyamar. Kalau menurut dugaanku sih, pada saat genting—yaitu saat giliranmu yang dieksekusi—dia akan maju untuk melindungimu, sama seperti yang dilakukan ibu. Akhirnya pun pasti sama, mati. Lalu kemungkinan yang tersisa hanya dua: kau akan langsung dibunuh juga, atau dibiarkan tercengang begitu saja melihat orang-orang yang kau sayangi terbunuh di depan mata. Lihat saja dirimu sekarang, kau seperti orang idiot yang tidak bisa berpikir."

Aku memejamkan mataku sejenak. Benar, orang ini benar. Kematian mereka berdua karena melindungiku. Nyawaku yang tidak berharga ini, kenapa harus dilindungi? Kalau sampai Meyrin melakukan hal yang sama... tidak boleh! Dia tidak boleh terlibat lebih dalam! Meyrin tidak boleh mati!

"Yaya~ bisa kubaca dengan jelas isi hatimu. Kau tidak boleh membiarkannya mati seperti Stellar. Jangan lakukan hal sama yang membuatku menyesal sampai sekarang...," gumamnya sambil memeluk badannya sendiri. Mimik wajahnya melunak. Sorot matanya sendu dan seringainya berganti senyum sedih.

Aku tersentak begitu merasakan hawa dingin di sekeliling tubuhku. Bayangan seorang gadis berambut pirang yang sedang tersenyum terlihat jelas. Saat-saat si gadis pergi diam-diam ke gundamnya dan dihancurkan oleh gundam yang lain. Aku meremas dadaku yang terasa makin sesak. Ya, sekarang aku ingat kejadian itu. Karena dengan bodohnya aku mengalami shock dan mengucapkan kata-kata tabu untuknya, membuatnya tak bisa berpikir sehat dan memilih pergi ke sisi pelindungnya, Shinn Asuka. Dan mati.

"Karena itu kita tidak boleh membiarkan Meyrin Hawke mati. Tidak untuk menyesal lagi. Kau juga punya perasaan padanya, 'kan?" balasnya dengan tatapan lurus padaku.

Aku hanya diam dan menundukkan kepalaku dalam-dalam. Perasaan? Apakah itu sama seperti yang kurasakan pada Stellar dulu?

Tiba-tiba tangannya lagi di leherku. Dan ia mulai berbisik lagi, "Bunuh mereka. Kalau kubilang bunuh, bunuh. Jangan beri mereka kesempatan untuk hidup karena asal kau tahu saja, bantuan itu adalah panggilan dari mereka yang terluka. Karena itu, kematian Nona Cadrid adalah salahmu. Karena kau tidak benar-benar menghabisi mereka."

"Bunuh? Harus benar-benar dibunuh?" tanyaku ragu.

"Ya, harus. Atau akan ada korban lain. Setelah pertemuan ini kau akan ingat dirimu di masa lalu dan saat itu kau akan tahu kekuatanmu yang sebenarnya. Membunuh itu menyenangkan, Auel. Tanamkan itu di kepalamu. Mengerti?" ulangnya lagi, kembali terukir seringai aneh di bibirnya.

Tiba-tiba muncul cahaya bermacam warna di sekelilingku. Cahaya dari beberapa potongan kejadian di masa lalu seperti potongan film pendek. Saat bersama dengan Sting dan Stellar. Saat kami memata-matai pasukan Zaft. Saat kami bersiap menuju gundam masing-masing di ruang tunggu. Saat aku pertama kali bertemu ibu. Saat ia memelototiku karena nakal. Saat ia tertawa lebar di depanku. Saat ia meronta dan terbunuh di depan mataku. Saat-saat indah sekaligus menyakitkan. Ya, aku mengingatnya. Semuanya.

"Mengerti."

Kubuka lagi mataku dan diriku yang satunya menghilang. Bayangan-bayangan itu pun lenyap berganti dengan dunia nyata yang harus kuhadapi sekarang.

.


.

Meyrin POV

Tidak. Ini tidak mungkin terjadi. Aku tidak percaya. Aku tidak mau percaya. Nona Cadrid… dia.. dia..

Tidak, aku tidak boleh menangis. Air mata ini tidak boleh tumpah. Kalau ada yang melihatku menangisi "musuh" semuanya akan terbongkar. Aku akan dibunuh, Auel juga. Harus bertahan. Harus bisa. Mungkin setelah ini jika Auel dan aku tidak mencoba untuk melawan, mereka hanya akan menggiring Auel ke markas mereka dan menjadikannya sandera. Di saat itu aku yang akan menggiringnya dan membuatnya kabur. Ya, begitu saja, aku bodoh karena tidak sadar lebih awal.

Maafkan aku Nona Cadrid…

"Berdiri!" perintah orang yang menembak Nona Cadrid. Ia kembali menodongkan senjatanya.

Auel bergeming. Ia masih terhenyak di samping Nona Cadrid dengan wajah tertunduk. Masih terpaku dengan sosoknya yang hanya diam bermandikan darah.

Auel, cepatlah bangun! Jangan terpaku lagi. Aku mengerti kalau kau shock tapi kau tidak bisa begini terus. Kalau kau juga mati secepat itu, pengorbanan Nona Cadrid akan sia-sia. Ayolah, Auel bangun!

"Apa kau tidak dengar?" ulang pria itu lagi, menempelkan moncong pistolnya ke pelipis Auel yang masih diam. Mulai kesal, pria itu menekan-nekankan pelipis Auel kuat dengan mocong pistolnya berulang kali. Auel lagi-lagi diam. Ia lebih seperti boneka kayu yang tak bernyawa. Pria itu berdecak. "Sepertinya kau lebih ingin mati dan menyusulnya. Baiklah, kukabulkan itu," ujarnya lalu menekan pelatuk itu dalam-dalam.

Tidak!

Dorr!

.


.

Lacus POV

"Athrun! Kau dimana? Bagaimana keadaan di sana? Cagalli baik-baik saja 'kan?" cercaku panik lewat gagang telepon darurat yang ada di shelter.

Anak-anak bersama dengan paman dan Luna di sisi yang lain. Luna terus berdiri dan berjaga-jaga jika ada yang menembus ke dalam. Kurasa tidak akan ada lagi serangan lewat ventilasi udara seperti dulu karena Kira telah meminta tukang rekonstruksi kepercayaan kami untuk membangun ulang sirkulasi udara shelter agar tidak memberi celah musuh untuk masuk. Tapi bukan itu yang membuat jantungku tidak bisa berhenti berdebar sekarang.

"Tenanglah, Lacus. Cagalli baik-baik saja. Kurasa mereka tidak akan menyerang di dua tempat berbeda dalam waktu yang sama. Maaf kami lama, bagaimana keadaan di sana? Bagaimana keadaanmu?" jawabnya sengit dari seberang telepon. Suaranya terdengar tidak begitu jelas karena hembusan angin dan deru mesin yang meraung-raung.

Aku menutup mulutku. Rasa basah menjalari pipi dan mataku terasa panas. Kudongakkan kepalaku sejenak dan kukatakan, "Cepatlah datang, Athrun… Nona Cadrid… beliau… tadi ada suara dari pihak mereka, mereka bilang… Nona Cadrid sudah… beliau sudah…" Aku tidak sanggup menyelesaikannya. Ini semua salahku. Salahku salahku.

Aku sudah ingin menyerahkan diri tadi namun Kira menghentikanku. Dia bilang mungkin itu adalah perangkap agar aku keluar—aku tidak peduli dengan perangkap! Aku hanya tidak ingin orang lain terluka karenaku. Tapi Kira kembali menggeleng. Dia bilang, dia yang akan menyusul Shinn yang sudah pergi lebih dulu sekaligus memastikan apa yang terjadi. Setelah itu, dia akan menghubungiku secepat mungkin, entah bagaimana caranya.

"Lacus, dengar. Ini bukan salahmu. Semua itu mungkin perangkap. Kalau Kira juga mendengarnya, ia pasti tahu apa yang harus dilakukan. Kau jangan keluar dari shelter. Ingat, jangan keluar! Kami akan sampai dalam lima menit. Aku janji. Bertahanlah. Semuanya akan baik-baik saja. Pasti. Katakan, Lacus. Semuanya pasti…"

"…akan baik-baik saja." Aku menggigit bibir bawahku. Terima kasih, Athrun. Sugestimu perlahan bisa membuat pikiranku lebih tenang. "Athrun, terima kasih. Cepatlah datang," pintaku lagi lalu menutup sambungan.

Aku menarik nafas. Ya, aku tidak boleh berpikiran negatif terus. Kuhapus air mataku dan berbalik lagi menuju mereka.

"Tenang saja, sebentar lagi bantuan akan datang."

.


.

Waktu yang sama saat Lacus menelepon…

Shinn POV

Dorr! Dorr!

Cih, lemah. Mereka hanya menang jumlah seperti semut. Kuedarkan pandanganku ke penjuru koridor. Kosong. Sial, kenapa yang mengikuti sedikit sekali? Padahal sudah kubuat "pancingan" agar mereka mengurangi penjagaan terhadap rombongan anak laut itu, namun sepertinya ada yang menghalangi mereka. Atau mereka terlalu pintar dan menyadari pancinganku?

Entahlah, kurasa aku memang harus mengambil resiko dan menghabisi mereka semua secara langsung. Oh, aku tidak percaya aku mempertaruhkan nyawaku untuk anak laut itu—kalau Meyrin dan Nona Cadrid, sih tidak masalah.

Tapi… anggap saja ini tebusan atas kesalahanku. Ya, kesalahan yang baru kusadari saat Nona Cadrid memberitahu semuanya siang tadi saat Auel sedang tidur.

.

Flashback…

Nona Cadrid berjalan pelan lalu menghela nafas sebelum akhirnya menunjukkan sehelai baju berwarna biru-putih dengan pelindung dada dan logo EA di lengannya. Baju itu sudah rusak. Ada noda hangus di bagian pundak, robekan di beberapa bagian seperti terkoyak sesuatu yang tajam, dan ada lubang besar di bagian perut berbentuk oval dengan noda merah yang masih membekas di sekelilingnya.

Aku, Kira, Meyrin, Lacus, Luna, dan Athrun yang baru datang memandangnya ngeri. Orang yang memakai baju itu sebelumnya pasti benar-benar beruntung kalau masih hidup. Eh, tunggu. Lambang EA? Jangan-jangan…

"Ini baju yang dikenakan Auel saat pertama kali kami menemukannya terdampar di pantai. Dengan luka yang jauh dari kata ringan dan mengalami masa krisis paling tidak 2-3 hari. Bukannya aku tidak tahu kalau dia anggota militer, aku hanya tidak bisa membiarkannya mati begitu saja," jelas Nona Cadrid. Ia menghempaskan diri dengan berat di sofa.

"Ibu, kau tahu resikonya?" tanya Kira cemas.

Nona Cadrid mengangguk ragu. "Kuambil resiko itu. Hei, kalian tidak melihatnya. Luka di perutnya benar-benar lebar. Terlambat sedikit lagi anak itu bisa mati. Aku tidak bisa membiarkan seseorang mati begitu saja di halaman rumahku."

Kira mendengus. Ia menyandarkan punggungnya di sofa dan menggumamkan sesuatu sambil tersenyum.

Tapi perasaanku semakin tidak enak saja. Aku bertanya,"Dari seragam itu ketara sekali kalau dia pilot MS. Apa kau melihat MS-nya?"

"Tidak. Kurasa hancur. Tapi aku menemukan ini di sampingnya. Mungkin terbawa." Nona Cadrid mengeluarkan potongan logam berwarna biru.

Athrun mengambilnya dan menelitinya sejenak. "Bagian dari MS. Dari warnanya yang mencolok kurasa tipe khusus seperti Freedom, Justice atau Impulse. Yang berwarna biru seperti ini kalau tidak salah memang ada. Mungkin…"

"…MS biru tipe air yang pernah melawan Shinn saat kasus Orb dulu," sambung Luna.

Kini tatapan mereka teralih padaku. Oh, yeah. Dugaanku tepat. Kini jelas kenapa sikap anak itu sinis padaku dan tebakan awalku bahwa dia adalah teman Stellar juga benar. Tiga MS yang dicuri dari Zaft dan dikendalikan oleh Stellar, Auel dan temannya. Dan aku juga yang telah membuatnya amnesia dan menderita luka seperti itu.

"Hei, dia musuhku 'kan?" kilahku.

"Dulu dia memang musuh, Shinn. Tapi semuanya bisa berubah. Seperti kau dan Kira. Kau dan Auel bukan musuh lagi, perang sudah berakhir. Apa yang sudah lewat biarkan saja, perang yang memaksamu," ujar Athrun. Berusaha menghiburku, mungkin.

"Tapi kurasa ingatannya mulai kembali. Kadang ia suka melamun dan tadi pagi ia berhasil mengendarai MS lagi. Ada kemungkinan dia akan membalas dendam jika sudah ingat." Kira menyela dengan ekspresi yang tak berubah, cemas.

Hening. Kami menghela nafas, tenggelam dengan pikiran masing-masing.

"Kita yang akan menanganinya. Auel tidak boleh terjebak dalam lingkaran setan berupa balas dendam," kata Lacus memecah sunyi.

Aku tersenyum miris. Lingkaran setan, ya.

.

End of Flashback.

Aku berlari secepat mungkin begitu mendengar suara letusan pistol yang kedua kalinya. Astaga. Apa terjadi sesuatu dengan mereka? Apa aku terlambat? Aku menghentikan langkahku di balik dinding dan mengintip keadaan.

Ada apa ini? Kenapa semuanya diam? Sesuatu berwarna merah mengalir di bawah kaki mereka. Aku mengamati jalur kemunculan cairan itu dan menemukan seorang wanita tergeletak dengan punggung berwarna merah. Oh, tidak. Itu Nona Cadrid!

Aku menangkap sosok lain yang tergeletak tidak jauh darinya, seorang pria berseragam yang juga mengeluarkan darah. Mataku berlari menuju Auel yang terduduk di samping Nona Cadrid. Tangan kirinya memegang pistol yang masih dipegang oleh pria berseragam yang terlihat terkejut.

"Daritadi kau mengoceh terus. Berisik, tahu."

Semuanya menegang seolah terhipnotis oleh suara dingin yang keluar dari mulut lelaki berambut biru itu. Entah kenapa badanku terasa dingin dan tanganku gemetar. Kenapa? Apa yang terjadi padanya? Dia terasa… berbeda.

Auel medongakkan kepalanya dan menatap rendah pria itu. Aku tersentak. Matanya, sorot matanya berubah. Mata biru laut anak itu terlihat lebih gelap dan tajam. "Orang sepertimu mati sajalah." Detik berikutnya, letusan pistol kembali terdengar. Dengan cepat Auel merubah arah pistol itu dan menembak ke arah si empunya.

Satu lagi boneka kayu yang talinya putus.

Kini, semua pria bersenjata itu menodongkan senjatanya ke Auel dengan ragu. Masih merasakan tekanan yang membuat jari bergerak saja sulit. Auel berdiri dengan tangan menggenggam pistol.

"Meyrin, setelah kuhabisi sampah-sampah ini, segera tekan luka Nona Cadrid dan jangan lepaskan sampai darahnya berhenti. Rawat dia dengan cara apapun yang kau ingat sampai bantuan datang—dia belum mati," titahnya santai. Ia melanjutkan,"Aah~ tidak perlu hiraukan aku dan mereka. Fokus saja pada Nona Cadrid. Kau bisa menunggu sebentar, 'kan? Yah, dua menitlah."

Meyrin? Dia terus menyebut Meyrin tapi dimana dia? Aku tidak melihatnya sama sekali. Kuedarkan pandangan dan mendapati seorang prajurit yang terlihat aneh. Setelah dipehatikan ternyata bahunya lebih kecil daripada yang lain. Begitu, menyamar, ya?

Auel mengelap cipratan darah pria tadi di wajahnya. Ia endus darah di tangannya itu lalu menyeringai seperti setan. "Wah, jadi kangen waktu pelatihan bareng Stellar dan Sting dulu. Sekarang Sting dimana, ya? Stellar 'kan sudah mati."

Deg!

Orang ini… siapa?

"Berhenti bicara dan letakkan senjatamu! Sekarang!" sahut salah seorang pria berseragam itu. Aku bisa melihat keringat mengalir dari pelipisnya.

Auel menoleh. "Ah, aku lupa kalau aku harus membunuh kalian. Terbawa masa lalu, sih. Maaf, deh. Nah…" Ia memungut pistol korban yang lain. Pria-pria itu masih terpaku dan hanya menodongkan senjata mereka dengan gemetar. "…ayo mulai."

.


.

Meyrin POV

Dia bukan Auel. Dia bukan Auel. Dia bukan Auel!

Pembunuh di depanku ini bukan Auel yang kukenal. Auel tidak mungkin tersenyum seperti itu saat membunuh. Ia tidak akan tertawa seperti itu. Ia tidak akan menyiksa korbannya. Tidak. Ia bukan psycho. Ia Auel, Auel Neider 'kan?

Aku tidak bisa bergerak dan hanya berdiri. Pemandangan ini begitu mengerikan. Teriakan-teriakan itu, letusan-letusan itu. Auel menghindari tiap tembakan dengan mudahnya dan memberikan serangan balasan. Pelurunya habis tapi ia tak berhenti. Diambilnya sebuah belati dari prajurit yang tewas dan ia gunakan sebagai senjata penggantinya. Salah seorang pria berseragam tersentak karena kehabisan peluru dan detik berikutnya saat ia menoleh, darah menyembur keluar dari lehernya. Ia menjerit kesakitan sementara Auel menyeringai dan menjadikan pria itu sebagai tameng saat peluru-peluru menghujaninya.

Kini hanya tersisa lima orang berseragam tanpaku. Aku merasa sesuatu yang berat menimpaku dan detik berikutnya aku mendengar desingan peluru melewati kepalaku. Aku tersungkur dan mendapati seorang pria—tidak—pemuda yang terus mendekapku erat. Aku bisa melihat air mata mengucur derasa bercampur peluh.

"Kenapa jadi begini? Semuanya mati! Tidak-tidak! Aku akan menjagamu dari setan itu. Kau tidak boleh mati. Kita tidak boleh mati. Untuk perdamaian, untuk bumi," serunya gemetar di sela-sela desingan peluru. Di saat itulah aku sadar, bahwa sebagian dari mereka bukanlah prajurit melainkan warga sipil yang bertindak sebagai sukarelawan. Yang terbujuk oleh prinsip-prinsip aneh mereka, para pemberontak.

Tiga orang telah mati dan salah seorang dari mereka berusaha lari sambil menyerukan sesuatu di radio gantungnya yang ada di pundaknya. "Perubahan rencana! Mundur! Cepat kembali ke kapal! Kembali! Kemba—"

Dorr!

Ia terjatuh dengan luka tembak di kepala sebelum sempat menyelesaikan kata-katanya. Kini hanya tersisa aku dan lelaki itu. Ia tidak hentinya menggumamkan doa tanpa mengendurkan dekapannya. Auel berjalan mendekat dan menatap kami dengan sorot mata dingin yang gelap.

Teriakan terdengar. Satu peluru telah bersarang di tubuh pemuda ini.

Teriakan tak lagi terdengar namun tubuh pria itu berguncang. Peluru kedua bersarang.

Peluru ketiga, peluru keempat, guncangan terasa di seluruh tubuhku dan aku hanya menatapnya nanar. Auel menunduk dan menjauhkan mayat itu dariku.

"Cepat rawat Nona Cadrid. Sampai kapan kau akan tetap diam, bodoh?" bisiknya. Aku bisa merasakan nafasnya yang hangat di hidungku. Ia membantuku berdiri dan mendorongku ke arah Nona Cadrid. Dengan gugup, aku melepas sarung tanganku dan menekan luka di punggungnya. Hangat, darah Nona Cadrid hangat.

"Mereka keluar," ujarnya tiba-tiba. Aku mendongak melihatnya lalu menoleh ke arah yang ia tuju, jendela. Beberapa pria berseragam terlihat berlarian menuju sebuah kapal yang tersembunyi di balik karang.

Tidak. Jangan bunuh mereka.

"Ini akan jadi yang terakhir. Dan pasti menyenangkan."

Aku tersentak. Aku benar-benar tidak mengenalnya lagi. Aku melihatnya berlari ke luar jendela dan mulai menyerang orang-orang itu. Membunuh mereka satu-persatu dengan keji.

"Meyrin!" aku menoleh dan mendapati sosok Shinn yang terengah. Wajahnya pucat dengan tatapan nanar ke arah Auel. "Dia… kenapa? Apa dia benar-benar anak laut itu? Dia… Auel?"

Aku menggeleng. "Aku sendiri tidak tahu, Shinn!"

Ia mengalihkan pandangannya dan menatap sekeliling dengan takjub. Shinn berlutut di sampingku dan memandang punggung Nona Cadrid setelah mengecek denyut nadinya. "Nona Cadrid masih hidup. Tenang saja, tadi ada kabar dari shelter. Bantuan segera datang. Kau tidak apa-apa?"

Aku menggeleng dan kembali menatap keluar. Ia masih di sana. Membunuhi orang-orang. "Dia bukan Auel…"

"Meyrin…," gumam Shinn lirih.

"Dia bukan Auel. Auel tidak mungkin seperti ini. Dia tahu batasnya. Aku yakin dia tahu!"

"Apa kau akan berubah?"

"Tidak."

Shinn hanya mengalihkan pandangannya dan menepuk bahuku. Ia gigit bibir bawahnya kuat-kuat.

"Hentikan, Auel…"

Shinn mulai meremas bahuku. Aku tidak tahu kenapa tapi remasan itu terasa hambar.

"Auel… sudah cukup…!"

Aku tidak tahan lagi. Segera kulepaskan tangan Shinn di bahuku dan meletakkannya di atas luka Nona Cadrid sebelum berlari ke arah pemuda berambut biru itu. Aku bisa mendengar teriakan Shinn yang berkata, mendekatinya saat ini terlalu berbahaya karena dia sedang "tidak melihat". Aku tidak peduli kalau Auel sampai membunuhku. Aku hanya ingin dia berhenti!

Aku bisa melihatnya menembakkan peluru terakhir yang bersarang di tubuh seorang pria berseragam yang tersisa. Namun ia tidak berhenti begitu saja, belati tadi diambilnya lagi dan ia mulai menikam pria itu beberapa kali.

Akhirnya kugapai punggungnya dan kupeluk erat dari belakang. "SUDAH! HENTIKAN, AUEL! DIA SUDAH MATI!"

"Lepaskan, Meyrin! Mereka telah membunuh Nona Cadrid! Aku akan menghabisi mereka seperti yang kulakukan pada orang-orang yang membunuh 'ibu'!" serunya tanpa berhenti.

Kucoba untuk menahan lengannya yang begitu kuat. "Aku mengerti kalau kau marah! Aku juga! Tapi kalau kau seperti ini, kau tidak berbeda dengan mereka!"

"Aku tidak peduli! Aku akan membunuh mereka semua!"

"SUDAH, AUEL! KAU TELAH MEMBUNUH MEREKA SEMUA!" sahutku keras. Air mataku tak bisa lagi kutahan. Mereka terus mengalir tanpa henti. Kutenggelamkan wajahku di punggungnya dan kueratkan pelukanku. Perlanhan tubuhnya melemas. Auel mulai berhenti seiring dengan terdengarnya sirine dan deru-deru mobil yang berhenti, bantuan itu terlambat.

"…kenapa…kau tidak melihatnya…? Cukup, Auel… cukup. Semuanya sudah selesai."

Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan bingung. "Mereka membunuh Nona Cadrid… seperti yang dilakukan pada ibu.. aku harus membunuh mereka atau kau yang akan dibunuh. Harus dibunuh… mereka… harus." Tubuhnya melemas. Belati di tangannya jatuh begitu saja dan ia terduduk di pasir bernoda gelap.

Kupeluk ia lebih erat. "Tidak, Auel. Dengar, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Mereka tidak membunuhku atau Nona Cadrid. Dia masih hidup. Kau yang memberitahuku, ingat?"

"Semuanya mati… semuanya mati… aku yang membunuh mereka. Aku… ibu akan memarahiku. Tapi orang-orang itu akan senang… ya, orang-orang bodoh berjubah putih itu akan senang dan aku bisa bermain dengan Sting dan Stellar…"

"Ssst.. tenanglah. Dengarkan aku. Tak ada yang akan memarahimu. Tak ada yang akan senang saat kau membunuh banyak orang. Tenanglah, aku di sini… Shinn-kun, neechan, Lacus-sama, Kira-san, Nona Cadrid, paman Malchio, dan anak-anak semuanya selamat. Kau tidak sendiri…"

"Aku… tidak sendiri…?"

"Ya, kau tidak sendiri."

Aku bisa merasakan tubuhnya gemetaran. Dadaku sesak melihatnya seperti ini. Aku tidak tahu tentang masa lalunya tapi aku yakin itu bukanlah masa-masa yang mudah. Tubuhnya kembali menegang. Isak tangis mulai terdengar di telingaku.

Aku mengelus punggungnya lembut. Beberapa orang mendekati kami tapi mereka mengambil jarak, tahu bahwa ini bukan saat yang tepat. Air mataku makin deras. Aku tidah tahan melihatnya tersiksa seperti ini. Aku yakin, kejadian ini akan terus menghantuinya karena perasaan bersalah dan ia tidak akan lupa selamanya.

Aku kesal dengan diriku sendiri. Kesal karena tidak bisa berbuat apa pun untuknya.

"HUWAAAAAAAAAA!"

Jeritan penyesalan itu adalah penutup kasus malam ini.

.


.

Satu hari telah berlalu dan kini semuanya kembai seperti biasa. Kecuali beberapa pekerja bangunan yang muai memenuhi sebagian isi rumah. Nona Cadrid sudah sadar dan ini kabar baik yang ingin kusampaikan padanya sekarang. Kuharap ia akan merasa lebih baik.

Kuputar knop pintu yang baru dipasang itu. "Auel?" panggilku sambil tersenyum.

Namun senyumku tak bertahan lama. Ruangan ini kosong. Kasur baru tempat ia seharusnya berbaring tertinggal rapi. Aku mendekat dan menemukan secarik kertas bertulis tangan.

Maafkan aku karena bertindak seperti pengecut dan pergi seenaknya. Tapi aku benar-benar tidak bisa lagi tinggal di sini bersama kalian setelah kejadian semalam, terlalu berat. Hei, ingatanku sudah kembali, tidak perlu mencariku atau pun khawatir. Terima kasih untuk Nona Cadrid, Paman Malchino dan semuanya karena telah merawatku selama ini. Sekali lagi maaf. Sungguh, maafkan aku.

Auel

Aku meremas kertas itu dan segera berlari ke ruang tengah.

.


.

2 tahun kemudian…

Auel POV

"Selamat, ya! Sekarang kau pasti bisa jadi penjual ramen sungguhan. Gak ada beban, deh."

"Memangnya selama ini aku penjual bohongan, Wel? Yang benar penjual full-time, tahu! Aku akan membantu ayahku mengurus kedai makanan Jepang itu. Kalian juga setelah kelulusan ini mau ngapain?"

"Aku akan kuliah di fakultas teknik mesin di Plant. Semoga diterima. Kudengar tesnya sulit, sih."

"Kalau Auel?"

Aku tersentak. Duh, jawab apa, ya? Jujur aku sama sekali tidak berpikir ke arah sana. "Belum terpikirkan, tuh. Hehe."

"Kau ini bagaimana, sih? Sebelum lulus SMA ini harusnya kau pikirkan baik-baik, dong!"

Aku hanya menjulurkan lidah, cuek. Aku melihat jam tanganku. Wah, sial! Bisa telat dan dimarahi kakek, nih. "Aku duluan, ya! Daah!" salamku sambil melambai dan pergi begitu saja, meninggalkan mereka yang sibuk menggerutu tentangku.

Ya, aku hanyalah seorang siswa SMA biasa yang baru lulus. Itu adalah kehidupan yang kupilih setelah memutuskan untuk pergi dari kedaiaman Lacus dan teman-temannya. Awalnya sulit, berkelana seorang diri setelah pergi ke tempat yang jauh dari mereka. Kini aku tinggal di pinggiran kota dan hidup bersama kakek penjual bunga yang 'memungutku' di jalanan. Ironis. Dan sebagai balasannya, aku hanya harus sekolah yang benar dan ikut bekerja di toko bunganya. Walau galak tapi kakek orang yang baik.

Aku melangkah mundur saat pintu toko yang akan kubuka tiba-tiba terbuka dari arah berlawanan. "Ah, permisi," salamku sopan sambil menunduk. Biasanya aku malas bersikap begini, tapi didikan paman keras. Ini demi pengunjung.

Pria itu tidak bergerak—kulihat dari kakinya yang masih bertengger manis di depan pintu. "Auel?" tanyanya ragu.

Kuangkat kepalaku dan menemukan sosok Shinn dengan pakaian bebas sambil memegang sebuket bunga. Aku menelan ludah. Celaka! Kenapa dia ada di sini? "Ah, terima kasih sudah mampir, permi—" Langkah seribuku menuju ke dalam toko gagal. Ia menghadang dengan lengannya.

Kini ia menarik bahuku dan memojokkanku di dinding. Aku meringis setelah benturan itu. "Kau Auel Neider, 'kan? Kemana saja kau selama ini? Kami terus mencarimu, tahu!"

Aaah, sudah kuduga pertanyaan itu akan keluar. Kuambil bunga matahari yang ada di pot di sampingku dan kututupi wajahku dengan kelopaknya. "Anda salah orang. Maaf, saya harus kembali bekerja," dalihku kembali menuju pintu.

Sekali lagi ia menahanku dan membuang bunga matahari itu jauh-jauh. Ah, biaya tambahan. Ia dongakkan wajahku dan menatapku lekat-lekat. Haduuuh~ adegan ini bisa bikin skandal.

"Meyrin sangat mengkhawatirkanmu tapi kau malah bersikap begini! Ayo pulang!"

"Aku sudah di rumah, tahu! Pulang ke tempatmu sendiri sana!"

"Apa! Enak saja. Pokoknya kau ikut aku!"

"Tidak!"

"Ikut!"

"Tidak!"

"Ehem." Suara dehaman itu membuat kami menoleh. Kakek berdiri di depan pintu dengan celemeknya yang kotor karena tanah. "Ada apa ini?"

Oooh~ syukurlah!

.


.

"Sudah kubilang kau akan ikut."

"Yeah, terserah."

Di sinilah aku. Mau tidak mau duduk di samping bocah Asuka ini dalam mobil yang sama. Kami sedang dalam perjalanan menuju rumah Lacus, rumah dengan kenangan buruk bagiku. Sepanjang perjalanan aku hanya diam dengan tangan kiri menopang dagu. Aku masih kesal. Kenapa kakek dengan gampangnya mengizinkanku dibawa dia. Apa kakek tidak ingin menghabiskan waktunya bersamaku di hari kelulusanku? Dingin sekali.

"Oi, selamat, ya. Atas kelulusanmu," ujar Shinn, dia pasti mendengarnya dari kakek.

"Hm. Makasih."

Kesunyian kembali merajai. Tak ada yang bicara. Antara tak mau bicara dan tidak tahu apa yang mau dikatakan.

"Tak ada yang marah padamu. Semuanya ingin kau pulang," katanya lagi.

Aku diam. "Berat tahu. Aku ini 'kan 'mantan EA yang membunuh banyak orang'. Kenapa lagi aku masih diinginkan?" jawabku asal.

"Dengar, ya. Aku juga 'mantan Zaft yang membunuh banyak orang' dan 'lelaki yang pernah mencoba membunuh anak angkat Nona Cadrid'. Kau pikir tidak berat bagiku tinggal bersama mereka?"

"Itu tahu. Harusnya jangan buat aku merasakan hal yang sama denganmu, dong."

"Masalahnya kau harus sadar. Bahwa itu semua dirimu di masa lalu. Apa yang sudah lewat biarkan saja. Kalau terus terpaku pada masa itu kau tidak akan maju tahu."

"Curhat, nih?"

"Diam!"

Aku menghela nafas. Yaah~ apa yang dia katakan benar juga, sih. Selama ini aku merasa takut untuk bertemu dengan semuanya. Takut akan tatapan aneh yang akan mereka berikan seperti waktu itu. Lebih baik aku hidup sendiri saja. Tapi… bagaimana kabar Nona Cadrid dan Meyrin, ya?

"Hei, maaf ya."

"Soal apa?" balasku singkat.

Shinn tidak langsung menjawab. Ia menarik nafas lalu berkata, "Aku yang membuatmu terluka parah dan kehilangan ingatan. Ingat pertempuran kita sebelum MS-mu kutikam?"

Ingatanku menjelajahi saat itu. "Oh, jadi kau pilot Impulse? Pantas saja aku membencimu setengah mati saat pertama bertemu." Tiba-tiba sosok Sting dan Stellar muncul. Ah, benar mereka. "Kau juga yang membunuh Stellar, 'kan? Lalu Sting—pria berambut hijau—itu apa kabar? Kau bunuh juga?"

"Aku tidak suka nada bicaramu. Stellar memang tewas. Tapi bukan di tanganku. Kira yang membunuhnya. Tapi dia terpaksa, kok karena Stellar akan menghancurkan kota kalau tidak dihentikan. Waktu dia kabur dari kapal kalian dulu, kami sempat merawatnya di Minerva. Tapi cuma sebentar sebelum pria bertopeng itu mengingkari janjinya. Dan untuk Sting. Maaf, kurasa dia juga terbunuh. Entah karena siapa aku lupa. Perang."

Aku terkejut walau cuma sesaat. Jadi begitu. Aku ketinggalan banyak kabar, ternyata. "Aku pernah bertemu mereka berdua, kok. Dua kali setelah perang ini."

"He?" Shinn menoleh tidak percaya padaku.

"Di alam mimpi. Khusus untuk orang 'mati'. Mengerti 'kan?"

"Ya, kurasa," pandangannya kembali ke jalanan.

"Stellar terus berbicara tentangmu. Katanya, ia menyukai orang yang berjanji akan selalu melindunginya. Shinn Asuka. Tapi, toh ia tetap mati. Senang, ya, ada orang yang menyayangimu sampai mati?"

Ia tidak menjawab. Matanya menjadi sayu lalu ia tersenyum tipis. "Ya, aku benar-benar senang. Tapi aku minta maaf, Stellar. Ada gadis lain yang mulai mengisi hatiku. Tapi tenang saja, kau tidak akan kulupakan," jawabnya bicara sendiri, seolah di depannya ada Stellar yang mendengar. Orang gila.

Kalau dipikir-pikir aku juga harus minta maaf karena menjadi satu-satunya yang masih hidup di antara kami bertiga. Wah, beban hidupku tambah berat nih. "Kenapa kalian ingin aku pulang?" tanyaku spontan.

"Mm? Kenapa, ya? Aku, sih sebenarnya lebih bersyukur kalau kau tidak pulang."

Aku mendelik padanya. Jadi kenapa kau tidak pura-pura gak lihat saja, hah?

"Tapi kurasa yang berpikiran begitu cuma aku. Walau sudah dua tahun, Meyrin diam-diam masih mencarimu, lho. Dan tiap makan bersama di meja makan rasanya selalu ada yang kurang. Tidak enak, saja. Jadi canggung walau cuma sebentar. Mungkin karena kau sudah dianggap bagian dari mereka. Keluarga mereka."

"Hee~ lihat siapa yang bijak di sini. Kau 'kan juga tinggal bersama mereka juga, jika mereka menganggap aku bagian dari keluarga berarti kau juga…"

Aku diam. Shinn juga diam. Sedetik kemudian kami sama-sama mengalihkan pandangan dan mengeluarkan ekspresi seperti mau muntah. Aku tidak percaya baru saja berpikir bahwa aku dan dia satu keluarga. Cih, menjijikkan.

"Jangan dikatakan."

"Jangan diucapkan."

Kami diam lagi. Kini aku sudah bisa melihat rumah yang besar itu dari tempatku berada. Aku merasakan sensasi hangat yang mengalir dari perutku ke seluruh tubuh. Wah, rasanya kangen juga. Sudah lama, ya.

Shinn menoleh sebentar untuk melihat ke arah yang sama. Ia tersenyum kecut. "Kita tidak mengobrol sepanjang perjalanan. Oke?"

Oh, yeah. Aku juga tidak ingin perbincangan 'akrab' ini diketahui orang lain. Menjijikkan. "Oke."

Kami pun berhenti tepat 10 meter dari ambang pintu. Bunyi mesin yang mati adalah tanda untuk memulai langkah yang baru, tapi tak ada yang bergerak di antara kami berdua. Aku mendengus. Astaga, kami ini sedang apa, sih? Seperti mau melamar orang saja.

"Ha..hahaha…" tawa Shinn perlahan terdengar walau ia berusaha menahannya. Sepertinya pikiran kami sama. Aku pun tak bisa menahan rasa geliku dan ikut tertawa. Setelah puas menertawakan hal yang tidak jelas, kami pun turun dari mobil dan berjalan ke pintu.

"Siap?" tanya Shinn tersenyum tipis.

Aku menarik nafas dalam-dalam dan mengangguk. "Oke."

Dan pintu itu perlahan dibuka olehnya. Kegaduhan anak-anak yang saling berkejaran dan memecahkan barang menyambutku. Lacus, Meyrin dan Luna berkali-kali menegur dan ikut mengejar mereka. Kira yang sedang membaca koran di sofa ikut kena marah oleh Lacus karena tidak membantu sama sekali. Di sudut lain, aku bisa melihat Nona Cadrid sedang membuat teh bersama paman Malchio di sampingnya.

Aku terkekeh geli.

"Eh? Wah! Ada Auel-nii!" sahut Shota yang menghentikan langkahnya di depan pintu.

Mereka semua berhenti dan menatap ke arahku dengan takjub. Shinn menyikut pinggangku keras dan aku hanya meringis. Ia memelototiku. Aah~ nyuruh, sih mudah, tapi aku tidak tahu apa yang harus kukatakan, tahu! Meyrin menghambur menuju posisi paling depan. Matanya melebar dan mulutnya tergagap. Mm.. baiklah, akan kucoba.

Aku berdeham sebelum akhirnya berkata,"Tadaima."

Meyrin tersentak. Kurasa terkejut dengan apa yang keluar dari mulutku. Tapi ia hanya menghela nafas dan tersenyum begitu lembut. "Okaeri."

"Okaeri, Auel!" timpal mereka yang ada di belakang Meyrin dan anak-anak mulai menghambur ke arahku. Kira meletakkan korannya dan ikut pergi ke depan pintu. Begitu juga Nona Cadrid dan paman Malchio.

Kira mengacak-acak rambutku brutal dan Meyrin menamparku tiba-tiba. Semuanya bengong. Aku mengelus pipiku dengan bingung dan ia hanya balas memelukku. Aku bisa melihat semuanya tertawa, terutama Nona Cadrid yang entah kenapa terlihat lebih berseri-seri dari biasanya.

Aku mendengus geli. Ternyata aku merindukan mereka lebih dari yang kukira.

.


OWARI


.

Endingnya gak bagus ya?

saya tahu.. cuma banyak yang mau saya tulis tapi gak tahu cara nulisnya. maaf... T^T

Jadi, seperti yang kalian lihat. ini adalah Last Chapter dari fic multichap pertama saya *nebar bunga mawar*! yeay!

maafkan saya atas kesalahan selama pembuatan fic ini (terutama Nona Cadrid yang harusnya Caridad) juga terima kasih kepada semuanya yang telah membantu saya (reders, reviewers dan teman2 semua ^^).

perkembangan fic ini jauh dari rancangan awal saya yang cuma mau buat 6 chap. hehehe. akhirnya tamat juga. dengan begini bisa fokus nyelesei TFK (Test for Kira) deh *numpang promosi*

Yap, karena saya ga tahu mau ngomong apa lagi jadi sekali lagi.

Terima kasih banyak! ^^

*bow*